Disclaimer:
- Cerita ini tak cocok dibaca oleh anak di bawah umur, kaum munafik, atau orang yang berpikiran sempit. Read at your own risk!
- Cerita ini adalah fiksi belaka. Namun bukan tak mungkin sebagian atau keseluruhan peristiwa dalam cerita ini terjadi betulan. Seandainya itu terjadi, hal itu adalah kebetulan semata.
- Cerita ini mengandung unsur hubungan interracial namun sama sekali tak bermaksud SARA / rasis. Demikian pula tokoh dan perilaku negatif dalam cerita ini tak bisa dianggap mewakili seluruh suku / golongan / ras tertentu. Semoga tidak ada yang berpikiran sempit.
- Kalo ini semua masih belum cukup, jangan diteruskan bacanya! Semua orang punya pilihan untuk itu. Peace.
By ara456 (aeguugea@yahoo.com)
–@@@@–
Day 1
Lelaki berkulit sawo matang bertampang amburadul dan berpakaian kusut itu memencet bel di depan pintu gerbang rumah yang besar sekali itu. Beberapa saat kemudian muncul pembantu cewek stw dari dalam rumah itu.
“Lho, Parto! Kok kamu bisa kesini?”
“Ceritanya aku nyari kerja di Jakarta, Mbak. Tapi sudah jauh-jauh kesini, sampai seminggu masih belum dapet kerjaan juga. Sekarang duitku abis Mbak.”
“Aduh, Parto, Parto, dari dulu kamu itu nggak pernah berbuat benar. Nggak dipikir dulu, nekat ke Jakarta. Ngabis-ngabisin duit aja.”
“Yah gimana lagi Mbak. Semua ini gara-gara si bangsat Tarjo itu. Kata dia di Jakarta enak, kerjaan kantoran dapet duit banyak. Ternyata sampe disini, aku ga dapet kerjaan. Dan dia ternyata cuma jadi kuli bangunan.”
“Trus sekarang maumu apa?”
“Eh, anu..aku mau minta duit, Mbak. Dan aku pengin kerja di rumah ini. Wah, rumahnya gede dan bagus. Pasti yang punya kaya banget ya Mbak.”
“Enak aja. Pikirmu Mbakmu ini punya duit banyak. Dan kamu jangan mimpi bisa diterima kerja disini. Lha wong kamu ga punya kepandaian apa-apa gitu.”
“Siapa tahu disini butuh tenaga kasar Mbak. Jadi kuli atau kacung pun aku mau daripada pulang ke desa. Malunya itu lho.”
“Salah sendiri, kenapa kamu nekat ke Jakarta. Huh, jangan harap kamu tinggal disini. Tuan nggak akan menerima kamu kerja apalagi membolehkan tinggal disini.”
“Kok dari tadi Mbak yakin banget aku ga bakalan diterima disini?”
“Soalnya Tuan khan punya anak gadis yang baru dewasa. Mana mungkin dia membolehkan kamu tinggal disini.”
“Lho aku khan pengin kerja beneran bukan mau ngapa-ngapain. Lagipula mana mungkin aku berani godain anak majikan. Coba tanyain dulu Mbak. Kalo memang ga boleh ya udah aku pulang. Tapi kasih duit buat ongkosnya donk.”


