h1

The Sweet Revenge

January 2, 2009

dianaJam di dinding sudah menunjukkan pukul enam kurang seperempat, di luar sana langit sudah hampir gelap dan hujan masih turun cukup lebat. Diana (28 tahun) sedang mengoreksi hasil penelitian mahasiswa-mahasiswanya sendirian di laboratorium teknik industri. Wajahnya tersenyum manis saat membaca sebuah SMS yang masuk ke ponselnya yang bertuliskan, “Baru sampai di Bangkok nih say, jaga diri di rumah yah, I luv u”. Pesan itu dari suaminya yang sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, diapun lalu membalasnya dengan kata-kata mesra pula lalu melanjutkan koreksiannya yang tinggal sedikit lagi. Ya, Diana adalah seorang dosen muda di Universitas ****** baru setahun mengajar sepulang dari Jerman menyelesaikan S2nya. Seorang wanita yang cantik, mandiri, dan pintar. Delapan bulan yang lalu dia baru saja mengakhiri masa lajangnya dengan seorang teman kuliahnya dulu, eksekutif muda tampan berusia 30 tahun bernama Alex, mereka saling mencintai tapi belum berencana mempunyai anak dulu karena kesibukan masing-masing. Kecantikannya dengan rambut ikal kecoklatan sebahu dan tubuh ideal berpayudara 32B serta kulitnya yang putih mulus menarik perhatian para mahasiswa, mereka mengagumi kecantikan dan kepintarannya, mereka bilang wajahnya mirip Olga Lidya, artis lokal berwajah oriental itu, beberapa bahkan sering menjadikannya objek fantasi seks mereka dan membayangkan lekuk-lekuk tubuhnya saat memberi kuliah, terutama kalau sedang memakai baju yang ketat sehingga menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah itu.

Ketika sedang larut dalam koreksiannya tiba-tiba terdengar pintu diketuk, sehingga dia terpaksa meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk membukakan pintu. Ternyata yang datang Imron, si karyawan kampus buruk rupa itu.
“Malam Bu, masih belum pulang yah, boleh saya mau nyapu dulu ?” sapanya.
“Ooo…silakan Pak, saya juga sebentar lagi selesai, cuma lagi ngoreksi aja kok” katanya sambil mempersilakan pria itu masuk.
Diana kembali ke mejanya dan Imron mulai menyapu, sambil bekerja matanya sesekali memandangi wanita itu, diperhatikannya wajah ayu itu yang sedang memakai kacamata yang menambah keanggunannya, rambutnya saat itu sedang diikat ke belakang sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Tatapan mata Imron seolah menembus tubuh Diana yang terbungkus kemeja kuning dan rok hitam selutut. Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk lagi. Saat Diana mau bangkit berdiri, Imron yang menyapu dekat situ sudah terlebih dulu membukakan pintu itu.
“Sore Bu !” Jesslyn (eps. 2) memberi salam.
“Sore, ada apa ?”
“Nngg…saya mau konsultasi sebentar, boleh ga ?”
“Tentang masalah apa ?”
“Sebenarnya sih bukan masalah kuliah, mmm…coba Ibu nyalain bluetooth Ibu bentar, soalnya saya punya sesuatu yang penting buat Ibu” kata Jesslyn sambil menarik sebuah kursi dan duduk di depan Diana.

“Kalau bukan masalah kuliah apa ga sebaiknya dibicarakan nanti saja, saya lagi sibuk sekarang !”
“Tapi Bu, ini penting loh jadi ga bisa dilewatin gitu aja, ayolah Bu sebentar aja !” Jesslyn terus memohon.
Dengan agak kesal, Diana menyalakan juga bluetooth pada ponselnya karena dia juga penasaran dengan apa yang dibilang penting oleh mahasiswinya itu.
“Kenapa ga kamu kasih liat langsung aja sih, biar cepet !” kata Diana.
“Eehh…tenang dong Bu, kan biar Ibu bisa liat di HP punya sendiri juga !” jawab Jesslyn sambil menunggu file itu ditransfer.
‘Bip’ terdengar suara dari ponsel Diana setelah file selesai ditransfer. Buru-buru dia membuka file itu ingin tahu apa isinya. Betapa kagetnya dia ketika melihat video klip yang menampilkan gambar dirinya sedang mandi, wajahnya juga jelas tersyuting. Dia ingat betul adegan itu pasti disyuting dua hari lalu ketika mandi di kamar mandi setelah selesai berenang di kolam renang tidak jauh dari sini yang masih milik kampus. Waktu itu selain dia di kamar mandi terbuka itu juga ada beberapa gadis lain yang juga mahasiswi kampus ***** termasuk Jesslyn. Teringat lagi, saat itu Jesslyn sedang bersandar di dekat pintu kamar mandi sambil berbicara dengan ponselnya, barulah dia sadar ternyata Jesslyn saat itu hanya pura-pura bicara sambil mengarahkan lensa cameraphonenya yang bisa digerakkan ke arahnya dan mengabadikannya dalam bentuk video clip. Wajah Diana memerah karena marah dan malu, namun dia tetap berusaha menahan emosinya agar tidak sampai menggebrak meja atau bahkan menampar Jesslyn karena di situ masih ada Imron.
“Apa maksudnya ini !” katanya dengan geram.
“Ga ada maksud apa-apa kok, yah supaya cowok-cowok yang ngefans sama Ibu juga bisa lebih ngenal Ibu luar dalam hihihi !” jawab Jesslyn asalan sambil senyum-senyum.

“Ayo ikut saya, kita bicara di luar aja !” Diana bangkit berdiri lalu menarik lengan Jesslyn hendak menyeretnya keluar.
“Lepasin !” Jesslyn menyentak lengannya “Kalau mau bicara kenapa harus jauh-jauh Bu, disini aja napa? Malu kalau Pak Imron tau yah ?!” katanya dengan nada menantang.
“Jesslyn..!!” bentak Diana marah melihat tingkah mahasiswinya yang makin kurang ajar ini, apalagi membuka masalah ini di depan penjaga kampus.
“Oh iya, omong-omong Pak Imron udah ngeliat kok, ya kan Pak !”
“Ooo rekaman itu yah, bagus loh bodynya Bu Diana, jadi pengen liat aslinya juga !” sahut Imron dari belakang Diana.
“A-apa-apaan ini !” wajah Diana nampak bingung pandangannya berpindah-pindah antara Jesslyn di hadapannya dan Imron yang tidak jauh di belakangnya.
Belum hilang rasa kagetnya tiba-tiba Imron mendekap tubuhnya dari belakang.
“Hentikan ! kalian mau apa !” jerit Diana sambil meronta-ronta “Jess, kamu jangan keterlaluan yah !”
Jesslyn tersenyum mendekati dosennya itu dan ‘plak’ dia mendaratkan sebuah tamparan pada pipi kiri Diana sampai kacamatanya terlempar.
“Ini untuk minggu lalu mempermalukan saya di kelas !” kata Jesslyn.

Jesslyn sakit hati karena waktu itu ketika mengikuti kuliah Diana, dia sedang ngobrol dan cekikikan dengan temannya di belakang. Diana yang merasa terganggu menegurnya dan menyuruh keluar ruang kuliah. Jesslyn protes dengan nada bicara tidak sopan sehingga membuat Diana naik darah dan menamparnya di hadapan mahasiswa sekelas. Dengan rasa marah dan malu, Jesslyn keluar dari kelas sambil memegangi pipinya. Di luar, dia bertemu Imron yang memberinya isyarat mengajak berhubungan badan. Merekapun melakukannya secara quicky di sebuah gudang. Dengan hanya membuka pakaian seperlunya, Imron menggenjoti Jesslyn, satu tanganya memegangi paha kanannya yang terangkat dan mulutnya melumat bibir gadis itu. Tidak sampai sepuluh menit Imron sudah menyemprotkan spermanya di vagina Jesslyn. Saat itulah terbesit di pikiran Jesslyn sebuah cara untuk membalas perlakuan dosennya barusan. Diapun mengutarakan ide ini pada Imron. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam hal-hal seperti ini, Imron memberi masukan pada Jesslyn tentang apa saja yang harus dilakukan untuk menjalankan rencana balas dendam itu. Seringai licik mengembang di wajah Jesslyn mendengar masukan dari Imron.
“Bapak emang hebat, kalau berhasil Bapak bakal saya kasih bonus !” katanya.
“Hehehe, ga apa-apa asal Non dan dosen Non itu mau ngelayanin Bapak aja itu udah lebih dari bonus kok” kata Imron sambil meremas payudaranya.

Setelah membereskan pakaiannya, mereka pun keluar dari tempat itu secara terpisah. Jesslyn mengintai gerak-gerik Diana selama beberapa hari sambil mencari-cari kesempatan bagus untuk mengambil gambarnya dalam pose memalukan. Penantian Jesslyn pun tidak sia-sia, kesempatan itu datang ketika Diana berenang di kolam renang milik kampus. Di kamar mandi kolam renang itu, Jesslyn merekam adegan Diana yang sedang diguyur shower sambil pura-pura bicara dengan cameraphonenya.
“Dikirain enak apa ditampar kaya gitu di depan kelas, sekarang saatnya saya buat perhitungan sama Ibu, o yah…by the way saya juga sebel tuh punya dosen yang sok cantik yang suka berlagak jadi idola semua mahasiswa !” kata Jesslyn sambil menjambak rambut Diana yang dikuncir.
“Kurang ajar kamu Jess, kamu tau apa yang kamu lakukan !” Diana menatap tajam mahasiswinya ini.
“Non Jesslyn itu temen saya Bu, jadi kalau Ibu nampar Non Jesslyn berarti juga berurusan sama saya !” kata Imron dekat telinganya.
“Calm down Bu, saya ga sejahat itu kok, rekaman Ibu ini baru saya sama Pak Imron aja yang tau, tapi kalau Ibu ngelawan, saya kuatir satu kampus bakal tau semua, atau mungkin saya masukin internet biar semua bisa liat body Bu Diana yang seksi ini !” kata Jesslyn.

Ketakutan mulai melanda Diana yang posisinya makin tidak menguntungkan.
“Jangan lakukan itu…kamu mau apa dari saya ?!”
“Saya cuma mau ngebagi kecantikan Ibu dengan Pak Imron, saya jamin Ibu bakal lebih puas daripada ML sama suami Ibu” jawab Jesslyn dengan tangan meraba payudara dosennya itu.
“Jangan, ini gila, lepasin saya tolong….To…mmmhhh !” dengan sigap Imron membekap mulut Diana begitu dia mau berteriak.
“Teriak…teriak aja Bu ayo ! buka mulutnya Pak, supaya orang lain datang dan melihat rekaman ini, kebayang ga sih jadinya apa ?” tantang Jesslyn.
“Jangan…jangan…saya mohon jangan sebarkan itu Jess !” Diana mulai mengiba dan matanya mulai berkaca-kaca.
Tangan Jesslyn mulai bergerak membuka kancing kemeja Diana sehingga branya yang berwarna krem mulai terlihat. Imron langsung menyusupkan tangannya ke dalam cup bra itu menyentuh payudaranya.
“Hehehe…montok banget yah toked ibu, udah ada susunya belum nih, Ibu udah beranak belum ?” kata Imron.
“Belum lah Pak, Bu Diana kan belum lama nikah, atau mungkin suami ibu ga bisa ngasih anak atau ga bisa muasin ibu ?” ejek Jesslyn dengan wajah puas karena berhasil membalaskan dendamnya.
Diana tertunduk lemas, air mata mengalir membasahi wajahnya tanpa dapat dibendung.

“Jangan…saya mohon…hentikan !” ucapnya sambil terisak ketika tangan Imron mulai mengangkat roknya.
Desiran angin malam terasa menerpa pahanya yang tersingkap, rasa dingin itu lalu berubah menjadi hangat seiring bulu-bulunya yang merinding ketika tangan kasar itu mengelusi paha itu terus makin ke atas hingga menyentuh bagian kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.
“Silakan dinikmati sepuasnya Pak, saya jadi penonton aja dulu” sahut Jesslyn sambil mundur lalu mendudukkan pantatnya di meja terdekat untuk menikmati balas dendamnya.
Tangan Imron mempreteli sisa kancing bajunya sehingga baju itu terbuka sudah memperlihatkan payudaranya yang masih tertutup bra dan perutnya yang rata. Sedangkan tangannya yang satu lagi mulai menyusup lewat atas celana dalamnya. Diana memang sempat menahan tangan pria itu namun tenaganya tidak cukup kuat, permintaannya agar Imron tidak meneruskan perbuatannya tidak dihiraukan olehnya.
“Nnngghh…!” desahnya begitu tangan itu akhirnya masuk ke balik celana dalamnya dan menyentuh permukaan kemaluannya yang ditumbuhi bulu.

Diana merasa jijik dan terus meronta berusaha menghalangi Imron menggerayangi bagian-bagian terlarangnya. Namun semua itu sia-sia saja menghadapi maniak seks yang sedang kalap ini, apalagi ditambah intimidasi rekaman bugilnya akan disebarluaskan kalau tidak menuruti kemauan pria ini. Lelah meronta dan mulai terangsang karena permainan jari Imron di balik celana dalamnya, Dianapun pasrah. Mengetahui mangsanya telah takluk, Imron membaringkan tubuh Diana pada meja panjang yang biasa dipakai untuk praktikum. Imron mengambil posisi diantara kedua kaki Diana yang terjuntai dari lutut ke bawah, kemudian dengan kasar dia melucuti celana dalamnya.
“Weleh-weleh seksi banget, sudah lama saya pengen liat ke dalam sini” sahut Imron sambil memandangi daerah kemaluan Diana yang ditumbuhi bulu yang dicukur rapi membentuk segitiga.
Bibir kemaluan Diana masih nampak rapat dan kencang. Wajah Imron kini makin mendekati daerah itu, aroma kemaluannya semakin terasa dan membuatnya makin bergairah. Sementara mata Diana terpejam dan masih mengeluarkan air mata, tapi mendadak matanya melebar disertai desahan dari mulutnya ketika lidah kasar pria itu menyapu bibir kemaluannya. Tangisan Diana makin menjadi dan memohon minta dilepaskan, namun disaat yang sama dia pun tidak bisa menyembunyikan gairahnya yang mulai naik.

Tubuh Diana mengejang dan berkelejotan ketika lidah Imron menyentuh klitorisnya.
“Ooohh…!” tak terasa dia mendesah demikian karena merasakan jilatan panjang pada klitorisnya yang membuatnya serasa melayang.
Diana merasakan ada suatu sensasi aneh dalam dirinya, walaupun jijik dan tidak rela dia menginginkan pria ini terus melakukannya. Matanya membeliak-beliak dan vaginanya semakin berlendir tanpa bisa ditahannya. Tangan Imron juga turut bekerja merabai paha dan pantatnya yang putih mulus itu.
“Ya Tuhan, kenapa begini, kenapa aku menikmati…ini perkosaan, tapi kenapa…?” Diana bergumul hebat dalam batinnya, tidak rela tapi mau.
Sudah hampir seminggu dia tidak mendapat kehangatan dari suaminya karena terlampau sibuk, bahkan semalam sebelum pergi ke luar negri, mereka hanya sempat mandi bersama tanpa melanjutkan lebih jauh karena Alex harus berangkat pagi-pagi sehingga harus cukup istirahat. Sejujurnya Diana merasa tanggung sekali karena kemarin Alex hanya melakukan pemanasan dengan ‘menyusu’ dan raba-rabaan saja tanpa lanjutan, namun sebagai seorang istri yang pengertian dia pun tidak mau memaksa. Kini ulah Imron itu seolah mengisi kekosongannya kemarin, namun di lain pihak dia juga merasa berdosa dan kotor, sungguh dirinya serasa terombang-ambing.

Setelah puas menjilati vagina Diana, Imron membuka celana sekaligus celana dalamnya sehingga terlihatlah penisnya yang sudah menegang, hitam dan panjang. Digenggamnya batang itu untuk diarahkan ke vagina Diana. Hangat dirasakan Diana saat kepala penis itu menyentuh bibir vaginanya disusul rasa geli yang ditimbulkan dari gesekan-gesekan penis itu pada kemaluannya, hal ini menyebabkan birahi Diana bangkit walau tak dikehendakinya. Tanpa memberikan kesempatan untuk akal sehat Diana bekerja lagi, Imron menekan ujung penisnya ke liang senggamanya. Dengan satu sentakan kasar batang kemaluannya melesak ke dalam vagina Diana, spontan wanita itu pun terbelakak matanya dan menjerit kesakitan, tubuhnya menegang hingga melengkung ke atas menampakkan guratan tulang rusuknya. Suara hujan deras di luar sana seolah menambah dramatis suasana, sebuah senyuman puas nampak pada wajah Jesslyn karena berhasil membalaskan sakit hatinya. Imron memompa penisnya dengan brutal tanpa mengenal kasihan pada Diana yang baru kali ini menerima penis yang sebesar itu.
“Hahaha…terus Pak, lebih hot lagi dong, jangan dikasih ampun, buktiin dong Bapak lebih perkasa dari suaminya !” Jesslyn menyoraki memanas-manasi situasi.
Tubuh Diana tergoncang-goncang di atas meja itu, mulutnya tak bisa menahan desahan yang keluar, buah dadanya kini terekspos sudah setelah Imron menyibakkan cup branya ke atas, sambil menggenjot kedua tangannya meremasi sepasang payudara itu.

Imron menyodok-nyodok vagina Diana hingga menyentuh g-spot Diana. Batang itu makin lancar keluar-masuk karena vagina Diana juga makin licin oleh lendirnya. Perlahan diapun mulai terbiasa dan perihnya berkurang. Imron lalu mengangkat tubuh Diana lewat punggung hingga dia terduduk di tepi meja kemudian dipagutnya bibir wanita itu.
“Tidak…ini tidak mungkin !” pikirnya setengah sadar “kenapa aku menikmati perkosaan ini, tapi…tapi ini memang…enak…ahh…maaf-maafkan aku Lex, maafkan aku”
Lidahnya terus saling belit dengan lidah pria itu sementara batinnya mengalami konflik, ekspresi itu diungkapkannya dalam butiran air mata yang masih menetes di wajahnya. Darah dalam tubuhnya mengalir makin cepat, akal sehatnya mulai tertutup oleh naluri seks yang liar karena keperkasaan penis penjaga kampus ini serta kelihaiannya mempermainkan nafsu wanita. Walaupun udara di luar makin dingin disertai angin kencang dan guntur, suasana di ruangan itu makin panas, Jesslyn yang menonton juga mulai terangsang oleh adegan tersebut, nampak dia menggesek-gesekkan pahanya dan kemaluannya terasa basah. Imron merubah lagi posisi mereka, kali ini Diana diturunkan dari meja dengan posisi menungging dan tubuh bagian atasnya tiduran di meja, sementara Imron menyodokinya dari belakang.

Jesslyn bangkit dari kursi dan mendekati Imron yang sedang asyik menghujam-hujamkan penisnya ke vagina Diana. Dia membisikkan sesuatu pada pria itu, entah apa pembicaraannya, Imron hanya mengangguk dan Jesslyn menyeringai jahat lalu keluar dari ruangan itu. Sementara itu Imron terus menggenjot Diana, tusukan-tusukannya makin keras sehingga tubuh Diana tersentak-sentak dan jeritan-jeritan tertahan keluar dari mulutnya. Tanpa sadar Diana juga menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama genjotan Imron, dia merasakan kenikmatan yang berbeda yang dari yang biasanya. Diana pasrah tubuhnya diapakan saja oleh penjaga kampus itu.
“Ooooohhhh….aaahhh !!” Diana mendesah panjang dan tubuhnya bergetar hebat, dia merasakan cairan vaginanya seperti tumpah semua.
Imron masih terus melancarkan serangannya, cairan yang meleleh dari vagina Diana makin melicinkan gerakan penisnya sehingga otomatis sodokannya pun makin cepat, terdengar bunyi decak cairan setiap penis itu menyodoknya. Berangsur-angsur tubuh Diana melemas kembali setelah klimaks panjang yang luar biasa itu, dengan Alex pun dia belum pernah klimaks seperti ini. Imron menurunkan tempo permainannya, dia tidak ingin buru-buru keluar.
“Ibu emang enak banget dientot !” komentarnya kemudian mulutnya nyosor ke depan dan memagut bibir Diana.
Diana yang masih lemas tidak kuasa menolak ciuman itu, malah dia membalas sapuan lidah Imron dengan bergairah.

Imron mencumbui Diana sambil terus menggerayangi tubuhnya. Tiba-tiba pintu dibuka sehingga membuat Diana terkejut dan refleks melepas ciumannya.
“Wah, wah, asyik bener lagi ujan-ujan gini ada yang bisa angetin badan, sama bu dosen toh kali ini Ron !” ujar Pak Kahar, si satpam kampus di ambang pintu, di belakangnya nampak satpam lainnya yang bernama Encep dan Jesslyn, rupanya dia tadi keluar untuk memanggil mereka agar ikut mengerjai dosennya itu.
Diana sangat malu dipergoki dalam keadaan seperti itu, dia mencoba melepaskan diri atau setidaknya menutupi daerah terlarangnya, akan tetapi kedua tangannya ditelikung ke belakang oleh Imron sehingga tubuhnya yang sudah terbuka sana-sini itu terlihat oleh kedua pria yang baru datang itu.
“Asyik nih, gua udah lama naksir sama bu dosen ini, akhirnya ada juga kesempatan ngewein dia hehehe !” sahut Encep.
Kedua satpam itu menatapi tubuh Diana dari atas sampai bawah dengan pandangan bernafsu. Diana sangat takut dan jijik melihat reaksi mereka memandangi dirinya.
“Jess kamu…kamu mau apa lagi ?” tanya Diana dengan suara bergetar.
“Hehe, Ibu ga usah kuatir gitu, saya kan tadi ngeliat Ibu enjoy banget digituin sama Pak Imron, saya kira Ibu suka main sama orang-orang seperti bapak-bapak ini makannya saya panggil mereka supaya Ibu lebih puas, apa saya masih kurang baik ?” kata Jesslyn dengan nada mengejek.
“Jangan…tega-teganya kamu, ini kelewatan…saya nggak mau !” Diana menggelengkan kepala dengan wajah berlinang air mata, wajahnya sangat memelas.

“Mendingan Ibu nurut aja deh, Ibu gak mau kan rekaman ini ketauan suami Ibu atau anak-anak sekampus ?” ancam Jesslyn dengan menjambak kuncir rambut dosennya.
Dianapun menyerah, dia memilih lebih baik tubuhnya dinikmati ketiga pria bejat ini daripada rekaman dirinya tersebar, terlebih ketika dikerjai Imron tadi Jesslyn sempat memotretnya beberapa kali dengan cameraphonenya. Kalau semua itu tersebar entah harus bagaimana dia menghadapi semua orang termasuk suaminya, akibatnya akan lebih tragis daripada bunuh diri. Mereka menelanjanginya dan berdecak kagum memperhatikan tubuh polosnya yang hanya menyisakan sepatu hak, kalung dan cincin kawinnya.
“Wuih…mulus banget, bini gua ga ada apa-apanya deh kalo dibanding satu ini !” sahut Pak Kahar sambil membelai payudara Diana.
“Asyik yah punya dosen kaya gini, saya juga pengen diajar sama Ibu” timpal Encep meremasi pantatnya yang padat berisi.
Kemudian Diana disuruh duduk di bangku dengan dikelilingi ketiga pria itu, mereka telah membuka celananya sehingga senjatanya yang sudah menegang itu mengacung tegak seakan menodong ke arahnya. Diana terhenyak melihat kemaluan mereka yang hitam besar, ngeri sekaligus terangsang.
“Ayo Bu, silakan dipilih mana yang mau Ibu sepong duluan !” perintah Imron dengan berkacak pinggang.
Diana menggeleng dan menghiba “Nggak…saya ga mau, tolong jangan paksa saya !”

“Ayo emut !” Pak Kahar sepertinya sudah tidak sabar, dia memegangi kepala Diana dan menempelkan penisnya ke wajah dan bibir wanita itu.
“Buka mulutnya Bu, kalau nggak besok satu kampus bakal ngeliat foto Ibu, mau ?” kata Imron dengan kalem namun bernada ancaman.
Diana tidak ada pilihan lagi, dengan terpaksa dia mulai membuka mulutnya dan Pak Kahar menekan penis itu ke dalam mulut mungilnya.
“Eit..eit…sabar dong Har, jangan main paksa gitu ke perempuan, biar bu dosen ini yang milih kontol mana yang dia mau !” Imron menghentikan temannya bersikap sok gentle.
“Jangan bengong aja dong Bu, mereka udah gak sabar tuh !” sahut Jesslyn yang duduk di meja dekat situ.
Dengan tangan gemetar Diana menggenggam penis milik Encep yang menurutnya lebih mudah masuk ke mulut karena walaupun panjangnya mirip, diameternya lebih ramping diantara ketiganya. Dia memejamkan mata dan menahan nafas ketika memasukkan penis dengan kepala bersunat itu ke mulutnya.
“Huehehe…Ibu seneng sama saya yah, tuh buktinya kontol saya diservis duluan !” celoteh Encep.
Diana tidak mempedulikan lagi ejekan itu, dia hanya ingin segera lepas dari mereka. Maka setelah penis itu masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum dan menjilatinya sambil menahan rasa jijik.

“Oohh…yah…enak, sepongan Bu Diana emang emoy, oohh !” Encep mendesah, tubuhnya blingsatan menahan gejolak nafsunya.
Sementara itu Imron meraih tangan kiri Diana dan meletakkannya pada penisnya, Pak Kahar juga melakukan hal yang sama dengan tangan kanan wanita itu. Ketika menggenggam penis Imron batang itu masih agak basah oleh sisa lendir orgasme barusan.
“Saya juga dong Bu, jangan dia terus !” Pak Kahar yang sudah kebelet menarik kepala Diana dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya.
Diana semakin terhanyut oleh arus birahi, dia mengocok dan mengoral ketiga penis itu secara bergantian. Tiba-tiba Diana merasakan kakinya direnggangkan lalu disusul sebuah sapuan lidah pada bibir vaginanya sehingga otomatis tubuhnya bergetar. Rupanya di bawah sana Encep sedang berjongkok dan mengoral vaginanya. Imron yang penisnya sedang dikulum juga sedang meremas-remas payudaranya. Hal ini membuat Diana semakin terangsang dan makin bersemangat mengulum penis dua pria lainnya. Tak lama kemudian Imron menekan kepala Diana sambil mendesah panjang, nampak dari pinggir bibir Diana meleleh cairan seperti susu kental. Ya, Imron telah mencapai orgasme di mulut Diana. Diana sendiri sebenarnya hendak melepaskan diri tapi tenaganya tidak cukup kuat sehingga dia terpaksa menelan sperma Imron yang kental dan beraroma menusuk. Baru kali ini dia menelan cairan itu, sperma milik Alex pun tidak pernah dia telan dengan alasan jijik.

Setelah klimaksnya reda, Imron baru melepaskan pegangannya dari kepala Diana yang segera melepaskan emutannya dan terbatuk-batuk. Reaksinya menunjukkan betapa jijiknya menelan cairan itu, namun ini malah membuat ketiga pria itu tertawa-tawa.
“Hehehe…Ibu baru pernah negak peju yah ? gimana rasanya enak kan ?” ejek Pak Kahar.
“Santai aja Bu, nelan peju gak bakal hamil kok” Imron menimpali disusul gelak tawa mereka.
“Sudah Pak, tolong lepaskan saya sekarang” pinta Diana.
“Yee…masa saya belum dipuasin mau udahan !” kata Pak Kahar.
“Iya yang saya juga belum loh, pokoknya hari ini saya harus bisa ngentot sama Ibu” timpal Encep.
“Betul Bu, Ibu kan udah bikin bapak-bapak ini kesengsem sama Ibu, tanggung jawab dong sekarang, sapa suruh jadi dosen idola !” sahut Jesslyn “Bapak-bapak jangan ragu, Bu Diana udah ikhlas kok kalian apain juga hihihi”
Diana hanya bisa pasrah tubuhnya ditelentangkan di meja praktikum oleh mereka.
“Sekarang giliran saya Bu, udah siap kan ?” Pak Kahar mengambil posisi di pinggir meja sambil membentangkan kedua paha wanita itu.
Walaupun sudah basah dan licin, Diana tetap merasa kesakitan ketika penis Pak Kahar yang sebesar lengan bayi itu melesak ke vaginanya karena dia baru pernah merasakan yang sebesar itu. Diana merasakan batang itu sangat menyesakkan, tonjolan-tonjolan uratnya terasa menggesek dinding vaginanya yang menjepit benda itu dengan keras. Tubuh Diana menggelinjang dan mulutnya mendesah menerima sodokan-sodokan si satpam itu.

Sementara Imron di sebelah kirinya sibuk mengenyoti payudaranya dan payudara yang kanan juga diremas-remas oleh Encep yang melakukannya sambil melumat bibirnya. Karena akal sehatnya telah kalah oleh birahi, tanpa sadar Diana melayani permainan lidah Encep. Tak pernah terlintas di pikirannya dirinya akan terlibat seks liar dengan cara gangbang seperti ini, dulu waktu kuliah di Jerman dia memang sering mendengar seks seperti ini bahkan pernah seorang teman bulenya mengajak ke undangan untuk pesta underground yang ujungnya tidak jauh-jauh dari pesta orgy, namun dia selalu dengan halus menolaknya karena merasa tidak pantas dan tidak sesuai dengan adat timur. Kini dia harus mengalaminya dengan pria-pria kasar seperti mereka. Tangan-tangan kasar itu berkeliaran menggerayangi bagian-bagian sensitif tubuhnya. Kedua putingnya terus menerus dipelintir, ditarik-tarik, dan dicupangi. Lekuk-lekuk tubuhnya yang indah dielusi tanpa ada yang terlewat. Diana terus memejamkan matanya tidak ingin melihat bagaimana ketiga pria kasar ini memperkosanya. Walau sebenarnya dia mulai menikmati perlakuan mereka dia belum berani menunjukkannya terang-terangan karena malu. Duapuluh menit kemudian, Pak Kahar mengalami ejakulasi, dia mengakhirnya dengan hujaman keras pada kemaluan Diana. Sambil melenguh dia menembakkan spermanya di dalam vagina Diana. Pada saat hampir bersamaan, Diana juga mengalami hal yang sama, tubuhnya menggelinjang tak terkendali, erangan panjang sekali lagi keluar dari mulutnya. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan nikmat itu dan harus diakui walaupun ini termasuk perkosaan kenikmatannya jauh lebih dahsyat dibanding ketika bercinta dengan suaminya.

“Hhhh…ngghh…uenak… !” desah Pak Kahar seraya mencabut penisnya dari vagina Diana, batang itu nampak basah oleh cairan hasil persetubuhan mereka.
Encep menggantikan rekannya menyetubuhi Diana yang masih terkulai lemas. Dia menggenjotnya tidak kalah brutal dari Pak Kahar apalagi staminanya masih full. Melihat buah dada Diana yang ikut berguncang itu dia sangat gemas sehingga meremasinya dengan keras, hal ini menyebabkan desah kenikmatan Diana bercampur dengan rintihan kesakitan. Pak Kahar menggeser kepala Diana hingga menggantung dipinggir meja. Diana melihat dengan jelas penis hitam pria itu mendekati wajahnya.
“Dibersihin Bu sekalian diemut sampe bangun lagi !” perintah Pak Kahar.
Diana pun patuh membuka mulutnya untuk dimasuki penis satpam itu. Pak Kahar merasa keenakan sekali saat penisnya menyentuh lidah dan gigi Diana lalu dihangatkan oleh ludahnya. Naluri seksnya membimbingnya menjilati dan mengisap penis itu tanpa menghiraukan rasa jijik, lidahnya bergerak memutari kepala penis yang seperti cendawan itu. Buah zakar itu sesekali menumbuk hidungnya karena pria itu memaju-mundurkan pinggulnya perlahan seperti gerakan bersetubuh. Saat itu Imron sedang menjilati tubuh mulusnya sambil merasakan penisnya dikocok oleh wanita itu. Sungguh ketiga pria itu seperti gerombolan serigala lapar yang sedang menyantap makanan lezat.

“Dasar cewek, dimana-mana sama aja…gak perek gak dosen kalau udah konak mah kaya gini nih !” ujar Pak Kahar yang sedang menikmati penisnya dikulum Diana.
“Dosen kan juga manusia oi, kalau digituin konak dong, ya toh Bu hehehe…!” timpal Imron sambil memelintir putingnya.
Diana tidak mempedulikan lagi ejekan-ejekan yang merendahkan dirinya itu, dia terlampau hanyut dalam nafsunya dan sibuk mengoral penis satpam itu. Semakin dikulum penis itu semakin mengeras dan bangkit kembali sehingga mulutnya terasa makin sesak apalagi ketika pemiliknya menekan hingga menyentuh tenggorokannya. Setelah sepuluh menit baru Pak Kahar melepaskan penisnya. Diana langsung mengambil udara segar sebanyak-banyaknya dan terbatuk-batuk.
“Sakit Pak…aahh…ahh…jangan keras-keras !” rintih Diana meminta Encep mengurangi kebrutalannya menyodok vaginanya dan remasannya yang kasar pada payudaranya.
Tubuhnya telah basah oleh keringat dan ludah para pria itu, di payudara dan lehernya terlihat bekas-bekas cupangan yang memerah. Bosan dengan posisi demikian, Encep kemudian melepas sejenak penisnya dari vagina Diana kemudian dia duduk di sebuah kursi dan memerintahkan Diana naik ke pangkuannya.

“Eh duduknya ngehadap sini dong biar saya juga kebagian !” Imron menyuruhnya merubah posisi duduknya yang tadinya berhadapan dengan Encep jadi memunggungi.
“Kenapa Ron, gua jadi susah dong ngisepin teteknya” protes si Encep.
“Ntar aja kalo gua udah puas lu boleh deh ngapain aja, gua sekarang mau disepongin dulu, kecuali lu mau kontol gua deket muka lu”
Encep pun akhirnya nurut saja karena Imron lebih berkuasa dan dialah yang mendapatkan wanita ini, sedangkan dirinya sendiri hanya nimbrung saja.
“Sekarang Ibu goyang yah ayo !” kata Encep.
Diana melakukannya tanpa harus diperintah kedua kali karena dia sudah terbawa kenikmatan ini dan merasa tanggung sebelum mencapai klimaks. Pantatnya bergerak naik-turun disertai gerakan memutar sehingga pria itu merasa penisnya seperti diperas.
“Uihh…asyik, ga kalah dari goyang ngebornya Inul deh, Bu Diana emang emoy…oohh…terus dong dosen ngentot !” lenguh Encep kenikmatan.
Encep menikmati goyangan Diana sambil mendekap tubuhnya, tangannya meremasi payudaranya dari belakang. Leher Diana yang jenjang itu dijilati dan digigit-gigit kecil hingga meninggalkan bekas merah. Imron berdiri di hadapan mereka dengan tangan kiri menggenggam penisnya dan tangan kanannya meraih dagu Diana, kemudian dia menempelkan kepala penisnya ke bibir wanita itu. Tanpa sadar Diana menggerakkan tangan meraih penis besar berurat itu, tubuhnya bekerja secara otomatis mengikuti naluri seksnya.

Diana menjulurkan lidah menjilati lubang kencing Imron disertai gerakan mengocok perlahan.
“Enak Bu….oohh sepong terus dosen lonte !” Imron mengerang sambil memegangi kepala Diana.
Ketika sedang mengoral penis Imron, dia baru sadar bahwa orang yang mengerjainya tinggal dua orang. Dia menggerakkan bola matanya dan melihat ke samping dimana sayup-sayup terdengar desahan tertahan. Jantungnya makin berdegub melihat di sana Pak Kahar yang tinggal memakai kemeja satpamnya sedang berpelukan dengan Jesslyn, keduanya berciuman dengan penuh nafsu. Rok Jesslyn sudah tersingkap dan nampak tangan kasar pria itu sedang meremasi kedua bongkahan pantatnya yang padat itu sementara Jesslyn menggenggam batang penisnya. Jesslyn yang daritadi sudah terangsang oleh adegan langsung di depannya itu menyambut baik ketika si satpam itu mengajaknya melakukan hal itu. Jari-jari Pak Kahar menarik turun celana dalamnya lalu dengan gerakan tiba-tiba diangkatnya tubuh gadis itu dan didudukkan di tepi meja, sesudahnya dia melanjutkan memeloroti celana dalamnya hingga lepas dan dilempar ke belakang. Pria itu menarik sebuah bangku dan duduk disana tepat menghadap kemaluan Jesslyn yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat.
“Sshhh…!” desis Jesslyn begitu pria itu membenamkan wajahnya di pangkal pahanya.
Jesslyn merasakan lidah kasar satpam itu menari-nari di dalam vaginanya memberikannya sensasi geli yang nikmat sehingga dia tak dapat menahan desahannya sambil menjepit kepala Pak Kahar dengan sepasang paha mulusnya.

Pak Kahar menjulurkan tangannya menyingkap kaos Jesslyn beserta cup branya ke atas. Dengan demikian dia dapat mempermainkan payudara gadis itu sambil terus menjilati vaginanya. Di tempat lain, Diana sedang sibuk menaik-turunkan tubuhnya di pangkuan Encep. Pria itu sepertinya sudah mau mencapai puncak, terlihat dari erangannya dan remasannya yang semakin gemas terhadap payudara Diana, dia juga terkadang menekan-nekan tubuh Diana seolah menginginkan penisnya menusuk lebih dalam.
“Ohh…saya mau ngecrot Bu, di dalam yah !” ujarnya.
Diana sebenarnya tidak rela sperma-sperma itu tertumpah di rahimnya terlebih kalau sampai hamil gara-gara perkosaan ini, satu hal yang dia syukuri adalah saat itu dia sedang tidak dalam masa subur. Tak lama kemudian dia merasakan cairan hangat memenuhi bagian dalam kewanitaannya, desahan dan deru nafas satpam itu juga terasa dekat wajahnya. Dia terus menaik-turunkan tubuh hingga penis itu terasa makin menyusut ke bentuk aslinya namun dia sendiri masih belum mencapai puncak sehingga merasa ada yang kurang.
“Ayo, sama saya sekarang Bu !” Imron seolah bisa membaca pikirannya, dia membantunya berdiri dan mendudukkannya di pinggir meja.
Imron menusukkan penisnya ke vagina Diana, kali ini sudah tidak sesulit waktu pertama tadi karena daerah itu sudah sangat licin dan becek oleh cairan orgasme dan sperma kedua satpam yang barusan menggumulinya.

Imron mulai menggenjot penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Diana.
“Aahh…oohhh…ahhh !” desah Diana dengan tubuh menggelinjang, kedua pahanya melingkari pinggang Imron dan tangannya memeluk erat tubuh pria itu.
Tiba-tiba dia merasa tubuhnya terangkat dari meja, ternyata Imron memang telah menjauhkannya dari meja, hanya pahanya saja ditopang oleh kedua tangan kokoh Imron. Secara refleks Diana makin mempererat pelukannya kepada Imron dan kini tusukan-tusukan penis Imron makin terasa olehnya, bahkan secara naluriah dia pun turut menggoyangkan pinggulnya. Imron sangat gemas melihat payudara Diana yang terguncang-guncang dan wajahnya yang makin bersemu merah karena terangsang berat sehingga tempo genjotannya makin bertambah. Sambil mengarungi lautan kenikmatan, Diana juga menyaksikan Jesslyn yang kaos dan roknya telah tersingkap sedang mengoral penis Encep yang duduk di bangku sementara dari belakangnya Pak Kahar menggenjotinya dengan ganas.
“Enak kan Bu ? Hehehe…sama suami Ibu belum pernah seasyik gini kan ?” ejek Imron.
“Iyah Pak…enak…ahhh…enak banget !” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Diana yang tengah dilanda birahi tingkat tinggi.
Hampir duapuluh menit lamanya Imron menggenjot Diana dalam posisi demikian. Diana takjub akan keperkasaannya, dengan suaminya dia pernah mencoba posisi ini namun tidak bertahan lama karena gaya ini memang memakan banyak tenaga untuk menggenjot dan menopang berat badan sang wanita. Vagina Diana makin becek sehingga terdengar bunyi berdecak setiap selangkangan mereka bertumbukan.

Sementara itu, tidak jauh dari situ Jesslyn sedang menikmati sodokan Pak Kahar yang ganas. Sodokan itu cukup bertenaga sehingga tubuh Jesslyn ikut bergetar, terkadang penis Encep yang sedang diemutnya melesak lebih dalam dalam mulutnya. Pak Kahar juga menggerayangi payudaranya yang tergantung itu. Encep merem-melek menikmati belaian lidah Jesslyn pada penisnya.
“Gitu Non, enak…asoy, kaya surga !” gumamnya sambil membelai rambut Jesslyn.
Sejak diperkosa Imron tiga bulan lalu Jesslyn memang telah tidak malu-malu melakukannya dengan orang-orang semacam mereka. Hasrat liar dalam dirinya telah mengalir bagaikan curahan air dari bendungan yang bobol. Imron telah berhasil memunculkan sisi liar dalam diri gadis itu. Selain dengan kedua satpam ini Jesslyn juga pernah terlibat hubungan seks dengan si dosen bejat Pak Dahlan, gerombolan tukang becak di dekat kampus, sekelompok anak STM, dan lain-lain. Keliaran Jesslyn ini akan kita simak dalam nightmare sidestory di lain waktu.
“Oohh…ohhh…saya nggak tahan lagi Pak, mau keluar !” desah Jesslyn ketika merasa sudah diambang klimaks.
Mendengar itu Pak Kahar semakin bersemangat menggenjotnya hingga akhirnya tubuh Jesslyn mengejang tak lama kemudian. Cairan orgasmenya keluar deras sekali membasahi dan menghangati penis Pak Kahar.
“Hihihi…asyik banget yah Non entotannya ?” sahut Encep melihat reaksinya yang liar ketika orgasme.

Disaat yang sama Diana juga mencapai klimaks bersama Imron. Tubuhnya mengejang dan mulutnya mengeluarkan erangan panjang. Imron menyandarkan punggung wanita itu di tembok dan menurunkan kaki kanannya karena saat itu Imron juga sudah mau keluar. Dia menyusul sekitar setengah detik orgasme Diana, penisnya dia tekan lebih dalam sambil melenguh panjang melepaskan spermanya di dalam rahim wanita itu. Entah sudah berapa banyak cairan putih kental itu yang tertumpah disana sehingga meluber keluar dan meleleh di daerah paha sekitar selangkangannya. Setelah mereguk sisa-sisa orgasme sambil berpelukan Imron memapah tubuh Diana yang masih lemas dan membaringkannya di atas meja.
“Puas banget saya main sama Ibu, sekarang Ibu istirahat dulu, saya mau muasin Non Jesslyn” katanya seraya memberikan ciuman pada bibir wanita itu.
Akal sehat Diana berangsur-angsur pulih kembali, dia menyadari betapa kotor dan berdosanya dirinya karena telah menikmati persetubuhan laknat barusan. Perasaan bersalah pada suaminya kembali melingkupi dirinya sehingga air matanya menetes. Setelah merasa tenaganya cukup kembali Diana menjajakkan kakinya ke tanah dan melangkah gontai ke sudut ruangan untuk memungut kacamatanya yang terlempar. Untunglah benda itu tidak pecah, hanya gagangnya sedikit bengkok. Diana tersentak ketika bangkit berdiri dan membalikkan badan melihat Pak Kahar berdiri di belakangnya sambil cengengesan, penisnya dalam keadaan ereksi.

“Hehehe…pake kacamata gitu Ibu juga tetap cantik, saya jadi gemes deh !” kata Pak Kahar sambil meraih lengan Diana.
“Ehh…nggak Pak, sudah…cukup !” Diana melepaskan diri dari satpam itu yang mencoba mendekapnya.
“Ayo dong, Ibu ini malu-malu aja padahal tadi keenakan gitu, iya kan ngaku aja hehehe !” ejek Pak Kahar dengan terus melangkah mendekati Diana yang berjalan mundur menghindarinya sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan tangan.
Pak Kahar akhirnya berhasil mendekap Diana di dekat jendela, tubuh Diana yang menghadap kaca jendela dipepetnya hingga kedua payudaranya yang montok itu menempel disana. Kalau saja hari masih siang dan tidak hujan pemandangan itu sudah menjadi tontonan gratis bagi orang-orang yang lalu lalang di taman belakang kampus itu. Diana meronta dan meminta agar dilepaskan, namun Pak Kahar malah meremasi pantatnya.
“Bagus Bu, pantat yang bagus, udah lama saya pengen pegang akhirnya kesampaian juga, dapet ininya lagi !” kata Pak Kahar seraya menggerakkan tangan satunya mengorek-ngorek vagina Diana.
Diana tak mampu berbuat banyak untuk melawannya terlebih tubuhnya masih letih setelah digarap mereka tadi, dia bahkan mulai terangsang lagi karena jari-jari si satpam yang mengais vaginanya, klitorisnya yang dia temukan dia main-mainkan sedemikian rupa, digesek dengan jarinya dan dipencet-pencet sehingga tubuh Diana bergetar seperti tersengat listrik.

Pada saat yang sama Jesslyn sedang melakukan gaya woman on top kepada Encep yang berbaring di lantai, pakaiannya yang sudah tersingkap itu masih menempel di tubuhnya. Sambil menaik-turunkan tubuhnya dia memberikan perlayanan mulut kepada penis Imron. Penis hitam Imron dia jilati dari kepala sampai buah zakarnya. Reaksinya sekarang sangat beda sekali dengan ketika pertama kali diperkosa Imron dulu, kini dia memang sudah menjadi budak seks Imron yang harus bersedia menuruti nafsu bejat si penjaga kampus itu. Tak lama kemudian, Imron merasa cukup dengan oral seks itu, kemudian dia menyuruh Jesslyn mencondongkan badan ke depan sehingga pantatnya terangkat. Imron lalu mengarahkan penisnya ke dubur gadis itu.
“Aakhh…pelan-pelan Pak…ngghh !” erangnya menahan rasa nyeri karena jarang melakukannya secara anal.
Setelah Imron memasukkan penisnya ke pantat Jesslyn, ketiganya mulai bergoyang lagi. Erangan kesakitan Jesslyn sekonyong-konyong berubah menjadi erangan nikmat merasakan double-penetration itu. Si Encep yang dibawahnya daritadi terus memain-mainkan payudara Jesslyn yang menggiurkan. Tubuhnya tersentak-sentak dan mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan.
“Terus Pak…terus…ahh-ahh !” Jesslyn menceracau tak karuan.
“Oohh…abang mau keluar, enak banget Non uuhh !” Encep tiba-tiba mengerang lebih panjang dan matanya merem-melek karena sudah mau mencapai orgasme.
Jesslyn merasakan semprotan sperma Encep yang hangat di vaginanya, tubuhnya terus naik-turun karena dia belum mencapai puncak. Hal ini membuat Encep blingsatan karena penisnya terus diremasi dinding vagina Jesslyn yang makin berkontraksi, mulutnya yang agak monyong semakin monyong karena mengerang.

Jesslyn baru menyusul ke puncak sekitar lima menit kemudian, dia mengeluarkan banyak sekali cairan kewanitaan sampai meleleh membasahi selangkangannya dan selangkangan Encep. Imron pun saat itu juga sudah mau keluar, dia mencabut penisnya dari dubur gadis itu kemudian berdiri di depannya dengan tangan satu memegangi kepala Jesslyn dan tangan lainnya mengocok penisnya. Lima detik saja penis itu sudah menyemprotkan isinya membasahi wajah gadis itu. Imron menjatuhkan pantatnya di bangku terdekat dan Jesslyn ambruk di atas tubuh Encep dengan penis pria itu masih menancap di vaginanya. Sementara di jendela sana, situasinya tidak kalah seru. Diana yang merasa sudah makin mendekati puncak menggoyang-goyangkan pinggulnya menyambut genjotan Pak Kahar. Tubuh Diana makin terdorong ke depan, kedua lengan dan payudaranya makin menempel di kaca, dari luar itu akan menciptakan pemandangan yang menggairahkan. Jilatan si satpam pada daun telinga dan lehernya makin membuat darahnya bergolak. Akhirnya Diana merasakan dari dalam tubuhnya seperti mau meledak tanpa bisa ditahan lagi. Erangannya terdengar nyaring seiring dengan tubuhnya yang menegang. Pak Kahar semakin bernafsu menggenjoti Diana hingga tubuh wanita itu mulai melemas kembali.
“Sekarang saya mau keluar di mulut Ibu, Ibu harus telen peju saya yah, jangan sampe dimuntahin, awas !” katanya sebelum mencabut penisnya.

Diana disuruh berlutut dan mulutnya dijejali penisnya yang basah itu. Di dalam mulut dirasakannya kepala penis itu berdenyut-denyut hingga sebentar kemudian mengeluarkan cairannya yang kental dan hangat. Dengan terpaksa Diana menelan cairan itu karena tubuhnya masih terlalu letih untuk menolak. Sebagian sperma itu meluber di pinggir bibirnya dan meleleh ke leher membasahi kalung pemberian suaminya ketika masih pacaran dulu. Diana memejamkan mata erat-erat menahan rasa jijik namun disamping itu ada sensasi aneh mengalir dalam dirinya. Dia baru pernah merasakan kenikmatan total dalam berhubungan seks yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Orgasme Pak Kahar pun makin surut, dia akhirnya melepaskan kepala Diana. Diana sendiri tersandar lemas di tembok tepat di bawah jendela, lelehan sperma masih nampak pada pinggir bibir, dagu dan lehernya, matanya menatap hampa ke depan.
“Nah gimana Bu, baru tau kan enaknya digangbang bapak-bapak ini !” ejek Jesslyn yang sudah membereskan pakaiannya “dan Ibu tau kan akibatnya kalau kejadian sekarang bocor, Ibu gak mau kan suami Ibu sedih”
Di rumah Diana menangis sejadi-jadinya sambil merendam tubuh di bathtub, dia merasa dirinya tidak beda dari pelacur, dia telah menjadi budak seks Imron yang harus bersedia melayaninya kapan saja dan dimana saja. Sejak itu pula dia selalu merasa persetubuhan dengan suaminya ada yang kurang, kenikmatan yang didapat tidak sedahsyat dengan si penjaga kampus dan kawan-kawannya itu. Sekalipun tetap mencintai Alex dengan sepenuh hati, namun dia tidak bisa menolak ajakan seks dari Imron yang dirasanya lebih nikmat, bahkan diam-diam hati kecilnya menginginkannya.

Karya : Shusaku (KisahBB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: