h1

Office Cutie 2: Selingkuh? Kujebol Pacarmu!

March 13, 2009
  • Cerita ini hanya fiksi belaka…
  • Bacaan ini khusus untuk dewasa, bukan untuk bacaan anak di bawah umur.
  • Say no to rape & drug’s in the real world

———————————————————-

Vania

Vania

Setelah menjalankan tugasku sebagai pejantan tangguh, memuaskan Nona Shasha, aku berjalan memutari kompleks perkantoran, kupandangi perusahaan tempatku bekerja, begitu besar, luas dengan segudang kemungkinan, mungkin lebih tepat disebut perusahaan multiusaha, dengan reflek aku menengokkan wajahku ke arah seorang gadis cantik yang sedang berjalan menuruni anak tangga, Whewww…!! Nona Vania, tubuhnya yang seksi, rambutnya yang pendek sebatas leher dicat berwarna kecoklatan, sepasang paha jenjangnya yang putih mulus selalu menggodaku, wajah yang cantik jelita, Ohhh…!! benar-benar yahud….., LIAT NEH KALO UJANG UDAH NAFSU…, GRRRRR..!! AIR LIURKU MENETES DARI PINGGIRAN BIBIRKU..!!, rencananya sih kuturunkan resleting celanaku dan kukeluarkan batang kemaluanku yang panjang dan besar, kuikuti Nona Vania dari belakang, di tempat yang sepi aku berniat menerkam dan menggeluti tubuhnya yang mulus.

“NGAHAKKKKK…..  ?!” nafasku tertahan, mulutku terbuka lebar, kaki kiriku gemetar kemudian melejang-lejang ke kiri dan kanan, mirip seperti tendangan Michael Jackson ketika akan bersiap melakukan gerakan Moonwalk, lidahku terjulur keluar kemudian aku menjerit bagaikan sang SUPERSTAR ( HIHIWWWWW……!! )

“Ahhhhh….!! Ahhhhhh…….!!OAHHHHHHHH ” aku menjerit keras dan melolong, aku terduduk di atas lantai mirip seperti seorang pendekar sakti yang sedang bertapa, kedua tanganku mencekal pergelangan kaki kiriku, ternyata SEBUAH PAKU KECIl MENCIUM TELAPAK KAKIKU!!

“Ehhhh, Ujanggg… ??!! ” Nona Vania membalikkan tubuhnya, ia tampak terkejut ketika menatapku yang sedang bersemedi.

“Kamu kenapa Jang ?? “

“Euhhhh, Euhhhhh…. ADOWWW…..!! ” aku menggigit bibir bawahku menahan rasa sakit ketika berusaha melepaskan paku kecil yang menancap di telapak kakiku, aku merintih menahan kenikmatan itu (mataku melirik kearah sepasang paha putih mulus yang melangkah mendekatiku, kakiku memang sakit, tetapi selangkanganku berdenyut semakin kuat…., Ohh betapa putih dan mulusnya paha Vaniaku yang cantik…).

“Ujang.. kamu nggak apa-apa…?? “

“Ooo, nggak apa-apa koq Nonnnn, cuma paku kecillll…., ” aku langsung bangkit berdiri untuk menunjukkan keperkasaanku, masa Ujang kalah sama paku kecil ini gengsi donggggggg….!! Nona Vania tampak kagum ketika aku langsung berdiri dan berjalan dengan gagah menghampirinya.

“Mari Nonnn, saya bantu…. ” aku menawarkan jasaku, biarkanlah aku menikmati tubuh mulusmu, Vania sayang, aku akan membantumu menuju puncak kenikmatan yang tiada taranya oh Vaniaku…

“Emmmmm? , Bantuin apa ya Jang…?? ” Nona Vania malah balik bertanya.

“Eeee, iniiii, ituuuuuu, maksud sayaaa itu…, Lhaaaa begituu itu..Non.. ” Aku kini menjawab terbata-bata karena pada saat itu Non Vania memang tidak membawa apa-apa kecuali segundukan payudara di dadanya. Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapanku, setelah yakin keadaan aman, aku melangkah dengan tertatih-tatih, ADUHHHH…!ADUHHHH!! Sakitnya itu ngak ketulungannn…!!

“DARTOOOO…!! TULUNNNNNNGGGGIN EUYYY..!! ” aku berteriak keras memanggil ajudanku, dengan tergopoh-gopoh Darto menghampiriku.

“Kenapa lu Jangg ??” Darto memapahku, ia menengokkan kepalanya ke arah telapak kakiku yang kubalikkan ke atas kemudian ia mengambil obat merah.

“Hadohhhhh, mampus gua!!, Pelan-pelan dongggg….!!, Huu Huuu Hu “aku menangis sesegukan sedangkan Darto garuk-garuk kepala, ia malah bengong menatapku yang meringis – ringis kesakitan.

*************************

Sore hari….

“Ehhhhhhh ?? ” Aku menatap Darto, ia menyodorkan uang sepuluh ribuan ke hadapan wajahku, aku tersenyum manis ketika mengingat di hari Selasa ini memang giliran Darto meronda di 3 lantai paling atas, lumayan ceban, dengan tertatih-tatih aku menuju lift dan menekan angka 13, Brrrrr, konon di lantai ini sering terdengar suara rintihan, bahkan Darto sampai lari terbirit-birit mendengarkan suara rintihan yang membuat bulu kemaluannya berdiri ketakutan sampai jabrik. (Ngertikan uang sepuluh ribuan itu untuk apa??)

“Tinggg…. ” pintu lift terbuka lebar, kulirikkan mataku ke kiri dan kanan, glekkkk kutelan ludahku, demi membayar uang kost bulan ini yang terlambat akhirnya aku rela menjadi tameng para sahabat Ob-ku yang selalu menghindar untuk meronda dan sedikit bersih-bersih di tiga lantai paling atas yang tidak berpenghuni ini. Rasanya agak aneh memang, banyak ruangan-ruangan kosong yang tidak pernah dijamah, lantai 13, 14 dan 15 di perusahaan tempatku bekerja, LANTAI 13 BERESSSS,,,, LANTAI 14 SIAPPPPP….!! LANTAI 15 Hemmmmm ?? Aduhhh…!! Suasananya agak aneh, rada-rada merinding gitu neh…..?? OHHH SUARA APA ITUUUUU ???? BRRRRRRRRR….!! SUARA TERISAK…..!! Nafasku sesak, keringat dingin meleleh di keningku. Aku mendengar sebuah suara itu, mirip seperti suara orang yang sedang terisak menangis tersiksa dari dalam sebuah ruangan, dengan hati-hati aku melangkahkan kakiku menuju sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka, tidak lupa aku memasang gigi empat di kakiku agar bisa langsung tancap gas jika ternyata…di dalam ruangan itu tidak ada penghuninya. Aku yakin jutaan persen kalau ternyata ruangan itu kosong, berarti yang merintih pasti bukan berasal dari dunia ini. Dengan memberanikan diri aku mencoba mendorong pintu ruangan itu, pintu itu berderit ketika terbuka lebar, mataku melotot menatap sosok putih duduk di pinggiran meja.

Tubuhku bergetar hebat dan sukar untuk digerakkan, nafasku terengah-engah, ada sesuatu yang meleleh dimata mahluk itu, membasahi pipinya yang putih,

bibirnya merintih pilu, jantungku berdetak dengan lebih kencang DUKKK….!! DUKKKKK….!! DUKKKKKK…!! Sosok putih itu memegang sesuatu di tangannya, OHHH APA ITUUUUUU…..!!! LHAAAAA ?? SEBUAH HANDPHONE

“Non Vaniaaaaa…….?? ada apa?? Kenapa??” aku menelan ludahku, ceglukk, ceglukkkkkk, sayangku Vania tengah menangis dan merintih, ia duduk di pinggiran meja di ruangan itu, dengan tergopoh-gopoh aku menghampirinya, dengan terbata-bata Nona Vania mencurahkan isi hatinya, ternyata Vaniaku sedang putus cinta, pacarnya selingkuh, ia malah menunjukkan SMS dari pacarnya. Laki-laki mana yang sudah kehilangan akal sehatnya memutuskan cinta seorang gadis bertubuh bohay berwajah cantik jelita.

“Mulai sekarang kita putus dan tidak ada hubungan apa-apa lagi!!” aku membaca isi SMS singkat itu, aku keluar dan mencari-cari peralatan yang kuperlukan.

“Cklekkk…” aku mengunci pintu, kemudian mengambil tali kain dan segulung lakban berwarna hitam.

“Ehhhh, Ujanggg, kamu mau apa?? “Non Vania menghentikan tangisannya, ia menatapku dengan tatapan mata sipitnya yang menyelidik.

“Tenanggg….saya akan menyembuhkan Non Vania” aku mengejarnya yang segera menghindar, aku menerkam dan ia meloloskan diri, ia semakin ketakutan menatap wajahku yang berubah beringas.

“”Awwww, UJANGG! Jangan kurang ajar kamu!!” di suatu kesempatan aku berhasil memiting kedua tangannya ke belakang, dengan cekatan aku mengikat kedua lengannya, jeritan yang keluar dari mulutnya segera aku atasi dengan selembar lakban hitam.

“Heeemmmfffff Hmmmmmmmffff….. “

“Walahhh, Ini masalah serius Nonnn…!! putus cinta itu sangat berbahaya!! Tapi saya punya obat yang paling mujarab, dijamin Non Vania bakalan segera sembuh ….!! ” aku membopong tubuh Vania yang bohay, dengan sigap aku melepaskan dan melemparkan pakaiannya, tubuh putihnya kini hanya memakai secarik kain segitiga dan sepasang stocking berwarna coklat muda, kini si cantik Vania tambah ketakutan ketika aku memeluk tubuhnya dari belakang, kupeluk erat tubuhnya yang mungil. Ia berontak ketika aku memeluk pinggangnya, aku menundukkan kepalaku untuk mengecup bahunya, kuciumi dan kujilat-jilat dengan lembut bahu Vania, lalu aku membalikkan tubuhnya, mataku melotot menatap sepasang buah ranum di dadanya

“HEmmmmff, Mmmmmhhhhffff….!!” mata Non Vania yang sipit mendelik, kemudian keningnya berkerut hingga membentuk angka 11, rupanya ia marah ketika aku menjamah buah dadanya, perlahan-lahan telapak tanganku membelai-belai bulatan sebelah kiri. Payudara itu begitu halus dan lembut, aku semakin gemas kini kuremas induk payudaranya kuat-kuat hingga Vaniaku yang cantik melenguh keras, lumayan lama juga aku melakukan terapi belaian dan remasan di gundukan buah dadanya yang semakin membongkah keras dan kenyal.

“Gimana Non?? Asik nggak??” Aku mengusap puncak payudaranya kemudian kucubit putingnya yang lancip kemerahan, kupilin dan kupelintir-pelintir hingga nafasnya semakin berdengusan, aku tersenyum lebar , kutatap mata sipitnya yang kini menatapku dengan tatapan matanya yang sayu, dengan hati-hati aku melepaskan lakban hitam dibibirnya.

Kedua tanganku mencekal pinggangnya yang ramping, kemudian kutundukkan wajahku. Vania menengadahkan kepalanya, bibirnya merekah, dengan penuh nafsu yang liar kulumat bibirnya bagian bawah kemudian kujilati dagunya dengan rakus.

“Uuuu.. Ujangggg Ahhhhhh….. ” mulutku mencaplok dagu Non Vania, lidahku terjulur-julur keluar menjilati dagunya bagian bawah, air liurku menetes ketika mengendus harum tubuhnya, dengan tangan kiri kupeluk erat-erat tubuh mungil Non Vania sementara tangan kananku menyusup ke balik celana dalamnya.

“HAAAAAAAAAAAAAAH?!!! ” hanya suara itulah yang terdengar dari bibir Non Vania ketika tanganku menyusup masuk ke balik celana dalamnya, wajahnya merona merah, berkali-kali ia menarik pinggulnya ketika tanganku membelai selangkangannya, bibirnya merintih berusaha menolak kemesuman dariku.

“Ujanggg, Jangannn… Uuu jjjjaaanggg… “dengan gemas jari-jari tanganku terus menggerayangi selangkangan Nona Vania, kuelus dengan lembut kemudian kuremas selangkangannya dengan mesra, sambil menarik pinggulnya aku berlutut di hadapannya, mataku menatap tajam selangkangan Nona Vania yang masih tertutup secarik kain berbentuk segitiga berwarna coklat muda, kubetot dan kutarik turun kain segitiga itu. Ia memekik kecil ketika kain segitiga itu kurobek lepas dari selangkangannya.

Whueisssshhhhh…!! Aku melotot menatap wilayah intim di selangkangan Nona Vania, rambut-rambut halus menyemarakkan permukaan vaginanya, Hhhhhhh, aku menghela nafas panjang, Nona Vania malah merapatkan kedua kakinya rapat-rapat ketika aku hendak meremas selangkangannya, kucubiti pahanya sampai ia mengaduh sambil mengangkangkan kedua kakinya melebar.

“Aduhhh, Ujangg ADUHHH…..!! ” Aku mencubit pahanya sebelah dalam ketika ia hendak kembali merapatkan kedua pahanya, akhirnya ia berdiri sambil mengangkangkan kedua kakinya dengan pasrah, kulepaskan sepasang stocking yang masih menghalangi pemandanganku.

Kurayapkan telapak tanganku merayapi sepasang pahanya yang halus mulus, sambil merasakan kehalusan dan kelembutan permukaannya, aku menatap belahan tipis yang membelah selangkangannya, belahan vagina yang masih suci. Tubuh Nona Vania bergetar hebat ketika aku menciumi perutnya yang rata tanpa lemak, nafasnya berdesahan ketika kecupan-kecupanku semakin turun ke wilayah vaginanya, dengan mesra lidahkuku memandikan rambut-rambut halus di permukaan vaginanya, kubasuh sampai jembutnya menjadi basah oleh air liurku.

“Uhhhh… ??!! “  Nona Vania menarik pinggulnya ketika lidahku mencokel belahan vaginanya, aku tertawa sambil mengendus-ngendus selangkangannya, kuciumi dan kucumbui daerah intimnya yang selama ini belum pernah tersentuh, Nona Vania kembali terperanjat ketika lidahku mencokeli belahan vaginanya, tubuhnya terperanjat lagi dan lagi….!!aku sungguh merasa bangga dapat membuat Non Vania terperanjat keenakan, berkali-kali bibirnya mendesah panjang ketika lidahku menggelitiki belahan vaginanya. Bibirku yang tebal menciumi bibir vaginanya, kulumat dan kukulumi bibir vaginanya yang semakin basah oleh cairan kewanitaannya. Kutarik tubuhnya ke bawah, kini kami berlutut saling berhadapan, tanganku membelai pipinya sambil bertanya….

“Vania Sayangg, pernah liat titit ngak ?? Vania menggelengkan kepalanya.

“WAhhh ?? Masa sihhh ?? Nihhh saya kasih liat….. ” aku menawarkan jasa baikku memperlihatkan wilayah paling intim seorang laki-laki, setelah menurunkan resleting celanaku, aku membetot ular besar itu keluar.

“Aaaaaaaaaaa…., Awwww……!!” Nona Vania berseru kaget kemudian ia menjerit sambil memalingkan wajahnya, waduhhh, aku jadi tambah nafsu kurengut tubuhnya yang mungil dan kucumbui lehernya, kujilati dan kuhisap-hisap lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan, setelah puas mencumbui batang lehernya aku berdiri…

Sambil menjambak rambutnya, kutempelkan penisku di pipi Nona Vania, Oh, hangat dan lembut sekali pipinya. Nafas Nona Vania tertahan-tahan, wajahnya merona kemerahan, nafasnya yang berdengusan terasa hangat menghembusi penisku.

“Ufffhh, Ohhh…!! ” Nona Vania berusaha memuntahkan kepala penisku, ketika aku menjejalkan penisku dengan paksa kedalam rongga mulutnya, aku semakin kuat menjambak rambutnya sambil kembali menjejalkan kepala penisku. Akhirnya ia mau juga menelan penisku, rongga mulutnya yang berair terasa hangat, sambil terus menjambak rambutnya aku memaju mundurkan batang penisku. Vaniaku yang cantik harus belajar untuk memuaskan keinginanku!! Mata Nona Vania semakin sayu ketika aku mulai mendeepthroatnya, perlahan-lahan aku mendorongkan batang kemaluanku sedalam mungkin ke dalam mulutnya sampai wajahnya mengernyit menerima sodokan lembutku, berkali-kali ia terbatuk-batuk ketika kepala penisku menyesaki kerongkongannya. Nona Vania menarik nafas lega ketika aku menarik penisku dari dalam mulutnya, kubelai kepalanya kemudian aku menunggingkannya di atas lantai dalam keadaan kedua tangannya yang masih terikat.

“Unnnhhhh….!! ” Nona Vania melenguh ketika kepala penisku menusuk lubang anusnya, kudesak kuat-kuat agar lubang anus itu melar dan mau menerima batang penisku. Nona Vania seperti tersiksa berkali-kali ia meringis, melenguh dan mengerang lirih ketika aku memaksa menjejalkan batang penisku membongkar lubang anusnya

“Assshhhh….!! Hennngggggghhh…!! Arrrnnhhhhh” suara-suara itu terdengar ketika aku menghantamkan penisku, tubuhnya tersungkur-sungkur keras ketika batang penisku mencoba melakukan penetrasi.

“AWW….!! ” Satu pekikan pendek yang keras akhirnya membuatku tersenyum, kepala penisku  mencelat masuk menjebol lubang anusnya, ia  mengerang keras, aku tahu ia kesakitan ketika kepala penisku membongkar lubang anusnya.

Sambil menarik pinggangnya ke belakang aku menusukkan batang penisku, terdengar suara isakan tangis Vaniaku yang semakin keras, tubuh mulus itu tampak lemah tidak bertenaga ketika batang penisku tertancap dengan kuat dilubang anusnya. Tubuh Vaniaku menggeliat-geliat menahan derita ketika penisku tertancap semakin dalam. Aku mendesah panjang ketika merasakan buah pantatnya semakin mendekat keselangkanganku, jantungku melompat ketika merasakan buah pantat Nona Vania akhirnya merapat dengan sempurna menyatu dengan selangkanganku, buah pantat itu terasa padat dan halus lembut.

“Ennhhhh….!! Ennnhhhh…… Ennnnhhhhh……!!! Ahhh Ahhhhh” Suara yang keluar dari bibir Nona Vania terdengar begitu merdu, setiap sodokan penisku seakan-akan mewakili suara-suara merdu yang keluar dengan lantang dari mulutnya.

“Plokkk…!! Plokkkkk Plokkkkk….. !! PLOKKKKK ”  Aku semakin kuat memompakan penisku. Tubuh Vania mulai kuyup dibasahi oleh lelehan cairan keringatnya yang mengucur dengan deras membasahi tubuhnya yang putih mulus.

“Ahhhh, Ohhhhh!! Ahhhhhh… Ahhhhhhhhhhh…….Auhhh. ” Vaniaku yang cantik mendesah-desah keras, tubuhnya terus tersungkur maju mundur ketika aku menyodokkan batang penisku yang besar dan panjang, kuayunkan batang penisku kuat-kuat menyodominya.

“Sssshhhhh, Esssshhhhhh…… ” Nona Vania mendesis ketika aku merubah posisi permainan, sambil mendekap pinggulnya kuat-kuat, aku menjatuhkan diriku duduk kebelakang, kini Nona Vania menduduki penisku dalam posisi  memunggungi tubuhku, tanganku merayap kedepan sambil menyodokkan batang Penisku kuremas-remas dan kugerayangi buah dada Vania yang membongkah padat.

Tubuhnya yang bohay melompat turun naik diatas penisku, rintihannya semakin sering terdengar ketika sodokan-sodokanku semakin gencar menyodok liang anusnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat kemudian kusodoki liang anusnya dengan kuat dan kencang, sampai ia memekik kecil, aku mendesakkan wajahku pada tengkuknya kucumbui dan kujilati tengkuknya, kukecupi lehernya dari belakang dan kuhisap-hisap. Sodokan-sodokanku kini lebih lembut menelusuri liang anusnya, setiap aku merojokkan batang penisku keatas nafasnya seperti tertahan-tahan kemudian ia mendesah menghela nafas panjang ketika batang penisku mengaduki lubang anusnya, cukup lama juga aku membenam-benamkan batang kemaluanku sambil meremas-remas buah dadanya. Setelah mencabut batang kemaluanku dari dalam liang anusnya, aku membaringkan tubuh Vania berbaring di hadapanku, aku menatap kagum merayapi lekuk liku tubuh Vania, tanpa merasa bosan aku memandangi wajahnya yang cantik jelita. Tubuh putih mulus yang sudah basah kuyup itu tampak begitu menggairahkan. Tiba-tiba Hp Nona Vania berbunyi, ia menatapku dengan tatapan mata memelas seolah memohon agar aku mengizinkannya untuk menerima telepon. Aku mengambil telepon genggam itu dan memberikannya pada Nona Vania, dengan fasilitas loudspeaker aku dapat mendengar pembicaraan mereka dengan sejelas-jelasnya.

“Van….maaff, aku menyesal…., aku akan menjemputmu, sekarang aku masih sibuk, tunggu aku ya” suara laki-laki itu terdengar seperti sedang merayu Nona Vania.

“Akuu… Akuuu…. Hhhh Ohhhhhhh….. ” kurebut telepon genggam dari tangan Nona Vania kemudian kumatikan dan kutaruh disisi kepalanya, air matanya semakin meleleh membasahi pipinya.

“Ujanggg, tolong jangannn…aku nggak mau, Ujanggg….” Nona Vania terus memohon, kedua kakinya melejang-lejang ketika tanganku menangkap pergelangan kaki kirinya dan meletakkannya di bahuku.

“Aduhh Non, Kalo Non Vania ngak mau, terus ntar saya ewean sama siapa dongg…. He He He… He…” Aku hanya terkekeh, tangan kiriku menekan bahunya, kemudian kugesekkan kepala penisku pada belahan vaginanya sambil sesekali bergerak menekan dengan kuat berusaha membelah selangkangannya dengan batang penisku.

“Hennnhh, Ahhh, Ujanggg ahhhh, sakittt….!! Awwwwwww…… ” tidak sia-sia usaha kerasku batang penisku yang besar dan panjang kini mulai merobeki selaput kegadisan Nona Vania

Nafas Nona Vania terdengar memburu semakin kencang ketika penisku menekan semakin dalam. Tubuhnya melenting berkali-kali ketika aku menyentak-nyentakkan batang kemaluanku. Batang penisku kini menancap di belahan vagina Vaniaku yang cantik jelita. Mulutnya ternganga lebar ketika batang penisku yang panjang dan besar semakin masuk membelah selangkangannya, ia menggeliat-geliat kesakitan ketika kurengut kegadisannya dengan paksa. Tubuh Vania yang cantik jelita mengejang berulang kali ketika aku mendesak-desakkan batang penisku. Belahan vaginanya melesak kedalam ketika batang penisku terus menekan semakin dalam. Ia meringis, ekspresi wajahnya seperti orang ingin menangis, kemudian ia merintih-rintih merasakan batang penisku yang tertancap semakin dalam sampai selangkangan kami bersatu menjadi satu.

Perlahan-lahan kutarik penisku sampai sebatas leher penis kemudian kujebloskan dengan sekali jeblosan yang kuat sampai ia melenguh dengan keras, AUNNNNNNHHHHHH…….!! UNNNNNHHHHHHHHH>>!!!!, mendengar lenguhannya aku semakin bernafsu merojok-rojok belahan vaginanya, ada cairan berwarna kemerahan yang terpercik ketika aku menyodok belahan sempit itu kuat-kuat. Tubuhnya semakin sering terdorong dan tersentak-sentak ketika aku memulai untuk melakukan pompaan – pompaan yang berirama, Jrossshhhh,,, Crebbbbb…. Crooosssssshhhh…  Plepppphhhhhhh……, aku semakin mempercepat irama sodokanku, mata Vania yang sipit terpejam rapat, keningnya berkerut membentuk angka 11 sedangkan mulutnya ternganga-nganga lebar. Sodokan demi sodokanku membuatnya semakin kehilangan kendali, ia menjerit kecil kemudian menggelinjang keenakan….

“Crrreetttt…. Crrruuutttttt Crrrrrttttttttttttt……. ” aku tahu, cairan kenikmatan Nona Vania meledak di dalam vaginanya karena aku merasakan seperti ada cairan panas mengguyur batang penisku, rasanya enak sekali ketika cairan panas itu membasuh batang penisku, kubenamkan batang penisku dalam-dalam agar dapat lebih meresapi kenikmatan itu, kubiarkan ia menikmati kenikmatan yang baru saja membuatnya kehilangan kendali dalam sodokan-sodokanku, ia tampak berusaha merayap keluar dari kubangan lumpur kenikmatan yang kuberikan. Tanganku merayap kebelakang melepaskan ikatan pada tangannya, ia merentangkan kedua tangannya karena merasa pegal. Kedua kakinya masih mengangkang dan batang penisku masih tertancap kuat diselangkangannya. Matanya yang sayu menatapku ketika aku mengelus-ngelus bulatan buah dadanya yang membuntal padat dan kenyal, mata Vania mirip seperti orang yang sedang mengantuk ketika aku mencubit dan memilin-milin pentil susunya yang meruncing.

Aku menatap batang kemaluanku yang tertancap di selangkangan Nona Vania, cairan-cairan vagina yang bercampur dengan darah keperawanannya mambasahi selangkangannya, sambil kembali memompakan batang penisku, mataku menatap tajam pada payudaranya yang berguncang-guncang dengan hebat. Ketika penisku mereguk kenikmatan dari selangkangannya yang kewalahan menjepit batang kemaluanku yang besar dan panjang, belum berapa lama kugasak dan kugergaji selangkangannya. Vagina Nona Vania kembali memuntahkan cairan kenikmatan itu dalam sebuah denyutan-denyutan yang berkedut dengan kuat.

“Ennnnhhhh ,, OHHHHH……!! Serrrrrrr….. Crettttttt Cretttttt……..”

Kutarik batang kemaluanku kemudian aku berdiri, aku menundukkan tubuhku untuk meraih pinggangnya yang ramping, kutarik tubuhnya berdiri, kuangkat tubuhnya menggantung di udara sampai wajahya sejajar dengan wajahku, dengan lahap aku melumat-lumat bibirnya, aku berusaha membangkitkan sisi liar Nona Vania dengan cumbuanku yang panas, sedikit demi sedikit ia mulai berani membalas cumbuanku, bibir kami saling melumat dalam gairah birahi yang semakin bergolak dengan liar.

“HEmmmm.. Ckkk Ckkkk Emmmm Mmm, Ammmmhhhhh… Ckkkk “Aku semakin hebat melumat bibir Nona Vania ketika mendengarkan rengekan-rengekannya yang manja dan nakal, bahkan kini tangannya bergelung di leherku, ciumannya semakin berani, ia menarik kepalanya ketika lidahku menjilat bibirnya, sejenak matanya yang sipit menatap mataku, ia mendekatkan kembali wajahnya plus membuka mulutnya menerima kehadiran lidahku yang terjulur masuk menggelitiki rongga mulutnya, nafasnya yang berdengusan menerpa pipiku. Aku menurunkan tubuh Nona Vania ke arah batang penisku. Pinggulnya bergerak berusaha menempatkan kepala penisku di tengah-tengah belahan vaginanya setelah terasa pas barulah aku berusaha menusukkan penisku ke selangkangannya.

“Nnnnnnnnhhhhhhhhh………., Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….!!” kepala Nona Vania terangkat keatas, bibirnya mendesah panjang ketika kepala kemaluanku membelah kembali belahan mungil di selangkangannya, kedua kakinya mengait pinggangku sedangkan kedua tangannya berkalung di leherku, sementara kedua tanganku memegangi pinggangnya yang ramping.

“Ohhh ?! ” Vaniaku agak terperanjat, matanya tampak nanar ketika aku mulai mengayun-ngayunkan batang penisku dengan lembut, tubuh mulusnya terayun-ayun diudara dalam gerakan-gerakan yang lembut, aku benar-benar menikmati jepitan vaginanya yang peret dan seret, benar-benar luar biasa kenikmatan yang diberikan oleh sisipit bertubuh bohay dengan wajahnya yang cantik jelita, kunikmati rasa nikmat dibatang penisku yang bergerak lembut menyodoki selangkangan Vaniaku yang cantik, sesekali sengaja  kuhujamkan kuat-kuat batang penisku untuk mendengar pekikan manjanya.

“Ouhhhhhhh, Akhhhhhh.., Akhhhhhhhhh ” Nona Vania merengek-rengek dan mendesah manja ketika aku semakin kuat dan kencang mengayun-ngayunkan batang kemaluanku, kusodok dan kuhujamkan penisku yang besar dan panjang membelah-belah selangkangannya yang sempit.

“Aduhhhh…..!! Uujhaaaanggggggg….!! Crrrr Crrrrrrrrrrrrrrrr…… ” tubuhnya melenting ke belakang, matanya terpejam keenakan ketika batang penisku  kembali menghantam-hantam kuat-kuat vaginanya, aku bertambah gemas menghantamkan batang kemaluanku membelah liang sempit itu, kurojok-rojok dan kusodok-sodok tanpa henti liang kenikmatan di selangkangannya. Aku memutar batang penisku mengaduk vaginanya, ia meringis keenakan ketika aku mengaduk-ngaduk vaginanya, kukecup keningnya sebelum kuturunkan tubuhnya. Kubimbing agar ia berdiri sambil menungging, kutarik pinggulnya, kemudian kuselipkan batang penisku menusuk belahan vaginanya dari belakang, tubuh Nona Vania tersentak kedepan ketika aku menjejalkan kepala penisku dengan paksa membelah kembali vaginanya yang nikmat, aku agak merendahkan selangkanganku agar sejajar dengan lubang sempit di selangkangannya.

“Enakkkkk ?? ” Aku bertanya sambil mendesakkan batang penisku dalam-dalam, Nona Vania mengangguk kecil, kemudian ia kembali merintih dan mendesah pelan ketika penisku memacu belahan vaginanya dari belakang,

Kusodok dan kuhujamkan kuat-kuat penisku yang besar dan panjang menyodok-nyodok vagina Vania yang peret. Aku bagaikan seorang joki yang tengah menunggangi tubuh Nona Vania dari belakang, kupacu dan kupacu ia dengan lebih garang, kusodok-sodok dan kujejal-jejalkan batang penisku hingga ia merengek-rengek keenakan, desahan-desahannya terdengar semakin keras

“PLOKKK…!! PLOKKK…!! PLOKKKK….” suara selangkanganku yang beradu dengan buah pantat Nona Vania, Uhhhhh….!! Belahan vagina Nona Vania yang peret dan licin oleh cairan vaginanya semakin mengasikkan untuk dirojok dan disodok-sodok, kumainkan irama sodokanku kucolok vaginanya dengan lembut sampai ia menggeliat menikmati sodokan-sodokanku yang lembut, sambil memaju mundurkan batang penisku kedua tanganku merayap pelan ke depan dan mengusap-ngusap bulatan buah dadanya bagian bawah, kuremas induk payudara Nona Vania yang  membuntal padat, semakin lama Nona Vania semakin gelisah ketika batang penisku bergerak dengan lembut dan teratur. Kupeluk tubuhnya erat-erat ketika ia menggigil mencapai puncak klimaks.

“Creettttt…. Crettttt….. Crrrrrrrrrrrrrr……. “

Sambil menarik pergelangan tangannya, aku duduk diatas sebuah kursi, kunaikkan vaginanya ke atas penisku kemudian tanganku menekan pinggulnya ke bawah. Vaniaku yang cantik mendesah panjang ketika penisku kembali membongkar belahan vaginanya, aku merayunya agar mau bermain di atas penisku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya merona merah ketika aku membisikkan kata-kata mesum di telinganya, aku tersenyum, aku mengerti ia masih malu untuk bermain di atas penisku.

Kedua tanganku menekan-nekan bokongnya agar vaginanya mendesak-desak selangkanganku, sambil menekan-nekan bokongnya dengan santai aku merojokkan batang penisku ke atas, rintihan-rintihan merdu kembali terdengar dari bibir Vania, masuk-keluar, masuk-keluar, begitulah gerakan-gerakan batang penisku yang membelah vaginanya.

“AHHHHHHHHH…..!! Crrrrr CRRRRRR……… “

“KECROTTTT…..!! KECROTTTTTTT…” batang penisku menyemburkan cairan panas demikian juga vagina Nona Vania, aku bersandar ke belakang, duduk mengangkang, kupeluk tubuhnya yang terengah-engah dalam kenikmatan, tubuhku dan tubuhnya basah kuyup bersimbah keringat yang mengucur dengan deras.

“TINGGGG……!! ” pintu lift terbuka lebar, aku melangkah mendampingi Nona Vania, suasana kantor sudah sepi, Vania yang cantik menengokkan wajahnya ketika mendengar suara seorang pria memanggil namanya,

“Vania….., Maafkan aku ya sayangggg” pria berwajah tampan itu merayu Vaniaku yang cantik jelita, Vania tertunduk sambil menggelengkan kepalanya….

Selingkuh ??

T’rus menyesal ??

mau minta maaf ??

HA HA HA  TERLAMBAT….!!!!!

Pacarmu yang cantik baru saja kujebol, kusodomi dan kurampas keperawanannya dengan paksa. Aku tertawa ngakak dalam hati, kini akulah kekasih Nona Vania yang cantik. Aku menatap wajah anak orang kaya yang sok hebat itu, ia melangkah dengan gontai ketika Nona Vania yang cantik jelita menolak permintaan maafnya, mata Vania memandangi punggung si anak orang kaya yang menjauh dan menghilang, kemudian ia tertunduk lesu. Aku yakin kalau saja aku belum menancapkan tombak kenikmatanku di selangkangannya, tentulah Nona Vania akan menerima permohonan maaf si anak kaya itu. Aku menghampiri Nona Vania, aku bersanding di sisinya, di saat berdiri tinggi tubuh Vaniaku hanya sebatas dadaku, kubelai kepalanya bagian belakang, ia menatapku sebentar kemudian kembali tertunduk ketika aku dengan mesum tersenyum sambil meremas buah pantatnya.

HEE HE  HE, Ujang tea Atuh….!

OB PALING TANGKAS DAN CEKATAN….!

Selalu siap menjadi PEJANTAN

BY : Yohana

Sumber : Kisah BB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: