h1

Evilution 1 : Kisah Kencan Seorang Wanita Yang Telah Menikah

February 13, 2009

amanda1Namaku Kevin. Isteriku bernama Amanda, dia selalu membuatku merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika dia lewat dihadapan mereka. Kebanyakan temanku mengeluhkan bagaiman membosankannya isteri mereka dalam urusan seks.

Mereka jarang mendapatkan oral seks, para isteri mereka sangat jarang berpakaian sexy lagi. Dan kebanyakan dari mereka, contohnya Tom dan Boby, seks hanya berlangsung diakhir pekan saja. Itu jauh lebih baik dibandingkan kadang hanya sekali dalam sebulan saja.

Itu juga terjadi diantara Amanda dan aku sebelum semuanya berubah akhir-akhir ini. Ketika Boby bertanya padaku minggu lalu tentang berapa sering kami berhubungan seks, aku berbohong. Kukatakan padanya kami melakukannya sekali seminggu.

Dia menjawab hal yang sama, mengungkapkan simpatinya terhadapku. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Jika dia mengetahui bahwa sesungguhnya Amanda dan aku berhubungan seks tiga sampai empat kali dalam seminggu, dia akan mendesakku untuk mencari tahu apa rahasianya.

Dan tak akan mungkin kukatakan kepadanya kenyataan sesungguhnya. Bisa kukatakan kepadamu rahasiaku. Ini aman, karena kamu tak mengenalku ataupun Amanda. Kamu tak tahu tempat tinggalku atau apapun. Lagipula ini semua terdengar kurang masuk akal. Bahkan temanku sendiri mungkin tak akan mempercayaiku, tapi aku tak peduli apa kamu percaya atau tidak.

Sikap Amanda terhadap seks mulai berubah semenjak malam itu. Ya, mungkin terlalu berlebihan, yang kumaksudkan adalah, coba lihat kebelakang, aku menganggap kejadian tersebutlah penyebab dari perubahan sikapnya. Kejadian apa? Mungkin itu yang kamu tanyakan. Sebuah kencan. Ya. Kencan biasa… dengan pria lain.

Pria lain tersebut klien bisnis perusahaan kami, Mr. Charles. Aku tak terlalu mengenalnya, tapi kupikir dia seorang pria paruh baya yang menarik juga. Mungkin bisa dibilang sedikit gemuk dan rambutnya mulai agak botak dibagian depannya.

Dia terbang ke kota ini untuk mengurusi sebuah kontrak yang besar dengan perusahaan kami. Aku bukan termasuk dalam posisi eksekutif, tapi aku berteman akrab dengan beberapa direktur utama. Salah satunya bernama Henry, dia bertanya padaku apakah aku punya kenalan seorang wanita yang bisa menemani Mr. Charles berkeliling kota selama dia berada disini. Henry mulai merasa khawatir.

Dia sudah menghubungi semua kolega yang dia tahu tapi tak ada yang bisa untuk saat itu dan dia mengatakan padaku bahwa dia akan merasa sangat berterima kasih bila aku bisa membantunya. Aku coba menghubungi beberapa kandidat yang kutahu, namun mereka juga sedang sibuk disaat tersebut. Saat kuceritakan pada Amanda, dia bertanya kenapa syaratnya harus wanita yang masih single.

“Kamu tidak mencoba untuk mengirim seorang wanita nakal pada klienmu ini kan?” “Tidak, hanya seseorang untuk menemaninya berkeliling. Seseorang yang tahu tempat makan yang enak, tempat yang layak untuk dikunjungi, sesuatu seperti itulah.”

“Kalau ini memang sangat penting untukmu, aku mau melakukannya.” “Ini bukan seperti penentu hidup atau mati… tapi ini akan memberikan sebuah penilaian yang sangat baik buatku dihadapan salah satu bossku. Tapi, sejujurnya, sayangku, Aku merasa tak nyaman untuk mengijinkanmu melakukannya. “

“Kenapa tidak? Aku mengenal setiap bagian kota ini seperti yang lainnya, dan penampilanku tak mengecewakan untuk dilihat bukan?” Kutelan ludah atas statemen terakhir. Amanda sangat indah dipandang mata. Tubuhnya langsing semampai, buah dada yang terlihat tepat untuk ukuran tubuhnya, paha yang indah, pantat menggoda, rambut berombak sebahunya yang tergerai eksotis.

Tak pernah terlintas dibenakku untuk membayangkan Amanda yang harus menemani Charles untuk semalam, Tapi seperti yang dia katakana, kenapa tidak? Dia pilihan yang sempurna. Dia pintar membangun pembicaraan.

Charles akan dapat menikmati keindahan kota ini dengan ditemani oleh seorang wanita yang mempesona. Dan itulah yang terjadi, Amanda serius akan hal tersebut, seperti yang biasa dia lakukan. Dia terlihat sangat menawan malam itu.

Sesungguhnya, agak sedikit terlalu seksi, kuingat aku katakan hal tersebut malam itu. Make-up yang dia pakai sedikit berlebihan dari biasa yang dia pakai sehari-harinya.

Gaun yang dia kenakan memperlihatkan bentuk payudaranya yang indah dan kencang serta membungkus perut dan pinggulnya dengan sangat ketat, serta sepasang stocking dan sepatu bertumit tinggi. Charles pasti akan sangat senang, tak akan kuragukan lagi. “Jaga kelakuanmu,” kugoda dia. Dahinya mengernyit, merasa dilecehkan.

Kujelaskan padanya kalau aku hanya bercanda saja. Aku tahu kalau dia melakukan ini hanya demi aku saja. Dia telah melihat foto Charles, jadi dia tahu dia bukanlah seorang buruk rupa meskipun dia juga tahu kalau pria yang akan ditemuinya nanti bukanlah seorang yang rupawan. Kencan tersebut akhirnya datang dan terjadi. Sesudahnya, Amanda menceritakan padaku kalau Charles sangat menikmati malam tersebut. Akupun akan merasa begitu, dan kudapat sebuah telephone dari Charles hari Senin keesokan harinya.

“Hey pak, wanita yang bapak kirim untuk menemaniku, si Amanda, sangat mengagumkan.” Aku tak merasa perlu memberi tahunya kalau yang menemaninya berkeliling kota adalah isteriku sendiri. “Wah, dia wanita yang sangat sexy! Tapi aku yakin anda sudah pasti tahu itu,” sambungnya. Dengan cepat berikutnya kutahu kalau Charles telah mencoba mengajak Amanda untuk singgah ke kamar hotel bersamanya.

Isteriku menolaknya dengan halus dan mengucapkan terima kasih. “Mungkin lain kali jika anda berada dikota ini lagi, kita bisa saling mengenal lebih dekat lagi. Itu yang dia katakan. Sialan! Aku tak sabar menunggunya,” Charles menceritakan padaku, nada suaranya mengisyaratkan betapa semangatnya dia. Kuceritakan pada Amanda tentang telephone tersebut dan apa yang dikatakan Charles. Dia menatapku dan menyeringai lebar. “Ya, aku memang berkata begitu. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya tak ingin dia merasa sedih dengan dirinya.

Dia terus merayuku sepanjang malam dan aku hanya ingin membuatnya tak terlalu merasa ditolak. Kamu tahu kan, kubiarkan dia mengira kalau aku menganggapnya menarik. Merasa dia bangga dengan dirinya.” “Oh, dari yang dia katakan, kukira kamu sangat sukses.” “Well, itu hanya sedikit godaan yang tak ada ruginya.

Lagipula, aku tak akan bertemu lagi dengannya kan?” Amanda tertawa. “Kamu tidak jealouskan sayang?” Kuyakinkan dia bahwa aku tak merasa cemburu dan lalu kusergap lehernya dengan bibirku. “Apa kita merasa sedikit bergairah malam ini?” dia tertawa genit, menggapai kebawah untuk memeriksa kondisi selangkanganku.

Dia temukan jawabannya saat mencengkeramkan jemarinya pada tonjolan dicelanaku. Berikutnya kami memadu cinta dengan gairah yang hampir kulupakan, permainan cinta kami memang terjadi hanya sebagai rutinitas saja dalam tahun belakangan ini. *** Hampir satu bulan berikutnya aku dapat sebuah telephone dari Charles.

Dia akan datang ke kota ini dalam beberapa hari dan dia menanyakan padaku apakah aku bisa mengusahakan agar Amanda bisa menemaninya lagi. Kukatakan padanya kalau aku tak yakin bisa menghubunginya, Amanda sangat sibuk, terangku padanya, berusaha untuk mencegah isteriku bisa bersamanya lagi. Khususnya setelah apa yang sudah dia katakan tentang isteriku.

“Dia tidak memberiku nomer telephone-nya,” Charles mengerang. “Aku sangat berharap dia tidak membohongiku. Aku benci itu. Saat seorang wanita mengatakan padamu apa yang ingin kamu dengar, dan dia cuma iseng saja. Apa kamu tak merasa kesal juga?” “Ya, aku juga benci diperlakukan seperti itu,” jawabku dan kemudian berjanji untuk berusaha menghubungi ‘si sexy Amanda’.

“Tentu aku mau bertemu dengannya lagi, sayangku,” Amanda mengatakan padaku dengan acuh tak acuh saat dinner mealam. “Apa ruginya? Lagipula dia seorang klien yang penting, kan?”
“Ya memang. Tapi, aku hanya merasa kalau dia menginginkanmu agar mau diajak kekamar hotelnya kali ini. Bukankah kamu membuatnya merasa kalau kamu akan bersedia jika ada kesempatan lain?”
“Sayang, itu hanya taktik wanita saja. Semua pria suka disanjung dan digoda. Kamu juga kan? Aku sering melihatmu dipesta saat ada seorang wanita yang memujimu. Ingat Bertha yang mengundangmu untuk menggantikan tempat Roger suaminya, setiap saat suaminya sedang pergi keluar kota?”

“Dia hanya bercanda dan kamu tahu itu.”
“Begitu juga aku sayang. Itu poin yang kumaksud.”

Akhirnya kuhubungi Charles dan mengatakan padanya kalau Amanda bisa menemuinya hari Sabtu nanti. Dia sangat senang sekali. Dan Amanda, yang membuatku terkejut, terlihat bahagia karena akan berkencan dengannya lagi.

***

“Apa dia seorang yang suka merayu?” tanyaku saat dia sedang berdandan malam itu.
“Semua pria begitu kan?” jawabnya, mencoba memilih gaun yang akan dipakainya.

Punggungnya menghadap kearahku. Dia berdiri disana dengan hanya memakai bra dan celana dalam. Sepasang pakaian dalam yang sexy, berenda dan hampir transparan. Sebuah lingerie yang aku hampir lupa kalau dia memilikinya.

Biasanya, Amanda memakai pantyhose diatas celana dalamnya. Kali ini tidak. Kali ini dia memakai sepasang stocking hitam setinggi paha. Aku akan mulai berkomentar, tapi kupikir dia hanya akan menganggapku merasa cemburu saja. Sekali lagi dia terlihat sangat menawan untuk kencannya dengan pria yang baru saja dia kenal. Gaunnya melekat erat ditiap lekuk tubuh sexy-nya dan belahan dadanya agak sedikit rendah, mempertontonkan sedikit belahan buah dadanya. Menggiurkan dan sexy.

“Jaga dirimu,” pesanku, memberinya sebuah kecupan saat dia mengamati dandanannya, sepatu bertumit tinggi dan sebagainya, pada sebuah cermin dilorong.
“Berhentilah mengkhawatirkanku, sayang. Aku akan baik-baik saja,” dia meyakinkanku, memberiku pelukan ringan yang menempelkan payudara kencangnya pada tubuhku.

Jika Charles menyambutnya dengan sebuah pelukan, dia juga akan merasakan payudara sexy Amanda. Kuterus memikirkan hal itu sepanjang waktu saat isteriku pergi malam itu. Aku juga membayangkan paha jenjangnya dan stocking hitamnya dan pakaian dalam indah dan sexy yang dia pakai. Sebuah paket yang sangat menggoda, dan itulah yang mencemaskan perasaanku.

Tapi kemudian aku juga mengingatkan diriku sendiri tentang seks yang hebat yang kualami bersama Amanda setelah malam pertama kencannya dengan Charles. Aku berharap kejadian itu berulang kembali, itulah mungkin sebabnya aku tak begitu meributkan tentang apa yang dipakai Amanda untuk kencannya dan kenapa aku mengijinkannya pertama kali. Ya, kenyataannya memang begitu. Sex dengan Amanda begitu mempesona, dan itu bahkan lebih panas dari sebelum-sebelumnya.

Aku jatuh tertidur didepan televisi diruang keluarga dan tak mendengar suara mobilnya diparkirkan. Tapi telingaku mulai mendengar saat suara tumit sepatunya melangkah melewati lantai kayu dalam ruang keluarga ini. Kutolehkan kepala kearahnya, Tu**n, dia terlihat sangat sexy! Gaunnya terlihat lebih pendek dari yang kuingat. Pinggulnya seakan menari saat dia berjalan. Dia terlihat lebih muda saat ini. Terlihat begitu hidup. Payudaranya terayun seiring tiap langkahnya.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku padanya, aku duduk diatas sofa.
“Kurasa, Setengah dua.”
“Aku pasti tertidur menunggumu.”
“Sorry, sayang. Mestinya aku pulang lebih awal.”
“Ya, mungkin.”

Amanda duduk disampingku. “Setelah nonton dan dinner, Charles mengajak untuk mencoba beberapa club & bar.”
“Bagaimana caramu berkilah saat dia mengajakmu kembali kehotelnya? Dia mengajakmu, kan?” Akupun akan berlaku sama, Amanda terlihat begitu menggiurkan untuk disantap.
Dia letakkan tangannya dipahaku dan meremasnya pelan. “Wah, dia sangat gigih, sayang, dan akhirnya aku tak bisa mengelak lagi, aku mau diajaknya pergi ke kamarnya.”

Kupandangi isteriku dengan perasaan yang bercampur baur.

“Sayang, ini bukan seperti kedengarannya. Sama sekali tak terjadi apapun.”
“Sama sekali…”
Amanda tersenyum dan membelai pahaku. “Sayang, jika aku ingin menyetubuhinya, akan kulakukan saat itu.”

Sudah lama Amanda tak mengucapkan kata persetubuhan, itu mengejutkanku pertama kalinya.

“Dia menginginkannya. Itu mungkin tak mengejutkanmu, bukan? “
Kugelengkan kepala.
“Kukatakan padanya jangan bertanya tentang sex. Kukatakan padanya kalau aku sudah menikah.”
“Sungguh?”

Amanda memberiku sebuah senyuman iblis kecilnya.

“Apa dia mencoba yang lain? Apa dia mencoba menciummu?”
Kembali Amanda tersenyum. “Memang.” Lalu setelah jeda yang panjang, menambahkan “Dan kubiarkan dia.”
“Kamu biarkan dia menciummu?”
“Ya, sayang. Kupikir setelah dia tak mendapatkan sex yang dia mau, setidaknya yang bisa kulakukan adalah memberinya sebuah ciuman.”

Kupandangi dia dengan takjub, dan dia membungkuk kearahku, daging payudaranya menekan tubuhku, dan lalu dia berkata “Itu hanya sebuah ciuman sayang, seperti ini.”
Bibirnya begitu hangat dan sensual… dan sedikit terbuka. Bibir kami saling melumat dan dengan cepat lidahnya mulai mencari jalan masuk kedalam mulutku. Ciuman lembut dan erotis berubah menjadi ciuman yang penuh gairah yang mengirim gelombang darah ke sepanjang batang penisku. Aroma Amanda begitu nikmat dan tubuhnya sangat sexy dan mengundang.

“Wow! Seperti ini?” kucoba bertanya setelah kami hentikan ciumannya.
Amanda tertawa manja. “Kurang lebih.”
“Apa dia mencoba menyentuhmu?”
“Hanya dadaku.” tawa manja lebih banyak dia perdengarkan.

“Apa reaksimu?”
“Sayang, hanya dadaku saja. Tangannya tidak berada dalam celana dalamku…atau yang lainnya.”
“Jadi kamu biarkan dia… menyentuh payudaramu?”
“Sayang, aku masih memakai gaunku.”

Kuangkat tanganku dan membelai payudara isteriku. ‘Hmm, seperti yang kukira.”
“Apa?”
“Gaun ini… sangat tipis… bisa kurasakan putingmu tepat dibaliknya.”
Amanda tertawa. “Dan kamu pikir Charles bisa merasakannya juga?”
“Aku yakin itu. Bukankah dia merasa terangsang?”
“Kenyataannya, begitu.”
“Bagaimana kamu tahu? Apakah terlihat?”
“Aku mengetahuinya saat kulakukan ini… ” Amanda kemudian meluncurkan tangannya hingga pangkal pahaku dan mulai meremas ereksiku.

“Kamu meremas PENISNYA!”

“Sayang, aku hanya menggodamu. Tentu saja tidak. Kamu suamiku. Satu-satunya pria untukku!” tubuhnya turun keatas lantai dan menurunkan resleitingku. Astaga! Sudah sangat lama sekali dia tak bersikap seperti ini… begitu agresif dan terang-terangan. Amanda menjilat dan menghisap penisku hingga kuberada dibatas orgasme dalam mulutnya.
“Ayo ke kamar, sayang,” saranku, dan isteriku langsung menyambutnya.

Keesokan harinya dikantor, aku dihubungi Charles. “Hey bung, kamu tidak bilang kalau Amanda sudah menikah.”
“Aku pikir itu tak jadi masalah, Sorry.”
“Oh, tak usah minta maaf. Menikah atau tidak, dia benar-benar wanita yang sangat hot.”

Kata-kata Charles mengguncangkanku. Itu tak sama dengan versi Amanda malam itu. Aku tak ingin terdengar curiga, tapi aku harus bertanya “Jadi kalian berdua bersenang-senang tadi malam?”

“Oh, bung, sangat! Kami jadi pusat perhatian kemanapun kami pergi. Para pria meminta ijinku untuk bisa berdansa dengannya, kutolak mereka, tapi dia bilang aku egois dan mau menang sendiri. Jadi begitulah, dia pergi ke lantai dansa dan mulai menari dengan dua atau tiga pria berbeda. Aku tak begitu pintar dansa, jadi dia menikmati tariannya dengan para pria itu. Dia sungguh menikmati gerakan tubuhnya.”

Kudengar ceritanya berulang-ulang tentang bagaimana Amanda jadi bergairah karena dansanya dan minumannya. “Setiap kali dia kembali ke meja, dia jadi lebih bergairah… dia remas pahaku… terus meraba pahaku… membuatku sangat keras!”

“Benarkah?” jawabku, mencoba menahan rasa marahku.
“Oh, iya. Dan kali ini, saat kuajak dia kembali kekamar hotelku, dia langsung menerimanya.”
“Wah, aku senang anda mendapatkan malam yang hebat Charles.”
“Sesungguhnya terhebat dalam hidupku, Kev. Ngomong-ngomong, kamu kenal Amanda kan? Apa kamu pernah mengencaninya?”

Tentu saja aku bohong.

“Ah, sayang sekali. Wanita ini sungguh istimewa!”

Aku ingin lebih menanyainya, tapi itu akan terlihat janggal. Aku coba untuk memancingnya, agar dia menceritakan segalanya, tapi tentu saja dia tak akan mengatakan detail sesungguhnya dari apa yang terjadi di dalam kamar hotelnya.

Apakah Amanda hebat? Aku ingin bertanya. Apakah dia pasangan sex yang hebat? Tapi kata-kata Amanda terus mengiang ditelingaku. Aku bersikap terlalu berlebihan. Dia hanya bersikap menggoda, sedikit berlebihan. Tapi hanya itu saja. Charles hanya merasa sangat gembira karena sudah berkencan dengan isteriku yang sexy. Dan, menimbang betapa hebat kehidupan sex kami semenjak isteriku melakukan dua kencan tersebut, aku yakin, merasa bersukur telah mengijinkannya pergi.

Namaku Amanda, andaikan aku seorang wanita religius, tentu sudah terlalu banyak menghabiskan waktu dalam bilik pengakuan dosa…

Suamiku, Kevin memintaku untuk bertemu dengan salah seorang kliennya yang berada dikota ini. Seorang klien penting yang sangat menentukan sebuah kontrak besar yang sedang diperebutkan perusahaannya saat itu. Hanya menjamunya dengan sebuah dinner bersamanya dan menemaninya berkeliling kota. Hanya itu saja. Namun semakin kupikirkan itu semakin terasa pula bagaikan sebuah kencan. Sebuah kencan seperti saat kubelum menikah. Dan kujawab, ya aku bersedia memenuhi permintaannya dan aku berdandan secantik dan semenarik mungkin untuk acara tersebut.

Dan segala yang kubayangkan menjadi kenyataan. Disini kuberada, dalam sebuah taksi yang tengah menyusuri jalanan kota dimalam itu dengan seorang pria, mungkin berumur beberapa tahun lebih tua dari Kevin, namun dia seorang gentelman sejati. Namanya Charles, berulang kali dia memuji kecantikan wajahku, betapa dia mengagumi keindahan rambut sebahuku, gaun yang kukenakan. Dia begitu merayu dan memperlakukanku layaknya seorang puteri. Semua perlakuannya sungguh membuatku merasa sangat istimewa.

Dipenghujung malam itu, dia mengundangku singgah ke kamar hotelnya untuk berbincang sebentar sebelum mengantarku pulang. “Hanya minum saja,” dia coba membujukku. Namun kutolak ajakannya. Kuingatkan dia, kesannya tak baik jika aku masuk ke kamar hotelnya dimalam yang telah larut ini.

Jujur aku merasa suka menghabiskan waktu malam tersebut dengannya dan tak bisa kucegah anganku membayangkan bagaimana rasanya jika berhubungan seks dengannya. Kevin adalah pria kedua yang pernah menikmati tubuhku, jadi bisa dikatakan aku tak memiliki begitu banyak pengalaman dalam kehidupan seksual. Bayangan itu menggelitik minatku, entah kenapa aku bisa membayangkan hingga sejauh itu.

Saat aku tiba dirumah malam itu, aku benar-benar berada dalam mood untuk sebuah permainan cinta dan syukurlah Kevin juga sedang merasakan hal yang sama pula.

***

Jikalau kisah ini hanya berhenti hanya disini saja, tak akan banyak yang kuungkapkan dalam pengakuan dosaku, dan memang ini tak hanya berhenti di malam itu saja. Aku mempunya janji kencan kedua dengan Charles beberapa minggu setelahnya, dan untuk sebuah sebab, membayangkan kencan keduaku bersamanya membuatku sangat bersemangat, bahkan sedikit bergairah. Kupilih sebuah gaun yang sexy dan bahkan sepasang pakaian dalamku yang paling nakal, meskipun aku tak bermaksud untuk mengijinkan Charles untuk melihatnya. Hanya saja membuatku merasa sexy mengenakannya, itu saja.

Kevin merasa sedikit nervous akan kencan keduaku dengan kliennya kali ini. Dan jujur saja akupun begitu. Namun, Charles sekali lagi bersikap sangat begitu sopan dan segera saja perasaan canggungkupun sirna dan aku merasa sangat rileks berada didekatnya.

Setelah dinner, kami pergi ke sebuah dance club. Charles tak begitu lama turun berdansa denganku. Tapi ada beberapa pria yang memintaku untuk berdansa dan mereka sangat mahir diatas lantai dansa. Mereka menginspirasiku, mereka dan minuman yang kukonsumsi saat dinner tadi. Kalau mau berkata jujur aku aku rasa memang aku sudah terlalu banyak minum. Kurasa itulah pengakuan dosaku yang pertama.

Pengakuan dosaku yang kedua adalah caraku membiarkan para pria tersebut menari denganku. Kebanyakan musik yang mengiringi adalah yang berirama cepat dan menghentak, tipe musik yang iramanya akan membuat tubuhmu terus bergerak mengikutinya. Tapi saat irama musiknya berganti dalam irama yang sendu dan roman mereka tetap memintaku untuk menemani mereka diatas lantai dansa, kujawab ‘kenapa tidak’.

Salah satu dari mereka adalah pria muda yang sepertinya anak kuliahan berpostur tinggi. Dia dengan ‘tak sengaja’ menyentuhkan tangannya pada dadaku beberapa kali. Aku rasa puting payudaraku tentu tercetak dibalik kain tipis gaun yang kukenakan. Pria yang lainnya dengan sengaja membelai tepian payudaraku saat kami menari. Pasangan dansa yang lainnya memepetkan tubuhku ketubuhnya, menempelkan salah satu pahanya pada pahaku dan memastikan kalau aku dapat merasakan ereksi selangkangannya kala kami bergerak mengikuti irama musik. Aku tidak menjauh, namun sebaliknya semakin kudorong tubuhku kearahnya. Belum pernah kurasakan dalam hidupku kesenangan menari seperti ini.

***

Diantara jeda dansa tersebut, aku kembali ke mejaku dan mengkonsumsi lebih banyak minuman lagi bersama Charles dan kuajak dia untuk menari denganku, namun dia kembali menolak dan berkata kalau dia lebih senang melihatku menari. Kevin tak mengijinkanku melakukan apa yang diperbolehkan oleh Charles, menjadi diriku sendiri untuk sekali waktu. Kuberi dia sebuah kecupan dipipi dan berterima kasih padanya karena tidak mencercaku setelah melakukan ‘tarian nakal’. Dia tertawa dan menoleh saat seorang pria berwajah tampan meminta ijin padanya untuk mengajakku berdansa.

“Kalau dia mau,” jawabnya sambil menoleh kearahku.

Pria ini terlihat yang paling tua diantara pria muda tadi, penampilannya seperti seorang eksekutif paroh baya. Dia perkenalkan dirinya sebagai Henry. Dia memiliki sebuah senyum yang menawan. Kuteguk sekilas minuman yang entah berjenis apa yang telah dipesan Charles sebelumnya, lalu kusambut uluran tangan Henry. Pria ini tipe penyuka musik berirama lambat. Dia tidak begitu merespon saat musik cepat dimainkan, tapi begitu irama berganti lambat, tangannya langsung menyergap tubuhku dan merengkuhku mendekat, menyandarkan kepalaku dibahunya. Mulutnya berada didekat telingaku dan terus menerus dia memuji betapa aku seorang penari yang mahir, dan betapa tubuhku terasa nyaman dalam pelukannya.

“Kekasihmu adalah seorang pria yang sangat beruntung,” katanya, bibirnya menggesek telingaku. “Aku berani bertaruh kalau kamu membuatnya merasa sangat bahagia,” sambungnya.
Kutatap wajahnya. Pandangan iblisnya mengisyaratkan konotasi seksual dalam kalimat terakhirnya. Tapi kuberpura-pura bodoh. “Maksudmu di ranjang?”
“Ya, manis, itu yang kumaksudkan. Aku berani bertaruh kalau kamu akan membuat orang tua sepertiku bisa mendapatkan serangan jantung dibalik selimut.”

Dalam kondisi normal aku akan merasa dilecehkan oleh perkataan mesumnya, namun malam itu aku mengalami sebuah perasaan bebas yang baru dan merasa perkataan kasar dari pria asing ini lebih terdengar menggairahkan daripada melecehkan. Dan pengakuan dosaku-pun terus berlanjut .

“Thanks untuk pujiannya, tapi itu tak akan terjadi dibalik selimut, sayang” jawabku.
“Apa maksudmu?”
“Saat aku bercinta, aku lebih suka di atas.” Itu bohong, tapi kupikir itu terdengar mesum.
“Oh, Baby,” dia mengerang ditelingaku. “Kamu sangat hot!”

Irama musik usai setelah itu, dan kulepaskan diriku dari pelukan kuat Henry dan beterima kasih padanya untuk dansanya.

Kembali ke mejaku, Charles berkata kalau dia melihatku mengobrol dengan Henry dan menanyakan apa yang kami perbincangkan. “Dia pikir kalau aku kekasihmu,” jawabku.
“Apa jawabmu?”
“Kujawab memang.”
“Apa dia percaya?”
“Ya, kurasa begitu.”

“Sini, kita buat dia tak merasa ragu,” kata Charles, lalu dia membungkuk mendekatiku dan menciumku tepat dibibir. Ini sangat tak kusangka dan untuk sesaat kubiarkan saja dia mencium bibirku yang bergetar. Namun kala ciumannya tak jua usai, secara naluriah kumulai balas ciumannya. Dan saat ia mulai mendesakan lidahnya diantara bibirku, rasanya sangat alamiah untuk rileks dan membiarkannya. French kiss adalah sesuatu yang sangat kusenangi, dan segera saja kuimbangi desakan Charles, mengeksplorasi ciuman basah dengan lidahku, menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya.

Kami habiskan minuman kami dan meninggalkan club. Udara malam diluar sangat menusuk tulang, namun membuat kondisiku berangsung pulih dari pengaruh alkohol.

“Aku tak berani berharap untuk dapat mengajak ‘kekasihku’ mau menikmati pemandangan kota dari kamar hotelku,” katanya saat kami berjalan dengan bergandengan tangan.

Aku tertawa geli. Aku mendapatkan begitu banyak kesenangan dan merasa belum ingin kembali ke ruamah, lalu kukatakan padanya “Kekasihmu akan sangat senang untuk melihat pemandangannya.”

Charles menghentikan sebuah taksi dan kamipun masuk ke kursi belakang. Tanpa berpikir, aku meringkuk ke pelukannya, kurasakan bagai bersama suamiku sendiri. Semangat dan gairahku masih sangat membakar diriku, dan aku hanya ingin dipeluk dan diperhatikan. Charles memperlihatkan seluruh perhatiannya dari apa yang kuisyaratkan dan dia memberikan sebuah ciuman. Kubalas ciumannya, dan kala tangannya menyentuh payudaraku, kubiarkan saja tangannya tetap berada di sana. Kami terus berciuman dan dia meremas lembut payudaraku disepanjang perjalanan menuju ke hotel…

***

Kamar tempatnya menginap berada di lantai 10 dan didepannya terbentang sebuah sungai. Pemandangannya memang seperti yang dia janjikan, menakjubkan.

Kuberdiri didepan sebuah jendela kaca berukuran besar, memandangi cahaya dibawah. Charles berada dibelakangku, tangannya melingkari tubuhku. Kutolehkan kepala menghadapnya “Pemandangannya indah, ya?”

“Memukau,” jawabnya menatap lekat wajahku dihadapannya. Aku tersenyum dan kuputar tubuhku , dengan tangannya masih melingkariku. Dia begitu mempesona. Kutatap kedalam matanya, kedua matanya terasa lembut dan menenangkan. Kucium dia, dengan bibir terbuka, mengundang lidahnya. Undanganku dia sambut.

Aku punya pengakuan dosa yang berikutnya…

Aku ceritakan pada Kevin bahwa tak ada yang terjadi malam itu di kamar hotel. Itu tak sepenuhnya benar. Kuceritakan padanya kalau aku cium Charles dan membiarkannya membelai dadaku. Kuceritakan padanya kalau aku hanya membiarkan Charles menaruh tangannya diluar gaunku. Aku rasa aku sedikit berbohong.

Kenyataannya kubiarkan saja Charles menyusupkan tangannya dibalik gaunku dan meremas payudaraku yang terbungkus bra. Aku tak yakin kalau Kevin bisa menerima kenyataan sesungguhnya dari kencanku bersama kliennya.

Aku merasa saat kami berciuman disana, di kamar hotelnya, dan dia meremas dan mempermainkan payudaraku, aku menjadi sangat terangsang! Kedua putingku segera mencuat keras. Dan kala Charles menurunkan tali penahan gaunku melewati bahu, lalu menarik bagian atas dari gaunku hingga pinggang, aku sadar kalau ini berarti dia ingin membantuku melepaskan bra yang kupakai, agar dia bisa menyentuh payudaraku, dan putingku yang keras, daging kenyalku yang telanjang dan memanas.

Dan tepat disana, disaat itu, itu semualah yang kuinginkan. Kenyataannya, aku tak hanya menginginkan tangannya saja di payudaraku, aku inginkan mulutnya juga. Dan aku tak merasa kecewa.

Berikutnya kutahu kalau ternyata Charles sangat lihai melepaskan kaitan bra yang kupakai, selihai jilatan dan hisapannya pada payudaraku. Aku hampir meraih puncak kenikmatan dengan hanya berdiri disana saat itu. Dan saat dia mulai melepaskan gaun yang kupakai dari tubuhku seluruhnya, kubiarkan dia. Dia turunkan melewati pahaku dan membantuku melangkahkan kaki dari gaunku, menuju ketelanjanganku ditingkat berikutnya.

Dia berdiri dihadapanku, dia taruh sebelah tangannya pada kakiku yang terbungkus stocking, membelainya dengan lembut, bergerak naik melewati lututku, semakin naik melewati bagian atas stockingku. Begitu pelan, kurasakan ujung jemarinya merayap menyusuri bagian celana dalam berenda yang mumbungkus selangkanganku. Dan dia kemudian berdiri dihadapanku, dengan pakaian masih utuh.Dan aku, telanjang hingga batas pinggang. Hanya mengenakan stocking, sepatu bertumit tinggi dan celana dalam berenda saja.

Aku ingin dicium, dan dipeluk kembali. Aku tahu dia bisa melihatnya dalam mataku saat itu. Karena, dengan cepat dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya dan menciumku kembali. Payudara telanjangku terhimpit ditubuhnya kala kami berciuman, mulut kami terbuka, kedua lidah kami terlena oleh gairah.

Bagaimana mungkin mampu kuceritakan semua itu pada suamiku, Kevin, tentang bagaimana Charles menelanjangiku hingga hanya mengenakan celana dalam saja dan melesakkan lidahnya ke dalam mulutku. Bagaimana mungkin aku harus menceritakan padanya bahwa aku menikmatinya dan aku menyusupkan lidahku ke dalam mulut Charles juga. Dan juga, bagaimana aku akan bisa bercerita padanya kalau Charles tak bertahan lama untuk berpakaian lagi, setelah ciuman tersebut.

***

Kusaksikan Charles melucuti pakaiannya sembari berbaring diatas ranjang. Kuamati celana dalamnya memperlihatkan sesuatu yang besar didalamnya. “Apa aku yang menyebabkan itu?” tanyaku menggodanya.
“Bagaimana menurutmu?”
“Kemarilah,” perintahku. “Kurasa aku harus tahu apa sesungguhnya yang harus kupertanggung jawabkan.”

Saat dia berada disamping ranjang, kugapaikan tanganku dan kubelai bagian depan celana dalamnya. “Astaga! Apa yang sudah kulakukan?”

Itu membuatnya tertawa. Sekarang aku merasa sangat penasaran dengan ukuran pria ini, maka kusentakkan celana dalamnya turun dan batang penisnya langsung saja melompat keluar. Itu sangat keras dan berdiri mengacung tegak, tepat kearahku.

Kusentuhkan tanganku padanya, terasa sangat hangat! Dan sangat, begitu keras! Pandanganku terpaku pada batang penisnya yang besar saat aku mengocoknya. Aku bawa kencan kali ini lebih jauh dari yang kurencanakan pada awalnya. Disanalah aku berada, tubuh tengkurap diatas perut, diatas ranjang dalam sebuah kamar dilantai kesepuluh, dengan tubuh hanya berbalut celana dalam berenda dan stocking, sambil memegangi batang penis keras dan besar milik seorang pria yang bukan suami sahku. Aku pikir Kevin tak perlu mendengar tentang detail ini dari ‘kencanku’ bersama klien-nya .

Kujuga meninggalkan beberapa detail, seperti kenyataan kalau kugunakan lidahku untuk menjilat batang penis besar cantik milik Charles, dan bahwa kubiarkan dia menyusupkan kepala penisnya memasuki mulutku, dan bahwa aku menghisapnya.

Juga tak kuceritakan pada Kevin kalau kubiarkan Charles menyusupkan tangannya kebalik celana dalamku… dan memainkan vaginaku. Lebih baik kuceritakan padanya kalau hal yang seperti sama sekali tak terjadi. Aku pasti tak menceritakan padanya kalau akhirnya kubiarkan Charles melepaskan celana dalam yang kupakai.

Dan pengakuan dosaku yang terbesar…

Kubiarkan Charles menyetubuhiku. Jujur kukatakan hal tersebut. Kubiarkan pria yang begitu baik ini, seorang pria ahli mencium dan memperlakukanku dengan sangat genteleman di atas ranjang, memasukkan batang penisnya yang besar kedalam vagina yang seharusnya hanya untuk suami yang kunikahi saja.

Aku jadi begitu basah untuknya. Dia masuk dengan mudahnya, memasukiku begitu dalam. Meskipun dia begitu besar, dia mengisiku dalam satu kali hujaman saja, kurasa aku menggelinjang. Aku biasanya hanya pasif diatas ranjang, tapi tidak untuk malam itu. Aku begitu tenggelam dalam moment indah itu. Aku tak ingin bercinta, aku ingin bersetubuh. Aku mau disetubuhi dan kubisikkan padanya “Puaskan aku. Setubuhi aku,” aku melenguh. “Setubuhi vagina kekasihmu! Lakukan dengan keras!”

Dan dia mengabulkannya. Oh suamiku tercinta, aku tak menyangka jika seks terlarang akan terasa begitu nikmat!

***

Kevin tak akan tahu kenyataan sebenarnya dari kencanku dengan Charles. Dia hanya tahu aku mendapatkan saat yang menyenangkan. Dia hanya tahu kalau klien-nya tersebut memperlakukan isterinya dengan sanga sangat sopan dan baik.

Aku mencintai suamiku, dan kehidupan seks kami berubah menjadi lebih menggairahkan setelah kencanku ini. Sangat jauh lebih menggairahkan dari yang sudah-sudah. Kurasa karena kebebasan yang kudapatkan bersama Charles dari dua kencan tersebut.

Apakah aku akan berkencan lagi dengan Charles? Ataukah dengan pria lain? Mungkin…

Kembali, jauh dalam lubuk hatiku, aku menantinya. Aku mengharapkannya.

_____

Translated by Pureaisha

Sumber : Telur Rebus

2 comments

  1. boleh juga cerita nya boleh ga aku ..ikutan ambil….atau rasakan enaknya memek kamau


  2. Wuih….
    Legit banget….
    Visit—>http://www.konsultan-arsitektur.com/



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: