h1

Liani 3: I Know What You Did Last Month

January 13, 2009

Disclaimer:
1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.

—@@@@@@@—–

Setelah kejadian di gudang tua itu berakhir, Darsono pulang ke rumahnya dengan senyum licik mengembang di mulutnya selama di sepanjang jalan. Karena sore itu ia telah menemukan “gua kenikmatan” sekaligus “gua tambang emas” yang bisa menjadi alat pemuas nafsu seksnya sekaligus sumber penghasilan tetapnya. Memang ia adalah seorang bajingan sejati yang tak segan-segan menghancurkan hidup orang lain demi keuntungan pribadinya. Namun, sungguh nasib tak berpihak kepadanya. Di tengah jalan secara tak terduga-duga ia dicegat oleh geng musuhnya dan dipukuli rame-rame. Ia termasuk orang yang sangat dibenci oleh musuh-musuhnya karena ia tak segan-segan menggunakan taktik kotor dan menghalalkan segala cara. Pada saat seluruh anggota geng itu sibuk memukuli Dharsono, salah seorang anggota geng itu malah memecah kaca jendela mobil Darsono. Saat itulah dilihatnya handphone yang ditaruh di bangku depan. Segera dikantunginya handphone itu sebelum ia melanjutkan aksi pengrusakannya yang segera diikuti oleh teman-temannya yang lain setelah Darsono babak belur tak bisa bergerak lagi. Demikianlah aksi pengrusakan itu berlanjut, namun si penemu handphone itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Rohim, sama sekali tak memberitahu teman-temannya mengenai handphone itu. Sehingga kini hilanglah kesempatan Dharsono melakukan niat jahatnya. Handphone itu tak pernah kembali ke tangannya dan ia malah harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama. Setelah keluar dari rumah sakit ia malah menjadi agak linglung.

—@@@@@@@—–

Malam itu Rohim sibuk memencet-mencet handphone yang sore itu ditemukannya. Besok ia berniat menjual handphone itu sebagai tambahan uang saku. Oleh karena itu, sebelum dijualnya, ia memeriksa isi handphone itu untuk melihat apakah ada informasi yang penting sehubungan dengan permusuhan antar geng-nya itu. Namun apa yang ditemukannya membuatnya bagaikan disengat seratus kalajengking. Tak disangkanya disitu ada foto-foto dan video cewek putih dan cakep melakukan adegan seks dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai Darsono bisa mendapatkan foto dan video cewek itu. Ah, kalo sama cewek kayak gini, gua juga mau, pikirnya. Walaupun wajah cowok yang menyetubuhi cewek putih itu tak terlihat jelas, namun dari suaranya ia menduga itu adalah Dharsono bersama dengan satu orang temannya. Ia sungguh tak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Kok bisa-bisanya cewek secakep dan sekelas ini mau dengan sukarela digilir oleh Darsono dan temannya? Padahal cewek ini seperti cewek baik-baik dan kelihatannya seperti anak orang kaya. Sementara Darsono adalah pentolan geng yang ugal-ugalan. Kalau mau tentu cewek ini bisa memilih cowok lain yang lebih cakep dan kaya atau setara dengannya untuk melakukan hal seperti ini. Ah, masa bodoh dengan itu, pikirnya. Kini otaknya memikirkan keuntungannya sendiri. Kalo gua bisa menemukan identitas cewek ini, gua pasti bisa menikmati cewek ini. Walaupun cewek ini kelihatannya cewek elit, tapi kalo digilir berdua oleh Darsono aja mau, kenapa nggak mau dengan gua, pikirnya. Apalagi videonya ada di tangan gua. Kapan lagi ada kesempatan sebagus ini, pikirnya. Kini ia memutuskan untuk menunda dulu menjual handphone itu sampai ia menemukan identitas cewek itu. Ia sengaja tak memberitahu anggota geng lain atau siapapun mengenai temuannya yang tak disangka-sangka itu.

Namun ia ingin menikmati dulu satu-satu foto dan video cewek itu. Harus diakui bahwa cewek ini sangat menggairahkan baginya. Tampangnya begitu polos tapi tak disangka bisa melakukan perbuatan seperti itu. Ditambah lagi kulitnya yang putih mulus dan tubuhnya yang sungguh sexy. Apalagi ia tak pernah bercinta dengan cewek yang kulitnya putih seperti dia. Hanya satu sayangnya, matanya tertutup sehingga ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Setelah itu ia berusaha mencari identitas cewek itu. Ia yakin nomor cewek itu pasti tersimpan di dalam handphone itu. Namun sayang, hal itu ternyata tak semudah seperti yang dikira sebelumnya. Telah berhari-hari ia mengutak-atik handphone itu. Ia mencatat semua nama cewek yang ada di Phonebook. Kemudian melalui telepon umum, ia menelpon mereka satu-satu dan memancing-mancing mengenai kejadian di gudang hari itu. Namun hasilnya: 100% negatif. Lalu ia mengobrak-abrik isi handphone itu, dari incoming call, outgoing call, missed call, notes, dll. Tapi hasil akhirnya tetap sama: Nol besar. Memang di handphone itu sama sekali tidak ada record nomor hp Liani. Dodo lah yang tahu no hp-nya. Dan Dodo belum sempat memberikannya ke Dharsono sampai keduanya mengalami nasib tragis pada hari itu. Telah lewat beberapa hari bahkan seminggu, usahanya tak membuahkan hasil juga. Namun, ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba terkuak secuil harapan secara tak terduga-duga. Beberapa hari kemudian Pak Sarip pamannya memintanya untuk menggantikan tugasnya sebagai pesuruh sekolah di salah satu SMU favorit di kota itu. Karena ia dan istrinya ada keperluan di desanya dan harus pergi selama beberapa minggu. Sedangkan masa sekolah akan segera dimulai sehingga harus ada orang yang membersihkan kelas.

Tiba-tiba lampu terang menyala di benaknya. Dilihat dari tampangnya, cewek itu kayaknya masih anak SMU. Nah, siapa tahu cewek itu juga bersekolah disana. Paling nggak, nggak ada salahnya dicoba. Toh dengan melakukan itu, ia mendapatkan gaji. Akhirnya disetujuilah permintaan pamannya. Sekolah itu sebenarnya bukan tempat asing baginya, karena beberapa tahun sebelumnya ia pernah sekolah disana. Tapi ia tak pernah bisa mengikuti “irama” sekolah itu, baik dari segi pergaulan maupun pendidikan. Dari segi pergaulan, karena murid-murid disana kebanyakan anak orang kaya atau paling nggak dari keluarga mampu. Sementara dirinya dari keluarga yang sungguh pas-pasan. Dari segi pendidikan, karena mutu sekolah itu cukup tinggi, sementara otaknya tak mencukupi. Dan memang sebenarnya ia bisa masuk sekolah itu gara-gara mendapat fasilitas khusus sebagai keponakan Pak Sarip, pesuruh sekolah yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Akhirnya ia menjadi orang yang “terpinggirkan” di sekolah itu. Setelah tak naik kelas dua kali, akhirnya ia harus keluar dari sana. Sehingga ia sekolah di SMU yang ditempati sekarang. Rohim sendiri saat itu kelas 3 SMU, namun umurnya sudah 21 tahun. Karena ia beberapa kali tak naik kelas. Di sekolahnya yang baru itu ia jadi pentolan gerombolan anak-anak nakal yang disegani. Memang ia adalah anak jalanan yang liar dan jago berkelahi. Penampilannya pun sangar dan rambutnya dibiarkan gondrong. Tampangnya memang termasuk amburadul. Walau begitu ia sering gonta ganti cewek dan bahkan sampai melakukan hubungan intim dengan mereka. Selama Rohim membantu di sekolah itu ia diperbolehkan tinggal di rumah tempat tinggal Pak Sarip yang terletak di dalam kompleks sekolah. Tugas sehari-harinya adalah membersihkan ruang kelas.

—@@@@@@@—–

Sejak hari pertama ia bekerja di sekolah itu, ia langsung melakukan misi rahasianya yaitu melakukan “tugas penyelidikan” sekaligus cuci mata mengawasi murid-murid cewek di sekolah itu. Harus diakui, agak sulit baginya untuk menemukannya. Karena, pertama, siswi-siswi disana banyak yang cakep-cakep dan berkulit putih. Kedua, jumlah kelas dan murid yang sangat banyak. Ketiga, ia tak tahu nama cewek itu. Seandainya tahu tentu lebih mudah mencarinya. Keempat, ia tidak seharian terus menerus di sekolah itu. Karena ia masih harus sekolah juga. Kelima, ini yang paling susah, ia tidak tahu secara persis wajah cewek itu karena sebagian besar foto dan videonya dalam keadaan matanya tertutup. Hanya sedikit saja yang matanya terbuka, di bagian-bagian akhir. Namun sudut pengambilannya tidak begitu tepat dan kameranya bergoyang-goyang saat perekaman. Justru tubuhnya lebih jelas dibanding wajahnya, termasuk bagian-bagian rahasia dari seorang gadis yang seharusnya tertutup rapat. Yang seharusnya terlihat malah nggak kelihatan, yang seharusnya nggak boleh kelihatan malah terbuka jelas. Kadang di dunia ini memang terjadi hal-hal yang aneh. Dari segi kemupengan, hal itu memang menguntungkan. Tapi untuk proses penyelidikannya ini, hal itu tak membantu sama sekali. Karena tak mungkin ia membuka pakaian siswi-siswi disana untuk memeriksa paha atau dadanya dan mencocokkannya dengan yang ada di handphone, tanpa berurusan dengan pihak yang berwajib. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah mengamati wajah, kulit tubuh, tinggi, gemuk kurusnya, serta ukuran payudaranya. Untuk yang terakhir ini ia hanya bisa mengira-ngira. Jadilah ia kini mengamati murid-murid cewek disana dengan tampang mupeng. Tanpa terasa seminggu lebih telah lewat namun ia masih bisa belum menemukan cewek misterius itu.

Sementara itu, kerjaannya mengamati siswi-siswi disana selama ini, tak luput dari perhatian seseorang. Selain membuat risih sejumlah siswi disana karena merasa dipelototin payudaranya, perbuatannya itu tak lepas dari pengamatan Pak Rahman, guru olahraga di sekolah itu. Telah beberapa kali ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah murid-murid cewek, terutama yang cakep dan berkulit putih. Memang ia jadi mupeng sendiri melihat mereka. Seandainya ada satu saja diantara mereka yang bersedia melayani kebutuhan nafsunya, ia tak akan meneruskan usahanya menemukan cewek misterius tersebut yang sepertinya tidak akan membuahkan hasil. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah sekolah itu. Keduanya adalah orang Jawa. Umur Pak Rahman awal 40-an atau akhir 30-an. Namun karena ia rajin berolahraga, badannya cukup kekar dan masih gagah. Sebagai suami dari kepala sekolah dan sebagai seorang guru disana, ia berkepentingan untuk menjaga suasana di sekolah itu tetap aman dan kondusif dan tidak terjadi hal-hal yang tak menyenangkan. Dari sejak awal sebenarnya ia kurang suka dengan Rohim. Sehingga beberapa kali ia menyempatkan diri untuk mengawasi Rohim secara khusus. Pada suatu hari, setelah untuk kesekian kalinya ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah empat orang siswi yang berjalan bersama, ia mendatangi Rohim. Setelah menggiringnya ke pojok yang sepi, tanpa tedeng aling-aling ia langsung menegurnya,
” Hei! Kamu harus ingat, tugasmu disini adalah membantu. Jadi kamu jangan sampai bikin masalah disini!”
“Apa maksud Bapak? Saya nggak bikin masalah kok.”
“Kamu jangan pura-pura. Sudah beberapa kali saya lihat kamu selalu memelototin murid-murid cewek disini. Kalo kamu masih mau tetap disini, kamu harus menghentikan perbuatanmu itu.”
“Saya cuma melihat aja kok.”
“Itu bukan melihat tapi melotot. Begini, saya tak mau buang waktu lama-lama dengan kamu. Tapi ingat, kalo sampai ada siswi yang complain tentang kamu atau kamu berani berbuat kurang ajar terhadap mereka, maka kamu akan berhadapan dengan saya!” kata Pak Rahman dengan garang.

“Mengerti kamu?”
Meskipun ia sendiri jago berkelahi, namun berhadapan dengan Pak Rahman nyalinya ciut juga. Karena selain badannya yang kekar, ia tahu kalau Pak Rahman adalah jagoan karate. Juga ia kalah wibawa.
“Me-mengerti Pak.”
“Ok. Sekarang kamu boleh pergi. Tapi ingat kata-kata saya!”
Setelah mendapat peringatan itu, Rohim masih melanjutkan pencariannya, namun kini ia makin berhati-hati. Tapi sungguh sial baginya. Beberapa hari kemudian ia kembali ketangkap basah oleh Pak Rahman saat matanya jelalatan seolah menggerayangi seluruh tubuh seorang murid cewek yang cakep. Membuat cewek itu jadi risih. Sementara ia adalah anak seorang penyandang dana yayasan sekolah itu. Kali ini Pak Rahman memberi peringatan terakhir kepadanya. Sejak saat itu Rohim jadi tak berani macam-macam. Kini Rohim  telah mulai pesimis. Apalagi waktunya di sekolah itu hanya seminggu lagi. Akhirnya ia memutuskan kalau sampai seminggu ia tak dapat menemukan cewek itu juga, ia akan menjual handphone itu. Karena ia tak tahu bagaimana mencari satu orang di tengah jutaan manusia. Paling tidak ia bisa mendapat uang beberapa juta dari handphone itu.

—@@@@@@@—–

Dimanakah Liani berada?

Selesai kejadian hari itu, Liani pulang ke rumahnya dengan hati dan pikiran yang terpuruk. Tak disangkanya Dodo bisa mengkhianati dirinya seperti itu. Dan kini, ada Darsono yang memegang foto-foto dan video dirinya. Ia tak bisa membayangkan kalau dirinya sampai menjadi boneka yang diperlakukan semaunya oleh Darsono. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus mengadu kepada Papinya? Tak bisa dibayangkan betapa marahnya dia. Ataukah ia harus menghubungi Dodo dan memohon kepadanya untuk membantunya? Ah, kalau memang ia bersedia membantu, ia tidak akan mendiamkan saja hal itu terjadi. Dan Dodolah orang yang menyebabkan ini semua terjadi. Lalu apa gunanya minta bantuan dia? Lagipula kini ia sangat membenci orang itu!! Ataukah ia harus memohon langsung kepada Darsono untuk menghancurkan foto dan video dirinya? Tak mungkin, Darsono adalah orang yang jahat yang justru mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain. Bisa-bisa nanti malah ia lebih
dipermainkannya. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan sore dan malam itu ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya sampai akhirnya tertidur sendiri. Beruntung baginya, saat itu adalah masa liburan sekolah. Sehingga ia tak harus pergi ke sekolah dengan kondisi yang terpuruk seperti itu. Keesokan harinya, seharian hatinya deg-degan mengantisipasi adanya telpon atau sms masuk dari Darsono atau Dodo. Ia sungguh takut membayangkan dirinya diperintah Darsono untuk melayaninya kapan pun ia mau, atau lebih parah lagi, kalau ia dijual untuk melayani orang yang tak dikenalnya sebagai pelacur! Seharian itu ia menunggu dan seharian itu ia tersiksa. Menurut perkiraannya, Darsono seharusnya pasti akan segera memanfaatkan dirinya, karena ia adalah orang yang amat jahat. Namun kenyataannya, ketakutan yang diantisipasi itu tidaklah datang, paling nggak untuk hari itu.

Hari kedua juga tak terjadi apa-apa. Begitu pula hari ketiga, keempat, dst. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Apakah Dodo diam-diam telah membantunya? Ataukah Darsono langsung menyebar foto dan video dirinya itu ke Internet? Ia jadi bergidik memikirkan itu. Ah, tapi tak mungkin, pikirnya. Tidak ada untungnya bagi Darsono untuk melakukan hal itu saat ini. Karena justru itulah senjata andalannya untuk memerasnya. Hal itu baru akan dilakukannya apabila ia berani menolak permintaanya. Darsono adalah orang yang selalu mengambil langkah yang paling menguntungkan dirinya tanpa peduli akan orang lain. Oleh karena itu, adalah hal yang aneh kalau sampai sekarang tidak ada tindakan apa-apa darinya. Satu-satunya kemungkinan yang dipikirkannya adalah, Dodo yang membantu dirinya. Ya, mungkin pada akhirnya ia memilih melakukan perbuatan baik terhadap dirinya. Tapi kenapa ia tak menghubunginya? Setelah mula-mula ragu, akhirnya ia menelpon Dodo. Namun ia tak dapat menghubunginya. Karena orang yang menerimanya sama sekali tak kenal dengan orang bernama Dodo. Ia sungguh heran dengan semua ini. Hari demi hari berlalu tanpa kejadian apa-apa sampai liburan sekolah berakhir. Kini pikirannya mulai lebih tenang. Karena apa yang ditakutkan sampai sekarang tak terjadi. Kini ia mencoba melupakan hal itu dan kembali ceria seperti sebelumnya. Namun di dalam hatinya tetap saja ada rasa waswas kalau tiba-tiba ada telepon dari Darsono atau orang lain. Bagaimanapun ia tidak akan bisa hidup tenang kalau tidak mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya. Untuk itu ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi dan yang lebih penting lagi, bagaimana caranya untuk mendapatkan handphone itu supaya foto-foto dirinya tak tersebar. Tapi bagaimana caranya? Sungguh suatu hal yang amat sulit dan tak tahu bagaimana memulainya. Tetapi ia tak putus asa, bukankah pepatah mengatakan, “Tak ada sesuatu yang mustahil apabila kita benar-benar percaya.”
Dan ternyata, nasib berpihak kepadanya karena tak lama setelah itu terjadi peristiwa yang tak terduga-duga. Namun justru peristiwa itulah yang membuka jalan sehingga harapannya itu akhirnya tercapai.

—@@@@@@@—–

Sore itu Liani menyadari kalau buku catatan kimianya tak ada di tasnya. Ah, mungkin ketinggalan di kelas, pikirnya. Keesokan harinya ia mencari Pak Sarip di tempatnya. Namun disana ia melihat ada cowok berkulit hitam yang sedang membelakangi dirinya dan sibuk melakukan sesuatu.
“Maaf Mas, Pak Saripnya ada?” tanya Liani ke cowok itu, yang tak lain adalah Rohim.
Mendengar ada suara cewek di belakangnya, Rohim langsung terkesiap kaget.
Suara itu!!!
Suara itu sungguh familiar {”Aah, loe curang pindah-pindah tempat gitu”} {”Emang kalau “atau” gimana?”}.
Lalu ia buru-buru membalikkan badannya, dan ia tertegun melihat cewek yang berdiri di depannya itu.
“Ooh, maaf kalo ngagetin,” kata Liani sambil tersenyum manis.
“Oh, nggak…. nggak apa-apa kok,” kata Rohim yang belum hilang rasa terkejutnya. Ia kelihatan terbengong-bengong. Ia seperti tersihir oleh kecantikan cewek ini yang sedang tersenyum manis kepadanya ini. Belum pernah ada cewek secantik ini tersenyum kepadanya. Namun juga pikirannya terpecah dengan menimbang-nimbang apakah betul cewek ini adalah cewek misterius yang dicarinya selama ini? Pada saat ia mulai melupakan pencariannya, tak disangka-sangka justru cewek itu yang menemukan dirinya!

Liani hanya tersenyum menyaksikan sikap Rohim yang sepertinya salah tingkah itu, sepertinya ia memakluminya.
“Pak Saripnya ada, Mas?” ulangnya lagi.
“Ooh, Pak Sarip lagi pulang ke desa. Ada yang bisa saya bantu?” katanya sambil kini ia mulai bisa menguasai diri.
“Saya mencari buku catatan kimia saya, bukunya ukuran segini dan warnanya merah muda dengan gambar Hello Kitty, mungkin tertinggal di kelas kemarin,” kata Liani menjelaskan.
“Apakah ada ditemukan buku seperti itu?”
“Setahu saya tidak ada. Tapi sebentar saya liat dulu,” kata Rohim sambil masuk ke dalam.
Di dalam rumah, ia menimbang-nimbang apakah betul cewek yang menemuinya ini adalah cewek di dalam handphone itu. Dari tampangnya sungguh ia seperti cewek baik-baik yang tak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi dengan orang seperti Dharsono. Tapi suara dan gaya bicaranya sama dengan suara cewek yang ada di handphone itu. Ia telah hafal dengan suara itu karena ia telah mendengarnya mungkin ratusan kali.
Ah, kalo bener dia adalah cewek itu, hidup betul-betul sulit ditebak.
Gua susah payah mencarinya tapi ga ketemu-ketemu. Sekarang malah orangnya datang sendiri. Gua susah payah mencari berdasarkan wajah dan bentuk fisik tubuhnya. Tapi ketemunya malah dari suaranya. Memang jalan hidup kadang misterius. Seketika terbayang tubuh putih mulus dan sexy itu dalam keadaan telanjang bulat. Ehh, tapi tunggu dulu! Gue harus 100% yakin dulu sebelum bertindak. Apalagi gue udah diancam sama Pak Rahman. Kalo sampe salah sasaran, bisa mampus gua. Dari wajah, gua nggak terlalu pasti apakah ini orangnya. Tapi dari suara gua hampir 100% yakin kalo dia orangnya. Ahh, ya, kenapa ga gua rekam aja suaranya trus gua bandingin?

Lalu ia mengambil handphone itu dan mengaktifkannya untuk merekam suara setelah itu dibawanya keluar.
“Eehh, maaf saya nggak liat buku seperti itu. Mungkin terselip di tempat lain. Saya cari dulu ya. Kamu anak kelas berapa dan nama kamu siapa? Nanti kalo ketemu saya antar kesana.”
“Nama saya Liani. Saya kelas 3 IPA 1. Saya duduk di baris kedua meja ketiga,” kata Liani.
Saat itu Liani melihat handphone yang dipegang Rohim itu. Ia tertegun beberapa saat. Ia tahu handphone itu modelnya sama persis dengan yang dipake Darsono waktu itu. Seketika muncul perasaan waswas dalam dirinya, kalau-kalau Darsono akan segera menghubunginya untuk memaksanya melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Rohim memandang Liani yang sedang dalam keadaan ‘hang’ sejenak itu. Liani rupanya tersadar kalau pesuruh sekolah yang menggantikan Pak Sarip itu memperhatikan dirinya yang melamun sejenak. Tiba-tiba ia balik menatap ke Rohim dan berkata,”
“OK, nanti kalo sudah ketemu, tolong antarkan ke kelas ya,” kata Liani sambil melanjutkan,”Terima kasih,” lalu ia berbalik pergi.
“Tunggu dulu, apa ada tanda-tanda khusus di buku kamu?” tanya Rohim sengaja untuk menambah “data” buat analisanya ntar.
“Ada nama saya di halaman depannya,” kata Liani.
“Ok, nanti saya cari dan kalo sudah ketemu saya antar.”
“Terima kasih.”
“Oh, terima kasih sama-sama,” kata Rohim seolah ia yang mendapat pertolongan.
Lalu Liani membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.

Rohim memandang Liani yang berjalan menjauhinya. Baju seragamnya yang rapi di dalam roknya. Pinggangnya yang ramping. Pinggulnya nampak agak menonjol dibalik rok seragamnya yang rapi. Di balik baju seragam putihnya yang tipis dan agak tembus pandang, nampak tali bra warna coklat muda melintang di horizontal di punggungnya serta di bahunya. Rambutnya yang panjang diputar-putar dan diikat dengan karet rambut sehingga nampak pendek. Tampak jelas lehernya yang putih dan anak-anak rambut yang halus yang menempati diantara leher dan kepalanya. WoW! Begitu putih dan begitu sexy, batinnya. Seperginya Liani, pikirannya masih terbayang akan dua hal dari diri Liani yang dilihatnya dari pertemuan singkat barusan: Wajah Liani yang cantik dan polos yang sedang tersenyum manis serta dadanya yang menonjol di balik baju seragam dan bra coklat muda yang sempat diliriknya. Saat ia membayangkan keduanya digabung seketika penisnya langsung mengeras.

Cut! Cut! Sekarang bukan waktunya mikirin gituan. Sekarang waktunya untuk bekerja!
Kini ia larut dalam analisa penyelidikannya. Dibandingkannya suara rekaman yang baru dibuatnya dengan yang sudah ada dan diputarnya berulang-ulang sampai benar-benar yakin. Lalu dibayangkannya wajah Liani yang barusan dilihatnya dengan yang ada di handphone itu. Hasil analisanya, bentuk bibir, hidung, dan pipinya serta raut wajahnya tidak ada yang bertentangan dengan wajah cewek yang ada di handphone itu (saat matanya ditutup). Justru yang matanya terbuka malah susah untuk dibandingkan (karena sudut pengambilannya nggak pas, posisi kamera yang bergoyang-goyang, juga pada saat itu ekspresi wajah Liani tidak seperti biasanya karena berbagai macam pikiran dan emosi berkecamuk di dalam dirinya). Sementara tubuhnya yang di dalam handphone terlihat jelas telanjang bulat itu malah tak bisa dipakai sama sekali untuk alat perbandingan, karena data yang ada tidak mencukupi. Hmm, untuk yang ini harus melalui penyelidikan yang tuntas dan menyeluruh serta eksplorasi jengkal demi jengkal dan harus memakan waktu cukup lama, pikirnya. Biarlah sisakan yang ini untuk nanti saja. Namun secara garis besar, bentuk tubuh Liani sungguh masuk akal kalau disamakan dengan cewek yang di handphone itu.. Selain itu, ia juga memperhatikan reaksi Liani yang tiba-tiba melamun saat melihat handphone di tangannya itu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu hatinya.

Ia menulis di secarik kertas hasil kesimpulan analisanya.

Hasil analisa:

Suara : persis (probabilitas: 100%)
Wajah : tidak ada yang menyimpang (probabilitas: 90%)

Bentuk tubuh : sesuai (probabilitas: 80%)

Catatan penting lainnya:
1. Reaksi Liani saat melihat handphone sungguh aneh. Apakah ia teringat kalau itu adalah handphone yang digunakan untuk merekam dirinya?
2. Liani sungguh cewek yang sexy dan menggairahkan!

Kesimpulan: cewek di handphone itu adalah: Liani!

Baru saat itu ia menyadari kalau pencariannya berdasarkan wajah dan tubuh, memang sukar untuk menemukan orangnya. Wajah dan tubuh itu baru bisa dipakai sebagai bukti pendukung untuk mencocokkan setelah orangnya ditemukan. Jadi selama ini ia mencari dengan cara yang salah, tak heran kalau ia tak bisa menemukannya. Namun satu hal yang masih membuatnya terheran-heran adalah, cewek itulah yang “menemukan” dirinya, bukan dirinya yang menemukan cewek itu. Kini setelah analisanya menunjukkan hasil positif, ia memikirkan cara yang aman namun ampuh untuk memancing Liani. Setelah mendapat ancaman dua kali, kini ia harus extra hati-hati. Akhirnya muncullah ide bagus yang diilhami oleh film yang pernah ditontonnya. Ia tersenyum puas dengan idenya itu. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, ia buru-buru menuju ke kelas Liani.. Namun, ia terlambat. Karena Liani tak ada disitu dan sebagian besar murid telah meninggalkan kelas. Ia terlalu lama dalam proses analisanya sehingga jam pulang sekolah telah lewat 5 menit. Ia mencoba mencarinya di halaman sekolah, namun tak terlihat adanya Liani disana. Memang saat itu Liani langsung pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya. Sungguh kecewa dirinya. Namun ia menepis keinginan untuk melihat tubuh telanjang di handphone itu. Gua nggak akan lihat itu lagi. Karena sekarang, I want to see the REAL THINGS! Apalagi sore itu ia mendapat informasi kalau cewek yang bernama Liani itu adalah cewek favorit dan siswi teladan di sekolah itu. Biarlah gua tunggu hari Senin aja, pikirnya. Malamnya, untuk menambah efek dramatis, ia pergi ke toko buku membeli buku yang mirip seperti yang dideskripsikan Liani tadi.

—@@@@@@@—–

Namun rupanya kadang untung bisa datang tanpa diduga-duga. Rohim tak perlu menunggu terlalu lama sampai hari Senin. Karena keesokan harinya, hari Sabtu pagi, ia melihat Liani datang ke sekolah dan segera bergabung dengan beberapa temannya. Rupanya hari itu ada kegiatan informal atau sekedar kumpul-kumpul karena semuanya berpakaian bebas. Seketika penis Rohim menegang saat melihat Liani. Bukan, bukan disebabkan karena pakaian Liani terlalu sexy. Malah sebaliknya pakaian yang dikenakannya hari itu termasuk konservatif atau paling tidak biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Liani memakai rok warna putih yang panjangnya beberapa senti diatas lutut. Sementara atasannya kaus berlengan yang bergaris-garis horizontal. Kausnya itu menempel di tubuhnya tapi tak terlalu ketat juga tak terlalu longgar. Bagian dadanya nampak menonjol dibalik bra warna biru tua (tak terlihat dari luar) dengan tali di kedua bahunya. Rambutnya digulung naik ke atas seperti hari sebelumnya, nampak seolah cewek itu berambut pendek. Ia menegang karena membayangkan meskipun cewek itu saat itu memakai pakaian yang tertutup dan sopan, namun ia mempunyai senjata untuk membuat cewek itu bersedia menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapannya. Sungguh suatu hal yang luar biasa, melihat cewek baik-baik yang semula berpakaian tertutup dan sopan sampai akhirnya telanjang bulat tanpa mengenakan apa-apa. Apalagi mengingat perbedaan status diantara dirinya dan cewek itu. Cewek itu adalah cewek populer di sekolah itu karena memang cakep dan sexy dan dari keluarga kaya. Sementara ia adalah orang rendahan, cuma pengganti pesuruh sekolah. Tampangnya juga nggak bisa dibilang cakep. Sungguh kontras sekali perbedaan diantara keduanya. Namun ia memiliki kartu as yang bakal membuat cewek populer dan beberapa tingkat di atas kelasnya itu bakalan bertekuk lutut. Begitulah pikiran cowok. Semakin tinggi ia memandang seorang cewek, semakin puas hatinya kalau ia bisa menikmati tubuhnya.

Dengan sabar Rohim menunggu kesempatan untuk bisa memberikan sesuatu kepada Liani. Ia menunggu saat yang pas dimana tak ada orang lain di dekatnya. Ia tak perlu waktu lama. Cukup beberapa menit saja. Karena itu ia juga tak perlu terburu-buru. Apalagi saat melihat Liani pagi ini, ia merasa yakin tidak lewat hari ini semua jerih payahnya akan berujung kepada hasil yang sangat manis. Sungguh nasib Rohim betul-betul beruntung pagi itu. Mungkin dewi fortuna berpihak kepadanya karena segala usaha yang telah ia lakukan selama ini. Karena tak lama kemudian, keluarlah Liani seorang diri menuju ke kamar kecil. Rohim sengaja membiarkan cewek itu masuk ke kamar kecil. Biarlah ia menyelesaikan urusannya dulu. Tak perlu terburu-buru. Buat apa terburu-buru kalau segala sesuatunya sudah pasti ada di tangan. Begitulah sikap orang yang percaya diri. Tak perlu terburu-buru! Apakah Rohim akan menyergap Liani begitu pintu kamar mandi dibuka lalu dikuncinya dari dalam supaya ia bisa memperkosanya? Tentu tidak! Pertama, ia bukan tipe pemerkosa yang suka menggunakan kekerasan. Kedua, ia memegang kartu as jadi buat apa menggunakan kekerasan kalau segala sesuatu bisa didapatkan dengan cara halus? Ketiga, sekalipun ia ingin memperkosa dengan cara seperti itu, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Karena seseorang yang sedang terancam pasti akan melawan habis-habisan. Dan sekali cewek itu berteriak, habislah sudah. Lagipula, siapa tahu kalau saat ini ada orang yang diam-diam telah mengawasi tindak-tanduknya. Oleh karena itu, tak perlu terburu-buru. Toh semuanya juga sudah digariskan.

Beberapa menit kemudian, keluarlah Liani dari kamar mandi itu. Saat itu terdengar suara yang datang dari samping memanggil namanya. Suara yang tak terlalu keras namun mantap.
“Liani.”
Liani menoleh ke samping, ternyata pesuruh sekolah pengganti Pak Sarip yang ditemui kemarin itu.
“Ya, ada apa?” tanyanya heran, kenapa orang itu memanggil dirinya.
“Saya mau mengembalikan ini, buku kamu,” kata Rohim.
“Oh, itu bukan buku saya. Buku saya nggak seperti itu. Lagi pula buku itu sudah dikembalikan. Ternyata terbawa oleh teman saya,” kata Liani sambil berjalan meninggalkan Rohim.
“Tapi coba tolong pastikan dulu. Paling tidak buka halaman pertama untuk memastikan kalau ini bukan buku kamu. Maaf, ini adalah bagian dari tugas saya,” kata Rohim.
Liani sungguh yakin bahwa itu bukan bukunya. Karena bukunya secara tak sengaja terbawa oleh Cindy, teman sekelasnya, dan sudah dikembalikan. Namun kalau cuma sekedar melihat halaman pertama saja, ya nggak masalah, pikirnya.
Secara sambil lalu diambilnya buku itu dan dibukanya.
Saat dibuka, ternyata ada tulisan besar dengan spidol merah:

I KNOW WHAT YOU DID LAST MONTH!…DI GUDANG TUA ITU!

Ia tersentak kaget melihatnya. Mukanya seketika pucat pasi. “Lho, apa ini?” tanyanya dengan gemetar.
“Ah, itu khan sekedar tulisan di dalam buku ini. Kalau bukan buku kamu, mungkin milik orang lain,” kata Rohim dengan tenang sambil mengambil buku itu.
“Tunggu,” kata Liani, “Memang kamu ini siapa? Dan siapa yang menyuruh kamu?”
“Saya adalah saya sendiri,” kata Rohim seperti sengaja ingin mempermainkan cewek itu,”Tidak ada yang menyuruh saya. Dalam hal ini saya bekerja sendiri.. Walau untuk pekerjaan lain saya biasa disuruh oleh Pak Suwanto. Karena, seperti yang kamu tahu, saya ini khan pesuruh sekolah.
“Lalu apa mau kamu?” tanya Liani yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Hehehe, ada sih. Tapi nggak disini. Mending kamu ke tempat saya sekarang. Tahu khan tempatnya? Dan sebaiknya kamu datang sendirian. Kalau tidak, nanti bisa ada hal yang tak seharusnya diketahui orang jadi diketahui orang. Mengerti khan maksud saya?” kata Rohim.
“Kamu juga sendirian?” tanya Liani, sepertinya ia masih trauma dengan kejadian waktu itu.
“Tentu. Buat apa dibagi ke orang lain kalo semuanya bisa didapat sendiri,” kata Rohim tersenyum penuh arti.
“Tapi kamu jangan kuatir. Handphone itu aman di tangan saya, hanya saja ada harga yang mesti dibayar untuk menebusnya. Dan saya juga tidak sejahat Dharsono,” kata Rohim.
“OK, sebentar lagi saya kesana. Beri saya waktu paling lama 30 menit sampai pertemuan selesai,” kata Liani buru-buru sambil menoleh ke kiri kanan. Ia tak mau orang ini terlalu banyak bicara dan ada orang lain yang mendengarkan. Saat itu tidak ada orang lain di dekat mereka yang bisa mendengarnya.
“OK, saya tunggu,” kata Rohim sambil berjalan ke arah belakang. Sementara Liani juga berjalan kembali ke tempat pertemuannya. Apalagi saat itu ia melihat kedua temannya, Henny dan Fanny, baru muncul dari belokan dan berjalan menuju ke arahnya.

“Ada apa kok tadi gua liat lu ngobrol dengan pesuruh sekolah itu?” tanya Fanny.
“Iya, dia balikin buku gua ini,” kata Liani.
“Ooh, makanya gua heran, koq lu bisa-bisanya ngobrol sama orang itu,” kata Henny.
“Iya, apalagi gua denger dia pernah ditegur sama Pak Rahman, gara-gara ketauan suka ngeliatin cewek-cewek disini,” kata Fanny.
“Iiih, amit-amit dah,” kata Henny bergidik,” Tapi dia kaga ngapa-ngapain lu khan?”
“Ya nggak lah. Cuman ngasih buku dan ngomong bentar untuk mastiin ini buku gua. Abis itu lu datang ini.”
“Ya ok lah kalo gitu. Eh, anak-anak pada mau makan bareng trus nonton katanya. Lu bisa ikut khan?” kata Henny.
“Wah sorry deh, hari ini gua nggak bisa deh. Ada urusan penting,” kata Liani,” Ntar gua bilang juga ke anak-anak deh.”
“Idiih. Urusan penting nih yee. Jangan-jangan teman kita ini diam-diam sudah ada yang nemenin malem mingguan lagi,” kata Fanny menggodanya.
“Ngaco ah lu. Gua mesti ke tempat saudara gua lagi,” kata Liani. Ia memang tak berbohong dalam hal ini. Tetapi itu adalah untuk malam hari, bukan sekarang.

—@@@@@@@—–

Kira-kira dua puluh menit kemudian, suasana di sekolah itu menjadi sepi. Karena murid-murid tadi telah meninggalkan sekolah. Sementara Liani memastikan semua temannya telah pergi dan tidak ada orang yang melihatnya, setelah itu ia berjalan ke belakang menuju ke rumah Pak Sarip. Hatinya berdebar-debar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, pikirnya. Sesampai di depan pintu rumah kecil itu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Rupanya Rohim telah siap menunggunya. Liani melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang sama sekali. Bahkan Rohim pun juga melakukan hal yang sama, memastikan tidak ada orang sama sekali. Setelah itu masuklah Liani ke dalam rumah kecil itu. Rumah Pak Sarip memang kecil, hanya satu ruangan yang menyatu semuanya. Dan disitu terlihat sama sekali tak ada orang. Di dalam ruangan itu ada dua bangku sofa yang saling tegak lurus di depan meja kecil. Rupanya sofa itu ber-dwifungsi sebagai ranjang tempat tidur. Karena tak ada ranjang tempat tidur disitu. Mereka berdua duduk di dua bangku yang berbeda. Masing-masing duduk di bagian tengah bangku. Liani duduk sambil menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya dan menempelkan kaki kirinya di dudukan sofa. Dari sudut pandang Rohim, sebagian kecil pahanya terlihat karena roknya yang beberapa senti diatas lutut. Tak lepas juga dari perhatiannya, dadanya yang menonjol dan rambutnya yang ternyata digulung seperti yang dilihatnya kemarin. Rohim saat itu memakai kaus biasa dan celana jeans. Ia duduk dengan kedua kaki terbuka.
“OK, langsung aja,” kata Liani, “Apa yang kamu tahu sebenarnya dan kamu mau apa?”
“Sebelum kesana, perkenalkan dulu, nama gua Rohim. Gua keponakan Pak Sarip. Rasanya lu perlu tahu dulu nama gua sebelum melangkah lebih jauh ke hal yang lain,” kata Rohim seperti menyindir kejadian di gudang tua waktu itu.
“OK,” kata Liani dengan suara tenang namun mukanya agak memerah,”Sekarang silakan diteruskan.”
“Gua dapet ini,” kata Rohim mengeluarkan handphone itu dari saku celananya,”Ini handphone harganya cukup mahal tapi waktu diliat isinya, ternyata isinya jauh lebih berharga dibanding handphone-nya sendiri.”

Gaya bicara Rohim kini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sekarang jadi lebih berani dan tanpa sungkan-sungkan. Mungkin dipikirnya, buat apa bicara sungkan-sungkan lagi, toh sebentar lagi bakalan intim. Muka Liani jadi berubah melihat handphone di tangan Rohim itu.
“Gua bersedia menyerahkan isi dalamnya, tapi harus dengan harga yang pantas,” kata Rohim,” Dan Harga yang pantas menurut gua adalah..
“Sebentar, sebelum kesana, bagaimana handphone ini bisa jatuh di tangan lu? Apakah lu kaki tangan Darsono?”
“Bukan. Gua dapet ini karena gua rampas dari dia. Dia adalah musuh gua. Sekarang mungkin dia masih di rumah sakit.”
“Kapan lu dapet handphone itu?”
“Gua dapetnya tak lama setelah beberapa foto dan video dibikin didalamnya. Dia mengalami nasib sial bertemu dengan kita setelah sebelumnya sepertinya ia melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga,” kata Rohim menyindir lagi.
Muka Liani jadi memerah mendengarnya.
“Jadi lu langsung mengambilnya hari itu juga?”
“Betul,” kata Rohim.
“Lalu siapa aja yang pernah ngeliat isinya?” tanyanya dengan bergetar.
“Dalam hal ini, lu betul-betul beruntung, karena nggak ada seorang pun yang tahu kalo gua punya handphone ini.”
“Oh,” terdengar napas lega dari Liani. Sungguh ia merasa beruntung dengan semua hal ini. Sekarang ia telah siap membicarakan transaksi pokoknya.
“Tadi lu bilang bersedia menyerahkan isinya dengan harga yang pantas. Memang apa harga yang pantas itu?” tanya Liani dengan tenang.

“Gua langsung to the point aja. Sorry kalo nggak sopan. Gua akan serahin isi handphone ini ke lu sekarang asalkan lu ngasih uang 5 juta ke gua plus gua minta pelayanan khusus sama seperti yang ada di dalam sini,” kata Rohim mengangkat handphone itu. “Lu ngerti khan maksud gua,” kata Rohim sambil mengedipkan matanya,” Mengenai uang, gua yakin bagi lu itu hal kecil. Jadi kalo lu ga bawa uang segitu, lu bisa ngasih setelah ini. Tapi untuk yang “itu” gua minta pembayarannya” sekarang juga. Setelah itu baru gua kasih handphone-nya ke lu. Setelah itu, tak ada hutang piutang diantara kita. Gimana, fair khan?”
“Hah?! Mengenai uang nggak ada masalah. Tapi keterlaluan kalo lu minta “itu”,” sergah Liani,”Gua kasih dobel deh uangnya.”
“Wah, sorry, hehehehe. Ada hal-hal tertentu yang nggak bisa diukur dengan uang. Dan “itu” adalah satu contohnya,” kata Rohim.
“Yah, tapi, tapi…, mana bisa begini. Lu khan pesuruh sekolah. Masa gua mesti “begituan” sama pesuruh sekolah?”
“Memang pesuruh sekolah ga boleh pengin sama murid yang cakep kaya lu gini? Gua khan juga cowok normal, hehehe. Wajar dong kalo gua napsu sama lu yang putih bening gini,” kata Rohim sambil memajukan badannya supaya tangannya bisa menyentuh ke paha cewek itu.
“Lagian kapan lagi gua dapat kesempatan bagus kayak gini, hehehe,” kata Rohim sambil mengusap-usap paha cewek itu.
Namun bagaimana pun bagi Liani hal itu merupakan suatu penghinaan untuk melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolahan. Rohim sepertinya bisa membaca pikiran cewek itu. “Memang dalam satu peristiwa, ada yang merasa terhina, tapi ada yang merasa terhormat. Kalo disatuin, jadi impas khan? Hehehe. Lagian, lu mesti sadar dengan posisi lu sekarang.”

Liani menggeser posisi duduknya menjauhi Rohim sehingga pahanya kini terlepas dari rabaan tangannya, namun hal itu malah mengundang Rohim untuk berdiri dan pindah duduk di sampingnya.
“Iih, lu malu-malu deh, katanya sambil menjawil dagu Liani.
“Eh, apa-apaan ini,” protesnya.
“Sudahh, lu jangan pura-pura deh. Gua udah liat aksi-aksi lu yang hot itu. Gua juga minta lu melakukan hal yang sama sekarang. Dan gua jamin deh,” kata Rohim sambil cengengesan, “Gua nggak kalah jrengg sama si bangsat Dharsono itu. Lu bakalan suka deh. Sama-sama enak kenapa nggak mau. Yukk”
“Ehh sebentar dulu,” kata Liani menghindar dari Rohim yang berusaha menciumnya.
“Lu janji cuma sekali ini ya.”
“Iya betul, cuma sekali ini. Plus uang 5 juta.”
“OK, plus uang 5 juta. Trus abis itu lu kasih handphone itu ke gua?”
“Ya betul.”
“Lalu gimana gua tahu kalo lu benar-benar megang barang bukti yang gua mau?”
“Lu ga percaya sama gua? OK, supaya lu ga penasaran, bentar gua tunjukin,” kata Rohim bangkit dari duduknya, mengambil handphone itu dari laci dan menyerahkannya ke Liani.
“Lu boleh cek dulu kalo ga percaya.”
Liani segera memegang handphone itu dan melihatnya sebentar. Wajahnya memerah, apalagi saat ia menjalankan video yang mengeluarkan suara desahannya. Ia buru-buru mengecilkan volumenya.

“Jadi gimana sekarang? Sudah percaya?” tanya Rohim sambil tersenyum-senyum.
Liani mengangguk, tapi lalu dia berkata,” Tapi bagaimana gua tahu kalo lu nggak bikin copy-nya?”
Tiba-tiba Rohim berubah serius,” Dengar Non, walaupun gua orang rendahan, tapi gua bukan tipe pemeras. Gua ga mau nyusahin orang, karena itu gua jamin kalau yang ada disini cuma satu-satunya. Setelah semuanya selesai, ini gua kasih ke lu. Ehm, mungkin gua cuma minta sekali lagi deh, katanya jujur.
“Jadi lu mintanya sekali atau dua kali?”
“Ehmm, sekarang ini plus satu kali lagi deh,” katanya cengengesan,” Tapi nggak lebih. Gua janji itu.”
“OK,” kata Liani sambil tersenyum sementara ia masih memegang dan memencet-mencet handphone itu. Ia percaya Rohim tak akan membuat copy-nya. Karena ia tahu Rohim bukan tipe pemeras seperti Dharsono. Ia mungkin mupeng abis dengannya tapi dia nggak akan sampai melakukan perbuatan yang bakal menghancurkan hidupnya seperti Dharsono. Selain itu, ia adalah tipe orang yang seandainya mencuri pun, masih ingat dengan takarannya. Diam-diam ia merasa beruntung bahwa handphone itu jatuh ke tangan Rohim. Kalau di tangan Dharsono atau orang lain, dirinya akan lebih susah. Tiba-tiba kini dirasakannya, melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolah ini sekali atau dua kali untuk menebus kebebasan dari pikiran khawatir seumur hidup sepertinya bukan sesuatu yang sangat berat. Apalagi, apalagi, apalagi…hmm, cowok ini kelihaannya “perkasa” juga.

Namun bagaimana pun ia adalah seorang gadis, dan sudah dari “sononya” bagi cewek untuk mempertahankan kehormatannya. Sementara itu di dalam handphone itu terdapat foto dan video dirinya dalam keadaan bugil dan melakukan adegan seks. Tentu ia sangat berkepentingan untuk memusnahkan informasi itu. Ia sedang berpikir mencari cara untuk itu, apakah ia akan menghapus semuanya satu-satu? Ah, itu terlalu lama dan dia bisa curiga. Atau harus membanting handphone itu sampai hancur ataukah menerobos lari keluar dengan membawa handphone itu? Akan tetapi sepertinya Rohim dapat membaca pikirannya. Karena ia berkata,”Seandainya lu mencoba kabur dari sini, jangan dikira lu bisa keluar. Salah-salah malah lu gua perkosa nanti. Lagian, lu tadi nggak ngeh, begitu lu masuk, pintu keluar sudah gua gembok.”
Liani menoleh ke pintu tadi dan seketika dirinya menjadi lemas melihat ternyata memang benar ada gembok kecil dalam posisi terkunci. Untuk membukanya perlu kuncinya dan hanya Rohim yang memegang kuncinya. Sehingga kini tak ada jalan keluar sama sekali bagi dirinya.
“Hmmmm,” kata Liani menghela nafas.
“Kayaknya memang gua nggak ada pilihan lagi sekarang,” kata Liani menyerah sambil meletakkan handphone itu di meja kecil.
“Sepertinya memang begitu. I’m sorry for that,” kata Rohim dengan penuh simpatik. “
“Kalau sudah gini, tunggu apa lagi…” kata Liani lemah dan pasrah.
“Well, if you don’t mind…..” kata Rohim. Kadang kala Rohim juga tahu bagaimana bersikap sebagai seorang gentleman sejati di tengah aksinya sebagai seorang bajingan.

Namun seorang bajingan tetaplah bajingan walaupun sesekali bersikap gentleman. Karena setelah itu, tanpa sungkan-sungkan lagi segera direngkuhnya cewek yang innocent namun sungguh merangsang itu, dan diciumnya bibirnya.
“Mmmhhh.” Dilumatnya bibir cewek itu dengan penuh nafsu. Dijelajahinya seluruh bagian bibirnya.
“Mmmmhhhh.”
Sementara Liani hanya pasrah membiarkan bibirnya dilumat oleh Rohim, pengganti pesuruh sekolahnya itu namun juga bisa dikatakan penolongnya itu, tergantung dari sudut mana ngelihatnya. Matanya terpejam seolah tak ingin melihat cowok rendahan yang menciumi bibirnya itu atau mungkin agar bisa lebih menikmatinya? Entahlah. Lalu lidah Rohim dengan liar menari-nari di dalam mulut Liani dan saling beradu dengan lidah gadis itu. Sambil mereka berciuman, tangan Rohim segera meraba-raba tubuh Liani. Diraba-rabainya seluruh punggungnya yang masih tertutup rapat dan dirasakannya tali bra dibalik kausnya. Ah, sebentar lagi semua ini akan terlepas semua, batinnya. Kemudian tangannya mengalir ke kedua tangannya. Dirasakannya kulit tangan Liani yang putih mulus. Lalu ke pinggangnya, pahanya. Diraba-rabanya rok gadis itu, kemudian turun ke bawah menyentuh kulit tubuh gadis itu di bagian paha bawahnya. Sambil asyik menikmati seluruh jengkal bibir cewek itu, tangan Rohim asyik menggerayangi tubuh Liani. Tangannya yang kiri meraba-raba tubuh Liani, dari perut lalu naik ke atas sampai menyentuh payudaranya dan bergerak disekitar situ agak lama. Meraba-rabanya. Mengelus-elusnya. Yang kiri maupun yang kanan. Tangan kanannya menyusup masuk ke balik rok putihnya. Menyentuh kulit pahanya yang halus, meraba-rabainya, dari bagian bawah naik ke pangkalnya, dari bagian luar menuju ke bagian dalam. Sehingga kini tangan di balik rok itu mengelus-elus bagian dalam pangkal paha kiri dan kanan Liani. Merasakan betapa halus dan mulusnya paha itu….

Posisi Liani yang sebelumnya sedang duduk tegak tak bersandar di sandaran sofa itu, kini jadi terdorong ke belakang oleh gerakan tubuh Rohim yang cukup bernafsu itu. Sehingga kepalanya kini bersandar di sandaran sofa itu. Namun saat itu tiba-tiba Liani melakukan gerakan maju ke depan. Entah tak menyadari atau tak peduli kalau tangan kanan Rohim waktu itu sedang menempel di pangkal pahanya. Akibatnya, saat ia melakukan itu, tangan Rohim jadi menyentuh bagian vitalnya!
“Ahhhh” Liani jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sungguh kebetulan bagi Rohim. Setelah itu, tentu tak disia-siakan olehnya. Tangan yang berada di dalam rok itu mulai menjelajahi sekitar vaginanya. Diraba-rabai celana dalam bagian bulu-bulu vaginanya. Lalu dipencet-pencetnya. Dirasakannya daerah disitu empuk-empuk. Pertanda bulu vaginanya cukup lebat. Sementara tangan yang satunya mulai meremas-remas payudaranya bergantian kiri dan kanan dengan lembut. Dari bulu vagina, tangannya berpindah ke bawah, tepat di tengah-tengah, persis di liang vaginanya!
“Ohhhh. Ohhhhhh. Ohhhhhh.”
Rohim kini berpindah menciumi leher Liani yang putih halus. Dirasakannya kulit lehernya yang halus dan mulus. Mmmmmh. Sungguh nikmat sekali menciumi leher putih itu. Apalagi rambutnya diikat keatas, sehingga nampak kelihatan rambut-rambut halus yang tumbuh di antara leher dan kepalanya itu. Liani yang semula pasif dan sepertinya agak tidak rela dirinya dinikmati oleh pesuruh sekolah itu, kini mulai bereaksi aktif. Mungkin menyadari tidak ada jalan keluar atau mungkin jadi terangsang akibat sentuhan-sentuhan Rohim. Dimajukan lagi tubuhnya ke depan. Rupanya ia ingin duduk di lantai. Kedua kakinya terbuka lebar. Lalu ia memeluk tubuh Rohim. Kemudian gilirannya menciumi bibir Rohim. Kedua tangannya memegang leher Rohim erat-erat. Sementara kedua tangan Rohim memeluk tubuh Liani erat-erat. Rohim pun membalas ciuman cewek itu. “Mmmmhh, mhhhhhhh, mmmhhhhh” mereka kini berciuman dengan hebat.

“Lu benar-benar cowok jantan!” kata Liani menatap mata Rohim sambil mengalungkan kedua tangannya di leher cowok itu,” Gua benar-benar sukaaa banget deh,” katanya sambil tersipu malu. Mendengar itu, Rohim terasa bagaikan naik ke atas awang-awang! Cowok mana yang nggak besar hati disebut cowok jantan oleh cewek cakep. Apalagi yang mengatakan itu adalah siswi favorit sekolah sementara ia adalah pesuruh sekolah! Sungguh bukan main rasanya! Sehingga kini ia jadi ingin lebih menunjukkan kejantanannya kepada Liani! Segera direngkuhnya wajah Liani yang dalam keadaan terduduk di lantai itu. Kembali diciuminya wajah ayu itu, sementara Liani juga membalas ciuman Rohim. Kedua tangannya memeluk punggung Rohim. Sampai akhirnya, bibir bertemu bibir, saling memagut menjadi satu. Mereka berciuman dengan dahsyat, jauh lebih dahysat dari sebelumnya. Liani sesekali membiarkan Rohim mendominasi dirinya, namun kadang juga melayani kebuasannya. Bagaikan layang-layang yang tahu saat menarik dan mengulur. Membuat Rohim semakin terangsang. Sungguh nikmat sekali cewek satu ini! Tampangnya begitu polos, namun sungguh mampu membuat cowok jantan (dirinya) tergila-gila dibuatnya! Dan ini masih baru tahap pemanasan!! Pada saat cewek cakep memuji cowok setinggi langit, pada saat itu sang cowok merasa di atas awang-awang. Seolah-olah ia adalah manusia yang paling penting di dunia ini bagi cewek itu. Namun di saat itu jugalah biasanya sang cowok menjadi lengah. Apabila sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling tepat. Demikian pula pada saat sang cowok sedang asyik menikmati cewek cakep apalagi cewek itu dianggapnya jauh lebih tinggi dibanding dirinya dan merupakan suatu kebanggaan besar kalau bisa menikmatinya, dan sang cewek menanggapinya sedemikian rupa sambil memeluk punggungnya sampai cowok itu lupa segalanya. Seharusnya cowok itu waspada terhadap cewek itu, karena ia tak tahu apa yang dilakukan kedua tangan halus di balik punggungnya. Apabila sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling tepat.

Bahkan menurut desas desus, Genghis Khan, sang penakluk yang gagah perkasa dari bangsa Mongol itu, meninggal dunia gara-gara pendarahan hebat yang dialami saat menyetubuhi seorang putri raja, yang berhasil ditawan setelah kerajaannya berhasil dikalahkan dan dihancurkan. Kalau memang betul, sungguh akhir yang tragis dari seorang yang tak terkalahkan di medan perang. Demikian pula yang terjadi saat itu. Dikala Rohim dengan penuh nafsu menciumi dan mendekap tubuh Liani, apalagi mencium aroma tubuh cewek itu yang harum, ia tidak memperhatikan kalau kedua tangan Liani sedang asyik melakukan sesuatu di balik punggungnya. Dengan cekatan kedua tangan Liani melakukan itu namun ia tidak menyadarinya sebelum semuanya terlambat. Apa yang dilakukan Liani? Tentu Liani tidak akan membunuh atau melukai cowok itu. Ia bukan tipe cewek berdarah dingin seperti itu. Lagipula sungguh tidak ada untungnya ia melakukan itu. Karena bisa saja apa yang dikatakan kepada Rohim barusan sungguh betul adanya. Kalau memang betul, tidakkah ia juga ingin merasakan bagaimana kejantanan Rohim menembus ke dalam tubuhnya… sampai tetes-tetes penghabisan? Pada saat Rohim sedang nafsu-nafsunya menciumi Liani, tiba-tiba keasyikannya itu dihentikan oleh gerakan tiba-tiba Liani yang memberontak dan mendorong Rohim sehingga terlepas dari dirinya. Membuat Rohim terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Namun ia lebih terkejut lagi saat melihat apa yang ada di kedua tangan Liani. Dengan wajah polos, mata yang membesar memandang Rohim dan senyum manis di bibir yang baru saja dilumatnya habis itu, tangan kirinya memegang handphone yang sebelumnya ada di meja sementara tangan kanannya memegang memory card handphone itu, namun kini telah patah menjadi empat bagian!

“Hey! Apa yang lu lakukan!” sergah Rohim sambil merebut handphone itu dari tangan kiri Liani.
Namun tindakan itu sudah terlambat dan sungguh tak ada gunanya. Karena seluruh data foto dan video ada di dalam memory card itu! Ia sungguh marah dan kesal dengan kejadian itu. Tak disangkanya Liani yang kelihatannya penurut dan kooperatif ini ternyata diam-diam melakukan sesuatu yang merugikannya dibalik punggungnya tanpa diketahuinya. Apalagi ia menunjukkan perbuatannya itu sambil tersenyum manis kepadanya! Karena sebenarnya ia tak berniat memberikan handphone itu kepada cewek itu saat itu. Ia ingin menundanya sampai cewek itu betul-betul mau melayaninya dua kali atau mungkin tambah sekali lagi. Rohim bukannya ingin memeras Liani seperti Dharsono, namun hal itu dilakukan purely karena perasaan mupengnya kepada cewek itu. Berbeda dengan Dharsono, ia juga tidak akan memaksa Liani untuk melayaninya apabila cewek itu benar-benar tak mau. Akan tetapi selama handphone itu ada di tangannya, sedikit banyak Liani mau tak mau akan menurut kepadanya. Namun kini, ia tak bisa mengontrol Liani lagi kecuali saat sekarang itu aja. Sementara Liani sendiri bukan gadis bodoh tentu ia tak suka hidupnya dikendalikan orang lain. Selama handphone itu masih di tangan orang lain, seberapa baiknya orang itu, tetap saja ia masih tergantung olehnya. Ia tahu kalau Rohim tidak akan menyerahkan handphone itu dengan segampang itu. Sementara juga ia tidak bisa lari dari tempat itu. Oleh karena itu ia berusaha mencari jalan lain untuk menghancurkan bukti itu. Oleh karena itu tadi ia pura-pura pasrah dan menyerah supaya Rohim tidak curiga. Dan ternyata betul, Rohim sama sekali tak curiga sehingga ia tak terpikir untuk menyimpan handphone itu. Apalagi ia sudah kadung mupeng abis terhadap dirinya! Saat Rohim mulai menciuminya tadi, posisi duduknya agak jauh sehingga ia tak bisa meraih handphone itu. Oleh karena itu ia menunggu beberapa saat.

Saat pertama kali badannya maju, ia lupa kalau satu tangan Rohim berada di pangkal pahanya. Akibatnya gerakannya tertahan oleh tangan Rohim itu. Namun justru itu
membuat Rohim makin mupeng dan lupa diri. Sehingga pikiran Rohim betul-betul tercurah penuh terhadap dirinya dan sama sekali melupakan handphone di meja itu. Setelah itu ia sengaja duduk di lantai supaya tangannya bisa meraih handphone itu dengan leluasa, lalu melepas memory card-nya dan menghancurkannya di balik punggung Rohim. Sungguh suatu akal bulus yang bagus sekali. Kini terkabullah harapannya. Sekarang ia merasa bebas dari perasaan was-was yang mengganggunya selama ini. Namun sekarang ia masih harus menghadapi Rohim yang marah. Seorang yang kasar dan jujur seperti Rohim, apabila marah kadang bisa menakutkan. Demikian pula yang terjadi sekarang. Apalagi Rohim kini sadar kalau ia hanya punya kesempatan sekali ini saja untuk menikmati dirinya. Oleh karena itu tentu Rohim bertekad untuk menikmatinya sepuas mungkin. Kini Rohim bagaikan singa jantan kelaparan yang siap menerkam kijang muda yang tak bisa lari kemana-mana lagi. Dan kijang muda itu adalah dirinya! Sungguh suatu pertempuran yang tak seimbang, kalau tak boleh disebut sebagai pembantaian!
“You’re bitch!” seru Rohim. Sungguh aneh, seorang pesuruh sekolah memaki seperti itu kepada siswi favorit satu sekolah. Padahal semua teman-teman cowoknya bahkan para guru di sekolah itu pada menghormatinya. Namun itu belum seberapa. Apa yang bakal dilakukan pesuruh sekolah itu setelah ini akan membuat mereka semua jadi iri hati, sakit hati, bahkan patah hati. Seandainya saja mereka tahu, sudah pasti pesuruh sekolah kurang ajar itu akan dihajarnya ramai-ramai. Tapi apa mau dikata, ceweknya sendiri mau kok.
“Gua ngaku salah deh. Tapi gimana lagi, kalo lu nggak mau nyerahin ke gua, trus kalo nanti jatuh ke tangan Dharsono lagi gimana coba? Apa lu nggak kasihan dengan gua,” kata Liani.

Sekali lagi, sungguh aneh, cewek favorit se-sekolahan ngaku salah ke pesuruh sekolah?!
Dalam hati Rohim membenarkan juga argumen cewek itu. Ada kemungkinan untuk itu memang. Namun ia tak mau mengalah begitu saja di depan cewek ini.
“Tapi ingat janji lu. Lu masih punya “hutang” sama gua.”
“Oh, kalo itu sih, tergantung dengan hasil hari ini gimana. Kalo memuaskan, kenapa nggak? Bahkan sepuluh kali sekalipun juga siapa yang bisa menolak?”
Sungguh sulit dipercaya, omongan seperti itu bisa keluar dari mulut cewek sepolos ini.
“Hmm, kalo itu sih nggak usah kuatir,” kata Rohim,”Tapi lu jangan pura-pura bersikap manis terus berusaha menipu gua lagi ya!”
“Memang gua mau menipu apa lagi?” Memang ia berkata jujur, setelah menghancurkan bukti dirinya itu, kini tidak ada lagi yang ingin didapat dari Rohim dengan cara menipu.
“Boro-boro menipu, sekarang aja gua mau lari kemana pun juga nggak bisa,” tambahnya lagi. Memang betul sekali perkataannya itu, saat ini ia tidak bisa lari kemana pun. Namun seandainya bisa pun, mungkin juga ia tidak akan lari.
“Memang betul, lu nggak bisa lari kemana-mana. Karena sekarang ini lu harus menerima hukuman atas perbuatan lu sebelumnya!”
“Asal jangan terlalu berat aja hukumannya.”
“Mengenai itu gua nggak bisa janji deh….”
“AAAhhhhhhh,” teriak Liani karena Rohim langsung menerkamnya sampai tubuhnya terkapar di atas sofa.
Kembali diciuminya gadis itu. Kali ini diciuminya dengan nafsu menggebu-gebu. Karena sebelumnya ia setengah tertipu olehnya, kini ia membalasnya dengan menciuminya penuh nafsu. Diciuminya seluruh bagian wajahnya. Sehingga kini wajah putih Liani yang cakep itu kini habis diciuminya.
“AAhhhhhhhhhhhh,” teriak Liani sambil memukul-mukul tubuh Rohim. Namun apa daya. Tenaganya sungguh tak berarti untuk memukul tubuh kekar itu.
“AHhhhhhh……Ehhmmmmmm,” kini suaranya berubah karena bibirnya dikunci oleh Rohim. Bibir Rohim yang hitam melumat habis bibir Liani yang kemerahan itu. Sampai-sampai terdengar suara kecapan-kecapannya.

Setelah itu bibirnya beralih mengecupi lehernya yang putih mulus. Kali ini ia melakukannya dengan penuh nafsu dan menghisap kuat-kuat. Sehingga disana sini membekas kemerahan akibat kecupan-kecupan Rohim itu.
“Ahhhh….Ahhhhhhh…..AHhhhhhh”, Liani mendesah-desah merasakan nikmatnya kulit lehernya yang sensitif itu dikecup-kecup dan di sedot-sedot oleh Rohim. Sementara itu, kedua tangan Rohim masuk ke dalam baju atas Liani yang bergaris-garis itu. Kini ia mulai merasakan halusnya kulit tubuhnya. Diraba-rabanya perutnya, iganya, makin lama makin ke atas, sampai menyentuh branya. Dipegangnya dan diremas-remasnya dengan lembut. Dirasakan kekenyalannya.
“Ohhhhh, ohhhhhhhhh.”
Namun tak lama, karena tujuannya setelah itu didudukkan Liani dengan menggunakan tangannya yang berada di dalam bajunya. Lalu digerakkannya tangannya keatas. Otomatis bajunya itu ikut terangkat naik. Sampai akhirnya mentok sampai di pundaknya. Lalu diloloskannya baju atasan itu melewati pundak, leher, kepala, dan kedua tangannya sampai terlepas dari tubuhnya. Nampak bra berwarna biru tua yang menutup payudara Liani. Lalu dibukanya retsleting roknya, kemudian dipelorotkannya rok itu sampai terlepas dari tubuh Liani. Setelah itu dilepaskan kedua kaus kaki merah muda Liani. Sehingga kini ia duduk di sofa itu hanya memakai pakaian dalam saja.. Bra biru tua yang dipakainya itu begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Nampak bagian atas belahan payudaranya yang tak tertutup oleh bra itu. Belahan itu nampak begitu sempurna membentuk celah lekukan yang sungguh menggairahkan. Celana dalamnya juga berwarna biru tua.

Pahanya yang putih mulus sungguh menggelorakan hati. Sehingga kini Rohim meraba-raba dengan kedua tangannya. Sungguh halus dan mulus sekali! Dan warnanya nampak Kontras sekali. Tangannya yang hitam meraba-raba paha cewek berkulit putih mulus itu. Diciuminya bibirnya yang indah itu. Bibir yang tersenyum dengan manis saat ia menunjukkan akibat perbuatannya yang mematahkan memory card handphone itu, kini kembali dilumat habis oleh bibir Rohim yang hitam. Seakan ia hendak memberi pelajaran kepada cewek itu. Bahwa sebelumnya ia telah berbuat kesalahan. Oleh karena itu sekarang saatnya untuk dihukum! Setelah puas dengan itu, Rohim menghentikan ciumannya. Kini tangannya meraih tali pengait bra-nya yang ada di punggung. Rupanya ia sudah tidak sabar lagi untuk segera melihat sendiri keranuman dan keindahan payudara siswi favorit itu yang telah tumbuh dengan sempurna. Tentu bukan hal yang sulit baginya melakukan ini karena ia telah cukup berpengalaman dalam hal itu. Dengan kedua tangan bergerak bersamaan, lepaslah pengait bra itu. Segera diloloskannya bra itu dari bahunya. Dan, WOW! Begitu indah payudara yang menggantung dengan bebasnya itu. Sampai Rohim pun dibuat terkesima melihatnya. Belum pernah ia menyaksikan payudara seindah payudara Liani ini. Begitu segar dan ranum. Serta padat berisi. Ukurannya sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Ukuran bra nya adalah 34C. Belahannya sungguh sempurna. Warna kulitnya yang putih membuat semakin indah. Begitu bersih. Begitu putih. Begitu mulus. Begitu menggairahkan. Namun yang
paling indah adalah kedua putingnya. Kedua putingnya mencuat di tengah-tengah gundukan gunung kembar putih itu. Warnanya kemerahan sungguh nampak segar menggairahkan. Apalagi bagi Rohim, belum pernah sebelumnya ia melihat langsung sepasang gunung kembar putih dengan putingnya yang kemerahan. Sejenak ia memandangi pemandangan indah di hadapannya itu tanpa melakukan apa-apa.. Membuat Liani, yang payudaranya terbuka dan diliatin terus begitu, menjadi tersipu malu.

Hal itu membuat Rohim semakin gemas. Namun ia tetap tak akan lupa untuk menghukum cewek ini! Namun sebelum itu, karena tanggung, segera tangannya beralih turun ke bawah, menuju ke celana dalam biru itu. Sementara Liani hanya pasrah saja, meski ia tahu sebentar lagi ia akan ditelanjangi bulat-bulat oleh pesuruh sekolah itu. Sementara mata Rohim masih jelalatan memandang ke dada Liani. Sungguh indah sekali, batinnya. Ia tak sabar ingin segera menikmatinya. Oleh karena itu ia buru-buru memelorotkan celana dalam biru itu ke bawah. Yang pertama kali terlihat tentu bulu vaginanya yang ternyata cukup lebat. Gila! Cewek ini betul-betul hebat body-nya, pikir Rohim. Ia memang paling suka cewek dengan bulu vagina lebat. Apalagi Liani yang tampangnya polos gini ternyata memiliki bulu yang lebat. Sungguh kontradiktif dan merangsang! Kemudian diloloskannya celana dalam biru tua itu. Sehingga kini Liani betul-betul tak menggunakan selembar kain pun untuk menutupi tubuhnya yang mulus dan sexy. Saat itu Rohim ingin membuka kedua kaki Liani lebar-lebar. Ia ingin melihat liang vaginanya dengan jelas sebelum menggarapnya. Namun sepertinya Liani masih malu-malu. Ia menolak membuka kakinya lebar-lebar. Malah kini ia menutup kedua kakinya dengan rapat. Membuat bulu vaginanya terkumpul di tengah-tengah. Ia tak ingin memaksa gadis itu, untuk saat ini. Kemudian ia melepas pakaiannya sendiri, baju kaus dan celana jins nya. Namun setelah itu ia meraih tangan Liani dan mendekatkannya ke celana dalamnya yang terlihat adanya tonjolan besar. Liani segera mengelus-elus tonjolan di celana dalam itu dengan kedua tangannya yang putih halus. Kemudian Rohim memberi isyarat untuk berdiri yang dipatuhinya. Kemudian kedua tangannya yang halus meraih celana dalam Rohim dan memelorotkannya ke bawah. Sehingga nampaklah penis Rohim warna hitam yang besar berdiri dengan tegak. kepala penisnya yang disunat nampak mencuat keatas.

Saat Liani melakukan itu, ia membungkukkan badannya, sehingga payudaranya mendekat ke arah Rohim. Rohim tak kuasa menahan dirinya lagi. Segera direngkuhnya sepasang gunung kembar yang menggairahkan itu dengan kedua tangannya. Di saat tangan halus Liani mengelus-elus penis Rohim yang berdiri tegak dengan perkasanya, kedua tangan hitam itu menempel di kedua gunung kembar putih yang menggairahkan itu. Kini, setelah payudara putih Liani berada dalam genggaman tangannya, Rohim merasakan sendiri kekenyalan dan kehalusannya. Sungguh padat berisi. Ia menciumi leher Liani, menghisap-hisap kulitnya yang putih. Tangannya meremas sepasang gunung kembar yang indah itu. Dirasakannya kedua putingnya yang menonjol menyentuh  telapak tangannya. Sementara kedua tangan Liani juga tak kalah sibuknya. Tangan kirinya mengelus-elus buah zakar Rohim dan tangan kanannya mengocok-ngocok batang penis yang hitam besar dan mengusap-usap kepalanya yang disunat dengan jari-jarinya. Penis hitam Rohim yang menegang dengan keras dan perkasa sepenuhnya berada dalam genggaman kedua tangan Liani yang putih dan lembut. Setelah itu mereka berpelukan sambil berdiri. Kedua tangan Rohim memeluk erat punggung Liani. Membuat tubuh gadis itu menempel erat ke tubuhnya. Kulit putih menempel dengan Kulit hitam. Payudara Liani yang putih dan montok menempel di dada Rohim yang hitam dan bidang. Perut menempel dengan perut. Paha menempel dengan paha. Penis Rohim yang mengaceng ke atas menempel di bulu vagina dan perut Liani. Bulu-bulu kemaluan keduanya saling bertemu. Dan kedua tangan Liani memeluk erat pinggang Rohim. Keduanya saling berciuman bibir dengan penuh nafsu. Terutama Rohim yang menciumi cewek itu dengan buas seolah ingin melampiaskan rasa marahnya sebelumnya dengan menghisap seluruh kenikmatan yang ada pada diri cewek itu semaksimal mungkin.

Lidah bertemu dengan lidah. Perbedaan warna kulit keduanya nampak kontras sekali. Kedua tangan hitam Rohim menempel di punggung Liani yang putih mulus. Dan kedua tangan Liani yang putih halus menempel di punggung Rohim yang hitam. Setelah itu kedua tangan hitam Rohim memegang pinggul putih Liani yang menonjol itu dan meremas-remasnya. Inilah perpaduan sempurna antara yin dan yang, feminin dan maskulin, beauty and the beast, siswi teladan dan pesuruh sekolah! Kemudian Rohim melepaskan dekapannya. Penisnya menegang dengan keras. Lalu ia memegang kepala Liani dan mendorongnya ke bawah sampai Liani berlutut di depannya dan kepalanya sejajar dengan penisnya. Liani dengan wajah polosnya memandang ke Rohim. Tapi Rohim mendekatkan wajah Liani ke penisnya…Sehingga kini siswi teladan itu mau tak mau jadi menyepong penis Rohim. Dipegangnya pangkal penis itu dengan tangan kanannya. Sementara mulutnya dimaju-mundurkan mengemut penis Rohim. Rohim sungguh menikmati sepongan Liani pada batang kejantanannya itu. Hatinya puas sekali. Inilah salah satu hukumannya terhadap gadis yang telah berani menipunya itu! Apalagi sepongan Liani betul-betul nikmat rasanya. Bahkan Liani menggunakan ujung lidahnya untuk menyapu kepala penis itu yang berada di dalam mulutnya. Oleh karena terangsang, kini penis Rohim mengeluarkan lendir pre-cum-nya. Tentu saja mau tidak mau Liani harus merasakannya dan menelannya. Karena lidahnya telanjur menempel di ujung kepala penis Rohim. Sementara Rohim tak membiarkan cewek itu untuk berhenti menyepongnya sebelum dirinya betul-betul puas. Guru menghukum murid adalah hal yang biasa. Itupun, bentuk hukumannya biasanya adalah dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas. Namun seorang pesuruh sekolah menghukum siswi favorit sekolah adalah hal yang luar biasa. Apalagi hukumannya dengan menyuruh siswi itu telanjang bulat dan berlutut untuk menyepong penisnya!

Setelah puas “menghukum” Liani dengan cara itu, kini ia meneruskan dengan hukumannya yang lain. Setelah Liani berdiri kembali, didorongnya cewek itu ke belakang sehingga tertidur di atas sofa. Bagaikan binatang buas menerkam mangsa, ia menerkam cewek itu dan menindihnya.
“AAHhhhhhhhhhh,” Liani berteriak.
Kemudian terjadilah adegan pembantaian berikutnya. Ditindihnya Liani di atas sofa itu. Diciuminya bibir Liani dengan buas dan penuh nafsu. Diciumi leher yang putih mulus itu. Dikecup-kecupnya seluruh bagian leher dan bahu putih itu. Dirasakan bau harum semerbak aroma tubuh gadis yang telanjang bulat itu. Ciuman Rohim turun ke bawah lagi, kali ini yang menjadi sasaran apa lagi kalo bukan dada Liani yang putih montok menggairahkan itu. Diciuminya dada putih yang padat menggairahkan itu. Diciumi seluruh bagian dadanya. Lidahnya bergerak menjilat-jilat lembah diantara kedua gundukan daging itu. Lalu lidahnya bergerak mengelilingi lereng gunung sebelah kanan. Lalu bergerak melingkar naik makin ke atas dan makin ke tengah. Tangan kanannya meraih dada yang satunya lagi, meraba-rabanya, mengusap-usapnya, meremas-remasnya… Liani hanya merintih-rintih perlahan tanpa perlawanan sedikitpun. Karena memang ingin melawan pun juga ia tak akan mampu karena Rohim saat itu bagaikan orang kelaparan menikmati hidangan yang amat lezat. Tapi mungkin memang ia juga tidak ingin melawan.Akhirnya sampailah lidahnya di puncak gunung putih itu. Dijilatinya puting kemerahan yang segar dan sangat menggairahkannya itu. Ujung lidahnya melingkar-lingkar mengelilingi puting kemerahan yang mencuat menonjol itu.
“Ahhhh, ahhhhhh,” Liani tak kuasa menahan dirinya karena itu memang adalah titik sensitif baginya apalagi saat lidah Rohim menerabas putingnya berkali-kali baik horizontal maupun vertikal dan menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya di bagian atas dari putingnya. Inilah titik paling sensitif dari payudaranya!

“Ahhh, ahhhh, ahhhhh, ahhhh, ahhhh, ahhhhh…………”
Sementara itu jari-jari tangannya yang memegang dada kiri juga tak tinggal diam untuk dimainkannya di putingnya. Jarinya menggerak-gerakkan puting yang sensitif itu. Sambil sesekali menempel-nempelkan ujung kelingkingnya di bagian atas putingnya.
Liani mulai “naik” dibuatnya. Kini ia bersikap semakin pasrah saja membiarkan Rohim melakukan semaunya terhadap dirinya. Dan sekarang mulutnya mengemut dan menghisap-hisap puting kemerahan itu.
“Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhhh, ………”
Liani tak tahan untuk tidak mendesah-desah saat putingnya yang sangat sensitif itu diemut oleh Rohim. Dirasakan kehangatannya saat payudaranya disedot-sedot di dalam mulut Rohim. Ditambah rasa geli-geli enak saat lidah Rohim dimainkan di putingnya. Apalagi saat putingnya digigit-gigit kecil!
“Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhhhhh…….”
Rohim sendiri juga menikmati saat melakukan itu. Baru kali ini ia bisa memainkan payudara sedemikian indah dan putih apalagi putingnya yang kemerahan sungguh menggairahkan. Oleh karena itu mulut dan lidahnya bermain-main agak lama di sana, lidahnya dengan buas menjilat-jilat dan menggerak-gerakkan puting yang sungguh menggelorakan hatinya itu. Apalagi saat mendengar Liani mulai mendesah-desah dan merasakan reaksi tubuh cewek itu yang menegang pertanda cewek itu juga terangsang oleh perbuatannya. Sungguh puas hatinya saat itu ia bisa menikmati payudara sedemikian indah milik gadis muda yang menjadi siswi favorit di sekolah itu dimana ia bekerja sebagai pesuruh sekolah..Setelah itu, diulangi lagi semua itu dengan berganti posisi. Kali ini mulut dan lidahnya mempermainkan dada sebelah kiri dan tangan serta jarinya menggarap dada kanan cewek itu.

Setelah puas memainkan dan menikmati payudara, kini mulut Rohim bergeser ke bawah. Diciumi dan dikecupi bagian perut, pinggang, samping tubuh, paha, dan selangkangan cewek itu. Lalu tangannya digunakannya untuk meraba-raba dan mengusap-usap bulu-bulu vaginanya yang lebat. Jari-jarinya meraba-raba dan dibenam-benamkan di tengah-tengah bulu vaginanya yang empuk. Sungguh membanggakan hati bisa melihat langsung bulu-bulu vagina cewek cakep yang ternyata sungguh lebat itu. Apalagi kalau bisa meraba-rabanya! Lalu tangannya turun ke bawah mengelilingi bagian pribadinya itu. Digesek-gesekkan jarinya di pangkal paha Liani dan juga di liang vaginanya. Setelah itu dibentangkannya kedua kaki Liani lebar-lebar supaya ia bisa melihat dengan jelas bentuk vaginanya. Dan kali ini cewek itu tidak menolak sama sekali. Mula-mula dijilat-jilatnya bagian pangkal paha dan daerah sekeliling vaginanya. Ini saja sudah cukup membuat Liani mulai menggeliat kegelian. Lalu Rohim mulai menjilat-jilati mengelilingi vaginanya sambil sesekali menerabasnya kiri kanan dan menjilati secara bertikal mengikuti lipatan liang vaginanya.
“Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
Kini Rohim mulai merasakan adanya lendir pada lidahnya. Tak puas dengan itu, dibukanya lipatan liang vagina Liani dengan jari-jarinya. Bagian dalam vaginanya berwarna kemerahan. Lalu dimasukkan lidahnya disitu dan dijilat-jilatnya bagian yang super sensitif itu.
“Ooohhhh, ooohhhhhhh, oohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
Tak lama kemudian vaginanya menjadi basah berlendir.

Dibentangkannya lipatan vagina bagian atasnya, sampai kelihatan klitorisnya yang seperti biji kacang berwarna merah. Dan dijilat-jilatnya…Tanpa dicegah lagi Liani langsung mendesah-desah sambil tubuhnya menggeliat-geliat.
“Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!”
Tangannya memegang rambut Rohim, sementara kedua pahanya menjepit kepalanya.. Seolah tak ingin cowok itu menghentikan kegiatannya itu. Akibatnya sekarang jadi makin basah saja….Rupanya ia menyukai juga kebuasan Rohim menikmati dirinya. Mungkinkah ia tadi sengaja membuat Rohim marah supaya membuat cowok liar itu jadi semakin buas menggarap dirinya? Setelah merasa cukup merangsang cewek itu, dihentikannya aksinya itu. Kini giliran penisnya yang minta bagian, pingin memakan korban cewek putih cakep itu. Didekatkan penis hitamnya yang menegang keras itu di depan liang vagina cewek putih itu. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan,
“Shleeb”    “Ahhhh!”
“Shleeb”    “Ahhhh!”
Masuklah penis itu seluruhnya ke dalam vagina Liani. Lalu,
“Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb”
Dimaju-mundurkan penisnya di dalam vagina Liani. Dirasakannya vaginanya yang sempit menjepit penisnya membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Apalagi mengingat cewek yang disetubuhinya ini bukanlah cewek sembarangan.
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Wajah cakep Liani langsung mengeluarkan suara mendesah-desah begitu penis Rohim menghunjam-hunjam di dalam vaginanya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang dibuatnya. Terutama payudaranya yang terguncang-guncang dan berputar-putar.

Mendengar desahan Liani itu, Rohim makin bersemangat mengocok penisnya di dalam vagina cewek itu. Ia sungguh puas menyaksikan cewek yang tadi secara diam-diam berani menipunya itu kini tak berkutik dibuatnya. Malah kini jadi mendesah-desah tak karuan. Itulah akibat dari perbuatannya yang menipunya tadi. Kini ia harus menjalani hukuman dengan cara disetubuhi! Melihat payudara ranum yang bergerak-gerak itu seolah menantang dirinya, Rohim tak tahan untuk tidak merengkuh keduanya dengan tangannya. Begitu berada dalam genggamannya, payudara yang penuh dan hangat itu segera diremas-remasnya.
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Setelah itu dikeluarkannya penisnya. Posisi Liani sedikit diubahnya dengan dibentangkannya kaki kirinya dan dinaikkan di atas sandaran sofa, dan kemudian…kembali disodok-sodoknya vagina cewek itu dengan penisnya yang masih perkasa. Setelah itu dimiringkannya tubuh Liani yang tidur di atas sofa. Lalu ia tidur di sebelahnya menempel ke tubuh gadis itu. Diciuminya punggung yang putih mulus itu. Mulai dari leher, yang karena rambutnya digulung dan diikat ke atas, jadi nampak jelas kulitnya yang putih, lalu turun ke bahu, punggung, pinggang, dan pinggulnya. Dijelajahinya seluruh jengkal tubuh gadis itu seolah tak ada yang terlewat. Ditempelkannya penisnya yang hitam di antara kedua pinggul Liani yang putih. Lalu disusupkan tangannya yang hitam di tengah-tengah kedua paha Liani yang putih mulus. Kini tangannya kembali memainkan vagina Liani dan meraba-raba bulu-bulu vaginanya. Setelah itu, diangkatnya satu kakinya ke atas. Sehingga kini ada celah untuk masuk ke vaginanya. Kemudian disusupkan penisnya di antara kedua kakinya, dan…..
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Lagi-lagi disetubuhinya Liani dalam posisi miring begitu. Sementara satu tangannya memegang bagian depan tubuh Liani. Tentu bagian yang paling banyak diusapnya adalah payudaranya. Dimainkan dan diremas-remasnya payudara putih ranum milik gadis itu. Diciuminya dan dijilatinya tengkuk putih gadis itu dan bagian belakang telinganya! Dan diciumnya harum tubuh Liani yang aromanya semakin kuat itu. Rohim sungguh nggak mau rugi dalam menikmati diri Liani saat itu.
Betul-betul dinikmatinya seluruh bagian tubuh gadis itu semaksimal mungkin.

Liani sendiri nampak begitu menikmati disetubuhi dalam posisi begitu. Apalagi miring begitu, sensasinya sungguh berbeda. Sementara tangan hitam Rohim yang terus menerus merangsang payudaranya. Dan ciuman lidah Rohim yang menggelitik tengkuk dan bagian belakang telinganya! Apalagi tubuhnya menempel di tubuhnya sendiri mendekap dirinya. Membuat dirinya bisa mencium aroma kejantanan yang keluar dari tubuh Rohim. Apalagi dari tadi penisnya tak henti-hentinya menghantam-hantam di dalam tubuhnya. Betul-betul jantan dan perkasa! Kini, seiring dengan bersatunya kedua tubuh yang berlainan jenis itu, bercampur pula aroma tubuh maskulin Rohim dengan aroma tubuh feminin Liani. Pada saat itulah,
“Ooooohhhhhhhhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhhhh”
Sementara Rohim sibuk menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani untuk melampiaskan seluruh nafsunya terhadap cewek ini, saat itulah Liani mengalami orgasme. Akhirnya, setelah dihunjam-hunjam begini terus menerus, sampailah titik dimana ia tidak dapat menahan lagi. Dan pada saat itu, bagaikan air bah yang dahsyat menerjang, langsung bobollah tanggul itu dan airnya meluap hebat.
“Aaaaahhhhhhhhhhhhh aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
Sungguh saat itu Liani merasakan kenikmatan yang luar biasa! Kali ini keperkasaan Rohim betul-betul membuatnya bertekuk lutut! Namun Rohim terus meneruskan aksinya karena ia masih jauh dari selesai. Ia masih belum puas menikmati gadis itu, yang sungguh menggairahkan dan merangsang sekaligus menggemaskan dirinya itu. Sengaja ia tidak cepat-cepat mengubah posisi, untuk membiarkan Liani menikmati orgasmenya dan menenangkan dirinya. (Memang seperti dikatakan diatas, kadang ia bisa bersikap sebagai gentleman sejati di tengah aksi bajingannya)..

Setelah Liani mulai tenang, ia kembali melanjutkan aksinya. Mereka berganti posisi lagi. Kini Liani dalam posisi menungging. Dan Rohim menyodok vagina gadis itu dengan penisnya dari belakang. Posisi doggy style! Dalam posisi ini Rohim kembali menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani, menghentak-hentak tubuhnya dengan kuat. Posisi inilah yang paling kuat hentakannya terhadap tubuh Liani. Seluruh tubuhnya bergetar-getar. Payudaranya mengguncang-guncang dibuatnya. Sampai-sampai sofa itu juga ikut bergetar-getar. Kedua tangan Rohim dengan sigap menyangga payudara itu, menggoyang-goyang, meremas-remas, dan menepuk-nepuknya. Dan pada posisi inilah Rohim merasakan kebanggaan paling besar dimana kejantanannya mengoyak-ngoyak tubuh ramping Liani. Kini keduanya dalam posisi berdiri. Tubuh Rohim menempel di belakang tubuh Liani. Sementara ia menciumi tengkuk Liani, kedua tangannya meraba-raba payudara dan vagina Liani. Di tengah-tengah aksinya itu, Rohim membuka pengikat yang mengikat rambut Liani ke atas. Sehingga, tersibaklah rambut Liani terurai bebas ke bawah. Sehingga kini kepala Rohim berada di tengah-tengah rambut Liani yang terurai bebas. Hmm, betapa harum rambutnya. Segera diciuminya rambutnya. Kemudian ia membalik tubuh Liani. Kini nampak Liani dengan rambut panjangnya yang terurai bebas. Sebagian menutupi dadanya terutama bagian atasnya. Wajahnya sedikit berbeda dengan rambutnya yang terurai begini. Namun tak kalah cantik dan menggairahkan. Apalagi ia dalam keadaan telanjang bulat! Segera Rohim ingin mencicipi bagaiman rasa Liani yang berambut panjang ini. Untuk itu didekatkan penisnya di depan tubuh Liani. Dibentangkan sedikit salah satu kaki Liani. Dan, ooohhhh!, dimasukkannya penisnya ke dalam liang vagina Liani dalam keadaan berdiri begitu! Dan disodok-sodoknya!
“Ooohhhh, oooohhhh, oooohhhhhhh.”
Sungguh nikmat sekali rasanya baik bagi Rohim maupun Liani.

Kembali mereka beraksi di sofa. Kali ini Rohim tiduran telentang di sofa itu. Sementara Liani duduk diatas tubuh Rohim. Tentu tak hanya sekedar duduk, namun dengan memasukkan penis Rohim yang menegang ke atas ke dalam vaginanya. Kini giliran Liani yang “berolahraga”. Cowgirl position! Kali ini Liani dengan aktif menaik turunkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya bergerak-gerak. Rambutnya juga. Apalagi payudara yang tergantung bebas itu, juga bergerak naik turun seiring dengan irama gerakan tubuhnya.
“Ooohhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh.”
Kini ia mulai “menanjak” lagi, sehabis orgasme tadi. Sementara itu Rohim juga menikmati gerakan-gerakan tubuh Liani itu yang membuat penisnya terjepit di dalam vagina Liani dan dikocok-kocok. Sambil sesekali ia meremas-remas payudara ranum di depannya itu. Setelah itu ganti posisi lagi, Reverse Cowgirl! Kembali Liani menggoyang-goyang tubuhnya dalam posisi ini. Sungguh nikmat sekali baginya karena ia bisa mengatur irama goyangannya sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara sensasinya berbeda dengan posisi sebelumnya. Kali ini giliran Liani kembali telentang di sofa itu. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Lalu, penis hitam besar itu kembali masuk menembus vaginanya yang terbuka bebas.

“Shleeeb, shleeeb, shleeeb.”
Kali ini Rohim menyodok-nyodok penisnya sambil memegangi kedua kaki Liani. Ia mengubah-ubah irama gerakan penisnya, kadang cepat, kadang lambat. Namun setelah itu ia melakukannya dengan irama konstan, sambil menjilati payudara Liani terutama bagian putingnya. Jadilah Rohim dari tadi sibuk “membolak balik” tubuh gadis ini dan menikmatinya dari berbagai sudut. Memang ia seolah ingin menghisap seluruh saripati kenikmatan yang ada pada diri gadis itu.

Karena disodok-sodok terus begini dalam waktu cukup lama apalagi payudaranya juga ikut dirangsang oleh cowok itu, lama-lama Liani jadi nggak tahan juga. Akibatnya kini tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang akibat penis Rohim yang terus mengocok-ngocok vaginanya. Sampai akhirnya ia mendapatkan orgasmenya yang kedua. Tak lama setelah Liani mengalami orgasme kedua, Rohim juga sudah ingin segera melampiaskan seluruh nafsunya yang tertahan kepada gadis ini. Untuk itu, ia akan memberikan hukuman yang terakhir kepada Liani hari itu. Kini Rohim mencabut penisnya. Lalu ia berdiri. Sementara Liani yang telanjang bulat duduk di depannya. Kemudian Liani segera mengulum penis Rohim yang basah mengkilap itu. Disepongnya penis itu di dalam mulut cewek bertampang innocent itu. Kepalanya mengangguk-angguk saat menyepong penis hitam di dalam mulutnya itu. Sementara kedua tangan Rohim memegang di kiri kanan kepala Liani. Dan di dalam mulutnya, Liani menggunakan lidahnya untuk menjelajahi seluruh bagian kepala dan leher penis yang disunat itu. Bagian-bagian yang sangat peka rangsangan. Kemudian Rohim mengeluarkan penisnya dari mulut Liani dan kini tangan Liani yang mungil mengocok-ngocoknya di depan wajahnya! Sampai akhirnya, croot, croot, croottt! Muncratlah sperma dari penis Rohim dengan kuat ke wajah Liani. Sampai-sampai ada pula yang mendarat di rambutnya. Sehingga wajah yang cakep innocent itu jadi belepotan karena sperma. Sementara Liani malah mengulum penis Rohim, sepertinya ia sungsung-sungguh ingin menghisap seluruh cairan dari penisnya sampai tetesan terakhir. Setelah penis itu mengecil dan melemas, baru ia melepaskan dari mulutnya. Sperma yang sebelumnya mendarat di wajah dan rambutnya itu, kini mengalir turun ke dagu, leher, dan dada. Ada yang turun bagaikan sungai mengalir, ada pula yang langsung “loncat” dari dagu ke payudaranya. Ada pula yang masih “menggantung” di dagunya. Sehingga kini wajah, bagian atas tubuh, dan jari-jari tangan kanannya jadi belepotan oleh sperma Rohim. Rohim sungguh puas akhirnya bisa menikmati Liani secara total hari itu. Dan itulah hukuman dari seorang pesuruh sekolah terhadap siswi favorit.
Bagi Liani, itulah tebusan yang harus dibayar untuk membebaskan dirinya. Sambil mendapatkan kenikmatan yang luar biasa.

—@@@@@@@—–

“Lu kalo mau membersihkan badan, bisa pake kamar mandi itu. Ada handuk juga disana,” kata Rohim.
“OK,” kata Liani. Ya, memang saat itu ia perlu membersihkan diri. Wajahnya belepotan penuh sperma Rohim. Rambutnya pun juga tak luput dari semprotan sperma Rohim. Leher, dada, serta perutnya juga basah karena sperma di wajahnya sebagian mengalir ke bawah. Selain itu ia juga harus membersihkan bagian pribadinya. Saat itu ia berjalan ingin mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun Rohim berkata,”Lu kesana nggak usah bawa pakaian.”
“Nggak apa-apa, gua bawa aja sekalian.”
“Nggak usah.”
“Memang kenapa sih nggak boleh?”
“Soalnya tempatnya nggak cukup. Ntar pakaian lu jadi basah semua. Lagian, gua juga masih pengin lihat lu telanjang abis ini.”
“Dasar lu.”
Tak lama kemudian keluarlah Liani dengan badan bersih dan segar dengan handuk melilit di tubuhnya. Pakaiannya yang tadi berserakan telah dikumpulkan dan ditaruh di meja kecil.
“Nah kalo gini khan asyik pemandangannya,” kata Rohim yang sedang tiduran santai di sofa matanya memandang ke arah Liani yang melepas handuk di tubuhnya itu.
“Iih, sialan lu,” kata Liani mukanya memerah melihat cowok itu memandangi dengan serius tubuhnya yang telanjang bulat. Buru-buru ia memakai pakaiannya satu persatu. Tak lama kemudian gantian Rohim yang ke kamar mandi.

Setelah keduanya berpakaian rapi kembali,
“Gimana, meski gua pesuruh sekolah, not bad juga khan buat siswi favorit,” kata Rohim.
“Ah, sialan lu,” Liani mukanya memerah.
“Omong-omong,” kata Rohim,” Gua masih nggak habis pikir. Gua susah payah nyari lu nggak bisa ketemu, eh malah akhirnya lu yang nyamperin gua.”
“Iya ya. Padahal buku gua itu nggak ketinggalan di kelas seperti yang gua kira. Jadi seharusnya gua nggak perlu ketemu lu waktu itu.”
“Mungkin karena motivasi gua lebih gede untuk menemukan handphone itu dibanding motivasi lu untuk menemukan gua,” kata Liani mengajukan pendapatnya.
“Bukan gitu,” kata Rohim,” Tapi karena motivasi lu lebih gede untuk bercinta dengan gua.”
“Iiih,” kata Liani sambil mencubit Rohim.
“Jadi ini gua bawa ya,” kata Liani mengambil potongan-potongan memory card dan handphone itu. Ia tak mau mengambil resiko. Ia berniat membakar semuanya itu.
“OK, nggak masalah,” kata Rohim. Handphone itu kini sama sekali tak berguna baginya. Bahkan seandainya memory-nya tidak rusak pun.
“Jangan lupa janji lu ya. Lu masih ada utang satu sama gua.”
“Kalo gua nggak ingat gimana,” kata Liani menggodanya.
“Jadilah gua kena tipu cewek cakep. Tapi gua nggak takut soalnya nanti cewek cakepnya itu yang bakal nyari gua.”
“Ih, enak aja. Siapa bilang.”
Namun akhirnya Liani memberikan juga nomor handphone-nya kepada cowok itu, disamping menyerahkan 5 juta sebagai bagian dari transaksi mereka.

Setelah itu Liani keluar dari sekolah yang sunyi senyap itu. Sesampainya di rumah, dibakarnya handphone itu di pekarangan belakang rumah. Sejak saat itu, legalah hatinya karena terlepas dari beban pikiran yang sebulan terakhir ini terus menghantuinya. Kejadian dengan Dharsono waktu itu adalah lembaran hitam di dalam hidupnya. Dengan dibakarnya handphone itu, maka ikut terbakarlah lembaran hitam itu. Sehingga kini ia benar-benar kembali menjadi Liani yang sebelumnya…plus pengalaman dan jam terbang yang bertambah tentunya. Sementara itu Liani dan Rohim masih melanjutkan pertemuannya. Rohim yang sebelumnya meminta cuma sekali, lalu diralatnya menjadi dua kali, pada akhirnya meminta berkali-kali. Sebagian besar permintaan itu diluluskan oleh Liani, kecuali kalau ia memang berhalangan atau betul-betul tidak mood. Sebenarnya saat itu Rohim sedang menjalin hubungan cukup serius dengan cewek sekelasnya yang bernama Ratih. Pada mulanya ia tidak ingin mengkhianati kekasihnya itu. Tapi godaan untuk menikmati diri Liani sungguh besar. Apalagi saat itu adalah kesempatan bagus untuk bisa bercinta dengan cewek sekelas Liani. Kapan lagi ia mendapat kesempatan sebagus ini. Memang janji setia cowok susah dipegang kalau udah berhubungan dengan nafsu birahi terhadap cewek lain. Setelah satu kali, ia tak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Sehingga kini meski ia tetap menjalin hubungan cintanya dengan Ratih namun sesekali ia juga melakukan hubungan “pertemanan plus plus plus” dengan Liani. Hal itu berlangsung terus sampai Liani lulus SMU. Karena setelah itu Liani melanjutkan kuliahnya di kota lain. Setelah itu pun kadang keduanya masih berhubungan lewat email melanjutkan pertemanannya (tentu tanpa plus plus plus). Setelah lulus SMU, Rohim melanjutkan sekolahnya dengan masuk ke akademi kepolisian. Setelah lulus, ia menjalin profesi sebagai detektif polisi khusus bagian penyelidikan masalah-masalah kriminal. Beberapa tahun kemudian, Rohim melangsungkan pernikahannya dengan Ratih.

Lalu bagaimana dengan jalan kehidupan Liani selanjutnya? Hal itu akan diceritakan di episode-episode berikutnya.

by: ara456

Sumber : Kisah BB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: