h1

The Adventure of Joe 2: Revenge and Regret

March 16, 2009

Ku pacu motorku meninggalkan rumah Alex yang ada di salah satu kawasan elit di Surabaya. Memang setelah acara kemaren malam di kampus, aku nginep di tempat Alex. Aku memang sering nginep disana, soalnya males ketemu sama ibu tiri gue atau bokap gue di rumah. Tapi sekarang aku harus pulang, soalnya stock pakaian bersihku di rumah Alex sudah habis.

Baru setengah perjalanan, tiba-tiba aku ngerasa laper banget. Aku sempet nyesel kenapa tadi nolak waktu ditawarin makan siang sama Alex. Akhirnya aku berhenti di depan restoran di deket situ. Aku memang belum pernah makan di restoran ini, tapi biarlah daripada nahan laper, bisa-bisa mag gue kambuh. Setelah duduk di salah satu meja di pojokan, aku pun memesan makanan dan minuman yang kupilih dari menu yang disediakan.

Sambil menunggu pesananku, aku mengingat pengalamanku kemaren malam. Kemaren malam adalah pertama kalinya aku ML, hilang sudah keperjakaanku. Dan wanita yang mengambilnya bukan wanita sembarangan, tapi Wulan Guritno, artis sinetron, pembawa acara, terkenal di ibukota. Aku tersenyum mengingat dasyatnya pengalamanku kemarin. Hhhmmm… kalo aja aku tahu dari dulu kalo ML itu enak banget, udah dari dulu aku terima ajakan cewek-cewek yang pernah nawarin aku ML. Bukannya sombong, tapi reputasiku dikalangan temen-temen cewek di kampus termasuk lumayan. Umur baru 20 tahun, mahasiswa universitas negeri terkemuka di Surabaya, wajah… lumayan ganteng lha, tinggi, tim inti basket kampus, anak band, dan lumayan tajir. Banyak temen cewek yang sering ngajak aku jalan sampe yang ngajak jadian. Itu kalo mereka nggak tahu atau nggak peduli sama reputasiku yang lain dalam dunia hitam sebagai bandar narkoba dan tukang tawuran. Memang terdengar klise, anak muda dengan latar belakang keluarga yang jauh dari harmonis akhirnya terjebak dalam dunia yang kelam. Aku menjadi berandalan sejak ayahku kimpoi lagi dengan janda muda bekas sekretarisnya hingga ibuku sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Dan sekarang aku harus tinggal dengan ibu tiri, adik tiri dan ayah bajingan itu. Aku benci semua yang ada di rumahku, kecuali mungkin adik tiriku, Leny. Leny, adik tiriku yang berusia 17 tahun, memang selalu baik padaku, walaupun aku gak pernah bisa nerima dia karena dia anak pelacur yang telah menggoda ayahku. Bahkan kami sempat berteman baik waktu ayahku belum menduakan ibuku dan menikahi ibu Leny.

“Brengsek, lama bener sih makanannya?”, gerutuku dalam hati. Aku melayangkan pandanganku ke sekitar, saat tiba-tiba aku melihat pemandangan yang membuat amarahku menggelegak. Di meja yang ada di pojokan yang lain di restoran itu terlihat seorang wanita cantik yang berpelukan dengan seorang laki-laki muda. Wanita itu memang cantik, rambut hitam panjang, hidung mancung, bibir sexy yang selalu tersenyum menggoda, kulit putih mulus, dan tubuh indah dengan dada dan pantat yang membusung. Tingkahnya mesra sekali dengan laki-laki muda yang ada disampingnya, berpegangan tangan, bahkan berciuman tak tahu malu. Yang membuatku marah, wanita itu adalah Rina, ibu tiriku. Ternyata benar dugaanku selam ini kalau wanita yang dinikahi oleh ayahku itu memang bukan wanita baik-baik. Pelacur itu bahkan bermesraan tak tahu malu di siang bolong di tempat umum seperti ini.

Kejadian berikutnya berjalan sangat cepat. Dikuasai sepenuhnya oleh amarah yang menggelegak, aku menghampiri kedua orang itu, lalu pukulanku menghujani laki-laki muda itu. Laki-laki itu sama sekali bukan lawanku yang telah biasa berkelahi, wajahnya segera lebam tak karuan, hidung dan bibirnya berdarah. Aku terus menghajar laki-laki itu yang telah berani mencoreng noda di keluargaku dengan berzinah dengan istri ayahku. Ibu tiriku menjerit-jerit, menyuruhku menghentikan seranganku pada selingkuhannya itu. Aku tak peduli, bahkan aku menampar pelacur itu, memaki-makinya entah dengan bahasa kotor apa aja, aku sendiri tak bisa mengingatnya. Aksiku akhirnya terhenti setelah beberapa pengunjung dan pegawai restoran turun tangan untuk melerai. Aku segera dipaksa menuju pintu keluar dan diusir dari restoran itu. Kupacu motorku meninggalkan tempat itu masih dengan amarah yang menggelegak. Aku urungkan niatku pulang kerumah siang ini, aku butuh menenangkan pikiran. Aku pun menuju ke rumah bang Harry, kenalanku yang menjadi penguasa preman di salah satu kawasan rawan di Surabaya.

* * * * * * * * * * * * * * * * *

Hari sudah menjelang malam saat aku memasuki halaman rumahku dengan agak sempoyongan. Sebotol Jack Daniels yang kutenggak di tempat bang Harry, membuat kepalaku terasa pening. Untung aku masih bisa sampai kerumah meski naik motor dalam keadaan setengah mabuk. Saat aku masuk kedalam rumah, kulihat bokap, Rina perempuan lacur, seta Leny adik tiriku sedang berkumpul di ruang keluarga. “Brengsek! Wanita jalang itu masih berani balik kesini setelah tingkah busuknya ketahuan olehku”, umpatku dalam hati. Tapi pening di kepalaku, membuat aku males membuat ribut, aku pun berjalan menujukamarku yang ada diatas.

“JOE!! SINI KAMU.”, suara teriakan bokap menghentikan langkahku. Dengan sempoyongan akhirnya aku berjalan ke arah mereka. Aku menatap mereka semua. Tampak wajah ayahku yang marah, pelacur jalang itu memegang lengan ayahku dan tak berani menatapku, sedangkan Leny terlihat takut melihat kemarahan ayahku.

“Dasar anak tak berguna! Apa saja yang kamu lakukan hah? Beberapa hari gak pulang, pulang pulang mabok seperti anak berandalan. Mau jadi apa kamu?! Dan… dan kemarin… kemarin apa yang kamu lakukan? Memukuli orang di tempat umum dan juga menampar ibumu sendiri? Mau jadi jagoan hah?”, teriak ayahku meluapkan kemarahannya.

“He..he..he… Kenapa gak tanya saja sama pelacur disebelah Papa? Kemaren aku cuman ngasih pelajaran sama pelacur dan selingkuhannya yang tak tahu malu bermesraaan di tempat umum. Untung aku anti mukulin cewek jadi cuman pacarnya aja yang jadi sasaran he… he… PLAAAK uuggkkk….”, ucapanku terhenti saat tiba-tiba ayahku menamparku dengan keras. Saat kuusap mulutku, ternyata bibirku sedikit berdarah. Kepalaku yang sudah pening menjadi semakin pening hingga aku pun segera terjatuh ke lantai.

“Anak brengsek. Berani kamu ngomong seperti itu sama ibu kamu?! Kamu tahu, yang kamu pukul itu relasi bisnis ibu kamu. Dan tingkah kamu membikin malu keluarga, tahu?!”, kata bokapku yang rupanya sudah tertipu omongan pelacur itu.

“Kenapa Papa gak pernah percaya sama ku? Kemaren aku bener-bener ngelihat dengan mata aku sendiri kalau pelacur itu dan pacarnya berpelukan sambil berciuman tak tahu malu. Dan me…”

“Diam kamu. Anak kurang ajar. Papa tahu kamu gak pernah suka Papa menikah lagi, tapi kamu sampai berani berbohong dan mengarang cerita yang nggak bener seperti itu aah… Biar aku hajar lagi supaya kamu kapok.”, kata ayahku yang segera menghampiri aku yang masih terduduk lemas di lantai, Tapi pelacur itu dan anaknya segera memegangi tangan papaku.

“Sudah, mas sudah. Mungkin ini semua cuma salah paham. Mas jangan marah lagi ya. Lagian kita nanti telat pergi ke pernikahan temen Papa. Sudah ya mas. Sabar.”, kata Rina, pelacur itu. Pandai bener aktingnya.

“Iya, pa. Ka…kasihan kak Joe. Mendingan papa sama mama berangkat aja, biar kak Joe nanti Leny yang urusin.”, Leny ikut-ikutan membujuk ayahku.

“Ya sudah. Papa sama mama berangkat dulu Len. Tolong kamu urusin anak brengsek ini. Jaga rumah ya. Papa mungkin pulang agak malam, jadi bawa kunci sendiri. Kamu nanti tidur aja dulu, nggak usah nunggu papa sama mama pulang.”

“Iya, pa.”

Dengan susah payah, aku berusaha bangkit. Tapi pening di kepalaku membuatku sulit untuk berdiri. Tiba-tiba sepasang tangan ramping memelukku dan mencoba membantuku berdiri. Kulihat seraut wajah Leny dengan senyumnya yang polos dan tulus. Aku pun akhirnya berhasil juga berdiri setelah dibantu Leny, tapi rasa marah yang masih menggelegak didadaku membuatku segera melepaskan diri dari bantuan Leny.

“Udah! Gue bisa jalan sendiri. Kamu nggak usah ngurusin gue.”, bentakku pada Leny. Dengan sempoyongan aku berjalan menuju kamarku meninggalkan Leny yang masih berdiri menatapku dengan pandangan iba.

Sampai dalam kamar, aku segera ambruk di tempat tidur. Aku memejamkan mataku untuk meredakan pening di kepalaku. Rasa marah masih berkecamuk didadaku, rasa marah yang berubah menjadi dendam. Ya… aku harus membalas semua perbuatan mereka padaku dan pada ibu kandungku. Bajingan tua dan pelacur itu harus menerima balasannya. Pikiranku menerawang, merencanakan apa yang akan kulakukan. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka perlahan. Aku pura pura tidur.

“Eeenngg….. kak.. kak Joe? Leny masuk ya kak?”, suara lembut Leny terdengar ditelingaku. Aku bisa mendengar gerak langkahnya yang memasuki kamarku. Aku tetap memejamkan mataku, tak mempedulikan gadis itu. Tiba-tiba kurasakan kain yang basah dengan air hangat mengusap bibirku yang terluka. Ternyata Leny berusaha merawat bibirku yang terluka karena tamparan bokap tadi. Perasaan hangat menyusup di dadaku saat adik tiriku itu merawatku dengan lembut. Sudah lama aku tak merasakan kasih sayang semenjak ibuku meninggal. Aku membuka mataku, kulihat Leny begitu serius dan telaten merawatku, hingga tak menyadari aku sedang menatapnya. Leny memang cantik dengan mata indah, hidung mancung, bibir manis, dan rambut hitam sebahu. Kecantikan yang memadukan kepolosan dan keanggunan membuatnya tampak lebih dewasa. Tubuhnya tinggi ramping cocok banget jadi model catwalk, sayang sifatnya yang agak pemalu membuat ia tak pernah mencoba modeling. Kulitnya putih mulus dengan bulu-bulu halus yang malah membuatnya sangat menarik di mata seorang pria. Piyama bergambar tweety yang dia kenakan tak bisa menutupi tubuhnya yang indah dan mulai beranjak dewasa. Payudaranya memang tak sebesar ibunya, tapi aku menebak pasti tak kalah indah. I think she have nice perky breast.

“Eh.. kakak sudah bangun? Leny cuman mau bersihin luka kakak. Itu kopi kesukaan kakak, Leny taruh di meja samping tempat tidur. Minum dulu kak, mumpung masih panas.”, kata Leny saat dia sadar aku sudah bangun. Aku bangkit dari tidur, lalu duduk di tepi ranjang. Kopi yang dibuatkan Leny segera kuminum. Aaahh…. secangkir kopi memang selalu bisa mengurangi mabukku. Pening di kepalaku terasa mendingan.

“Mmm… kak.. kak Joe.”, kata Leny lirih.

“Apa?”, jawabku singkat dan dingin.

“Mmm.. kakak benci sama mama dan Leny ya..? Kakak nggak suka kalo Leny jadi adik kakak?”, tanya Leny dengan suara lirih. Aku jadi kasihan pada gadis itu. Aku sebenarnya tak pernah membenci gadis itu. Aku meletakkan kopiku di atas meja. Lalu naik keatas tempat tidur, mendekati Leny yang duduk di tepi ranjang di sisi yang lain. Aku memegang dagu Leny, lalu menengadahkan wajahya yang menunduk. Kulihat sepasang mata bintang itu berkaca-kaca menahan tangis.

“Nggak Len. Kakak gak pernah benci sama kamu. Kamu begitu baik dan cantik. Kakak seneng kamu jadi adik kakak.”, kataku menghiburnya.

“Ta.. tapi kak..”, kata Leny menatapku. Kelihatannya dia masih tak percaya.

“Bener. Kakak sayang kok sama kamu.”, kataku lagi. Lalu aku mencium keningnya dengan lembut. Leni pun memelukku dan membenamkan wajahnya didadaku. Tanganku mengelus rambutnya dengan lembut, sedangkan tanganku yang satunya mengenggam tangan Leny.

lennyEntah setan apa yang merasuki pikiranku, flashback pengalamanku kemaren dengan Wulan terkenang lagi dalam pikiranku. Tubuh hangat Leny dalam pelukanku, payudaranya yang menempel didadaku walaupun tidak secara langsung, leher jenjangnya yang bisa kulihat saat rambutnya kusibakkan, serta kulit tangannya yang begitu mulus dengan bulu-bulu halus menggemaskan, lambat laun memberikan dorongan aneh padaku. Aku bisa merasakan gelora yang sama seperti saat aku bersama Wulan kemarin. Celanaku tiba-tiba terasa sesak karena monster yang ada didalamnya mulai terbangun. Tanganku mulai bergerilya tanpa kusadari, yang tadinya mengelus rambut, turun ke leher, pundak, punggung, lalu menyelinap diantara ketiaknya hingga sekarang asyik mengelus bagian samping payudara Leny. Sedangkan yang satunya masih asyik meraba lembut halusnya tangan Leny sampai ke lengannya. Leny segera menoleh ke arahku ketika dia merasakan ada yang berbeda dari aksiku ini.

Aku pun tak tahan lagi saat menatap wajah Leny yang cantik, bibirnya segera kucium mesra. Leny kelihatannya agak kaget karena aksiku, tapi tubuhnya kupeluk makin erat, sementara bibirku terus mengejar bibirnya hingga tak bisa mengelak dari ciumanku. Tadinya kupikir adik tiriku itu akan melakukan perlawanan, tapi ternyata penolakannya cuma sebentar. Bahkan setelah beberapa lama, dia mulai membalas ciumanku walaupun masih kaku dan tentu tak sedashyat teknik ciumannya Wulan Guritno tapi bisa kurasakan gairah di ciumannya itu. Sambil tetap berciuman, aku rebahkan tubuh gadis cantik itu keatas pembaringanku. Tanganku mulai nakal berusaha membuka kancing piyamanya. Tangan Leny berusaha menghalangi tanganku. Tapi aku tak kehilangan akal. Leher jenjangnya mulai menjadi sasaran mulutku. Ternyata aksiku berhasil. Leher jenjangnya yang mulus itu ternyata salah satu titik sensitif adik tiriku itu. Desahan mulai keluar dari bibirnya dan dia lupa mencegah tanganku yang kembali mencoba melucuti kancing piyamanya.

“Aaahh… kak Joe mmm…. jangan… sstt… mmm….”, desah Leny.

“Kamu cantik sekali Len. Aku sayang banget sama kamu.”, rayuku pada gadis polos itu.

Tak memakan waktu lama, aku berhasil membuka kancing baju piyama Leny. Dan tepat seperti dugaanku, gadis cantik itu tak memakai bh di balik piyamanya. Damn, she had beautiful perky breast. Payudara mungil itu sungguh indah. Kulit Leny yang putih membuat payudara itu tampak indah dengan beberapa pembuluh darah sedikit membayang di bukit mungil itu. Puting susunya yang berwarna merah muda tampak begitu segar dan menggemaskan. Tiba-tiba pandanganku terhalang oleh sepasang tangan Leny yang berusaha menutupi ketelanjangan dadanya. Aku melihat wajah Leny.. Aaah… Wajah itu tampak semakin manis saat tersenyum malu dan pipi memerah seperti itu.

“Kamu benar-benar cantik, sayang.”, kata rayuanku kembali kuluncurkan sambil mencium bibirnya lagi. Ciumanku lalu turun ke lehernya, lalu mulai menuju ke belahan dadanya. Tangan Leny pun kusingkirkan dari sana hampir tanpa perlawanan. Dan akhirnya, payudara yang sejak tadi menggodaku segera kunikmati. Lidahku dan bibirku bergerilya dengan lincahnya. Bukit, belahan, sampai ke puting payudara Leny tak ada yang luput dari jilatan, ciuman, bahkan hisapan mulut dan lidahku.

“Ough…. kak. Leny aahh…. Leny juga sayang sama kakak mmmm…”, desah Leny menikmati permainanku didadanya. Dapat kurasakan payudaranya semakin kencang dan putingnya makin mengeras karena gairah yang mulai melanda gadis perawan itu. Tanganku mulai bergerilya dari perut Leny yang rata sampai berusaha menyusup ke dalam celananya. Kuelus vagina gadis itu dengan lembut dari luar celana dalamnya. Dapat kurasakan celana dalamnya mulai melembab oleh vaginanya yang mulai basah karena gairah.

Aku pun semakin berani. Celana piyama Leny mulai kulucuti, sementara gadis itu hanya diam sambil memejamkan matanya. Nafasnya yang masih memburu karena aksiku di tubuh bagian atasnya menjadi satu-satunya tanda bahwa Leny sedang tidak tidur. Celana dalam Leny pun kulepas sekalian saat aku selesai melucuti celana piyamanya. Saat aku mencoba melebarkan kaki Leny agar dapat melihat jelas vaginanya, aku merasakan sedikit perlawanan. Tapi ciumanku di kaki dan pahanya membuat adik tiriku itu lengah hingga akhirnya berhasil juga usahaku membuka kakinya.

“Oh my God. Its beautiful.”, pikirku dalam hati setelah dapat melihat vagina Leny dengan jelas. Leny mencukur habis bulu di vaginanya. Vagina itu begitu indah, membuatku terpana memandangnya. Tanpa memeriksa selaput daranya pun, setiap orang pasti tahu kalau sang pemilik masih perawan. Bibir vaginanya tak ada lipatan yang menggelambir, bahkan kalau kakinya kurapatkan, belahan vagina Leny tampak seperti garis lurus. Aku mulai mengamati bagian dalamnya. Dinding vaginanya tampak begitu segar dengan warna merah muda yang sedikit mengkilap karena cairan kenikmatan yang mulai merembes. Saat kubuka lebih lebar tampak selaput dara di bagian dalam, sedangkan klitoris kecil mungil menggemaskan tampak tersembunyi di bagian atasnya.

“Kak…, Leny malu. Ja.. jangan diliatin terus.”, kata Leny lirih yang membawaku kembali ke alam sadar.

“Kenapa malu? Vagina kamu indah sekali, Len. Mmmm…..sslluurppp…”, kataku yang langsung menyusulnya dengan jilatan lidahku di belahan vagina itu.

“Aaauugg….sstt…. kak… itu kan aahh… kotor. Jijik.”, kata Leny sambil mendesah saat benda miliknya yang paling berharga untuk pertama kalinya disentuh orang lain.

“Mmm… gak ada satupun bagian tubuh kamu yang kotor dan menjijikkan. Sslluuurp… mmm..”

Lidahku menari-nari di belahan vagina Leny, kadang menyelusup ke liangnya, kadang menjilati bibir vaginanya, bahkan kadang nyasar sampai ke liang anusnya. Desahan Leny pun makin keras setelah beberapa lama aku terus mengeksplorasi vaginanya itu. Kakinya mulai menggeliat tak tenang. Nafasnya makin memburu. Aku tahu orgasme adik tiriku itu sudah dekat. Ini saat yang tepat untuk memberinya kejutan. Liang vaginanya kubuka dengan jari-jariku sampai clitorisnya yang agak tersembunyi terlihat jelas olehku. Langsung saja klitoris Leny menjadi sasaranku. Kujilat dan kadang kuhisap kuat. Dan jebollah pertahanan Leny.

“AAAKKHHH… Kak. Oooogghh… kakak apain anu Leny aaagghhh…..”, jerit Leny saat dia mengalami orgasme pertama dalam hidupnya. Badannya menegang, kakinya menjepit kepalaku, pantatnya bahkan sampai terangkat saat orgasme itu melandanya. Cairan kenikmatannya mengalir keluar yang segera kusambut dengan lidahku, kujilat sampai aku puas.

Setelah orgasme, tubuh Leny pun lemas. Matanya terpejam, nafasnya masih agak memburu. Aku membiarkan gadis cantik itu menikmati sisa-sisa orgasmenya sejenak. Setelah nafas Leny mulai tenang, aku tarik pantatnya yang masih di tepi ranjang, hingga sekarang Leny tidur telentang di tengah pembaringanku. Lalu aku mulai melucuti pakaian yang menempel di tubuhku. Setelah itu aku pun berbaring di samping Leny. Kucium kembali bibirnya yang manis, yang segera disambut oleh gadis cantik itu dengan penuh gairah. Kupegang tangan Leny, lalu kubimbing untuk memegang benda pusakaku yang telah mengacung dengan gagahnya. Leny tersentak kaget merasakan monster yang ada dalam genggamannya. Matanya segera terbuka dan bibirnya segera melepaskan ciumanku. Dia berusaha melihat apa yang sedang digenggamnya. Raut muka kaget, mungkin sedikit ngeri, terpancar dari wajahnya. Aku tersenyum, lalu bangkit berdiri diatas lututku. Kudekatkan Joe Jr yang sudah dalam posisi tegang ke wajah Leny. Wajah Leny terlihat agak aneh. Takjub, kaget, ngeri, bingung bercampur menjadi satu di benaknya. Aku tersenyum melihat ekspresi Leny. Walaupun mungkin kontolku adalah satu-satunya kemaluan pria yang pernah dilihatnya, tapi naluri kewanitaannya bisa merasakan kalau punyaku tergolong luar biasa.

“Ayo Len. Sekarang giliran kamu.”, kataku.

“Nnng.. Leny mesti ngapain kak?”, tanya Leny bingung.

“Dijilatin dong, sayang.”

“Ta.. tapi itu kan buat pipis.”

“Lho tadi kan aku juga jilatin memek kamu. Dan kamu suka kan? Sekarang gantian dong.”

Leny terdiam sejenak. Kemudian dia memberanikan diri menjulurkan lidahnya menjilat batang kontolku. Aku memberinya beberapa petunjuk. Saat sudah terbiasa, Leny keliatan asyik menjilat seluruh batang dan kepala kontolku. Cuma waktu kusuruh menjilat buah pelirku, dia terlihat agak nggak begitu suka karena bulu-bulu yang memenuhi bagian itu. Akhirnya Leny kusuruh memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Mulanya dia ragu tapi akhirnya mau juga. Aku keenakan saat kontolku masuk kedalam bibirnya yang lembut, walaupun setelah dipaksakan, cuma bagian kepala dan sedikit batangnya yang bisa masuk di mulut mungil itu. Aku mengajarinya teknik oral seks seperti yang dilakukan Wulan kemaren. Leny ternyata cepat tanggap, tak lam kemudian dia kelihatan sudah terbiasa menyepong kontolku. Lidahnya mulai bisa menari dimulutnya memberikan kenikmatan padaku. Aku suruh Leny menatapku sambil terus mengoral Joe Jr. Hal ini memberikan sensasi lain bagiku. Menatap wajah cantik yang begitu polos dan innocent dengan kontol di mulutnya benar-benar memberiku kenikmatan lebih. Rangsangan fisik di kontolku ditambah rangsangan visual itu membuatku tak bisa bertahan lama. Aku pun berejakulasi di mulut Leny. Leny sempat tersedak karena semprotan maniku karena kepalanya kupegangi supaya dia tak melepaskan kulumannya.

“Aaagghh… Len. Kamu pinter. Uugghh…”, desisku saat orgasme.

“Mmmpphh…mmmhh…”, Leny cuma bisa mengeluarkan suara tak jelas karena mulutnya masih tersumbat kontolku. Saat kulepaskan peganganku, Leny segera melepaskan kulumannya. Gadis cantik itu sedikit terbatuk-batuk karena tersedak cairan maniku. Sebagian mani yang belum tertelan olehnya mengalir di sela-sela bibirnya.

Aku kembali merebahkan Leny di pembaringanku. Nafsu birahi yang menguasai pikiranku membuat kontolku masih mengacung dengan gagahnya. Ini saatnya menuntaskan permainan ini. Aku pun bersiap dengan posisi misionari. Ujung kontolku kugesek-gesekkan ke blahan rapat vagina Leny. Wajah Leny terlihat menatapku dengan takut.

“Kak.. Leny takut. Kita udahan ya…?”, kata Leny.

“Nggak usah takut. Aku sayang banget sama kamu. Kamu sayang nggak sama aku?”, rayuku pada gadis polos itu. Leny hanya mengangguk.

“Tuh, kan. Jadi nggak usah takut. Ini bukti kalo aku bener-bener sayang sama aku.”

“Ta.. tapi nanti Leny bisa hamil kak.”

“Kamu nggak akan hamil. Kan cuma sekali ini. Lagian kalo kamu hamil juga nggak apa-apa kok. Aku jadi tambah sayang sama kamu.”, rayuku gombal. Tapi biarpun gombal, usahaku berhasil juga. Leny tersenyum pasrah. Senyuman Leny merupakan tanda bagiku untuk meneruskan aksiku. Kuarahkan kontolku ke arah sasarannya. Perlahan aku berusaha melakukan penetrasi ke vagina perawan Leny. Ternyata susah juga. Usahaku beberapa kali meleset.

“Auughh.. pelan-pelan kak. Sakit.”, jerit Leny saat aku akhirnya berhasil memasukkan ujung kontolku ke memeknya. Aku tak terburu-buru dalam penetrasiku. Aku diamkan sejenak sampai otot-otot vagina Leny terbiasa, baru kutekan lebih dalam. Kutarik sedikit baru kutekan lagi. Bibirku segera mencium bibir Leny dan tanganku mulai beroperasi didadanya, agar gadis itu terlupa dengan rasa sakitnya. Tiba-tiba aku merasakan penetrasiku terhalang selaput dara Leny. Aku memutuskan untuk tak berlama-lama kali ini agar Leny juga tak terlalu lama mersakan sakit.

“AAAKKHH… SAKIT KAK!! Hhhmmpph… mmph..”, jerit Leny saat kontolku merobek selaput daranya dan terus masuk sampai mentok tak bisa lebih dalam lagi. Tapi jeritannya segera kusekap dengan lumatanku di bibirnya. Aku mendiamkan kontolku tak bergerak supaya gadis yang baru saja kehilangan keperawanannya itu menjadi terbiasa dengan monster yang kini mengganjal vaginanya. Setelah Leny agak tenang, aku pun melepaskan ciumanku. Aku tatap wajah ayu adik tiriku itu. Ada sedikit airmata yan menetes dimatanya. Bibirnya dikatupkan seperti menahan sakit. Aku jadi kasihan melihatnya.

“Aku sayang kamu, Len. Kamu sekarang milikku seutuhnya, sayang.”, rayuku.

“Aku juga.”, jawab Leny sambil tersenyum walaupun airmata masih menggenang di pipinya.

Aku mulai mengeluar masukkan kontolku dengan perlahan supaya Leny tidak terlalu merasa sakit. Jepitan vagina Leny sangat kuar biasa, sempit dan hangat. Vagina Leny menjepit kontolku dengan merata, membuatku merasakan nikmat. Apalagi kontraksi otot-otot vaginanya bagaikan memijat lembut kontolku. Gesekan antara kontolku dan dinding vaginanya memberikan sensasi yang menjalar keseluruh tubuhku.

“Mmm…aahh….”, terdengar desis lirih dari mulut Leny setelah aku menggenjotnya dengan tempo pelan untuk beberapa lama. Aksiku yang tak terburu-buru membuahkan hasil. Leny akhirnya mulai menikmati persetubuhan pertamanya.

“Sudah nggak sakit Len?”, tanyaku.

“Mmm… sedikit. Tapi nggak apa-apa kok aahh…”, jawab Leny.

“Tenang. Aku akan bikin kamu biar bisa juga menikmatinya.”, kataku sambil mulai merangsang bagian tubuh Leny yang lain Bibir dan leher jenjangnya menjadi sasaran mulutku, sedangkan tanganku memijat lembut payudaranya, jemariku pun ikut memainkan putingnya. Terkadang lidah dan bibirku yang turun mencumbu dada mungil gadis cantik itu, dan tanganku mengelus paha atau meremas pantatnya. Rangsangan-rangsangan yang aku berikan membuat Leny mendesah nikmat. Dan dia pun lambat laun terbiasa dengan pompaan kontolku di memeknya. Bahkan kadang pantatnya seakan menyambut gerakanku. Naluri kewanitaannya membuat pantat adik tiriku itu bergoyang secara alami.

“Mmm… kamu enak banget Len. Memek kamu sempit aggh… enak.”

“Aagh… iya. Leny juga aah… terus kak.”

Desah kenikmatan kami mulai berpadu. Aku pun mulai meningkatkan tempo permainanku karena kurasakan vagina Leny mulai basah. Nampaknya Leny sudah larut dalam birahinya. Desahannya makin keras. Rasa sakit yang tadi dia rasakan sepertinya sudah pudar tergantikan oleh kenikmatan seksual yang baru kali ini dia rasakan. Tiba-tiba tubuh Leny menegang. Kakinya menjepit pantatku. Tangannya yang memelukku sempat mencakar punggungku. Dia kelihatnnya akan menjerit tapi tertahan karena saat itu kami sedang berciuman. Vaginanya berkedut dan menjepit kuat sekali sambil menyemprotkan cairan kenikmatan yang membasahi seluruh batang kontolku. Empotan memek Leny saat orgasme sungguh luar biasa, membuatku pertahananku jebol juga. Kontolku menyemprotkan banyak sekali sperma ke dalam rahim gadis cantik itu.

“mmmpphh… mmmpphhh…. aaaaghh…..”

Keadaanku dan Leny yang berciuman waktu orgasme melanda kami, membuat kami hanya bisa mengeluarkan suara gumam yang nggak jelas. Baru saat orgasme itu selesai aku melepaskan ciumanku. Kamipun bernafas lega menikmati sisa-sisa orgasme yang melemaskan tubuh.

Aku berbaring disamping Leny sambil memeluknya. Kepala Leny bersandar didadaku. Kurasakan tangan lembut gadis 17 tahun itu memegang kontolku yang agak lemas setelah pertarungan kami. Kemudian dia membersihkan kontolku yang basah oleh cairan kenikmatan kami berdua. Aku juga melihat ada sedikit darah pada kontolku, aku tahu itu darah keperawanan Leny. Aku membelai rambutnya dengan sayang. Saat itu aku benar-benar lupa akan semua masalahku, lupa bahwa gadis dalam pelukanku itu adalah anak dari perempuan yang paling kubenci di dunia ini. Yang ada dalam otakku adalah menikmati kebersamaan kami saat ini.

Kontolku yang tadinya agak lemas, perlahan mulai bangkit lagi. Aku tersenyum karena usaha Leny membersihkan kontolku tadi adalah hal yang percuma. Percuma karena sebentar lagi kontol itu akan berlumuran lagi dengan cairan yang sama karena sekarang birahiku naik lagi dan aku ingin memasukkan kontolku ke vaginanya yang hangat. Niatku segera kulaksanakan. Bibir Leny yang manis menjadi sasaran bibirku. Gadis cantik itu meresponku dengan gairah yang tak kalah liar. Tangannya yang memegang kontolku bergerak naik turun. Setelah puas melumat bibir adik tiriku itu, mulutku segera turun ke payudaranya. Payudara seperti ini yang aku suka, nggak terlalu gede kayak pemeran Baywatch. Ukurannya begitu pas dengan tubuh Leny yang tinggi semampai, bulat kencang dengan puting yang kelihatan selalu mengacung. Pyudara itu kuremas dengan tangan, kujilati dengan lidahku, kadang kugigit-gigit lembut bukitnya, kadang putingnya yang mungil menjadi sasaranku, kujilat atau kuhisap kuat-kuat.

“Aaaagghh… kak Joe mmm… terus kak.”, desahan Leny kembali terdengar di telingaku.

Setelah beberapa lama bermain di payudara Leny, aku pun tak than lagi. Aku segera bangkit, kontolku langsung kuarahkan ke liang surgawi gadis cantik itu. Penetrasiku kali ini tak sebegitu sulit seperti pertama kali karena memek Leny sudah dibanjiri oleh cairan kenikmatan kami pada permainan pertama tadi. Tapi meskipun begitu, memek itu masih terasa sangat sempit dan jepitannya masih begitu nikmat. Setelah itu aku mengalungkan tangan Leny ke leherku. Kemudian aku angkat badannya hingga kini kami dalam posisi duduk berhadapan. Dengan posisi seperti ini kontolku terasa bisa lebih mentok memasuki memek Leny dan terasa menyentuh mulut rahimnya. Aku sedikit heran, memek Leny ternyata mampu menampung seluruh kontolku, padahal waktu kemarin aku melakukannya dengan Wulan Guritno yang sudah janda, sebagian kontolku tak bisa masuk. Mungkin ini karena postur tubuh Leny yang tinggi semampai hingga dia memiliki liang vagina yang lebih dalam. Aku pegang pantat Leny kemudian menggerakkannya naik turun, kadang aku menggoyangkan pantat itu memutar-mutar.

“Aaaghh… memek kamu enak banget sayang.”, desisku keenakan.

“Mmm..sstt.. punya kakak gede banget. Aaaghh…. rasanya sampai keperut Leny.”, desah Leny yang mulai menikmati permainan sex.

“Sstt..aahh.. itu namanya kontol, Len. Coba kamu bilang kon-tol.”

“uuggh.. ih jorok ah.”

“Kenapa jorok? Itu memang namanya. Ayo, bilang dong. KONTOL.”

“Mm.. ko..kontol.”, kata Leny malu-malu.

“Nah, gitu dong. Kamu kan udah gede, kenapa harus malu? Sekarang kamu masih ngerasa sakit nggak?”, tanyaku.

“Sedikit. Mmm… aaahh…”

“Tapi enak kan?”, godaku.

“Aahh..ih kak Joe, apaan sih?”, jawab Leny malu.

Aku pun tersenyum melihat kepolosan dan keluguan gadis cantik itu. Kemudian aku suruh Leny menaik turunkan tubuhnya sendiri. Kuberi beberapa petunjuk dari apa yang sering kulihat di film-film porno. Leny pun cepat mengerti, sepertinya dia berbakat untuk urusan beginian. Gadis cantik itu bergerak liar di pangkuanku, pantatnya naik turun, kadang berputar dengan goyangan yang semakin membuatku merasa keenakan karena jepitan vaginanya terasa lebih enak dan bervariasi. Lagipula dengan posisi ini, aku bebas menciumi wajahnya dan meremas-remas payudaranya. Leny kelihatan lebih menikmati posisi seperti ini, dia bergerak dengan panas penuh gairah birahi. Desahan kami bersahutan berpadu dengan suara kecipak pergesekan kontolku dan memeknya yang basah. Suara benturan pantat Leny dan pahaku juga ikut meramaikan suasana. Permainan kami berlangsung lebih lama dari yang pertama karena aku sudah keluar tadi dan Leny kelihatan sudah mulai terbiasa.

Setelah beberapa lama berpacu dalam birahi, kurasakan gerakan Leny makin liar. Orgasme gadis cantik itu rupanya sudah dekat. Otot-otot vaginanya berkontraksi makin menggila.

“AAAGHH…..kak Joe. Uughh……”, jerit Leny kala orgasme melandanya. Tubuhnya memelukku erat. Dapat kurasakan tubuhnya sampai gemetaran. Dan akhirnya Leny pun lemas dalam pangkuanku. Aku yang belum mencapai puncakku, segera menurunkan Leny dari pangkuanku. Tubuh Leny yang sudah lemas itu kutengkurapkan. Pahanya aku ganjal dengan bantal hingga posisi pantatnya agak menungging dan posisi vaginanya memungkinkan untuk kugenjot. Kaki Leny agak kurenggangkan lalu kontolku segera kumasukkan ke memeknya. Setelah kumasukkan sampai mentok, kaki Leny kurapatkan lagi. Aku merintih keenakan karena dengan posisi ini, vagina Leny terasa lebih menjepit. Kemudian aku mulai menggenjotnya dengan penuh nafsu. Tubuh Leny yang tengkurap sampai melonjak-lonjak.

“Uughh… enak Len. Memek kamu enak banget aaahhh…”

“Kak.. uugh… Leny capek banget.”, kata Leny. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena sudah lemas.

Aku tak peduli dan terus menggenjot gadis cantik yang sudah lemas itu. Lama-kelamaan gairah Leny kembali terpancing. Walaupun tubuhnya sudah lemas tapi desahannya kembali terdengar. Setelah hampir lima belas menit berpacu dengan nafsuku, aku merasa orgasme melandaku. Batang kontolku menyemprotkan banyak sekali ke rahim gadis 17 tahun itu. Leny juga sepertinya mengalami orgasme lagi. Kurasakan semprotan cairan kenikmatannya di kontolku yang terbenam di memeknya.

“Aaghh…. Len. Aku nyampe aaaagghh….”, desisku saat orgasme.

“Aaahh.. aahh….”, desah Leny lemah.

Aku merasa tubuhku lemas dan ambruk menindih Leny. Kemudian aku pun menyingkir dan berbaring disebelah Leny dan terdiam sejenak menikmati orgasmeku yang barusaja kucapai. Ketika aku menoleh ke arah Leny, ternyata gadis cantik itu sudah tertidur karena lelah. Aku tarik tubuhnya agar ia tak tidur dengan posisi tengkurap. Aku peluk gadis cantik itu dalam pelukanku dan tak lam kemudian aku pun terlelap.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Aku terbangun dari tidurku. Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 08.00. Kulihat Leny sudah tak ada disampingku, mungkin dia sudah berangkat sekolah. Aku mengenang peristiwa kemarin. Rasa bersalah hinggap di hatiku. Aku telah menodai gadis tak berdosa itu, adik tiriku sendiri. Tapi kemudian aku teringat kalau Leny adalah anak dari pelacur itu, ibu tiriku, perempuan yang paling kubenci di dunia ini. Pelacur itu dan ayahku yang menyebabkan kematian ibuku. Mereka halus mendapat balasan atas perbuatan mereka itu. Api dendam menyala dalam hatiku.

“Tapi.. tapi Leny sama sekali nggak bersalah.”, aku berpikir dalam hati.

“Tidak tidak. Dia sama seperti ibunya. Seorang pelacur. Ingat dia begitu mudah menyerahkan keperawanannya pada kakak tirinya sendiri. Perempuan macam apa itu?”, kata hatiku yang lain menentangnya.

“Tapi aku yang mengajaknya.”, sisi lain diriku masih membela Leny.

“Kamu nggak usah terlalu mikirin anak pelacur itu. Ibunya pelacur, anaknya pasti pelacur juga. Ingat apa yang dilakukan ibunya. Pelacur itu yang membunuh ibumu. Dan kamu harus membalasnya.”, desak sisi lain diriku.

Dalam pikiranku terjadi pertentangan. Aku masih terduduk diatas ranjangku sampai beberapa lama dengan perdebatan di pikiranku. Tapi akhirnya api dendam dalam hatiku yang memenangkan pertarungan. Aku harus membalas dendam. Setelah hatiku mantap, aku pun bangkit dan mandi. Setelah itu aku pergi untuk melaksanakan rencanaku.

Pertama aku harus mencari selingkuhan ibu tiriku. Aku datang ke restoran kemarin. Pelayan restoran sempat kaget melihatku dan akan mengusirku. Tapi aku tak kurang akal, aku katakan bahwa aku sadar kalau kemarin aku salah dan itu semua cuma salah paham belaka, lalu aku meminta maaf pada pelayan itu. Aku juga menemui pemilik restoran untuk meminta maaf. Mereka terlihat senang dengan sikapku. Aku kemudian bertanya tentang laki-laki yang kupukuli kemaren, apakah mereka tahu siapa dia dan alamatnya dimana. Mereka memandangku curiga, lalu aku buru-buru menjelaskan kalo aku hanya ingin meminta maaf pada laki-laki itu. Setelah kuyakinkan, akhirnya pemilik restoran memberiku nama dan alamat laki-laki itu karena dia pelanggan mereka hingga mereka tahu alamatnya. Aku berterima kasih lalu meninggalkan tempat itu.

Aku pergi ke tempat bang Harry, kepala preman kenalanku. Aku meminjam beberapa orang anak buahnya untuk melaksanakan rencana balas dendam. Bang Harry tak keberatan karena aku adalah salah satu ujung tombak perdagangan obat terlarangnya. Dia menyuruh beberapa anak buahnya mengikuti dan mereka harus melaksanakan semua perintahku. Aku mengajak tiga orang anak buah bang Harry pergi dengan mobil bang Harry yang aku pinjam juga. Aku ajak mereka ke tempat Andi, selingkuhan ibu tiriku. Kemudian aku suruh mereka menculik laki-laki itu. Andi sempat melawan, tapi hujan pukulan dan todongan golok dan clurit segera menghentikan perlawanannya.

Setelah sukses dengan penculikan Andi, aku pun segera menuju ke salah satu rumah milik ayahku yang terletak di pinggiran kota Surabaya. Rumah ini memang jarang ditempati walaupun sudah lengkap dengan perabotannya. Rumah itu terletak menyendiri berjauhan dengan rumah di sekitarnya, tempat yang cocok untuk melaksanakan rencanaku. Setelah sampai disana, anak buahku kusuruh membawa Andi ke salah satu kamar yang ada disana. Aku menurunkan barang bawaanku dan membawanya ke kamar yang paling besar. Barang yang kubawa adalah seperangkat kamera dan alat pemancar. Barang-barang itu dulu kubeli karena iseng saja, tapi sekarang bisa kugunakan untuk rencana balas dendamku. Segera kusetting perangkat kamera itu menghadap ke ranjang besar yang ada di kamar itu. Setelah memastikan posisinya pas, aku menghubungkannya dengan transmitter. Ku atur sedemikian rupa agar keberadaan kamera itu agak tersembunyi. Setelah itu aku pergi ke ruangan sebelah yang merupakan ruangan home theatre. Aku sambungkan receiver ke televisi besar yang ada disana. Jangkauan pemancar yang kubawa hanya 50 meter. Untung saja ruangan ini bersebelahan. Kucoba menghidupkan televisi yang segera menayangkan pemandangan di kamar sebelah. Peralatan yang kupasang tidak hanya menangkap rekaman visual tapi audio juga. Setelah puas dengan pekerjaanku, aku menuju kamar tempat Andi disekap anak buahku.

Saat aku masuk, aku melihat Andi sudah terikat di kursi. Wajahnya terlihat ketakutan melihatku.

“To..tolong lepaskan aku. Ini semua cuma salah paham. A…aku dan ibumu cuma rekan bisnis. Tolong lepaskan aku.”, rengek laki-laki itu.

PLAAKK…….

Aku menampar Andi, membuatnya terdiam.

“Jangan bohong! Aku tahu kamu ngentot pelacur itu. Dan sekarang aku ingin pengakuan itu. Kalau kamu gak mau, aku akan bunuh kamu. Mengerti??”, ancamku.

“Oke oke. Apapun mau kamu akan aku turuti, tapi tolong lepaskan aku.”

“Aku janji akan melepaskan kamu, setelah kamu melakukan tugasmu. Mengerti?!”

“Iya, aku ngerti.”

Aku sudah bersiap-siap dengan kamera di tanganku untuk merekam pengakuan Andi, saat tiba-tiba Abdul, salah satu preman yang dipinjamkan kepadaku memanggilku.

“Boss. Coba lihat ini Boss.”, kata Abdul sambil mengacungkan sebuah hand phone.

“Apa itu?” tanyaku sambil menghampiri Abdul.

“HP ini punya laki-laki itu. Tadi aku sempet pinjem dari rumahnya.”

“Pinjem apa nyolong? Dasar kebiasaan.”

“He.. he… he… iya deh gue colong. Tapi coba lihat apa yang aku temuin di dalemnya.”, kata Abdul sambil menyerahkan HP itu padaku. Aku memeriksa HP itu dengan seksama, dan apa yang kutemukan ternyata benar-benar berharga. Di dalamnya ternyata ada photo-photo Andi dan Rina, ibu tiriku, sedang bermesraan. Yang telanjang dan sambil ngentot juga ada. Saat kubuka file video ternyata ada rekaman video ngentotnya juga. Aku tertawa senang dengan penemuanku. Segera kubatalkan rencanaku merekam pengakuan Andi karena bukti-bukti di tanganku lebih kuat. Aku segera mentransfer photo-photo dan rekaman video itu ke komputer-ku. Kemudian aku mencetak beberapa lembar photo itu. Kumasukkan ke amplop tertutup, lalu kuserahkan ke Abdul. Kujelaskan rencanaku pada mereka. Tiga anak buahku menjalankan rencana berikutnya. Mereka pun segera pergi dengan memakai mobil. Aku pun menanti mereka sambil merokok di ruang tamu.

* * * * * * * * * * * * * * * * *

Sekitar jam 1 siang, aku mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Tak lama kemudian pintu depan terbuka masuklah anak buahku sambil menyeret laki-laki setengah baya yang dalam keadaan terikat.

“Lepaskan aku bajingan.”, teriak laki-laki itu tapi anak buahku tak menggubrisnya dan membawanya kehadapanku.

“Lho J..Joe. Apa maksud semua ini? Ka.. kamu yang menyuruh mereka menculik papa?”, kata-kata laki-laki itu dengan muka memancarkan keheranan dan kemarahan. Aku cuma tersenyum. Ya, laki-laki itu memang Suwondo, ayah kandungku, laki-laki yang menyebabkan ibuku meninggal sambil merana karena pengkhianatannya.

“Iya. Aku yang menyuruh mereka.”, jawabku singkat.

“Dasar anak durhaka. Anak nggak tahu diri. Beraninya kam.. mmmpphh… mmmpphhh…”, caci maki ayahku segera terhenti karena Abdul menyekap mulutnya dengan sapu tangan. Aku mengacungkan jempol ke Abdul, kemudian menyuruh mereka membawa ayahku ke ruangan Home Theatre. Setelah sampai disana mereka mengikat ayahku ke sebuah kursi. Aku menghampirinya.

“Dengar bapak Suwondo.”, kataku dingin. Aku memang sudah tak menganggap laki-laki ini ayahku. Hatiku sudah dipenuhi dendam karena perbuatan laki-laki ini terhadap ibuku.

“Kamu adalah laki-laki hina yang telah mengkhianati istrinya dan menikahi seorang pelacur. Apa kamu sadar kalau perbuatanmu itu membuat istrimu, ibu kandungku, merana dan akhirnya meninggal?”, kataku melampiaskan amarah yang selama ini kupendam. Ayahku tampak shock mendengar perkataanku. Kepalanya menggeleng-geleng seakan tak mau mengakui perbuatannya.

“Dan semua itu demi apa?! Cuma untuk menikahi seorang pelacur! Ha.. ha… ha… seorang pelacur. Dan sebentar lagi kamu akan melihat buktinya.”, kataku dengan penuh dendam. Aku menyuruh anak buahku untuk menghadapkan kursi itu ke arah televisi besar yang sudah kuset dengan kamera di kamar sebelah supaya ayahku bisa melihat semua yang terjadi di sana nantinya. Lalu aku pun keluar dari kamar itu. Kuambil Hpku dan mulai menekan nomor.

“Halo? Ada apa Joe?”, jawab suara sinis di seberang sana.

“Halo, ibu Rina. Sudah menerima paket yang kukirimkan? Aku tak menyangka kalau ibu tiriku ternyata bisa seliar itu diranjang ha.. ha.. ha… Bagaimana hasil cetakan fotoku? Cukup jelas kan?”, kataku.

“Ja..jadi kamu yang… aahh… Joe, tolong Joe. Jangan kasih tahu ayah kamu tentang foto itu. Please Joe. Aku cinta ayahmu.”, rengek ibu tiriku di telpon. Suaranya terdengar kebingungan dan ketakutan.

“Ha… ha… ha… itu bukan masalah, selama kamu mau menuruti segala yang aku perintahkan.”

“Baik, baik. A.. apa mau kamu?”

“Sekarang aku ingin kamu segera menuju ke rumah keluarga yang ada di pinggiran kota. Cepat! Kalau terlalu lama, mungkin aku bisa bosan lalu main-main ke kantor papa. Yaa… mungkin aku dan papa bisa melihat-lihat foto bareng, atau bahkan kita bisa melihat rekaman video porno asli buatan Indonesia. Bagaimana?”, ancamku padanya.

“Okh… Oke, Joe. Aku segera kesana sekarang. Please kamu jangan bilang papamu. Aku mohon.”

“Baik. Cepat. Dan jangan bilang siapa-siapa. Mengerti?!”

“Oke Oke”

Aku menutup telpon. Aku tertawa dalam hati, rencanaku berjalan mulus. Kemudian aku menyuruh ketiga anak buahku untuk tetap di ruangan Home Theatre, menjaga ayahku. Aku minta kepada mereka untuk membuat ayahku tetap melihat tv, apapun yang terjadi. Lalu aku menunggu kedatangan pelacur itu dengan duduk membaca di ruang tamu.

Satu jam kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman. Tak berapa lama pintu depan pun terbuka. Sosok wanita cantik masuk dengan wajah takut dan marah bercampur jadi satu.

Rina

Rina

“Selamat siang ibu Rina. Kamu benar-benar cantik siang ini.”, kataku pada perempuan yang baru saja masuk itu. Perempuan itu memang Rina, ibu tiriku, dan dia memang cantik. Siang itu dia mengenakan blazer putih dan rok hitam dengan tinggi di atas lutut. Penampilan dan wajahnya seperti wanita yang baru berusia 25 tahun padahal umurnya sudah mencapai 35 tahun.

“Oke, Joe. Nggak usah basa-basi. Apa mau kamu? Uang? Aku bisa menuliskan cek buat kamu biar kamu bisa mabok-mabokkan sepuasnya.”, kata Rina. Kemarahan terdengar dari suaranya.

“Uang? Kalo aku butuh uang, aku tinggal ambil di tabunganku. Aku ingin yang lain ha.. ha.. ha..”

“Trus apa?! Cepat katakan apa maumu lalu serahkan foto dan rekaman videonya.”

“Saat aku ngelihat rekaman video kamu dan Andi, aku jadi sadar kalau kamu sangat sexy. Aku jadi pengen kayak Andi he… he..”

“Ja.. jadi maksud kamu…. TIDAK. Kamu gila! Aku gak mau.”

“Oke. Kalau gitu silahkan kamu pergi dari sini. Soalnya aku mau maen ke kantor papa.”

“Eh… ja.. jangan Joe. Tolong jangan. Apa nggak ada cara lain? Aku ibumu.”

“Nggak! Kamu bukan ibuku! Kamu cuman pelacur yang dinikahi ayahku. Dan sekarang aku pengen menikmati pelayanan dari seorang pelacur.”, bentakku. Rina tersentak mendengar kata-kataku. Dia hanya diam dan menatapku dengan bingung.

“Aku akan masuk ke kamar itu. Kalau dalam waktu satu menit, kamu tidak menyusul aku kedalam sana, aku anggap kamu menolak penawaranku, lalu aku akan ke kantor Papa dan membongkar semua perbuatanmu yang tak tahu malu itu. Aku tidak akan mengulangi permintaanku. Sekarang terserah kamu.”, kataku sambil meninggalkan wanita cantik itu menuju ke kamar yang telah kupasangi kamera. Aku masuk ke dalam kamar, lalu mencopoti pakaianku dan hanya memakai celana pendek tanpa celana dalam. Lalu aku pun duduk di ranjang menunggu.

Tak seberapa lama, pintu kamar terbuka dan masuklah Rina, ibu tiriku. Airmata terlihat menetes di pipinya. Aku tersenyum puas.

“Buka pakaianmu.”, perintahku pada Rina. Wanita cantik itu terlihat ragu dan malu, tapi akhirnya dia mulai melepaskan pakaiannya hingga hanya tinggal memakai bra dan celana dalam model thong warna hitam. Pemandangan di depanku mulai membangkitkan nafsuku, tapi aku belum puas.

“Buka semuanya!”, perintahku lagi. Rina pun menurutinya. Kemudian aku suruh dia duduk disebelahku. Perlahan wanita cantik itu menghampiriku. Dia naik keatas ranjang besar itu lalu duduk disebelahku. Aku terpana memandang sosok ibu tiriku yang telanjang bulat itu. Rina benar-benar cantik dan pandai merawat tubuhnya yang indah. Dia tak terlihat seperti wanita yang sudah berumur 34 tahun dan mempunyai anak gadis yang sudah remaja. Pantas saja ayahku begitu tergila-gila dengan pelacur ini. Wajah cantik, bibir penuh dan sexy, rambut hitam panjang, leher jenjang, serta tubuh indah terawat dengan payudara dan pantat yang montok. Ternyata tak percuma dia menghabiskan uang ayahku untuk fitness dan perawatan tubuh.

Wajah Rina terlihat malu dan takut, airmata terlihat menggenang di pipinya. Aku tak peduli, segera kulumat bibirnya yang sexy. Saat aku merasakan tak ada respon, segera kujambak rambutnya.

“Aku nggak mau bercumbu dengan patung, tahu!”, bentakku sambil menjambak rambutnya. Ibu tiriku itu terlihat ketakutan, lalu dia berusaha menganggukkan kepalanya. Segera kulumat lagi bibir merahnya. Awalnya dia masih ragu tapi kemudian mulai membalas ciumanku. Kumainkan lidahku, Rina pun ikut memainkan lidahnya. Tanganku mulai bermain di payudaranya, kuremas-remas payudaranya yang besar itu. Setelah puas berciuman, aku mengalihkan perhatianku ke payudaranya.

Payudara Rina sungguh menakjubkan, ukurannya mengingatkanku akan pemeran ilm Baywatch, Erika Eleniak. Walaupun wanita itu sudah memiliki anak gadis yang sudah remaja tapi payudaranya masih terawat dan tidak kendor. Putingnya terlihat mencuat begitu menantang. Tanganku segera meremas-remasnya dengan gemas, sedangkan mulutku mencari putingnya, kujilat, kuhisap, bahkan kadang kujepit dengan gigi lalu kutarik-tarik.

“Mmmm……”, desah Rina mulai keluar saat aku beraksi di payudaranya itu. Setelah puas meremas payudaranya yang besar dan kenyal, tanganku mulai merayap ke bawah, menyusuri perutnya yang masih rata dan terjaga bentuknya. Kemudian tanganku terus merayap turun sampai kememeknya yang hanya dihiasi sedikit rambut yang tertata rapi di bagian atasnya. Kuusap belahannya, dapat kurasakan memeknya mulai lembap. Aku masukkan dua jariku ke liang memeknya dan kukocok-kocok pelan.

“Aahh… Joe. Uuughh…”, desahan Rina maki keras karena ransangan yang diberikanku mulutku dipayudaranya dan kocokan jariku di memeknya. Apalagi saat aku menemukan klitorisnya dan menggosok-gosoknya, desahan Rina makin menjadi.

Setelah puas bermain, aku menyuruh Rina mencopot celana pendekku. Dia pun menurut dan mulai melepas celana boxerku. Wajahnya terlihat kaget ketika untuk pertama kalinya menyaksikan monster di balik celana itu.

“Jangan cuman diliatin aja dong.”, kataku. Tangannya yang halus kemudian menggenggam kontolku yang ternyata tak muat dalam genggamannya. Kemudian Rina mulai menggerakkan tangannya naik turun, mengocok lembut kontolku.

“Aagghhh…. yes. Mmm… jangan pake tangan saja, sepong pake mulut loe juga.”, kataku lagi. Rina terlihat ragu, tapi akhirnya dia mendekatkan wajahnya ke kontolku lalu mulai menjilat dengan lidahnya.

“Aaghh.. sepongan loe enak banget aaaghhh… yes”, desahku keenakan saat Rina mulai mengulum kontolku dengan bibirnya yang sexy itu. Keliahatannya Leny perlu banyak belajar dari ibunya soal oral seks. Blow job Rina membuatku mendesah keenakan, tekniknya bervariasi dan seakan tahu apa yang diinginkan seorang pria. Aku lalu menarik tubuh Rina sehingga kita dalam posisi 69. Kujilati memek dan anusnya, jariku kadang kumainkan mengocok liang memek yang mulai basah itu. Ibu tiriku itu mengeluarkan suara menggumam tak jelas karena mulutnya tersumpal kontolku. Kami saling merangsang dengan oral seks itu sampai beberapa lama sampai paha Rina mengejang dan menjepit kepalaku.

“Aaaghhh… Joe. Sst…a.. aku dapet Joe aaaghhh…”, jerit Rina saat dia orgasme. Badannya menegang, kakinya menjepit erat kepalaku, dan memeknya makin ditekannya ke mulutku. Aku tertawa dalam hati melihat keberhasilanku memancing gairah pelacur ini berhasil. Aku membalikkan tubuh Rina hingga dia terlentang. Lalu aku mulai mendekatkan kontolku ke belahan memeknya, dan berusaha melakukan penetrasi.

“Ouugh… pelan-pelan Joe. Kontol kamu gede banget.”, kata Rina saat aku mulai memasukkan kontolku ke liang memeknya. Kontolku seger kutancapkan sampai mentok menyentuh mulut rahimnya. Ternyata kedalaman memek Rina sama seperti Wulan Guritno, kontolku masih menyisakan sedikit pangkalnya yang tak bisa masuk. Aku heran, kok anak gadisnya punya memek yang lebih dalam.

Aku langsung menggenjot Rina dengan kecepatan tinggi untuk memuaskan nafsuku sendiri. Suara benturan pahaku dan pantat Rina terdengar keras. Tubuh ibu tiriku itu sampai tersenta-sentak oleh genjotanku.

“Ouugh… Joe. Pelan-pelan aaghh…”

“Uughhh… memek kamu enak banget.”

“Aah..aah..sst.. aaaghh…”

Kami terus berpacu dalam birahi sampai sekitar 20 menitan ketika kurasakan orgasme mulai menghinggapi kami berdua. Rina berteriak makin liar. Memeknya mengempot dan mendenyut seakan memeras kontolku.

“Uughh…. aku nyampe Rin aagghh….”, kataku sambil menyemprotkan spermaku ke liang rahim ibu tiriku sendiri.

“Aaakh… aku juga Joe.”

Kami pun terdiam sejenak sambil berpelukan menikmati sisa -sisa orgasme yang baru saja melanda kami berdua.

Setelah bisa mengatur nafasku, aku mengeluarkan kontolku dari memek Rina yang dipenuhi spermaku dan cairan kenikmatannya sendiri. Wanita cantik menatap kagum melihat Joe Jr. Yang masih berdiri dengan gagahnya walaupun telah orgasme. Aku menyuruh Rina menungging, lalu aku segera menggenjotnya dengan posisi doggie style.

“Uuughh… mmm… kamu hebat Joe.”, desah Rina saat birahinya kembali terbangun. Aku hanya tersenyum dan terus menggenjotnya sepenuh tenaga. Kadang kutampar pantatnya yang montok, membuat Rina menjerit dan tersentak. Kami terus bergoyang dengan liar berusaha mencapai kepuasan. Sampai saat kurasakan Rina sepertinya akan orgasme, segera kucabut kontolku dari memeknya. Lalu aku duduk bersandar di kepala ranjang. Rina menoleh kearahku dengan bingung. Wajahnya memerah karena nafsu.

“Nnngg… ke.. kenapa Joe?”, tanyanya bingung.

“Sekarang semuanya terserah kamu. Aku sudah nggak akan memaksamu lagi. Kalau kamu mau pergi dari sini, aku tidak akan melarang. Dan kalau kamu ingin melanjutkan permainan kita, aku juga tak keberatan.”, kataku santai. Rina terlihat bingung antara pergi dari sini atau menuntaskan birahinya yang tertunda. Aku tersenyum melihat wajah ibu tiriku yang bingung. Wanita cantik itu akhirnya perlahan bergerak kearahku. Kulihat rasa malu terpancar dari wajahnya. Rina segera mengangkangi kontolku yang masih mengacung tegak. Digenggam lalu diaturnya agar sejajar dengan liang memeknya. Setelah itu perlahan dia menurunkan tubuhnya hingga kontolku pun masuk ke dalam liang memeknya yang sudah gatal.

“Uuughh…mmm….”, desah Rina sambil mulai menggerakkan pantatnya naik turun di pangkuanku.

“Aaghh… kamu ternyata suka banget sama kontolku ya?! Ayo, jawab Plak…..”, kataku sambil menampar pantatnya.

“Aaghh… i.. iya, iya. Kontolmu mmm… gede banget aah… enak.”, jawab Rina sambil terus bergoyang liar diatasku.

“Enak mana sama suamimu?”

“Uughh… kamu Joe. Ahh… kamu hebat aaaghh….”

Aku tertawa dalam hati membayangkan bajingan tua yang ada dikamar sebelah bisa melihat jelas tingkah laku istrinya yang ternyata hanya seorang pelacur yang tergila-gila dengan kontol pria lain. Membayangkan itu semua membuat gairahku semakin menjadi. Aku dan ibu tiriku terus begoyang dengan liarnya sampai wanita cantik itu kembali merasakan orgasmenya.

Aku yang belum tuntas segera mengatur tubuh ibu tiriku itu agar merangkak dengan wajah menghadap kamera tersembunyi yang aku pasang. Kemudian aku menggejotnya lagi dari belakang sambil menarik rambutnya yang panjang sehingga wajahnya akan kelihatan lebih jelas di kamera. Rina kembali melayani nafsuku. Desah dan erangannya terdengar makin keras. Aku pun menggenjot makin liar karena aku tahu wajah Rina yang meraskan kenikmatan akan terpampang jelas di televisi besar di ruangan sebelah. Kami larut dalam nafsu birahi. Akhirnya aku dan Rina pun mencapai puncak kenikmatan kami bersama-sama. Peluh membasahi tubuh kami berdua setelah pertarungan panjang dan melelahkan. Setelah beristirahat sejenak, aku pun bangkit lalu mengajak ibu tiriku itu pergi ke ruangan sebelah.

Rina begitu kaget saat dia melihat suaminya ada dalam kamar itu dalam keadaan terikat bersama tiga orang pria yang tidak dikenalnya. Aku segera mendorongnya masuk ke ruangan. Setelah masuk ke dalam ruang home theater itu, Rina akhirnya menyadari keadaan televisi besar yang ada disana ternyata sedang menayangkan pemandangan dari kamar sebelah, kamar yang tadi dipakainya berpacu dalam nafsu birahi dengan anak tirinya sendiri. Wajahnya tampak aneh, berbagi perasaan tercampur didalamnya. Malu, marah, bingung, takut, dan entah apa lagi yang dirasakan wanita itu saat ini.

“Mas… mas Wondo. Kenapa mas bisa disini? Aagh… Joe, apa maksud semua ini? Ka.. kamu yang mengatur ini semua?”, kata Rina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Yup. Ini semua kulakukan agar laki-laki tua itu tahu wanita pelacur macam apa yang dinikahinya? Agar dia tahu bahwa hanya karena seorang wanita jalang seperti kamu, dia berani mengkhianati istrinya, ibu kandungku, sampai dia meninggal dalam penderitaan.”, kataku sinis. Rina tampak kaget mendengar perkataanku. Lalu dia segera bersujud di depan ayahku.

“Ah.. ma..maafkan aku Mas. Joe yang memaksaku melakukan ini semua. Maafkan aku Mas.”, kata Rina sambil menangis di kaki ayahku. Ayahku hanya terdiam sambil menatapnya marah dan jijik.

“He… he… he… tadi saya ngeliat juga lho lewat tivi, nyonya keliatannya sangat menikmatinya kok. Malah waktu disuruh pergi sama bos, eh malah naikin Bos trus main enjot-enjotan deh he.. he…”, sahut Abdul sambil tertawa. Aku tertawa melihatnya lalu menyuruh dua anak buahku yang lain membawa Andi kesini.

“Rina.”, kata Andi dengan muka babak belur karena tadi dihajar anak buahku.

“Andi?!”, Rina berseru heran.

Plok…plok…plok….

Aku bertepuk tangan sambil tertawa.

“Bapak Suwondo. Perkenalkan. Ini Andi. Laki-laki yang kontolnya siap mengaduk-aduk memek istrimu saat dia tak puas dengan permainan sex kalian ha… ha… ha… Dan ini buktinya.”, kataku sambil menekan remote control. Di tivi langsung terlihat adegan seks antara Andi dan Rina, ibu tiriku. Aku tadi sempat mengubah rekaman video dari HP Andi kedalam bentuk vcd.

Mata ayahku melotot melihat adegan panas di tivi itu. Dia kelihatan sangat marah dan shock melihat kelakuan istrinya. Rina juga shock melihat tayangan itu, sedangkan Andi tertunduk, mungkin merasa malu.

“Brengsek kamu Joe. Kamu sudah janji..aagh… hiks…”, maki Rina. Aku hanya tertawa melihat dendamku berhasil kubalas pada mereka semua.

“Abdul. Nih, uang yang kujanjikan.”, aku menyerahkan amplop berisi uang pada Abdul.

“Makasih banyak Bos he…he…he…”

“Aku akan pergi duluan. Mobilnya entar kembaliin ke bang Harry, sampaikan rasa terima kasihku sama bang Harry.”

“OK Boss. Trus mereka gimana?”, kata Abdul sambil menunjuk ayah, ibu tiriku, dan selingkuhannya.

“Nanti malam baru kamu lepaskan mereka. Dan untuk mengisi waktu, kalian bisa menghibur nyonya Suwondo yang cantik itu.”

“Hua..ha..ha… Jangan kuatir Boss. Kami akan bikin nyonya cantik itu merintih-rintih keenakan didepan suaminya he… he… he….”, kata Abdul sambil tertawa. Sedangkan kedua temannya langsung menyerbu ke arah Rina setelah mendengar kata-kataku tadi.

“Oh… jangan. Tidak aaghh…. Biadab kamu Joe. Aaahh… tolong.”, jerit Rina ketakutan. Dia berusaha melakukan perlawanan, tapi apa daya seorang wanita menghadapi tiga preman itu.

Aku tersenyum melihat kejadian itu. Kemudian aku menghampiri ayahku yang hanya bisa diam karena tubuhnya masih terikat di kursi dan mulutnya ditutup dengan kain. Wajahnya terlihat shock dan terlihat lebih tua dari biasanya. Airmata menetes dari matanya yang terpejam.

“Kenapa pak Wondo? Lebih baik anda membuka mata anda supaya anda tahu pelacur apa yang anda nikahi sampai berani mengkhianati ibu kandungku.”, kataku sinis. Mata ayahku terbuka. Dia menatapku tajam dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tak bisa menebak perasaannya karena pandangannya begitu aneh. Tapi aku tak peduli dan segera meninggalkan ayahku.

“Selamat tinggal bapak Suwondo!”

Aku menghampiri Rina, ibu tiriku. Dia sedang dalam posisi merangkak, kontol besar Abdul yang keturunan Arab menggenjotnya dari belakang, membuat tubuhnya tersentak-sentak.

“Ibu Rina. Aahh… nampaknya anda benar-benar maniak seks. Gimana rasanya kontol Abdul? Enak??? Ha.. ha… jangan takut. Kamu akan puas dengan permainan Abdul dan teman-temannya. Mereka ini sudah sering banget keluar masuk Dolly. Jadi tentu pengalaman mereka tak akan mengecewakan anda ha.. ha…”, kataku sambil tertawa.

“Bajingan kamu auugh…..”, kata Rina. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya, dan berbisik lirih tapi bisa terdengar jelas oleh perempuan cantik itu.

“Kamu tahu nggak? Memek kamu ternyata nggak kalah sama memek anak kamu. Dan dia juga sama seperti kamu. Leny begitu menikmati saat kontolku menembus selaput daranya. Dan ternyata dia cukup liar, aku saja sampai kewalahan ha.. ha…ha…”

“Ti.. Tidak. BAJINGAN KAMU JOE. TIDAAAK.”, jerit Rina histeris. Dia terlihat sangat shock. Aku puas dan pergi meninggalkan tempat itu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

Sesampai di rumahku, aku segera membereskan barang-barangku. Membawa seluruh uang dan tabunganku. Setelah selesai, aku bersiap pergi meninggalkan rumah ini, meninggalkan semua masa laluku.

Saat aku lewat depan kamar Leny, aku baru teringat kalau aku tidak melihat adik tiriku itu dari tadi. Kumasuki kamarnya, sepi, mungkin dia sedang keluar. Aku akan beranjak keluar dari kamarnya saat kulihat sebuah buku tergeletak di atas ranjang adikku itu. Entah apa yang merasuki, hingga aku mengurungku niatku keluar kamar dan mengambil buku itu dan membukanya. Kubuka halaman pertama. Tanggal yang tertulis disitu kira-kira setahun yang lalu, saat ayahku menikah lagi. Aku pun membaca buku yang ternyata diary milik Leny.

Dear Diary.

Kamu inget nggak tentang cowok yang kuceritakan dulu? Cowok yang jadi cinta pertamaku, mungkin cintaku satu-satunya sampai sekarang. Cowok yang selalu hadir di setiap mimpi-mimpiku. Aaahh…..

Cowok itu sekarang akan jadi kakak tiriku karena mamaku akan menikah dengan papanya. Aku bingung Diary. Kenapa mama nggak menikah dengan oran lain tapi malah menikahi om Suwondo? Apa aku sanggup melupakan cinta pertamaku itu? Apa aku sanggup melihatnya setiap hari tapi sadar kalau kita tidak pernah mungkin akan bersama?

Tapi Diary…..

Aku harus kuat. Aku harus bisa melupakannya. Aku nggak boleh merusak kebahagiaan mama. Aku harus cukup puas hanya dengan terus berdekatan dengan cowok itu. Aku harus mengingat pepatah yang berkata kalau Cinta itu tak harus memiliki, iya kan?!

Aku kaget membaca itu semua. Leny cinta sama aku???? Jadi selama ini dia cinta sama aku??? Aku segera membuka halaman-halaman yang lain, sampai aku tiba pada halaman terakhir yang terlihat baru saja ditulis.

Dear Diary…

Aku seneng banget hari ini. Ternyata cintaku pada kak Joe, nggak bertepuk sebelah tangan. Kak Joe ternyata juga suka sama aku. Dia bilang kalau dia sayang banget sama aku. Mmmm…. aku bahagia banget.

Dan kamu tahu nggak? Sekarang aku sudah menjadi miliknya seutuhnya. Aku sudah menjadi wanita dewasa. Kemarin aku dan kak Joe ML dikamarnya. Laki-laki yang kucintai mengambil keperawananku yang selama ini kujaga. Aku tak menyesal karena laki-laki itu adalah kak Joe, cinta pertamaku dan satu-satunya.

Aku bahagia….

Buku itu terjatuh dari tanganku. Aku terdiam mematung. Leny ternyata mencintai aku. Dan dia menyambut mesra rayuanku kemarin karena dia sudah mencintaiku aku sejak dulu. Leny bukan pelacur yang menyerahkan keperawanannya pada sembarang orang. Dia menyerahkannya padaku, cinta pertamanya. Aku merasa sangat bersalah. Aku seorang laki-laki hina yang merenggut keperawanan seorang gadis yang tak berdosa hanya demi nafsu dan dendamku. Aku segera mengambil tasku lalu pergi keluar. Aku berpapasan dengan Leny di ruang tamu, rupanya dia baru saja kembali.

“Kak Joe. Kakak mau kemana?”, tanya Leny. Aku terdiam didepan Leny. Kemudian aku berlutut didepan Leny.

“Ma..maafkan aku Len.”, kataku benar-benar menyesal.

“Eh, apa-apaan ini kak? Kok pakai berlutut segala sih?”, kata Leny sambil ikut berlutut juga. Aku hanya memandang wajah cantik itu.

“Maafkan aku Len”

“Nnng… ini.. ini soal kemarin yaa? Kak Joe nggak perlu minta maaf. Leny nggak nyesel kok. Leny sayang banget sama kakak.”, kata Leny sambil tangannya memegang wajahku.

“Aah… kamu nggak ngerti Len. Aku… aahhh……aku…..”, kataku sambil cepat cepat beranjak pergi. Aku tak sanggup menghadapi dosa yang kuperbuat terhadap Leny. Aku segera menaiki motorku. Leny berteriak-teriak memanggilku.

“Kak. Kakak mau kemana? Jangan Pergi kak.”, kata Leny sambil berusaha menyusulku. Tapi terlambat, motorku sudah kupacu beranjak pergi dari rumahku. Sayup-sayup masih kudengar suara Leny yang berteriak-teriak memanggilku.

“Kak Joe. Aku cinta kamu, Jangan tinggalin aku aah….”

* * * * * * * * ** * *

Aku termenung dalam kereta yang berjalan itu. Aku berhasil membalaskan dendamku, tapi kenapa hatiku terasa kosong. Bahkan sekarang aku merasa amat bersalah kepada Leny. Aku telah merusak masa depan gadis tak berdosa itu. Aku terus termenung dalam pikiranku sendiri diiringi suara laju kereta Argo Anggrek jurusan Surabaya-Jakarta yang kunaiki.

Maafkan aku Len.

To be continued

Karya: Joe

Copyright (c) Joe_Anchoexs

Sumber : Kisah BB | Joe Dirty Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: