h1

Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik 2

January 7, 2010

Episode 2 dari 3 : Asmara dan Gairah

Kota H

Dr Lila

Dr Lila

Meskipun Alfi tak menginginkan hal tersebut malam itu terjadi padanya dan dokter Lila namun kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya pada setiap gadis yang pernah ia tiduri. Bukannya Lila menjadi suka dan ketagihan akibat di tiduri malahan gadis itu membenci dan mendampratnya habis-habisan. Atas saran dari Sriti, Alfi menelpon Niken dan menceritakan apa yang telah terjadi. Hari itu juga Niken dan Sandra dengan ditemani oleh masing-masing suami mereka datang ke kota H. Mereka berempat berencana mendatangi rumah Lila namun sebelumnya mereka menjemput Alfi dan Sriti terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan ke rumah Lila, Sriti memberikan penjelasan atas apa yang terjadi malam itu. ia sendiri tak menyangka jika semuanya akan berakhir kacau seperti ini, padahal awalnya ia dan Alfi bermaksud baik ingin menyelamatkan Lila dari Erik.

“Aduuuh Fi.. apa yang selama ini aku khawatirkan terjadi juga. Seharusnya kamu tak terlalu lama berjauhan dari kami karena aku tahu kamu akan kesulitan mengendalikan hasratmu. Kini aku benar-benar binggung harus bagaimana saat ini.” ungkap Sandra serius pada Alfi.

“Al..fi ngaku salah kak dan Alfi juga …sangat menyesal kak” jelas Alfi dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.

“Se..benarnya selama di sini saya dan Alfi selalu ‘itu’ kok mbak Sandra. Bahkan setiap malam Alfi saya ‘kasih’. Karenanya saya ngga kuatir melepas Alfi sendirian bersama dokter Lila tadi malam itu” ujar Sriti menjelaskan tanpa bermaksud menyalahkan Alfi.

“Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Yang terpenting sekarang kita harus menghibur Lila agar hatinya tak hancur oleh kejadian itu” hibur Niken mencoba menenangkan keadaan. Lalu ia berpaling kepada  suaminya ”Mas Don kok diam saja? Ikut ngomong dong.”

“Fii, coba kamu ceritakan sekali lagi kejadian di dalam kamar motel waktu itu, mungkin ada yang terlewat saat kalian menceritakannya tadi” Ujar Donnie.

Alfi pun menceritakan kembali kejadian pas di dalam kamar motel secara rinci malam itu.

“Betulkah hanya seperti itu Fi?” Tanya Donnie lagi.

“Begitulah  kak, yang jelas saat tiba di rumah kak Lila semalam, Alfi merasakan debar jantung Alfi begitu kuat, lalu keinginan buat ngegituin kak Lila juga begitu kuat hingga akhirnya Alfi benar-benar lepas kendali. Dan semuanya…. terjadi” ucapnya dengan perasaan bersalah.

“Hmm..Aku curiga kemungkinan besar pastilah air dalam gelas yang diminum oleh Lila dan kamu itu telah di bubuhi Erik dengan cairan perangsang yang sengaja disiapkan si Erik buat Lila” gumam Donnie setelah mendengar kronologi kejadian itu.

“Kupikir kamu keliru Don. Menurutku Lila pasti telah dicekoki sejak di café” ujar Didiet menimpali.

“Itu betul Dit, tapi si Erik juga sudah menyiapkan amunisi tambahan yaitu air di dalam gelas itu agar saat ditengah pertempuran Lila bisa semakin lama terbius. Coba kau pikir betul-betul buat apa ia menyiapkan air minum tanpa meminumnya langsung jika ia saat itu memang sedang dalam keadaan haus” ujar Donnie yang terlihat begitu yakin melontarkan argumennya.

“Betul juga apa katamu Don” gumam Didiet. Mau tak mau ia harus mengakui kebenaran teori Donnie itu.

“Aneh! Kok mas bisa tahu sampai sedetil itu? pasti berdasarkan pengalamankan?” tanya Niken sambil memandang suaminya dengan mata menyipit.

“Eh..a..nu. bukann Nien, itukan cuma dugaanku saja kok.  he he” jawab Donnie cengar-cengir.

“Dasar lelaki, pintar ngeless!” ujar Niken mencubit pinggang Donnie kuat-kuat.

“Adohhh…ampun say…Kan tadi kamu yang minta pendapatku…aduhh duh” rintih Donnie kesakitan sambil berupaya menghindari serangan bertubi-tubi dari istrinya.

“Tunggu!….  Saya pikir ada benarnya perkataan mas Donnie barusan soalnya…. pas pagi harinya saya menemukan sebuah botol kecil di dalam tong sampah di kamar itu yang setahu saya itu memang bekas obat perangsang” ujar Sriti yang sejak tadi menyimak dengan serius pembicaraan Donnie dan Didiet tadi.

“Tuh kan apa kataku…aduhhhh!” Donnie menimpali sambil belingsatan karena jemari lembut istrinya tetap melekat kuat bagai capitan seekor kepiting di kulit pinggangnya.

“Jika benar demikian kejadiannya, Alfi tak dapat dipersalahkan dalam hal ini” ujar Didiet menimpali.

Tak terasa waktu telah membawa perjalanan mereka sampai di depan rumah Lila.

“Biar kalian para wanita saja yang turun, kami sebaiknya menunggu di mobil saja”ujar Didiet.

“Mengapa Alfi tidak boleh ikut turun kak? Alfi ingin sekali lagi minta maaf sama kak Lila” Tanya Alfi dengan wajah memelas.

“Jangan sekarang Fi, Lila pasti sedang tak ingin melihat kamu. Biarkan mereka yang berbicara padanya.” Jelas Donnie. Alfipun mengangguk menandakan ia mengerti tentang situasi saat itu.

Beruntung saat itu Lidya dan ibu Lila masih menginap di rumah budenya Lila sehingga kejadian semalam belum sempat mereka ketahui. Lalu Niken bersama dengan Sandra dan Sriti menuju ke rumah Lila. Ternyata Lila sendiri yang membukakan pintu bagi mereka bertiga. Lebih dari satu jam-an mereka di sana. Lalu terlihat hanya Sandra yang keluar menghampiri kendaraan.

“Ayo kita pergi dulu membeli makanan buat makan siang. Biar Niken dan Sriti menemani Lila dulu.” Ujar Sandra memasuki mobil.

“Bagaimana kondisi Lila Say?” Tanya Didiet.

“Saat ini ia masih sangat sedih atas apa yang menimpa dirinya tadi malam. Meski ia terlihat sangat tegar dan tak lagi hysteria hanya sesekali ia menangis. Lebih lanjut ia juga menduga dengan pasti kejadian semalam persis sama seperti yang Donnie utarakan tadi. Namun demikian ia tak ingin melanjutkan urusan ini ke jalur hukum karena menyangkut Alfi dan tentunya kita semua” jelas Sandra.

“Haihhh…kasihan Lila, tak kusangka kegilaanku berujung menjadi malapetaka buat orang lain” keluh Didiet.

“Tak perlu kita menyalahkan diri sendiri. Semua ini kan gara-gara pria yang bernama Erik itu. Aku ingin sekali melihat tampang lelaki bajingan itu lalu menghajarnya habis-habisan” ujar Donnie jadi geram. Sebab ia tahu Niken sangat menyayangi sahabatnya yang satu ini. Apalagi ia juga sudah mendengar dari istrinya mengenai kehidupan Lila yang telah banyak mengalami penderitaan sejak remaja.

“Ya …kita berharap kejadian ini tak sampai menghancurkan hidup Lila” ujar Sandra

*************************

Tiga hari sudah sejak kejadian tersebut

Selama itu Niken dan Sandra rutin menemani Lila hingga ibu dan adik Lila pulang. Namun Lila meminta kedua temannya tak menyinggung masalah tersebut di hadapan mereka agar tak menimbulkan permasalahan baru baginya.

Niken merasa menyesal atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Tak banyak yang bisa ia katakan.Tetapi Ia lega melihat Lila bisa menerima musibah yang menimpa dirinya dan mau meneruskan hidupnya. Lila memang sudah terbentuk menjadi sebuah pribadi mandiri yang keras sejak remaja.

“Fi, besok kita pulang ke kota S. Bukankah kamu juga sudah terlalu lama meninggalkan sekolahmu? ” Ujar Donnie saat mereka makan malam disebuah rumah makan.

“Ya Kak…tapi…ijinkan malam ini Alfi menemui kak Lila buat meminta maaf padanya, Hati Alfi merasa tidak tenang sebelum kak Lila mau memaafkan kesalahan Alfi” pinta Alfi pada Niken.

“Haihhh….Baiklah Fi. Kakak tak tahu ini merupakan  waktu yang tepat atau bukan buatmu menemui Lila walau kulihat tadi sore suasana hatinya agak membaik dan ia mulai bisa tersenyum. Hanya saja pesan kakak padamu apabila ia ternyata tak ingin menemuimu sebaiknya kau langsung pergi jangan membuatnya kembali marah atau sedih”ujar Niken lagi.

“Baiklah kak. Biar Alfi pergi sekarang ke sana mempergunakan kendaraan umum sendirian agar tak mengganggu acara kakak semua malam ini” ujarnya.

“Ya, jangan kemalaman pulang Fi dan jangan lupa berkemas buat pulang besok” ujar Didiet.

Alfi lalu mencarter sebuah ojek. Sepanjang perjalanan dalam hati ia berharap Lila mau menerima permintaanan maafnya meski apapun resiko yang akan diterimanya nanti.

Saat memasuki jalan ke rumah Lila, tiba-tiba sebuah mobil Jeep meluncur dengan kecepatan tinggi melintasinya dan nyaris saja ojek yang ditumpanginya terperosok kedalam saluran air pembuangan.

Alfi terkejut ketika sempat mengenali orang di dalam kendaraan itu.

“E..rik!” gumamnya, apalagi yang ia perbuat. Tiba-tiba ia teringat akan Lila. Alfi bergegas masuk kepekarangan rumah. Hatinya tercekat  saat ia sampai di pintu depan. Ia  menemukan Hp dan isi tas Lila berserakan di lantai teras. Alfi berlari ke dalam sambil berteriak memanggil nama gadis itu. Hatinya semakin kuatir karena tak ada jawaban. Dengan sigap Alfi memutar nomor Niken dari Hp tersebut.

“Kak Niken gawat kak! Sepertinya kak Lila diculik sama Erik!” ujarnya saat Niken mengangkat panggilannya.

“Apaaa! Ohh…La” isak tangis Niken terdengar dari seberang HP. Tak lama kemudian terdengar suara Donnie mengambil alih pembicaraan. Ternyata mereka berempat masih bersama-sama.

“Kau yakin akan hal itu Fi?!”

“Alfi ngga mungkin salah kak! Sebaiknya Alfi akan berusaha mengikuti mereka mumpung jam segini jalanan masih macet sehingga masih memungkinkan buat mengejar mereka”

“Jangan Fii! Itu sangat berbahaya!” cegah Donnie.

“Tapi kita harus tahu kemana kak Lila mereka bawa kak! Alfi akan kejar mereka dan Alfi akan terus menghubungi kakak melalui HP ini”

“Baiklah Fi. Tapi kau jangan bertindak sendiri, segera kabari kami apabila nanti kau berhasil mengikuti mereka dan tunggu  sampai kami datang!” Donnie tak lagi mencegah anak itu karena ia tahu Alfi telah mengambil keputusan yang paling tepat.

“Bang! Ayo ikuti mobil yang tadi itu, mereka telah menculik kakakku” ujar Alfi setelah mengakhiri pembicaraan dengan Donnie.

Si abang ojek langsung tancap gas. Beruntung jalur ke arah jalan raya utama dari rumah Lila hanya ada satu dan harus melalui dua buah persimpangan besar yang memiliki durasi lampu merah panjang. Sehingga ia yakin ia dapat menyusul mereka. Pada simpangan pertama ia tak lagi melihat kendaraan yang dicarinya. Harapannya hanya tinggal satu ia bisa menemukan kendaraan tersebut di persimpangan kedua karena lampu merah di sana juga tergolong lama yaitu 6 menit. Benar saja ia melihat mobil Erik masih dalam posisi antrian.

“Yes! Berhasil” pikirnya

Ketika lampu beralih ke lampu hijau kedaraan satu persatu bergerak. Dan mereka dengan hati-hati membuntuti kemanapun mobil itu pergi. Setelah sepuluh menitan, Alfi melihat mobil Erik melambat dan masuk ke sebuah komplek pergudangan tua yang tak terpakai lagi. Alfi menyuruh ojek untuk berhenti pada jarak yang cukup jauh diluar pintu masuk. Ia lalu mengontak Donnie dan menjelaskan dimana lokasi tersebut.

“Ok, kakak tahu di mana itu. Kami akan segera ke sana. Ingat Fi jangan bertindak sendiri!” pesan Donnie lagi.

“Bang ini uang ojeknya dan ini tambahan karena saya ingin abang menolong saya” ujar Alfi ke pada abang ojek yang sejak tadi ikut-ikutan tegang mengikuti pristiwa itu.

“Waduhh…. saya takut jika harus menghadapi mereka den, soalnya siapa tahu mereka bawa senjata, sebaiknya kita lapor polisi saja dulu” saran abang ojek itu.

“Iya emang maunya saya seperti itu! Abang saya minta hubungi polisi di pos terdekat sementara saya menguntit mereka ke dalam sana”

“Hah..Jangan nekat den. Aden bisa celaka jika menghadapi mereka sendirian!”

“Aduhhh ..ni abang cerewet banget! Maka dari itu cepetan berangkat supaya saya tidak harus menghadapi mereka sendirian. Sebisanya saya akan tunggu abang kembali bersama polisi”

“I..i..ya Den, abang pergi sekarang, hati-hati jangan sampai ketahuan ya!” ujar si abang sambil terburu-buru menstater motornya lalu kembali tancap gas.

**************************

Alfi lalu masuk ke dalam kawasan tersebut. Suasana begitu gelap karena  tak ada satupun lampu yang menyala. Pergudangan ini memang sudah lama tidak di pergunakan lagi. Alfi dengan sabar dan hati-hati mencari keberadaan mobil Erik. Setelah berjalan agak jauh akhirnya ia melihat kendaraan tersebut di parkir di depan sebuah rumah kecil. Alfi  berjalan mengendap-endap. Ia bukan tak tahu resiko perbuatannya itu, yang jelas ia bakalan celaka apabila mereka mendadak memergokinya. Kemungkinan apa yang di katakana pak ojek tadi benar adanya bahwa Erik tidak sendirian dan bersenjata. Keadaan sekeliling komplek yang gelap sangat membantunya mendekat ke rumah tersebut. Nampak cahaya cukup terang berasal dari beberapa batang lilin dari dalam rumah. Alfi mengintip dari jendela samping melihat ke dalam rumah. Ternyata benar dugaannya ia melihat Lila terlentang di atas sebuah sofa reot dalam keadaan tangan terikat dan mulutnya tertutup oleh plester. Erik rupanya memang tidak sendirian, ia bersama dengan dua orang lainnya. Alfi dapat menebak kedua orang tersebut pastilah begundalnya pemuda itu. Sepertinya Erik  merasa penasaran karena kegagalannya tempo hari, lalu menyusun rencana lain buat mendapatkan tubuh gadis itu. Sejak sore hari ia bersama dua orang begundalnya mengawasi rumah Lila dari kejauhan. Kebetulan saat itu Lidya sedang pergi mengantar ibu Lila. Lalu dengan cepat mereka menyergap Lila yang kala itu baru keluar dari rumah berniat dan hendak pergi.

“Bos boleh dong kami berdua dapat giliran setelah bos selesai nanti? He he” ujar salah satu begundal Erik yang bertubuh tambun bernama Parno nyengir.

“Aeesss!! Enak saja! Pergi sana jaga di pintu depan! bikin gue ilfeel saja Huh!” hardiknya  “Dan kamu Min awasi pagar depan!”

“Siap.. boss” ujar Paimin, sepertinya si kurus ini lebih berdedikasi ketimbang temannya yang bertubuh tambun. Ia lalu keluar dari rumah buat melaksanakan perintah Erik.

Sedangkan si Parno ngeloyor lesu keluar dari kamar menuju ke pintu depan. Ia kecewa padahal sejak tadi ia benar-benar berharap bisa ikut mencicipi tubuh indah gadis itu meski hanya sisa dari Erik. Dari tempatnya berdiri ia masih berusaha agar dapat  mengintip ke arah kamar tadi. Dasar nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, setelah meletakan stick softballnya si Parno membuka reutsleting dan menurunkan celana jeansnya sebatas lutut, dalam keadaan berdiri ia mulai mengocok penisnya.

“He he.. kali ini kau tak dapat lolos lagi La. Tak perlu kau tangisi nikmati saja apa yang sebentar lagi bakal terjadi!” ujar Erik terkekeh-kekeh sambil mulai mencopot kancing kemejanya satu persatu.

Lila berusaha meronta dalam ketidak berdayaannya itu. Jeritannya terhalang oleh plester yang membekap erat mulutnya. Air mata gadis itu berderai membasahi pipi meratapi nasib malangnya. Melihat kondisi saat itu, Alfi jadi bingung harus berbuat apa. Ia masih ingat akan pesan Donnie tadi  bahwa ia tidak boleh gegabah dan bertindak sendiri. Namun keadaan sudah sedemikian gentingnya. Jika ia tak bertindak sekarang sudah jelas semuanya menjadi terlambat. Akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk menolong Lila tanpa menunggu bantuan datang. Rasa bersalah dan sayangnya pada Lila mendorongnya untuk melakukan sebuah yang tindakan nekat. Sambil berusaha menekan  rasa takutnya perlahan ia mengendap ke arah Parno yang sedang asik meloco. Parno yang saat itu sedang focus menatap paha Lila yang putih bersih itu dari kejauhan sungguh tak menyadari kehadiran Alfi di dekatnya. Alfi merasa ini merupakan sebuah kesempatan yang baik baginya. Perlahan ia mengatur kuda-kudanya, dan…Bukk!! Sekuat tenaga kepalan tangannya ia hantamkan tepat mengenai dua buah ‘telur pusaka’ milik Parno dari belakang. Tak percuma Donnie melatihnya memukuli genting hingga pecah saat belajar karate setiap sore.

“Adoowwwwhhhhhh …peee…cahhhhhhh!!!!”

Parno kontan  terpekik menyayat ketika merasakan nyeri yang luar biasa. Tubuh tambun itu jatuh terduduk sambil memegangi alat vitalnya. Begitu dasyat nyeri itu membuat rohnya seakan pergi meninggalkan raganya. Perutnya yang buncit sampai mengalami kram. Alfi tak mau menyia-nyiakan momen baik itu, sekali lagi ia mempraktekan sebuah jurus dari Donnie itu kali ini yang menjadi sasarannya adalah tengkuk Parno. Buukk!! Pukulan itu tak dapat Parno hindari sekaligus langsung mengirim pria tambun itu berkelana ke alam mimpi. Alfi tak menyangka ia dengan mudah dapat melumpuhkan monster itu meski tangannya terasa sangat nyeri. Paimin yang berada di dekat pagar terkejut mendengar suara jeritan rekannya. Tubuh kurus ceking itu berlari memburu ke arah dalam rumah tanpa perhitungan. Alfi yang bersembunyi di balik pintu tiba-tiba muncul dan menghantam tulang kering kaki si krempeng dengan menggunakan stick milik Parno. Bletakkk!!! Tak ayal  Paimin jatuh terguling. Sialnya lagi wajahnya mendarat terlebih dahulu dan gigi tonggosnya menghantam sebuah meja kayu.  Belum ia sadar betul apa yang menimpa dirinya Alfi sudah menghadiahinya sebuah pentungan tepat  ditengkuknya dan Paimin-pun menyusul rekan seperjuangannya tak sadarkan diri. Namun keberuntungan Alfi tak berlangsung lama. Ia lupa memperhitungkan keberadaan Erik. Tiba-tiba Ia merasakan angin pukulan menerpa kepalanya dari arah belakang. Alfi berusaha berkelit tapi sayang reaksinya terlambat dan ‘Daakk!!’ Sebuah tendangan Erik berhasil mengenainya dan membuat tubuhnya terlempar ke arah kamar di mana Lila terbaring dan dalam keadaan terikat. Beruntung tendangan itu sempat membentur bahunya terlebih dahulu sehingga luput mengenai kepalanya. Sambil sempoyongan dan menahan rasa nyeri pada bahunya Alfi berusaha bangkit ke arah Lila. Cepat-cepat ia menarik lepas plester yang menutup mulut Lila. Namun Erik tak membiarkan ia bertindak lebih jauh.

“Kau lagi! Entah bagaimana kau bisa sampai kemari tapi aku tak perduli. Yang jelas kau memang patut di hajar” ujar Erik berang.

Kebenciannya meluap-luap ketika melihat anak jelek yang telah dua kali ini mengganggu rencananya menggagahi Lila. Dari seorang security motel XX Ia sudah mengetahui kalau ia telah dikerjai oleh Sriti dan Alfi saat malam itu. Sepertinya tak ada pilihan lain bagi Alfi ia harus melumpuhkan Erik terlebih dahulu agar dapat melepas Lila.

“Fii lekas larii dari sini..kau tak mungkin bisa menghadapinya sendiri!” pekik Lila memperingatkan.

“Ngga kak..Alfi harus menolong kakak dulu lalu kita sama-sama keluar dari sini”

“Tidak! kau harus lari fii.. ia tak akan segan-segan berbuat keji padamu”

“Alfi ngga mau…Alfi sudah berbuat dosa pada kakak.. Alfi rela jika harus mati demi menolong kakak”

“Fiii!!! Kamu jangan bodoh…tolong…turuti omongan kakak…” ujar Lila terisak-isak, ia tak menduga anak ini begitu nekat mempertaruhkan jiwa demi dirinya.

Alfi tak lagi mengubris permohonan Lila. Otaknya sedang berpikir keras mencari cara bagaimana memperdaya pemuda dihadapannya. Namun ia tak mempunyai banyak waktu karena Erik perlahan mendekat ke arahnya.

Wuss!! sebuah tendangan Erik datang mengarah ke tubuhnya. Alfi masih bisa menghindar. Tetapi tendangan ke dua datang terlalu cepat dan berhasil menggedor dadanya. Lalu yang ke tiga benar-benar tak tertahankan menghantam pelipisnya dengan keras. Alfi terpelanting hingga kepalanya membentur dinding dengan keras diiringi pekik ngeri Lila. Alfi tersandar di dinding dan secara perlahan kepalanya jatuh terkulai di lantai. Kepalanya terasa begitu sakit. Lalu ia merasakan kaki kokoh Erik telah menginjak telapak tangannya. Dan kaki satunya menginjak wajah nya. Agaknya Alfi sungguh tak berdaya ia hanya mampu  meringis kesakitan. Dari hidungnya mengucur deras darah kental.

“Kk..kaak..Li..lllaa..maafinn Al..fiiii …” ujarnya lirih sekali.. Matanya nanar menatap sayu ke arah Lila sebelum akhirnya semua pandangannya menjadi gelap.

“Ohh…Fiii.. …bangunnn….Fiii…” pinta  Lila sambil terisak-isak melihat wajah Alfi yang bersimbah darah Ia benar-benar tak menyangka Alfi nekat mengantarkan nyawa demi dirinya. Bahkan anak itu masih sempat-sempatnya mengucapkan permohonan maaf sebelum tak sadarkan diri tadi.

“Biar kubikin mampus sekalian” ujar Erik, nampaknya ia belum puas menganiaya anak itu.

“Aakhhh Rikkk!! Kumohon jangaannn sakiti anakk ituu lagii.”pekik Lila. Tangisnya tak tertahankan. Namun pekiknya tak dapat menghentikan aksi biadab Erik. Pemuda itu benar-benar telah mata gelap. Ia meraih stik softball milik Parno yang ada di dekatnya. Perlahan benda itu ia angkat tinggi-tinggi untuk dihantamkannya ke tubuh kecil Alfi yang telah tak berdaya itu.

“Rikkkk!!!jangaannnn!!!!AKkkkk!!”

Namun pada saat genting tersebut, Tiba-tiba sebuah hantaman kuat menerpa tangan Erik dan membelokan arah pukulannya dari tubuh Alfi. Tak hanya itu stick softball itupun terlepas dari pegangannya. Erik terkejut ketika melihat tiga orang yang baru datang itu.

“Sii..apaa..ka.liaan?!” ujarnya tergagap.

“Bajingan  pengecut!! Beraninya cuma sama anak-anak main keroyok lagi” hardik penyerangnya tadi yang tak lain adalah Donnie yang baru datang bersama Didiet dan Niken.

Aduh siapa lagi ini? keluh Erik gundah. Keadaan ini sangat tak menguntungkan bagi dirinya. ia menduga sebentar lagi rumah ini bakalan ramai dan polisi pasti datang. Namun tak ada jalan untuk kabur karena Donnie sudah menghadang di depan pintu sementara Didiet memegang pistol. Tak ada pilihan lain Ia harus menyingkirkan para pengacau ini dan secepatnya kabur dari situ.

“Kau pikir bisa menakuti aku dengan senjata mainan itu?” Ujar Erik yang mengetahui benda di tangan Didiet bukanlah senjata api sungguhan namun hanyalah sebuah AirSoftShotGun, senjata yang kerap di pakai oleh para hobbies real shotgamer.

“O ya?”

DHUarrr!! Sebutir peluru melesat dari laras pistol yang dipegang Didiet menghantam daun pintu yang tak jauh dari  Erik berdiri. Erik terperanga melihat sebuah lubang kecil selebar batang pensil menganga pada permukan pintu yang terbuat dari plywood itu. Benda itu tak bisa dianggap mainan karena ternyata memiliki FPS sangat tinggi. Ledakannyapun membuat kaget mereka semua yang ada di sana.

“Bagaimana? Apakah kau ingin mencicipi bagaimana rasa nikmatnya pada kulitmu? Ada satu magazine penuh peluru ‘mainan’ yang bisa kuberikan sebagai tanda mata di wajah dan di tubuhmu secara cuma-cuma” ujar Didit denga tatapan mata dingin.

“Ka..uuu…jangan pakai senjata kalau beranii!” ujar Erik ciut. Yang jelas ia tak ingin Didiet menjadikannya sebagai sasaran bidik pistolnya.

“Kami bukan pengecut tukang perkosa perempuan dan dan penganiaya anak-anak seperti dirimu!Dit, kau lindungi yang lain . Bangsat ini adalah bagianku” sergah Donnie.

“Ok.. kuberi waktu sejenak buat kalian bersenang-senang” ujar Didiet mundur memberi ruang bagi Donnie dan Erik.

“Kalian akan menyesal karena menghalang-halangiku!” ujar Erik kesal.

Apalagi melihat Niken yang telah berhasil melepaskan ikatan Lila Rencananya yang sudah ia susun dengan rapi kini benar-benar telah hancur berantakan. Alih-alih bisa menikmati tubuh sintal Lila malahan kini ia dihadapkan oleh masalah besar yang menantinya. Tiba-tiba Erik mengirim sebuah tendangan diiringi teriakan membahana. Namun Donnie telah siap sejak tadi. Hanya sepersekian detik sebelum tendangan dasyat itu menyentuhnya dengan kecepatan mengagumkan Donnie melengos ke kiri sehingga ujung sepatu Erik menerpa angin hanya satu inci dari wajahnya.

Serangan itu tak berhenti di situ. Begitu kaki kanan Erik menyentuh lantai kaki kirinya berputar menampar balik bagai gerakan seekor naga mengibaskan ekornya. Terlihat sekali kalau Erik bukanlah seorang yang buta akan ilmu bela diri. Ia sempat mengenal Taekwondo saat SMU dan pernah mewakili sekolahnya pada waktu itu. Donnie mengantisifasi setiap serangan Erik dengan tenang. sambil menjatuhkan diri kaki kanannya menyapu kaki kanan Erik. Tak ayal lagi tubuh Erik yang belum dalam keseimbangan penuh terjerembab jatuh mencium lantai.

“Cuma itu sajakah yang kau andalkan?” ejek Donnie.

Ia sengaja belum membalas serangan Erik. Ia sepertinya ingin menjajaki sejauh mana kemampuan berkelahi lawannya.Wajah Erik merah padam. Ia tak menduga orang yang di hadapinya itu ternyata cukup ‘berisi’ bahkan mampu mementahkan salah satu serangan terbaiknya dengan mudah. Kembali ia berteriak sambil  melompat  memberikan dua buah tendangan secara bergantian bagaikan gerakan mata gunting. Namun serangan itu kembali gagal menyentuh tubuh Donnie.  Ketika tubuhnya masih melayang di udara lalu kakinya menjejak dinding dan melontarkan dirinya sambil berputar memberi tendangan susulan ke arah Donnie. Ini serangan yang sulit untuk dihindari.Tapi Donnie bukanlah Alfi yang dengan mudah Erik jatuhkan, yang di hadapinya kali ini adalah seorang instructor dan atlet karate tingkat asia yang sangat disegani oleh lawan-lawannya di arena. Kali ini Donnie tak hanya diam menerima serangan Erik, Donnie mengayunkan kakinya bagai sebuah mata belencong  menghadang laju tendangan Erik yang mengarah ke arah mukanya. Terdengar suara benturan tulang kaki mereka beradu dengan keras. Erik terjajar mundur. Dahinya berkerenyit menahan nyeri pada pergelangan kakinya akibat benturan tadi. Saat itu pula sebelum ia dapat berdiri dengan mantap sebuah bogem mentah telah mendarat telak wajahnya. Bukkk!!! Erik terjengkang  untuk ke dua kalinya. Namun kali ini dengan pergelangan kaki nyeri dan wajah biru lebam akibat pukulan Donnie barusan. Beruntung bagi Erik, saat memukul tadi Donnie hanya menggunakan setengah tenaganya. Jika tidak pastilah wajahnya bakal remuk. Mata Erik memerah dan berair karena  menahan sakit luar biasa.

Merasa tak bakalan menang melawan Donnie, Erik meraih stick softball yang tadi dipakainya buat menghabisi Alfi.

“Sebaiknya kau buang senjatamu Ric atau aku terpaksa menembakmu!” Seru Didit.

“Jangan turut campur Dit  Sebaiknya kau awasi saja ke dua temannya yang baru sadar itu.  Menyerah terlalu enak baginya setelah semua yang dilakukannya pada Alfi dan Lila. aku ingin menghajarnya sampai puas dulu”

“Oke hati-hatilah Don sebab  ia bersenjata, Dan kalian berdua jangan mencoba berbuat macam-macam jika tak ingin kutembak!” hardik Didiet kepada Paimin dan Parno.

“A..ampunnn pak…jangan ditembakkk” ujar Paimin sambil menangis. Mulutnya masih berlumuran darah karena gigi depan bagian atasnya nyaris patah semua oleh ulah Alfi tadi.

“I..yaaa…paakkk..kasihani saya … kami cumaa di suruh sama bapak Erik” ujar Parno menimpali. Didiet nyaris tertawa melihat celana keduanya telah basah oleh air kencing.

“Dasar bajingan. duitnya saja mau, Awas kalian nanti!!” ujar Erik geram masih sempat mengancam kedua mantan begundalnya itu.

“Ha ha ha lucu bajingan kok teriak bajingan! Ayo berkelahilah seperti seorang lelaki jantan, bajingan!” Ejek Donnie.

“Aku akan membuat otakmu berceceran di lantai dengan ini..Hiatt!!!”

Erik yang merasa terjepit lantas menyerang Donnie bagai seekor singa terluka. Ia mengayunkan stick Softball-nya secara membabi buta. Sebuah kaca jendela ruangan tengah hancur berhamburan ketika serangannya luput mengenai tubuh Donnie

“Donn !! cepat selesaikan ini, kita harus segera menolong si Alfi!!!” teriak Didit.

Saat itu Donnie juga mendengar suara isak tangis Niken dan Lila karena Alfi tetap tak kunjung sadarkan diri. Bahkan wajahnya semakin pucat pasih. Dan betapa terkejutnya Donnie  melihat darah yang mengalir dari telinga Alfi.

Saat itu sebuah pukulan stik softball telah datang ke arahnya, Donnie menjadi geram bukan main melihat kebandelan Erik apalagi saat teringat kondisi Alfi saat itu. Sambil berteriak keras Ia memotong arah serangan tersebut.  Kali ini sebuah pukulan lurus yang teramat. kejam yang tak pernah ia lakukan bahkan di larang di komite beladiri manapun menghantam bahu Erik dengan keras. Krakkk!! Terdengar bunyi berderak menandakan ada tulang yang patah dan stick yang di pegang Erikpun terlempar jauh.

“Argggg!!!!! Banggggsatttttt!!!! Arrrgg!!” Erik melolong  kesakitan memegangi bahunya yang nyeri bukan kepalang sambil bergulingan di lantai.

Pukulan Donnie bagai sebuah palu godam yang dapat mematahkan papan setebal dua senti  sekalipun. Kemungkinan tulang bahunya patah atau ensel bahunya yang terlepas.

Pukulan terakhir Donnie tadi sudah mengakhiri perlawanan Erik. Saat itu Sandra muncul bersama beberapa orang dari sekitar tempat kejadian tersebut. Erik yang masih kesakitan beserta kedua begundalnya menjadi pelampiasan kekasalan mereka. pukulan demi pukulan beserta tendangan-pun melayang menghujani tubuh ke tiga pria apes itu..

Beruntung polisi segera datang bersama si abang ojek dan segera meredakan amarah orang-orang tersebut. Masih terdengar raung kesakitan Erik ketika polisi menyeretnya keluar bersama dengan kedua rekannya.

“Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang. Don kamu yang nyetir !” ujar Didit cemas sambil membopong tubuh Alfi.

************************

Sesampai di ruang gawat darurat. Alfi segera mendapat penanganan oleh pihak rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat terlihat begitu sibuk memakaikan beberapa alat bantu padanya. Sementara Didiet bersama yang lain hanya bisa melihat dari sebuah kaca kecil. Sriti juga sudah terlihat berada di sana. Lila tak henti-hentinya terisak, sebagai seorang dokter ia paham betul akan kondisi anak itu.

“Maaf saya perlu berbicara dengan keluarga anak itu” ujar seorang dokter senior yang baru selesai memeriksa Alfi.

“Saya adalah ayah angkatnya. Bagaimana kondisinya dok?” ujar Didit mewakili para sahabatnya. Mereka berlima tak sabar menunggu penjelasan dari dokter mengenai kondisi Alfi.

“Ia mengalami gegar otak serius, harus segera di operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya agar jiwanya tertolong”

“Lakukanlah Dok, saya mengijinkan anda buat melakukan tindakan tersebut” ujar Didiet mantap. Memang sejak kematian ibunya Alfi, maka segala hal yang menyangkut diri Alfi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Didiet.

“Baiklah, sebentar lagi ada pihak administrasi rumah sakit yang akan meminta anda menandatangani surat persetujuannya”

Setelah urusan administrasi selesai maka Alfi-pun segera dipindahkan ke dalam ruang operasi. Didit dan Donnie terlihat gelisah mondar-mandir di sepanjang lorong. Sementara Niken dan Sandra masih berusaha menghibur Lila. Gadis itu begitu pucat sampai harus dibantu oleh seorang perawat.

“Ibu terlihat kurang sehat sebaiknya istirahat saja dulu di ruang perawat” ujar perawat itu menawarkan. Benar adanya, saat ini sebenarnya kondisi fisik maupun mental Lila memang dalam keadaan drop akibat penculikan dirinya dari rumah hingga menyaksikan penyiksaan Erik terhadap Alfi. Setelah dibujuk-bujuk Sandra akhirnya Lila baru mau menuruti saran perawat tadi. Sandra dan Sriti membimbing Lila menuju ruang yang di sediakan bagi mereka.

“Nien sebaiknya kau juga beristirahat ingat akan kandunganmu, biar aku dan Didiet yang menunggu di sini” bisik Donnie.

“Baik mas”

Tiga jam berlalu mereka tetap menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya lampu di atas pintu kamar operasi padam menandakan operasi telah selesai. Didiet diikuti yang lain memburu ke arah dokter yang baru keluar dari kamar operasi.

“Kami telah berhasil mengeluarkan gumpalan darah beku di kepalanya. Meski demikian masa kritis anak itu belumlah benar-benar berlalu. Ia harus dirawat secara intensif dan diawasi oleh pihak rumah sakit di dalam ruangan ICU. Dan untuk sementara waktu dia belum boleh di bezug” demikian dokter tersebut memberikan penjelasan kepada mereka.

Untuk sementara waktu mereka bisa bernapas sedikit lega. Alfi mengalami koma selama tiga hari. Selama itu ke empat wanita itu secara  bergantian menjenguknya. Namun setelah melewati hari ke tujuh Alfi tak kunjung sadar juga, kekuatiran Lila kembali muncul. Kesehatan anak itu semakin hari perlahan tapi pasti semakin memburuk. Sebagai ahli medis Lila mengenali dan membaca tanda-tanda tersebut dari layar kecil di samping ranjang Alfi serta catatan medis dari perawat di sana. Lila merasakan ada sesuatu yang lain. Meski anak itu yang telah menggagahi dan merengut miliknya yang paling berharga tetapi entah mengapa ia justru merasa takut sekali hal yang lebih buruk menimpa diri anak itu. Pada suatu siang. Ia datang ke rumah sakit. Ia belum melihat Niken dan yang lain di sana. Lalu Ia menghampiri sebuah counter bagi perawat yang bertugas di bagian itu. Setelah memberitahukan bahwa ia adalah seorang dokter akhirnya perawat tersebut memberinya izin untuk dapat masuk ke kamar Alfi. Perlahan ia mendekat ke ranjang dimana anak itu terbaring tak berdaya. Hatinya begitu terenyuh dan air matanya mulai meleleh di pipinya melihat keadaan anak itu. Memar dan lebam akibat penganiayan Erik masih terlihat di sekujur wajahnya serta nampak beberapa selang terhubung dengan tubuhnya dari berbagai arah. Dengan agak berbisik bibirnya mulai berkata.

“Fi…Kakak harap kamu dapat mendengar ucapan kakak. Kakak hanya ingin kamu tahu bahwa  kakak sudah memaafkanmu. kakak sadar dan tak ingin menyalahkanmu atas semua perbuatan yang disebabkan Erik. Kamu…kamu …tak harus membayar sedemikian mahal untuk menebus kesalahan itu….bangunlah Fii…demi..kakak” ia berbisik di antara isak nya.

Setelah lewat lima menit ia kembali keluar. Kala itu Niken baru saja datang ke sana melihat mata Lila yang merah dan basah.

“La…., kamu baik-baik saja kan” tanya Niken

Lila mengangguk. Ia tak ingin Niken dan yang lain tahu dan kuatir akan perkembangan kesehatan Alfi. Tapi dadanya begitu sesak.

“Aku telah bersalah Nien…aku terlalu memojokannya saat itu…sehingga akhirnya  ia nekat mempertaruhkan nyawanya demi aku …huu..huu” tangis Lilapun pecah. Niken langsung memeluk sahabatnya itu. lalu menepuk–nepuk punggungnya untuk memberikan rasa nyaman bagi Lila.

“Sttt…sudah La…sudah…jangan terus-terusan sedih begini, tak baik buat kesehatanmu, aku yakin Alfi melakukan itu karena ia sangat menyayangimu”

“Tapi Nienn….aku takut ia…ia..”

“Dengarkan aku La…perasaan kami semua saat ini juga sama sepertimu… sedih dan takut …tapi kita hanya dapat berdoa agar Alfi segera sadar dan kembali sehat. Dan aku yakin ia akan bangun dan berkumpul bersama kita lagi. Kuharap engkau juga tak berlarut-larut menyalahkan dirimu.”

Lila mengangguk Lalu Niken menyeka pipi Lila dari sisa air mata.

“Kita pulang yo” ajak Niken setelah satu jam mereka di sana.

“Kamu pulang saja duluan Nien, aku masih kepingin di sini..” Ingin rasanya ia tetap di sana hingga Alfi sadar.

“Ahh Ayolahh maniss…” Niken menarik paksa tangan Lila. Akhirnya Lila mau juga diajak Niken pulang bersama.

************************

Pagi harinya ia terbangun ketika mendengar dering Hpnya.

“Ada apa Nien?” tanyanya lesu karena  rasa kantuk masih membayangi kepalanya akibat semalam ia baru mampu memejamkan matanya pada pukul tiga dini hari.

“Laa!..Alfii La!..” ujar Niken. Lila bergegas bangkit dari kasur karena kaget mendengar suara Niken seperti tergesa-gesa ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Ada apa dengan Alfi Nien!” Tanya Lila panik. Tak terasa air matanya kembali meleleh. Inilah yang sangat ia takutkan. Semua yang di kuatirkannya terjadi di saat ia tak berada di sana

“Ia…bangunn La! Alfi sudah sadar!”

“Ohh…Nien …syukurlahh…huu..huu”

Pembicaraan mereka terhenti beberapa saat, Niken membiarkan Lila melepaskan beban di dadanya dalam tangisan lega.

“Udah belum nangisnya cantik?” godanya pada Lila.

“Sudah… tapi aku benci sama kamu Nien” ujar Lila dengan nada merajuk.

“Loh kok jadi marah sama aku?”

“Iya habisnya kamu ngomongnya diputus-putus begitu  seharusnya sejak awal kamu bilang Alfi sudah sadar sebab tadinya aku sempat kuatir dan mengira kalau terjadi ada apa-apa pada dia. Kamu pasti sengaja mengoda aku kan?”

“Hi hi Iya..iya aku ngaku salah ..aku minta maaf…kamu tunggu saja di rumah sebentar lagi akan kujemput. Kita pergi ke rumah sakit sama-sama”

*************************

Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Di sana nampak Sandra, Donnie dan juga Sriti sudah menunggu di depan pintu kamar ICU. Lalu terlihat Didiet  baru keluar dari dalam kamar dengan mempergunakan pakaian steril. Sepertinya hanya Didiet seorang yang baru boleh di izinkan masuk dan bertemu Alfi.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sandra pada suaminya.

“Syukurlah ia dalam kondisi baik dan sempat sadar selama lima belas menitan. Ia bahkan bisa berkata-kata sedikit dengan berbisik sebelum akhirnya kembali tertidur” jelas Didiet.

“Haihh….Ia seharusnya belum boleh dulu banyak berpikir dan berbicara” keluh Lila

“Yah…aku juga heran pada kondisi seperti itu ia tadi justru menanyakan keadaan dirimu. Dan setelah aku katakan bahwa kamu juga selamat malam itu tanpa kurang suatu apapun barulah ia nampak tenang dan kemudian terlelap lagi” jelas Didiet menambahkan.

Lila terenyuh mendengar penuturan Didiet, betapa anak itu masih mengkuatirkan keselamatan dirinya dalam keadaan seperti itu. Hari itu Lila bertekat belum akan pulang ke rumah  sebelum ia menjumpai berhasil Alfi dalam keadaan sadar. Ia menunggu di temani oleh Niken dan Sriti hingga sore harinya. Dan saat jam menunjukan pukul lima sore Alfi kembali terjaga. Niken memberi kesempatan bagi Lila terlebih dahulu masuk. Hati Lila merasa lega melihat seyum anak itu mengembang dari balik masker oksigennya saat melihat ia datang. Tapi Lila menjadi agak kikuk. Ia tak ingin memperlihatkan bagaimana gejolak perasaannya saat itu baik pada Alfi maupun Niken. Ia berusaha bersikap tenang dan dingin seperti biasanya meski hatinya gembira bukan main saat itu.

Demikianlah setelah berjalan satu minggu karena kondisi Alfi berangsur-angsur membaik. Dan kini Alfipun sudah boleh dipindahkan dari ruang ICU dan menempati sebuah kamar rawat inap. Dan di dalam kamar VIP tersebut Alfi baru bebas menerima kunjungan. Hari itu terlihat mereka semua hadir di situ.

“Fi, besok kami terpaksa harus pulang dulu ke kota S karena banyak sekali pekerjaan yang tertinggal dan harus di selesaikan” ujar Didiet.

“Ngga pa pa Kak. Alfi mengerti”

“Oya Fi ada kabar gembira buatmu, kak Nadine-mu telah melahirkan dengan selamat. bayinya perempuan,  gemuk, sehat, cantik dan berkulit putih bersih persis ibunya” jelas Niken.

“Selamat ya ‘PAPA’ Alfi” ujar Sriti disambut tawa yang lainnya.

“Oya ada salam sayang juga dari kak Dian-mu, katanya ia kangen sekali padamu” ujar Niken.

“Doakan Alfi supaya cepat sembuh ya kak”

“Ya, kau istirahat saja sampai pulih tak usah memikirkan untuk buru-buru pulang, kami akan bergantian datang ke kota ini buat menjengukmu” ujar Didiet menambahkan.

“baik kak, ngga usah kuatir kan di sini ada kak Sriti”

*********************

Selama satu  bulan lamanya Alfi di rawat di rumah sakit. Namun sejak Niken dan yang lain pulang, tak terlihat sekali-pun  Lila datang menjenguknya. Sudah dua minggu Ia hanya ditemani oleh Sriti. Ternyata Lila juga pulang ke kota S menyusul yang lain. Alfi merasa sedih ia yakin Lila pasti masih membenci dirinya dan tak akan pernah mau memaafkan dirinya atas kejadian tempo hari. Hingga pada suatu malam, menjelang pukul 9, Saat itu Alfi tertidur lelap setelah menyelesaikan sesi makan obat terakhirnya untuk hari ini. Terlihat seseorang memasuki kamarnya. Orang itu tak lain adalah Lila. Ia baru sampai dari kota S dan langsung menuju kemari tanpa pulang ke rumah ibunya terlebih dahulu. Ia berdiri di samping tempat tidur dan memandangi wajah anak itu. Dua minggu ia pergi menyibukan diri dengan praktek di Kliniknya untuk melupakan semua yang terjadi selama di kota H , termasuk melupakan anak ini. Namun yang terjadi malah sebaliknya semakin Ia berusaha menghapus kenangannya bersama Alfi semakin kuat pula kenginan dirinya untuk dekat dengan anak itu. Lila juga binggung entah apa yang terjadi pada dirinya. Ada sesuatu yang mampu mengganggu seluruh prinsip hidup yang telah ia jalani selama sepuluh tahun ini. Dimanakah keteguhannya selama ini yang tak sekalipun tergoyahkan oleh keberadaan seorang lelaki dalam bentuk apapun sejak penghianatan Erik dulu? Ia bukanlah type seorang gadis yang gampang tergiur oleh betapa hebatnya seorang lelaki dan berapa pun besarnya daya pikatnya. Bahkan kebanyak pria yang datang tersebut tergolong gagah, tampan dan mapan sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Alfi.yang berbadan kurus hitam dan berwajah pas-pasan itu. Ia harus mengakui bahwa awalnya sebelum mengetahui bahwa Alfi tak sengaja terjerat dalam nafsunya akibat obat perangsang Erik, ia merasakan kebencian demikian meluap-luap karena Alfi menggagahinya malam itu. Namun seiring waktu rasa benci itu berganti menjadi rasa rindu yang mendalam.semakin ia mengingat kejadian malam itu semakin ia merasakan bagaimana dirinya berubah seperti segumpal bara panas kala dalam balutan dekapan tubuh anak itu.

Memang sejak hari itu, secara bertahap Lila merasakan hasrat seksualitasnya menggelora tak terkendali. Di malam-malam kesendiriannya ia kerap mendapati dirinya mengalami bermimpi erotis bahkan pada siang hari pikiran penuh gairah nafsu terus-menerus berputar dalam benaknya. Jelas ia telah jatuh hati pada anak ini, jatuh hati pada kepolosan dan pengorbanannya, terpesona pada kejantannya. Hal inilah membuat ia mengambil keputusan untuk kembali menemui anak itu malam ini. Saat pikiran dan perasaannya masih berkecamuk dan bercampur aduk tiba-tiba..

“Kak……Li..la..” gumam Alfi lirih. Lila terkejut anak ini membisikan namanya di dalam tidurnya. Bukan Sandra, Dian, Nadine atau Niken. Namun dirinya.

Terlihat anak itu menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Alfi sempat terkejut ketika matanya menangkap sosok dihadapannya. Alfi mengucek matanya ternyata memang benar itu adalah Lila. Sungguh bahagia ia dapat kembali melihat wajah cantik gadis itu.

“Kak..Lila?” ucapnya lirih dan berusaha untuk duduk.

“Iya Fii…ini aku”

“Kak Lila…kapan datang?” sapanya

“Baru saja Fi”

Kekakuan masih terasa, namun Lila tak ingin berlama-lama dalam keragu-raguan. Bukankah sejak berencana datang kemari ia sudah memutuskan untuk dapat memperoleh kejelasan dan jawaban dari permasalahan antara ia dan Alfi.

“Hmm… Fii”

“Iya kak?”

“Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu”

“Alfi tahu kakak pasti ingin membicarakan tentang kejadian tempo hari” ujar Alfi menduga-duga setelah melihat perubahan pada wajah Lila yang nampak serius.

“Ya Fii.  Kakak ingin memberi tahumu bahwa kakak telah hamil karena perbuatanmu dulu itu … oleh sebab itu…. kakak ingin meminta tanggung jawabmu Fi” ujar Lila.

Alfi terkejut mendengar ucapan Lila itu. Hatinya menjadi kecut teringat akan omongan Niken tempo hari.Namun hatinya sudah bertekat untuk menerima apapun keputusan dari Lila asalkan gadis itu tak lagi membenci dirinya.

“Alfi sudah tahu mengenai kehamilan kakak dari kak Niken. Alfi siap dan rela kakak apa-apain…Alfi ..juga rela jikaa harus kakak operasi menjadi… cewek” ujar Alfi bergetar ketakutan saat mengucapkan itu.

Lila jadi tertawa geli mendengar ucapan Alfi barusan, ia sudah mengira pastilah Niken yang telah mengarang omongan seperti itu buat menakut-nakuti anak itu. Lila mendekatkan tubuhnya ke Alfi. Harum tubuh wanita itu tercium oleh hidungnya. Alfi terkejut saat tahu-tahu wajah Lila sudah begitu dekat dengan wajahnya. Lalu bibir lembut gadis itu mengecup lembut pipinya.

“Kak?…” Alfi masih belum percaya jika Lila melakukan hal itu. Bukankah seharusnya Lila sangat membenci dirinya karena telah menodainya tempo hari.

“Apa kau masih bingung dan tak mengerti juga?”

“Apakah kakak tidak akan..mengoperasi Alfi?”

“Dasar anak bodoh….bagaimana mungkin aku mau memiliki seorang suami berkelamin perempuan”

Suami?…jadi Lila menuntutnya untuk dinikahi.

Alfi tercenung sambil menatap perut Lila, tempat dimana di dalamnya salah satu benih nya sedang tumbuh. Ia sadar situasi dan kondisi Lila tak dapat di samakan dengan Sandra dan wanita nya yang lain. Lila memang tak punya suami ataupun kekasih. Sedangkan Didit maupun Donnie sudah tak mungkin untuk menambah seorang istri lagi. Berarti ia sendiri yang harus menikahi Lila. Betapa beruntung hidupnya. Entah kenapa saat membayangkan ia bakal hidup bersama dengan Lila tiba-tiba saja kemaluannya berereksi dengan hebat setelah selama satu bulan ini tertidur.

“Ada apa Fi, ka..mu diam saja? A..pakah…kamu merasa keberatan menikahi kakak?  Ji..ka demikian kakak tak ingin memaksamu… ..biarlah kakak yang akan membesarkan bayi kita sendirian” ujar Lila dengan nada suara mulai bergetar, Ia sadar sulit bagi anak seusia Alfi memikirkan harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami meski Lila tak menuntut untuk diberikan nafkah secara materi.

“Ti..dakkk…bukannn begitu kakk, Alfi bersedia kok menjadi suami kakak, Lagian siapa tak ingin punya istri cantik dan pandai seperti kakak” ungkap Alfi cepat-cepat. Ia kuatir gadisnya itu terlanjur sedih dan kabur dari situ.

“Benarkah? Kau bersedia menikahi kakak?Dan apakah kau tak merasa aku terlalu tua untukmu?” Tanya Lila lagi.

“Kakak manis. Alfi sayang dan cinta kakak. Alfi bakal temani kakak hingga akhir hayat Alfi”ujar Alfi sambil meraih jemari Lila dan menggenggamnya agar gadis itu yakin akan keputusannya.

“Lantass kenapa dong tadi  kakak lihat kamu sempat diam dan nampak gelisah?” ujar Lila masih binggung. Tapi Ia sungguh gembira Alfi telah bersedia buat bertanggung jawab meski ia sendiri masih bingung bagaimana melangsungkan proses pernikahan itu di karenakan Alfi belum lagi berusia tujuh belas tahun.

“Ooo tadi itu Alfi..cuma …kuatir”

“Kuatir apa?”

“Ah..tidak apa-apa kak, kita ngomongin yang lain saja tapi yang jelas Alfi bahagia sekali bakal menikahi kakak, Eng..ya ngomong-ngomong kapan kak Niken dan yang lain berencana datang ke kota H kak?” ujar Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Hmm….Kamu bikin aku penasaran…ayo katakan dulu padaku apa yang kau kuatirkan sehingga bersikap seperti tadi?” ujar Lila duduk di bibir ranjang.

Percuma Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan, Lila tetap mendesaknya buat berterus terang.

“Alfi tadi kuatirr kalau terus-terusan berdekatan dengan kakak … Alfi tak bisa mengendalikan diri lagi seperti tempo hari. Alfi kan sudah pernah sekali berbuat dosa terhadap kakak sehingga menimbulkan masalah besar, Alfi tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi”” ujar Alfi sambil menunduk tanpa berani memandang ke arah Lila.

Tangan Lila menarikkan selimut yang menutupi dari bagian pinggang ke bawah Alfi. Alfi berusaha mencegahnya namun ia kalah cepat dari Lila. Lila tersenyum melihat ketegangan dari balik celana piyama anak itu. Lalu ia kembali mengulangi kecupannya tapi kali ini di bibir anak itu hingga Alfi terpancing untuk membalasnya. Meski demikian Alfi takut untuk bertindak kurang ajar ia hanya mengecup lembut dan buru-buru melepaskannya sebelum ia menjadi tak terkendali.

“Bagaimana jika aku yang memintamu… melakukan dosa itu lagi padaku?” tanya Lila saat ciuman mereka terlepas.

Kalimat terakhir Lila telah membuat Alfi mengangkat wajahnya dan menatap mata Lila. Ada sinar kerinduan terpancar di sana. Mata indah itu mengatakan kesungguhan sehingga segalanya menjadi jelas dan Alfi jadi tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Ia tak lagi ragu-ragu untuk menangkap tubuh mahkluk cantik di hadapannya itu ke dalam pelukankannya.

“Oh.. Kakk…kak…Alfii cinta kakak” bisiknya

“Nikahi kakak ya Fi… miliki kakak….kakak juga sayang padamu…cinta padamu..” Rengek Lila balas memeluk erat tubuh kecil bocah itu. Entah bagaimana caranya cinta dan kasih sayangnya terhadap Alfi bisa tumbuh begitu subur dan kuat padahal anak ini masih belum cukup umur dan tak bisa juga di katakan tampan. Bagaikan bumi dan langit perbedaannya. Kisah kasihnya lebih mirip sebuah cerita dongeng anak-anak ‘beauty and the beast’ ketimbang kisah cinta  ‘Romeo and Juliet’. Namun rasa ini tak terungkapkan indahnya. Hatinya begitu berbunga-bunga bagai perasaan seorang gadis ABG yang tengah dilanda cinta pertamanya. Lila seakan telah menemukan apa sebenarnya penawar bagi kegelisahannya selama ini.

Perlahan tubuh Lila rebah ke kasur sementara kepalanya telah jatuh ke dalam gumpalan  bantal Alfi. Sedangkan posisi tubuh Alfi berada di atas tubuhnya. Mata keduanya kembali saling menatap. Mereka tahu di hati mereka saling memendam kerinduan meski baru terpisah beberapa minggu saja.

“Kakak..cantik sekali” bisik Alfi terpukau. Seakan ada magnet yang kuat yang membuat wajahnya turun perlahan mendekat ke arah wajah Lila.

Emp…hanya itu yang terdengar. Rintihan Lila tak sempat keluar karena bibirnya sudah dipenuhi oleh hisapan bibir Alfi. Tubuh Lila gemetaran bagai orang terserang malaria. Tak ada pengaruh obat perangsang kali ini namun Lila merasa kali ini lebih mendebarkan ketimbang tempo hari. Pecintaan kali ini ia lakukan secara sadar dan karena iapun menginginkannya. Tak ada yang  menghalangi keinginan keduanya buat bersatu  sehingga ranjang kecil rumah sakit itu tak terasa sempit bagi mereka berdua. Untunglah tadi Lila telah mengunci pintu kamar terlebih dahulu saat masuk tadi. Lila heran Alfi menghentikan kecupannya. Anak itu merenggang menjauh dari tubuhnya sementara matanya menatap ke arah dada Lila. sejenak Lila mengerti keinginan anak itu. Dengan wajah  merona merah karena malu, Lila melepas sendiri kancing-kancing bajunya satu persatu. Ia tak menyangka ia mau melakukan itu semua itu di hadapan anak itu.

“pelan..pelan  Fi, ingat kepalamu belum boleh terlalu bayak bergerak” Lila mengingatkan anak itu.

Benar saja begitu semua kancing bajunya terbuka. Ciuman Alfi kembali menghangati bibirnya. Lila dapat merasakan jemari anak itu berusaha membuka pengait branya. Dan sepertinya ia sudah berhasil melakukannya. Kecupan Alfi  beralih ke leher jenjang Lila perlahan turun hingga sampai di belahan dada gadis itu  lalu lidahnya mulai menjilati setiap jengkal permukaan kulit kedua bukit putih kembar di hadapannya.

“Fiii…geliii..ouhhhhh” pekik Lila lirih ketika mulut Alfi menyergap salah satu putting payudaranya dan mengisapinya kuat-kuat.

Lila tak berani menekan kepala Alfi yang masih terbalut perban. Ia hanya meninggikan dadanya agar mulut Alfi makin terbenam di situ. Anak ini… ia pandai sekali menyenangkan diriku Pikir Lila. Ia seakan tahu di mana saja titik-titik rangsangan pada tubuh lawan jenisnya.

“Cks…..ckss……cksss” Alfi mengisapi ke dua putting Lila secara bergantian. Benda itu semakin memerah dan mengacung tegak. Puas menetek, Alfi melepas putting Lila

“Kakak Alfi ingin itu….” bisik Alfi. Penisnya sudah sangat tegang sejak tadi dan menagih untuk di lumat oleh sebuah liang vagina.

“Lakukanlah Fiii…kakak milik kamu sejak malam ini”

Alfi membuka kancing piamanya sedangkan celananya ia turunkan sebatas lutut. Ia sengaja tak telanjang bulat Ia kuatir setiap saat suster bisa saja masuk ke kamar dan memergoki mereka. Begitupun dengan Lila, Alfi hanya menarik lepas celana dalamnya dan menyembunyikannya di bawah bantal. Beruntung Lila memakai baju terusan yang longgar sehingga mudah bagi Alfi mengekplorasi tubuhnya.

Lila bisa merasakan kehangatan penis anak itu menekan perutnya. Jemarinya meraih ke bawah buat menyentuhnya kemudian menggenggamnya namun dia tidak dapat melingkarkan jari-jarinya secara penuh di pada benda itu. Lila merasa aneh, dulu-dulu ia tak pernah merasakan gairah meletup-letup seperti sekarang ini saat menatap dan menyentuh benda itu di ruang prakteknya. Benda  yang pernah memberikan rasa linu dan sakit namun juga sejuta kenikmatan pada vaginanya.

“Fii…” bisiknya lirih

“Kenapa kak?”

“ng..ga..punya kamu besar sekali ternyata”

“Kakak suka atau takut sakit?”

“Dua-duanya”

“Alfi janji bakalan pelan-pelan waktu masukinnya ke punya kakak nanti” Alfi membiarkan jemari lentik Lila mempermaikan daging miliknya itu.

“Fii..”

“Iya kakak sayang?”

“Ma..sukin sekarang…”rengeknya manja kerena menginginkan Alfi menuntaskan kerinduannya meski dengan agak malu-malu saat mengatakan itu.

“Pingin pakai lidah apa pakai titit,kak?”goda Alfi

“A..aaa Alfi gitu” rajuk Lila bertambah malu didesak mengatakan pilihannya itu sambil memukul-mukul manja dada Alfi.

“Bilang dulu…kakak sayang maunya dimasukin lidah apa titit Alfi?”

“Eng..ti..tit” ujarnya dengan pipi bersemu dadu.

Lila tahu ini pasti akan sedikit menyakitkan baginya, meski ia sudah tak perawan lagi karena  ia baru sekali melakukan persetubuhan dan kemaluan Alfi memang sangat besar dan panjang. Tapi saat ini ia sangat ingin merasakan kembali kenikmatan yang dasyat itu lagi lebih dari apapun di dunia ini. Dengan jemari tangannya, Lila membimbing penis anak itu yang berdenyut-denyut ke celah  basah vaginanya. Lalu secara naluriah Alfi menekan kemaluannya sehingga kepala titit berkulup besar itu meluncur masuk sedikit di antara bibir basah itu.

“Uhhhhh!!…sa..kitttt.”

Lila tersentak melengkungkan punggungnya untuk menahan penetrasi Alfi. Awal penyatuan itu  telah menciptakan sedikit rasa sakit sehingga Alfi pun menunda dulu tekanannya. Ia menjatuhkan bibirnya kembali menyusu pada putting payudara gadis itu sementara tangannya membelai lembut payudara satunya. Sedikit demi sedikit ia memberikan dirinya untuk dimasuki anak laki-laki hitam ini. Mendorong kemaluannya menerobos lipatan vulvanya. Ia merasakan kehangatan yang lezat ketika penis besar itu menyusup lebih jauh dan lebih ke dalam menembusi nya,

“Oughhh…Fiiiii…” desahnya nikmat setelah titit Alfi berhasil masuk semuanya ke liang senggamanya. Ia merasakan kenikmatan itu makin menyengat mana kala rahimnya terdesak oleh ujung kulup kemaluan Alfi.

“Masih sakit kak?” bisik Alfi. Lila menggeleng . Sambil melakukan penetrasi Alfi menatap wajah kekasihnya itu sehingga ia dapat melihat ekspresi Lila.  Mata Lila terpejam rapat di antara kerenyitan dahinya sementara giginya menggigit bibir bawahnya. Ia tahu gadisnya itu tak lagi merasakan sakit namun justru sedang dilanda kenikmatan.

“Ka..kak sayanggg…semua punya Alfi sudah di dalam punya kakak sekarang”

“Be..narkahh?” Lila baru yakin setelah melirik ke arah bukit kemaluannya yang bertumpu dengan bukit kemaluan Alfi.

Setelah organ cinta mereka berdua menyatu erat, kedua kaki indah Lila menyilang dan menjepit pinggang calon suaminya. Sementara jemari lembutnya mencengkram punggung Alfi. Kini tubuh kecil Alfi terjepit di antara montoknya ke dua paha wanita dewasa yang mengapitnya erat siap buat melakukan gerakan persetubuhan. Alfi mulai memaju mundurkan pantatnya. Ia sadar ini baru persetubuhan kali kedua buat Lila dan ia tak ingin Lilapun kesakitan akibat kocokan-kocokan yang cepat. Begitu ketatnya kemaluan mereka bertaut. Entah vagina Lila yang terlalu sempit atau memang ukuran penis Alfi yang tak normal. Bibir vagina Lila ikut tertarik keluar di saat penis Alfi di cabut. Begitupun saat daging hitam itu bergerak menusuk seakan bibir vagina Lila-pun ikut terdorong masuk. Kulit kulup Alfi tertarik keluar sehingga glans penisnya menyentuh dasar vagina Lila yang lembut. Namun Alfi merasa persetubuhan dalam tempo yang lambat seperti ini akan membuat dirinya berejakulasi dengan cepat. Vagina Lila dengan leluasa ‘menyiksa’nya dengan lumatan-lumatan kenikmatan. satu bulan tak bersetubuh sama sekali menjadikan tititnya terlalu sensitive.

“Ouhhhhh…kakakk” desah Alfi.

Lila dapat melihat wajah Alfi yang berubah pucat.

“Fiii…kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya ditengah-tengah kenikmatan itu. Ia kuatir jika gerakan-gerakan yang mereka buat menimbulkan rasa sakit bagi kepala anak itu.

“ga pa…pa kak…Alfi..justru lagiii e..nakkk”jawabnya terbata-bata. Lila-pun merasa lega.

Sebagai seorang dokter ahli kandungan sedikit banyak ia tahu dan pernah membaca bagaimana cara mempergunakan otot-otot kewanitaan di saat berlangsung persenggamaan. Lila ingin mempersembahkan sebuah kenikmatan terindah bagi Alfi. Ia ingin meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak itu. Ia ingin anak itu mencintainya dan tak pernah meninggalkannya. Lalu ia mencoba memperaktekan semua yang ia ketahui  pada persetubuhan mereka saat itu. Otot vaginanya ia kencangkan seolah sedang menahan laju air kencingnya pada saat pipis. Ia lakukan berulang-ulang. Akibatnya sungguh luar biasa. Alfi merasakan kuluman liang senggama gadis itu menjadi demikian tak terkira nikmatnya. Kedua biji matanya sampai terbalik ke atas. Sebenarnya Lila tak butuh melakukan gerakan itu karena vaginanya masih sangat sempit itu cukup untuk membuat Alfi bertekuk lutut.

“Ka..kaakkk manisss…Alfi bakal muncratt  duluannnn….Alfiii nggaa tahann lagiiiiii..Oughhhh” rintih Alfi sambil mendekap erat tubuh Lila. Pantatnya mengocok-ngocok beberapa kali sebelum akhirnya….

“Tumpahkan sayang…tumpahkan semua benihmu di dalam punya kakakkkk” bisik Lila sambil berdebar-debar menanti terulangnya saat-saat pembuahan dirinya oleh Alfi.

Alfi mencoba untuk menahan laju spermanya untuk terakhir kali namun kenikmatan itu sudah mungkin ia tahan lagi. Stok sperma yang terpendam selama hampir satu bulan itu dipompa naik dari testisnya dengan cepat mengalir menyentuh setiap syaraf-syaraf kenikmatan yang ada di alat kelaminnya. Kurang dari satu detik cairan-cairan kental itu akhirnya berhamburan memancar dari ujung kulupnya tanpa tertahankan lagi.

“Aoooooo…kakkkakkkk!!!!” Alfi terpekik sambil menghujamkan titit sedalam mungkin ke vagina Lila.

Crutttttt…..cruuuutttt…crootttttttt…..crotttt…Lila tersentak kaget. Titit besar anak itu mengembang kempis secara cepat di dalam cengkraman  dinding vaginanya. Lalu ia merasakan hentakan-hentak deras  ejakulasi Alfi membentur mulut rahimnya.

“Ohhhhh ….Alfiii kamu dapet sayang” Lila dengan pasrah menerima suntikan demi suntikan benih kekasih kecilnya itu.

Ia menunggu dengan sabar Alfi menyelesaikan ejakulasinya hingga tuntas sambil mempererat dekapannya. Lila sangat menikmati indahnya momen itu meski orgasmenya belum ia peroleh. Menit-menit berlalu, setelah orgasmenya reda, Alfi mengangkat wajahnya dari cekungan leher Lila  lalu mengecup kening gadis itu.

“Kamu kalah sayang!” ujar Lila.

“Iya…Alfi kalah sama kakak….memek kakak enak banget..bikin Alfi ngga tahan… sekarang giliran Alfi bikin kakak muncrat” ujar Alfi

“A..pa barusan kamu bilang?” Tanya Lila hatinya tergelitik mendengar kata ‘memek’ yang diucapkan Alfi. Menit-menit sebelumnya Alfi menyebut ‘titit’ buat kemaluannya sendiri dan bukan penis. Inikah bahasa persetubuhan? Terdengar begitu vulgar dan menggairahkan.

“eng… me..mek kakak enak. Ada apa kak?” Tanya Alfi.

“Ngga papa, bi…lang sekali lagi sayang “pinta Lila. Meski bingung Alfi menuruti permintaan kekasihnya itu.

“Memek kakak enak banget, memek kakak legit, memek kakak bisa ngisepin titit Alfi” bisik anak itu di dekat telinga Lila.

“Seperti inikahhh?” tanya Lila sambil mempergunakan otot-otot vaginanya seperti sebelumnya.

“Ohhh..kakaaaakkk”desahan Alfi keenakan. Ia lalu membekap bibir Lila lagi dengan ciuman. Kini Lila baru mengerti sekarang mengapa bocah ini begitu digilai oleh Sandra dan wanita lain yang pernah merasakan hubungan sex dengan Alfi. Titit bocah itu tak mengecil sedikitpun setelah berejakulasi secara dasyat tadi.

Setelah liang senggama Lila licin oleh spermanya. Kini Alfi dapat leluasa melakukan kocokan agak cepat.

“E..nak kak?”

“He..ehh…” jawab Lila. Kocokan Alfi kali ini cepat sekali membuatnya melambung.

“Besar ya kak?”

“He.ehhh be..saarrr…Fiiii”

“Kakak suka sama punyaku ya?”

“Iyahh Fiiii…kakakkk sukaa”

Alfi menyusupkan kedua telapak tangannya kebawah pantat montok Lila dan meremasnya. Sementara pantatnya semakin cepat berayun. Ia menggunakan semua kekuatan otot-otot pinggul dan pantatnya buat menaklukan dokter cantik itu. Penisnya yang besar seakan membongkar liang vagina sempit Lila.

“Fiiiii…All.fiiiii” rintih Lila memanggil-manggil nama Alfi diantara kecipak suara kemaluan mereka yang beradu akibat genjotan anak itu.

“Kakak sayang  sudah mau muncrat ya?” Alfi merasa Lila tak akan lama lagi bakal mencapai orgasmenya karena Organ kewanitaan Lila semakin kencang mencengram batang tititnya.

“Ohh…sayangggg punyamu besarrr….punyamuu enakkkk” Bibir Lila meracau tak terkendali. Kepalanya terlempar ke kiri dan ke kanan.

Denyut-denyut nadi ke duanya semakin cepat seiring semakin cepatnya kocokan titit Alfi ke liang senggama Lila. Lila-pun akhirnya telah sampai di puncak kenikmatan itu. Kuku-kuku Lila kuat dengan menancap pada pantat Alfi yang bulat sekujur tubuhnya bergetar hebat merasakan kenikmatan yang ditunggu-tunggunya seperti yang pernah ia alami saat malam ia di gagahi Alfi dulu itu telah datang menyapanya.

“Ouhhh….Fiiiiiiihh  eemfffffff!!!” sebelum pekiknya sempat terlontar buru-buru Alfi menyumbat bibirnya dengan ciuman agar tak membuat heboh rumah sakit.

Memang untuk  urusan ranjang, wanita memang mungkin kurang agresif menyerang. Tapi, untuk urusan orgasme, wanita tetap jadi juaranya!

Semua otot-otot kewanitaan Lila berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. dan diakhiri dengan hisapan kuat pada titit Alfi

lebih kencang dari sebelumnya yang membuat Alfi ikut melambung keenakan. Lila terus mengejang sementara vaginanya berdenyut-denyut terus mengeluarkan cairan kenikmatan .

“Aooooo….Kakkkkkk Lilaaa  enakkk !!!!” Alfi berusaha menahan jeritannya karena sengatan nikmat yang seakan ikut membetot jiwanya bersamaan dengan cengkraman otot-otot vagina Lila yang dasyat pada penisnya. Bahkan saat Lila menghentak seakan vagina gadis itu hendak mencabut putus miliknya. Kedua biji mata Alfi mendelik menahan rasa geli yang menjalar cepat terutama pada bagian kepala penis yang dipenuhi syaraf kenikmatan. Rasa-rasanya ia tak akan menunggu waktu lama untuk kembali berejakulasi. Nikmat itu demikian menggila dan tak dapat  ia  lawan. Sehingga…..

Creetttt…Creett..Crettt

“Kakaaaakkk…Allfiiii muncrattt!!!!! Emmfffffff!!!” Kali ini Lila yang menangkap bibir anak itu dengan ciuman panjang.

Kedua tangan Alfi memeluk pinggang ramping Lila kuat-kuat. Bersamaan dengan penisnya berkejat-kejat keras lalu memuntahkan seluruh sisa spermanya kedalam rahim Lila. Cairan itu melesat bagai peluru dari lubang pipisnya dalam volume yang sangat  banyak. sehingga vagina Lila bagai tak mampu menampungnya semua. Sebagian besar keluar tumpah dan mengotori seprey di kasur. Bahkan setelah menyemburkan banyak mani namun titit Alfi masih terus menghentak-hentak kuat  seakan–akan cairan kental itu tiada habis-habisnya apalagi vagina Lila-pun seakan tak pernah mengendurkan hisapannya pada batang titit Alfi. Semua itu telah menambah panjang sesi orgasme yang mereka alami.

“Uhhh…sayanggg…benihmu banyak sekaliii”desah Lila kala kenikmatan itu mereda. Ia sempat heran mendapati begitu banyaknya jumlah cairan  yang dihasilkan oleh biji pelir anak itu.

************************

Malam semakin larut dan jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Sprey kasur Alfi telah kusut tak menentu oleh persetubuhan panas yang tiada henti itu.

“Sudah dulu ya sayang, kakak takut nanti luka di kepalamu berdarah lagi karena terlalu banyak bergerak. Besok-besok kita terusin ya?” bujuk Lila meski Ia tahu banyak dari Niken jika Alfi tak akan berhenti menyetubuhi wanitanya sebelum keduanya berkali-kali mengalami orgasme bahkan hal tersebut dapat berlangsung sampai menjelang pagi tiba. Kalau saja mereka tak sedang di rumah sakit ingin rasanya Lila membiarkan titit besar anak itu mengeram di dalam vaginanya hingga pagi hari.

“Ngga mau…Alfi mau entot kakak sampai pagi .”

“Sayang kamu harus ingat kita sedang di rumah sakit. Nanti ada yang melihat atau mendengar jeritan kita. Kita kan bisa melakukan sepuasnya di rumah kakak saat kamu pulang dari sini”

“Satu kali lagi saja kak…boleh ya?” rengek Alfi.

“Hmm…baiklah tapi hanya satu kali lagi saja” ujar Lila tak dapat lagi menolak meski hatinya was-was takut mendadak ada suster yang memergoki mereka dalam keadaan demikian.

Kali ini orgasme Lila datang lebih cepat dari yang pertama tadi. Seluruh syaraf-syaraf kewanitaannya menjadi sangat sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi. Baru di genjot Alfi dua menit ia mengalami orgasme, lalu yang ketiga dan seterusnyapun susul menyusul  tanpa henti. Lila tahu ia telah mengalami multiorgasme. Hal yang didambakan setiap wanita yang pernah merasakan hubungan intim. Ia merasa sungguh takjub pada kejantanan Alfi. Padahal anak itu sudah berkali-kali pula berejakulasi namun tititnya tak pernah menjadi ciut. Hal itu semakin membuat Lila tergila-gila pada bocah itu.

“Anak bandel katanya cuma sekali saja…dasar!” ujar Lila di sela-sela napasnya yang belum teratur. Setelah orgasmenya mereda jemarinya mendorong perut Alfi menjauh dari tubuhnya. Alfi dengan berat hati mencabut lepas tititnya pelan-pelan dari kuluman vagina Lila. Sperma berhamburan keluar dari vagina Lila mengalir membasahi seprey.

“Sudah sayang. Besok lagi ya” bisik Lila  berusaha menahan hasratnya sendiri yang masih terus mengukunginya karena Alfi masih saja mencucup puting kirinya di saat gadis itu berusaha mengancingkan bajunya.

“Plokk!” pagutan Alfi akhirnya terlepas dari putting merah itu sehingga Lila dapat mengancingkan seluruh gaunnya.

Setelah membenahi pakaiannya Lila lalu pindah ke sofa. Namun mata mereka masih selalu beradu pandangan dari jauh dan tak kunjung merasa ngantuk. Tiba-tiba perlahan Alfi bangkit dan turun dari ranjang dan berjalan menuju ke sofa dimana Lila terbaring. Lila tersenyum geli. Ia merasa dirinyapun tak berbeda dengan anak itu yang tak ingin detik-detik malam ini berlalu sia-sia tanpa persetubuhan. Di atas Sofa itu ia kembali merasakan daging cinta Alfi memadati vaginanya dan memperoleh beberapa kali orgasme yang kuat sementara Alfi satu kali lagi sebelum akhirnya anak itu betul-betul tak menjamahnya lagi dan kembali ke atas ranjangnya sendiri malam itu. Lila tertidur lelap dengan senyum tersungging di bibirnya. Rasanya kenyataan yang ia alami barusan jauh lebih indah dari segala impiannya pernah ada selama ini.

*************************

Beberapa hari kemudian Alfi sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dengan merengek Lila memaksa Alfi untuk tidak pulang ke rumah Sriti namun tinggal di rumahnya. Ibu Lila tentu saja tak keberatan Lila merawat anak itu di rumahnya. Wanita tua itu mengetahui jika Alfi terluka karena menolong Lila pada peristiwa penculikan yang menimpa Lila kecuali bagian kejadian saat Lila dicabuli oleh Alfi. Apalagi Alfi merupakan anak asuh Niken teman Lila sejak dulu. Alfi diperbolehkan menempati kamar tamu depan.

“Meski kamu sudah tak dirawat di rumah sakit namun dokter mengatakan kamu harus tetap beristirahat selama beberapa minggu hingga kamu benar-benar pulih Fi” ujar Niken yang saat itu datang menyelesaikan administrasi perawatan Alfi dengan pihak rumah sakit. Niken senang dengan situasi yang berakhir membaik terutama menyangkut hubungan Lila dan Alfi.

“Kakak juga minta maaf tak dapat terus merawat kamu Fi karena kakak di minta Kak Nadine-mu ikut tinggal bersama mereka di kota S buat merawat bayimu” ujar Sriti ikut lega. Iapun dipekerjakan oleh Didiet di dalam perusahaannya.

“Iya kak, sampaikan salam sayang Alfi buat kak Nadine dan juga buat kakak-kakak yang lain, Alfi kangen sama mereka”

“Kamu pasti cepat sembuh Fi sebab ada seorang dokter cantik yang merawatmu di sini” Niken mengerling ke arah Lila membuat gadis itu jadi tersipu malu. Jelas Lila tak dapat menyembunyikan keintimannya bersama Alfi dari Niken.

Sepulang Alfi dari rumah sakit percintaan panas tersebut berlanjut di rumah Lila. Lila menginginkan Alfi untuk menghabiskan setiap malam di tempat tidur dan bercinta dengannya sesering mungkin yang ia ingin.

Kedua insan berlainan jenis itu benar-benar sedang di amuk asmara dan birahi. Terkadang mereka melakukannya di kamar Lila lain waktu di kamar Alfi. Bahkan saat Lidya ada di rumah  di siang haripun mereka mencuri-curi kesempatan untuk bersama. Celana dalam Lila-pun tak pernah sempat terpasang semenjak Alfi tinggal di rumahnya. Lila sadar ia bisa mengundang rasa ingin tahu ibunya dan Lidya yang tidur di kamar sebelah. Oleh sebab itu Ia selalu berusaha menahan jeritannya dengan menggigit bahu anak itu ketika orgasme datang melandanya. Lumayan menyakitkan bagi Alfi tapi ia sungguh bangga berhasil membuat kekasihnya itu memperoleh orgasme demi orgasme yang begitu kuat. Kini si cantik Lila benar-benar telah takluk oleh keperkasaan Alfi. Otaknya yang cerdas dan hatinya yang dingin itu telah luluh lantak oleh kejantanan anak itu. Ia tak mampu menahan terjangan hasrat dan gairah yang meletup-letup yang ditebarkan Alfi padanya. Tak ada kata bahkan teori kedokteran yang tepat buat mengungkapkan keindahan badani itu. Apa dan bagaimana indahnya rasa orgasme itu. Hanya dengan melakukannya, hanya dengan membiarkan Alfi menyentuhnya, dan hanya setiap sentuhan anak itu yang dapat menjabarkannya secara nyata. Alfi telah mampu menuntaskan rasa rindunya sebagai wanita yang telah lama mendambakan datangnya curahan kasih sayang dan belaian dari lawan jenisnya.

***********************

Enam minggu kemudian

“Hoekkk…hoekkk” Lila tak dapat menahan rasa mual yang mendorongannya untuk muntah. Ini memasuki bulan ke tiga sejak pertama kali ia di gauli oleh Alfi. Lila memang tak pernah melakukan test terhadap dirinya namun secara naluriah ia tahu sejak awal bahwa dirinya sedang Hamil! Selama ini ia berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Lidya dan ibunya. Namun beberapa hari ini rasa mualnya semakin menjadi-jadi.

“Kau tidak apa-apa nak?” tanya ibunya kuatir sambil bergegas membantunya.

“Ngga apa-apa buuu, Lila hanya masuk angin….Hoekk…hoekkk!” ujarnya kembali menaruh kepalanya di washtafel.  Ibunya dengan telaten membantu mengurut tengkuknya. Itu biasa orang lakukan untuk mengurangi rasa mual sambil memoleskan minyak angin di dekat hidung putrinya. Setelah rasa mual Lila agak mereda, wanita tua itu dengan hati-hati membimbing putri cantiknya itu duduk di sofa bersamanya.

“Mari duduk bersamaku di sini sayang…ada yang ingin ibu tanyakan padamu”

“Iya bu?”

“Sudah berapa bulankah usia kehamilanmu nak?” ibunya bertanya dengan suara yang lembut

“i..bu…sudahh  ta..hu?” ujar Lila tercekat.

“Sayang…meski ibu bukan seorang dokter kandungan sepertimu namun engkau tak mungkin mengelabuhi mata tuaku ini, mungkin engkau lupa kalau aku adalah seorang ibu yang pernah melahirkan dua orang putri?”  ujar sang bunda. Lila betul-betul tak menyangka jika ibunya bakal mengetahui apa yang terjadi pada dirinya secepat itu.

“masuk ti..ga bulann bu” ujar Lila lirih sambil menunduk..

“Apakah…Alfi telah tahu jika dirimu sudah hamil olehnya?” Tanyanya lagi. Pertanyaan kedua itu membuat Lila lebih terkejut, Ibunya bahkan juga dapat menerka secara pasti jika si Alfi adalah ayah dari janin di dalam perutnya itu.

“Me..ngapaa ibu berpikir kalau anak itu yang..?”

“Ibu memperhatikan dari caramu meladeninya selama ini seperti saat membawakan makan dan minum baginya, menyuapinya, dan caramu berbicara dengannya, jelas itu bukan sekedar hanya sekedar hubungan antara seorang dokter dan pasien atau apapun hubungan biasa lainnya, itu jelas adalah hubungan yang didasari oleh kasih sayang dari seorang wanita terhadap lawan jenisnya. Nah.. kau belum menjawab pertanyaan ibu tadi”.

Jelas sulit bagi Lila buat menyembunyikan semua itu dari ibunya.  Mata bijak wanita tua itu telah dapat membaca semua yang terjadi pada putri cantiknya ini. Lila-pun mengangguk mengiyakan.

“Ma..afkan Lila bu….Lila mungkin telah sangat mengecewakan ibu”

Setelah mengatakan itu air matanyapun tumpah tak tertahankan. Ia bingung harus berkata apa lagi kepada ibunya. Hatinya jadi diliputi kekuatiran jika ibunya tak menyukai hubungannya dengan Alfi . Tetapi sang bunda segera meraih kepalanya dalam dekapan  erat. Lalu belaian lembut jemari tua itu memberikan rasa nyaman pada Lila.

“Tak perlu takut nak…ibu tak perduli ia seperti apa, yang terpenting ia sungguh-sungguh mencintaimu sepenuh hatinya begitupun sebaliknya. Ibu belum pernah melihat dirimu begitu bahagia sebelum bertemu dengannya. Ibu juga bahagia untukmu Nak” Ujar ibunya lembut

“I..bu juga tidak…malu punya menantu semuda itu? ia bahkan belum delapan belas saat ini”

“Tentu saja tidak, tahukah kamu usia ayah dan ibumu tak lebih tua dari anak itu saat kami menikah dulu, namun perbedaannya saat itu kami memutuskan untuk menunda memiliki anak sampai beberapa tahun ke depan”

Tangis Lila semakin jadi. Sungguh diluar dugaannya ternyata ibunya justru merestui hubungannya dengan Alfi. Entah mengapa ia menjadi begitu kolokan saat ini. Yang jelas ia merasakan lega bercampur bahagia.

“Sudahlah manis…ibu ingin kamu menjaga cucu ibu baik-baik, untuk itu kamu jangan terlalu memporsir dirimu dengan pekerjaan saat di kota S nanti”

Lila mengangguk Rasanya ia bahagia sekali melihat mata tua ibunya yang berbinar-binar dan bibirnya yang mengembang senyum penuh kebahagiaan pada wajahnya yang berkeriput itu.

**************************

Pagi itu, di atas kasur empuk dan hangat di dalam kamar tidur Lila, Lila menggeliat, terjaga dari tidur nyenyaknya. Penis hitam Alfi masih mengeram di dalam dekapan vagina rapat miliknya sejak semalam. Benda yang tak pernah benar-benar menjadi lembik setelah berejakulasi. Tak sampai satu jam benda itu selalu kembali mengeras dan kembali memadati liang senggama sempitnya. lalu kembali aktif keluar masuk tanpa henti. Bercak-bercak merah bekas cupangan Alfi tersebar di leher jenjang putih gadis itu hingga ke sekeliling payudaranya. Pada kedua bahu Alfipun nampak memar bekas gigitan Lila. Persetubuhan panas itu sudah berlangsung sejak semalam, namun tubuh sintal dokter cantik itu tak pernah lepas dari tindihan tubuh kecil Alfi. Betapa ia telah membiarkan anak itu mendominasi dirinya, menguasai dirinya secara penuh, membuatnya terpekik-pekik sepanjang malam saat dilanda orgasme tak berujung. Alfi masih tertidur lelap dalam dekapannya saat terdengar sebuah dering halus berasal dari  Hpnya . Ternyata berasal dari Niken. Lila tersenyum dan mendekatkan HP tersebut ke telinganya

“Selamat pagi putri cantik” sapa Niken dari seberang sana.

“Stttt… jangan keras-keras Nien, si Alfi masih tertidur” bisiknya. Ia tak ingin anak itu terganggu.

“Apakah sang pangeran masih di dekatmu?”

“Dia …bahkan masih di ‘dalam’ diriku saat ini”

“Woww… aku jadi cemburu nih hi hi. Eh ngomong-ngomong La apakah selama ini ibu dan adikmu tidak curiga terhadap kalian?”

“Tidak bagi Lidya namun ibu sudah tahu semuanya”

“Aduhh gawat! Lan..tas bagaimana…tanggapan beliau La?”

“Ngga ada yang perlu di kuatirkan, Ia mengerti kondisiku saat ini. Ia malah mendesak aku menikah segera dengan Alfi”

“Menikah La? Ia menyuruhmu menikahi anak itu? Tetapi Alfi kan baru mau tujuh belas tahun ini. Bagaimana bisa?”

“Aku juga binggung tapi akupun ingin dia…… nikahi”

“Wah gayung bersambut  nih…”

“Iya  Nien seperti halnya dirimu, aku tak ingin berpisah darinya lagi, aku tak perduli orang mau bilang apa tentang hubungan kami, yang penting aku bisa selalu bersamanya. Hanya saja aku masih harus minta ijin dari Sandra dan yang lain termasuk engkau Nien karena hal itu pasti akan membuat jatah kalian terganggu”

“Hmm…kau tak usah kuatir La, aku rasa Sandra dan yang lain pasti akan mengerti dan tak keberatan akan hal itu. Kaupun berhak atas diri Alfi karena ia juga yang merengut kesucianmu sekaligus memberikan janinnya di perutmu. Nampaknya Alfi memang jodohmu La, bukankah kaulah yang lebih dulu pertama kali bertemu dengannya ketimbang kami, tetapi kau yang terakhir menerima cintanya.”

“Makasih Nien atas dukunganmu. O ya Nien aku juga harus mengatakan padamu jika sementara waktu aku tak dapat meladeni kalian di tempat praktek karena aku harus merawat si Alfi dulu hingga ia sehat betul ”

“Ngga pa pa La, dokter penggantimu juga cocok buatku kok. Benar-benar tak disangka jika kita bakal melahirkan bayi-bayi dari lelaki yang sama hi hi”

“Oookhh…..Nienn…” tiba-tiba Lila memekik lirih.

“Laa ada apaa? kamu baik-baik saja kan?”

“I..yaaa..A..ku  hanyaa merasakan ia membesar lagi dalam tubuhku…” ujar Lila bergetar. Saat sengatan nikmat kembali menyentuh setiap syaraf-syaraf kewanitaannya.

“Kakakkk… sudah bangun duluan ya” ujar Alfi mengeliat dari tidurnya.

Secara naluri mulutnya menangkap puting payudara Lila yang terdekat dengan bibirnya.

Selanjutnya Lila tak dapat lagi meneruskan atau bahkan hanya sekedar buat menutup percakapannya dengan Niken ketika bibirnya sudah terlalu sibuk meladeni lumatan-lumatan panas bibir Alfi. Apalagi disaat yang sama pantat bulat Alfi telah bergerak naik turun menggenjotnya lembut. Hp-nya terlepas dari pegangannya dan meluncur jatuh ke karpet.

“La…laa…” masih terdengar suara Niken memanggilnya di seberang sana namun tanpa mampu ia jawab lagi.

Bersambung

By Dr H

Sumber: Kisah BB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: