h1

Asmirandah 2: One Day in the Life of…

January 22, 2009
  • Cerita ini adalah sekuel dari cerita Asmirandah : The Lost of Innocence. Jadi kalo mau baca cerita ini, silahkan baca dulu cerita sebelumnya, biar nyambung, oke sob?!
  • Karya cipta ini dilindungi hukum alam gaib. Dilarang mengcopy-paste, mengubah isinya, atau mengaku-ngaku sebagai yang nulis. Para pelanggar dijamin akan mandul!
  • Cerita ini hanya rekaan semata, jika ada diantara anda yang sulit membedakan antara rekaan dan realitas, silahkan hubungi paranormal atau dukun sakti terdekat seperti Ki Joko Bodo, Ki Joko Pinter, Ki Gendeng Pamungkas,  Ki Waras Pamungkas, dll.
  • Jika ada yang marah-marah karena cerita ini silahkan hubungi konseling kejiwaan online, caranya mudah, tinggal kirim SMS ke 6174 dengan mengetik REG WARAS, gratis konseling sampai sembuh dari kegilaan.

********

asmirandah-2Rumah Asmirandah, Pukul 8’30

Pagi hari, matahari menyorot lembut menembus jendela sebuah kamar, jam diatas meja menunjukkan pukul 8’30 pagi. Sesosok tubuh mengeluarkan wangi segar yang hanya terbalut handuk tampak keluar dari kamar mandi yang terletak didalam kamar tidur tersebut, kamar tidur Asmirandah.  Dan sosok tubuh putih mulus yang hanya terbalut handuk itupun tak lain adalah Asmirandah sendiri. Ia berjalan perlahan menuju lemari pakaian, paha mulusnya tampak halus dan putih, tak terlindungi karena pendeknya handuk yang dikenakan. Setiap langkahnya pun sedikit menyingkapkan ujung handuk tersebut, sehingga kadang terlihat ujung pantatnya yang terpampang karena tidak tertutup celana dalam sama sekali. Asmirandah pun membuka laci lemari pakaiannya, ia lalu memilih sebuah celana dalam berenda berwarna hitam dan sedikit tembus pandang. Bra yang ia pilih pun sama tembus pandangnya, sehingga ketika ia memakainya, masih tampak jelas ujung puting payudaranya yang mengacung menantang siapa saja yang menatapnya. Asmirandah pun memilih untuk mengenakan sebuah rok mengembang longgar, diatas lutut, dan sebuah kaus ketat warna hijau pupus.  Penampilannya saat itu begitu segar dan menggoda. Tiba-tiba, handphone miliknya yang terletak diatas meja berdering. Iapun mengangkatnya.

“Halo, udah di mana? Di depan? Ya udah Andah turun sekarang” iapun menutup sambungan telepon dan bergegas turun, sambil menyambar tas dan sepatu hak pendek yang tergeletak didekat pintu kamarnya.

Andah berjalan menuju pintu keluar, ketika mamanya memanggil.

“Dah, gak sarapan dulu?” kata sang ibu yang berjalan menghampirinya.

“Gak ah? Belum laper, nanti aja di tempat syuting” jawabnya sambil memakai sepatu yang masih ia pegang.

“Kamu ini, kenapa sih akhir-akhir ini buru-buru terus kalo mau syuting? Lagian gak pernah mau dianter lagi ama mama” kata mamanya

“Yah Andah kan udah gede ma, mau sampai kapan dianter-anter terus?”  jawab Andah sambil mengeluarkan kotak bedaknya, dan membedaki tipis wajahnya yang cantik.

“Ya deh anak mama emang udah gede. Tapi hati-hati bawa mobilnya yah”

“Hari ini aku diantar -jemput ama bang Tagor ma” jawab Andah, ia memasukkan kembali kotak bedaknya kedalam tas.

“Ya udah, bilang ama bang Tagor, hati-hati nyetirnya” sang mama lalu mencium pipi Andah

Andah lalu mencium tangan sang mama, dan berjalan melewati pintu keluar, menuju sebuah SUV yang sudah parkir didepan rumahnya.

“Dah mama!” teriaknya sambil melambaikan tangan, sebelum menaiki mobil tersebut.

Andah duduk di kursi belakang, tetapi ia tidak sendiri. Bang Tagor sudah duduk dikursi belakang mobil tersebut, sementara Andi yang menyetir mobil, dan mobil itupun langsung berjalan melintasi lalu lintas yang sudah mulai padat.

“Wuiih cakep banget kelihatannya hari ini Dah” puji bang Tagor, melihat wajah cantik Andah yang tanpa make up, kecuali bedak tipis yang tadi ia kenakan.

“Makasih” Jawab Andah pendek.

Dalam hati ia sama sekali tidak senang mendengar pujian itu, karena jika melihat ekspresi bang Tagor ketika mengucapkannya, ia pasti mengharapkan balasan atas pujian itu.

”Non Andah, tolong dong angetin ini, AC mobilnya terlalu dingin nih, ampe mengkerut gini” kata bang Tagor sambil menurunkan resleting celananya, dan mengeluarkan penisnya yang masih loyo.

“Ihh apaan sih? Gak makasih!” kata Andah kesal, sambil memalingkan pandangannya kedepan.

“Lho kok gitu sih non? Kalo kayak gini, apa mendingan abang ke internet aja? Download film bokep, atau upload film yang non ama kita-kita bintangin waktu itu sekalian?” kata bang Tagor pura-pura bingung.

Skak mat! Begitu disinggung mengenai masalah film, Andah langsung tak berkutik, ia tak punya pilihan lain. Dengan ragu Asmirandah membungkukan tubuhnya kesamping dan segera memasukkan penis tersebut kedalam mulutnya. Ujung lidahnya segera menyentil-nyentil lubang kencing diujung penis tersebut, lalu menjilati batangnya turun kebawah, dan kembali memasukkan seluruh batang penis tersebut kedalam mulutnya, dan menghisapnya hingga bang Tagor yang merasakan hangatnya mulut sang artis, langsung kelojotan menahan nikmat.

“Ahh..non Andah ini, makin lama makin jago aja nyepongnya” pujinya, sementara tangannya membelai-belai rambut dan kepala Asmirandah yang masih bergerak gerak diatas pangkuan bang Tagor.

**************************

Dua minggu telah berlalu, sejak pertama kali Asmirandah di gangbang oleh para kru dan sutradara sinetron yang ia bintangi. Sejak itu, Asmirandah beberapa kali melayani nafsu para kru dan sutradara yang pernah menggarapnya itu, tentu saja dengan janji bahwa rekaman video perkosaan Andah yang pertama, akan dihancurkan. Namun janji tinggal janji, hingga minggu kedua ini rasanya rekaman itu justru semakin menjauh dari genggamannya. Namun ada sesuatu yang tidak diketahui oleh para kru dan sutradara bejat itu, rahasia yang dipendam dalam-dalam oleh Andah. Sejak peristiwa itu, dimana keperawanannya direnggut secara paksa oleh Pak Mardi. Mata Asmirandah seakan terbuka akan kenikmatan dunia yang selama ini selalu tertutup oleh tabu dan larangan dari lingkungannya.  Perlahan ia pun mulai menikmati hubungan seks tanpa ikatan, demi untuk mengejar kenikmatan sesaat saja. Tentu saja ia berusaha menutupinya, demi untuk mempertahankan harga dirinya supaya jangan terlalu jatuh di mata para pemerkosanya. Jika mereka tahu bahwa Andah mulai menikmati perkosaan demi perkosaan yang menimpa dirinya ini, entah mau ditaruh dimana mukanya (yang amat cantik) ini. Meski tentu saja kalau bisa, ia berhubungan seks tanpa paksaan, dan dengan seseorang yang memang ia sukai.

Sialnya  para kru dan sinetron bejat itu seperti tidak ada puas-puasnya menikmati tubuh Andah, karena mereka tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada, termasuk seperti sekarang ini, didalam sebuah mobil yang berjalan melintasi jalan ditengah kota yang ramai, ditengah-tengah kungkungan orang-orang dan kendaraan yang lalu lalang melintasi jalan. Bang Tagor melenguh nikmat merasakan sepongan Asmirandah, tangannya pun menjulur ke samping, menyingkapkan rok Andah, menariknya keatas, hingga terpampanglah pantat Andah yang masih tertutup celana dalam sexynya. Andah pun berusaha menepis tangan itu dan membetulkan letak roknya, tetapi bang Tagor pantang mundur, dan kembali maju menyerang. Tangan bang Tagor meremas-remas pantat tersebut, sambil sesekali menampar pantat Andah dengan tidak terlalu keras. Jari-jarinya lalu menyusup melalui samping celana dalamnya, mencari liang vagina Andah. Ketika menemukan mulut vaginanya, bang Tagor segera menggosok-gosokan jarinya pada bibir vagina dan clitoris Andah. Erangan tertahan pun keluar dari mulut indah si artis, yang masih tersumpal oleh penis bang Tagor yang kini mencapai ukuran maksimal.

Andi yang masih menyetir mobil, sesekali matanya melirik lewat kaca spion. Ia menelan ludah melihat perkembangan adegan di kursi belakang mobil tersebut. Sesekali, satu tangannya menekan-nekan benjolan yang timbul dari selangkangannya. Duduknya pun makin gelisah. Bang Tagor pun bergerak lebih jauh, dan memasukkan dua jarinya kedalam vagina Andah yang sudah basah oleh cairan pelumas yang lengket tapi licin, kedua jari itu lalu bergerak makin liar. Sehingga membuat erangan Andah makin keras, dan hisapannya pada penis bang Tagor makin bersemangat. Pria itu merem-melek menikmati pelayanan sang artis itu, tak lama kemudian bang Tagor merasakan desakan pada kepala penisnya, berdenyut-denyut semakin cepat sehingga dia menggeram, dan akhirnya, cret…cret…muncratlah spermanya di dalam mulut Asmirandah.

“Dah…Andah…enak banget …Dah..” erang bang Tagor

Setelah semprotan sperma tersebut berangsur angsur berakhir, Andah menegakkan tubuhnya dan  menengok ke kiri dan ke kanan mencari tempat untuk meludahkan sperma yang ada dimulutnya itu.

“Coba liat non” kata bang Tagor sambil meraih dagu Andah.

Si gadis pun lalu membuka mulutnya dan menunjukkan bagian dalam mulutnya yang dipenuhi oleh cairan putih kental berbau menyengat,  sperma dari bang Tagor. Bang Tagor tersenyum puas  melihatnya.

“Enak yah Dah, Peju abang” katanya

Andah hanya mengangguk sambil memasang wajah masam. Sementara ia masih mengulum sperma itu, pagi-pagi sarapan sperma…, pikirnya dalam hati.

“Lho kok dikulum terus? Telen aja non. Sekalian bersihin dong si Otong nih, jadi belepotan gini gara-gara non sih kedoyanan ” kata bang Tagor sambil tersenyum, sementara hatinya merasa amat puas karena bisa mempermainkan si artis cantik, yang bila dalam keadaan biasa, melirik padanya pun tidak akan sudi.

Mendengar itu, Andah pun menelan sperma tersebut, kali ini ia benar-benar murka mendengar ejekan yang menyakitkan hati itu. Dalam hati ia mengutuk manusia bejat yang satu ini.

Tapi karena tidak ada pilihan lain,  ia kembali membungkukkan badannya, tangannya meraih penis bang Tagor yang mulai layu, lalu dihisapnya  sampai batang itu berangsur-angsur berkurang ketegangannya, lidahnya membersihkan benda itu sampai benar-benar bersih. Kemudian Andah melepaskan sepongannya dan mengangkat wajahnya. Bang Tagor bersandar lemas pada jok mobil setelah mencapai klimaksnya.

“Wooyy, gantian! Gue juga pengen” kata Andi yang tidak sabar.

“Muke gillee! Gangguin aja lu! Gue lagi menghayati juga” bentak bang Tagor. “Ya udah, sini gue yang nyetir!” tambahnya.

Andi pun tersenyum senang. Ia segera menepikan mobilnya, lalu segera meloncat keluar. Bang Tagor yang juga sudah turun dari mobil, segera memukul bahu Andi, sebelum menaiki kursi pengemudi. Andi naik ke kursi belakang mobil, dan duduk disebelah Andah, sejenak Andi terpana melihat kecantikan wajahnya yang hampir tanpa make-up.

“Gilee cakep banget…beruntung banget gue…” gumamnya perlahan.

Andi menutup pintu mobil, dan mobil pun kembali berjalan menuju lokasi syuting. Andi  dengan terburu-buru melepas kancing celana jeans-nya, dan menurunkan resletingnya, ia pun menurunkan celana dan celana dalamnya hingga ke lutut. Penisnya tampak telah mengacung keras, akibat melihat adegan tadi.

“Ayo non, duduk sini, tempat duduk yang paling nyaman didunia” kata Andi sambil nyengir dan menepuk-nepuk pangkuannya.

Andah yang sudah mengerti apa yang akan terjadi berikutnya, membuka kancing rok  yang ia kenakan, dan segera melepaskan rok berikut celana dalam yang  ia kenakan, yang lalu ia letakkan di jok disampingnya, sehingga tubuh bagian bawahnya telah telanjang, memperlihatkan vaginanya yang merekah indah berwarna merah muda, dan ditumbuhi oleh rambut halus yang rapi. Andah pun lalu bergerak duduk diatas pangkuan Andi, dadanya yang masih tertutup kaus, berada tepat didepan wajah Andi. Sementara Andi segera memegang batang penis nya dan mengarahkannya kearah vagina Andah yang bergerak turun. Setelah ujung penisnya tepat menyentuh belahan vagina Andah, iapun menggosok-gosokan ujung penisnya terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan Andah kembali menurunkan tubuhnya, hingga sedikit demi sedikit, penis Andi tertelan oleh vagina Andah. Andi merem-melek merasakan proses ini yang rasanya begitu nikmat. Andah pun menggigit bibir bagian bawahnya berusaha menahan lenguhan yang mendesak keluar dari mulutnya.

“Egghhh…Andi…ahhhhrgg” erangnya tak tahan.

Erangan sensual itu sungguh menggoda nafsu siapapun yang mendengarnya.

“Dah…memekmu…sempit banget..” balas Andi

Akhirnya seluruh batang penis Andi, amblas tertelan vagina Andah. Mereka terdiam sejenak menikmati rasa tersebut. Andi terpejam menikmati jepitan hangat vagina Andah yang sempit dan berdenyut-denyut. Sementara kepala Andah terdongak dan matanya terpejam, merasakan batang penis Andi yang memenuhi seluruh liang vaginanya. Andah mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, kadang diselingi goyangan memutar seperti mengulek saja. Gesekan-gesekan nikmat langsung terasa baik oleh Andah maupun Andi, sehingga si gadis tanpa sadar menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. “Oooohhh…aaahhh….eehhmm…Di !” suara lirih keluar dari mulut indah itu.

Kedua tangan Andi segera  meraup pantat putih mulus Andah, iapun segera meremas-remas pantat tersebut, dan kadang membantu gerakan pantat tersebut yang kadang membal-membal karena gerakan Andah yang makin liar. Sementara  penisnya terasa seperti diremas-remas dan dipijat-pijat oleh jepitan vagina Andah. Geraman pun keluar dari mulut Andi.

“Erghhh…gilaaa…enak ..bang..ett…memeknya” geramnya.

Tangan Andah menopang pada sandaran jok dibelakang Andi, sementara tangan Andi meraih belakang kepala Andah dan menariknya, bibir Andi pun segera melumat mulut Andah yang sedikit  terbuka karena menahan nikmat. Kedua mulut itupun bertemu, dan lidah Andi segera menyusup masuk kedalam mulut Andah, didalam mulut itu, lidah Andi segera bergerak liar, memijati lidah Andah, sehingga lidah keduanya lalu saling membelit. Keduanya berciuman dengan semangatnya, hingga air liur keduanya saling bercampur dan berlepotan di sekitar bibir keduanya.

Sementara penis Andi masih mengaduk-aduk liang vagina Andah dengan bebasnya. Genjotan-demi genjotan yang dilakukan andah sungguh luar biasa. Entah apa yang akan dikatakan mamanya jika melihat anaknya yang masih manja di rumahnya ini, ternyata begini liar jika diluar rumah. Apa pula yang akan dikatakan para fansnya, jika melihat artis idola mereka sedang melampiaskan nafsu bersama kru sinetron yang ia bintangi, yang baik secara status sosial, maupun fisik, sungguh tidak sepadan dengan Asmirandah. Tak lama kemudian gerakan Andah makin liar, pantatnya bergerak-gerak maju mundur dan memutar dengan makin cepat.

“Ahhh..bangg…Andi..ergghh” erangnya seperti memohon.

Andah pun lalu memeluk erat kepala Andi, yang tertekan pada payudara Asmirandah yang masih tertutup kaus. Andah  merasa pandangan matanya berkunang-kunang, dan tubuhnya serasa dihantam gelombang dahsyat yang tidak bisa ditahannya sehingga membuat tubuhnya menegang, perasaan ini sungguh dahsyat membuatnya tidak bisa tidak mengerang, dan dari mulutnya terdengarlah desahan panjang orgasme. Melihat Andah orgasme, Andi makin bergairah menggenjotnya, dia berusaha menyusulnya, kemaluan mereka yang bertumbukan menghasilkan bunyi kecipak yang khas, akibat cairan orgasme yang dikeluarkan Asmirandah ketika klimaks. Cairan yang membasahi selangkangan itu kemudian turun membasahi penis dan selangkangan Andi.

Tak lama kemudian, Andi menggeram keras, ia menarik turun tubuh Andah hingga penisnya tertanam dalam-dalam pada vagina Andah. Penisnya pun menyemburkan sperma, memenuhi liang vagina dan rahim Asmirandah. Andah menggigit bibir merasakan semburan hangat dalam vaginanya.

“Andahhhhh…”jerit Andi tertahan.

Asmirandah pun menghentikan gerakannya, ia duduk diatas pangkuan Andi, sementara penis Andi masih tertanam dalam vaginanya, penisnya merasakan jepitan vagina Andah yang masih berdenyut denyut, makin memperkuat nikmat orgasme yang baru saja ia rasakan. Keduanya menghayati kenikmatan yang baru saja melanda mereka. Andah memberikan ciuman hangat pada bibir Andi, yang segera dibalas dengan lumatan yang tidak kalah hangat. Andah pun lalu kembali duduk seperti biasa disamping Andi,  sejenak ia merasa malu pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menahan diri dan bercinta terlalu “hot” untuk seseorang yang sedang dipaksa.

“Nih tisu, lap yang bersih, nanti mobilnya ada yang mau pake, jangan sampai peju lu berceceran dimana-mana, nanti pada curiga” kata bang Tagor sambil melemparkan sekotak tisue ke jok belakang.

Andi segera menyambutnya dan segera membersihkan sisa-sisa “pertempurannya” dengan Andah. Asmirandah pun mengambil segenggam tisue, dan membersihkan vaginanya dengan seksama, termasuk bagian dalamnya. Ketika membersihkan bagian dalam vaginannya tersebut Andah sedikit mengerang merasakan residu kenikmatan yang tertinggal.

*********************************

Lokasi Syuting, Pukul 9’30

Mobil  yang membawa Asmirandah berjalan perlahan memasuki lokasi syuting yang telah tampak ramai oleh kru sinetron, figuran, cast, dan beberapa orang PH. Mobil itupun memasuki lapangan yang dijadikan tempat parkir, sebelum akhirnya berhenti dan parkir dibawah pohon besar yang berada di lapangan tersebut. Di dalam mobil, Asmirandah telah berpakaian lengkap, wajahnya pun tidak menunjukan bahwa ia baru saja melampiaskan nafsu didalam mobil yang ia tumpangi. Tanpa berkata apapun pada kedua kru sinetron yang baru saja mengantarnya itu,Asmirandah membuka pintu dan turun dari mobil tersebut. Kedua kru sinetron tersebut hanya saling pandang, mereka tersenyum penuh arti. Asmirandah berjalan menuju salah satu rumah yang digunakan sebagai tempat wardrobe dan ruang hias, diperjalanan beberapa kru sinetron menyapannya yang segera ia balas dengan anggukan dan senyuman ramah. Ia pun lalu memasuki rumah sederhana tersebut, dan memasuki salah satu ruangan yang dijadikan ruang make-up. Di kamar tersebut ia tidak menemukan Mince si tukang rias. Yang ada justru Pardi, salah satu kru yang beruntung diperbolehkan menikmati tubuh Asmirandah.

“Hai Par, mana Mince?” tanya Andah sambil meletakkan tas yang dibawanya disalah satu meja.

“Lagi keluar sebentar, katanya nyari sarapan dulu, takut maag nya kambuh” jawab Pardi sambil menghampiri Andah sambil tersenyum penuh arti.

Pardi pun segera memepet tubuh Andah hingga punggung Andah menempel di pintu. Pardi lalu mencium bibir Andah dengan bersemangat, dan lidahnya segera menerobos masuk dan membelit lidah Andah. Tangan Pardi pun segera menyelusup kebalik rok Andah, perlahan-lahan menyusuri paha Andah yang putih mulus, naik keatas hingga mencapai pantat Andah yang segera ia remas dengan gemas, lalu tangan itu pindah kedepan, meremas gundukan bukit kecil diantara kaki Andah. Tidak puas disitu, perlahan jari-jarinya bergerak kebalik celana dalam Andah, bergerak-gerak menggosok belahan vagina Andah, hingga perlahan memasuki liang surga yang ada disana, Andah pun mengerang pelan.

“Pardi…jangan..sekarang Par..aku mau syuting dulu” katanya sambil mendorong tubuh Pardi.

“Oke, abang tunggu, tapi nanti waktu break, non Andah mesti puasin abang yah? Abang tunggu di rumah yang cat hijau”

Andah hanya mengangguk sambil berjalan melewati Pardi, menuju meja rias. Pardi pun tersenyum dan segera meninggalkan ruangan tersebut.

**************************

Lokasi Syuting, pukul 1’30

“Yah break! Rehat 1 jam” teriak pak Mardi sang sutradara yang menangani sinetron ini

“Akhirnya…gak tahu kenapa hari ini gue lemes banget, lu gimana?” cetus lawan main Asmirandah, seorang remaja pria yang namanya sedang melambung di dunia sinetron.

Asmirandah tidak menjawab, ia langsung berjalan menuju salah satu rumah di lokasi syuting yang telah disewa oleh PH, pikirannya sudah berpindah ke tempat lain. Sementara si remaja pria hanya bengong melihat kelakuannya. Asmirandah pun memasuki rumah tersebut, rumah yang sangat sederhana, perabotannya pun serba sederhana. Sebuah tangan menariknya memasuki sebuah ruangan kecil didalam rumah tersebut, tangan milik Pardi.

“Sini Dah” katanya dengan nafas memburu.

Ruangan kecil tersebut bisa dibilang hampir kosong, sebuah kasur kapuk terhampar begitu saja dilantai, lemari reyot berdiri di sudut ruangan, dan sebuah meja yang tampak kokoh menempel di salah satu dinding. Tetapi mereka tidak sendirian di ruangan itu, ada Heri yang baru saja menutup tirai jendela ruangan tersebut, sehingga otomatis ruangan tersebut langsung gelap. Pardi lalu mengunci pintu,lalu berjalan mendekati meja, ia lalu membuka kancing dan resleting celananya, dan menjatuhkan celananya begitu saja ke lantai, memperlihatkan penisnya yang belum begitu ereksi.

Pardi lalu duduk diatas meja dan memberi isyarat pada Andah untuk mendekat.

“Dah, jilatin dong ni, udah kangen ini ama sepongan kamu yang nikmat” katanya sambil mengocok-ngocok penisnya, senyuman tersungging di bibirnya. Asmirandah berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan seakan ragu-ragu, iapun melirik ke arah Heri dengan tatapan yang sulit dipahami.

Andah lalu membungkukkan badannya, tangannya menggenggam penis Pardi dan mulai menjilati kepala penisnya sesuai permintaan pria itu. Sambil mengoral Andah merasakan sebuah tangan membuka roknya dan menjatuhkannya ke lantai, hingga pantat Andah yang sedang menungging pun terpampang dengan indah. Tangan itu lalu menarik celana dalam mini Andah turun hingga ke mata kaki hingga terbukalah vagina berwarna merah muda yang tampak begitu menggoda, belahannya masih rapat dan ditumbuhi rambut-rambut halus yang tidak begitu lebat. Asmirandah merasakan ada sesuatu yang basah, ternyata Heri sedang menjilati bongkahan pantatnya yang  montok. Tangan Heri lalu membuka bedua bongkahan pantat tersebut lalu mulut dan lidah Heri lalu turun menjilati lubang anus Asmirandah, hingga membuat tubuh Andah menggelinjang, apalagi waktu mulut Heri akhirnya bertemu dengan vaginanya, mulut dan lidah itupun beraksi dengan ganas selain menyapu bibir vaginanya terkadang juga menyelusup masuk kedalam belahannya, membuatnya semakin becek.

Sementara Andah memasukkan penis Pardi kedalam mulutnya, dan memainkan lidahnya sehingga memberi sensasi luar biasa pada penis itu. Pardi melenguh nikmat merasakan kuluman dan hisapan mulut sang artis, tangannya pun bergerak membelai-belai kepala dan rambut indah sang artis. Mulut Andah yang tersumpal penis itu mengeluarkan erangan tertahan ketika Heri menyedot vaginanya hingga mengeluarkan decakan. Kenikmatan itu diekspresikan Andah dengan semakin bersemangat mengulum penis Pardi, desahan halus pun terdengar keluar dari mulutnya. Sementara mulut dan lidah Heri  makin terbenam diselangkangan Andah , dengan jarinya dibukanya bibir vagina itu memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan semakin basah. Heri lalu menjilati clitorisnya dengan rakus. Andah makin menggelinjang dan tanpa sadar menggoyangkan pantatnya menyambut sensasi yang  ditimbulkan oleh mulut dan lidah tersebut. Heri benar-benar sangat menikmati vagina itu,

“ehhmmhh…enak, wangi banget, slurrpp…sssrrpp !!” erangnya

“Oohh…ergghhh…terus Dah, enak.. banget…mulutmu !” Pardi juga makin blingsatan karena hisapan mulut Andah, belaian pun kini berubah menjadi  remasan pada rambut gadis.

Tiba-tiba Andah merasakan sebuah benda tumpul menggesek-gesek bibir vaginanya, ia sudah hafal sensasi itu. Andah menghentikan hisapannya sejenak dan mengerang tertahan. Ia menghayati proses penetrasi penis Heri, yang sedikit demi sedikit mendorong masuk kedalam vaginanya.

“Uuhhh…,  oohh…oohh…!!” rintihnya, iapun menengok ke belakang, menatap bagaiman penis itu pelan-pelan memasuki vaginanya.

Andah akhirnya merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, penisnya amat keras dan padat, dengan urat-urat yang sangat terasa oleh dinding vaginanya. Heri  mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, mulai menggenjotnya dalam posisi itu. Tangannya meremasi payudara Andah yang masih tertutup kaos singlet dari belakang sehingga makin memanaskan nafsunya. Andah pun mendesah tak karuan merasakan penis itu menusuk-nusuk vaginanya yang masih sempit, iapun menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan.

“Annddaaahh….enak ..banget memekmu!” geram Heri

“Oohh…aahh…kontol…kamu…juga ennak !” erang Andah yang sudah mulai kehilangan kontrol.

Erangan erotis pun mewarnai setiap hentakan-hentakan tubuh, menimbulkan bunyi tumbukan yang khas. Belum lama mereka berada dalam posisi ini, Pardi yang merasa tidak sabar karena dicuekin lalu berbaring diatas kasur.

“Her, bawa sini!” perintahnya

Heri meski merasa sedikit kesal karena kenikmatannya terganggu, mencabut penisnya dari vagina Andah, lalu mengangkat tubuh mungil Andah dan membawanya menuju kasur.

“Her..kok..dicabut..!” protes Andah yang sudah lupa pada tekadnya untuk menahan diri.

“Bentar..ada yang ngambek tuh” jawab Heri.

Heri lalu menurunkan tubuh andah dengan pantat tepat diatas penis Pardi yang masih mengacung keras. Pardi lalu mengarahkan penisnya tepat di lubang anus Andah, setelah dirasa tepat, ia memberi isyarat pada Heri yang lalu makin menurunkan tubuh Andah, hingga Andah terduduk diatas selangkangan Pardi dengan penis yang langsung tertancap dalam-dalam pada anus Asmirandah. Erangan pun langsung keluar dari mulut mungil Andah, ia merasakan lubang anusnya semakin melar dan melebar, ada rasa perih akibat gesekan batang penis yang semakin dalam memasuki dirinya

“Arrgghhh…gillaaa..” Andah pun menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan jeritan yang mendesak keluar dari mulutnya,

“Gila.. Sempit…seret amat” komentar Pardi.

Pardi pun sedikit mengangkat pantat Andah, sehingga Andah sedikit berjongkok, Pardi pun lalu dengan semangat  menghentakkan pinggulnya sehingga penisnya menusuk lebih dalam, dan mulai bergoyang keluar masuk, menggenjot anus sang artis.

“Hegggkkkkkk…….?!” Nafas Andah tertahan, matanya melotot kemudian terpejam ketika merasakan genjotan kuat pada anusnya, penis Pardi pun bergerak kasar seakan hendak menjebol lubang anusnya.

Heri tidak tinggal diam, ia lalu membuka kaus Andah dan Bra yang dikenakannya, lalu melemparkannya begitu saja keatas meja. Kini tubuh putih mulus hampir tanpa cacat milik Asmirandah terpampang jelas, termasuk payudaranya yang berukuran sedang, namun sekal dan menggoda. Tubuh itupun tampak sedikit mengkilat akibat keringat yang mulai keluar membasahi, sungguh sexy. Heri lalu mendorong tubuh Andah hingga telentang menindih Pardi. Kedua kaki Asmirandah dia buka lebih lebar dan diarahkannya kepala penisnya ke vagina sang artis yang terkuak didepannya. Heri menekan penisnya pada vagina yang sudah becek itu, hingga batang itu menyeruak masuk dengan agak kasar, terasa sekali benda itu menggesek dinding vagina Andah.

“Aaww…aagghh !” desahnya dengan badan sedikit mengejang.

Asmirandah pun disandwich oleh kedua kru sinetron yang beruntung itu. Payudara Asmirandah nampak tergoncang-goncang seirama hentakan tubuh kedua pria yang menjepitnya itu. Matanya merem-melek merasakan tusukan kedua penis yang datang bertubi-tubi, memenuhi kedua lubang di tubuhnya. Seperti biasa ia menggigit bibir menahan sakit sekaligus nikmat, dia merasakan sesak sekali di bawah sana, kedua batang keras berurat itu terasa sekali menggesek dinding vagina dan anusnya. Asmirandah mengarahkan pandangannya ke depan dan menatap dengan takjub penis Heri yang bergerak keluar masuk liang vaginanya . pria itu terus menyetubuhinya sambil  memegang kedua paha putih mulus Andah. Wajah Andah kini tampak semakin cantik dan sensual, bibirnya yang mungil agak terbuka ketika Heri menghujamkan batang penisnya semakin dalam. Tangan Heri kini mengelusi payudara Andah, dipelintir-pelintir dan ditarik-tariknya puting susu gadis itu. Sesekali ia menunduk untuk menghisapi  dan menjilati payudara Andah dan keringat yang meleleh diantara gunung kembar di dada cantik sang artis. Sensasi erotis ini benar-benar  membuat Asmirandah serasa melayang. Erangannya makin keras dan menggoda.  Kini Heri menindih tubuhnya, memeluknya dan mencumbu mulut Andah yang terbuka dan mengeluarkan desahan. Lidahnya keduanya kini  saling menjilat dengan penuh nafsu. Persetubuhan ini membuat nafas ketiganya makin naik turun dan wajahnya makin memerah. Apalagi Heri dan Pardi terus menerus menggerayangi tubuh mulusnya terutama payudara, paha dan bongkahan pantatnya.

“Uhh-uhh…bener-bener masih seret,  uenaknya memek artis !” puji Heri ditengah genjotannya.

Batang penisnya keluar masuk dengan cepat menggesek dinding vagina indah milik Asmirandah. 10 menit kemudian, Andah merasa pandangan matanya menjadi nanar, dari dalam tubuhnya muncul gelombang kenikmatan yang tak tertahankan sehingga membuat tubuhnya menegang, dia tidak bisa tidak menjerit tertahan, dan dari mulutnya terdengarlah desahan panjang orgasme.

“aaahhh…aahhh…ehhhrrrhhh” cairan orgasme pun membanjir dari vagina Andah, menimbulkan bunyi kecipak khas, karena vagina itu masih digenjot oleh penis Heri, yang merem melek keenakan, karena vagina Andah meremas-remas batang penisnya dengan kuat.

Asmirandah memandangi Heri, dengan mata yang tampak sayu karena baru saja mencapai kepuasan yang amat sangat. Kedua pria itu masih terus menggenjot Andah hingga beberapa lama, tubuh Andah yang merasa lemas setelah mencapai orgasme pun hanya bisa terguncang-guncang karena sodokan-sodokan kuat dilubang anus dan lubang vaginanya itu. Hingga akhirnya 10 menit kemudian Heri mendesah-desah gak karuan.

“Dah…Andah ku yang cantik…” genjotannya semakin keras.

Asmirandah merasakan penis di dalam vaginanya itu berdenyut-denyut makin keras, Heri pun mencabut penisnya dari vagina Asmirandah, ia segera berjongkok disamping kepala Andah dan  mendekatkan penisnya kemulut Asmirandah. Sang artis mengerti apa yang dinginkan oleh Heri, tanpa ragu memasukkan penis yang baru saja mengobok-obok vaginannya tersebut kedalam mulutnya yang cantik.

“Hmmmpph..ummm..cppp” terdengar suara keluar dari mulut Andah yang tersumpal penis.

“ahhhhrgh.” Crroot..crroot penis Heri pun memuntahkan  spermanya didalam mulut Andah, tidak banyak namun amat kental dan menyengat.

Andah menikmati rasa sperma tersebut dalam mulutnya sebelum kemudian menelannya.. Heri jatuh terduduk disamping, ia tersenyum puas. Kini tinggal Pardi yang masih menggarap anusnya, tapi tampaknya iapun tidak akan bertahan lama. Genjotannya makin cepat, sehingga penis yang menerobos anus Andah pun makin cepat menggesek gesek anusnya.

“Aaannnjjrriit….tooppp…” erang Pardi

Ia menarik turun tubuh Andah, kedua telapak tangannya langsung meraup kedua bulatan payudara Andah dan meremasnya, hingga payudara putih mulus dan kenyal itu berwarna kemerahan.

Pardi pun menyemburkan spermanya dalam anus Andah. Andah hanya terpejam menghayati semburan hangat sperma tersebut, ada sedikit rasa sesal akan sperma yang terbuang percuma itu, inginnya ia menikmati rasa segar sperma itu. Untuk sejenak keduanya hanya berbaring diam. Dalam hati Pardi berpikir, andai saja waktu bisa berhenti untuk sesaat itu, sehingga ia bisa menikmati tubuh indah ini selamanya. Tiba-tiba ada gedoran pada pintu kamar, Heri yang sudah berpakaian seadanya segera membuka sedikit daun pintu, dan ternyata Tagor yang berada di depan pintu, jadi Heri pun membuka pintu agak lebar. Tagor masuk, melihat Asmirandah dan Pardi yang sedang membersihkan badan mereka dari sisa hasil pertempuran dari tubuh masing-masing, dengan menggunakan tisu basah.

“Ngentot aja lu pade! Non Andah udah mesti mulai syuting tuh! Cepet beresin”

Heri dan Pardi hanya cengengesan, sementara Andah yang sudah berpakaian lengkap segera berjalan menuju pintu melewati Tagor. Bang Tagor segera berjalan mengikuti Asmirandah, ketika hampir sampai pintu keluar, tangannya meraih pantat Andah dan meremasnya kuat-kuat.

“Ihhh gemesin banget sih ni pantat” katanya mupeng

“Ihh… lepasin ah… brengsek!” kata Andah dengan nada kesal.

Asmirandah pun bergegas keluar dan menuju ruang make-up, untuk membenahi make-up nya yang berantakan karena keringat.

“Busset Dah. Abis ngapain deh yey. Make-up hasil kerja keras akikah ampe berantakan begindang, yey abis gali sumur apa?” jerit histeris Mince si tukang make.

“Gali sumur? Nggak, gue abis dibor” Kata Andah sambil tersenyum penuh rahasia.

Ia lalu duduk di kursi rias, membiarkan Mince kebingungan mendengar jawaban asalnya itu. Tak lama kemudian syuting sinetron itupun pun berjalan seperti biasa.

******************************

Lokasi Syuting, pukul 19’30

“Yak ,Cut, Bagus, cukup sekian Syuting hari ini, terima kasih semuanya, kru beresin lokasi” teriak pak Mardi sang sutradara.

Asmirandah menyeka keringat yang membasahi dahinya, garis kelelahan menghiasi dahinya, iapun berjalan menuju ruang wardrobe untuk mengganti pakaiannya dan membersihkan make up tebal diwajahnya. Ketika ia sedang membersihkan wajahnya, HP- nya berbunyi. Iapun mengambil HP nya dari dalam tas dan membuka kiriman SMS tersebut, dari pak Mardi.

“Dah,saya tunggu di mobil yah, biar nanti pulangnya saya anter.”

Ia lalu menutup HP nya dan mengembalikannya ke dalam tas. Seperempat jam kemudian, Asmirandah berjalan keluar menuju sebuah mobil sedan yang terparkir, wajahnya tampak segar, bersih dari makeup.  Iapun membuka pintu depan mobil tersebut, dan menaikinya. Pak Mardi telah bersiap dibelakang kemudi, wajahnya yang juga gemuk seperti tubuhnya langsung memperlihatkan senyum lebar ketika melihat Asmirandah.

“Wow,you look beautiful” puji si sutradara gemuk.

“Jadi kita mau kemana?” tanya Andah tak mengindahkan pujian kosong pak Mardi.

“Ke rumah saya. Ada seseorang yang mau saya kenalin” Jawab pak Mardi sambil menjalankan mobilnya.

Mobil Honda Jazz tersebut kemudian berjalan menembus malam yang masih muda.

“Ehmm Mardi, kapan rekaman itu bakal diserahin ke saya? Sampai kapan mau begini terus?” Tanya Andah diperjalanan.

Sejak semua peristiwa ini, Ia memang memanggil pak Mardi dengan namanya saja, lagipula buat apa menghormati orang yang jelas-jelas tidak terhormat seperti si Mardi ini, pikir Andah.

“Yah minggu depan deh” kata pak Mardi tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

“Nggak! Saya pengen malam ini juga” kata Andah tegas.

“Wah jangan dong. Kan anak anak kru juga belom dikasih tahu, ntar pada marah lagi ama saya” kata pak Mardi dibuat-buat.

“Bodo amat! Emang urusan saya?! Terus terang Mar, saya udah nggak tahan lagi kayak gini terus. Saya malah udah kepikiran buat membuka aja semua rahasia ini ke publik, biar kamu ama kroni-kroni brengsek kamu itu masuk penjara sekalian. Biar kita sama-sama hancur” kata Andah dingin.

Ini tentu saja hanya acting. Andah berpikir mungkin pak Mardi ini bisa digertak, toh pak Mardi juga sama-sama akan menanggung akibatnya bila rekaman itu sampai tersebar. Tentu saja sebagai seorang aktris, acting Andah amat meyakinkan, dan gertak sambalnya ternyata mengenai sasaran.

“Lho jangan buru-buru gitu dong. Pikir pelan-pelan apa akibatnya buat kamu. Gimana karir kamu? Keluarga kamu, apa kamu mau mencoreng muka keluarga kamu” kata pak Mardi mulai panik. Tidak sekalipun Ia mengira bahwa Andah akan mengancam balik seperti ini.

“Gak peduli! Saya sudah gak tahan!” kata Andah sambil melotot kearah pak Mardi, sementara ia tertawa dalam hati, senang karena taktik dadakan ini ternyata mengena telak. Kenapa siasat ini tidak terpikirkan olehnya sebelumnya?! Sesalnya.

Sementara mobil yang mereka tumpangi telah berhenti didepan rumah pak Mardi, di sebuah kawasan perumahan yang cukup elit.

“Oke, oke, kamu menang! Abis ini kita musnahkan rekamannya, malam ini juga, trus jangan kita singgung-singgung lagi masalah ini kedepannya. Gimana, puas?” kata pak Mardi. Ia tidak menyangka bahwa jebakannya akan menggigit balik padanya.

“Oke, abis ini” kata Andah tak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahnya.

Pak Mardi pun turun untuk membuka pintu gerbang rumah itu sendiri. Setelah terbuka, ia kembali kedalam mobil dan memrkirkan mobilnya di carport. Kedua penumpang mobil itu sama-sama turun, pak Mardi kembali menutup pintu gerbang rumahnya, sementara Andah menunggu di depan pintu masuk, menunggu pintu itu dibukakan. Tak lama kemudian keduanya sudah bergerak menuju ruang keluarga dari rumah pak Mardi.

“Kok sepi banget Mar, emang tinggal sendiri yah disini?” kata Andah yang berusaha mengusir rasa takut yang tiba-tiba menyergapnya.

“Ehh pembantu saya liburkan hari ini, saya udah cerai dengan istri, anak dua-duanya ikut istri tapi kadang-kadang mampir kesini. Eh kamu mau minum apa?” kata pak Mardi.

“Gak usah, mendingan kita selesaikan urusan kita, saya mau pulang” kata Andah tegas.

“Lho buru-buru amat? Udah gak sabar?” kata pak Mardi sambil tersenyum aneh.

Firasat aneh kembali menghinggapi Asmirandah, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres disini.

“Ya udah, buka pakaian kamu” kata pak Mardi sambil duduk di sofa di ruang keluarga itu.

Andah pun membuka kaus ketat yang ia pakai, diikuti roknya, hingga tubuh mulus dan putih itu berdiri dengan hanya tertutup pakaian dalamnya saja. Ia masih tidak bisa mengenyahkan perasaan tidak enak ini, dan sempat berniat untuk menghentikan segalanya saja.

“Cukup! Sekarang kamu berbaring aja di meja, terus kedua tangan kamu ulurin keatas kepala” kata pak Mardi.

Andah pun berbaring diatas meja rendah yang sepertinya terbuat dari kayu jati, yang terletak tepat didepan sofa tempat pak Mardi duduk. Karena meja itu tidak begitu besar dan pendek, walaupun ia berbaring, kakinya masih menyentuh lantai. Iapun melaksanakan perintah tadi dan mengulurkan tangannya keatas kepala. Pada saat itu ia merasakan kaki kirinya diikat erat kesalah satu kaki meja tersebut oleh pak Mardi.

“Mardi apa-apaan nih?! Kok pake ngiket kaki segala? Saya gak akan kabur kok” katanya sedikit ketakutan.

“Ohh gak usah khawatir, ini cuman buat variasi aja, biar gak monoton, kamu tenang aja” katanya sambil mengikat kaki kanannya ke kaki meja yang satu lagi.

“Pak Mardi ehh mendingan malam ini kita udahan dulu, saya lagi nggak mood nih, lain kali aja” Entah kenapa insting Andah menyuruhnya untuk segera kabur dari rumah itu secepatnya. Iapun segera bangkit duduk.

“Tenang aja” kata pak Mardi sambil meraih tangan kanan Andah dan mengikatnya erat, lalu menariknya hingga Andah kembali terbaring, ujung tali yang satu lagi kembali diikatkan ke kaki meja di sebelah kanan kepala Andah.

“Pak, tolong lepasin saya, saya mohon” kata Andah, kembali menggunakan kata ‘pak’.

“Lho kamu kok jadi ketakutan gitu? Tenang aja, kamu gak bakalan saya apa-apain kok. Inget, abis ini saya bakal hancurin rekaman itu, dan kita berdua bisa nerusin hidup kita masing-masing” kata pak Mardi santai sambil mengikat tangan kiri Andah.

Kini tubuh Asmirandah terbaring diatas meja dengan membentuk huruf X, sama seperti ketika pertama kali pak Mardi memperkosanya. Tapi ada sesuatu yang lain disini, sesuatu yang membuat Andah ngeri. Iapun berusaha meronta melepaskan diri, tapi ikatan itu terlampau kuat, hingga justru tangan dan kakinya yang terasa nyeri karena bergesekan dengan tali. Sementara pak Mardi justru bangkit berdiri dan memandanganya dengan pandangan aneh. Andah kini benar-benar ketakutan, ia tahu sekarang ini memohon pun tidak akan ada artinya. Ia hanya bisa pasrah. Dalam ketakutannya itu, sang artis cantik tak menyadari bahwa sesosok tubuh tak dikenal sedang berjalan mendekati meja tempatnya terikat. Sosok misterius itu menyeringai ketika melihat pemandangan indah didepannya, yaitu sosok tubuh putih mulus milik seorang gadis cantik, yang terikat tak berdaya.

To be continued….

By : Raito Yagami

Sumber : Kisah BB

5 comments

  1. hhmmmmm…..
    ssslllluuuurrrppppppppppp………..

    akhhhhhh..


  2. LIGHT!!!!!lanjutin black note dunkkkkkk.. . . .

    kalo bisa banyak kayak liani

    atw bwt yang baru kyk liani tuw..

    ye?


  3. mana lanjutanya bossss…..


  4. bohong ente,,,
    dapet sumber dari mana lu


  5. jiaah… die maen hati… ini cuma fun fict boss



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: