h1

Liani 6: Sexercise

January 23, 2009

exerciseLiani duduk di kursi belakang mobil bersama Papinya. Sementara sopirnya mengendarai mobil itu. Mereka baru pulang dari acara resepsi pernikahan putra rekan bisnis Papinya. Pada saat itulah Liani berkata,” Aduh, kok kepalaku agak pusing dan perut mual ya.” “Apa mungkin karena pengaruh makanan tadi,” tanya Papinya. “Bisa jadi. Sebelumnya aku nggak apa-apa kok.” “Memang kamu demam?” “Nggak sih, aku nggak ngerasa demam. Cuman pusing dan mual aja.” “Mau mampir ke dokter dulu?” “Boleh deh.” Akhirnya mereka mampir ke dokter praktek yang sejalan dengan rumahnya. Sesampainya di tempat dokter, mereka harus menunggu di ruang tunggu kira-kira 15 menit. Saat itulah ada seorang bapak-bapak dan dua cowok muda yang sejak kehadiran Liani, jadi melirik-lirik ke arahnya. Tak perlu heran. Karena memang kehadiran Liani begitu mencolok disitu. Ibaratnya dunia ini hitam putih sebelum kehadirannya. Sejak kehadirannya, menjadi penuh warna. Karena memang cewek itu sungguh cakep dan menarik. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Kulitnya putih. Ditambah lagi saat itu ia menggunakan parfum mahal dan berdandan penuh karena menghadiri pesta pernikahan. Wuaahh! Tentu saja ia langsung menarik perhatian orang-orang disana dan mereka yang punya pikiran kotor (seperti tiga orang tadi) seketika jadi langsung mupeng membayangkan wajahnya yang cakep dan tubuhnya yang sexy menggairahkan. Gaun pesta yang dikenakannya saat itu berwarna putih dari bahan kain yang cukup tebal dan sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak kekecilan dan tidak kebesaran, betul-betul pas menempel di tubuhnya. Sehingga terlihat jelas keindahan bentuk tubuhnya. Pinggangnya yang ramping, pinggulnya yang menonjol, dan juga dadanya yang menonjol di balik gaun tebal yang membalut tubuh indah itu. Ditambah pula, belahan dada atas yang sedikit kelihatan. Maklumlah, namanya juga gaun pesta cewek. Biarpun tidak bisa dikatakan sangat terbuka, namun tetap saja menunjukkan ke-sexy-an pemakainya. Apalagi kalau pemakainya adalah Liani! Membuat orang sakit pun dibuat jadi mupeng dan lupa akan sakitnya, seperti tiga orang tadi. Akhirnya dipanggillah nama Liani. Dan masuklah Liani kedalam ditemani oleh Papinya. Memang pantas kalau Papinya masuk mendampinginya. Anak gadis umur 18 tahun tentu tidak baik dibiarkan masuk sendirian ke dalam kamar tertutup berdua dengan dokter cowok yang usianya dalam masa puber kedua. Apalagi kalau anak gadisnya secantik dan se-sexy Liani. Lagipula hal itu bisa membuat orang mupeng yang sedang menunggu di ruang tunggu jadi melayang-layang pikirannya membayangkan kejadian yang nggak-nggak di dalam ruangan itu (betul nggak sih? hehehe). Dokter yang memeriksanya adalah dokter Suprapto. Usianya 40 tahun lebih. Wajahnya kebapakan dan tutur bahasanya sungguh sopan sepertinya ia berasal dari kalangan priyayi. Ia mendengarkan dengan penuh pengertian sambil memandang Liani dengan serius. Namun tampangnya sungguh sulit ditebak apakah ia mendengarkan serius keluhan Liani ataukah diam-diam juga mupeng dengan cewek itu? Setelah mendengar keluhan Liani, ia akan memeriksanya di ruang periksa.. Ruang periksa adalah ruangan kecil di dalam ruang konsultasi itu yang dibatasi oleh swinging door yang tak ada kuncinya. Liani masuk ke ruang periksa itu bersama dokter Suprapto tanpa diantar papinya. Mungkin papinya tak ikutan masuk karena ia tak ingin melihat saat Liani membuka bajunya. Lagipula situasinya cukup aman karena ruang periksa itu hanya dibatasi swinging door yang tak ada kuncinya. Hal itu juga dijelaskan oleh dokter Suprapto karena ia tidak ingin orang berpikiran yang bukan-bukan kalau ia punya niat jelek terhadap putrinya. Apalagi ia sadar kalau Liani itu adalah cewek muda yang luar biasa cakepnya dan sexy pula. Di dalam ruangan itu, seperti biasa dokter Suprapto akan memeriksa dengan alatnya. Untuk itu ia berkata dengan sopan, “Maaf dik, bajunya tolong dibuka sebentar ya.” “Wah, kalau begini saja apa nggak bisa, dok?” “Takutnya kurang jelas, tapi ok, saya coba dulu ya.” “Waduh, maaf, mungkin baju kamu ini terlalu tebal, jadi saya nggak bisa mendengar.” Tiba-tiba Liani menjadi kelihatan gelisah. “Waduh gimana ya…” “Cuman sebentar aja kok,” kata Dokter Suprapto dengan senyum pengertian seolah ia maklum akan keresahan gadis ini. Ia mengerti bahwa gadis muda seperti dia, tentulah risih kalau disuruh membuka bajunya di depan seorang pria berumur seperti dirinya. Biarpun kepada seorang dokter sekalipun. “Saya hanya ingin memeriksa bagian perut kamu yang mual itu. Nggak lama kok.. Paling juga beberapa menit.” “Apa nggak ada jalan lain, dok?” “Ya nggak ada. Kalo kamu mau sembuh ya mesti diperiksa,” katanya mulai tidak sabar. Ia merasa sedikit tersinggung karena dikiranya tentu gadis ini mengira ia punya pikiran yang bukan-bukan. “Ehmmm….ok deh,” kata Liani dengan ragu. Namun yang dilakukan Liani setelah itu sungguh aneh. Seharusnya ia membuka retsleting gaun di punggungnya. Namun yang dilakukan justru ia mengangkat rok gaunnya itu dan menaikkannya ke atas sampai ke pangkal pahanya. Baru kemudian disadarinya bahwa gaun itu bagian pinggangnya cukup ketat. Sehingga tak mungkin ia mengangkatnya terus sampai ke perutnya. Sehingga akhirnya gaunnya diturunkan kembali. Tapi ia terlanjur memamerkan pahanya yang putih mulus serta celana dalam warna coklat mudanya di depan dokter Suprapto. “Nggak perlu begitu dik,” kata dokter Suprapto rupanya ia heran juga dan mulai curiga jangan-jangan cewek ini cakep cakep tapi perkembangan otaknya agak nggak beres. “Saya cuman mau periksa perut kamu di bagian sini yang tadi kamu bilang agak sakit itu,” katanya sambil menunjuk bagian atas perutnya sendiri dengan harapan supaya Liani mengerti maksudnya tanpa perlu mengatakannya secara eksplisit. “OK,” kata Liani dengan lemah. Rupanya akhirnya Liani mengerti juga. Karena ia mulai membuka retsleting gaunnya di punggungnya. Kemudian setelah sempat ragu-ragu sejenak, diturunkannya gaun itu sampai sebatas perut. “Ahh!” Dokter Suprapto secara spontan berseru kaget dan matanya terbelalak. Karena kini bagian atas tubuh Liani telanjang tanpa ada penutup sehelai benang pun! Sehingga ia bisa melihat jelas payudara indah milik gadis muda yang menggairahkan terutama bagi pria seumur seperti dirinya itu. Sejak tadi ia sudah agak-agak mupeng dengan kecantikan dan ke-sexy-an cewek ini. Apalagi sekarang disuguhi pemandangan indah seperti itu dalam jarak begitu dekat! Payudara putih itu nampak padat berisi dan kencang dengan kedua puting mungilnya yang segar kemerahan menonjol ke depan. Apalagi ac ruangan yang agak dingin, membuat puting payudara Liani jadi makin perky dan menonjol. Dokter Suprapto sudah belasan tahun menjadi dokter dan ia sudah cukup sering memeriksa pasien perempuan. Namun saat itu jantungnya berdegup kencang juga melihat payudara indah dan segar terpampang jelas di depan matanya. Dan itu bukan dada seorang ibu-ibu setengah umur yang bodinya sudah nggak karuan, tapi itu dada milik gadis muda yang cakep! Gaun pesta Liani itu memang bukan gaun yang beli jadi melainkan gaun yang khusus dibuat untuk dirinya. Maka itu gaun itu begitu pas di tubuhnya. Apalagi Liani termasuk cewek yang sungguh perhatian dalam hal merawat tubuhnya sehingga ia tidak kegemukan semenjak gaun itu dibuat. Dan di bagian depan gaun itu telah ada semacam bra yang menempel menjadi satu dengan gaun itu. Sehingga pemakainya tak perlu memakai bra lagi. Tentu untuk membuat gaun seperti ini tidaklah gampang karena harus diukur betul-betul akurat supaya pas dipakai oleh si pemakai. Tak heran kalau gaun itu mahal harganya dan pembuatnya pun adalah seorang penjahit top (omong-omong, penjahitnya cewek bukan cowok). Itulah sebabnya kenapa sedari tadi Liani nampak ragu untuk menurunkan gaunnya. Karena untuk membuka bagian perut tentu harus melewati dada. Sementara ia tak memakai bra yang terpisah dari gaunnya itu. Dengan diturunkannya gaun itu tentu otomatis dadanya jadi terbuka bebas. Sebelumnya dikiranya dokter bisa memeriksa dirinya tanpa ia perlu membuka gaunnya. Kalau tahu begini, tentu ia tidak akan ke sini sebelum pulang ke rumah dan ganti pakaian dulu. Tapi karena sudah terlanjur sampai disini dan masuk ke ruang periksa dan takut dokter itu tersinggung, jadi ya apa boleh buat, terpaksa direlakan dadanya dilihat dokter itu. Toh itu demi kesehatan dirinya. Yang tak jelas adalah seruan kaget dokter Suprapto tadi adalah betul-betul kaget ataukah karena terkagum-kagum oleh payudara gadis muda ini? Namun dokter Suprapto rupanya tahu bagaimana cara bersikap secara profesional. Karena setelah sejenak kaget dan secara spontan menatap payudara indah itu, ia segera memalingkan wajahnya 30 derajat saat menempel-nempelkan alatnya itu di beberapa tempat di perut Liani. Tapi, sebenarnya, apalah artinya memalingkan wajah seperti itu, karena toh ia masih bisa melihat dengan jelas sekali dalam posisi seperti itu. Karena jaraknya memang begitu dekat. (Tapi memang kalau tidak bisa melihat sama sekali, justru lebih bahaya. Kalau salah tempat malah lebih gawat lagi.) Tak lama kemudian, ia berkata,” OK, sudah selesai,” sambil memandang wajah Liani. Tentu saat itu pun ia bisa melihat payudaranya dengan jelas sekali tanpa perlu menatapnya langsung. Namun setelah itu malah pandangan matanya melirik ke payudara telanjang itu, sebelum akhirnya ditutup kembali dengan gaun itu. Setelah dengan rapi Liani menutup gaunnya kembali, Dokter Suprapto berkata,” Seharusnya kalau tahu begitu tadi kamu nggak perlu diperiksa. Bisa langsung saya kasih obat saja.” (Sungguh aneh, kenapa ngomongnya baru sekarang ya??) Setelah itu kembalilah mereka ke ruang konsultasi itu. “Bagaimana dok?” “Ooh, nggak apa-apa kok. Bukan masalah serius. Mungkin karena salah makanan saja,” katanya sambil senyum-senyum. Entah apa maksud senyumannya itu. “Apalagi putri bapak badannya sungguh sehat dan masih begini muda. Sehingga sakit apa pun juga cepat sembuhnya. Oh ya, omong-omong, putrinya umur berapa?” Aneh juga dokter ini, ngapain nanya umur segala? “18 tahun.” “Ooh, masih muda sekali. Badan juga masih segar. Pasti cepat sembuh. OK, ini saya kasih resepnya.” “Terima kasih dok.” “Terima kasih dok.” “Sama-sama. Nanti kalo belum sembuh juga, jangan sungkan-sungkan mampir kesini lagi.” “Dan ingat,” tambahnya, “Kesehatan tubuh itu penting sekali.” —@@@@@@@—– Liani sedang mengendarai mobilnya menuju ke tempat fitness. Ia mulai rajin berolahraga karena ingin supaya badan tetap fit. Selain itu juga untuk menjaga supaya berat dan bentuk badan tetap bagus. Juga supaya otot-otot tubuh tetap kenceng. Terutama bagian payudaranya. Ia khawatir kalau payudaranya akan cepat mengendur atau sagging. Apalagi belakangan ini mulai sering diremas-remas dan juga terguncang-guncang akibat benda tumpul. Ia tidak ingin payudaranya jadi mengendur dan jelek setelah umur 30-an atau akhir 20-an. Oleh karena itu ia rajin berolahraga sejak dari sekarang. Sebelum semuanya terlambat. Walaupun masih muda, tapi ia cukup wise juga rupanya. Setelah memarkir mobilnya, tak lama kemudian masuklah ia ke tempat fitness itu. Disana cukup banyak orangnya. Ada yang tua maupun yang seumuran dia atau lebih tua sedikit. Baik cowok maupun cewek. Saat itu Liani memakai celana pendek putih yang cukup pendek. Sehingga nampak jelas pahanya yang putih mulus. Sementara atasannya ia memakai kaus tanktop cukup ketat tanpa lengan warna kuning. Nampak jelas dadanya yang menonjol di balik kaus tanktopnya itu. Dan nampak sedikit belahan bagian atas dadanya karena kaus yang dikenakan itu berleher rendah. Rambutnya digulung-gulung dan diikat. Supaya tidak mengganggu saat berolahraga. Ia saat itu bersiap mengikuti kelas aerobik. Di dalam ruangan itu ada beberapa cowok dan bapak-bapak yang sejak semula mencuri-curi pandang kearahnya. Tak lama kemudian, dimulailah latihan aerobiknya. Selama satu jam penuh Liani berkonsentrasi penuh dengan exercise-nya itu. Namun yang kasihan cowok-cowok dan para bapak disitu karena banyak yang terpecah konsentrasinya. Setelah selesai aerobik, tubuh Liani menjadi basah penuh dengan keringat dan napasnya terengah-engah. Kaus tanktop-nya kini jadi basah kuyup karena keringatnya. Sehingga jadi basah menempel di tubuhnya. Dan bra yang dikenakan di dalamnya jadi tercetak dengan jelas, terutama karena warnanya yang agak gelap. Ia tidak langsung mandi di shower tapi menunggu sampai dirinya cooling down dan tubuhnya kering terlebih dahulu. Ia melepas ikatan rambutnya sehingga kini rambutnya terurai bebas. Rambutnya pun jadi agak basah karena keringat di kepalanya. Saat itu ia berjalan menuju ke bagian lain, ke tempat latihan mengencangkan otot dengan menggunakan alat. Tidak banyak orang yang berolahraga disana saat itu. Saat itu ia melakukan sesuatu, yang apabila orang melihatnya, pasti dibuat mupeng abis oleh tindakannya itu. Karena tiba-tiba ia melepas kaus tanktop yang melekat basah di badannya itu. Yang melihatnya agak kecele karena di dalamnya bukan bra biasa yang tipis dan sexy tapi sport bra. (Sport bra adalah bra khusus digunakan untuk olahraga jadi bentuknya lebih besar dan kuat dibanding bra biasa. Fungsi utamanya selain menutupi dada juga untuk melindungi payudara dari guncangan saat melakukan olahraga yang sifatnya “high impact”, seperti aerobik barusan). Sebenarnya untuk sajam sekarang adalah hal yang cukup normal cewek hanya memakai atasan sport bra doang di tempat fitness. Tapi tetap saja ada yang mupeng dibuatnya karena bagaimana pun menyaksikan pemandangan cewek melepas bajunya, biarpun di dalamnya masih ada lapisan yang menutupi tubuhnya, tentu merupakan pemandangan yang sungguh merangsang bagi cowok. Apalagi kalau ceweknya cakep dan tubuhnya putih mulus dan sexy seperti Liani. Saat Liani sedang berjalan-jalan dan melihat-lihat orang yang berolahraga disitu, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Suara yang tak asing baginya. “Liani?! Lho kok kamu ada disini?” Liani segera menoleh ke arah datangnya suara, “Eh, Pak Rahman. Lho, kok bapak juga ada disini?” “Saya khan part-time instructor disini. Kamu sudah lama fitness disini?” “Baru bulan lalu joinnya.” “Bagus sekali kamu ikut fitness disini. Karena olahraga itu penting sekali bagi kesehatan tubuh. Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya,” kata Pak Rahman. “Setuju Pak. Oleh karena itu sekarang saya olahraga dengan teratur. Supaya badan tetap sehat,” kata Liani. Selanjutnya mereka berbincang-bincang sejenak. Pak Rahman adalah guru olahraga di sekolah Liani. Di usianya yang akhir 30-an atau awal 40-an itu, ia termasuk seorang dengan stamina yang cukup tinggi dan fisik yang kuat. Maklum, ia adalah orang yang rajin berolahraga berbagai macam. Badannya kekar. Kulitnya sawo matang. Rambutnya dipotong cepak dan berkumis, membuat tampangnya kelihatan garang. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah di sekolah itu. Meski badannya kekar, namun Pak Rahman tergolong sebagai suami takut istri. Mungkin karena Bu Retno adalah atasannya di sekolah. Atau mungkin karena Bu Retno lebih tinggi penghasilannya. Atau mungkin karena Bu Retno berasal dari keluarga cukup kaya. Atau mungkin karena Bu Retno orangnya sangat cerewet. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari Pak Rahman lebih banyak menurut dan tak berani melawan istrinya. Hanya satu saja Bu Retno selalu menurut dan takluk dengan suaminya, yaitu ketika di atas ranjang. Dalam hal ini, Bu Retno sungguh puas dengan “performance” suaminya itu. Sementara saat mereka berbincang-bincang itu, diam-diam penis Pak Rahman jadi mengeras juga. Biasanya ia melihat Liani di sekolah saat ia selalu memakai pakaian seragam yang rapi dan sopan. Ia tahu cewek ini selalu memakai pakaiannya dengan rapi. Bahkan melihatnya memakai pakaian olahraga sekolah pun juga jarang sekali atau mungkin malah tidak pernah. Karena ia adalah guru olahraga untuk murid cowok. Sedangkan guru olahraga untuk murid cewek adalah Bu Yuli. Dan olahraga untuk cowok dan cewek selalu dipisahkan. Namun kini Liani sungguh berbeda. Ia nampak begitu sexy dengan pakaian yang minim melekat di tubuhnya. Ia melihat Liani yang tubuhnya hanya dibalut sport bra dan celana pendek sport yang benar-benar pendek dan lumayan ketat. Sementara sebagian besar tubuhnya ter-ekspos dengan jelas. Dalam jarak begitu dekat ia bisa melihat dengan jelas daya tarik seksual anak didiknya itu yang begitu menggairahkan dan membangkitkan nafsu setiap lelaki normal, termasuk dirinya saat itu. Wajahnya yang cantik innocent. Tubuhnya yang basah mengkilap penuh dengan keringat. Rambutnya yang juga agak basah karena keringat, terurai dengan bebas. Kulitnya yang putih mulus. Dadanya yang menonjol dibalik sport branya. Belahan atas payudaranya yang terbuka seolah menggoda untuk membuat para cowok termasuk dirinya penasaran ingin tahu seperti apa bentuknya secara keseluruhan. Perut dan kedua tangannya yang telanjang. Pahanya yang putih mulus terlihat jelas sampai hampir pangkalnya. Pinggulnya yang menonjol dibalik celana sport yang pendek dan ketat itu. Sehingga Pak Rahman, yang di sekolah selalu bersikap sopan, kini jadi mupeng juga dengan Liani, cewek favorit sekolah itu. Setelah itu Pak Rahman membawa Liani berkeliling sambil menunjukkan beberapa alat olahraga. Tujuan baiknya tentu menjelaskan manfaat alat-alat itu ke anak didiknya. Namun ia juga punya tujuan tersembunyi, yaitu untuk cuci mata menikmati tubuh Liani yang sexy dan mulus itu. Mumpung ia dapat kesempatan sangat bagus hari itu. Belum tentu ia mendapat kesempatan seperti ini lagi. —@@@@@@@—– Liani memakai kaus olahraga tanpa lengan dengan celana pendek yang ketat. Kali ini ia berolahraga melatih otot tubuhnya terutama bagian tubuh depannya.. Saat itu ia sedang dibimbing oleh Pak Rahman. Rupanya ia sengaja mencari kesempatan supaya bisa “membimbing” Liani berolahraga secara benar. Dan hari itu akhirnya ia mendapat kesempatan yang diidam-idamkan itu. Saat itu Liani sedang duduk di alat fitness itu. Kedua tangannya bergerak membuka dan menutup sambil memegang bagian dari alat itu (nggak tahu apa nama alat ini. Tapi alat ini selalu ada di tempat fitness). Sementara Pak Rahman di sebelahnya memperhatikannya. Apa yang diperhatikannya? Memperhatikan exercise yang dilakukan Liani tentunya. Namun sungguh sulit dipercaya kalau sedari tadi ia tidak juga sambil memperhatikan paha Liani yang putih mulus itu. Juga dadanya yang menonjol di balik baju olahraganya. Apalagi saat Liani membuka tangannya, membuat dadanya nampak lebih terbuka dan membusung. Dan posisinya yang berdiri lebih tinggi dibanding Liani yang sedang duduk, membuatnya bisa melihat lebih banyak lagi gumpalan daging payudara Liani. Setelah itu Liani latihan sit up. Pak Rahman memotivasinya untuk sanggup melakukannya 40 kali. Sampai akhirnya Liani berhasil juga melakukannya 40 kali. Setiap kali Liani membungkuk ke depan dan mengangkat tubuhnya, Pak Rahman selalu berusaha mengintip gundukan payudara bagian atas cewek itu yang terlihat dari celah bajunya. Sehingga ia bisa melihatnya sebanyak 40 kali juga. Setelah itu Liani tiduran telungkup di atas matras yang agak tinggi. Sementara Kakinya dikaitkan ke alat fitness dengan diberi beban. Kemudian kakinya digoyangnya naik turun dan ditekuk untuk mengangkat beban itu. Pak Rahman mengawasinya sambil mengelilingi di samping, belakang, dan depan. Sehingga ia bisa memberi nasehat serta memotivasi anak didiknya itu. Sementara matanya tentu juga jelalatan memandangi tubuh sexy yang sedang telungkup itu. Apalagi ia bisa dengan bebas memelototinya tanpa resiko ketahuan terutama saat di samping dan dibelakang. Saat di samping: ia bisa memelototi dengan jelas pinggul Liani yang menonjol yang terbalut celana pendek yang ketat dan sexy itu. Juga bisa melihat punggung cewek yang sedang telungkup itu secara keseluruhan. Saat di belakang: ia bisa menatap pahanya yang putih mulus dan juga pinggul serta bagian vaginanya yang tertutup celana pendek itu. Saat di depan: ia bisa melihat gundukan payudara bagian atas yang terlihat dari belahan leher bajunya. Terakhir Liani latihan mengangkat tubuhnya. Kedua tangannya meraih dua ring di atas kepalanya. Kemudian berusaha mengangkat tubuhnya ke atas. Ini sangat berat sekali. Sehingga Pak Rahman membantu mengangkatnya ke atas dengan memegang pinggangnya dan juga kaki serta pahanya. Saat memegang pinggang, tentu ia tidak memegang bajunya tapi kulit pinggangnya. Karena memegang bajunya tentunya akan licin. Selain pinggang juga kadang ia membantu mengangkat tubuh Liani dengan memegang paha cewek itu. Bahkan sempat pula ia melingkarkan kedua tangannya di paha Liani sambil ia berdiri di belakangnya dengan jarak sangat dekat. Sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh pinggul gadis itu. “Bagaimana rasanya, Liani,” tanya Pak Rahman setelah sesi latihan itu selesai. “Wah, cape banget dan badan jadi pegal-pegal sih Pak. Tapi rasanya enak sekali. Apalagi nanti malem, bisa tidur enak deh,” kata Liani. “Memang olahraga itu penting bagi kesehatan tubuh,” kata Pak Rahman. Apalagi olahraga yang juga memberikan kepuasan batin, kata Pak Rahman dalam hatinya. Tak lama kemudian… Liani sedang telanjang bulat di dalam kamar mandi fitness itu. Ia menyiram sisa-sisa sabun di tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower. Pak Rahman juga telah berdiri telanjang bulat di dekatnya. Jarak antara keduanya paling sekitar 1/2 meter saja. Tentu saja penisnya pun juga telah ikutan “berdiri”. Tapi meski begitu keduanya tak bisa saling melihat. Karena seorang berada di ruangan khusus cewek dan yang lain lagi di ruangan khusus cowok yang pintu masuk keduanya berjauhan. Hanya saja kebetulan saat itu keduanya mengambil tempat di ujung. Sehingga kalau diukur dengan GPS, keduanya berdiri sangat berdekatan. Akan tetapi ada tembok pemisah yang tebal. Malamnya, Pak Rahman tampil luar biasa di atas ranjang, sampai-sampai Bu Retno istrinya yang biasanya cerewet saat itu jadi “jinak” dan begitu penurut kepadanya.. Dan demikianlah keadaan seterusnya. Pada hari-hari dimana Pak Rahman “membimbing” Liani berolahraga secara benar, malamnya ia selalu tampil dengan lebih perkasa. —@@@@@@@—– Matahari baru saja terbenam. Hari telah berubah menjadi gelap. Suasana sekolah itu tampak telah sunyi dan tak terlihat seorang pun. Apabila orang melihat dari luar, tentu mereka mengira bahwa di dalam kompleks sekolah yang besar itu tidak ada seorang manusia pun. Namun hal itu tidaklah benar. Karena ada rumah Pak Sarip yang terletak di bagian belakang sekolah yang dihuni oleh penghuninya, yaitu Pak Sarip dan Bu Sarip. Tapi di bagian depan kompleks sekolah, seharusnya sudah tidak ada orang sama sekali. Apalagi pintu gerbang yang menghubungkan bagian depan dan belakang sekolah telah dikunci dari depan. Sehingga Pak Sarip pun juga tak bisa masuk ke daerah ini. Seandainya ia ingin keluar kompleks, ia harus keluar lewat pintu belakang sekolah. Selain mereka, seharusnya tidak ada orang lain di dalam kompleks sekolah itu.. Tapi…ternyata nggak benar juga. Karena di dalam satu ruangan tertutup, tepatnya di dalam aula olahraga di bagian depan sekolah, sebagian lampu menyala dan terdengar suara-suara aneh di dalamnya. Hantukah itu??? Ternyata bukan hantu. Di dalam aula itu terdapat dua orang yang semuanya serba berlainan, yaitu berlainan jenis kelamin, berbeda generasi, perbedaan warna kulitnya kontras sekali, namun keduanya sedang asyik melakukan satu kegiatan olahraga secara bersama-sama. Dan olahraga yang dilakukan itu bukan olahraga biasa. Karena cewek muda dan putih itu nampak sedang mendesah-desah. Dirinya sedang ditindih oleh bapak berkulit sawo matang yang usianya sekitar 40 tahunan. Keduanya telanjang bulat. Penis bapak itu telah menyodok-nyodok ke dalam vagina cewek putih tadi. Ternyata cewek itu adalah Liani, siswi favorit sekolah itu. Dan bapak yang sedang menindihnya itu adalah Pak Rahman, guru olahraga sekolah itu. Untuk itu marilah flashback sebentar… Sore itu selesai praktikum, Liani tidak langsung pulang ke rumah. Ia bermain-main dengan beberapa temannya, bergantian melempar bola basket ke dalam ringnya. Di ujung satunya juga ada beberapa murid dari kelas lain melakukan hal yang sama. Selain itu ada pula beberapa murid yang sedang duduk-duduk sambil ngobrol dan bercanda. Sementara itu, di bagian lain ruangan, Pak Rahman sedang mengajar olahraga kepada murid kelas siang. Olahraga yang diajarkan saat itu adalah senam matras, seperti roll depan, roll belakang, dll. Setelah jam pelajaran olahraga selesai, Pak Rahman mendatangi anak-anak yang sedang bermain-main basket itu kemudian ia memberi contoh dan masukan-masukan kepada mereka. Setelah itu ia mengobrol dengan murid-murid yang sedang duduk-duduk itu. Tak lama kemudian Pak Rahman bersama tiga murid cowok berjalan ke arah matras yang sebelumnya dipakai buat olahraga itu dan berbicara mengenai olahraga matras disana. Tak lama kemudian Liani merasa cukup bermain-main. Ia hendak segera pulang. Setelah pamitan dengan teman-temannya ia berjalan ke arah pintu keluar aula itu. Namun saat itu ia melihat Pak Rahman dan beberapa murid itu yang sedang mengobrol seru. Karena ingin tahu, ia ikutan nimbrung, sampai agak lama.. Tentu tiga murid cowok tadi bagai kejatuhan rejeki nomplok, tiba-tiba bisa ngobrol bareng dengan Liani. Mereka ngobrol agak lama, sehingga akhirnya teman-teman mainnya yang tadi malah pulang duluan. Tak lama kemudian, tiga cowok yang sedang mengobrol bersamanya pamitan pulang juga. Karena mereka pulang, Liani ikut pamitan juga. Tapi sesaat kemudian Pak Rahman mengajaknya bicara tentang olahraga fitness. Karena pada dasarnya suka ngobrol, akhirnya ia asyik ngobrol dengan Pak Rahman. Saat itu ia tak terlalu kuatir karena diliriknya masih ada beberapa murid yang tak dikenalnya sedang melempar-lempar bola ke ring basket. Jadilah ia dan Pak Rahman keasyikan ngobrol macam-macam tentang olahraga. Malahan Pak Rahman memberi beberapa contoh tentang olahraga matras. Sementara Liani sibuk memperhatikannya dan bercakap-cakap dengan Pak Rahman. Tak terasa telah lewat setengah jam mereka mengobrol. Tiba-tiba Liani tersadar kalau saat itu ruangan aula telah sepi. Semua orang telah pergi. Hanya ia dan Pak Rahman saja yang masih tinggal di aula itu. Saat itu ia merasa agak risih berdua sendirian dengan Pak Rahman di dalam ruangan yang luas namun lengang itu. Lagipula saat itu ia berada dalam jarak cukup dekat dengan Pak Rahman. Sementara ia telah mendapati beberapa kali Pak Rahman memandangi dirinya seolah seperti menggerayangi tubuhnya saja. Ditambah lagi ia melihat adanya tonjolan cukup besar di balik celana training yang dikenakan Pak Rahman. Karena itu ia segera pamitan pulang,”Wah, sudah mau gelap nih. Saya mesti pulang dulu deh Pak.” Namun Pak Rahman malah berkata, “Wah, sekarang lagi hujan, Liani. Kalau kamu pulang sekarang, begitu keluar pagar depan juga pasti basah kuyup. Lagipula, satpam yang tugas jaga di depan hari ini adalah Pak Sudin. Dia orangnya suka nyebar gosip. Saya nggak mau dia ngelihat kita keluar berdua lalu nyebar gosip yang nggak-nggak ke anak-anak. Hal itu tidak baik buat saya tapi lebih tidak baik lagi buat kamu, anak gadis yang masih perawan. Bagaimana kalau kita tunggu dulu beberapa saat? Sepuluh / lima belas menit lagi sudah waktunya jam pulang baginya. Dan siapa tahu saat itu hujan telah reda,” katanya menasehati. “Dan kamu tak perlu khawatir, saya akan menunggu dan menjaga kamu disini sampai kamu pulang,” tambahnya lagi. Entah mungkin karena sifat bitchy dalam dirinya diam-diam mulai muncul, atau sekedar iseng ingin tahu apa yang akan dilakukan Pak Rahman selanjutnya, atau memang karena takut kehujanan dan digosipin, atau karena kena pengaruh wibawa Pak Rahman, saat itu Liani menuruti saja kata-kata gurunya itu. Sejenak ia nampak ragu, namun akhirnya ia berkata, “Ehmmm, baiklah kalo cuma sepuluh menit.” “OK, kalau begitu, untuk mengisi waktu, saya tunjukkan beberapa kegiatan olahraga yang berguna,” kata Pak Rahman. “Olahraga itu penting sekali untuk menjaga kesehatan tubuh, lho, Liani.” “Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya dalam kehidupan kita,” demikian ceramah singkat Pak Rahman kepada Liani. Sambil berkata, ia berjalan ke dalam menjauhi pintu keluar. Liani mengikuti langkah kaki Pak Rahman itu. Namun saat Liani berjalan menuju ke tengah ruangan itu, sesaat kemudian malah Pak Rahman berbalik arah dan menutup pintu keluar itu serta menguncinya. Sehingga kini tak ada seorang pun yang tahu mereka berdua ada di dalam, dan tak ada seorang pun yang bisa membuka pintu itu dari luar kecuali yang memiliki kuncinya. Dan Bu Yuli, guru olahraga cewek yang juga memegang kunci telah pulang sejak tadi, begitu jam pelajaran olahraga selesai. “Sini, saya tunjukkan bagaimana kamu bisa menggunakan alat ini untuk kesehatan tubuh kamu,” kata Pak Rahman. Ia berjalan menuju ke pipa besi horizontal yang disangga oleh dua pipa besi vertikal di pinggirnya (yang biasa digunakan untuk senam di olimpiade). Lalu ia memberi contoh. Ia melompat meraih palang horizontal itu dengan kedua tangannya. Kemudian ia menarik tubuhnya keatas beberapa kali. Sungguh hebat sekali! Meski usia sudah atau hampir kepala empat, tapi ia sanggup melakukannya beberapa kali tanpa membuat napasnya ngos-ngosan. “Nah, sekarang giliran kamu mencoba.” “Wah, saya nggak bisa Pak. Itu berat sekali. Khan dulu sudah pernah coba di tempat fitness,” kata Liani. “Nggak apa-apa coba lagi. Siapa tahu malah bisa. Ayuk, mari saya bantu naik, maaf,” kata Pak Rahman. Meski mulutnya mengucapkan kata “maaf” namun ia tak memberi kesempatan cewek itu menolak. Karena saat itu ia langsung memegang pinggang cewek itu dan mengangkatnya. Sehingga kini mau tak mau Liani harus memegang palang besi itu dengan kedua tangannya kalau tidak mau dirinya dipegang terus oleh Pak Rahman. Setelah Liani meraih palang itu, baru Pak Rahman melepaskan pegangannya. Lalu ia berkata, “Nah, sekarang coba angkat badan kamu,” kata Pak Rahman. “Wah, saya nggak kuat Pak. Berat sekali,” kata Liani yang cuma bisa menggeser tubuhnya ke atas beberapa senti saja. “Kalau begitu, mari saya bantu,” kata Pak Rahman sambil ia berjongkok di depan cewek itu dan memegang pergelangan kakinya. “Huuahhh,” serunya saat mengangkat kedua kaki Liani keatas. “Kamu coba angkat tubuh kamu lebih tinggi lagi, sudah saya bantu nih,” kata Pak Rahman sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Sungguh ia adalah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan. Padahal saat itu Liani mengenakan rok abu-abu yang panjangnya beberapa senti di atas lutut! Tentu saat itu Pak Rahman bisa melihat pemandangan indah di atas kepalanya itu. Paling tidak, paha putih mulus itu pasti kena dilihatnya. Semakin tinggi Liani mengangkat tubuhnya, semakin banyak pula yang dipihatnya. Bahkan mungkin celana dalam cewek itu juga berhasil diintipnya sekalian. Namun setelah itu malah lebih kurang ajar lagi. “Sebentar, tahan dulu ya……Nah sekarang saya bantu lagi.” Dan…dipegangnya pantat cewek itu yang nampak sedikit menonjol di balik rok abu-abunya itu. Liani merasa pantatnya dipegang gurunya itu, tentu jadi risih. Namun ia tak bisa berontak dalam posisi seperti itu. Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah melepas pegangannya itu supaya bisa mendarat di lantai lagi. Saat ia melakukan itu tentu tubuhnya langsung turun ke bawah sampai kakinya menyentuh lantai lagi. Namun yang tak disangkanya, saat ia menjatuhkan dirinya itu, Pak Rahman tidak melepaskan pegangannya malah ia berusaha menangkap tubuhnya. Akibatnya…kini kedua tangan pak Rahman jadi menempel di tubuhnya, dan….kedua tangannya persis menempel di kedua buah dadanya! Tentu ini sungguh kejutan yang tak disangka-sangka bagi Pak Rahman. Ibarat pepatah, maksud hati memeluk gunung, apa daya tiba-tiba “gunungnya” sudah berada di dalam genggaman tangan duluan. Dirasakannya buah dada Liani yang empuk dan nyaman itu. Liani seketika memerah mukanya mengetahui kedua tangan Pak Rahman yang hitam dan berotot itu tepat mendarat di dadanya. “Kamu nggak apa-apa, Liani?” tanya Pak Rahman dengan kurang ajar karena kedua tangannya masih aja menempel, seakan enggan melepas gunung kembar milik cewek itu. “Oh nggak, sa-saya nggak apa-apa, Pak,” kata Liani masih belum hilang rasa terkejutnya itu. Ia memundurkan dirinya melepaskan dadanya dari tangan Pak Rahman. Namun tiba-tiba malah Pak Rahman mendekatkan diri ke dirinya dan…mmphhhh!…segera dicium dan dikuncinya bibir cewek itu dengan bibirnya, yang karena gerakan cepatnya, cewek itu tak sempat (atau tak mau??) menghindar. Bibirnya dicium begitu tentu Liani berusaha berontak. Namun Pak Rahman terlalu kuat untuk dilawannya. Atau mungkin karena ia melakukannya dengan setengah hati saja? Yang jelas kini malah dirinya jadi didekap erat-erat oleh Pak Rahman, membuat dirinya sama sekali tak bisa berkutik! Kini Pak Rahman dengan leluasa melumat habis bibir gadis itu. Ia nampak bernafsu sekali dengan Liani. Dijelajahi seluruh bibirnya. Dirasakannya bibir Liani yang sungguh segar dan nikmat itu. Sementara Liani yang tak bisa melawan di dalam dekapan itu berusaha meronta. Namun tak jelas apakah itu hanyalah rontaan tipu-tipuan saja ataukah memang betul-betul tak berkutik. Mungkin ia setengah meronta namun juga setengah menikmati. Setengah berontak tapi setengah pasrah. Saat itu Liani ibarat kucing malu-malu yang sepertinya ingin melepaskan diri, tapi sebenarnya ingin terus dibelai-belai. Yang jelas bagi Pak Rahman saat itu sungguh membuatnya terangsang hebat kepada kucing betina muda yang manja tapi malu-malu itu. Apalagi ia merasakan harum tubuh dan harum rambut Liani yang begitu jelas. Juga dirasakannya tubuhnya yang hangat yang menempel pada tubuhnya sendiri. Bahkan kedua dada cewek itu kini juga melekat ditubuhnya! Sementara cewek itu, meski berusaha meronta-ronta, namun sepertinya malah pasrah bibirnya diciumi oleh pak gurunya. Sungguh kontradiktif sekali! Betul-betul seperti kucing. Saat ingin didekati, berusaha kabur. Namun begitu kena di tangan, mau saja sekujur tubuhnya dibelai-belai. Lalu Pak Rahman membelakangi Liani. Dipegangnya kedua tangan cewek itu dari belakang. Dirasakannya kedua tangannya yang hangat. Diraba-rabanya. Kini ia sungguh menyadari betapa halus kulit tangan cewek itu. Sementara itu, hidungnya mencium rambut Liani, mencium bau harum semerbak. Diciuminya rambut itu. Kemudian ia mencium tengkuk leher gadis itu. Hmmm, begitu putih dan halus. Liani tergerak tubuhnya saat Pak Rahman menciumi tengkuknya. Kumis tipisnya menggelitik tengkuk lehernya yang putih halus. Membuat dirinya menggeliat kegelian. “Emhh” Liani mendesah perlahan. Hal itu membuat Pak Rahman makin berani. Terus diciuminya tengkuknya sambil bahunya dipegang. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cewek itu. Mendekatkan pipinya dengan pipi cewek itu. Sementara kedua tangannya mulai menggerayangi tubuh cewek itu. Dirabanya seluruh tangan cewek itu dari lengan turun ke bawah. Dirabanya pinggangnya. Sementara diciumnya pipinya. Dirabanya perutnya dan kedua tangannya terus bergerak naik ke atas. Dan mulutnya bergeser mencium ujung bibir dan pipinya. Kini kedua tangannya memegang dadanya. Diciumnya bibir cewek itu. Karena Liani malah menoleh ke samping seakan membiarkan bibirnya diciumi oleh gurunya yang berumur 40 tahunan itu. Kini dadanya kembali berada dalam dekapan kedua tangan yang perkasa itu. Kedua tangan itu meraba-raba dadanya. Menggoyang-goyangnya. Meremas-remasnya…..Sambil Pak Rahman terus menciumi bibirnya. Kini Pak Rahman sudah tak memikirkan apa pun selain nafsu birahi yang memuncak. Untuk masalah kayak gini khan memang biasanya “sikat dulu, yang lain urusan belakangan”. Apalagi kalo cewek yang akan disikat sekaliber Liani gini. Lalu dibalikkan tubuh Liani menghadap ke arahnya. Kemudian kedua tangannya meraih kancing baju seragam putih Liani yang paling atas. Namun Liani mencegah tangan gurunya itu membuka kancing seragamnya. “Jangan, Pak.” “Kenapa Liani? Udah kamu jangan malu-malu. Saya nggak akan bilang ke siapa pun. Biar ini jadi rahasia kita berdua.” “Tapi saya takut Pak,” kata Liani sambil menundukkan kepalanya. “Kenapa takut? Ooh, saya tahu. Kamu belum pernah melakukan ini ya?” Liani hanya mengangguk sambil tetap menundukkan kepalanya. “Justru karena kamu belum pernah itu maka saya ingin nyobain. Lagian enak kok. Kamu juga pasti suka. Saya jamin deh.” Liani tadi bukannya berbohong. Maksudnya mengangguk tadi, karena ia belum pernah melakukan dengan beast yang segarang Pak Rahman begini dan yang umurnya sudah kepala empat. Namun setelah itu ia diam saja saat Pak Rahman membuka kancing bajunya paling atas. Entah takut atau pasrah atau memang mau. Demikian pula saat dilepasnya kancing di bawahnya. Dan satu lagi. Lagi… Sampai akhirnya terbukalah baju seragam putih yang dikenakan Liani itu. Sehingga terlihatlah sebagian dada Liani yang putih yang sungguh menggairahkan itu. Setelah seluruh kancing bajunya terbuka, dikeluarkannya baju seragam putih itu dari rok abu-abunya. Kemudian disibakkan baju seragam itu dan diloloskannya baju itu dari kedua tangannya. Sehingga baju seragam putih itu jatuh ke lantai. Kini tubuh bagian atas Liani sebagian besar telah terbuka di depan Pak Rahman. Sementara bra yang dikenakannya itu berwarna ungu! Dan model bra yang tanpa tali di bahunya. Wow! Sungguh sexy sekali. Lekukan atas dadanya nampak kelihatan di balik bra ungu yang menutup payudara gadis muda itu. Sementara seluruh bahunya yang putih telah terbuka. Warna bra ungu itu sungguh sexy sekali dipakai oleh Liani yang berkulit putih. Setelah itu giliran rok abu-abu cewek itu yang dibuka kaitan dan retsletingnya dan dilepaskannya. Sehingga rontok jugalah rok abu-abu itu ke lantai. Kini nampak tubuh Liani yang hampir telanjang dibalut bra dan celana dalam doang. Sungguh anak smu yang putih cakep dan innocent itu kini nampak sexy sekali dengan bra dan celana dalam doang, yang keduanya berwarna ungu. Kini nampak jelas kemulusan tubuh Liani yang putih di depan mata Pak Rahman. Apalagi celana dalamnya yang dipakainya itu agak mini modelnya. Setelah itu Pak Rahman membimbing gadis itu untuk melepas kedua sepatunya. Lalu ia berlutut di dekat kakinya melepas kedua kaus kakinya. Pandangannya persis mengarah ke ujung bawah celana dalam cewek itu. Setelah itu ia berdiri, dan…kedua tangannya merengkuh ke belakang punggungnya. Tentu yang dituju adalah kaitan bra cewek itu. Segera dibukanya kaitan itu. Sehingga seketika bra itu menjadi longgar dan payudaranya jadi bergerak sedikit. Diloloskannya bra itu dari kedua tangannya dan dijatuhkannya bra itu ke lantai dengan tanpa melihatnya. Karena kini tentu pandangannya terfokus ke payudara cewek itu. Dan Pak Rahman nampak terpana melihatnya dengan penuh kekaguman sekaligus penuh kemupengan. Hatinya menggelora karena kini ia sedang menatap buah dada milik Liani, yang di sekolah itu terkenal sebagai The Innocent Girl itu. Buah dada yang telanjang. Buah dada yang padat berisi. Buah dada yang berdiri tegak dan kencang. Buah dada dengan putingnya yang kemerahan. Buah dada yang sungguh menggairahkan yang membuat nafsunya langsung naik ke ubun-ubun. Sementara Liani nampak tertunduk malu saat kedua mata Pak Rahman dengan lebar menatap dadanya yang telanjang itu. Apalagi mengingat saat itu ia telanjang di aula olahraga sekolah yang besar dan luas. Aula tempat biasa ia berolahraga di sekolah. Namun kini jadi tempat dimana dirinya ditelanjangi dan pakaian seragamnya dibelejeti satu-satu oleh Pak Rahman, guru olahraganya. Namun Pak Rahman tak puas hanya sampai disitu saja. Kini akan diloloskannya penutup tubuhnya yang terakhir. Dipegangnya ujung celana dalam itu dengan kedua tangannya. Namun Liani malah memegang bagian tengahnya dengan kedua tangannya. “Yang ini jangan deh Pak,” katanya lirih sambil tetap menunduk. Pak Rahman tidak meneruskan aksinya itu. Ia memaklumi gadis itu yang masih malu-malu. Kini ia memegang bahu telanjang Liani yang kedua tangannya masih memegang celana dalamnya sendiri, seakan masih ingin melindungi agar penutup bagian rahasia dirinya itu tidak dilepas. Lalu kembali diciumnya bibir Liani sebentar. Kemudian kedua tangannya tak tahan untuk tak merengkuh payudara yang terbuka lebar itu, masing-masing satu. Diraba-rabanya, dirasakan kekenyalannya. Diusap-usapnya kedua putingnya. Diremas-remasnya gunung kembar indah yang kenyal dan padat berisi itu. Pak Rahman membuka kaus training-nya. Sehingga kini telanjang dada. Dadanya sungguh tegap dan bidang dan berwarna hitam. Sungguh kontras berbeda dengan milik Liani yang ramping namun membusung dan putih. Lalu ia membuka tali pengikat celana trainingnya. Sehingga kini melorot ke bawah. Nampaklah kulit tubuh Pak Rahman yang coklat sawo matang. Sementara celana dalamnya dengan ketat menutup sebagian kecil tubuhnya itu. Membentuk tonjolan cukup besar di tengahnya. Sementara kepala penisnya sudah “mengintip” keluar seakan ingin ikutan menyaksikan tubuh mulus telanjang Liani. Lalu ia melepas sepatu dan kaus kakinya. Ia sengaja tidak membuka celana dalamnya itu sekarang. Ia takut membuat cewek itu kaget. Pak Rahman mendorong punggung cewek itu diajaknya menuju ke matras. Sambil ia mengagumi keindahan lekuk punggung telanjang Liani. Diraba-rabanya punggung telanjang yang putih mulus itu. Sampai di matras, ditidurkannya cewek itu di atas matras dengan telentang. Yang paling menarik perhatiannya tentu payudara indah menggairahkan itu. Namun diciumi dulu leher gadis itu. Diciumi dengan penuh nafsu. Leher kiri, leher kanan, maupun leher tengah. Lalu turun ke bawah. Ke bagian atas dadanya. Turun sedikit. Sampailah di tengah-tengah belahan dadanya. Dijilatnya belahan dada yang putih itu. Lidahnya menjulur-julur di antara belahan kedua gunung itu. Lalu lidahnya turun ke bagian bawah payudaranya. Dijilatinya bagian itu. Lalu bergerak ke tengah. Dan dijelajahinya seluruh bagian payudara putih itu dengan lidah dan jari-jarinya. Namun ia menyisakan bagian yang paling enak dan paling sensitif bagi Liani paling akhir. Kedua puting yang kemerahan itu! Bagian itu jadi santapan terakhirnya. Santapan yang paling lezat. Apalagi puting Liani berwarna segar kemerahan yang sungguh membuatnya makin gemas, mungkin karena berbeda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Juga payudaranya secara keseluruhan yang masih kencang. Juga beda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Demikian pula kulitnya yang putih mulus. Dan usia gadis itu yang masih belia, 18 tahun. Lagi-lagi beda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Dengan penuh nafsu dijilati dan diemut-emutnya puting mungil yang menonjol itu. Ahh! Begitu nikmat rasanya! Puting yang segar! Puting yang indah. Dikenyot-kenyotnya terus puting itu. Puting yang kemerahan! Puting yang menggairahkan! Dimain-mainkan lidahnya di kedua puting Liani bergantian. Sehingga kini seluruh bagian payudara Liani The Innocent Girl itu telah habis dikenyot-kenyotnya. Tak ada yang tersisa. Tak ada bagian yang terlewat, tidak satu milimeter pun! Liani menggeliat-geliat dan mendesah-desah kecil saat payudaranya dijilat-jilat dan dikenyot-kenyot oleh Pak Rahman. Terutama saat kedua putingnya dimainin. Karena memang Pak Rahman sangat berpengalaman dan tahu bagaimana cara membangkitkan gairah cewek. Apalagi kumis tipisnya itu menempel dan menggelitik payudara Liani yang sensitif. Membuat Liani jadi makin kegelian. Sehingga ia telah lupa dengan rasa malunya. “Ahhh…ahhhhh….aduuuhhh…geli pak….ahhhhh…uuuhh…” “Ahhhh… ahhhhhh….ahhhhhh.” Liani mulai “naik”. Setelah itu Pak Rahman memainkan lidahnya di sekitar pahanya. Terutama pangkal pahanya. Frekuensi desahan Liani mulai meningkat saat kumis Pak Rahman menggelitik pangkal pahanya yang putih mulus. Ia semakin menjadi-jadi saat lidah Pak Rahman kini menari-nari di atas celana dalamnya, di wilayah sekitar vaginanya. Ia menjilat-jilat liang vagina cewek itu dari balik celana dalamnya. Sehingga kini mulai ada rembesan cairan yang membasahi celana dalam itu, yang makin lama makin melebar dan meluas. Pak Rahman tersenyum puas menyaksikan aksinya itu mengakibatkan cewek yang terkenal innocent itu kini jadi hilang rasa malunya dan berekspresi secara bebas dengan mendesah-desah. Setelah itu ia mencoba melepas celana dalam hijau muda itu. Kali ini cewek itu tidak menahannya. Sehingga dengan sekali tarik, bereslah sudah. Kini terbukalah semuanya. Liani, The Innocent Girl itu, kini terbuka sudah semuanya. Dan telentang telanjang bulat di depannya! Ia sungguh takjub menyaksikan betapa bulu-bulu vagina Liani ternyata lebat sekali. Kalau tak melihatnya sendiri sekarang ini, sungguh ia tak menyangka cewek bertampang polos ini bisa mempunyai bulu sedemikian lebat! Dan keindahan tubuhnya sungguh menakjubkan apalagi dalam keadaan telentang telanjang bulat begini. Betul-betul menggairahkan! Terutama bagi orang setengah baya seperti dirinya. Sungguh suatu kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin! Setelah akhirnya membuka celana dalam Liani, kini dibukanya kedua kaki cewek itu lebar-lebar. Sehingga liang vagina Liani terpampang lebar di hadapannya. Lalu, ia menjilati vagina muda dan segar itu. Liani merintih-rintih nikmat. Dibukanya lipatan liang vagina yang sempit itu. Dijilatinya liang itu terutama dinding bagian dalamnya. Lalu dibukanya vagina bagian atasnya. Sampai ditemukannya klitoris cewek itu. Kini, dijilat-jilatnya klitoris itu. Sampai membuat cewek itu menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah. Liani nampak sudah makin terangsang. Apalagi karena kumis tipis Pak Rahman yang makin menggelitik vaginanya. Sampai desahan-desahannya jadi makin liar. Dan vaginanya benar-benar jadi kuyup. Akhirnya dirasanya kini tibalah saatnya untuk menikmati gadis innocent itu. Kondisi gadis itu telah siap untuk menerima penisnya. Sehingga dibukanya celana dalamnya. Nampak penis hitam ukuran king size mengacung ke atas. Dan penis itu sungguh besar! Membuat Liani pun diam-diam jadi agak kaget dibuatnya. Apalagi kepala penisnya yang disunat itu nampak lebih besar lagi. Gila! Penis sebesar itu akan masuk ke dalam liang vagina sempit dirinya, pikirnya! (Catatan penting: Sebagian dari posisi-posisi seks berikut berpotensi menyebabkan cedera. Jadi mohon jangan ditiru tanpa pengalaman yang memadai atau konsultasi dengan Pak Rahman. Resiko cedera ditanggung pelaku!!!). Kembali dibukanya kedua kaki Liani. Dan didekatkannya penisnya ke liang vagina gadis itu. Dan, didorongnya…Ugh! Alangkah sempitnya. Pak Rahman merasakan bahwa penisnya itu belum masuk ke dalam vagina sempit Liani itu. Lalu dicobanya lagi,emmhhhhh, emhhhhhh, emmhhhhh, setelah beberapa kali didesak ke dalam dan dengan agak dipaksanya, akhirnya masuklah kepalanya ke dalam vagina Liani. “OH!! jerit Liani. “OOHH!! Dan, bleesss, akhirnya penis raksasa itu masuk juga seluruhnya ditelan di dalam vagina Liani. Dalam posisi terduduk itu, ia mengocok-ngocok penisnya di dalam vagina Liani sambil memegang kedua kaki Liani. “Ooohhh, ohhhhh, ohhhhhhh.” “Aaahhhhh…..ahhhhhhhh…..ahhhhhhh” Mula-mula saat penis itu pertama kali menembus vaginanya, ia merasa sakit dan perih. Namun setelah itu jadi perih-perih enak. Lama-kelamaan jadi tinggal enaknya doang. Karena setelah itu Liani mendesah-desah dan merintih-rintih. Setelah beberapa saat penis Pak Rahman menembus masuk, vaginanya jadi melentur. Kemudian disodok-sodoknya penisnya di dalam vagina sempit itu, menikmati tubuh muridnya. Benar-benar seret dan kuat cengkeramannya. Sungguh beda dengan yang dirasakannya selama ini. Saking seret dan sempitnya, sampai-sampai saat Pak Rahman mencabut penisnya, liang vagina Liani jadi agak menganga. Dan ia juga melihat ada darah yang menetes dari vagina Liani menodai kain matras itu! (Kadang memang ada cewek yang bisa mengeluarkan darah lebih dari satu kali. Dan Liani adalah salah satu cewek seperti itu. Mungkin saat pertama kali diperawani, masih ada sebagian selaput dara yang tidak robek. Sebaliknya, ada pula cewek yang masih perawan tapi tidak mengeluarkan darah saat disetubuhi pertama kali). Kini Pak Rahman menindih tubuh Liani diatas matras itu. Setelah itu Pak Rahman yang gagah kekar itu menindih tubuh Liani yang ramping dan putih itu. Kembali ia menyetubuhi gadis itu. Penisnya dimasukkan ke dalam vaginanya. Kali ini lebih mudah masuknya meski masih seret. Dan kembali dikocoknya penisnya itu maju mundur. Liani kembali mendesah-desah lagi karena kocokan itu. Kini desahannya itu terdengar cukup keras. Apalagi desahannya itu jadi menggema di dalam aula yang luas dan kosong itu. Sementara tubuhnya bagaikan berdentam-dentam dihantam benda tumpul besar bertubi-tubi. Namun kini ia lebih siap karena vaginanya telah beradaptasi. Kini penis Pak Rahman yang besar itu merangsang bagian-bagian dalam vaginanya yang peka terhadap rangsangan.. Pak Rahman dengan perkasa terus mengocok dirinya beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan mencapai orgasme. Itu orgasmenya yang pertama. “oooohhhhh…..oooooohhhhhh…..ooooohhhhhhhhh…..ooooohhhhhhhhhhhhhhh.” Setelah Liani orgasme, Pak Rahman mencabut penisnya dari dalam tubuh cewek itu. Tubuh Liani dihadapkan ke bawah dalam posisi doggy style. Kemudian ia menjilati vagina Liani yang basah kuyup itu. Setelah itu Pak Rahman tidak menghajarnya dari belakang. Namun ia menyusup di bawah Liani untuk kemudian memainkan payudara Liani yang menggantung itu. Kedua tangannya menggoyang dan meremas-remas payudara yang kelihatan makin besar karena menggantung itu.. Sambil sesekali payudara itu ditepuk-tepuknya. Plok, plok, plok. Kedua tangannya yang hitam menempel di payudara putih Liani, digenggam dan diremas-remasnya. Kepalanya berada di bawah payudara Liani. Lalu dibenamkannya kepalanya di payudara Liani. Bagaikan bantal saja ibaratnya. Kepalanya digesek-gesekkan di payudara Liani. Dan dengan rakus ia menjilati payudara putih yang menggantung itu dengan bibir dan lidahnya. Setelah puas memainkan payudara, diarahkannya penisnya persis di dekat lubang vagina Liani, dan didorongnya penisnya masuk ke dalam vagina Liani. Setelah itu sambil pegangan kedua lengan Liani, tubuhnya digeser maju mundur dan naik turun untuk mengocok vagina cewek itu. Posisi ini perlu mengeluarkan tenaga karena harus menahan pantatnya agak naik ke atas. Apabila pantatnya menempel di matras, tentu penisnya terlepas dari vagina Liani. Namun Pak Rahman adalah orang yang sering berolahraga sehingga staminanya cukup kuat untuk melakukan ini. Bahkan saat ini pun ia bisa dikatakan berolahraga yaitu menahan berat tubuhnya sambil sekaligus menyetubuhi Liani. Inilah yang dinamakan sexercise, sex dan exercise jadi satu. Setelah itu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya 90 derajat sehingga kini tubuh Liani tegak vertikal. Lalu Pak Rahman menurunkan pantatnya bersamaan dengan Liani juga menurunkan pantatnya sehingga kini ia duduk di atas Pak Rahman. Sehingga posisi mereka kini berubah jadi Cowgirl Position. Kali ini tentu lebih mudah bagi Pak Rahman karena ia tinggal tiduran di matras. Namun perlu dicatat bahwa semua gerakan merubah posisi ini dilakukan dengan penis Pak Rahman tetap berada di dalam vagina Liani. Artinya tubuh mereka tetap menjadi satu walaupun posisi tubuh mereka berubah. Lalu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya naik turun, yang segera dipatuhinya. Dengan manis Liani “olahraga duduk di tempat” dengan menggerakkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ikut bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tubuhnya itu. Lalu mereka sedikit mengubah posisi. Disaat penisnya masih di dalam vagina Liani, ditidurkannya tubuh Liani mendekat kepadanya. Sehingga kini mirip posisi missionaris tapi bedanya ceweknya ada di atas. Sehingga lagi-lagi Lianilah yang lebih banyak melakukan pergerakan. Kali ini ia bergerak maju mundur, mengocok penis hitam besar di dalam vaginanya. Atau mengocok vaginanya terhadap penis hitam besar yang stasioner itu. Tergantung dari sudut mana melihatnya. Namun yang jelas, hasilnya sama. Vagina Liani disodok-sodok oleh penis Pak Rahman yang perkasa dan Liani jadi mendesah-desah dibuatnya. Setelah itu tubuh Liani diangkat kembali ke posisi semula yang tegak vertikal dan Pak Rahman juga mengangkat tubuhnya sehingga kini tubuh keduanya kembali berdekatan namun dalam posisi tegak. Kembali tubuh Liani naik turun sementara Pak Rahman meremas-remas kedua payudara Liani. Kemudian Kedua kaki Liani yang sebelumnya ditekuk kini diluruskan. Sehingga kedua pahanya yang putih menempel di pinggul Pak Rahman yang sawo matang dan paha Pak Rahman yang sawo matang menempel di pinggulnya yang putih, dan penis Pak Rahman yang sawo matang kehitaman masih tetap di dalam vagina Liani. Sementara Liani terus menggerakkan tubuhnya turun naik sambil Pak Rahman menciumi dan menjilati payudara Liani. Nampak begitu kontras perbedaan warna kulit tubuh keduanya yang melekat menjadi satu itu. Dan berbeda pula tubuh mereka. Pak Rahman badannya gagah dan berotot. Sementara Liani badannya ramping namun sexy. Dada Pak Rahman sungguh bidang dan kekar. Sementara dada Liani, hmm, sungguh putih dan sexy. Tak heran kalau Pak Rahman dengan ganas menikmati payudara gadis itu, terutama menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya yang kemerahan. Demikianlah mereka melakukan proses persetubuhan dalam lima posisi yang berbeda tanpa putus. Setelah itu urutan posisinya dibalik. Dari posisi lima, balik ke posisi 4, 3, 2, dan 1, juga secara berkesinambungan. Sehingga total mereka melakukan sepuluh posisi persetubuhan yang proses perubahannya dilakukan secara tanpa putus artinya penis Pak Rahman terus berada di dalam vagina Liani dari sejak posisi 1 sampai posisi 5 lalu balik ke posisi 1 lagi. Sehingga mereka berdua seperti melakukan senam saja. Namun tentu itu bukan senam biasa namun senam sexercise. Setelah itu barulah mereka memisahkan tubuh mereka. Kini mereka main pangku-pangkuan. Pak Rahman duduk di atas matras itu sambil ia memangku Liani yang membelakangi dirinya. Namun bukan sekedar pangkuan biasa karena penisnya dimasukkan ke dalam vagina Liani. Dan, lagi-lagi Liani kembali menaik turunkan tubuhnya sehingga penis di bawahnya itu menghunjam-hunjam masuk di dalam tubuhnya. Sementara Pak Rahman menciumi punggung Liani yang betul-betul putih mulus itu dan tangannya ke depan untuk meremas-remas payudara gadis itu. Oleh karena sejak tadi mereka kebanyakan main dalam posisi dimana ia harus aktif menggoyang tubuhnya, kini tubuh Liani mulai berkeringat. Sehingga kini ia juga termasuk melakukan sexercise, olahraga dan seks secara bersamaan. Yang memberikan rasa cape sekaligus nikmat. Apalagi tak lama kemudian di posisi itu ia kembali mendapatkan orgasme. Itulah orgasmenya yang kedua. Demikianlah Liani yang awalnya innocent dan malu-malu dan berhati-hati, kini sudah berubah menjadi cewek liar yang sejak tadi terus mendesah-desah dan merintih-rintih malah kini dirinya telah bobol dua kali karena tak tahan akan keperkasaan Pak Rahman. Skor 2-0 untuk Pak Rahman! Setelah itu mereka melakukan posisi yang lebih aneh lagi. Saat itu sepertinya Pak Rahman mengajar Liani melakukan posisi kayang. Karena ia menyuruh cewek itu melakukan kayang sambil diperhatikan dan dibantunya. Sampai akhirnya Liani berhasil juga mengangkat tubuhnya yang telanjang bulat dengan kedua kakinya terbuka lebar. Itulah posisi kayang yang sempurna. Saat itu nampak jelas liang vaginanya yang terbuka menganga diantara kedua paha mulusnya yang terbuka lebar. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul keatas. Membuat Pak Rahman segera mengelus-ngelus bulu-bulu lebat yang menyembul ke atas itu. Siapa yang tidak mau mengelus-ngelus bulu kemaluan Liani, cewek innocent itu. Dan ternyata latihan kayang tadi bukan cuma olahraga doang. Karena Pak Rahman setelah itu menumpuk-numpuk sejumlah bantal di bawah tubuh Liani untuk menyangga tubuh cewek itu. Kemudian, dengan kedua tangannya yang memegang tubuh gadis itu, dimasukkannya penisnya ke dalam liang vagina Liani yang menganga lebar itu. Sehingga disetubuhinya gadis itu selagi ia sedang dalam posisi kayang sempurna itu. “Ohhh…ohhhhhhh.ohhhhhhhhh…..ohhhhhhhhh.” Sungguh mantap sekali! Benar-benar sensasi yang hebat. Cape berkeringat karena olahraga, namun juga nikmat dikocok-kocok! Setelah Pak Rahman membantu Liani keluar dari posisi kayangnya, ia bergerak menuju ke pipa besi yang digunakan untuk olahraga angkat tubuh tadi. Ia menyusun beberapa balok yang ditumpuk di bawah pipa besi itu. Kedua orang itu berdiri di atas tumpukan balok itu. Dalam posisi berdiri itu, Pak Rahman kembali menyetubuhi Liani dalam posisi berdiri. Saat ini, karena berdiri di atas balok, Liani dapat dengan mudah meraih pipa besi horizontal itu dengan kedua tangannya. Setelah itu Pak Rahman menyuruh Liani untuk berolahraga angkat tubuh lagi. Yaitu ia harus mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.. Pada saat ia mengangkat tubuhnya tentu rasanya seperti penis Pak Rahman akan keluar dari vaginanya. Namun belum sampai keluar, ia kembali menurunkan tubuhnya yang rasanya seperti penis itu masuk kembali menghunjam ke dalam vaginanya. Jadi di saat Liani melakukan olahraga angkat tubuh itu, penis Pak Rahman seakan mengocok-ngocok tubuhnya, meski Pak Rahman sendiri berdiri stasioner tak bergerak. Sehingga Liani jadi makin giat mengangkat tubuhnya. Dan dalam hal ini ia mencapai kemajuan yang luar biasa yang sulit ditandingi bahkan oleh atlit kelas olimpiade sekalipun. Sebelumnya ia berhasil mengangkat tubuhnya cuma beberapa senti saja. Namun kini ia mencapai kemajuan hampir sepuluh kali lipat! Karena sekarang ia berhasil mengangkat tubuhnya sampai hampir dua puluh senti! Dan itu kira-kira sama dengan panjang penis Pak Rahman. Setelah cape tapi puas melakukan itu, Liani menghentikan exercise-nya itu. Kini tinggi balok itu diatur sedemikian rupa supaya mereka bisa bertukar posisi dengan pas. Liani berdiri di balok itu. Kali ini giliran Pak Rahman yang melakukan exercise. Ia harus mengangkat tubuhnya supaya penisnya bisa masuk ke dalam vagina Liani. Dan, Pak Rahman sungguh hebat! Ia sanggup melakukan itu sampai lebih dari 20 kali! Saat itu Pak Rahman adalah orang yang melakukan exercise, namun justru Liani yang sedang “menonton” persis di depannya yang menjerit dan mendesah-desah tiap kali Pak Rahman berhasil mengangkat tubuhnya. Sungguh ia adalah seorang suporter yang hebat, karena jeritan dan desahan itu jadi membuat Pak Rahman makin bersemangat. Hal ini membuktikan bahwa fungsi suporter sangatlah penting dalam suatu kegiatan olahraga. Sehabis itu malah lebih hebat lagi. Karena Liani sambil memeluk leher Pak Rahman, mengangkat kedua kakinya dan ditekuknya di bagian atas pinggul Pak Rahman. Sehingga kini Pak Rahman selain harus mengangkat tubuhnya juga harus mengangkat tubuh Liani! Sehingga Liani kini jadi lebih aktif menaik-turunkan tubuhnya sambil memeluk Pak Rahman. Jadi kedua orang itu kini sama-sama aktif melakukan sexercise. Namun yang hebat adalah Pak Rahman yang mampu mengangkat tubuhnya plus tubuh Liani yang menempel di tubuhnya. Dan penisnya yang sedari tadi mengoyak dan mengocok-ngocok vagina Liani dengan gagah perkasa, masih belum juga terlihat tanda-tanda ejakulasi. Betul-betul ia adalah seorang dengan otot kawat tulang besi penis perkasa!! Setelah puas olahraga angkat tubuh, mereka ganti posisi yang lebih “membumi”. Liani dalam posisi push-up. Namun ia tidak melakukan push up karena Pak Rahman mengangkat kedua kakinya dari belakang. Diangkatnya kedua kaki Liani dan ia maju terus mendekati tubuh gadis itu sampai berhasil dipegangnya pangkal pahanya. Sampai ia bisa mendekatkan penisnya ke vagina Liani, lalu dimasukkannya penisnya ke dalam tubuh mulus cewek itu dari belakang. Penisnya mengocok-ngocok menembus vaginanya dari belakang. Sodokan-sodokan Pak Rahman itu sungguh kuat, sehingga saat ia menyodok, saat itu pula badan Liani terdorong ke depan dan ia otomatis menggerakkan satu tangannya maju ke depan.. Sementara Pak Rahman tentu ingin terus menikmati vagina Liani yang sempit dengan terus memaju-mundurkan penisnya berulang-ulang. Hal itu dilakukannya terus menerus. Dan setiap kali Pak Rahman mendorong penisnya ke depan, saat itu pula Liani menggerakkan tangannya ke depan bergantian sehingga tubuhnya maju selangkah demi selangkah. Hal itu berlangsung terus menerus sampai akhirnya tanpa terasa mereka telah membuat satu putaran mengelilingi lapangan basket. Dan di sepanjang perjalanan Liani terus mendesah-desah pertanda nikmat dan Pak Rahman pun tentu juga puas hatinya. Memang begitulah olahraga seharusnya dilakukan, berkeringat dan mengeluarkan banyak tenaga namun waktu lewat dengan cepat tanpa terasa karena begitu enjoy dikala melakukannya. Setelah itu Pak Rahman menggendong Liani. Tubuh Liani yang putih mulus dan telanjang bulat itu digendong oleh gurunya yang kulitnya sawo matang. Namun, itu bukan sekedar gendong-gendongan biasa, karena saat Liani digendong itu, vaginanya tertembus oleh penis hitam Pak Rahman. Kemudian Pak Rahman menggerak-gerakkan tubuh Liani naik turun, dan Liani pun juga ikut menggerakkan tubuhnya naik turun di dalam gendongan Pak Rahman. Lagi-lagi Liani mendesah-desah dibuatnya. Setelah itu mereka melakukan itu dengan Pak Rahman berjalan dan berjalan sampai ke tengah-tengah aula itu. Setelah itu malah Pak Rahman berlari sambil menggendong Liani yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya! Sampai dua kali bolak balik. Sementara dada Liani kini jadi berguncang-guncang dengan hebat. Pertama karena gerakan lari, kedua karena disodok-sodok penis yang besar dan hitam itu. Tentu semua orang tahu pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Namun pepatah itu sudah kuno ketinggalan jaman. Karena sekarang ini jadi “guru dan murid barengan lari sambil orgasme”. Karena Liani jadi tak tahan lagi vaginanya disodok-sodok penis Pak Rahman sekaligus digendong sambil dibawa lari begitu, sehingga akhirnya ia, orgasme lagi. Itulah orgasmenya yang ketiga! Dan vaginanya jadi basah kuyup. Dan tak lama setelah itu, Pak Rahman pun juga akhirnya tak bisa menahan lebih lama lagi dan ia mengalami ejakulasi. Ditumpahkannya seluruh spermanya yang banyak sekali keluarnya di dalam vagina Liani. Namun setelah ejakulasi pun, penisnya masih mengeras. Karena itu, ditelentangkan Liani di matras, lalu ia kembali menusuk-nusuk vagina Liani. Sepertinya ia ingin menghisap dan menyerap sari madu gadis itu sampai betul-betul tak bisa diserap lagi. Sampai akhirnya penisnya melembek, baru ia menghentikan tusukan-tusukannya itu. Jadi skor akhir: 3-1 untuk Pak Rahman. Setelah itu, barulah Pak Rahman mencabut penisnya dari dalam tubuh Liani. Penis hitam perkasa yang tadi begitu keras itu pun kini mulai melembek. Setelah itu ia membantu cewek itu berdiri. “Kamu bisa berdiri, Liani?” tanyanya.. Gadis itu tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya. Dirasakannya vaginanya agak nyeri dan berdenyut-denyut. Pak Rahman melihat sebagian sperma yang sebelumnya ditumpahkan di dalam vagina cewek itu kini meleleh keluar, bagaikan anak sungai mengalir turun di pahanya yang putih. Ia sungguh puas hatinya bahwa Liani yang innocent, cakep, sexy, dan putih mulus itu akhirnya dibuatnya menjadi bukan perawan lagi. Karena ia menganggap dirinyalah yang telah memerawani Liani yang tentu sekarang nggak bisa disebut innocent lagi. Ia melihat adanya darah di vagina gadis itu saat penisnya pertama kali menembus vaginanya. Dan ia merasakan betapa sempitnya vaginanya. Ditambah lagi karena cewek ini belum pernah pacaran, jadi tentu dianggapnya masih perawan. Karena itu ia sungguh bangga bahwa penisnya yang perkasa akhirnya berhasil menembus dan mengoyak vagina siswi teladan itu untuk kali pertama. Selain berhasil memerawani cewek itu, ia juga merasa aman dengan kariernya serta hubungannya dengan istrinya. Karena ia yakin Liani tidak akan melaporkan kejadian itu, meski ia melakukan pelanggaran seksual terhadap diri siswi itu. Terutama setelah cewek itu juga mendapat orgasme tiga kali! Sehingga ia tidak dapat dikatakan telah memaksanya atau memperkosanya. Masa diperkosa kok malah orgasme tiga kali! Sementara ia sendiri juga tidak akan membocorkan hal itu, demi karier dan takut dengan istri karena istrinya lebih dominan. Setelah itu tanpa berkata sepatah pun keduanya mengenakan pakaian masing-masing. Kemudian mereka berjalan keluar kompleks sekolah itu tanpa ada satu orang pun. Saat itu Liani merasakan vaginanya agak nyeri sehingga ia harus berjalan sambil kedua kakinya agak dibuka melebar. Tak lama kemudian suasana sekolah itu jadi betul-betul sunyi senyap di tengah kegelapan malam. Namun apa yang dialami oleh para pelaku setelah itu tidaklah sesunyi seperti tempat kejadian itu. Tadi dikatakan untuk urusan ginian biasanya “sikat dulu, yang lain urusan belakangan”. Nah, “yang lain” ini muncul saat Pak Rahman tiba di rumahnya. Istrinya agak curiga dengan suaminya itu. Apalagi pulang telat sampai hari gelap. Ia curiga kalau suaminya baru “jajan” di luar. Apalagi suaminya langsung membasahi serta merendam celana dalamnya. Suatu hal yang tak biasa. Ia curiga, apakah itu untuk menghilangkan jejak sisa-sisa sperma sehabis pertempuran di luar? Untuk itu malamnya ia mengetest suaminya di ranjang. Dan hasilnya? Sungguh spektakuler! Karena istrinya itu dibuatnya berkejab-kejab sambil merem melek! Memang hebat Pak Rahman ini. Sorenya baru menghajar Liani sampai tiga kali, malamnya masih bisa membuat istrinya menggelepar-gelepar dan megap-megap kayak ikan mas kekurangan air. Namun bagaimana pun ia adalah manusia biasa yang tak bisa melawan proses alam. Ia tak bisa menipu istrinya yang jeli bagai anjik pelacak itu. Istrinya curiga karena volume sperma yang keluar jauh lebih sedikit dari biasanya. Untung istrinya tidak mendesaknya lebih lanjut. Seandainya ia terpaksa harus mengaku pun, ia bertekad tidak akan memberitahukan identitas sesungguhnya cewek yang disetubuhinya saat itu. Itu sudah menjadi komitmen pribadinya terhadap Liani. Istrinya hanya bisa curiga saja tapi ia tak punya bukti nyata. Namun semenjak itu hidup Pak Rahman jadi semakin menderita di bawah ketiak istrinya. Karena Bu Retno jadi semakin ketat mengontrol suaminya. Setelah hari itu, ia tak mendapat kesempatan untuk mengulangi hal yang sama lagi dengan Liani atau cewek mana pun, karena kontrol super ketat dari istrinya, termasuk pengecekan reguler isi botol dari pengosongan yang illegal. Yah, paling tidak aku sudah pernah menikmati Liani, cewek idaman satu sekolah, katanya menghibur diri. Tak lama setelah kejadian itu, Liani lulus SMU dan pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliahnya. Sementara Liani malam itu sedang tiduran di kamarnya. Badannya pegal-pegal. Seperti sehabis melakukan exercise. Tapi juga puas. Karena itu bukan exercise biasa melainkan Sexercise. Belum pernah ia merasakan seperti yang barusan dialami. Pak Rahman memang hebat. Tiga kali ia dibuatnya orgasme! Sekarang vaginanya sudah tidak nyeri lagi. Tapi rasanya perlu waktu untuk istirahat paling tidak berhari-hari, setelah barusan dihajar bertubi-tubi dari berbagai posisi oleh penis raksasa Pak Rahman yang hitam perkasa itu. Kini memang saat untuk pemulihan otot-otot tubuh terutama otot vaginanya agar kembali ke posisi semula dan rapat kembali. Ada waktunya exercise (atau Sexercise), ada pula waktunya istirahat. Karena kesehatan tubuh memang penting. Olahraga penting bagi kesehatan tubuh. Apalagi olahraga yang memberikan kepuasan batin kayak gini, pikirnya. Sekarang waktunya tidur deh. Ia bangkit dari ranjangnya untuk mematikan lampu kamarnya. Tak lama kemudian ia tidur dengan nyenyak di dalam kamarnya yang gelap.

Kesehatan tubuh itu penting. Olahraga itu penting bagi kesehatan tubuh. Apalagi olahraga yang juga memberikan kepuasan batin.

by Anonymous Mupenger

Sumber : Kisah BB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: