h1

Evilutions IV – Amanda Pergi Ke Pesta Tanpa Suaminya

February 23, 2009
amanda

amanda

Dalam amplop tiketku ada sepucuk surat dari Charles. Sudah kubaca berulang kali dalam penerbanganku ke M**an. Tanpa surat ini aku hanyalah seorang turis atau wanita karir yang sedang dalam perjalanan pentingnya untuk sebuah meeting penting, dengan surat ini aku lain. Surat ini membuatku berada di dalam cahaya lain. Serasa bagaikan pertentangan antara Amanda si malaikat dengan Amanda si iblis, namun aku lebih mendengarkan bisikan si iblis. Sekarang sepucuk surat ini tak lebih dari selembar kertas dengan tulisan tangan diatasnya yang membuatku gelisah diatas tempat dudukku setiap kali aku membacanya.

Dear Amanda,

Aku sungguh merasa tersanjung saat kamu menerima undanganku untuk dating ke pestaku. Pesta ini untuk memperingati tonggak kesuksesan dari sejarah perusahaanku. Kehadiranmu, bagaimanapun, akan membuatnya menjadi salah satu momen yang takkan terlupakan dalam hidupku.

Aku menyesal tak bisa menyuambutmu di bandara (benturan jadwal).

Aku sudah pesan sebuah kamar untukmu, atas namaku, dihotel F*******ons. Hotel tersebut berada sekitar setengah jam dari bandara. Sebuah mobil perusahaan akan menungumu di bandara.

Aku akan menghubungimu setelah kamu check-in. Aku menunggu untuk menghabiskan waktu bersamamu.

Teman baikmu,

Charles

PS. Nikmatilah penerbanganmu, Amanda. Akan kamu temukan beberapa pakaian ganti di kamarmu.

Seorang pria dengan setelan jashitam, memegangi selembar kertas bertuliskan ‘Amanda’, menyambutuku di bandara. Dia mengawalku menuju sebuah mobil mewah, dan seperti yang dikatakan Charles, aku sampai disebuah hote;, lebih tepatnya, sebuah hotel bintang lima.

Aku separuh berharap kalau Charles akan menungguku saat kubuka pintu kamar hotelku. Jantungku berdebar.

Aku telah menempuh perjalanan sedemikian jauh dan lama dan banyak membayangkan sepanjang waktu tersebut tentang keinginanku yang memalukan dan tak tertahankan, katakanlah hasratku, untuk terbang sejauh ini demi bertemu dengan seorang pria yang tak begitu kukenal, selain fakta jika dia sungguh teramat menyenangkan diatas atau diluar ranjang. Lalu, tentu saja, dengan dalih yang kuutarakan pada suamiku untuk mendapat ijinnya agar aku bisa pergi kemari. Aku berharap aku bisa mengatakan padanya, sayang, aku mencintaimu, tapi perjalanan ini, meskipun ini semua hanyalah tentang sebuah seks dengan pria lain, tak akan bisa mengurangi rasa cintaku terhadapmu. Perjalanan ini hanya tentang seks saja, tak ada yang lain. Tentu saja, Kevin tak akan mungkin memahami itu. Dia begitu setia padaku…

Kubuka pintu tersebut dan memandang berkeliling untuk mencari Charles. Kamar yang dia pesan untukku mempunyai sebuah balkon kecil dengan sebuah pemandangan indah dari laguna nan biru. Apa aku mengatakan sebuah kamar? Ini lebih menyerupai sebuah apartemen kecil. Ada sebuah kitchen area, lengkap dengan cabinet yang dipenuhi botol minuman, sebuah ruang duduk dengan sofa dan arm chairnya, kamar mandi berukuran besar dengan ruang untuk wahtafel yang terpisah, terhubung pada kamar tidur dengan ruang rias, dilengkapi sebuah almari pakaian besar, dan sebuah poster bed berukuran super besar. Lukisan tangan dengan pemandangan indah menghiasi dinding. Charles, disisi lain, tak kutemukan dimanapun.

Kuakhiri turku dikamar hotel ini pada area tidur dimana kurebah diatas kasur empuk berukuran super besar, hanya untuk menemukan sebuah amplop, ditujukan padaku, tergeletak tepat ditengah ranjang. Penasaran, aku bangkit dan kurobek amplop tersebut.

Amanda,

Selamat dating. Kuharap penerbanganmu menyenangkan dan sopirku, Richard, membuat perjalanan daratmu terasa menyenangkan untukmu.

Di kamar mandi akn kamu temukan bermacam pilihan cairan mandi dengan aroma herbal. Pilihlah yang kamu suka dan segarkan dirimu. Itu akan membantumu rileks setelah perjalanan panjangmu. Dan juga, jangan sungkan untuk menghubungi room service untuk apapun yang kamu butuhkan.

Aku akan merasa senang menemuimu untuk minum, dan dinner jika kamu merasa lapar. Aku akan berada di lobby sekitar jam 7:00.

Dalam almari pakaian, akan kamu temukan, diantara isinya, sebuah gaun sutera putih, yang kurasa akan sempurna untuk acara nanti. Ada sepasang sepatu yang bisa kamu pasangkan dengan gaun tersebut, kamu akan temukan beberapa pilihan lingerie. Pilihanku,kalau kamu penasaran, adalah sebuah thong dengan bra pasangannya. Akan kamu temukan sebuah stocking berwarna putih dalam laci paling bawah diantar stocking yang lainnya. Tentu saja, manis, apapun yang ingin kamu pakai, aku akan merasa senang. Kamu terlihat menawan mengenakan apa saja.

Kamu akan menjadi pusat perhatian didalam pesta nanti. Aku yakin itu. Aku merasa sangat bergairah kamu berada disini!

Charles

Kuambil nafas dalam dan rebah kembali ke atas ranjang. Terasa menyenangkan mendapat kabar dari dia, meskipun hanya lewat sepucuk surat. Jadi, dia juga bergairah? Aku senang.

Kuturuti sarannya, menikmati waktuku untuk menyegarkan diri, memanjakan kulitku dengan cairan beraroma kelapa. Setelahnya, saat kuperiksa almari dan laci demi laci, takjub dengan pakain cantik yang disiapkan Charles. Sebuah laci besar berisikan hanya lingerie saja. Di rumah, aku akan memilih pakaian dalam yang simple dan sesuai, tapi di hotel mewah ini, sangat jauh jaraknya dari rumah, tubuhku serasa gemetar kala kuambil dari beberapa pilihan pakain dalam yang menggiurkan dan mengamatinya. Menyadari kalau Charles tak hanya telah memilihnya secara pribadi, namun juga menaruhnya sendiri di sini, untuk aku.

Sebuah busana berwarna putih yang disarankan oleh Charles terasa sangat pas, termasuk thong dan bra kecilnya. Kevin pasti akan menyukai melihat penampilanku dengan gaun ini. Ini masih terlihat konservatif tapi mampu memperlihatkan tiap lekuk tubuhku, tak terlalu ketat, tapi terlihat mampu memperlihatkan kalau aku telah merawat tubuhku dengan baik.

***
Setelah merasa segar, aku menuju ke lobby, namun tak kulihat tanda- tanda keberadaan Charles. Ini hampir jam tujuh, dan kuingat ucapannya, sekitar jam 7:00. Kuambil tempat dengan sebuah pemandangan ke laut. Seorang pelayan menghampiri dan menanyakan apa aku membutuhkan sesuatu. Kukatak padanya kalau aku sedang menunggu seseorang. Itu saat sopir Charles muncul.

“Selamat malam, nyonya, tuan Charles terlambat dan beliau memintaku untuk menemani anda sampai beliau datang, itu jika anda tidak memilih untuk tak diganggu.”
“Richard, benar?”
“Ya, nyonya.”
“Namaku Amanda, bukan nyonya,” kubenarkan dia dengan tersenyum.

Dia balas tersenyum, meminta maaf.

“Aku akan senang ada yang menemani sambil menunggu. Silahkan duduk.”

Richard mengambil duduk didepanku dan menyodorkan padaku sebuah menu minuman. Kuamati menu tersebut, tapi dia telah memilih sebotol wine dan memesan dua buah gelas. “Jika anda berubah pikiran,” ucapnya.

Tentusaja kucicipi wine-nya saat dating. Rasanya begitu lembut, tentu harganya bagus. Kutanyai Richard berbagai pertanyaan tentang charles dan perusahaannya, dan juga tentang pesta nanti. Kupelajari bahwa Charles yang memegang kendali dari perusahaan tersebut, yang membuatku terkejut, namun lebih mengejutkanku lagi saat kutahu kalau Charles sudah menikah.

“Maaf nyonya, saya kira anda sudah tahu,” katanya.
“Bukan masalah. Aku juga sduah menikah,” jawabku, lalu kusadar jika ini sebuah informasi yang terlalu jauh untuk dia tahu.

Aku juga jadi tahu kalu pestanya nanti dijadwalkan hari Sabtu malam jam 7:00 di hotel ini juga.

“Perusahaan sudah membooking beberapa ruang tamu dan dua buah ruang konferensi yang besar. Kami mengundang sekitar 200 tamu,” kata Richard, lalu tiba-tiba dia mengambil sebuah pager dari jasnya.
“Dari Charles. Beliau sudah disini.”

Kusapukan pandangan ke sekitar saat Richard dengan cepat berdiri dan memohon diri.

“Sungguh menyenangkan mengobrol denganmu, Amanda. Mungkin kita bisa bertemu lagi di pesta nanti.”
“Ya. Mungkin,” jawabku.

Sebuah langkah kaki dari belakangku membuatku berbalik diatas kursiku.

“Charles!”
“Amanda!”

Dengan gembira, aku berdiri. Kami saling menyambut dengan sebuah pelukan dan kecupan ringan di bibir.

Charles mengenakan sebuah kemeja bercorak bunga dan celana panjang berwarna krem, sebuah kalung emas elegan menghiasi lehernya.

“Sangat senang rasanya berjumpa denganmu, Amanda. Aku sangat gembira kamu bisa dating di akhir pekan ini.”
“Aku juga,” jawabku, mengamati matanya.
“Ngomong ngomong, gaunnya sangat cantik kamu pakai. Kamu suka?”
Aku mengangguk. “Kamu punya selera yang bagus.”
“Terima kasih. Kamu juga,” balasnya, memegangi lenganku dan mengamati sekujur tubuhku. “Jadi, apa kamu lapar?” tanyanya.

Kujawab tidak, itu jujur. Aku begitu gembira dan merasa sedikit melayang karena wine tadi yang ‘kucicipi’ saat menunggunya. Makanan adalah hal terakhir dalam benakku.

“Kamu suka kamarmu?”
“Begitu luas! Ya. Aku sangat menyukainya.”
“Kamu yakin tak mau makan?”
“Aku yakin. Kalau kamu?”
“Oh, aku sangat lapar,” jawabnya, matanya berbinar. “Untuk kamu.”
“Kamu dulu pernah mengundangku ke kamar hotelmu. Bagaimana kalau aku membalas undanganmu?”
“Aku akan merasa sangat tersanjung,” jawabnya.

Kamarku hanya beberapa menit jauhnya dari lobby. Charles dan aku berjalan perlan dengan saling merangkul layaknya sepasang kekasih. Dengan sepatu bertumit tinggi, aku jadi jauh lebih tinggi darinya. Tercium aroma cerutu dan cologne darinya seperti saat ‘kesalahan dalam pernikahanku’ yang pertama dulu, dan tentusaja seperti ‘kesalahannya’ juga. Terasa lucu setelah mengetahui kalau kita berdua sudah saling terikat.

Beberapa tamu hotel terlihat tertarik akan keberadaan kami, kurasa perbedaan usia kami yang menarik perhatian mereka. Banyak orang mengatakan kalau aku terlihat masih berusia dua puluhan, dan Charles, dengan rambut tipisnya yang mulai berwarna putih, tampak berumur 53 tahun.

***
Begitu berada dalam kamar, kami saling menyambut dengan saling melumat bibir. Mulut Charles melekat dibibirku, lidah kami saling mengucap halo dan bertukar sambutannya sendiri yang lebih intim. Dari belakangku, kurasakan tangannya mencengkeram ujung bawah gaunku dan mengagngkatnya keatasa, melewati pantatku, hingga kedua telapak tangannya yang besar berada pada bongkahan pantatku, yang masih tertutupi celana dalam thong milikku.

“Oh, Amanda,” bisiknya, sambil meremas pantatku. “Amandaku yang manis!”

Kubuka kancing atas dari kemejanya, dan menelusupkan tanganku untuk meraba dada berbulunya.

Dia tersenyum dan membiarkanku melepas kancing yang lain sebelum mengatakan padakau kalau dia ingin melihatku tanpa gaun.

“Masih pria tua yang nakal, hah?” kataku, menyeringai dengan gairah.
“Aku senang.” Matanya mengatakan padaku betapa senangnya dia betemu denganku.

Sejenak kemudian, aku berdiri dihadapannya, hampir telanjang, kulitku yang putih melebur dalam putihnya warna lingerie yang tak begitu bisa merahasiakan anatomi rahasiaku. Charles, tampak begitu puas dengan pilihannya pada pakaian dalam yang kupakai dan bagaimana itu terlihat serasi ditubuhku, dia pegang tanganku dan membimbingku menuju balkon. Prifasi yang terbentuk oleh dinding ditiap sisi balkon tersebut seakan menyambut kami, kubuat diriku rileks, setengah telanjang atau tidak, malam ini terasa hangat dan sepoi-sepoi. Lengan Charles masih melingkar memeluk tubuhku saat kami berdiri disana dan berbincang tentang pesawat dan bandara, cuaca disini, dan kami begitu menikmati udara malam dan pemandangan laguna nan biru. Tak satupun dari kami yang menyinggung tentang pasangan masing-masing.

“Amanda, kamu tak kan mengira berapa banyak malam yang kuimpikan tentang malam ini… berada bersamamu sendiri… kembali.”
“Apa kamu pikir kalau aku akan mau datang kesini?” tanyaku.
“Aku tak yakin. Aku berharap dan bermimpi kalau kamu akan bersedia. Aku bermimpi semua hal tentang kita berdua.”

Kami duduk pada bangku di balkon tersebut. Bibir kami bertemu lagi, kali ini dengan intensitas lebih hingga tak mampu kami than tangan kami mulai saling meraba. Kulepaskan sabuk Charles dan menyusupkan tanganku memasuki celananya untuk menemukan batang penisnya. Tak sebesar yang kuingat, tapi masih terus membesar.

Diturunkannya tali bra-ku melewati bahu, satu demi satu. Kedua putingku memperlihatkan apresiasinya setelah terekspos dengan berdiri mencuat masing-masing. Sepertinya mereka punya pikiran sendiri, selalu mencari perhatian lebih. Charles meresponnya, memencetnya diantara ibu jari dan jari tengah, dengan sabar memberi perhatian yang didamba terhadap masing-masing.

Terus kumanjakan batang penisnya yang semakin mengeras, begitu ingin kurasakan mulutnya di payudaraku. Begitu ingin kurasakan bibirnya di sekujur tubuhku.

“Oh, Amanda,” desahnya, menurunkan wajahnya ke payudaraku. Dapat kurasakan batang penisnya tumbuh memanjang dalam boxernya.

Bibirnya yang lapar menangkap salah satu putingku dan menjadikannya tawanan, menyiksanya dengan tarikan dan hisapan. Kugapai semakin dalam memasuki boxernya dan kutemukan buah zakarnya, lalu bermain dengan itu. Mulutnya begitu santai menikmati tangkapannya, lalu membebaskannya, hanya untuk menangkap tawanan yang satunya lagi.

Tangannya yang satu berada dipinggangku, memegangi tubuhku. Kupegang dengan tanganku dan menariknya ke perutku dan membimbingnya turun. Menuju ke celana dalamku.

Kami berciuman lagi, saling meraba,memanjakan diri dengan kenikmatan.

Menit berikutnya kami masuk kembali ke dalam kamar, tanpa bra dan celana dalamku, Charles tanpa bajunya.

Charles duduk ditepian ranjangku dan aku bersimpuh diatas lantai, kulepaskan sepatu dan kaos kakinya dan kubantu dia dengan celana panjang dan boxernya.

Berlutut diantara pahanya, kuamati ukuran batang penisnya. Gemuk dan panjang, begitu indah dengan kesempurnaan dua sisi ukurannya. Kurebahkan bebannya diatas telapak tangan kecilku, layaknya tengah kutimbang squash cantik di supermarket. Bukan, ini bukanlah squash. Apa yang tengah kupegang hanya bisa ditemukan dibagian daging. Ini sungguh daging yang segar, dan disunat dengan tampan!

Aku mengecupnya. Dan kemudian kutatap keatas untuk melihat reaksinya. Wajahnya tampak berbinar layaknya seorang anak kecil. Mataku tak kulepas dari matanya dan mulai kekecap rasanya dengan lidahku.

“Ayo. Naik ke atas ranjang bersamaku,” ajaknya, tangannya memegangi lenganku, memaksaku untuk bangkit.

Aku merangkak ke atas ranjang bersamanya dan dengan cepat kami saling bergulingan, berpelukan dan berciuman, menikmati keintiman dari ketelanjangan kami berdua. Sesungguhnya, aku tidaklah telanjang bulat, aku masih mengenakan stocking dan sepati bertumit tinggku, tapi bagian yang terpenting, payudara dan vaginaku, telah terpampang tanpa penghalang untuk Charles agar bisa merabanya, memanjakannya dan menciumnya.

Sekarang, aku menyukai oral seks. Sungguh, tak pernah merasa cukup. Tapi saat ini, aku telah siap untuk sesuatu yang lebih. Mengharapkan yang lebih. Tapi itu tak terjadi. Tak terjadi intercourse antara aku dengan Charles malam itu. Tak ada penetrasi. Itu kalau lidah Charles tak dihitung, dan giginya, dan sekarang aku jadi memikirkannya, mungkin dia menyusupkan jarinya satu atau dua ke dalamku. Aku tak ingat. Aku dilahap begitu menyeluruh hingga aku lupa akan tiap detilnya.

Kucoba untuk melahap dia, tapi dia tak mengijinkanku. Dia biarkan kuhisap buah zakar dan batangnya, dan bahkan menghisapnya sedikit, namun saat dia mulai menjadi sangatlah besar, seperti Charles yang kuingat, dia menjauh.

“Amanda, aku ingin menyimpannya untuk pesta nanti. Aku harap kamu mengerti.”

Aku merasa kecewa.Aku merasa dihempaskan saat itu, semua keringat ini dan bersimpuh untuk memuaskannya, seperti dia telah memberiku kepuasan. Tapi akhirnya aku mengerti. Diusianya sekarang, dia mungkin merasa agak ragu bisa menjaga staminanya untuk permainan dua malam. Aku akan menunggu hingga Sabtu malam. Kujatuh terlelap dalam pelukannya, dan terbangun kemudian saat dia turun dari atas ranjang dan mulai memakai pakaiannya.

“Maafkan aku, sayang. Aku harus pergi,” katanya. “Besok akan lain ceritanya. Kita akan habiskan sepanjang malam bersama, hanya kita berdua, OK?”

Kupandangi dia merapikan diri dan membayangkan apakah nanti isterinya akan mengenali aroma wanita lain ditubuhnya.

***
Terasa sedikit mengecewakan saat terbangun diatas ranjang di Sabtu pagi sendirian, tanpa Carles, tanpa Kevin dan terasa lebih kecewa mendapati sebuah pesan suara di telephone.

Charles akan tertahan sepanjang hari. Dia tak bisa menemuiku hingga saat pesta:

“Sambil menunggu, kasihku, aku telah memesankan tempat untuk satu jam penuh di spa hotel. Kamu akan menyukainya. Dan juga, ada group kecil dari perusahaan yang akan berkunjung ke kebun binatang. Kamu boleh bergabung dengan mereka. Richard akan menemanimu, dia akan menghubungimu siang ini untuk melihat apa kamu tertarik atau tidak. Ngomong-ngomong, ini adalah kebun binatang terbaik di negeri ini. Kalau kamu suka binatang, kamu harus mengunjunginya.

Sekali lagi, aku minta maaf karena tak bisa meluangkan waktu untukmu siang ini, tapi malam nanti kita akan menghabiskan sepanjang malam bersama. Hanya aku dan kmu saja!”

Rasa kecewaku perlahan sirna seiring bergulirnya hari. Pijatan yang kudapat di spa begitu nikmat dan facial-nya membuatku merasa lebih muda kembali. Sebenarnya aku malas pergi ke kebun binatang, tapi saat kudengar Richard mendeskripsikan tentang tempat tersebut, termasuk makan siang di sebuah restoran “tree-house”, aku menyerah. Itu terdengar menjanjikan banyak kesenangan.

Tentu saja, puncak dari akhir pekanku masihlah pesta nanti malam.

Aku coba beberapa busana sebelum menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun dengan merek terkenal. Gaunnya berwarna hitam, sutera, ketat, berpotongan rendah (depan dan belakang), dan memiliki belahan tinggi disalah satu sisi. Didalamnya, aku pilih sebuah ‘boy short’ stretch berenda dan bra berpenampang kawat juga dengan bahan stretch berenda. Bra berpenampang kawat bukanlah kesukaanku, tapi itu satu-satunya bra yang cocok untuk celana dalam yang kupilih. Juga, menimbang betapa rendahnya potongan gaun dibagian depan tersebut, bra ini menjadi sempurna. Gaun ini cukup ketat, membuatku tak telalu mencolok dan lumayan tipis namun tak terlalu memperlihatkan apa yang ada dibalik gaun. Aku tampil dengan natural dan wajar, termasuk sedikit putting yang terlihat samar, jika keadaan merangsangnya.

Kusempurnakan busana pestku dengan stocking nakal berwarna hitam dan sepasang garter belt, sebuah sandal perak bertumit tinggi yang semakin membuat postur tubuhku menjulang, dan sepasang anting perak yang kubawa dari rumah. Harus kuakui penampilanku agak sedikit terlihat jalang, tapi busana ini adalah pilihan Charles, jadi kenapa tak memberinya apa yang dia inginkan? Bagaimanapun, dialah alsan kenapa aku kemari.

Charles muncul dikamarku pukul tujuh kurang seperempat dan langsung memberiku hadiah siulan nakal. Kukalungkan lenganku ditubuhnya dan memberinya sebuah ciuman basah nan lama. Tangannya meluncur turun dipunggungku, terus turun hingga pantat.

“Hmmmm,” rajukku. “Aku senang kamu masih tertarik.”
“Aku tak akan pernah merasa cukup menikmatimu, Amanda,” jawabnya. “Tapi sekarang kita punya pesta yang menanti.”

Charles sebelumnya telah memperingatkanku untuk tak makan sebelum waktu pesta, dan aku senang karena dia telah memperingatkanku. Makanannya sungguh sempurna dan tersedia dalam jumlah yang banyak. Setiap sudut dari ballroom utama, selalu ada pria dengan topi chef beserta jaketnya sibuk dengan pekerjaannya.

Seorang pesulap ditengah ruangan membuat semua orang yang mengelilinginya berdecak kagum dan bertepuk tangan riuh.

Charles naik ke atas panggung diawal malam itu dan memberikan pidato sambutan tentang bagaimana bagusnya keberuntungan dan kerja keras telah menjadikan perusahaan meraih kesuksesan ini.

Setelahnya, lampu utama dimatikan dan lima orang anggota band mengisi panggung dan mulai melantunkan sebuah lagu yang kusebut jazzy cowboy swing, sebuah irama yang begitu menyenangkan, dan mudah untuk dibuat menari. Pasangan-pasangan mulai berkumpul ditengah ruangan. Kucari Charles disekitarku, tapi tak kulihat dia. Seorang pria seumuranku yang kurasa tadi naik bersama Charles ke atas panggung memperkenalkan dirinya dan mengajakku berdansa.

“Amanda, namaku Peter. Aku bekerja dengan Charles.”

Kucari disekelilingku untuk teman kencanku, tak beruntung. Ruangan ini sekarang jadi begitu gelap dan terasa sulit untuk melihat orang lain. Hanya satu tempat yang hanya bisa membuatmu mengenali ciri orang lain adalah di area makanan dan panggung. Ditengah ruangan dimana semua orang sedang bedansa, sama sekali tanpa penerangan.

Kukatakan pada Peter kalau aku mau berdansa dengannya sampai Charles datang. Saat waktu berjalan, kudapati kalau dia seorang penari yang handal, bahkan saat irama mulai berubah lambat, gerak kaki dan tubuhnya begitu pintar, lembut dan mantap. Dan berdansa dengan begitu dekat, dengan tangannya melingkari tubuhku, dia merupakan seorang pria gentle sempurna. Bukan hanya sekali aku dapati dia berusaha untuk mengintip kebalik gaunku atau meraba tubuhku, seperti yang dilakukan kebanyakan pria di atas lantai dansa. Tentu saja, terus kuingatkan diriku kalau aku sedang berada di acara perusahaannya Charles, bukan sedang berada di sebuah club.

Akhirnya Charles muncul, dia menjelaskan kalau ada sebuah bisnis yang harus dia deal kan.peter mulai berusaha menjauh, tapi Charles mengintervensinya.

“Apa dia pintar dansa, Amanda?”

Aku tersenyum dan memberi Peter nilai tnggi.

“Kalu begitu, kenapa kalian berdua tidak meneruskan dansanya selagi aku pergi mengambil minum untuk kita bertiga?”

Selama sekitar satu jam, Charles terus membuatku dibasahi oleh bermacam campuran minuman yang belum pernah kudengar namanya, dan memperkenalkanku pada beberapa koleganya, semuanya pria kecuali satu yang semula kukira adalah seorang pria, berpakaian setelan bisnis, kemeja putih dengan dasi, seperti kebanyakan pria dipesta ini. Aku senang dia tak memintaku untuk berdansa dengannya. Aku akan merasa tak nyaman berdansa dengan irama slow dengan seorang wanita.

Partner dansa favoritku adalah Peter, dan kelihatannya dia juga menikmati berdansa denganku. Beberapa kali dia menepuk bahu dari teman Charles yang entah,aku tak mengingat semua namanya, yang tengah berdansa denganku dan meminta untuk menyela. Hanya sekali dia menunjukkan tanda kalau dia tertarik lebih dari sekedar tarianku. Itu selama lagu dengan irama yang sangat slow, dan kami bergerak seakan telah berdansa bersama sekian lama. Kami berdansa begitu dekat, erat, dan kurasakan dia mulai ereksi. Dengan refleknya dia berusaha merenggang, merasa jengah. Ingin kukatakan padanya kalau aku tak apa-apa, tak merasa terganggu, tapi aku tetap diam. Aku berada dipesta untuk jadi seorang gadis nakal hanya untuk satu pria saja, dan aku sangat tak ingin Peter mendapat sebuah impressi yang salah.

***
Aku tak lagi menghisap m****uana semenjak kuliah. Kevin tak terlalu suka dan juga kebanyakan teman kami. Saat band tengah break, Richard menghampiriku dan menawarkan apa aku mau mencoba beberapa linting g**ja, sambil mengisyaratkan ke pintu keluar didekatku. Rasa sedikit pusing dari seluruh minuman tadi, membuatku mengikutinya keluar. Bagaimanapun, ini adalah sebuah pesta. Kenapa tidak kunikmati semua waktu yang menyenangkan? Kami berjalan melewati halaman rumput yang terawat rapi menuju area dekat tempat latihan golf, tempat dimana kami akan sedikit menikmati terbang melayang.

Richard menggandeng tanganku saat kami berdua kembali ke pesta. Kutanya dia apa dia kira kalau Charles akan marah jika melihat kami bergandengan tangan.

“Tidak, tuan Charles tak akan apa-apa. Dan lagipula, aku hanya memegang tanganmu. Kita tidak bercinta atau ang lainnya,” jawabnya.

Aku tertawa tapi tak berkomentar apapun disisa langkah kami. Aku tengah sibuk mencoba membayangkan bagaimana rasanya disetubuhi oleh pria yang sedang menggandeng tanganku ini.

Musik yang dilantunkan band tersebut terdengar beda. Apakah karena pengaruh dari m****uana atau memang band-nya lain? Aku tak tahu. Aku tak ambil pusing. Aku hanya merasa kalau aku ngin mebggerakkan tubuhku, menari dan tak ada alsan untuk menunggu ajakan siapapun. Aku bergabung dengan sekelompok kecil wanita yang sedng menari sendiri, dan dengan mat terpejam, aku mulai bergerak seirama musik.

Kuhirup sebuah lagu baru. Iramanya lebih slow, lebih sensual dari lagu sebelumnya. Terdengar seperti sebuah flute dari bamboo mengalunkan melodi, tapi mungkin juga hanya suar dari keyboard. Apapun itu, itu merasukiku. Kuingat itu seperti sebuah suara yang dating dari alam dan binatang. Mungkin karena pengaruh kebun beinatang yang kukunjungi siang tadi, tapi dapatkudngar suara suara binatang yang begitu sensual. Seakan aku berubah jadi mereka saat menari, terkadang aku menjadi ular yang meliuk, terkadang menjadi seekor kuda pony yang melangkah dengan pelan.

Aku terbangun dari ‘trance-ku’ saat kurasa seseorang menyentuhku, di pantat. Aku berbalik. Ternyata Charles, tersenyum begitu bahagia.

“Astaga, kamu terlihat sangat hot saat menari, Amanda!”

Kutarik dia untuk menari bersamaku, meskipun aku tahu kalau dia tak begitu percaya diri jika berdansa. Lengannya melingkari tubuhku dan berpura-pura tengah mnari, menggerakkan tubuhnya sedikit ke kira kanan. Kusambut tubuhnya ke tubuhku dengan menekankan payudaraku padanya dan memeluknya erat. Dia cium telingaku dan kemudian berbisik.

“Aku menginginkanmu, Amanda. Ayo balik ke kamarmu.”

Tak ada satupun yang bisa mencegahku untuk menyetujui ajakannya. Aku tengah berada di puncak dunia. Jadi, dengan bergandengan tangan, kami menyelinap diantara keramaian dan melangkah menuju ke kamarku.

***
Charles menuangkan minuman untuk kami berdua dan kemudian, menggunakan remote control dari cable system, dia pilih chanel yang memainkan sebuah background musik berirama lembut. “Rilekslah,” sarannya, dia buka jasnya dan melonggarkan dasi yang dia pakai.

Kureguk minumanku dan melepaskan gaunku.

“Oh, manis!” erangnya. “Kamu sangat hot!”
“Sangat hot, ya? Apa itu berarti kalau aku akan segera disetubuhi?” godaku, kutatatp lekat matanya agar dia tahu kalau aku sangat, menginginkannya.
“Telah kujaga tubuhku untukmu,” jawabnya.
“Aku tahu,” ucapku dan erjalan mendekatinya, kugerakkan tubuhku semenggiurkan mungkin, dengan berhiaskan sandal bertumit tinggi berwarna perak dan pakaian dalam seksi. Mulai kulepas kancing bajunya.

“Amanda, aku ingin melakukan sesuatu yang sangat special untukmu malam ini. Sesuatu yang tak akan kamu lupakan.”
“Aku dengarkan,” jawabku, kuangkat naik kemejanya dari himpitan celananya.
“Kamu percaya padaku, manis?”
“Tentu saja. Aku tak mungkin berada disini jika tidak,” ucapku, membantunya melepaskan lengannya dari kedua lengan kemejanya.
“Bagus. Aku ingin kamu berbalik,” katanya, menaruh kemejanya diatas dresser.

Aku suka kejutan, tapi tak bisa kuterka apa yang tengah disiapkan Charles. Hingga kurasakan tangannya terjulur dari belakangku dan dengan berhati-hati memasang sebuah syal untuk menutup mataku.

“Oh, ini akan menyenangkan ,” aku tertawa manja. Kevin dan aku sudah banyak melakukan sesuatu yang berbeda, tapi penutup mata belum pernah kami lakukan. Aku berdiri tak bergerak, tersenyum sendiri saat Charles mengikatkan syal dengan erat dibelakang kepalaku. Dia melakukannya dengan baik. Aku tak bisa melihat apapun.

“Apa kamu akan menuntaskan menelanjangiku?” tanyaku.
“Pasti. Tapi bukan sekarang,” jawabnya, menggandeng tanganku. “Jangan mengintip.”
“OK, tapi apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku penasaran, saat kudengar dia membuka kunci pintu.
“Kamu percaya padaku, kan?” dia bertanya lagi, masih memegangi tanganku.
“Kita mau kemana? Aku tak bisa kemanapun dengan seperti ini!”
“Kita hanya akan pergi ke kamarku. Hanya beberapa kamar dari sini, sayang.”
“Beberapa kamar dari sini! Tapi bagaimana kalau seseorang melihatku… seperti ini?”
“Tak ada yang akan melihatmu, manis. Lagipula, kalaupun ada, mereka hanya akan merasa iri saja,” dia tertawa, lalu membimbingku keluar.

Kugeretakkan gigiku dan mengikuti Charles yang membimbingku menyusuri lorong hotel. Ini hanya perjalanan pendek. Kamarnya sangat dekat dengan kamarku. Syujurlah. Kudengar dia menggunakan kunci kamarnya dan membuka pintu.

“Ohh, ini sungguh terasa aneh,” kataku dengan suara serak.
“Masuklah,” perintahnya, masih memegangi tanganku.

Kumasuki kamar Charles dengan segera, merasa lega karena tak terpergok saat menyusuri lorong hotel dengan hanya memakai sandal bertumit tinggi dan pakaian dalam saja.

“Lewat sini, manis,” ucapnya, membimbingku menuju ranjangnya. “Rebahlah dan buat dirimu nyaman.”
“Apa kamu bisa melihat sesuatu, sayang?” dia menanyaiku lagi setelah aku rebah ke atas ranjang, kepalaku di atas bantal yang empuk.

“Aku bahkan tak bisa melihat apa lampu kamarmu menyala atau tidak,” jawabku nervous.
“Bagusd, tapi kamu bisa merasakan, bukan?” dan untuk memberi ilustrasi dari pertanyaannya dia taruh tangannya di payudaraku dan meremas dengan lembut.
“Hmmm. Oh, ya. Aku bisa merasakannya!”

Tangannya meluncur ke payudaraku yang satunya, lalu turun ke perut, turun lagi hingga pahaku. aku gemetar menyadari kemungkinan kemana sentuhannya akan bermuara. Namun tangannya terus meluncur turun, menuruni pahaku dan melewati lutut. Lalu kurasakan dia melepaskan tali sandalku, satu demi satu dilepaskannya. Lalu tangannya merayap naik kembali menelusuri pahaku, menuju ujung atas dari stockingku. Dapat kurasakan diriku semakin bertambah terangsang, kala dia lepas pengait stockingku dari garter belt. Berikutnya, kurasakan stockingku ditarik lepas. Kuangkat kakiku untuk mempermudahnya. Seterlah terlepas, kurasakan tangannya memegang pinggulku, melucuti garter belt yang kupakai.

Apa yang terjadi padaku berikutnya membuatku sangat terkejut. Kukatakan kalau aku mempercayainya, jadi saat Charles memegang tanganku dan mulai membungkuskan salah satu stockingku pada pergelangan tanganku, aku tak menolaknya. Bahkan saat dia mengaitkan stocking yang telah terlilit pada salah satu tiang ranjang, aku hanya rebah diam merasa terkejut dan penasaran. Baru saat dia melakukan hal yang sama dengan tanganku yang satunya, barulah aku berkomentar.

“Charles. Aku tak begitu yakin dengan ini.”
“Manisku, kamu bilang mempercayaiku. Aku tak akan pergi kemanapun. kamu aman.”
“Aku tahu. Hanya saja aku tak begitu yakin mau…”
“Tidak terlalu kencang, kan?
“Tidak. Kurasa tidak.” Kutarik ‘belengguku’ untuk mengetesnya. Aku yakin jika kutarik dengan keras, itu akan mengendur, tapi percobaan pertamaku membuatku kecut. Stockingnya melar, tapi tak banyak, lalu kutarik lebih keras. Kali ini mereka tak bergeming. Charles telah mengunciku dengan kuat melebihi perkiraanku. ASTAGA! Dia sudah menanyaiku tentang ini. Ak rasa sudah menijinkannya, tapi akan lebih baik jika kita membicarakannya terlebih dulu, untuk meyakinkan. Apa dia sudah merancanakan semuanya sampai sejauh ini, ataukah ini hanya spontanitasnya saja, sesuatu yang diimpikannya?

Dia masih berdiri didekat kepala ranjang, tak diragukan mengamatiku terentang dan terbelenggu. Kelihatannya puas dengan pekerjaan tangannya, dia menjauh, menjalarkan tangannya disepanjang tubuhku saat dia berlalu. Kurasa dapat kedengar nafasnya dan membayangkan betapa terangsangnya dia, melihatku diatas ranjang, pergelangan tangan terlilit stocking, hanya memakai boy-short mungil dan pasangan bra-nya. Gairahku sendiri bercampur dengan emosi takut.

Tiba-tiba kudengar suara musik mengalun. Kurasa dari cable system. Kali ini, Charles menemukan chanel yang lain. Sebuah mucik rock dengan sayatan gitar elektrik dan dentuman suara drum. Sebuah musik yang menghentak. Sebuah musik yang tak sudah pasti akan membuatku bergoyang, jika saja aku berdiri bebas.

Kemudian dia kembali dan membungkuk diatasku. “Amanda, Kamu terlihat begitu cantik. Bolehkah aku menciummu?” tanyanya minta ijin.
Kutelan ludah dengan grogi. “Kurasa tak banyak yang bisa kulakukan untuk mencegahmu, jika aku mauo.”
“Oh, Aku tak akan menciummu kalau kamu tak mau. Apa kamu ingin kucium, manisku?”
“Ya. Ya. Aku ingin kamu menciumku,” rengekku lirih.

Bibir Charles sedikit terasa seperti cerutu, tapi semakin lama dia menciumku, semakin aku tak peduli bagaimana rasa bibirnya. Aku semakin terangasang dan terbakar diatas ranjang Charles, hampir telanjang bulat, terbelenggu pada tiang ranjang sedangkan pria yang tak bisa kulihat, seorang pria yang bukan suamiku, melumat mulutku yang terbuka. Aku ingin sebuah kontak. Aku ingin dia naik keatas ranjang bersamaku. Semakin dekat, semakin baik. Kugapai mulutnya dengan lidahku. Dia berikan mulutnya sebagai balasannya, dan untuk beberapa menit, kubayangkan bahwa mulutku adalah vaginaku. menikmati cara lidah panjang milik Charles merangsak begitu dalam.

Lalu kurasakan tangannya di payudaraku dan dia hentikan ciumannya padaku. Dia singkap penutup dadaku dari tiap tiap daging payudaraku dan membuatnya terpampang tanpa penghalang. Bisa kurasakan nafasnya, bibirnya tentu berada sangat dekat dengan payudaraku. Apa dia sedang mengamati putingku? Apa putingku mencuat keras? Sentuhlah, demi apapun! Aku ingin merasakan sentuhannya. Aku membutuhkannya.

T**an tentu pasti mendengar do’a dan rintihan dari tubuh telanjangku yang menggeliat, tak mampu menahan apa yang dilakukan Charles. Apapun itu, dia mulai mencium payudaraku. Aku merinding saat lidahnya menyapu ujung salah satu putingku. Kurasakan dia membawanya kedalam mulutnya dan memberikan sebuah hisapan kuat yang panjang. Nafasku sesak. Aku basah.

Dia berikan perlakuan yang sama terhadap putting yang satunya, menyentuh keduanya dengan lidah dan jarinya. Menghisap yang satu dan memilin yang lainnya. Memencet mereka. Menggigit mereka. Menghisapnya kembali, lagi dan lagi.

Aku mengerangan untuk mendorongnya agar terus, aku sangat terangsang. Tapi dia mengacuhkan payudaraku dan cumbuannya meluncur turun menuju celana dalamku. Aku sadar betapa liarnya tubuhku menggelinjang sekarang. Aku tak mampu rebah dan diam saja. Tangannya melata diatas selangkanganku dan membelai vaginaku dibalik tirai berenda kecilku. Dan kemudian tangannya menelusup ke dalam celana dalamku, ujung jarinya menggapai kewanitaanku yang basah. Aku ingin dia mengakhiri godaannya terhadapku tapi dia kelihatannya tak mau tergesa. Dia nikmati waktunya dalam melepas celana dalamku, menurunkannya perlahan melewati pahaku hingga terlepas seutuhnya. Akhirnya, dia telah mempersiapkanku untuk dia nikmati. Aku telah telanjang bulat, paha terentang. Seluruhnya terpampang.

Serasa sang gitaris ikut larut dalam gairah menyaksikan pemandangan seorang wanita telanjang bulat terikat tangannya pada tiang ranjang hotel tersebut. Namun tiba-tiba dia memecahkannya dengan sebuah lengkingan solo gitar dalam irama blues yang mendayu. Sang drummer, seluruh anggota band, terdengar penuh semangat, ataukah Charles telah menggunakan remote control untuk mengeraskan suaranya? Apakah dia masih berada di atas ranjang bersamaku?

***
“Charles?” kubutuh dengar suaranya untuk memastikan .
“Ya, Amanda?” kudengar suaranya datang dari ujung bawah tempat ranjang.

Nafasku tersengal. “Aku menginginkanmu sayang,” jawabku.

“Aku juga menginginkanmu,” balasnya dan tiba-tiba dia sudah berada diatas ranjang dan mulutnya berada diantara pahaku dan dia menjilati vaginaku. Sekarang tak ada lagi kepura-puraan. Ini hal yang nyata!

“Oh, T**an!” lenguhku. Cairan birahiku mengalir ke lidahnya. Aku ingin menyentuhnya, membelaikan jemariku ke rambutnya, atau hanya membelai kulitnya, tapi tentu saja, stocking yang melilit pergelangan tanganku menjadikannya tak mungkin. Kusentakkan lebih keras. Semakin dia menjilatiku, semakin keras kusentakkan tanganku. Hanya sia-sia. Aku hanya bisa menggerakkan kakiku, maka kurapatkan pahaku untuk merasakan bagian samping wajahnya dengan pahaku saat dia memberiku kepuasan, menyapukan ujung lidahnya maju mundur pada kelentitku.

Kemudian, secepat saat lidahnya menyentuh vaginaku, dengan cepat pula dia menjauh, meloloskan dirinya dari jepitan pahaku. Sekujur tubuhku bergetar hebat. Meradang untuk dimasuki. AKu ingin lidahnya, aku butuh penisnya, apa saja!

“Charles, kumohon masukkan,” ibaku. “Kumohon setubuhi aku!”

Dia tak menjawab. Bukan dengan kata, melainkan, dengan satu tangan dia angkat pinggangku dan menyelipkan sebuah bantal di bawah pantatku. Kugigit bibirku, mengharap, membuka pahaku semakin lebar dan menarik nafas panjang. Dan sebelum kumampu hembuskan nafas, dia sudah berada di dalamku. Seluruh batang penisnya tiba-tiba menghujamku, begitu dalam, hanya dengan satu tusukan, seluruhnya terkubur di dalam vaginaku. Aku memekik. Itu begitu tiba-tiba. Tak seperti dia biasanya. Tapi sungguh terasa nikmat, terisi dengan batang penis gemuknya, yang begitu keras. Begitu dalam. Kuangkat pantatku ke atas untuk menyambut sentakannya, sekeras yang kubisa dan segera saja kami saling menyetubuhi, saling mengayun, menghentak.

Sebagai seorang yang buta sementara ini, bagaimanapun telingaku berperan menjadi jendelaku dan kusimak setiap suara, kecil maupun besar. Dentuman irama suara bass terdengar konstant dikejauhan. Suara nafas yang berat dari pria diatas tubuhku. Suara daging basah yang saling beradu, meluncur berirama. Suara derit ranjang saat kuterus coba meronta lepas dari belenggu dan suara rintihan pelan dari kasur dibawah tubuh kami kala saling menyetubuhi.

Dalam campuran pengaruh m****uana dan alkohol yang merasuki alam anganku, batang penis Charles terasa lebih besar dan lebih keras dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Bagaimana vaginaku bisa membuka diri untuk menampung batang penis seukuran itu? Bagaimana dia bisa memasukkan selurh batangnya ke dalam vaginaku hanya dalam sekali tusukan saja? Setiap kali kuangkat patatku untuk menyambut sentakannya, dia akan menariknya hingga hampir seluruhnya dan itu terasa seakan aku tergantung diudara untuk sekian lama sebelum dia mengisiku kembali, menhempaskan pantatku ke atas ranjang lagi.

“Ohhhh, T**an!” aku menjerit. Mulutnya kembali pada payudaraku, menghisapnya kala kami kembali mengayun. Rasanya menakjubkan. Tapi terasa lebih menakjubkan adalah perasaan setelah dia mencabutnya keluar dari dalam tubuhku, hanya untuk menusukkan jauh ke dalam tubuhku beberapa saar kemudian. Dia benar, dia menyimpan dirinya untukku. Atau ini sebuah kombinasi antara gairah dan viagra, aku tak tahu. Aku hanya tahu kalau ini semua sangat menggairahkna! Dia tentu telah menyetubuhiku untuk ketiga atau keempat kalinya malam itu dan setiap kalinya dia terasa lebih dan jauh lebih bernafsu. Kakiku, tak seperti kedua lenganku, dalam keadaan bebas. jadi setiap kali dia menusukku, kukaitkan kedua kakiku ke tubuhnya dan menahannya tetap berada dalam tubuhku selama yang kubisa. Perasaan terhubung dengan batang penis besarnya adalah sesuatu yang ku tak ingin berakhir.

Aku ingat betapa aku menikmati bercinta saat berada dibawah pengaruh g**ja. Itu merangsak seluruh panca inderaku dengan cepat kala kuberada di atas ranjang tersebut, menerima batang keras milik Charles. Aku melayang tinggi akan kedua tubuh kami yang terhubungkan malam itu. Aku teringat akan semua pria yang pernah memasukiku selama ini, dari kekasih masa sekolahku, hingga Kevin dan Charles sekarang. Mereka semua seakan menyetubuhiku malam ini. Bahkan aku berilusi sedang disetubuhi oleh pria yang hanya hadir dalam fantasiku saja.

Terasa begitu nyata. Kala Richard menyetubuhiku, hampir bisa kuhirup aroma m****uana dalam hembusn nafasnya.

Dan kala Peter menyetubuhiku, aku bisa merasakan dia menggerakkan pinggulnya begitu mengalir, seperti cara dia bergerak diatas lantai dansa.

Akhirnya, Charles menahan penisnya tetap berada dalam tubuhku saat dia berejakulasi. Kali ini dia rubuh diatasku, mencoba mengatur nafasnya dan mencumbui payudaraku.

“Ohhh, sayang,” desahku. “Kamu begitu menakjubkan.” Kedua kakiku kubiarkan tetap mengait tubuhnya erat hingga akhirnya dia melepaskan penutup mataku dan melepas belenggu tanganku.

Kujatuh tertidur dalam pelukannya malam itu dan tetap dalam pelukannya kala terbangun di Minggu paginya.

Kusegarkan tubuhku dalam kamar mandi di kamar Charles, seperti permintaannya. Kubiarkan pintunya terbuka, mungkin saja dia ingin ikut bergabung, atau hanya menyaksikan saja. Aku tak mengharapkan sebuah permainan dipagi ini, tidak lagi setelah Sabtu malam tadi.

Berdua kami nikmati sarapan dari room service yang lezat dan kemudian Charles mengatur agar Richard mengantarkanku ke bandara nantinya. Itu memberiku banyak waktu untuk kembali ke kamarku dan memilih, apa saja yang ingin kubawa pulang. Ada beberapa gaun yang kutinggalkan untuk para cleaning crew agar mereka melongo, salah satunya lebih mencengangkan dibandingkan yang kupakai untuk pesta tadi malam. Kuambil beberapa pasang pakaian dalam, salah satunya yang kuyakin akan membuat Kevin merasa senang jika kukenakan.

Richard seorang teman yang menyenangkan, seperti yang dia lakukan sepanjang akhir pekan ini, termasuk telah menawari untuk menemaniku pulang. Tapi aku sedang merasa inginpergi sendiri saja, jadi kutolak tawarannya.

Saat di bandara, kuulurkan tangan untuk menjabat angannya, tapi dia malah memberiku sebuah pelukan erat.

“Kuharap kamu akan kembali lagi tahun depan. Sangat menyenangkan menemanimu,” ucapnya.

Penerbangan pulang terasa menyenangkan. Cuacanya cerah. Tak ada orang yang menjengkelkan disampingku atapun didekatku. Jadi aku punya banyak waktu untuk memikirkan setiap peristiwa selama akhir pekan ini, semua orang yang kujumpai, makanan yang lezat, perjalanan ke kebun binatang, dansanya, menjadi tinggi, ditutup mata, diikat, disetubuhi, ahhh, ya! Agar disetubuhi. Itulah alasan pertamaku kenapa aku memutuskan untuk terbang kemari, bukankah begitu? Untuk bersetubuh dan disetubuhi? Sebuah perjalanan jauh hanya demi seks. Aku pasti sudah tak waras.

Translated by Pureaisha

Sumber : Dunia Sex

3 comments

  1. wah…suka neh sm crita ini…ada yg ke-5 g om??


  2. kira2 ada yg ke lima g neh bos???


  3. tunggu aja….



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: