h1

Evilutions II – Single Malam Ini

February 18, 2009
Amanda

Amanda

Kevin akan pergi ke luar kota akhir pekan ini. Dia jarang bepergian untuk urusan bisnis, jadi jarang pula aku mendapat malam minggu untuk diriku sendiri. Kuhitung hari dan membuat rencan untuk kali ini bahkan semenjak dia mengatakan padaku tentang perjalanan bisnisnya akhir pekan ini.

Akan kuhabiskan malam dipusat kota bersama sahabatku Marsha. Aku tahu banyak tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi dipusat kota, tapi Marsha masih single dan dia tahu semua tempat yang sering dikunjungi wanita single sepertinya, untuk kencan dan atau menunggu dipilih.

Sebagai seorang sahabat baik, Marsha, sudah mengingatkanku untuk melupakan ideku ini. Dia sudah mengenalku semenjak kuliah dan dia juga mengenal Kevin.

“Amanda, kamu yakin akan melakukan ini pada Kevin?”
“Aku tidak melakukan apapun padanya. Ini tentang aku. Apa yang tidak dia tahu tak akan menyakitinya.”
Marsha hanya mengangkat bahunya dan menarik nafas, “Seorang pria akan mendapat malam Minggu yang sangat beruntung, hanya itu yang bisa kukatakan.”

Sesungguhnya, masih banyak yang mau dikatakannya, sebagai seorang ahli pesta dan seorang wanita single yang menarik yang kelihatannya selalu punya kekasih baru setiap kali aku mengunjunginya. Dia menguasai keahliannya, dan dia memberiku saran apa yang harus kupakai

“Sekarang, jangan terlihat seperti seorang wanita murahan, tapi pastikan kalau kamu memperlihatkan asetmu dengan benar.” Dia juga memberikan tips untukku tentang tipe pria yang harus dihindari dan bagaimana agar ‘tetap aman’.

Beberapa bulan yang lalu aku menolong suamiku dan menemani klien bisnisnya berkeliling kota. Sesungguhnya, akhirnya aku memperlihatkan padanya lebih dari sekedar kota ini! Kejadian tersebut sangat membangkitkan kehidupan ranjangku dengan Kevin. Dia tak pernah membahasnya, jadi kupikir dia tak memusingkan apa yang sudah terjadi.

Entah bagaimana, aku merasa kalau aku berhak mendapatkan kesempatan lagi untuk acara keluar malamku. Ini bukan hanya tentang seks saja, aku dapat memperolehnya di rumah. Mungkin perasaan bahaya dari itu semua, aku tak tahu. Aku tak mau sesuatu yang berkelanjutan. Tidak, itu akan sangat rumit. Aku hanya ingin mendapat sebuah kesenangan, semalam dan selesai.

Kevin menanyaiku apa aku punya rencana untuk malam Minggu. Kukatakan padanya kalau aku menghubungi Marsha dan mungkin akan pergi keluar dengannya untuk minum atau sekedar jalan-jalan. Itu kelihatannya memuaskan dia.

Kuantar dia ke bandara Sabtu paginya. Itu membuatku mendapatkan satu hari penuh untuk mempersiapkan apa yang akan kupakai dan mendandani rambutku dan hal-hal kecil lainnya yang dilakukan wanita untuk mempercantik diri, termasuk sebuah strategi untuk mencukur bulu kemaluanku.

Marsha menghubungiku sekitar pukul tiga dan mengatakan kalau dia akan memakai jeans.Kuputuskan untuk mengikutinya dan memilih salah satu jeans terbaikku. Jeans tersebut menempel diseluruh tubuhku bagaikan sebuah sarung tangan. Kupadu jeans tersebut dengan atasan yang disukai Kevin karena ini dapat memperlihatkan bentuk dadaku tanpa mengekspos belahan dada. Kevin kadang sangat protes jika aku berpakaian terlalu terbuka dimuka umum. Aku puas dengan penampilanku, sangat pas, sangat seksi.

“Hot!” Itu komentar Marsha saat kami bertemu disalah satu club yang kami pilih. Jeans yang kupakai mungkin sudah ketat, tapi yang dipakai Marsha seakan tercetak tepat ditubuhnya, Dia memaki sebuah blous untuk atasannya, sebuah blous yang terlihat sebagian dikancingkan dan sebagian lagi tidak, tergantung bagaimana kamu melihatnya.

“Apa kamu butuh bantuan… dengan sisa kancing itu?” kugoda dia. Dia tertawa dan berkata dia hanya ingin memberi sebuah awalan untuk si pria nanti. Dan saat kuperhatikan sekeliling, semua mata pria disana tertuju pada kami berdua, ada beberapa pria yang seakan siap jika ada kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan melepaskan kancing blous yang dia pakai untuknya.

Kami beli minuman pertama, tapi setelah itu kelihatannya saat setiap kali kembali ke meja kami, sudah ada minuman baru yang menunggu, hadiah dari para pengagum.

Hanya beberapa pria yang bertanya padaku tentang bekas melingkar dari cincin dijariku. Yang pertama, aku tengah berdansa dengan seorang anak muda bertubuh jangkung, dan dia mengamati jariku. “Baru bercerai?”
Kuputuskan untuk tak bohong. “Tidak.”
“Kamu hanya tak ingin memakai cincinmu malam ini?”
“Benar, malam ini akau single.”
“Wow, kamu lihat kami?” Marsha bertanya padaku saat kami menari mengikuti irama, ‘kami’ adalah dia dan seorang pria berambut panjang yang bernama Kaka. Dan ya, kulihat mereka tadi. Mereka sangat sulit dilewatkan, menari dengan meliukkan tubuh saling menempel erat.

“Dia mengajakku pergi ke apartmentnya.”
“Denganmu, bukan?”
“Tentu saja denganku, konyol kamu,” dia tertawa geli.
“Hanya memastikan.”

Kuingatkan dia tentang aturan keamanan yang dia katakan padaku sebelumnya ‘hotel atau motel tapi tidak untuk apartment dalam kencan pertama’.

Dia tertawa. “Aturan dibuat untuk dilanggar, kadang. Amanda, kamu harus merasakan otot pria ini. Dia sangat kekar.”
“Apa kita sedang bicara tentang otot tertentu?”

Marsha membenamkan wajahnya ke bahuku, tertawa keras dan mengucapkan sesuatu yang tak bisa kudengar dihingar bingar club ini. Bandnya mulai memainkan lagu dan Kaka, si perkasa, sedang berjalan ke arah kami.
“Kamu mau kutanyakan padanya apa dia punya teman?”
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawabku.

Kaka tahu seseorang yang bisa dipasangkan denganku. Dia adalah pria yang pernah dansa denganku sebelumnya. Cukup tampan, tapi ada seorang lain yang menarik perhatianku.

“Kalian perdua pergilah… bersenang-senang.” Dari cara mereka saling pandang, kesenangan itu mungkin dimulai di area parkir.

Marsha minta maaf untuk meninggalkanku. Kuyakinkan dia kalau aku tak apa-apa. Dan untuk membuktikannya kuberi dia ciuman perpisahan dan segera berlalu dari hadapannya, langsung melangkah menuju ke bar dimana salah satu pasangan dansaku sebelumnya sedang duduk, menunggu untuk turun denganku lagi.

Lebih dari satu pria yang mencoba merayu dan menyentuhku dilantai dansa malam itu, tapi hanya seorang yang kubiarkan. Namanya Opick. Dia langsung menyadari identitas bekas cincin dijariku, namun baru berikutnya saat kami duduk dibar, dia mengangkat topik tersebut.

“Apa kamu melupakan sesuatu malam ini, manis?” senyumnya begitu meruntuhkan hati.

Kugigit bibir bawahku, menggodanya dan mengangguk.

Dia memegangi tanganku dan meremasnya dalam genggaman tangannya. “Baguslah. Kamu siap untuk pergi ke tempat lain… yang lebih sepi?”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Tempatku?”

Pertama kali hatiku bereaksi menjawab, ‘ayo’, tapi aturan Marsha menahanku. Dia berusia seumuranku, 30 mungkin beberapa tahun lebih tua.

“Aku tak tahu soal itu. Aku baru saja mengenalmu… ” jawabku, masih tersenyum, dan meremas tangannya untuk memberinya harapan. Aku ingin agar dia menyarankan sebuah hotel, tapi aku tahu kalau dia tipe seorang gentleman. ‘Tempatnya’ tak harus berarti seks. Aku yang harus memutuskan kalau akau berada disana. Sebuah hotel, disisi yang lain, itu akan sangat jelas dan tak bisa dipungkiri menyatakan maksudnya dengan jelas.

Opick tak tahu harus berbuat apa, dia terlihat bimbang. “Mau jalan-jalan? Hanya putar-putar saja?” tawarnya.

Dia sudah mengkonsumsi banyak minuman, jadi aku tak yakin mau berada dalam satu mobil dengannya. Satu ranjang, mungkin, tapi yang jelas bukan satu mobil.

“Hey, aku tahu sebuah tempat yang bisa kita datangi,” jawabku, tangannya melingkariku dan menarikku ke tubuhnya.
“Dimana?”
“Tempatku” bisikku ditelinganya.
lasan utamaku keluar kota kali ini adalah untuk memperlihatkan pada klien bahwa kita menghargai bisnis mereka. Ada yang mereka khawatirkan tentang kontrak sebelumnya, tapi setelah dinner, semuanya berhasil kita selesaikan dan bisnis kita kedepannya terlihat lebih menjanjikan.

*****

Ditengah masakan Italia dan wine Italia yang sempurna, Jack, salah satu wakil direktur diperusahaan kami, menanyaiku tentang kabar isteriku. Dia pernah bertemu Amanda satu kali dan selalu bertanya tentangnya setiap kali kami bertemu. ‘Kamu benar-benar mendapat durian runtuh’, aku ingat komentarnya.

“Dia baik-baik saja,” jawabku.
“Jika aku menikah dengan wanita seperti itu, akan kuajak kemanapun aku pergi,” katanya, menjilat dengan cepat setetes wine dibibir bawahnya.
“Aku juga hampir melakukannya.” candaku.
“Kamu tahu apa yang mereka bilang: Saat sang kucing pergi…” dia tak meneruskan kalimatnya, yang kutahu kelanjutannya.

Sejujurnya aku mencurigai ‘si tikus’ sedang bermain-main malam ini. Dia pernah satu kali bermain-main dibelakangku, aku sangat yakin akan itu. Meskipun itu separuh kesalahanku. Kupinta dia menemani seorang klien untuk berkeliling kota. Si klien tak tahu kalau dia isteriku dan belakangan dia memberitahukanku kalau dia mendapatkan saat-saat yang hebat bersamanya, meskipun tidak dia ungkapkan dengan jelas, aku faham apa maksudnya. Aku bukan orang bodoh.

*****

Yang jadi masalah, setelah ‘kencan’ dengan Charles tersebut, kehidupan seks kami berubah jadi penuh gairah, Jadi apa yang harus kulakukan? Merusak itu semua? Aku tak mau kembali ke Amanda yang lama, yang pergi tidur dengan pakaian tidur flanelnya dan tak pernah tertarik untuk menghisap penisku, atau saat kami bercinta, hanya mau dengan satu cara, aku di atas, dia di bawah.

Amanda yang ‘baru’ penuh kejutan. Dia lebih bersuara, dia sering memakai sesuatu yang seksi ke atas ranjang. Atau kadang tak memakai apapun. Sekarang, malam ini, dia sedang pergi keluar, ke tengah pusat kota dengan temannya yang banal, Marsha. Aku yakin keduanya akan menemukan sesuatu yang cukup ‘nakal’ untuk dilakukan. Aku hanya berharap kalau dia akan menjaga diri dan tak terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.
Opick sangat nervous berada di rumahku. Sudah berulang kali kukatakan padanya kalau suamiku tak akan pulang sampai Minggu malam. Tak ada alasan untuk terus menerus melihat ke arah jam, kataku padanya. Sial, aku bahkan mengharapkannya untuk menghabiskan malam bersamaku, kalau dia lihai diatas ranjang, tapi tak kukatakan hal itu padanya.

Dia sangat lambat untuk memuli gerakan, jadi kuputuskan untuk memecah kebekuan dengan melepaskan baju atasku.

“Rasanya agak gerah malam ini, bukankah kamu rasa begitu?” bra yang kupakai untuk ‘kencan’ malam ini berwarna putih, lembut dan agak menerawang.
“Akan kuambilkan minum untuk kita?” kataku, bangkit dari sofa.
Opick meraih tanganku, sebelum aku berdiri penuh. “Tak usah, aku tidak haus.”

Tarikannya pada tanganku membuatku kehilangan keseimbangan, dan langsung rubuh kembali ke atas sofa disampingnya. Kurasa pemandangan payudaraku, dengan putingku yang terlihat samara, mulai menampakkan efeknya.

Dia menekan tubuhku dan mulai menciumku, seakan dia takut aku akan berubah pikiran dan berusaha berontak. Tapi lidahnya terasa baik untukku, dan berontak adalah kata terakhir dalam benakku. Khususnya saat kugapai ke bawah untuk menyentuhnya dan menemukan betapa sudah kerasnya dia.

Kami saling berciuman dan memagut di atas sofa untuk beberapa saat. Aku merasa bagai seorang remaja lagi. Aku sama sekali tak merasa telah menikah. Kubukai kancing baju Opick dan merabakan tanganku diatas dada dan perutnya saat kami saling melumat. Dia remas payudaraku dan bahkan menciumnya dengan kasar dari balik kain bra-ku. Mempermainkan dan menggigiti putingku.

Kusapukan tanganku pada selangkangannya. Dia meraih kancing jeansku. Bagaikan sepasang remaja di jok belakang mobil pada area parkiran. Tu**n, ini sungguh erotis!

“Bagaimana kalau kita naik ke lantai atas saja?” saranku, saat dia tengah sibuk dengan resleitingku.

Dia memandangku dengan bingung. Apakah aku menyarankan untuk menyelesaikan permainan nakal kami ini di ranjang yang sama dengan yang kupakai dengan suamiku? Aku yakin itulah yang sedang dipikirkannya.

“Ada dua kamar dilantai atas,” terangku padanya, menariknya berdiri. “Satu untuk tamu, dan ranjangnya tak begitu nyaman.” Kami berdiri disana, lengan kami saling melingkari satu sama lain. Ereksinya menekan keluar dari dalam celananya.
“Kamar yang satunya mempunya ranjang yang lebih besar. Dan rasanya sangat nyaman. Dan itu yang lebih kupilih.”
“Pilihanmu adalah pilihanku,” jawabnya, menyelipkan tangannya turun lagi ke belakang tubuhku hingga berhenti dipantatku. Dia remas dan menarik tubuhku semakin merapat. Batang penisnya memberi pertanda jelas kehadirannya, aku jadi basah.

Kubimbing dia ke atas dan menyuruhnya untuk menunggu diluar kamarku. Ada sebingkai foto Kevin diatas meje riasku. Segera kusimpan ke dalam laci dan menyingkap selimut dari atas ranjang.

“Semuanya siap, sayangku!” Kutarik nafas dalam-dalam. Aku benar-benar sudah melangkah jauh! Apakah aku benar-benar melakukan ini?

Kubiarkan Opick melepas bra-ku. Sudah dari tadi ingin dia lakukan. Masih memakai jeans, kutendang lepas sepatuku dan menjatuhkan diri rebah ke atas ranjang, payudaraku menari mengharapkan perhatian.

Opick menuntaskan ketelanjanganku dan kubantu dia menelanjangi tubuhnya. Dan kemudian kuserang batang penisnya, kusergap kejantanannya yang membuatku penasaran. Rasanya sungguh indah dalam genggamanku. Harus kugunakan kedua tanganku untuk menggenggamnya, dan harus segera kucium dan bercinta dengan batang penisnya.

Dan itu sungguh bereaksi, seakan seorang anak kecil, tumbuh semakin tinggi dan tinggi dan keras dan semakin mengeras. Opick terlihat senang dengan caraku menggunakan lidah padanya. Bukan hanya pada batangnya, tapi juga dibawah buah zakarnya, sedikit turun ke pahanya, dan naik kembali disepanjang ereksi besarnya, semakin naik menuju kepalanya yang licin.

Opick membalas perlakuanku, dia benamkan kepalanya diantara pahaku, dan menciumi serta menjilt vaginaku. Membuatnya semakin bertambah basah dari sebelumnya. Dia tetap bertahan dibawah selangkanganku sangat lama, bermain dengan kelentitku. Waktu yang cukup bagiku untuk meraih orgasme pertama dan pulih kembali untuk putaran berikutnya.

Nafasku terasa berat, kugapai ke bawah dan menjambak rambutnya. “Sayang, ayo lakukan! Mari bersetubuh!”

Ereksinya butuh perlakuan lebih lengkap, mulutku tak bisa menanganinya. Dan kemudian dia menaiki tubuhku. Tubuhnya menutupiku seutuhnya, kejantanannya sungguh sempurna. Jika saja aku tak begitu basah, mungkin saja dia butuh sedikit paksaan untuk memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam liangku, tapi aku sudah lebih dari sangat basah. Dia masuk ke dalam tubuhku dalam satu dorongan panjang.

*****
Sekarang sudah tengah malam lebih. Amanda tentu sudah berada dirumah sekarang. Atau mungkin belum. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Kupelajari instruksi pada telephone hotel untuk melakukan panggilan jarak jauh. Kubayangkan apa yang dia pakai untuk acara keluarnya malam ini. Hanya pergi minum dengan Marsha bisa berarti segalanya. Marsha selalu memperlihatkan bentuk tubuhnya, kubayangkan isteriku berkelakuan yang sama. Apakah dia memakai rok mini? Blous yang berpotongan dada rendah? Apa dia memperlihatkan keindahan tubuhnya pada pria-pria di club? Berdansa dengan mereka? Bahkan mungkin menggoda mereka hingga penasaran.

Brengsek! Tentu saja dia akan membuat mereka sangat penasaran. Aku sendiri sangat penasaran dan mulai bergairah hanya membayangkannya saja. Kumasukkan tanganku kedalam boxerku dan mulai menyentuh diriku, saat kumulai menekan tombol nomer telephone. Batang penisku sudah mengeras saat aku selesai menekan nomernya.

Amanda mengangkat telephonnya setelah dering kedua. Dia masih terjaga, mungkin dia baru sampai ke rumah.

“Hai, sayang. Aku tak membangunkanmu kan?”
“Tidak, sama sekali tidak. Aku sudah sampai di rumah sekitar satu jam lalu, tapi aku tak bisa tidur.”
“Oh? Semuanya baik saja bukan?”
“Ya. Semuanya baik saja.”
“Baguslah. Apa kamu bisa bersenang-senang malam ini?” tanyaku.
“Oh, ya! Marsha dan aku mendapatkan saat-saat yang sangat menyenangkan, meskipun kurasa aku mungkin agak terlalu mabuk tadi.”
“Apa yang kubilang soal jangan minum terlalu banyak?”
“Aku tahu, sayang. Aku tahu. Tapi saat kamu bersama Marsha, kurasa kamu akan bertingkah seperti Marsha.”

Oh, Tu**n! Bertingkah seperti Marsha? Marsha, si jalang? Penisku berdenyut dalam genggamanku. Aku harus dengar semuanya bagaimana kelakuannya. Aku mau tahu apa dia membiarkan ada pria yang menyentuhnya, atau menciumnya… atau apalah. Mungkinkah Amandaku, bahkan Amanda yang baru, bertingkah sejalang Marsha? Kuragukan itu.

*****

Jantungku seakan melompat dari dalam dadaku saat dering suara telephon menjerit! Sesaat kesadaranku belum mengetahui apa yang tengah terjadi. Baru saat dering kedua kembali terdengar, kutolehkan kepala ke samping, ke night stand disamping ranjang.

Kudorong tubuh Opick diatasku yang juga terkejut dan diam. Kuraih gagang telephone dan kulihat caller id, Kevin! Kukatakan pada Opick kalau yang menelphon adalah suamiku dan memberi isyarat padanya agar diam…

Dia menanyakan apakah telah membangunkanku, tentu saja kujawab jujur, tidak. Kami tenggelam dalam perbincangan, seputar pertanyaan apa yang sudah kulakukan malam ini.
Sejenak keberadaan Opick tersisih dari perhatianku, hingga saat mataku melirik kearahnya, diujung ranjang, tangannya bermain dengan batang penisnya.

Darahku berdesir, sebuah pikiran nakal melintas, akan kubawa percakan telephone ini kearah yang lain… Kuberi isyarat pada Opick untuk mendekat, kududuk bersandar pada headboard, paha terbentang. Kuceritakan pada Kevin tentang dansa di club, tentang rabaan pria yang menari bersamaku.

*****
“Apa kalian berdansa?”
“Ya, kami berdua melakukannya, sayang. Tapi aku terus memikirkanmu sepanjang waktu.”
“Benarkah?” aku tersanjung.
“Dan, sayang, aku harus katakan ini padamu. Kuharap kamu tak marah padaku.”
“Apa manis?”
“Mmm, pria satu ini, yang lebih tua, jadi sangat ereksi keras saat kami menari…”

Kucoba membayangkan isteriku berada dalam pelukan pria lain, begitu erat hingga dia bisa merasakan batang penisnya menekan tubuhnya.

“Dan kubayangkan sedang menari bersamamu, sayang.”

Kukocok penisku saat kudengarkan isteriku menceritakan secara detail bagaimana dia berada dalam pelukan pria asing yang penisnya membuat dia terangsang. Sekarang, kamu harus tahu kalau aku dan Amanda belum pernah melakukan telephone seks. Bahkan sebelumnya, saat aku sering bepergian, dia tak akan mau melakukannya. Dia bilang itu menjijikkan. Tapi sekarang, inilah dia, sedang menceritakan padaku bahwa dia bisa merasakan ‘batang penis kerasku’ menggesek tubuhnya, bergerak bersamanya, seirama musik.

“Dan kutekankan dadaku ketubuhmu, sayang. Putingku sangat keras!”
“Seperti aku sekarang,” kukatakan padanya. Kurasa akan lebih baik jika dia tahu kondisiku.
“Aku mulai basah, sayang, berada begitu dekat… dan saat kamu gerakkan tanganmu turun ke pantatku… dan menahannya disana… Oh, Tu**n! Aku hanya ingin segera telanjang bersamamu… Apa kamu sudah telanjang sekarang, sayang?”
“Ya, aku telanjang, sayang. Kamu?”
“Ya, Kevin. Aku juga telanjang sekarang.”

Batang penisku mendengar dengan nafas tertahan, meregang, berdenyut akan setiap suku kata mesum yang keluar dari telephone.

“Sayang, yang kuinginkan saat itu hanya langsung membawamu pulang dan naik ke ranjang bersamaku… agar dapat kuhisap penis indahmu… merasakannya dalam mulutku… dilidahku…”

Kuperkencang genggamanku di batang kerasku, aku tak mau keluar dulu. “Oh, ya, Amanda!”
“Apa kamu genggam penismu untukku, sayang?”
“Ya. Kugenggam erat.”
“Kocoklah untukku, sayang. Bayangkan mulutku sedang mengulumnya,” bisiknya, suaranya mulai terdengar berat, nafasnya memburu.

*****

Kugenggam batang penis Opick yang berdiri dipinggir ranjang, disampingku, seperti yang tengah kugambarkan untuk Kevin. Kupinta dia untuk membayangkan sedang kukulum, saat kumasukkan batang Opick jauh kedalam mulutku. Aku mulai mengulumnya, menjilatnya dengan rakus. Sensasi yang kurasa sungguh tak terlukiskan, kuperdengarkan pada suamiku saat kuberikan oral seks basah pada Kevin, membiarkan telinga suamiku mendengarnya, diseberang telephone. Mumbuatnya mengira aku sedang menghisap jariku

*****

“Rasakan aku menciummu… menjilatmu… menghisapmu…”
“Oh, Amanda! Aku sangat menginginkanmu!”
“Aku juga menginginkamu, manis,” jawab Amanda. “Aku ingin kamu… didalamku!!”

Penisku sudah siap untuk meledak.

“Aku ingin kamu masukkan sekarang… kedalam vaginaku yang basah!”

*****
Itu seakan perintah untuk Opick, dia dorong tubuhku naik ke ranjang, penisnya lepas dari mulutku. Aku merangkak diatas ranjang, telephone masih menempel ditelinga. Dia bergerak kebelakangku dan langsung mengujamkan batang penis kerasnya, basah oleh liurku, kedalam vaginaku yang kuyup.

Kumengerang ditelephone, memohon pada Kevin untuk memasukkan penisnya sedalam-dalamya ke liang panasku. Opick mulai mengayun, aku mendesah, semakin membakar birahi suamiku, kubakar birahi pasangan bersetubuhku malam ini. Saling mengayunkan tubuh basah berkeringat. Batangnya mengeksplorasi bagian terdalam dari tubuhku, membuatku melenguh panjang, Kevin mendengarnya diseberang sana, mengocok penis dengan tangannya.

Didalam kamar ini, diatas ranjang milikku dan Kevin, vaginaku terus dikocok dari belakang. Tangannya mencengkeram erat pinggangku, kuletakkan gagang telephone diatas bantal didepanku. Tanganku mencengkeram erat seprei, bibirku erulang kali mendesis.

*****

Berhasil, kata-kata terlarang, erangan, lenguhan dari mulut isteriku, mengirimku kebatas akhir.

“Oh, yaa, sayang! OHH, Amanda, YAA!” aku teriak, pelepasanku menyembur dimana-mana.

*****

“Oh, yaa! Lebih keras! Setubuhi aku! Keras…Ssshhh!” aku mendesis, gigiku beradu rapat, ditelephone, lengan dan lutut menahan tubuhku, Opick menghujamkan batangnya kedalam tubuhku dari belakang, ranjang ini terlonjak naik turun, berderit, bercampur dengan beradunya kulit dan daging basah. Oh, sangat nikmat!

Diseberang sana Kevin mengerang orgasme, aku rubuh tertindih tubuh Opick, kurasakan penisnya berdenyut hebat dalam jepitan vaginaku. Spermanya mengeluarkan semburan demi semburan, serasa tak ada habisnya. Dengusan nafas Kevin diseberang telephone, nafasku, nafas Opick memburu, berpacu, bersahutan, meredakan gelegak birahi, bagaikan sebuah irama dendang surga yang menghantar lelap…

Translated by Pureaisha

Sumber : Dunia Sex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: