h1

Liani 7: Kenikmatan di Balik Kealiman dan Kemunafikan

January 23, 2009

liany7Liani sedang sibuk mengemasi tas sekolahnya. Ia memasukkan semua buku-buku pelajarannya ke dalam tasnya. Karena saat itu proses belajar mengajar telah berakhir. Tiba-tiba ada tangan yang memegang bahunya dari belakang dan berkata,”Gimana, nanti sore jadi khan?”
Liani agak terkejut dan seketika menoleh ke belakang,”Ah, elu. Bikin kaget orang aja,” serunya. Ternyata Henny, salah satu teman dekat Liani yang sekelas juga dengannya.
“Hihihi, makanya jangan melamun aja. Gimana jadi nggak?”
“Gua sih ok ok aja, tapi Fanny gimana? Dia bisa nggak?”
“Justru dia suruh gua tanya lu. Gua barusan udah ngomong sama dia. Dianya sih ok.”
“Kalo gitu ya udah dijadiin aja.”
“Sip deh. Ntar gua bilangin ke Fanny. Kalo gitu sampai ketemu ntar jam 3 ya.”
“OK.”
Tak lama kemudian Fanny menghampiri mereka berdua. Dan kini mereka bertiga berjalan pulang meninggalkan kelas itu bersama-sama. Sambil bercanda dan tertawa-tawa seperti umumnya gadis muda seusianya mereka. Tak lama kemudian berpisahlah mereka bertiga. Liani dan Fanny berjalan ke arah mobilnya masing-masing. Sementara Henny membuka pintu kursi belakang mobilnya yang supirnya telah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu.

—@@@@@@@—–
Di kolam renang…

Di antara sekian banyak pengunjung kolam renang saat itu, ada tiga cewek yang sedang berenang sambil sesekali bercakap-cakap di tepi kolam. Mereka adalah Liani dan dua teman sekelasnya tadi yaitu Fanny dan Henny. Tadi siang di sekolah mereka janjian untuk berenang bersama disini. Setelah beberapa saat berenang dan merendam tubuh di dalam kolam, akhirnya naiklah ketiganya dari kolam renang untuk duduk-duduk sambil ngobrol di tepi kolam. Saat mereka bertiga naik dari kolam renang itu, beberapa pasang mata memandangi mereka. Tentu mereka yang memandangi adalah cowok-cowok, baik muda maupun agak tua, yang tak mau melewatkan pemandangan indah tiga cewek muda yang keluar dari dalam kolam renang. Karena ketiganya sama-sama cakep, sama-sama putih, dan sama-sama sexy dengan daya tarik yang khas masing-masing. Apalagi tubuh mereka hanya dibalut dengan pakaian renang yang melekat di tubuh. Membuat lekuk liku figur tubuh mereka tercetak dengan jelas. Sementara seluruh bagian tangan dan kaki termasuk sampai ke pangkal paha, yang biasanya tertutup pakaian kini terbuka jelas semuanya. Bagian pinggul dan dada mereka nampak menonjol, yang meski berbeda-beda ukurannya, namun ketiganya sungguh membuat mupeng cowok-cowok itu. Membuat mereka membayangkan dan menduga-duga bagian tubuh penting yang masih tertutup baju renang itu.

Liani memakai baju renang warna hitam dengan corak warna warni yang kontras dengan kulitnya yang putih. Wajahnya cantik khas oriental dan innocent. Nampak ia seperti cewek alim yang baik-baik. Rambutnya dicat agak kecoklatan dan sedikit berombak panjangnya kira-kira sebahu, namun tak kelihatan karena ia memakai topi renang. Sementara bodi tubuhnya cukup sexy. Dadanya nampak menonjol, memang ukuran bra-nya 34C. Membuat cowok yang melihatnya menjadi gemas. Ingin rasanya untuk menikmati ke-innocent-annya dan membuatnya tidak innocent lagi. Wajah Fanny juga cakep. Namun kecantikannya berbeda dengan Liani. Ia sepertinya adalah cewek keturunan Chinese juga tapi dengan ada sedikit campuran Arab (mungkin 1/8 kali). Matanya lebar, hidungnya cukup mancung dan garis wajahnya agak “tajam” membuat kecantikan wajahnya nampak eksotis. Bodinya juga sexy, bahkan pinggul dan dadanya paling menonjol dari ketiganya. Mungkin ukuran dadanya 34D. Tampangnya sungguh
menggairahkan. Rambutnya yang ikal bergelombang seharusnya agak panjang, kira-kira sama panjang dengan rambut Liani, namun rambutnya itu digulung dan diikat di kepalanya. Diantara ketiganya, Henny mempunyai tubuh yang paling “datar”. Namun tak berarti ia tidak sexy dan menarik. Wajahnya yang putih dengan bibirnya indah dengan tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri, membuatnya tampak manis. Tampangnya juga menunjukkan kalau ia cewek baik-baik meski wajahnya tak sepolos Liani. Rambutnya dipotong pendek, sehingga ia tak perlu menutup atau mengikat rambutnya. Nampak tonjolan di dadanya yang tak sebesar milik kedua temannya. Kira-kira ukuran dadanya 34B. Tentu ia adalah seorang gadis cantik dengan daya tariknya tersendiri. Apalagi wajahnya menunjukkan sepertinya ia adalah tipe cewek yang “patuh” dengan apa pun kemauan cowoknya di ranjang. Tentu banyak cowok yang suka dengan tipe cewek seperti ini.

Setelah ketiga cewek itu naik ke atas dan sampai di tempat duduk di bawah payung besar yang mengembang itu, sebagian besar cowok yang tadinya menatap mereka, kini mulai melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Namun ada dua orang bapak-bapak umur 40 atau awal 50-an yang sedang duduk di dekat mereka, nampak cool dengan kacamata hitamnya. Namun sebenarnya sejak tadi pandangan mata keduanya menatap mereka bertiga terus-menerus. Bahkan sampai sekarang, pandangan matanya jelalatan dengan bebasnya seperti menggerayangi sekujur tubuh mulus ketiga cewek itu. Sementara itu ketiga cewek itu sepertinya tak tahu atau tak mempedulikan dua orang bapak-bapak itu. Saat itu Fanny dan Henny telah duduk di kursi, sementara Liani masih berdiri di dekat kursinya. Liani melepas topi renangnya, dan terurailah rambutnya yang panjang berombak yang basah itu. Lalu ia menyibakkan rambutnya dengan kedua tangannya. Pada saat melakukan itu, tentu otot dadanya tertarik dan dadanya nampak makin menonjol. “Wow, bukan main. Lihat itu Pak,” bisik seorang bapak itu kepada temannya dengan mata melotot dan tampang mupeng memandang Liani. Saat itu Liani telah duduk dan mengobrol dengan kedua temannya. Kedua tangannya dilipat di bawah dadanya, membuat payudaranya agak tertekan ke atas dan terlihat makin menonjol. Sementara kedua kakinya disilangkan.

“Ckckck..mulusnya,” bisik bapak yang tadi berbicara. “Sepertinya hari ini saya butuh teman nih, Pak Tono,” katanya sambil menoleh ke rekannya dengan tersenyum mesum.
“Wah, Pak Miskan lagi mupeng rupanya. Baik, saya akan segera telpon Pak A-lok minta supaya disediakan yang sesuai dengan selera Bapak. Buat nanti malam Pak? Atau sore ini?” tanya bapak yang dipanggil Pak Tono tadi.
“Bukan. Kamu salah mengerti maksud saya. Saya tidak ingin disuguhi ayam-ayam kampus kelas rendahan itu. Saya tertarik sama cewek itu. Bisa tolong di-arrange, Pak Tono? Saya ingin booking cewek itu,” katanya sambil jarinya menunjuk ke Liani.
“Hah? Wah, Bapak bercanda rupanya. Cewek kayak gitu mana bisa di-booking. Dia sepertinya bukan cewek booking-an. Kalau nggak nanti saya minta A-lok untuk nyediain yang lebih tinggi kelasnya. Bapak maunya seperti apa? Yang “panlok” seperti dia juga ada, atau mau panda impor? Apa yang dari Uzbekistan?”
“Saya nggak mau yang professional seperti mereka. Sudah bosan saya. Saya mau yang masih fresh dan muda seperti dia. Atau kedua temannya juga boleh. Bilang sama A-lok, kalo nggak bisa nyediain yang seperti itu, nanti saya laporkan ke Pusat mengenai penyimpangan kredit perusahaannya. Mengerti?”
“Iya, iya. Baik Pak. Nanti saya suruh A-lok sediain yang bagus buat Bapak. Tapi nggak harus mereka khan Pak? Yang setara dengan mereka juga boleh khan? Yang penting saya catat kemauan Bapak, bukan yang professional. Nanti saya kasih tahu A-lok. Tapi mungkin nggak bisa hari ini Pak. Tolong kasih waktu beberapa hari. Gimana Pak?”
“Ah, kamu ini bagaimana sih. Kok service-nya seperti ini.”
“Soalnya kita harus cari informasi dulu, apakah cewek itu bisa di-booking. Kalau nggak, harus cari penggantinya yang setara. Khan Bapak maunya yang bagus? Kita sediain yang bagus buat Bapak, karena itu butuh sedikit waktu Pak,” kata Pak Tono setengah memohon.
“Hmm, baiklah. Saya disini sampai hari Sabtu pagi. Jadi kamu ada waktu dua hari untuk nyediain yang bagus buat saya. Bilang sama A-lok kalau dia nggak becus nanti saya laporkan penyimpangan perusahaannya. Dan ingat, kalau itu yang terjadi, kamu juga ikutan kena. Mengerti?”
“Iya, ba-baik Pak,” kata Pak Tono.
“Dan ingat,” katanya lagi,” Saya maunya sama cewek yang pake baju renang hitam dan duduk menghadap saya itu. Itu preference utama saya. Kalau nggak bisa, temannya pun juga boleh. Kalau nggak bisa juga, saya minta yang setara. Ras tidak masalah, tapi saya mau yang high class. Juga yang masih muda anak SMU atau baru kuliah gitu, yang cantik, dan juga sexy seperti mereka. Tapi ingat, jangan sampai-sampai berani ngasih yang professional atau yang low class ke saya. Mengerti? Nah, untuk malam ini kalau nggak bisa nyediain yang seperti itu, boleh kasih dulu yang professional. Saya mau yang Uzbek. Tapi harus yang cakep dan sexy.”
“Siap Pak. Ditanggung beres Pak.”

Sementara dua bapak tadi membicarakan transaksi kotor yang menyangkut diri mereka, ketiga cewek tadi sedang asyik berbincang-bincang. Namun naluri wanita rupanya cukup peka juga. Meski tak bisa mendengar tapi bisa merasakan juga. Karena saat itu Henny tiba-tiba menukas,
“Eh, lu orang ngerasa nggak sih, dua bapak itu kok sepertinya memandangi kita sambil berbisik-bisik.”
“Iya, gua juga ngerasa gitu dari tadi,” kata Fanny.
“Iya sama, gua juga. Tapi kata gua sih, cuekin aja lah. Selama nggak ngeganggu kita,” kata Liani.
Saat itu Pak Miskan masih jelalatan matanya di balik kacamata hitamnya. Pandangannya bolak-balik menatap ketiga cewek itu terutama Liani. Sementara Pak Tono telah melepas kacamatanya. Dan sama dengan rekannya, matanya juga memandangi mereka. Namun bedanya, Pak Tono berusaha menangkap pandangan mata mereka.
“Nggak ngegangguin gimana, matanya memelototi kita begitu. Hiih, mengerikan,” kata Henny sambil tubuhnya bergidik.
“Iya, nih. Mungkin kiranya kita cewek gampangan kali,” kata Fanny dengan suara agak keras dan pandangan agak kesal,” Yuk, kita cabut aja dari sini. Jangan-jangan ntar nyamperin dan kita ditawar lagi.”
“Ah, masa sih sampai begitu. Kita cuekin aja lah,” kata Liani paling tenang diantara mereka.
“Bukan begitu. Ntar orang jadi mikir yang nggak-nggak ke kita. Kalo gitu khan kita sendiri yang rugi, meskipun kita nggak ngelakuin kayak gitu,” kata Fanny.
“Iya gua setuju sama Fanny. Yuk kita cabut aja dari sini,” kata Henny.
“Kalo lu berdua mau cabut, ok deh gua nurut aja,” kata Liani akhirnya.
Tak lama kemudian berdirilah ketiga cewek itu dan meninggalkan tempat itu sambil membawa handuk dan barang-barang lainnya. Saat itu Pak Tono juga ikutan berdiri. Ah, sayang sekali, gumamnya. Sebenarnya ia ingin nyamperin mereka, tapi ternyata mereka keburu kabur duluan. Rupanya mereka pergi beli minuman dulu sebelum akhirnya berjalan masuk ke ruang mandi dan ganti cewek. Di saat mereka sedang duduk dan minum, mereka tak menyadari kalau ada yang mengambil foto-foto diri mereka dari jarak agak jauh.

Tak lama kemudian mereka bertiga masuk ke ruang ganti cewek. Saat itu mereka bertiga dalam keadaan telanjang bulat sedang asyik-asyiknya mandi, sementara di luar sana ada orang yang berbicara melalui telepon. Rupanya adalah Pak Tono.
“Pak A-lok. Ada masalah penting yang perlu dibicarakan.”
“Ah Pak Supartono. Bagaimana Pak, semuanya lancar? Dia setuju?”
“Sebenarnya sudah setuju Pak. Tapi si Boss mendadak ada permintaan tambahan nih Pak. Makanya ini saya telpon Pak A-lok.”
“Ooh, permintaan apa Pak?”
“Apa lagi kalo bukan cewek.”
“Ooh itu, gampang. Biar nanti saya suruh Purwanto yang beresin aja. Tinggal bilang aja mau minta yang seperti apa.”
“Eh, tapi ini lain Pak. Si Boss barusan liat satu cewek muda dan cakep di sini dan dia mau “pake” cewek itu. Padahal kalo saya lihat, dia bukan tipe cewek booking-an. Malah kayaknya dia masih SMU dan anak baik-baik juga sepertinya dia dari keluarga kaya. Mana bisa dipake gitu.”
“Yah, tapi penampilan kadang bisa menipu, Pak. Coba Pak Tono kalau bisa ambil fotonya, lalu kirim ke saya, nanti saya suruh orang saya selidiki background-nya. Siapa tahu bisa dipake atau syukur-syukur malah bisa dipake ga usah dibayar.”
“Sudah Pak. Sudah saya ambil foto-fotonya. Sebenarnya tidak hanya satu Pak, tapi tiga orang. Setelah ini akan saya kirim ke Bapak semuanya. Yang saya kirim pertama nanti adalah prioritas utama si Boss. Tolong saya ya Pak, kalau nggak Boss ngancam mau melaporkan penyimpangan ke Pusat katanya,” kata Pak Tono agak panik.
“Hah! Sungguh kurang ajar si Miskan itu. Main ancam segala. Sudah “dipelihara” sejak dulu, masa satu masalah ini saja langsung mengancam mau lapor segala. Kalo mau main buka-bukaan dan hancur-hancuran, saya juga punya beberapa “kartu”,” kata A-lok dengan geram.
“Wah, jangan begitu Pak. Kalau begitu nanti kita semua jadi sama-sama kena Pak,” kata Pak Tono dengan panik.
“OK, Pak Tono jangan panik. Saya cuman becanda kok. Nanti akan saya bereskan semua.”
“Terima kasih Pak. Oh ya, sebenarnya si Boss ga masalah kalau sama cewek lain, asalkan bukan professional dan betul-betul high class. Tapi prefer-nya yang satu itu atau dua temannya. Nanti saya kirim deh foto-fotonya. Tolong ya Pak.”
“OK jangan kuatir Pak. Tolong kirim ke no yang sama. Oh ya, kalau cewek itu masih disana, Pak Tono boleh coba dekatin cewek itu dan pancing-pancing, siapa tahu bisa di-booking. Jadi kita tak perlu repot-repot. “
“OK, pak. Saya coba dekati nanti. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa juga.”

“Haiyaa, selalu ada aja masalah dengan si Miskan sialan itu,” keluh A-lok. “Pak Purwanto, cepat datang ke kantor saya,” kata A-lok melalui interkom.
“Baik, siap Pak,” kata suara dari interkom itu.
“Pak Pur, sebentar lagi Pak Tono akan mengirim foto-foto cewek ke handphone ini,” kata A-lok sambil mengeluarkan satu handphone dari laci mejanya. “Coba Pak Pur selidiki latar belakang cewek-cewek itu. Karena Pak Miskan ingin check-in dengan satu diantara cewek-cewek itu. Kalau itu tidak memungkinkan, tolong cari cewek lain yang masih muda dan kerja part time tapi yang betul-betul high class. Tolong Pak Pur urus ini dengan segera, kerjaan lain boleh ditinggal dulu. Uang berapa pun tak masalah. OK? Nah, Pak Pur bawa dulu handphone ini. Ingat, deadline-nya hari Jumat!,” perintah A-lok kepada Purwanto orang kepercayaannya ini.
“Siap Pak,” kata Purwanto.
“OK, sekarang Pak Pur bisa mulai bekerja,” kata A-lok menyilahkan Purwanto keluar dari kantornya.
Setelah keluar dari kantor boss-nya, Pak Purwanto mengeluh pelan,”Aduh biyung, aku iki bekas pensiunan tentara bagian intelejen, saiki kerjo karo wong Cino, lha kok kerjaane akehe malah dadi germo (aku ini pensiunan tentara bagian intelejen, sekarang kerja kepada orang China, lha kok kerjaannya kebanyakan malah jadi germo).

Sementara itu Liani, Fanny, dan Henny telah selesai mandi dan berganti pakaian. Kini mereka bertiga keluar bersama dari ruang ganti itu dan berjalan masuk ke  tempat jual makanan. Fanny dan Henny memesan makanan, sementara Liani menunggu di meja. Saat itulah ia didatangi seorang bapak-bapak. Ia tak lain adalah Pak Supartono yang begitu selesai telpon tadi langsung ganti baju dan menunggu ketiga cewek itu. Mula-mula ia ragu-ragu untuk “menodong” Liani, karena seumur-umur ia tak pernah mendatangi cewek tak dikenal dan menawarnya untuk menjual diri. Apalagi cewek yang kelihatannya classy seperti Liani gini. Tapi karena pada dasarnya ia ingin mencari muka ke Pak Miskan tadi dan barusan disemangati oleh A-lok, kini diberanikan dirinya untuk menyapa Liani.
“Maaf dik, saya baru datang ke kota ini. Tolong tanya, kalo hotel XYZ (hotel bintang lima di kota itu) itu jauh nggak dari sini?”
“Oh, itu agak jauh Pak,” kata Liani,” Kalau mau kesana bapak harus naik taxi.”
“Oh, begitu. Saya ingin ketemu seorang bos di hotel itu. Dia kenal dekat dengan model agency yang terkenal. Omong-omong, adik tertarik untuk jadi model?”
“Wah, saya masih sekolah Pak. Nggak tertarik untuk jadi model.”
“Justru itu, kita lagi butuh seorang gadis muda yang masih usia sekolah yang cantik dan menarik seperti adik untuk jadi model. Masa adik tidak tertarik? Bayarannya tinggi lho dan adik bisa jadi orang terkenal dalam waktu singkat.”
“Wah, maaf, model bukan bidang saya. Tapi, omong-omong, memang bayarannya bisa sampai berapa sih Pak?” tanya Liani ingin tahu.
Nah, ini kesempatan bagus, pikir Pak Tono. Cewek ini nanyain tentang uang, berarti sudah buka pintu.
“Oh, kalo itu bervariasi dan tak tentu sih. Kenapa adik bertanya? Apakah adik perlu tambahan uang saku?
“Yah saya ingin tahu saja sih Pak,” jawab Liani.
Ah, ini anak malu-malu kucing, pikir Pak Tono. Rupanya benar juga kata A-lok tadi, penampilan bisa menipu. Biarlah aku langsung buka kartu aja. Khan dia tadi sudah nanya-nanya tentang uang. Artinya cewek ini pengin punya duit lebih. Kalo sudah  gini, lebih baik langsung diomongin aja, pikirnya lagi.

“Kalo adik ingin yang pasti, sebenarnya ada sih yang lebih gampang dan cepat. Sebenarnya bos saya itu lagi sendirian di hotel. Jadi kalo sore atau malam ini adik mau datang kesana, bos saya pasti akan senang sekali. Karena sejak tadi beliau memang sudah mengagumi kecantikan adik. Jadi begini, kalau adik mau “short time” saya berani kasih 2 juta tunai, kalo semalaman 5 juta. Dan saya jamin, hal ini akan menjadi rahasia karena bos saya itu adalah wakil rakyat dari pusat sehingga ia juga berkepentingan untuk menjaga rahasia ini. Jadi lumayan khan buat tambahan uang saku tanpa harus merusak reputasi adik,” kata Pak Tono yang begitu buka kartu langsung nyerocos sampai ke tujuan akhirnya. “Jadi, bagaimana menurut adik?”
Muka Liani seketika jadi merah padam. Ia tak menyangka mendengar tawaran kurang ajar seperti ini. Sesaat itu ia tak bisa berbicara.
“Yah, yang saya sebut tadi sih bukan harga mati, masih bisa nego sedikit. Tolong adik jangan malu-malu kalau menurut adik harga segitu terlalu rendah,” kata Pak Tono menganggap cewek ini entah masih sok jaim atau ingin harga lebih tinggi,” Jadi bagaimana?” tantangnya lagi. Ia mengharapkan cewek itu mengatakan “iya” dan mengenai uang ia bisa membicarakannya dengan A-lok. Seandainya cewek itu minta dua kali lipat dari itu pun, juga pasti disanggupinya.
“Akan lebih bagus lagi kalo adik bisa mengajak teman-teman adik juga nanti. Kalau begitu nanti adik saya kasih komisi tambahan lagi.”
Namun tak disangka-sangka, ternyata Liani bukannya menyanggupinya, tapi malah meninggalkan dirinya dengan matanya memerah. Ia berlari menghampiri Fanny yang lebih dekat dengan dirinya dan menangis sesenggukan di pundak sahabatnya itu.
“Lho kenapa lu??”
“O hik orang hik i-itu hik kurang ajar se-kali,” kata Liani terbata-bata di sela-sela tangisnya.
“Orang yang mana?” tanya Fanny sambil menoleh ke tempat duduk Liani tadi. Namun ia tak melihat ada orang di situ.
“O-orang itu yang hik yang tadi duduk di dekat kita hik.”
“Memang apa yang diomongin?”
….
….
“Ah kurang ajar banget tuh orang,” kata Henny dengan geram sesaat setelah mereka bertiga duduk di meja itu kembali.
“Iya betul,” jawab Fanny dengan muka marah,”Apa gua bilang tadi? Melihat gelagat tadi, orang-orang itu pasti punya maksud ga baik dan mau nge-booking kita. Ciih! Kurang ajar sekali. Enak aja mikir kita mau jual diri! Bokap gua pengusaha kaya. Gua ga perlu jual diri demi duit 5 juta.” Memang bokap Fanny adalah seorang pengusaha kaya dari luar pulau.
“Iya, gua juga,” kata Henny sambil bergidik,”Enak aja mikir kita bisa di-booking. Jangankan 5 juta, dikasih 5 milyar pun gua juga ga mau sama orang kayak gitu. Emang kita cewek apaan mau sama orang-orang seperti mereka. Gua sih punya standard tinggi. Orang-orang gitu ga masuk hitungan. Hiiih!” Henny memang adalah anak pengusaha kaya.
….
….
Sementara itu begitu melihat gelagat yang tidak baik, Pak Tono buru-buru ngacir dari situ. Ah, sialan, gerutunya. Kerjaanku seharusnya cukup terhormat, yaitu  manager bagian kredit dari salah satu bank pemerintah. Mimpi apa sampai aku mesti jadi mucikari kambuhan yang gagal kayak gini, keluhnya. Ya, sebenarnya Pak Supartono adalah manager bagian kredit di bank pemerintah yang memberikan kredit kepada A-lok, seorang pengusaha lokal. Kredit yang diberikan itu agak bermasalah dan terlalu besar, sementara sebagian dari dana kredit itu diberikan balik kepadanya, tentunya masuk ke personal account. Sehingga kini posisinya jadi terbalik, ia yang sebelumnya dalam posisi lebih tinggi karena memberikan kredit, kini jadi harus setengah memohon kepada A-lok supaya ia bisa terus membayar uang cicilan per bulannya. Oleh karena itu ia mau tak mau harus “berbagi tanggung jawab” dengan A-lok dalam hal menyenangkan hati Pak Miskan, seorang wakil rakyat dari pusat yang bertugas melakukan inspeksi dan audit secara reguler ke daerah atas kemungkinan adanya penyelewengan kucuran kredit bank-bank pemerintah. Selama ini, Pak Miskan berhasil “dipelihara” oleh A-lok dan Pak Supartono yang diam-diam juga didukung oleh atasan Pak Supartono baik yang di daerah maupun di pusat. Sehingga, inilah KKN yang melibatkan semua orang, dimana maling dan polisi duduk satu meja berpesta bersama. Tetapi itulah kenyataan di dunia bisnis di negara itu. Kalau tidak ada uang pelicin, roda perekonomian tidak berjalan. Apabila roda perekonomian tidak berjalan, akibatnya rakyat kecil jugalah yang akan lebih sengsara.

Malam itu, disaat hati Liani, Henny, Fanny, A-lok, Supartono, dan Purwanto sedang gundah karena satu dan lain hal, Pak Miskan sedang asyik mengocok penisnya di dalam vagina cewek Uzbekistan yang cakep dan sexy itu, yang mengaku bernama Zamira, sehingga payudara Zamira yang sungguh montok itu jadi berguncang-guncang dan berputar-putar dibuatnya.

—@@@@@@@—–

Di rumah…

Keesokan sorenya, Liani sedang duduk di ruang tengah sambil asyik menonton TV. Ia sesekali tertawa geli menyaksikan film kartun itu. Saat itu hatinya sedang gembira. Sedikit banyak ia telah melupakan kejadian kemarin sore itu. Memang pada dasarnya Liani adalah cewek yang riang dan mudah melupakan segala kesulitan dan masalah yang telah berlalu. Demikian pula saat itu.

Sore itu Papi Liani lagi-lagi bekerja dari rumah. Karena selain bekerja untuk bisnisnya, ia juga mengawasi pekerjaan Sarmin, kacung honorer yang disewa beberapa hari untuk membersihkan atap genteng rumah, memperbaiki pipa saluran air di salah satu kamar mandi yang tersumbat, membersihkan gudang, serta beberapa pekerjaan kasar lainnya yang tak bisa dikerjakan oleh beberapa pembantu perempuan yang tinggal permanen di rumah itu. Apalagi ia tak puas dengan hasil kerjaan Sarmin, yang dinilainya lamban. Telah beberapa hari disewanya, sehari kerja dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Namun hasil kerjaannya tak jelas terlihat. Saat itu kembali ia menanyai Sarmin mengenai kerjaannya dengan agak kesal,
“Dari pagi sampai sekarang, kamu ngerjain apa aja?”
“Anu, Tuan, tadi pagi saya membuat semen dan menyemen tembok yang tuan suruh kemarin lalu siang ini saya naik ke atas genteng bersihin daun-daun disana.”
“Lalu semennya sudah selesai?”
“Belum Tuan. Soalnya tadi hujan deras, jadi semen yang saya buat jadi kena air hujan. Jadi mesti diulang lagi.”
“Ah, kamu ini gimana sih. Sudah tahu hujan, kenapa ngerjain itu. Seharusnya khan kamu ngerjain yang di dalam ruangan.”
“Iya, Tuan.”
“Lalu gentengnya gimana, sudah bersih?”
“Sebagian sudah Tuan. Tapi masih banyak yang mesti dibersihin.”
“Ah, kamu ini. Sudah tiga hari disini, tapi hasilnya tidak jelas. Kenapa kamu kerjanya tidak langsung diselesaikan tapi kerja ini dikit kerja itu dikit. Jadinya malah nggak kelihatan hasilnya.”
“Iya, Tuan.”
“Selain itu juga banyak kerjaan kamu yang mesti diulang-ulang terus. Contohnya ya semen itu. Kalau tahu hujan, seharusnya kamu jangan bikin semen di tempat terbuka.”
“Iya, Tuan.”
“Jangan iya iya saja, yang penting kerjaannya cepat dibereskan.”
“Iya, Tuan.”
“Ah, kamu ini. Lalu gudang sudah kamu bersihkan?”
“Belum Tuan.”
“Belum sama sekali?”
“Iya, Tuan.”
“Kamu itu gimana sih, khan sudah saya bilang kalo itu mesti cepat dibereskan.”
“Iya, Tuan.”
“Lalu, pipa air wastafel di kamar mandi di dalam kamar no. 3 sudah diberesin?”
“Belum Tuan.”
“Kenapa belum? Khan saya sudah bilang sejak hari pertama kamu kesini.”
“Saya sudah lihat dan periksa Tuan. Untuk betulin itu nggak perlu waktu lama. Tapi setelah itu saya sibuk ngerjain yang lain dulu Tuan.”
“Ah, kamu ini. Padahal sudah sempat periksa, kenapa nggak sekalian dibenerin, gitu loh? Perlu berapa lama kamu untuk beresin itu?”
“Eeer, paling sejam Tuan.”
“Ya udah kalo gitu, hari ini juga kamu beresin. Kalo belum beres, saya nggak akan kasih bayaran hari ini, sampai kamu selesai beresin. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
“OK, kalo gitu kamu kerjain sekarang juga.”
“Ehm, anu Tuan, saya sedang gergaji kayu yang Tuan suruh kemarin pagi. Saya terusin itu dulu ya. Tanggung soalnya. Biar selesai seperti yang Tuan bilang tadi.”
“Hah?! Yang itu belum juga selesai? Ah, kamu ini betul-betul payah kerjanya! Ya udah kamu boleh kerjain itu dulu, tapi ingat, pipa air wastafel harus beres hari ini juga. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
“Ya udah kamu kerja sekarang juga.”
“Iya, Tuan.”
“Sebentar. Kalo kamu betulin pipa air di kamar itu, sekalian juga kamu bersihkan kamar itu kalau-kalau ada jaring laba-laba yang menempel di atap. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
Kemudian Sarmin meninggalkan ruangan kerja itu dan berjalan menuju ke tempat ia menggergaji kayu itu. Saat itu ia berjalan melintas ruang tengah dimana Liani berada. Saat ia melewati Liani yang sedang duduk nonton TV, ia berkata,” Permisi, Non.” Kemudian ia berjalan ke tempat penggergajian itu dan mulai menggergaji.

Saat itu Liani merasa terganggu dengan suara gergajian itu, sehingga setelah film kartun yang ditontonnya habis, ia meninggalkan ruang itu dan duduk di ruang tamu depan. Sesaat setelah itu, ia ingin merendam tubuhnya di bak jacuzzi. Apalagi saat itu sedang hujan deras. Sehingga dingin-dingin begini, tentu enak sekali merendam tubuh di air panas sambil tubuhnya dipijit-pijit semprotan air jacuzzi itu. Sehingga masuklah ia ke kamarnya. Lalu ia mengisi bak jacuzzinya itu. Sambil menunggu agak penuh, ia duduk dulu di kursi yang besar dan empuk sambil menonton TV.

Setelah itu diintipnya kedalaman air bak jacuzzi-nya itu. Setelah dirasa cukup penuh, segera ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Namun sebelum itu, tentu dikuncinya terlebih dahulu pintu kamarnya itu. Ia masuk ke dalam kamar mandi itu. Tubuhnya telanjang bulat. Puting payudaranya nampak menonjol. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul di antara kedua pahanya. Ia membuka kran shower untuk membilas tubuhnya dulu sebelum masuk ke dalam bak jacuzzi. Ia sengaja menggunakan air dingin. Brrr, dirinya agak gemetaran karena kedinginan. Sampai-sampai kedua putingnya yang kemerahan jadi perky banget dan makin menonjol karena terkena suhu air yang dingin itu. Bulu-bulu vaginanya yang sebelumnya menyembul saat kering, kini jadi mengempes dan menempel ke kulit tubuhnya karena terkena siraman air shower itu. Setelah cukup merasa kedinginan, lalu ia memasukkan satu kakinya ke dalam bak itu, diikuti dengan kaki satunya lagi. Setelah itu ia duduk di dalam bak besar itu sehingga kini tubuhnya terendam semua sampai sebatas leher bagian bawah. Hmm, sungguh nikmat sekali perubahan sensasi dari rasa kedinginan langsung menjadi hangat. Dan semprotan air jacuzzi itu menyemprot ke beberapa tempat di pinggang dan punggungnya yang putih bersih. Hmm, nikmat sekali rasanya, bagaikan dipijit-pijit. Beberapa saat lamanya ia berendam dalam posisi itu. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya. Kini bagian depan tubuhnya yang terkena semprotan jacuzzi itu, yang mengenai beberapa bagian di perut dan payudaranya. Hmm, asyik deh. Kemudian ia menaikkan tubuhnya sehingga dalam posisi berlutut di depan semprotan jacuzzi itu. Kini semprotan itu mengenai bagian bawah tubuhnya, kedua pahanya serta perut bagian bawahnya. Tentunya dadanya yang telanjang kini di atas permukaan air. Sewaktu direndam di air panas tadi, puting payudaranya agak mengempes masuk ke dalam. Namun setelah kini terkena udara bebas yang lebih dingin dari sebelumnya, kedua putingnya kembali jadi perky lagi dan lebih menonjol dibanding sebelumnya. Setelah itu ia kembali merendam seluruh tubuhnya di bawah permukaan air. Kali ini dimatikan semprotan jacuzzi itu dan dibiarkan permukaan air stabil dan suhu air itu secara perlahan-lahan menjadi dingin. Sesekali ia mengangkat tubuhnya keluar dari permukaan air. Setelah itu menurunkannya kembali ke bawah permukaan air. Sehingga kedua payudaranya itu bagaikan dua pulau yang timbul dan tenggelam beberapa kali di tengah-tengah laut. Saat tubuhnya diangkat di atas permukaan air, butiran-butiran air nampak menempel membasahi kulit tubuhnya yang putih mulus. Demikian pula bulu-bulu vaginanya juga timbul dan tenggelam di tengah-tengah air hangat itu. Saat di batas transisi permukaan air, bulu-bulu yang lebat itu bagaikan hutan bakau saja layaknya.

Liani membuang sebagian air yang ada dan mengisinya dengan yang baru, untuk menambah kehangatan air panas yang makin lama makin dingin itu. Setelah dirasanya pas hangatnya, ia mematikan airnya lagi. Diambilnya masker penutup mata dan dikenakannya. Lalu ia memejamkan matanya dan tiduran telentang di dalam bak besar itu. Hanya kepalanya saja yang berada di atas permukaan air. Sehingga kini ia bisa tiduran sambil merendam tubuhnya di dalam air hangat tanpa matanya harus silau karena cahaya. Oleh karena terbuai hangatnya air yang merendam tubuhnya itu tak terasa Liani menjadi ketiduran di dalam bak jacuzzi yang kini permukaannya tenang itu. Sementara itu, Sarmin akhirnya selesai juga menggergaji kayu itu. Kini ia akan membetulkan pipa air yang mampet di wastafel di dalam kamar mandi di dalam kamar yang kosong itu, seperti yang diharuskan oleh Tuannya tadi yang juga adalah Papi Liani. Dibukanya pintu kamar no. 3 yang kosong itu. Lalu didorongnya pintu kamar mandi di dalam kamar itu. Dan…
Astaganaga!!!
Seketika jantung Sarmin seolah berhenti berdetak saat ia melihat di dalam Liani sedang telanjang bulat tiduran telentang di dalam bak jacuzzi!!!

Kenapa kok bisa salah kamar gini? Ternyata hal itu bukan karena kesengajaan Sarmin. Tapi yang terjadi adalah suatu kebetulan dan kesalahpahaman belaka yang tentu hasil akhirnya sungguh menguntungkan Sarmin. Rupanya saat itu memang Liani sedang berendam di bak jacuzzi yang ada di dalam kamar no 3. Karena bak jacuzzi disini lebih besar dibanding yang di dalam kamar mandi di dalam kamarnya sendiri. Dan ia tak salah melakukan itu karena sebenarnya kamar no 3 itu boleh dikata sebagai “kamar keduanya”. Oleh karena kamar itu tak terpakai, sehingga kadang ia memakai kamar itu. Dan ia tadi juga tak salah sama sekali saat memasuki kamar ini, karena ia telah mengunci kamar itu sebelum ia melepas pakaiannya. Sedangkan ia tak mengunci dan menutup kamar mandi di dalam kamar itu, hanya mendorongnya dalam posisi tertutup tapi tak sampai dijepretnya. Karena buat apa, toh pintu kamar di luar kamar mandi telah terkunci. Satu hal yang tak diketahuinya adalah Papinya menyuruh Sarmin membereskan pipa air wastafel di kamar mandi itu saat itu juga. Karena dikiranya, tentu pipa air itu telah beres sejak kemarin-kemarin. Dan ia sama sekali tak menyangka kalau kunci kamar itu bahkan telah diberikannya kepada kacung Sarmin. Sehingga ia bisa dengan bebas membuka kamar itu. Dan Papinya Liani juga tak menyangka kalau putrinya itu bakal memakai jacuzzi di kamar itu. Karena selain kamarnya sendiri telah ada jacuzzi yang mirip juga beberapa hari sebelumnya ia telah memberitahukan kepada putrinya tentang pipa air yang rusak. Sementara Sarmin juga tak salah. Ia masuk ke sini atas dasar perintah Papinya Liani yang memarahinya karena ia masih belum juga membereskan pipa air di dalam kamar mandi yang sekarang dipakai Liani. Saat ia ingin masuk ke kamar itu, posisi pintunya terkunci. Namun ia mempunyai kunci kamar itu yang telah diberikan oleh Papinya Liani kepadanya beberapa hari lalu. Segera dibukanya kunci pintu kamar itu. Saat itu dilihatnya ada bra dan celana dalam cewek tergeletak di atas ranjang yang langsung diketahui tentu adalah milik Liani. (Tak mungkin pembantu menaruh barang-barangnya di dalam kamar itu. Lagipula milik pembantu tentu tak seindah dan sehalus itu). Namun ia tak berpikir kalau orangnya ada di dalam situ. Sampai saat ia mendorong pintu kamar mandi yang tak terkunci, dan…terlihatlah olehnya pemandangan indah yang tak seharusnya dilihatnya itu.

Kini ia bisa melihat dengan jelas Liani, anak gadis tuannya itu, dalam keadaan telanjang bulat. Wah, betul-betul untung aku. Barusan dimarahi Tuan, eh sekarang malah bisa ngelihat anak perawannya Tuan telanjang bulat kayak gini. Ah, terima kasih Tuan!! batinnya Seandainya ia tak dimarahi dan disuruhnya segera membetulkan pipa air itu, tidak akan ia mendapat rejeki seperti ini. Saat itu Liani sedang asyik ketiduran dengan penutup mata yang masih dikenakannya. Seluruh tubuhnya kecuali kepalanya terendam di bawah air. Namun permukaan air itu cukup tenang karena Liani tak bergerak sama sekali. Sehingga apa yang ada di bawahnya nampak jelas terlihat semuanya. Kulit tubuhnya yang putih mulus. Payudaranya yang indah menggiurkan berikut kedua putingnya yang kemerahan. Bulu-bulu vaginanya yang lebat itu. Dan posisi kaki Liani yang agak terbuka, sehingga Sarmin juga bisa melihat cukup jelas liang vagina Liani dan lipatan kulit di sekitarnya. Seketika hatinya dag-dig-dug dan badannya berasa panas dingin. Ia sungguh terpana menyaksikan itu. Tak pernah sebelumnya ia menyaksikan tubuh cewek telanjang secara langsung begini, apalagi ceweknya cakep seperti Liani gini! Ada beberapa menit ia menyaksikan itu. Dirinya tak berani bergerak pergi karena takut ketahuan cewek itu tapi juga tak mau bergerak pergi karena ingin lebih lama menikmati
keindahan tubuh Liani itu. Setelah itu Liani sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya, menaik turunkan tubuhnya. Yang mana membuat Sarmin makin mupeng karena payudara Liani ikut bergerak-gerak. Namun setelah itu karena takut ketahuan kalau gadis itu mendadak bangun dan mendapati dirinya memelototinya, akhirnya ia meninggalkan kamar mandi itu dan menutupkan kembali pintunya ke posisi semula. Dan ia segera menutup kembali pintu kamar itu dan menguncinya.

“Sarmiiiin!”
“Iya, Tuan.”
“Kamu sudah selesai menggergaji kok nggak langsung membetulkan pipa air mau tunggu apa lagi?”
“Eh, anu, anu, Tuan..”
“Anu, anu apa? Mau alasan apa lagi kamu, hah?”
“Eh, itu, di-didalam ada..”
“Udah jangan banyak alasan. Ayo cepat kerjakan!”
“Ba-baik, Tuan.”
Sarmin kembali membuka kunci kamar itu dan masuk ke dalamnya. Ia ragu apakah ia masuk ke dalam kamar mandi itu yang mana ia tahu pasti saat itu Liani sedang berada di dalam dalam keadaan bugil. Akhirnya ia tak jadi masuk dan membersihkan atapnya dari jaring laba-laba. Apalagi saat itu ia mendengar ada suara di dalam kamar mandi itu. Sehingga tentunya Liani sudah bangun dari tidurnya. Saat itu ia dalam keadaan serba salah. Demi sopan santun, ia ingin keluar dari dalam kamar itu. Namun demi kemupengan ia juga ingin melihat pemandangan indah itu lagi, kalau pun nggak semuanya paling tidak sebagian. Lagipula khan ia disini karena disuruh oleh tuannya. Jadi bukan salahnya juga. Selagi ia berpikir itu, saat itulah pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah Liani. Namun ternyata Liani keluar dari kamar mandi itu dalam keadaan tanpa selembar benang pun!
“EEhhh!” seru Liani kaget melihat Sarmin ada di dalam kamar itu sementara dirinya telanjang bulat. Ia berusaha menutupi bagian-bagian penting tubuhnya. Namun sempat ada jeda sejenak dimana Sarmin bisa lagi-lagi melihat seluruhnya, kali ini lebih jelas lagi karena dipisahkan oleh udara bukan air. Setelah itu Liani menutupi tubuhnya sebisanya sambil berkata,
“Keluar kamu!”
“Iya Non,” katanya tapi tak bergerak karena terpana.
“Ayo cepat!”
“I-iya Non. Ma-maaf,” katanya terbata-bata sambil turun dari tangga dan keluar dari kamar itu.
Liani segera mengunci pintu kamar itu setelah Sarmin keluar, dan mengenakan kembali pakaiannya satu-satu.

Setelah itu ia memanggil Sarmin kembali. Sebenarnya ia merasa malu luar biasa karena kacung itu baru saja melihatnya telanjang bulat. Apalagi ia curiga jangan-jangan kacung itu juga telah mengintipnya sejak tadi-tadi dimana ia sedang ketiduran di dalam bak jacuzzi itu. Dan ia juga takut jangan-jangan kacung itu telah memotretnya saat dirinya telanjang. Karena itu, ia harus mengetahui kejadian sebenarnya sehingga rasa malu itu ditahannya.
“Sarmin, sini kamu,” katanya.
“I-iya Non.”
“Kamu kok bisa ada di dalam kamar tadi?”
“Eh, anu Non, saya tadi disuruh Tuan membetulkan pipa air di wastafel dalam kamar mandi. Saya dikasih kunci kamar ini. Dan saya nggak tahu kalo di dalam ada Non. Kirain kamar ini kosong.”
“Kamu sudah berapa lama masuk tadi?” selidiknya.
“Eh, anu Non, sa-saya baru saja masuk tadi.”
“Kamu jangan bohong!”
“Eh, i-iya Non beneran kok.”
“Kamu tadi masuk ke kamar mandi ya?” selidiknya lagi.
“Ng-nggak Non. Saya barusan dateng waktu ngeliat Non keluar tadi.”
Muka Liani seketika jadi merah mendengar itu. Ia merasa malu sekali. Tapi ditahannya sekuat tenaga.
“Beneran kamu tadi nggak masuk ke kamar mandi?”
“Iya, beneran Non.”
“Ya udah, aku percaya. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Awas kalo kamu bilang.”
“I-iya baik Non.”
“Terutama jangan bilang ke Papi. Kalo sampai tahu, kamu bisa dicincangnya habis, tahu.”
“Iya, saya ngerti Non.”
“ya udah, sekarang kamu boleh ngerjain di dalam kamar mandi.”
“Baik Non.”

Beberapa saat kemudian…
“Tuan, wastafelnya sudah dibetulin,” kata Sarmin.
“Nah, gitu dong kalo kerja. Masa tiap kali harus dipaksa.”
“Ini, upah kamu hari ini, sekarang kamu boleh pulang.”
“Oh, terima kasih, Tuan,” kata Sarmin. Hari itu ia serasa mendapat upah ganda.
Sejak hari itu Sarmin masih bekerja di rumah itu dua hari lagi namun ia tak pernah melihat Liani lagi. Sepertinya Liani sengaja menghindari tak ingin bertemu dengannya. Tentunya ia masih malu karena dirinya dilihat dalam keadaan telanjang bulat oleh kacung itu. Apalagi ia tak begitu yakin kalau sebelumnya Sarmin tidak masuk ke kamar mandi dan melihatnya lebih lama saat ia tidur dalam keadaan bugil itu.
Yang pasti malam itu si Sarmin menggesek-gesek penisnya, sampai akhirnya, crottzz. Yang dibayangkannya siapa lagi kalo bukan Liani!

—@@@@@@@—–

Di kantor A-lok…

“Bagaimana Pak Pur, sudah mendapat informasi tentang ketiga cewek itu?” tanya A-lok kepada Purwanto,” Waktu kita tinggal hari ini. Kalau sampai malam ini kita tidak berhasil menyuguhkan “barang” yang disukai Pemeras Miskan itu, bisnis kita bisa kacau balau.”
“Tidak perlu khawatir Pak A-lok. Saya sudah menyuruh orang-orang yang handal untuk menyelidiki tentang ketiga cewek muda itu. Dan, hasilnya sungguh menggembirakan. Karena satu diantara tiga cewek itu ternyata kehidupannya tidak sebersih seperti apa yang terlihat. Dan kita bisa memanfaatkan cewek itu untuk disuguhkan kepada Si Pemeras itu. Sehingga kita bisa menyenangkan hati Si Pemeras itu sambil sekaligus kita buat Si Pemeras itu menjadi takluk di tangan kita sehingga ia tidak akan berani bersikap mentang-mentang seperti sekarang ini.”
“Wah, bagus, bagus. Tapi betul-betul akuratkah sumber informasi Pak Pur itu? Ingat, operasi ini harus berhasil. Kalau kita sampai kecolongan, sekalipun si Pemeras itu tidak melakukan ancamannya, tapi kepercayaannya terhadap kita jadi pudar. Akibatnya sungguh tidak bagus bagi bisnis kita di masa depan. Oleh karena itu tidakkah sebaiknya Pak Pur siap-siap menghubungi semua mucikari top yang ada, untuk berjaga-jaga kalau-kalau sampai kita tidak berhasil memakai yang satu itu.”
“Hmm, menurut saya hal itu sama sekali tidak perlu,” kata Pak Purwanto sambil tersenyum. “Orang yang melakukan penyelidikan ini betul-betul bisa diandalkan dan informasi yang saya dapatkan ini betul-betul akurat dari sumber pertama yang sangat bisa dipercaya. Oleh karena itu, serahkan semuanya kepada saya. Bapak tinggal tahu beres saja. Dan kalau berhasil, saya harap Bapak jangan lupa memberikan bonus khusus kepada saya.
“Hahaha, beres, beres. Untuk hal itu Pak Pur tak perlu khawatir. Anda telah mengenal saya sekian lama. Tentu anda tahu bahwa saya adalah seorang yang murah hati terhadap orang-orang yang berjasa besar. Tinggal Pak Pur sebutkan saja apa yang anda minta. Hehehe.”
“Hahaha, ya saya tahu Pak A-lok adalah orang yang sangat murah hati. Oleh karena itu, saya juga senang bekerja dengan Pak A-lok. Mengenai hadiah apa yang saya minta, lebih baik saya sebutkan nanti saja, setelah operasi ini berhasil.”
“Bagus, bagus, kalau begitu, saya tidak perlu khawatir lagi. Saya tahu Pak Pur tidak seperti Supartono gebleg itu. Hmm, omong-omong, ketiga cewek ini sama-sama cantik, sexy, dan menggairahkan, dengan daya tariknya yang khas masing-masing. Tapi semuanya kelihatan seperti cewek baik-baik dan dari golongan elit. Karena itu, saya jadi penasaran, cewek yang mana yang menurut Pak Pur bisa “dipake” itu?”
“Ini…” kata Pak Purwanto sambil menunjuk foto cewek itu.
“Hah? Benarkah?!”
Pak Purwanto menggangguk dengan penuh percaya diri sambil tersenyum.
“Kalau begitu, tolong sekalian Pak Pur arrange buat saya sendiri tiga hari lagi. Kalau mau, Pak Pur boleh memakainya besok atau lusa.”

—@@@@@@@—–
Di berbagai tempat yang berbeda…

Handphone Liani tiba-tiba berbunyi, ternyata ada sms masuk. Bunyi pesannya singkat saja,”Nanti malam jam 7. Confirm.” Segera Liani membalasnya dengan lebih singkat lagi,”OK”.
Henny membuka pintu mobil dan duduk di bangku belakang mobilnya yang dikendarai oleh supirnya, Kosim. “Langsung pulang ke rumah Non?” tanyanya.
“Mampir ke hotel dulu,” kata Henny.
Fanny mencoba gaun pesta mahal yang baru dibelinya. Saat itu handphone-nya berdering. Kemudian terdengar ia berkata,”Sip deh, jangan kuatir. Gua pasti datang. Gua udah beli gaun buat pesta lu kok.”

—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…

“Pak A-lok, semuanya sudah confirm. Dia akan datang tepat jam 7 malam di hotel XYZ kamar 777 tempat Pak Miskan menginap. Selain itu ada permintaan khusus dari Pak Miskan yaitu DIA harus memakai pakaian pesta yang mewah dan elegant, yang juga sudah saya sampaikan ke dia. Di samping itu juga saya sampaikan pesan rahasia ke dia, khusus untuk menjebak si Pemeras itu. Jadi Bapak jangan kuatir. Semuanya sudah diatur beres,” kata Purwanto melapor ke bossnya.

—@@@@@@@—–
Di hotel XYZ…

Saat itu pukul 6.50 petang. Di lobby hotel itu banyak orang-orang yang memakai pakaian resmi untuk kaum cowoknya dan pakaian pesta untuk ceweknya. Karena mereka akan menghadiri resepsi pernikahan di hotel bintang lima itu, yang di undangannya ditulis pukul 19.00. Namun namanya pesta seperti ini, tentu mulainya juga molor. Pada saat itu lift dari tempat parkir mobil berbunyi dan pintunya terbuka. Sehingga keluarlah beberapa orang dari lift tersebut masuk ke ruangan lobby. Diantara mereka ada seorang gadis cantik mengenakan pakaian pesta yang elegant dan sepertinya harganya pun juga cukup mahal sambil membawa tas bawaan yang juga bikinan merk mahal dan terkenal. Pada saat gadis itu memasuki ruangan lobby, banyak pandangan orang-orang yang beralih menatap gadis itu. Karena ia memang seorang gadis yang cantik. Apalagi dengan dandanan yang juga elegan namun tidak kampungan itu. Dan usianya pun juga masih muda sekali, sekitar 18 tahun. Sehingga ia adalah bagaikan bunga harum semerbak yang masih segar karena baru saja mekar. Kulitnya putih. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Pakaian pestanya yang terbuat dari bahan tipis dan halus membuatnya mengikuti lekuk liku tubuhnya. Tubuhnya langsing. Pinggangnya ramping. Pinggulnya nampak menonjol. Demikian pula dadanya. Apalagi belahan lehernya agak rendah, menunjukkan belahan atas payudaranya, yang sungguh membuat penasaran kaum cowok. Gaun pestanya itu, bagian pinggul ke bawah agak tipis menerawang. Sehingga samar-samar nampak siluet indah kedua kakinya di balik gaun itu. Gerak-geriknya pun juga santun dan elegan. Ia tersenyum manis sambil berkata,” Thank you,” saat tadi seorang cowok bule  menahan pintu lift dan memberinya jalan untuk keluar terlebih dahulu. Sungguh ia adalah seorang gadis yang cantik sekaligus sexy menggairahkan. Dan gadis ini adalah si DIA yang dikirim oleh A-lok untuk memuaskan dahaga birahi Pak Miskan demi bisnisnya.

Gadis itu masuk ke toilet dulu, memeriksa segala sesuatunya. Tak lama kemudian ia keluar dari toilet itu. Saat itu pukul 6.55. Kemudian ia menuju ke tempat in-house phone. Diangkatnya gagang telpon itu, dan ia minta disambungkan ke kamar 777. Tedengar suara Pak Miskan dari ujung sana.
“Selamat malam Pak. Saya sudah di lobby. Saya tidak bisa naik ke atas karena lift-nya perlu access card.”
“Oh, silakan minta bantuan front desk, biar saya yang bicara dengan mereka.”
Tak lama kemudian, salah seorang petugas hotel membantu gadis itu naik lift dengan memasukkan access card dan menekan angka 7. Lift itu berhenti di lantai 7. Dan keluarlah gadis itu. Ia berjalan menuju ke kamar 777. Sesampainya di depan pintu, ditekannya bel di dekat pintu masuk.
Ting-tong.
Terdengarlah suara kunci dibuka dan, terbukalah pintu itu. Pak Miskan berdiri sambil mengenakan piyama tidur yang disediakan di kamar hotel tersebut.
“Oh, ternyata kamu! Mari silakan masuk. Saya sudah menunggu kamu sejak tadi,” kata Pak Miskan.
Setelah gadis itu masuk, Pak Miskan segera menutup pintu itu dan menguncinya kembali. Sehingga kini ia hanya berdua bersama dengan gadis idamannya itu. Sebelumnya ia telah diberitahu bahwa satu diantara ketiga gadis itu akan datang dan “menghiburnya”. Namun ia sengaja tak ingin diberitahu, siapa diantara ketiga gadis itu yang akan datang. Hal itu untuk menambah excitement suasana yang tentu nantinya akan berimbas positif ke atas ranjang. Apalagi baginya, ketiga gadis itu punya daya tarik yang berbeda satu dengan lainnya sehingga siapa pun diantara ketiga gadis itu tidaklah terlalu jadi masalah. Namun kini, melihat gadis ini yang datang, sungguh gadis inilah yang paling tepat untuk menemaninya malam ini. Ia membayangkan permainan yang bakalan berlangsung seru!

—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…

“Saya masih penasaran, bagaimana Pak Pur bisa memastikan bahwa cewek itu ternyata bispak? Lalu bagaimana dengan kedua cewek lainnya?”
“Hahaha. Baik, karena Pak A-lok penasaran. Akan saya jelaskan semuanya. Pak A-lok tentu kurang lebih mengenal cewek ini,” kata Pak Purwanto menunjuk satu foto.
“Ah siapa ya, sepertinya saya pernah lihat cewek ini.”
“Coba perhatikan baik-baik. Memang foto ini kurang jelas. Dan pengambilannya pun kurang baik. Sehingga foto ini jauh lebih jelek dibanding orang aslinya. Tapi kita pernah bertemu langsung dengan dia. Ia adalah putri pengusaha kaya.”
“Ah ya, saya ingat sekarang. Bukanlah dia adalah Liani, putri Pak …?”
“Betul sekali.”
“Tapi kenapa Pak Pur sekarang membahas dia. Bukankah sebelumnya Pak Pur menunjukkan yang ini?” tanya A-lok menunjuk foto cewek lain. “Lalu yang mana yang benar, apakah Liani atau dia?” tanyanya lagi.
“Maksud saya menunjuk Liani ini untuk menjelaskan bahwa ia adalah betul-betul putri pengusaha kaya raya. Maaf Pak, terus terang, perusahaan ayah Liani ini lebih besar dibanding kita. Sehingga tentu ia harus dicoret dari daftar cewek yang mau dibayar untuk dipake gituan. Dan, for your info Pak, waktu itu, Si Supartono tolol itu main tembak langsung ke Liani ini. Untung hal ini tak menjadi insiden yang berkelanjutan. Seandainya hal ini sampai ke telinga ayahnya tentu kejadian itu bakal menyulitkan kita semua.”
“Memang Supartono itu orangnya kurang bisa diandalkan,” kata A-lok agak geram,”Ok balik lagi ke hal tadi, bagaimana Pak Pur bisa membujuk cewek itu untuk menemani Pak Miskan?”

“Bagaimana saya bisa membujuknya? Hehehe. Hal itu sama sekali tak perlu Pak. Karena cewek ini memang kerjaannya adalah cewek panggilan! Tapi ia bukanlah cewek panggilan biasa. Namun cewek panggilan yang super high class. Ia bekerja secara part time karena sehari-hari ia adalah murid SMU … (SMU yang terkenal di kota itu). Jam kerjanya pun juga ia yang tentukan sendiri. Sehingga tidak ada yang menyangka kalau ia adalah cewek panggilan kelas atas. Apalagi prestasi sekolahnya juga cukup menonjol. Ditambah lagi ia berkedok sebagai anak pengusaha kaya. Padahal sebetulnya orang tuanya bukanlah orang kaya. Ia mendapatkan uang banyak ya dari penghasilan kerja part time-nya itu. Karena tarif standardnya untuk short time adalah 10 juta dan 20 juta untuk overnight. Sehingga hanya orang-orang kelas atas saja yang bisa memakai jasanya. Namun ia cukup professional dalam bekerja. Sekali ia commit untuk transaksi, maka ia akan melayani orang itu dengan sungguh-sungguh termasuk datang tepat waktu. Sehingga tingkat kepuasan orang yang pernah memakai jasa dia tinggi sekali. Untuk transaksi malam ini, kita membayar dia 15 juta untuk sekali kencan (short time) dengan Pak Miskan, alasannya karena pemberitahuan yang terlalu mendadak, ditambah adanya permintaan khusus. Plus 40 juta untuk menjalankan misi rahasia kita. Karena ia tahu bahwa kita bisa mendapat keuntungan ratusan juta atau malah milyaran dengan hal itu.”

“Wah, betul-betul dia adalah cewek dengan naluri bisnis yang tinggi. Tak heran kalau ia tergolong sukses dengan profesinya, apalagi usianya masih sangat muda,” kata A-lok meski agak kecut mengeluarkan uang sebanyak itu untuk transaksi semalam yang tak dinikmatinya tapi mau tak mau memuji kelihaian cewek muda itu,” Tapi Pak Pur masih belum menceritakan, bagaimana tahunya kalau ia adalah cewek panggilan?”
“Sekitar dua tahun lalu saat cewek itu berumur 16 tahun, ia mulai dipelihara oleh seorang konglomerat terkenal di ibukota. Saat itu segala kebutuhannya dicukupi, dari rumah, mobil, uang saku, baju, dll. Namun belakangan konglomerat itu makin jarang datang ke dia. Sehingga kini, selain ia masih jadi peliharaan konglomerat itu, juga ia bekerja sambilan secara part time. Jadi ia punya dua sumber penghasilan yang cukup besar. Nah, kebetulan, saya punya kontak dengan mantan sopir konglomerat itu dan seorang pelanggan yang pernah menggunakan jasa dia. Jadi saya tahu persis kalau dia adalah cewek panggilan yang bisa dipake asalkan harganya tepat,” kata Pak Purwanto.
“Wah, anda betul-betul hebat. Sungguh saya kagum dengan hasil kerja Pak Pur. Hahahaha,” kata A-lok sambil tertawa.
“Dan cewek ini,”lanjut Purwanto sambil menunjuk salah satu foto cewek itu,”Namanya adalah Henny. Ia adalah putri seorang pengusaha juga, yaitu Pak …. Sama seperti Liani, cewek ini tak bisa dibayangkan mau dibayar untuk melakukan gituan. Sehingga kalau Pak Miskan bermimpi untuk tidur dengan satu dari dua cewek ini, sebaiknya ia terus menerus bermimpi. Karena kedua cewek ini betul-betul bersih.
“Sementara cewek panggilan kita ini bernama Fanny. Ia berkedok bahwa orang tuanya adalah pengusaha kaya dari luar pulau. Padahal sebenarnya ayahnya adalah seorang pegawai biasa. Dia inilah yang kini sedang menemani Pak Miskan.

—@@@@@@@—–
Di hotel XYZ…
Fanny
fanny

Memang cewek yang menemui Pak Miskan itu adalah Fanny adanya. Saat itu ia duduk di tepi ranjang yang lebar itu. Dan Pak Miskan duduk di sebelahnya. “Iih, kamu cantik sekali deh,” kata Pak Miskan sambil memegang dagu Fanny.
“Aiihh, Bapak bisa aja,” kata Fanny dengan manja.
“Betul saya nggak bohong. Ditambah kamu juga menggairahkan sekali,” kata Pak Miskan tertawa dengan jelek sambil meraba tubuh cewek itu.
“Ah, Bapak,” kata Fanny tersipu malu.
Pak Miskan saat itu sungguh terangsang banget dengan Fanny. Wajahnya yang cantik eksotis, tubuhnya yang sexy dengan dadanya yang menonjol seolah menantang kejantanan dirinya. Penampilannya yang elegan dengan riasan wajah dan pakaian pesta yang dikenakan cewek itu memberikan kesan bahwa cewek itu tentu putri anak orang kaya yang bukan cewek sembarangan. Namun kini, cewek itu bakal dilahap dan dikuasainya bulat-bulat. Sehingga ia merasa sebagai orang yang super hebat. Karena hanya pria hebatlah yang bisa menaklukkan cewek sekelas Fanny begini. Setelah itu ia tak memberi kesempatan Fanny untuk bersantai-santai, karena ia langsung take action. Direngkuhnya tubuh Fanny disebelahnya dan diciumnya bibirnya. Fanny tentu tak melawan. Dibiarkannya bapak setengah tua yang berwajah jelek dan berkulit hitam itu menikmati bibirnya. Pak Miskan yang merasakan hangatnya bibir Fanny jadi makin nafsu. Dijelajahi seluruh bagian bibir Fanny. Sementara kedua tangannya meraba-raba sekujur tubuh Fanny.

Setelah puas menikmati bibir Fanny, Pak Miskan menghentikan ciumannya. Tangan kirinya memeluk bahu Fanny. Tangan kanannya bergerilya kesana-kemari. Pak Miskan mulai meraba dada Fanny yang menonjol itu. Jarinya bergerak mengikuti belahan leher gaunnya. Sehingga jarinya meraba-raba bagian atas dada cewek yang putih itu. Lalu jarinya berhenti di tengah-tengah. Tepat di lekukan diantara belahan dadanya. Kini jarinya bergerak naik turun mengikuti celah lekukan itu. Setelah itu turun lebih ke bawah lagi. Sampai jari-jari tangannya itu menyusup masuk ke dalam gaun pestanya. Di dalam gaun itu, jari-jari tangannya meraba dan meremas-remas dada kiri dan kanan Fanny. Kemudian ia menikmati bibir Fanny sambil tangannya terus memainkan payudara cewek itu. Pak Miskan melepas ciumannya. Tangannya dikeluarkan dari gaun cewek itu, dan berpindah ke paha cewek itu. Sambil meraba-raba paha cewek itu makin lama makin naik ke atas, disusupkannya di balik rok gaun itu. Sampai tangannya meraih apa yang diinginkannya, yaitu daerah vagina cewek itu. Diraba-rabanya celana dalam gadis itu. Terutama di bagian tengah diantara kedua paha, tempat liang vagina cewek itu. Tepat disitu, jarinya ditekan ke dalam sampai agak masuk ke dalam.
“Aah,” Fanny mengeluarkan seruan tertahan.
Dan bagian itu digesek-geseknya.
“Ahh….ahhh…..ahh…..”
“Enak sayang?” tanya Pak Miskan sambil terus menggesek-gesekkan jarinya di balik gaun pesta mahal itu. Ia makin mendekatkan tubuh cewek itu ke dirinya, sehingga tangan kirinya yang tadi memeluk bahu cewek itu kini bisa merengkuh dada cewek itu. Kembali ia meraba-raba dan meremas-remas dada Fanny. Sambil menciumi leher putih dan rambut ikal panjang serta harum itu. Sembari terus menggesek-gesek liang vagina gadis itu dengan tangan kanannya.

Setelah itu Pak Miskan melepaskan grepe-grepeannya. Ia menyuruh Fanny berdiri dan melepas sepatu pestanya yang mahal itu. Ia sendiri juga berdiri. Tangannya merengkuh punggung gadis itu. Dibukanya retsleting gaun itu. Kedua tangan Fanny dikeluarkan dari gaun itu. Dan, gaun indah yang sebelumnya begitu elegan menempel di tubuh sexy gadis itu, seketika melorot ke bawah, dan kini hanya jadi seonggok kain yang tergeletak di lantai di sekitar telapak kaki gadis itu. Dan kini, yang nampak adalah tubuh sexy Fanny yang semakin jelas ke-sexy-annya. Apalagi bra dan celana dalam yang dikenakan gadis itu berwarna merah menyala. Sungguh kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Dan warna merah menyala itu semakin membakar nafsu kejantanan Pak Miskan. Hal itu terbukti dengan tindakannya yang langsung merogoh bra merah itu dan segera melepaskan kaitannya. Tanpa basa basi lagi, diloloskannya bra merah itu dari tubuh gadis putih mulus itu. Dan, wow! Pak Miskan terpana dengan payudara Fanny yang terbuka bebas itu. Keduanya membusung dan padat berisi serta menantang. Putingnya berwarna coklat muda. Keduanya menonjol nampak begitu sensitif. Dengan penuh nafsu direngkuhnya dada yang terbuka menantang itu dengan kedua tangannya. Segera tangannya meremas-remasnya, meraba-rabainya terutama putingnya. Lalu dengan rakus mulutnya menjilati payudara putih Fanny. Dihisap-hisapnya, terutama putingnya. Dikenyot-kenyotnya. Saking nafsunya sampai suara kecapan mulutnya terdengar cukup keras. Ujung lidahnya menggerak-gerakkan puting coklat muda itu.  Lalu diemut-emut lagi payudara putih itu. Sambil tangan kanannya menyusup ke dalam celana dalam merah Fanny. Dirasakan bulu vaginanya yang cukup lebat. Lalu tangannya merayap ke bawah lagi, diantara kedua paha. Jarinya digesek-gesekkan di liang vagina cewek itu. Lalu celana dalam merah itu diturunkannya dengan kedua tangannya. Sehingga kini Fanny telanjang bulat. Kecuali kalung emas dengan mata kalung batuan Ruby yang besar serta arloji di tangan kirinya, tidak ada lagi apapun yang melekat di tubuhnya.

Pak Miskan melepas ikatan pakaian tidur yang dipakainya dan segera melepaskannya. Kulit badannya sawo matang. Ia hanya memakai celana dalam saja. Nampak ada tonjolan besar di dalamnya. Lalu ia menunjuk bagian bawah tubuhnya itu kepada cewek itu. Fanny tentu mengerti isyarat itu. Segera ia berlutut di depan Pak Miskan. Kedua tangannya yang halus meraih celana dalam Pak Miskan dan menurunkannya. Penisnya yang hitam dan besar seketika mengacung ke atas. Mulut Fanny mengemut buah zakar Pak Miskan. Lidahnya ditekan-tekan ke buah zakar itu. Lalu diemut-emut lagi. Kemudian lidahnya merayap naik, menjilat batang penisnya, dari pangkalnya sampai ke ujung. Ehmm! Dijilatnya lagi, lagi, dan lagi.
Ohh! Pak Miskan melenguh nikmat .
Lalu Fanny mengulum batang penis itu dan mengocok di dalam mulutnya.
Shleeb shleeb shleeeb.
Lidahnya menjilat-jilat melingkar-lingkar di kepala penisnya yang tersunat.
Emhhh! Emhhhh! Pak Miskan merasakan nikmat luar biasa saat gadis muda dan cakep itu berlutut di depannya dan mengemut-ngemut penisnya. Hampir saja ia “keluar” kalau tidak cepat ditahannya. Lalu mereka berdua duduk di tepi ranjang. Kembali mulut Pak Miskan menikmati payudara Fanny. Kedua tangannya meraba-raba tubuh putih dan mulus itu. Dirasakannya betapa halusnya kulit tubuh cewek itu. Kembali ia menyuruh Fanny bersimpuh di depannya supaya cewek itu meng-oralnya. Yang segera dilakukan Fanny dengan patuh. Ia bersimpuh di depan Pak Miskan. Tubuhnya membungkuk, kepalanya bergerak naik turun, mulutnya mengulum-ngulum penis hitam Pak Miskan. Pak Miskan memegang rambut kepala Fanny dan menggerak-gerakkan kepala cewek itu supaya ia terus mengulum-ngulum penisnya.

Pak Miskan menyuruh Fanny berbaring di ranjang, telentang. Kembali Pak Miskan memainkan dada cewek itu dengan tangannya, dilanjutkan dengan mulutnya mengenyot-ngenyot dan menyedot-nyedot payudara yang menggiurkan itu. Sambil tangannya juga menggesek-gesek vagina cewek itu. Setelah itu gantian Pak Miskan yang telentang di ranjang. Dan ia menyuruh Fanny mengemut penisnya. Sehingga lengkaplah Pak Miskan mengenyot-ngenyot payudara Fanny dalam posisi berdiri, duduk, dan tidur. Demikian pula sebaliknya, penisnya diemut-emut oleh Fanny dalam posisi berdiri, duduk, dan kini tidur. Setelah itu Fanny menghentikan emutannya. Pak Miskan menyuruhnya untuk “naik” diatas tubuhnya. Fanny mendekatkan vaginanya di atas penis Pak Miskan. Lalu, dengan menggunakan berat tubuhnya, bleeess, kini penis Pak Miskan telah berada di dalam vagina Fanny. Kini Fanny menaik-turunkan tubuhnya.
“Oohhh, ohhhhh, ohhhhhh….” Fanny mendesah-desah seiring dengan gerakan tubuhnya itu.
Payudaranya bergoyang-goyang naik turun. Tangan Pak Miskan merengkuh payudara itu meremasnya dan meraba-rabanya.
“Oohhh, ohhhhh, ohhhh, ohhhhhh…..”
Pak Miskan menghentikan gerakan cewek itu. Kini berubah posisi. Fanny dalam posisi telentang. Giliran dia yang menyetubuhi gadis itu dalam posisi missionaris.
“Ooohhhh, ohhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh….”
Setelah itu ganti posisi ke doggy style. Disuruhkan Fanny menungging di depan cermin besar. Dan, disodoknya cewek itu dari belakang.
“aaahhh, ahhhhhh, aaahhhhh……”
Dari pantulan cermin terlihat payudara Fanny berguncang-guncang akibat sodokan-sodokannya itu. Kedua tangan Pak Miskan meremas-remas payudara montok yang terguncang-guncang itu.

Setelah itu keduanya duduk di atas ranjang. Fanny duduk dipangku diatas paha Pak Miskan dan saling berhadapan. Vagina Fanny kembali ditembus penis Pak Miskan. Fanny menaik-turunkan tubuhnya sambil mengerang-erang.
“Oohhhhhh, ohhhhhhh, ooohhhhhhhhhhh…”
Dan setelah itu berganti posisi. Fanny tiduran dalam posisi miring. Kakinya yang satu dibuka lebar-lebar ke atas. Dalam posisi itu Pak Miskan menyodoknya dari depan. Penisnya masuk menembus vagina Fanny dalam posisi saling silang tegak lurus. Itulah Gaya Gunting, yang mana sungguh berbeda sensasinya bagi keduanya.
“Ooohhhhhhhh, ohhhhhhh, ohhhhhhhhhhhhh……”
Fanny mendesah-desah dibuatnya.
Setelah itu Pak Miskan tiduran telentang. Fanny juga tidur telentang di atas Pak Miskan. Pak Miskan memasukkan penisnya ke dalam vagina cewek itu. Dan kembali Fanny menggerak-gerakkan tubuhnya yang telentang, mengocok penis Pak Miskan yang berada dalam vaginanya. Setelah puas dengan itu, Pak Miskan menyuruh Fanny tidur telentang. Lagi-lagi disetubuhinya gadis mulus itu dengan posisi missionaris. Dan, dipompanya penisnya di dalam vagina gadis itu.
“Oohh…oohhhhh….ohhhhhh…oooohhhhh….”
Dan setelah itu, tiba-tiba kedua kaki Fanny menjepit kedua kaki Pak Miskan sehingga tak bisa lepas. Itu adalah Jepitan Maut. Menurut desas desus, jurus ini adalah keahlian khusus dari Madura sejak jaman dahulu. Bagi pria yang telah dijepit seperti itu, hanya satu yang bisa dilakukan, yaitu menyetubuhi cewek di bawahnya dengan makin cepat dan makin semangat. Sehingga tak lama setelah itu….
Crottttz, croott, crott,…
Seluruh sperma Pak Miskan tumpah di dalam vagina Fanny. Setelah itu terkulailah ia dengan lemas di atas ranjang. Namun hatinya sungguh puas telah menikmati Fanny.

Beberapa saat kemudian, keluarlah Fanny dari kamar itu. Sesampainya di bawah, ia menelpon Pak Purwanto,”Sudah selesai Pak.”
“Gimana hasilnya?”
“Sepertinya dia puas sekali dengan service saya.”
“Bagus, bagus. Lalu tugas kamu yang satunya gimana?”
“Hal itu juga sudah saya lakukan. Ia tak tahu saya melakukan itu.”
“Hebat! Kamu betul-betul hebat. Kalau begitu, kamu tunggu saya di lobby. Sepuluh menit saya sampai disana.”

—@@@@@@@—–
Di lobby…

“Nah, ini saya kembalikan ke Bapak,” kata Fanny melepas arloji mahal di pergelangan tangannya.”Silakan diperiksa hasilnya.”
Pak Purwanto menerima arloji itu namun pandangan matanya mengarah ke dada Fanny. Dada itu begitu indah dengan bagian atas yang terbuka. Sementara itu persis di tengah-tengah gundukan gunung kembar itu terdapat mata kalung berupa batuan Ruby warna merah yang besar, yang sungguh pas dipakai gadis itu.
“Wah, betul-betul hebat. Sesuai dengan yang saya inginkan.”
“Jadi saya bisa dapatkan sisanya sekarang juga?”
“Oh, tentu, tentu. Nah ini dia, silakan diperiksa. Jumlahnya pas khan?” kata Purwanto menyerahkan selembar cek kepada gadis itu.
“Ya betul sekali. Jadi transaksi selesai? Kalau gitu saya akan pulang sekarang.”
“Oh tentu. Silakan….Oh ya, omong-omong besok malam saya perlu jasa kamu lagi.”
“Baik. Buat dia lagi?”
“Bukan. Buat saya sendiri.”

Setelah itu berpisahlah mereka. Purwanto tersenyum puas. Misinya telah berhasil dengan sukses. Pertama, ia berhasil dalam menyenangkan hati Pak Miskan. Kedua, ia berhasil membuat Pak Miskan tergantung karena tentu ia ingin menikmati Fanny lagi di kemudian hari. Ketiga, ia berhasil menjebak Pak Miskan. Di dalam kamar tadi beberapa kali Fanny mengambil foto Pak Miskan yang telanjang bulat dan sedang menyetubuhi dirinya dengan menggunakan arloji itu. Arloji itu adalah arloji canggih yang juga berfungsi sebagai kamera mini yang khusus dipinjamkan ke Fanny untuk misi itu. Meski dalam foto-foto itu tak terdapat wajah ceweknya, namun sudah cukup menunjukkan kalau Pak Miskan berbuat affair dengan wanita lain. Hal itu bisa digunakan sebagai kartu as untuk membuat Pak Miskan betul-betul tunduk terhadapnya dan A-lok. Dan keempat, ia bakalan menikmati diri Fanny yang cantik dan menggairahkan itu. Saat itu ia betul-betul puas dengan prestasi dirinya, yang dalam waktu singkat bisa dengan tepat menyelidiki dan mengatur segalanya. Sehingga kini semuanya aman dan terkendali. Setelah itu ia memberi laporan kepada A-lok bossnya itu. A-lok mendengarkan laporannya dengan gembira. Kini semuanya telah berada dalam kontrolnya. Ia sungguh puas dengan prestasi Pak Purwanto yang capable dan selalu mampu menyelesaikan hal-hal yang rumit seperti ini. Sungguh ia pantas menjadi orang kepercayaannya. Di sisi lain, ia tak ragu dengan kesetiaan Pak Purwanto. Karena, pertama, Pak Purwanto diberinya saham perusahannya cukup besar secara cuma-cuma. Dan kedua, ia memegang kartu as tentang rahasia keluarga Pak Purwanto yang adalah jaminan mutu bahwa tangan kanannya itu tak akan mengkhianatinya. Sehingga kini kedua orang itu betul-betul puas hatinya.

Namun benarkah Pak Purwanto sama sekali tak membuat kesalahan? Ternyata tidak! Karena ternyata ia membuat beberapa kesalahan. Yang pasti, hasil penyelidikannya tentang Liani kurang menyeluruh. Mungkin ia benar bahwa Liani adalah anak orang kaya yang tak bisa dibeli dengan uang. Namun, seperti yang telah kita ketahui, Liani pun juga bukan cewek yang betul-betul “bersih”. Tetapi, kekurangan penyelidikannya itu bisa dimaklumi dan dimaafkan. Karena memang tidak ada narasumber yang bisa dipercaya ditambah bukti otentik yang membuktikan kalau cewek itu “tidak bersih”. Lagipula, buat apa susah-susah menyelidiki Liani yang sukar dijangkau, sementara ada Fanny yang bisa dijangkau, asalkan harganya tepat. Kesalahan yang lebih fatal yang seharusnya tak dilakukan justru dilakukannya terhadap Fanny. Sesampainya di rumah, Fanny menaruh gaun pesta yang baru dikenakan itu dengan hati-hati. Besok akan di-laundry-nya. Ia membeli gaun itu, selain untuk memenuhi keinginan khusus Pak Miskan kliennya tadi juga untuk dipakainya di pesta ulang tahun teman dekatnya minggu depan. Setelah itu ia mengecek sebuah rekaman video dan akhirnya sampailah ia di bagian akhir, yaitu bagian dimana adanya percakapan dua orang. Percakapan itu adalah sebagai berikut,
“Nah, ini saya kembalikan ke Bapak…Silakan diperiksa hasilnya.”
“Wah, betul-betul hebat. Sesuai dengan yang saya inginkan.”
“Jadi saya bisa dapatkan sisanya sekarang juga?”
“Oh, tentu, tentu. Nah ini dia, silakan diperiksa. Jumlahnya pas khan?”
“Ya betul sekali. Jadi transaksi selesai? Kalau gitu saya akan pulang sekarang.”
“Oh tentu. Silakan….Oh ya, omong-omong besok malam saya perlu jasa kamu lagi.”
“Buat dia lagi?”
“Bukan. Buat saya sendiri.”
Ia tersenyum puas. Tak seorang pun yang mengira bahwa mata kalung batu Ruby itu adalah camcoder mini.

—@@@@@@@—–
Di apartemen…

henny“Ahhh, ahhhhh, ahhhhh.”
“plokk, plookkk, plookkk.”
“Ahhh, ahhhhh, ahhhhh.”
“plokk, plookkk, plookkk.”
Kedua suara yang berbeda itu menyatu dalam waktu yang hampir bersamaan. Itu adalah suara cewek yang mendesah-desah karena disetubuhi. Dan suara yang lain adalah suara beradunya bagian depan tubuh cowok dengan pinggul cewek, karena cowok itu mengocok penisnya ke dalam vagina cewek itu dengan cukup kencang dalam posisi doggy style. Dengan jantan cowok itu meng”overpower” cewek itu yang hanya menuruti saja apa yang dilakukan cowok itu terhadapnya. Membuat cowok itu makin bernafsu untuk menguasai cewek itu dengan mutlak. Kini tangannya meraba-raba payudara cewek itu yang menggantung ke bawah itu. Kedua tangannya menepuk-nepuk payudara cewek itu. Sehingga bertambah lagi paduan suara itu,
“plekk, plek, plekk.”
Apartemen itu adalah apartemen khusus untuk kegiatan short time seperti ini. Cara kerjanya sungguh professional dan praktis. Beberapa apartemen itu berdiri berderet. Apabila pintu garasi terbuka, artinya apartemen itu kosong dan setiap mobil yang ingin check-in bisa langsung masuk. Begitu mobil masuk garasi, petugas apartemen itu langsung menutup rolling door garasi itu. Pemilik mobil langsung membayar ke petugas itu, berapa jam yang ingin ia pakai. Setelah membayar, bisa langsung masuk ke dalam kamar dan memulai “pertempuran”. Di dalam kamar itu ada kamar mandi yang bisa dipakai dan biaya pemakaiannya telah termasuk di dalam uang sewa kamar tadi. Di kamar itu juga disediakan dua botol air mineral, kopi dan teh serta alat air panas dalam teko listrik yang gratis. Setelah selesai “bertempur”, petugas tadi membereskan ranjang, seprei, dll untuk pemakai berikutnya. Setelah itu hitungan lagi mengenai waktu pemakaian dan pembayaran. Setelah semuanya beres, rolling door dibuka, mobil keluar, dan apartemen itu siap menerima customer berikutnya.
Henny

Henny

Siapakah cewek itu? Ternyata…ia adalah Henny. Namun yang mengejutkan adalah cowok yang menyetubuhinya di belakangnya itu, karena ia adalah Kosim, supirnya! Rupanya diam-diam, Henny, putri pengusaha kaya itu telah menjalin hubungan gelap dengan Kosim, supirnya. Dan apartemen itu adalah tempat biasa mereka berkencan, seperti yang dilakukan saat ini. Entah apa yang membuat Henny tertarik kepada Kosim. Padahal ia adalah seorang cewek yang manis, lemah lembut, dan penurut. Ditambah pula ia dari keluarga kalangan berada. Sementara Kosim hanyalah seorang supir. Wajahnya tak bisa disebut cakep. Kulitnya sebenarnya sawo matang namun kini jadi makin hitam, karena sebelumnya ia pernah jadi kuli bangunan. Sehingga kontras sekali kalo dibandingkan dengan kulit tubuh Henny yang putih. Padahal di sekolahnya cukup banyak cowok-cowok cakep dan dari kalangan berada yang suka dengan dirinya. Dan hubungan gelapnya itu tak hanya sekedar main peluk atau cium saja, tapi kini terbukti telah melangkah jauh bagaikan suami istri saja. Padahal usia Henny baru 18 tahun. Cewek muda cantik lemah lembut dari kalangan berada bisa jatuh ke tangan seorang supir?! Apalagi Kosim sudah hampir 30 tahun. Dan sebenarnya ia telah berkeluarga. Namun anak dan istrinya tinggal di desa. Bisa beginian dengan Henny, tentu hal itu sungguh pelampiasan yang hebat akan hasrat seksual yang telah lama terpendam. Namun bagi Henny? Seorang anak gadis berusia 18 tahun menyerahkan dirinya dengan sukarela kepada seorang supir? Dan bagaimana kelanjutan hubungan terlarang mereka itu? Tentulah serba salah. Karena tidak mungkin Henny menikah dengan Kosim. Masa gadis muda yang cantik dan putri pengusaha kaya menjadi istri kedua seorang supir? Namun suka tak suka, kini Kosim telah mencemari putri majikannya itu. Bahkan dirinya jugalah yang telah merenggut keperawanan gadis itu. Hebatnya semuanya itu dilakukan bukan dengan paksaan, tapi gadis itu menyerahkannya secara sukarela dan menikmatinya juga. Dan pertempuran mereka hari itu diakhiri dengan Kosim berejakulasi dan menumpahkan seluruh spermanya di dalam mulut Henny yang seluruhnya ditelan oleh gadis itu. Malah setelah itu ia masih mengulum kepala penis Kosim yang disunat itu dan membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel disana. Demikianlah kenyataan yang sebenarnya. Mulutnya boleh berkata bahwa ia punya standard tinggi mengenai cowok. Namun pada kenyataannya diam-diam Henny, gadis muda cantik anak pengusaha kaya itu ternyata telah menjadi gundik supirnya!

—@@@@@@@—–
Di rumah…

Pukul 7 lewat sepuluh menit, ada sms masuk di handphone Liani, isinya,” Gua dah ada di depan.” Liani diam-diam membuka pintu pagar depan rumahnya, dan secara diam-diam pula memasukkan cowok itu ke dalam rumah. Tidak hanya itu, namun juga memasukkan cowok itu ke dalam kamar, yaitu kamar no. 3 yang wastafelnya baru dibetulin. Siapakah cowok itu? Ternyata dia adalah Rohim!
“Kok tiba-tiba lu sms gua tadi memang kenapa?” tanya Liani.
“Ya sehari-hari makan nasi gudeg, boleh dong sekali-sekali makan siomay.”
“Iiih, lu bisa aja deh,” kata Liani.
“Iya nih, gua udah lama ga makan siomay, makanya pengin banget sekarang.”
Anehnya, di dunia ini kadang bisa terjadi hal-hal secara kebetulan. Karena,
“Lianii,” terdengar suara Papinya memanggil dari luar. Untung mereka berdua telah masuk ke dalam kamar.
“Iya Pi.”
“Kamu mau siomay goreng nggak? Papi mau telpon untuk suruh anter.”
“Eh, boleh deh Pi. Aku mau dua biji.”
“OK. Kamu dimana?”
“Aku ada di dalam kamar sini.”
“Ya udah, ntar kalo udah dateng nanti Papi panggil kamu.”
“Eh, nggak usah deh Pi. Aku mau jacuzzi dulu nih. Nanti aku keluar sendiri deh.”
“OK.”
Saat itu Papinya memang sedang di rumah itu juga, ia lagi kerja di ruang kerjanya.

Setelah itu Liani mengisi air di bak jacuzzi-nya itu. Sementara itu, selagi menunggu airnya penuh…Tanpa ba-bi-bu lagi, Rohim menghampiri Liani, memeluknya dan mencium bibirnya. Liani yang memang telah mengenal cowok ini luar dalam dan telah beberapa kali melakukan hubungan intim dengannya, membiarkan saja tindakan cowok itu. Ia membiarkan cowok itu dengan penuh nafsu menjelajahi seluruh bagian bibirnya. Begitu pula saat lidah cowok itu bermain-main di dalam mulutnya. Cukup lama mereka berdiri sambil berpelukan seperti itu, sementara bibir Rohim memagut dan mengunci bibir Liani. Saat itu Liani memakai daster terusan yang tipis kainnya dan agak longgar dan punggung bagian atas terbuka. Saat Rohim memeluk punggung Liani, kedua tangannya menyentuh tali bra di punggung itu. Sambil iseng ia menggerakkan tangannya untuk melepas pengait bra di punggung cewek itu. Dan, seketika terbukalah pengait itu. Saat itu ia masih sedang asyik menciumi bibir Liani juga. Setelah ia menghentikan ciumannya dan melepaskan pelukannya dari Liani, otomatis bra yang telah terbuka kaitannya itu jadi longgar. Rohim menggoyang daster Liani satu kali…namun ternyata cukup ampuh, karena berkat goyangannya itu bra di dada Liani itu terlepas dan langsung turun jatuh ke lantai, hal ini terjadi di dalam daster longgar itu. Rohim tersenyum-senyum melihat itu.

“Wah, kok bisa gitu ya?! Hebat, hebat.”
“Apanya sih yang lucu?” kata Liani cemberut karena cowok itu seperti sengaja mempermainkan dirinya.
Namun wajah Liani yang cemberut itu makin menambah kecantikannya, apalagi kini ia sudah tidak memakai bra. Daster tipis itu mana bisa menutupi payudaranya yang indah. Di kain tipis itu tercetak kedua putingnya yang menonjol dan dadanya yang bergerak-gerak. Cewek bertampang cakep innocent namun tidak memakai bra?! Sungguh itu adalah hal yang kontradiktif dan jaminan mutu cowok yang melihatnya sudah pasti mupeng abis. Apalagi bagi cowok seperti Rohim, yang masih menganggap Liani cewek high class yang lebih tinggi derajatnya dibanding dirinya.

Saat itu Liani hendak protes dan mengatakan sesuatu, namun Rohim tak memberinya kesempatan. Karena ia segera kembali mengunci bibir cewek itu dengan bibirnya sambil tangannya mulai meraba-raba tubuh cewek itu. Sampai akhirnya disentuhnya payudara Liani. Diraba-rabanya payudara indah cewek itu yang sampai sekarang masih membuatnya tergila-gila itu. Meski tangannya masih di luar daster, tapi ia bisa merasakan kulit tubuh cewek mulus itu. Demikian pula ia bisa merasakan degup jantung cewek itu yang berdetak makin kencang. Dengan lembut diusap-usapnya dada cewek itu. Lalu tangan Rohim menyusup masuk ke dalam daster Liani. Ia melepas celana dalamnya. Kemudian ia membuka celananya sendiri dan melepas celana dalamnya juga. Lalu ia menyuruh Liani berbaring di ranjang. Namun dengan halus Liani menolaknya, ia berkata,
“Eh, airnya kayaknya udah penuh sekarang.”
“OK,” kata Rohim sambil melepas seluruh bajunya. Liani agak tersipu melihat penis cowok itu yang hitam telah menegak dengan keras. Lalu Rohim hendak melepas daster yang masih melekat di tubuh Liani. Namun Liani memprotesnya,
“Kita kesitu dulu aja,” katanya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
“Iya memang kita kesitu dulu. Tapi khan daster lu ini harus dilepas dulu,” katanya sambil kedua tangannya langsung berusaha menanggalkan daster itu dari tubuh cewek itu.
Kali ini Liani tak menolak. Dibiarkannya cowok itu melepaskan daster yang menjadi penutup tubuhnya itu. Saat itu Rohim berdiri di belakang Liani saat ia menanggalkan daster itu. Namun ia melakukan itu di depan cermin meja rias yang besar. Sehingga ia bisa melihat sedikit tubuh putih mulus Liani saat terkuak sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, gadis itu telanjang bulat tanpa selembar benang pun melekat di tubuhnya. Semuanya itu bisa dilihatnya dari pantulan cermin itu. Setelah itu ia memegang punggung gadis itu dan mendorongnya menuju ke kamar mandi. Nampak kontras sekali perbedaan tubuh keduanya. Tubuh Liani yang putih halus. Badan Rohim yang hitam dan kasar. Tubuh Liani yang ramping namun bagian-bagian tertentu menonjol dengan indah. Badan Rohim yang tegap namun rata. Puting Liani yang kemerahan di puncak payudaranya sungguh indah sekali. Bagaikan buah ceri yang ditaruh diatas ice cream vanilla. Mmmhh, sungguh lezat rasanya.

Ternyata memang benar, air jacuzzi itu telah cukup penuh. Sehingga keduanya masuk ke dalam bak besar itu untuk merendam tubuh di dalam air hangat itu. Untuk beberapa saat mereka merendam dirinya dan menikmati hangatnya air dan semprotan air jacuzzi itu, tanpa aksi apa-apa. Malah sempat penis Rohim mengendur dan kembali ke posisi “tidur”. Namun setelah itu kembali mereka berdua melakukan aksi-aksi yang hot, terutama Rohim yang dengan mudah menjadi terangsang melihat tubuh indah Liani yang telanjang bulat di dalam air. Kembali ia menciumi bibir Liani dengan penuh nafsu, dan kali ini Liani juga membalasnya dengan tak kalah hot-nya. Mereka berdua saling berpagutan di dalam kolam jacuzzi itu, dan mereka saling berciuman diatas permukaan air dan juga di bawah permukaan air. Kemudian ciuman Rohim turun ke bawah, ke leher Liani yang putih, dan turun ke bawah lagi, ke dadanya! Ia menciumi kedua dada cewek itu dengan nafsu. Apalagi Liani sengaja menaik-turunkan tubuhnya, sehingga kadang Rohim menjilati dan mengenyot-ngenyot payudaranya di bawah air. Setelah itu Rohim malah turun ke bawah, melewati perut, paha, sampai akhirnya di sekitar vagina Liani. Kembali ia menjilat-jilat liang vagina serta klitoris Liani. Dengan mudah ditemukannya klitorisnya karena sudah tak asing lagi bagi cowok berpengalaman seperti dirinya. Lagi-lagi kepala Rohim menyelam di bawah permukaan air untuk menjilati vagina Liani. Sambil secara periodik Liani mengangkat tubuh bagian bawahnya ke atas permukaan air sehingga Rohim mampu mengambil nafas, sebelum ia kembali menurunkan tubuhnya ke bawah permukaan air. Sehingga beberapa saat lamanya Rohim melakukan itu, lidah dan mulutnya tak pernah terlepas dari vagina Liani.

Kini giliran Liani yang membalas budi. Kali ini Lianilah yang mengulum-ngulum, menyedot-nyedot, dan menjilati penis Rohim. Sambil menikmati penisnya di dalam mulut Liani, Rohim memegangi kepala gadis itu. Seolah untuk memastikan cewek itu untuk terus “membahagiakan” penisnya. Sesekali kepala Liani muncul ke atas permukaan air untuk mengambil nafas, setelah itu menyelam ke dalam lagi. Namun pernah juga Liani ingin mengangkat kepalanya, namun tangan Rohim tetap memegang kepala gadis itu. Seolah memaksa cewek itu untuk terus meng-oral penisnya. Sampai akhirnya Liani memberontak dengan keras dan akhirnya berhasillah ia mengangkat kepalanya dengan napas tersengal-sengal. Demikian hal itu berlangsung beberapa kali. Rupanya Rohim sengaja menggodanya. Namun sesekali melihat Liani tersengal-sengal begitu, ia membantunya dengan memberikan napas bantuan dengan mulutnya. Setelah itu mereka berpindah posisi. Kali ini Rohim sudah tak sabar lagi untuk melahap menu utamanya. Ditidurkannya Liani telentang di dalam bak itu. Kepalanya bersandar di dinding bak itu tentunya di atas permukaan air. Sementara kedua kakinya dibuka lebar di bawah air. Lalu ia mendekatkan dirinya ke Liani yang telentang, didekatkan penisnya di depan liang vaginanya, dan bleesssh, dimasukkannya penisnya ke dalam vagina Liani di bawah permukaan air. Kemudian dikocok-kocoknya penisnya mengoyak-ngoyak vagina Liani.
“Oooh….ohhhhh…..ohhhhh…..ohhhhh….” Liani langsung mendesah-desah dibuatnya.
Lalu dicabutnya penisnya. Kedua kaki Liani diangkat keatas dan dibuka lebar-lebar, sehingga membentuk huruf V, lalu kembali dimasukkan penisnya ke dalam vagina gadis itu di bawah permukaan air dan dikocoknya tubuh gadis itu.
“OOhhhh….ohhhhhhhhh…..ooooohhhhhh……oohhhhhhhhh….” Liani mendesah-desah semakin keras. Karena dalam posisi itu, rasanya penis Rohim jadi menghunjam masuk makin dalam ke dalam vaginanya. Rohim yang melihat Liani mendesah-desah makin keras dan makin tinggi itu jadi semakin semangat menghunjam-hunjamkan penisnya. Dan gerakannya itu semakin cepat dan kuat. Sehingga seluruh tubuh Liani jadi bergoyang-goyang dibuatnya, baik yang di bawah permukaan air maupun yang di atas.
“AAhhh….aaahhhh…..ahhhhhh..aaaahhhhh…..”
“Aaahhh…aaahhhhhh….aaaahhhhhh……aaaaahhhhhh….”

Sementara pada saat itu, Papinya Liani mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.
“Lianii,” Tok-tok-tok.
“Lianii,” Tok-tok-tok.
Namun Liani tak mendengar itu karena ia sedang asyik di dalam kolam jacuzzi itu.
“Aaahhh…aaahhhhhh….aaaahhhhhh……aaaaahhhhhh….”
Sementara Rohim juga tak mendengar itu karena ia sedang asyik-asyiknya menyetubuhi Liani yang sexy dan menggairahkan itu.
“Ah, lagi ngapain sih tuh anak, masa diketuk-ketuk dan dipanggil-panggil keras-keras gini juga nggak kedengeran,” kata Papinya Liani sambil akhirnya meninggalkan kamar itu.
Tentu Liani tak mendengar ketukan dan panggilan itu, karena justru saat itu ia akhirnya mengalami orgasme, orgasme yang pertama dialaminya di bawah permukaan air!
Mengetahui Liani telah mendapat orgasmenya, Rohim jadi tersenyum puas. Sungguh cewek ini bisa membuat cowok seperti dirinya bangga, padahal ia sendiri masih belum setengah jalan. Lalu ia memijiti tubuh Liani yang membuat cewek itu keenakan, apalagi saat bagian-bagian sensitifnya dipijit-pijit. Setelah itu gantian Liani yang memijiti Rohim. Namun Rohim tidak ingin Liani memijiti dirinya dengan kedua tangannya. Ia menyuruh Liani memijiti tubuhnya dengan menggunakan payudaranya! Sehingga kini payudara Liani yang putih menempel dan memijit-mijit hampir seluruh tubuh Rohim yang hitam. Terakhir Rohim menyuruh Liani memijit penisnya yaitu dengan menggesek-gesekkannya di tengah-tengah belahan dadanya. Pada saat mereka berdua saling memijit itu, Liani menuangkan sejumlah sabun cair. Sehingga kini bak jacuzzi itu jadi lebih licin dan diatas permukaan air muncul busa sabun yang membumbung cukup tinggi.

Setelah itu Liani membuang air di dalam bak itu sehingga bak itu kini jadi kosong dan keduanya membilas tubuh mereka yang penuh dengan sabun. Setelah tubuh keduanya bersih, kembali Rohim menyetubuhi Liani, kali ini dalam posisi missionaris. Namun bak itu masih agak licin, sehingga tubuh Liani yang berada di bawah jadi tergerak mundur setiap kali Rohim menyodoknya. Lalu ganti posisi ke Cowgirl Position. Rohim tidur telentang di dasar bak, dan Liani duduk dan naik di atas penis Rohim yang menembus vaginanya. Dan, Liani mengocok-ngocok tubuhnya naik turun. Setelah itu, Rohim mengajak Liani pindah tempat ke kamar, tepatnya di atas ranjang, yang dituruti oleh Liani. Setelah keduanya mengeringkan tubuh dengan handuk, keduanya masuk ke dalam kamar dengan masih telanjang bulat, dan penis Rohim masih tetap terus menegang sepanjang jeda itu. Mula-mula mereka melakukan posisi Doggie Style, di atas ranjang empuk itu. Setelah itu Rohim mengajak melakukan posisi yang unik, yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan sekarang ingin dipraktekkan terhadap Liani, yaitu posisi Butterfly. Liani tidur telentang dengan pinggulnya pas berada di tepi ranjang. Rohim mengangkat kedua kaki Liani ke atas sehingga tubuh Liani ditekuk 90 derajat seperi huruf L dengan pinggulnya sebagai titik temunya. Sehingga liang vagina Liani terbuka di tengah kedua kakinya. Rohim segera memasukkan penisnya ke vagina Liani dan mengocok-ngocok penisnya. Sementara kedua kaki Liani yang naik ke atas kini disandarkan di dada dan bahu Rohim. Sehingga nampaklah pemandangan indah perpaduan antara yin dan yang, Liani yang bertubuh putih menyatu dengan Rohim yang bertubuh hitam. Saat Rohim memaju-mundurkan pinggulnya untuk mengocok penisnya di dalam vagina Liani, tubuh Liani jadi berguncang-guncang, terutama payudaranya yang jadi berputar-putar dibuatnya. Liani ingin mendesah keras-keras, karena posisi itu sungguh memberikan sensasi yang berbeda. Namun ia ingat kalau saat itu ia di dalam kamar, yang tentunya bisa terdengar oleh Papinya. Karena itu ia hanya berani melenguh-lenguh pelan. Namun ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Pada saat itu,
“Lianii.” Tok-tok-tok
Ah sialan, gerutu Liani, mengganggu saja.
“Lianiii.” Tok-tok-tok
Ah, cuekin ajalah, batin Liani.
“Lianiii.” Tok-tok-tok
(”ahh..ahhh..ahhh…”) Liani mengeluarkan ekspresi wajah yang mendesah-desah karena saat itu Rohim masih terus menyetubuhi dirinya, namun tanpa suara karena takut ketahuan Papinya yang saat itu berdiri di depan pintu kamarnya.
Dan untunglah, itulah ketukan dan panggilan yang terakhir, karena ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan menjauhi pintu kamarnya. Sehingga kini ia bebas merdeka.
(”ahh..ahhh..ahhh…”)
….
….
Namun ternyata kali ini Liani salah perhitungan. Karena saat itu Papinya kembali mendatangi kamarnya. Dan kali ini tanpa mengetuk atau memanggilnya lagi, terdengar suara kunci yang dimasukkan di dalam knob pintu kamar itu, diputar..dan, klik, terbukalah kuncinya.
Dengan panik Liani berteriak,” Papiii, jangan masuk, aku lagi nggak pake baju!!”
Namun terlambat! Karena saat ia tengah bicara, knob pintu itu telah diputar, terbukalah pintu kamar itu, dan Papinya Liani melangkah masuk!!
Padahal saat itu Liani sedang telentang telanjang bulat di atas ranjang dan sedang disetubuhi oleh Rohim dalam posisi Butterfly!!!

“Papi jangan kesini! Aku lagi telanjang bulat!!” teriak Liani lagi histeris. Memang ia tak bohong dalam hal ini. Namun tak bisa dibayangkan betapa kagetnya Papinya melihat putri kesayangannya itu sedang telanjang bulat karena sedang disetubuhi cowok rendahan dan tak dikenal!
Tapi, untunglah, Papinya tak sampai melihat itu. Karena pintu kamar itu membuka ke arah tembok. Sehingga meski Papinya telah membuka pintu dengan cukup lebar dan ia telah melangkahkah satu kakinya ke dalam kamar, namun ia tak sempat melihat apa yang terjadi di tengah kamar itu karena pandangannya terhalang pintu itu. Ia masih sempat menghentikan langkahnya saat Liani pertama kali berteriak mengatakan kalau dirinya tidak memakai baju. Tentu ia tak ingin melihat putrinya sendiri dalam keadaan telanjang, apalagi telanjang bulat seperti yang dikatakan setelahnya.
“OK, OK, Papi nggak akan masuk. Kenapa dari tadi kamu nggak menjawab waktu Papi panggil? Khan Papi jadi khawatir kalo kamu ada apa-apa di dalam. Makanya Papi membuka pintu kamar pakai kunci.”
“Tadi aku di kamar mandi berendam sambil dengerin musik, Pi, jadi nggak kedengaran.”
“OK, kamu nggak apa-apa khan?”
“Ya nggak apa-apa lah Pi. Eh, Papi, ngomongnya nanti aja deh dan pintunya tolong ditutup lagi dong. Nggak enak nih. Khan aku lagi nggak pake baju.” Liani khawatir juga kalau-kalau Papinya melongok ke dalam. Ibaratnya, untuk kesana hanya perlu satu langkah kaki lagi. Pada saat itu ia tak takut Papinya melihatnya telanjang bulat. Tapi ia sungguh takut Papinya melihat dirinya dalam posisi Butterfly itu! Sementara Rohim kini diam tak bergerak, artinya penisnya masih masuk menembus di dalam vaginanya. Karena kalau ia bergerak, salah-salah malah menimbulkan suara yang mencurigakan. Sehingga seandainya Papinya saat itu melangkahkan satu kakinya ke depan lagi, maka tamatlah riwayat Liani!
“OK, sorry, sorry,” kata Papinya lagi,” Ya udah Papi tutup dan kunci lagi ya pintunya,” katanya sambil melangkah balik, mengunci knob pintu itu dan menutupnya kembali.
Oh, leganya, batin Liani.
Dan, (”ahh..ahhh..ahhh…”) kembali Liani melanjutkan mendesah-desah tanpa suara karena setelah itu Rohim kembali melanjutkan aksinya.
Sehingga kini Liani betul-betul bebas dari gangguan.
….
(”ahh..ahhh..ahhh…”)
(”ahh..ahhh..ahhh…”)
(”ahh..ahhh..ahhh…”)
….
….

Setelah itu mereka berganti posisi. Liani berbaring telentang di tengah ranjang. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Sementara Rohim duduk bersimpuh di depannya, kedua kakinya ditekuk. Kedua kaki Liani disandarkan di bahu Rohim. Kedua tangannya memegang pantat Rohim. Sementara kedua tangan Rohim memegang bahu Liani. Lalu dalam posisi itu, ia memasukkan penisnya ke dalam tubuh Liani.
Shleeb…shleeeb…shleebb
(”Ooohhhh…ohhhhhhhh….ohhhhhh)
….
….
Rohim terus menerus mengocok penisnya dalam posisi ini. Sampai akhirnya tibalah orgasme kedua Liani setelah dikocok-kocok beberapa menit lamanya dalam posisi agak unik itu. Setelah itu Rohim mencabut penisnya. Kini Liani duduk di tepi ranjang. Rohim mendekatkan penisnya ke wajah Liani. Liani mengulumnya kembali beberapa saat lamanya. Sampai setelah akan ejakulasi, Rohim mengeluarkan penisnya dan, crottzzz, crottz, crotz…menyemprotkan air maninya itu yang mendarat ke berbagai tempat di rambut dan wajah Liani. Sehingga mukanya yang cakep dan innocent kini jadi belepotan sperma Rohim. Apalagi banyak yang kemudian mengalir turun ke bawah membasahi pipi lalu turun ke leher dan dadanya. Sementara rambutnya yang terkena cipratan air mani itu kini jadi basah dan lengket-lengket. Tak lama kemudian, Liani membersihkan wajah, rambut, dan tubuhnya dari sperma Rohim. Setelah itu, ia dengan sembunyi-sembunyi mengeluarkan Rohim dari rumahnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Sehingga akhirnya keluarlah Rohim dengan selamat dengan hati yang sungguh puas karena malam itu ia berhasil menikmati “siomay” yang diincarnya. Sementara Liani pun juga puas karena Rohim telah membuatnya orgasme dua kali. Setelah itu, barulah ia memakan siomay goreng itu karena saat itu dirinya telah cukup lapar.

—@@@@@@@—–
Di airport…

Orang itu dengan semangat menggebu-gebu menjelaskan saat diwawancarai oleh wartawan,
“Saya mendukung UU Pornografi dan Pornoaksi! Karena negara kita telah makin rusak akhlaknya. Banyak sekali generasi muda kita yang karena pengaruh budaya Barat yang negatif, melakukan hubungan seks bebas pra nikah, juga banyak sekali gadis-gadis muda yang hamil diluar nikah, atau pun yang terlibat di bisnis prostitusi. Dengan UU itu maka harkat dan martabat wanita akan dijunjung tinggi. Oleh karena itu saya sangat mendukung UU ini.”
“Selain itu saya juga mendukung pemberantasan KKN sampai ke akar-akarnya. Karena KKN hanya menguntungkan segelintir orang tapi menyusahkan rakyat banyak.”
“Dan untuk memperbaiki keadaan negara yang bobrok ini, demi rakyat banyak, saya akan mencalonkan diri menjadi presiden di pemilu yang akan datang.”

Dan orang itu adalah Pak Miskan.

—@@@@@@@—–
Di sekolah…

Liani, Henny, dan Fanny lagi ngumpul bareng sambil makan baso. Pada saat itu ada seorang cowok yang sedang mencuri-curi pandang ke arah mereka bertiga. Ia adalah Dadung, yang meskipun murid SMU situ juga, tapi berbeda golongan dengan mereka bertiga. Ia termasuk golongan rendah baik dari segi pergaulan, tampang, latar belakang keluarga, juga prestasi sekolah. Bahkan bisa jadi ia masuk ranking lima besar dari bawah.
“Eh, lu perhatiin ga, tuh cowok dari tadi ngeliatin kita terus,” kata Fanny.
“Iya gua juga ngeliat. Anak kelas berapa sih dia?” tanya Liani.
“Mana gua tahu. Emang gua pikirin,” kata Henny,” Cowok kayak gitu mah,” katanya dengan nada merendahkan.
“Nggak kelas ya Hen, dengan kita-kita,” kata Fanny.
“Iya dong. Jelas itu,” kata Henny.
“Yuk ah, kita pergi aja dari sini,” kata Liani.
“Eh, lu orang kemarin malam ngapain aja?” tanya Henny ke dua orang temannya saat mereka berjalan balik menuju kelas.
“Semalem gua nemenin bokap,” kata Fanny,” Dia dateng kesini kemarin sore. Lumayan, gua dikasih uang saku cukup banyak.”
“Wah, enak banget lu. Kalo gua semalem merendam diri di bak jacuzzi gua setelah itu makan siomay goreng yang enak banget,” kata Liani.
“Kalo lu sendiri ngapain?” tanya Fanny kepada Henny.
“Ah, gua sih kayaknya paling boring dibanding lu berdua deh. Semalem gua cuman tiduran aja di kamar.”
Demikianlah cerita yang menyangkut tentang cewek-cewek dan orang-orang yang kelihatannya alim, namun ternyata semuanya tidak ada yang benar. Cerita-cerita tentang kenikmatan, yang terjadi di balik kealiman dan kemunafikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: