h1

The Adventure of Joe 3: Reunion

March 16, 2009

Sapu tangan putihku sudah tak putih lagi warnanya. Warna merah darah yang mengotori saputangan itu berasal dari ujung kepalanku. Tapi itu sama sekali bukan darahku melainkan darah seorang pemuda yang kini tergeletak di depanku dengan hidung dan mulut yang berlumuran darah karena hantaman tinjuku.

“Aaammpungghh….Joe. Akhu janjhi akhan khembaliin uang ithu dhalam sathu mingghu.”, kata pemuda itu dengan suara agak bindeng karena hidungnya yang terluka karena kepalanku.

“Kali ini, gue beri loe kesempatan. Tapi loe inget, jangan pernah loe main-main dengan uang bang Jamal. Loe sudah terima barang dari bang Jamal dan loe harus ngebayar untuk itu. Hari ini loe benar-benar beruntung karena cuma gue yang turun tangan. Sekali lagi loe berani make uang setoran barang bang Jamal, bukan gue yang turun tangan, tapi si Item dan si Budiman yang disana. Loe tahu kan akibatnya kalo mereka yang turun tangan?”, ancamku pada pemuda itu sambil menunjuk dua lelaki tinggi besar yang berdiri di belakangku. Ronald, pemuda itu tampak ketakutan saat mendengar ancamanku dan melihat ke arah si Item dan si Budiman. Dia sudah tahu reputasi si Item dan si Budiman yang notabene adalah Hitman-nya bang Jamal. Mereka berdua tak segan untuk menghabisi nyawanya atas perintah bang Jamal.

“I..iya Joe. Ghue Jhanji.”, kata Ronald ketakutan. Ada sedikit rasa kasihan yang terselip di kepalaku saat aku melihat Ronald ketakutan. Tapi aku tak bisa mengubah kenyataan kalau aku harus tetap melakukan hal itu, karena aku hanya melaksanakan tugasku.

“Ayo kita cabut.”, ajakku pada si Item dan Budiman untuk meninggalkan jalanan sempit itu. Kedua raksasa yang bertampang sangar itu lalu mengikutiku berjalan menuju mobil yang kami parkir di ujung jalan sempit itu. Kami meninggalkan Ronald yang masih duduk tergeletak di pinggir jalan sambil memegangi wajahnya yang terluka.

Aku memasuki Honda Jazz punya bang Jamal yang biasa kami pakai jalan lalu duduk di kursi belakang. Budiman duduk di belakang kemudi dan si Item duduk di sebelahnya.

“Sekarang kita kemana Joe? Gimana kalau kita dugem dulu? Jeb…ajeb ajeb….ajeb ajeb…”, ajak si Item sambil. Orang ambon yang satu ini memang doyan banget dugem. Tiap kali kami keluar pasti dia yang ngajakin untuk melewatkan malam dengan hura-hura. Aku tersenyum melihat si Item yang menari sambilk duduk dengan iringan musik hip hop dari radio. Badannya yang besar tampak terlalu besar bagi mobil sekecil ini. Kulitnya yang hitam legam membuatku hanya bisa melihat siluetnya dan giginya saja dalam remangnya cahaya dalam mobil.

“Gue agak males sekarang. Loe bisa turunin gue di tempat makan di Kemang yang punya Ribs yang enak itu. Gue laper. Setelah itu kalian pergi saja sendiri, terserah mau kemana. Entar biar gue yang ngasih laporan ke bang Jamal lewat telpon.”, kataku.

“Oke boss. Nah, Bud. Kita pesta kemana hari ini?”, kata Joe pada Budiman.

“Terserah loe.”, jawab Budiman singkat. Budiman memang agak pendiam orangnya. Tapi kalian jangan sampai tertipu dengan sikap pendiamnya ataupun dengan namanya yang tertlihat sopan, Budiman. Memang Budiman walaupun juga bertampang sangar seperti si Item, tapi dia selalu kelihatan rapi. Rambutnya yang panjang diikat kebelakang dan penuh dengan minyak rambut sampai kelimis. Pakaiannya selalu tampak rapi dengan kemeja, bahkan kadang memakai jas. Wajahnya yang jelek karena codet di pipinya, selalu menyunggingkan senyum ramah, hingga kadang malah membuatnya menjadi simpatik. Tapi walaupun penampilannya selalu rapi dan tersenyum ramah dengan nama yang kedengaran sopan, Budiman, tapi sifatnya jauh dari orang yang berbudi. Dari semua anak buah bang Jamal, Budiman adalah orang yang paling sadis. Dia suka menyiksa lawannya sebelum membunuhnya dengan clurit, senjata andalannya.

Meskipun si Item dan Budiman merupakan penjahat-penjahat yang kejam, tapi bagiku mereka berdua adalah teman yang baik. Perpaduan sifat gokil si item dan sifat pendiam Budiman, membuat mereka menjadi pasangan yang unik menurutku. Rasa setia kawan mereka sangat besar. Walaupun mereka berdua sudah lebih lama menjadi anak buah bang Jamal daripada aku, tapi mereka berdua segan padaku. Mereka menghormatiku karena aku mendapat kepercayaan besar dari bang Jamal dan kata mereka, aku pantas mendapatkannya karena aku ini pintar dan pernah makan bangku kuliah (emangnya rayap he..he…he..).

Aku termenung sepanjang perjalanan. Sudah dua tahun lebih aku hijrah ke ibukota ini sejak aksi balas dendamku yang berbuah penyesalan (baca part 1 & 2). Awalnya aku berniat mencari kerja yang jujur dan mengubah gaya hidupku. Tapi ternyata kehidupan ibukota sangatlah keras. Hampir 3 bulan aku lontang-lantung tanpa mendapatkan pekerjaan sampai akhirnya uang simpananku yang kubawa dari Surabaya pun habis. Akhirnya aku pun terpaksa menghubungi temanku di Surabaya dan dia pun menyuruhku menemui bang Jamal.

Bang Jamal adalah salah satu gembong kejahatan yang lumayan terorganisir di wilayah Jakarta ini. Dengan rekomendasi dari temanku akupun diterima menjadi salah satu anak buah bang Jamal. Latar belakangku yang broken home membuatku menjadi orang yang tak kenal takut. Tapi dengan edukasi yang sempat kudapat dulu membuatku tidak menjadi orang yang nekat. Dengan berbekal keberanianku dan kecerdikanku yang selalu membuat rencana yang matang untuk aksi-aksiku, akhirnya aku mendapatkan kepercayaan bang Jamal. Dengan cepat aku mulai mendapat nama di dunia hitam ibukota ini. Bang Jamal mempercayakan aku untuk mengawasi beberapa rumah perjudian miliknya, tempat lokalisasi terselubung, dan juga jalur perdagangan obat terlarang yang ada di bawahnya. Hidupku pun membaik secara ekonomi sekarang. Aku bisa membeli sebuah rumah kecil sederhana di daerah Jakarta Timur. Tabunganku pun sudah lumayan.

Tapi akhir-akhir ini aku merasa gelisah. Akal sehatku dan instingku membisikkan kalo jalan hidupku ini semakin besar resikonya. Semakin lama aku berkecimpung di dunia ini membuat musuhku menjadi makin banyak. Semakin aku berpengaruh, resiko untuk menjadi target operasi pihak yang berwajib juga makin besar. Tapi untuk berhenti begitu saja dari dunia hitam ini adalah suatu hal yang tak kalah berbahayanya karena nyawakulah yang bakal jadi taruhannya.

“Hoi Joe. Udah nyampe nih.”, celoteh si Item yang menyadarkanku dari lamunanku. Aku pun segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

“Eh, Tem, jangan cari masalah ya. Bud, tolong awasin si Item.”, pesanku pada mereka. Budi hanya menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya sebagai tanda sepakat.

“Ah…loe kok nggak percaya sama gue sih Joe? Emangnya gue tukang cari masalah ya?”, rajuk si Item.

“Gue percaya sama loe yang sekarang, yang masih sadar. Tapi masalahnya, setiap dugem loe pasti banyak minum. Nah, loe yang udah kena minuman itu yang biasanya tukan bikin masalah.”, kataku.

“He..he..he.. bisa aja loe Joe. Ya udah, sampai besok ya.”, kata si Item sambil nyengir dan menyuruh Budiman untuk menjalankan mobil.

Setelah Si Item dan Budiman berlalu, aku pun memasuki cafe. Aku segera duduk di sebuah meja di pojokan lalu memesan seporsi Ribs yang aku inginkan. Salah satu pelayan mencatat pesananku lalu segera berlalu. Aku menyalakan sebatang dji sam soe dan menikmati racunnya sambil menunggu pesananku datang.

“Hei Joe! Mmm… kamu Joe kan? Dari Surabaya?”, sapa suara renyah seorang wanita. Aku menoleh ke asal suara itu dan aku pun terkejut. Seraut wajah cantik tersenyum padaku. Tapi aku yang biasanya selalu menyambut senyuman seorang wanita cantik dengan senang hati, kini begitu terperanjat saat mengenali raut wajah cantik itu. Wajah cantik itu pernah hadir dalam masa laluku. Meskipun cuma sebentar tapi aku tak akan pernah bisa melupakan pertemuan pertamaku dengan pemilik raut cantik itu.

Mata indah, hidung mancung yang menyiratkan darah campuran indo yang mengalir didarahnya, bibir sexy yang tersenyum menggoda, tubuh indah dengan lekuk yang sexy dibalut dengan gaun hitam berbelahan dada rendah hingga aku bisa menikmati sebagian bukit payudaranya yang putih mulus menggoda membuat pikiranku melayang ke peristiwa sekitar dua tahun lalu. Pemilik wajah itu adalah Wulan Guritno, artis layar lebar, layar kaca, serta presenter terkenal. Aku memang sempat mengenalnya, dan pertemuan kami cukup berkesan walaupun akhirnya harus berakhir dengan sedikit tidak mengenakkan karena seingatku aku memperkosanya saat terakhir kali kita bertemu. Yaa… aku pernah memperkosa Wulan Guritno. Walaupun pada akhirnya janda muda yang cantik itu juga menikmatinya tapi saat kita berpisah, Wulan menghadiahiku sebuah tamparan keras di pipiku.

Aku terdiam dan hanya menatap Wulan dengan agak salah tingkah. Aku kuatir kalo Wulan sampai mempermasalahkan peristiwa dua tahun yang lalu itu. Tapi kekuatiranku itu segera terusir karena aku teringat rekaman peristiwa dua tahun lalu yang masih kusimpan dan dapat kupakai sebagai senjata untuk mengancam Wulan Guritno agar tidak berbuat ulah.

“Aduh Joe. Kamu santai aja dong. Aku nggak akan ngungkit-ngungkit kejadian waktu itu kok.”, kata Wulan sambil tersenyum menggodaku.

“Nggak! Gue nggak takut kok. Lagian gue masih inget kok gimana kamu malah menikmati apa yang kuperbuat dulu.”, balasku. Wulan memukul pundakku dan agak bersungut-sungut merajuk.

“Dasar orang gila. Btw kamu kok bisa ada di Jakarta sih?”, kata Wulan sambil duduk di kursi yang berhadapan denganku.

“Hhmm… itu kuceritain nanti saja. Sekarang kamu mau pesan apa?”, kataku pada Wulan karena saat itu seorang pelayan sudah mendekati meja yang kami tempati. Wulan segera memesan menu yang ternyata sama denganku. Kelihatannya dia juga suka dengan ribs spesial cafe ini.

Setelah pelayan itu berlalu, aku dan Wulan pun kembali bercakap-cakap. Ternyata artis cantik itu baru saja selesai syuting dan mampir kesini untuk makan. Kami mengobrol dengan asyiknya sambil menikmati makanan yang sudah mulai dihidangkan di meja. Awalnya aku sedikit kikuk mengingat apa yang pernah kuperbuat pada Wulan dulu. Tapi sikap ramah Wulan bisa mencairkan kekikukanku. Ternyata Wulan Guritno orangnya asyik juga. Walaupun dia selebritis yang terkenal tapi ternyata bisa akrab denganku yang orang biasa ini. Aku bercerita padanya kalau aku pergi dari surabaya dan hijrah kesini tak lama setelah pertemuan kita dulu. Aku hanya menceritakan kalau aku kabur dari rumah karena ada masalah keluarga tanpa menjelaskan lebih banyak lagi. Wulan bisa menerima hal itu dan tak mendesakku untuk bercerita lebih banyak lagi tentang “masalah keluarga” itu. Aku bertanya pada Wulan tentang apa kegiatannya akhir-akhir ini dan dia bercerita padaku tentang liku-liku dunia artis.

Kami masih terus mengobrol setelah kami selesai makan. Dan tiba-tiba sebersit ide melintas dibenakku.

“Mmm… Wul. Aku bisa minta tolong nggak?”, tanyaku.

“Minta tolong apa? Kalo aku bisa bantu, aku pasti bantu.”, kata Wulan.

“Nnnngg… aku kayaknya agak tertarik dengan dunia perfilman dan sekarang aku sedang nggak ada kerjaan. Kamu bisa tolong untuk cariin pekerjaan buat aku di PH yang kamu kenal? Kerja apa aja deh, tenaga kasar juga nggak apa-apa.”, pintaku pada artis cantik itu. Wulan Guritno terdiam sejenak memikirkan permintaanku. Tak lama kemudian dia tersenyum sambil mengangguk.

“Mmm… mungkin bisa kuusahain. Tapi aku juga permintaan buat kamu.”, jawab Wulan.

“Aku akan lakuin apa aja supaya dapet kerjaan itu.”, kataku cepat. Wulan menatapku dengan senyuman yang agak aneh. Wajahnya merona merah. Tampaknya dia agak ragu untuk menyampaikan permintaannya.

“Aku akan usahaain kamu agar kamu dapat kerja di PH salah satu kenalanku, tapi kamu mm….kamu…”, Wulan terlihat ragu.

“Apa yang harus kulakukan?”, potongku.

“Kamu…kamu harus melakukan hal yang pernah kamu lakuin sama aku dua tahun lalu itu lagi.”, kata Wulan. Aku kaget sekali mendengar permintaan Wulan sampai aku tersedak asap rokok yang kuhisap. Aku segera minum sambil menenangkan hatiku yang kaget.

Aku jadi sangat bingung dengan perkataan Wulan. Apa aku nggak salah denger? Wulan Guritno memintaku untuk memperkosanya sekali lagi. Aku sempat terdiam setengah bengong. Wulan rupanya menangkap raut bingung yang terpancar di wajahku. Dia mengulangi permintaannya sekali lagi hingga aku pun yakin kalo aku nggak salah denger. Wulan bercerita kalo dia sangat menikmati perkosaan dua tahun lalu itu. Wulan sendiri tak tahu kenapa tapi yang pasti, rasa tak berdaya, hinaan, seks dalam paksaan, dan permainan yang kasar dan liar itu malah membangkitkan gairah yang luar biasa dalam dirinya. Janda beranak satu itu mengaku kalau dia tak pernah mendapatkan kenikmatan seks sedashyat saat aku memperkosanya, apalagi saat aku memperkosanya dengan temanku. Tampaknya Wulan Guritno adalah seorang wanita yang agak submissive. Dia ingin dibawah dominasi pria saat mereka bercinta.

“Ka..kamu nggak bercanda kan?”, tanyaku.

“Aku serius Joe. Kamu mau kan?”, tanya Wulan.

“Dengan senang hati he..he…he…. Mana ada laki-laki yang menolak permintaan seperti itu.”, jawabku sambil tertawa. Wulan pun ikut tertawa.

“Mmm…Joe. Kalo bisa kamu…mm…kamu bawa temen ya. Yang anunya juga gede kayak kamu.”, kata Wulan sambil tersipu malu.

“Kalo masalah itu sih bisa diatur. Kapan kamu mau ngelakuinnya?”, tanyaku.

“Sabtu depan Shalom nginap di rumah neneknya, Addila juga sedang ke luar negeri. Gimana kalo sabtu malam?”

“Bisa. Terus gimana soal kerjaan buat aku?”

“Besok siang kamu temuin aku di alamat ini. Nanti langsung aku kenalkan sama temen aku yang punya PH.”, kata Wulan sambil menyerahkan sebuah kartu nama padaku.

“Terima kasih Wul.”, kataku sambil menyimpan kartu nama itu.

“Hmm… Joe. Sabtu nanti, kamu harus berpura-pura nggak kenal aku. Aku pengen kita sedikit main play role. Aku juga nanti akan melawan tapi kamu harus tetep perkosa aku, oke?”

“Beres. Dasar maniak he..he..he..”

“Loe tuh yang bikin aku kayak gitu.”, kata Wulan.

Kami pun berbincang-bincang sejenak sebelum akhirnya kami berpisah. Wulan harus buru-buru pulang, dia tak ingin anak perempuannya, Shalom di rumah sendirian. Aku pun pulang setelah mengikuti lenggok pantat sexy Wulan dari belakang saat dia berjalan ke arah mobilnya.

* * * * * * * ** * * * * * * * * * *

Keesokan harinya, aku langsung pergi menuju rumah bang Jamal untuk melaksanakan ide yang melintas dikepalaku saat bertemu Wulan Guritno kemarin. Aku berencana untuk minta ijin bang Jamal agar aku bisa lepas dari tugasku. Aku akan mengatakan kalau aku akan bekerja di sebuah PH yang berkecimpung di dunia perfilman. Aku akan bekerja disana dan berusaha mencari koneksi sebanyak-banyaknya di kalangan selebritis Indonesia. Aku berencana mengembangkan jaringan lalu lintas narkoba di sana. Para selebritis itu pasien kelas kakap. Aku berencana nantinya hanya akan mencari kenalan-kenalan para artis, mengkoneksikan mereka dengan link jaringan narkoba bang Jamal. Aku berencana hanya bekerja di balik layar, tanpa melakukan transaksi. Walaupun aku masih berkecimpung di dunia yang bejat ini, paling nggak aku nantinya tidak akan berada di garis depan lagi. Dengan rencanaku ini aku berharap resiko yang kuambil akan jadi lebih kecil daripada sekarang.

Sesampai di rumah bang Jamal, rumah besar yang terletak di salah satu daerah pinggiran Jakarta, aku melihat si Item dan Budiman ternyata sudah sampai disana. Mereka sedang duduk di teras rumah. Aku memarkir mobilku di halaman rumah bang Jamal yang luas, lalu segera menghampiri kedua temanku yang berbadan besar itu.

“Hi, Joe. Tumben pagi-pagi udah nyampe sini.”, kata si Item yang duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi yang ada di meja teras itu. Budiman duduk di kursi yang lain sambil membaca koran pagi.

“Ada urusan sama bang Jamal. Dimana si Boss?”, kataku sambil mengambil kopi si Item lalu meminumnya.

“Sialan loe, bikin sendiri sana. Bang Jamal ada di dalam tuh, lagi asyik sama mainan barunya.”, kata Si Item sambil agak manyun karena kopinya kuminum.

“Mainan baru?”, kataku agak bingung.

“Kemaren si Boss baru dapet cewek baru. Masih perawan, cantik lagi. Ya nggak Bud?”, celoteh si Item. Budiman hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.

“Oh, gitu. Dapet darimana?”

“Loe inget si Kadir, pelanggan rumah judi yang ada di *******. Sebulan lalu dia punya utang ke kita, dan dia nggak sanggup bayar sampai kemaren. Nah, waktu mau kita sikat, dia minta ampun sambil nawarin perjanjian dengan bang Jamal. Ternyata si Kadir ini punya anak perempuan yang cakep dan dia mau nyerahin anaknya itu ke bang Jamal sebagai ganti utangnya. Dan si Boss tampaknya seneng banget, dia nggak bosen-bosennya ngentotin cewek itu dari kemaren sampe sekarang.”, cerocos si Item.

“Jadi sekarang si Boss lagi……. Wah urusan gue gimana dong?”, kataku bingung.

“Loe masuk aja sana. Si Boss nggak bakalan ngerasa keganggu kok.”, kata si Item.

Aku menuruti saran si Item lalu masuk kedalanm rumah bang Jamal. Ruang tamu terlihat sepi. Aku segera menuju ke lantai atas tempat kamar bang Jamal. Kalo bang Jamal sedang asyik main cewek, dia pasti disana sekarang. Sesampai di atas, aku mulai mendengar suara dengusan bang Jamal dan derit kasur berpadu menjadi melodi yang dapat membuat seseorang berimajinasi dengan liar. Aku melangkah mendekati pintu kamar bang Jamal yang sedikit terbuka. Suara yang kudengar makin keras. Perlahan kubuka pintu kamar itu, dan terlihatlah pemandangan yang erotis. Aku bisa melihat bang Jamal sedang menindih tubuh seorang wanita. Dari pintu kamar, hanya terlihat pantat hitam milik bang Jamal yang bergerak naik turun memborbardir tubuh wanita di bawahnya. Aku hanya bisa melihat sepasang kaki jenjang si wanita yang berkulit putih mulus. Tapi dengan hanya melihat sepasang kaki jenjang yang indah itu, aku berani bertaruh kalau mainan baru bang Jamal pasti cantik.

“Bang. Bang Jamal.”, panggilku agak ragu-ragu. Lelaki yang asyik menggenjot sang wanita itu segera menoleh setelah mendengar panggilanku. Tampang sangar bang Jamal yang penuh brewok yang mulai berwarna dua disana-sini itu tampak memperhatikanku, lalu tersenyum.

“Ahh…kamu Joe. Masuk Joe. Loe tunggu bentar di situ. Bentar lagi, gue selesai kok aagh…”, kata bang Jamal sambil menunjuk kursi yang ada si samping ranjang.

Aku melangkah memasuki kamar itu. Dengan perlahan aku bergerak menuju kursi yang ditunjuk bang Jamal, lalu duduk disitu. Kini aku bisa melihat sosok wanita yang sedang dientot bang Jamal. Sosok itu merupakan sosok gadis remaja dengan tubuh yang indah. Kulit putih mulus yang terlihat lembut, tubuh langsing dan berlekuk nyaris sempurna, payudara yang baru mekar hingga hanya tampak seperti gundukan kecil dihiasi putting segar yang berwarna merah muda tampak imut. Aku belum bisa menatap wajahnya karena gadis itu menoleh ke arah lain. Aku hanya bisa melihat rambutnya yang hitam lurus dengan panjang sedikit di bawah bahunya.

Aku bisa merasakan Joe jr. mulai berontak di balik celanaku. Kulit bang Jamal yang hitam legam terlihat begitu kontras dengan kulit sang gadis yang putih mulus, namun kekontrasan itu ternyata begitu erotis. Bang Jamal terlihat begitu liar menyetubuhi gadis itu sampai tubuh si gadis itu tersentak-sentak. Aku bisa mendengarkan erangan si gadis yang sesekali ikut berpadu dengan dengusan bang Jamal. Sepengetahuanku, bang Jamal adalah tipe laki-laki yang tak pernah peduli dengan kenikmatan patner bercintanya. Dia hanya memperdulikan kenikmatan yang diperolehnya. Dan mengingat gadis itu baru saja kemaren diperawani bang Jamal, aku yakin sekarang si gadis pasti merasa agak kesakitan dengan bombardir kontol bang Jamal di memeknya.

“Uughh…sstt….enaakk…. Joe, nih cewek enak banget. Memeknya sempit dan jepitannya luar biasa.”. Celoteh bang Jamal di sela-sela dengusannya sambil terus menggenjot gadis itu.

“Ah.. kalo abang sih, semuanya pasti enak asal berlobang he..he..he…”, godaku.

“Brengsek loe. Aahh… tta..tapi yang ini laen Joe. Wajahnya juga oke punya. Nih lihat, cantik khan?”, kata bang Jamal sambil memaksa gadis itu agar menoleh melihatku.

Aku tersentak melihat wajah gadis itu. Kata-kata bang Jamal tak salah, gadis itu memang cantik. Matanya memiliki bentuk yang indah dengan sorot mata bagaikan elang, hidungnya mancung, bibir tipis tapi berbentuk indah, lesung pipit di kedua pipinya terlihat samar saat dia menggigit bibir atasnya menahan sakit.

Aku bagaikan mengalami dejavu. Kelebatan memori di kepalaku terpicu kembali. Tiba-tiba saja wajah Leny, adikku, menggantikan wajah gadis yang ditindih bang Jamal itu. Aku bagaikan melihat sosok Leny yang sekarang ada disana.

Kugelengkan kepalaku, mengusir segala imajinasi yang bagaikan mimpi buruk itu. Aku tak mengerti kenapa gadis itu begitu mengingatkanku pada Leny. Mereka berdua sama-sama cantik, tapi kecantikan mereka berbeda. Bahkan wajah mereka tidak bisa di bilang mirip. Tapi entah kenapa saat melihat gadis itu aku teringat pada Leny dan dosa bsar yang kulakukan kepadanya. Hatiku terasa sakit. Rasa simpati yang hinggap di hatiku bahkan sanggup mengusir gairah yang tadi sempat bangkit.

Aku tak sanggup menatap pandangan mata tajam gadis malang itu. Sorot mata yang masih terlihat menantang walaupun wajahnya menyeringai kesakitan. Aku buru-buru bangkit dan melangkah keluar dari kamar itu. Aku berkata pada bang Jamal kalo aku menunggu dia di luar saja.

Aku duduk menunggu bang Jamal di sofa yang ada di ruan santai lantai atas itu. Hatiku gelisah, kenangan masa lalu menghantuiku. Aku memasang hand free hp-ku dan menyalakan mp3 keras-keras agar suara percumbuan dalam kamar itu tak terdengar olehku. Mataku kupejamkan mencoba melupakan semuanya, tapi ingatan tentang Leny, adik tiriku, dan rasa bersalah itu terus menyesak didadaku.

Aku membuka mataku saat kurasakan ada tangan yang mengguncang bahuku. Kulihat wajah bang Jamal. Aku segera melepaskan handset dari telingaku. Tampaknya bang Jamal sudah selesai melampiaskan nafsunya ke gadis malang itu. Dia hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada. Tubuhnya yang penuh tato dan bekas luka bacokan itu penuh dengan keringat karena panasnya pergumulan tadi.

“Habis begadang Joe? Sampe ketiduran di kursi.”, kata bang Jamal yang menyangkaku sedang tidur tadi. Tapi aku tak sempat menjawab pertanyaannya. Perhatianku tertuju pada sosok cantik yang berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar. Gadis cantik itu terlihat meringis menahan sakit dan berjalan perlahan menuju ke kamar mandi yang letaknya di sudut ruangan santai ini.

“He..he…he…tertarik Joe? Gimana cantik kan?”, kata bang Jamal yang melihatku memperhatikan gadis itu.

“Nnngg…ii…iya bang.”, kataku agak salah tingkah.

“Namanya Indah, anaknya si Kadir, pemogoran yang biasa ngutang di tempat judi kita. Dia nyerahin anak gadisnya sendiri buat ngebayar utang. Gue sih oke-oke saja setelah melihat anaknya itu cantik banget. Baru 16 tahun, masih perawan lagi he..he…he…”, jelas bang Jamal.

“Bajingan benar tuh orang.”, makiku dalam hati. Tiba-tiba sekelebat pikiran melintas di kepalaku.

“Hhmm…bang. Nnngg… kalo boleh, aku pingin bawa cewek itu bang mmm…. maksudku kalo abang sudah selesai sama dia.”, tanyaku hati-hati.

“Kayaknya loe bener-bener pengen ngerasain si Indah juga Joe. Tumben Joe. Setahu gue, loe nggak pernah minta yang berginian, soalnya dengan tampang loe, biasanya loe nggak kesulitan buat cari cewek-cewek yang nggak kalah cantiknya.”, kata bang Jamal. Aku cuma tersenyum mendengar komentar bang Jamal.

“Gue sih udah puas nyobainnya, tapi gue udah janji ngasih cewek itu buat si Item dan Budiman.”, kata bang Jamal lagi. Aku agak kaget mendengar kata bang Jamal. Entah kenapa aku tak rela melihat cewek itu menjadi bahan permainan si Item dan Budiman.

“Nnngg….. kalo masalah si Item dan Budiman, biar nanti aku sendiri yang ngomong sama mereka.”, kataku.

“Oooh…kalo gitu terserah loe deh. Tapi inget, gue nggak mau kalo anak buah gue ribut sendiri cuman gara-gara masalah cewek, ngerti!”, kata bang Jamal.

“Be..beres bang. Aku jamin nggak bakalan ada masalah bang.”, kataku.

“Trus ada masalah apa yang perlu kamu omongin sama aku Joe?”, tanya bang Jamal.

“Oh, iya. Gini bang, aku……….bla..bla..bla…”, kataku menjelaskan rencanaku pada bang Jamal.

Bang Jamal mendengarkanku membeberkan rencanaku untuk mengembangkan jaringan narkobanya ke kalangan selebritis. Aku juga minta ijin untuk tak lagi mengerjakan tugas-tugasku yang dulu sambil merekomendasikan seorang anak buahku yang kuanggap mampu menggantikan tugasku. Aku menjelaskan kalo aku nantinya bergerak di belakang layar demi keamanan jaringan narkoba kita.

Bang Jamal tampak diam dan berpikir sejenak, sambil menghisap rokoknya. Aku pun juga ikut menyalakan sebatang rokok dan menunggu dengan dada agak berdebar-debar menanti keputusan bang Jamal.

“Mmm… gue suka sama ide loe Joe. Para artis dan borjuis itu memang ikan kakap dan kita bakal untung besar kalo bisa menggaet mereka. Tapi gue pengen tanya satu hal Joe. Apa loe mau keluar dari organisasi kita Joe?”, tanya bang Jamal. Aku begitu kaget mendengar perkataan bang Jamal. Bang Jamal memang bukan orang bodoh karena dia orang yang sanggup memimpin para kriminal sampai jadi kelompok yang lumayan terorganisir. Bahkan aku percaya kalo kemampuan kepemimpinan bang Jamal bahkan nggak akan kalah dari manajer-manajer top perusahaan di Indonesia.

“Mmm…terus terang, akhir-akhir ini memang aku agak gelisah bang. Aku memikirkan masa depanku, apa aku harus hidup seperti sekarang terus? Aku tahu aku sudah banyak hutang budi sama abang maupun organisasi kita bang. Aku nggak mungkin keluar begitu saja. Aku juga nggak akan pernah mengkhianati abang dan organisasi kita. Karena itulah aku memikirkan solusi seperti ini bang.”, kataku. Bang Jamal hanya menatapku, sambil masih tetap diam. Aku memang nggak bisa menebak pikirannya, tapi aku tak melihat sorot kemarahan dari mata bang Jamal.

“Dari dulu aku memang tertarik dengan dunia cinematografi. Kesempatan yang ditawarkan temanku itu membuat keinginanku yang dulu terpendam jadi bangkit lagi. Aku nggak akan berhenti sepenuhnya bang. Hanya saja aku nggak akan aktif secara terang-terangan lagi. Aku akan membangun koneksi dan jaringan buat bisnis abang. Dan setiap saat abang perlu bantuanku, aku akan selalu siap bang.”, kataku.

Bang Jamal berpikir sejenak. Kemudian dia menarik nafas panjang dan tersenyum.

“Kalo bukan kamu yang ngomong seperti ini Joe, aku pasti akan marah besar. Tapi dari dulu aku selalu merasa kalau kamu punya potensi yang lebih baik dan kadang aku merasa sayang kalo pemuda seperti kamu harus ikut bergelimang lumpur seperti kita. Mmm… gue akan kasih ijin buat loe Joe. Apalagi rencana yang loe tawarkan itu menjanjikan keuntungan yang besar.”, kata bang Jamal.

“Terima kasih bang. Aku janji nggak akan kecewain abang.”, kataku lega.

“Kalo gitu sekarang kita mesti minum dulu untuk ngerayain rencana baru loe Joe.”, kata bang Jamal sambil mengambil dua gelas kosong dan sebotol Jack Daniels dari lemari kaca yang ada di pojokan. Bang Jamal mengisi dua gelas itu penuh dengan air kenikmatan itu. Aku menerima segelas Jack daniels itu, dan kami pun bersulang. Kami minum sambil tertawa dan ngobrol ringan.

“Hei, Indah. Sekarang kamu beresin barang-barang kamu. Kamu akan ikut sama si Joe ini. Dia ini anak buah kesayangan gue dan dia ingin kamu ikut dengan dia. Puasin dia ya he..he..he….”, kata bang Jamal sambil menoleh ke arah kiriku. Aku ikut menoleh, dan aku melihat Indah yang berdiri di pintu kamar mandi. Gadis itu terlihat makin cantik dan segar setelah mandi. Jubah mandi yang dipakainya tak bisa menyembunyikan lekuk sempurna tubuh belianya. Rambutnya masih agak basah membuat dia makin kelihatan sexy dengan wajah cantiknya yang terlihat segar, tak lusuh dan kusut seperti tadi. Matanya menatap tajam kearahku. Aku bisa menangkap rasa tak suka di matanya. Aku maklum karena gadis remaja itu pasti menganggap aku juga termasuk bajingan-bajingan yang hanya ingin menikmati tubuhnya. Gadis itu hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar bang Jamal.

“Ya, sudah bang. Kalo gitu aku ke bawah dulu bang. Mau ngejelasin masalah janji abang soal Indah ke Item dan Budiman. Nanti aku juga langsung cabut kalo Indah sudah siap, soalnya nanti siang aku harus ketemu sama temen aku yang ngejanjiin pekerjaan itu bang.”, kataku.

“Oke, Joe. Tapi inget Joe, loe mesti sering-sering main kesini walaupun nanti loe nggak aktif dan sibuk dengan pekerjaan baru kamu.”, kata bang Jamal.

“Pasti Bang. Lagian nanti aku juga mesti ngasih laporan ke abang kalo aku sudah bisa ngebangun koneksi dan jaringan disana. Dan aku juga sudah menganggap abang seperti abang kandungku sendiri, pasti aku akan nyempetin waktu kesini Bang.”, kataku. Bang Jamal berdiri dan memelukku dengan hangat. Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi dan langsung turun menemui Item dan Budiman di teras.

Waktu aku ngejelasin rencanaku pada Item dan Budiman, mereka berdua juga bereaksi sama dengan Budiman. Mereka hanya berpesan agar aku jangan lupa sama mereka. Saat aku nerangin masalah Indah, si Item agak keberatan pada mulanya. Tapi saat aku menjanjikan kalo aku akan memberikan ganti yang lebih oke dari Indah akhir pekan depan, si Item pun setuju. Budiman juga. Aku tak menyinggung soal Wulan Guritno, walaupun Item bertanya terus cewek mana yang aku janjikan padanya. Aku hanya ngomong kalau aku jamin merekan nggak akan kecewa.

Tak lama kemudian Indah keluar. Gadis itu hanya mengenakan kaus dan rok sederhana, tapi dia masih terlihat sangat cantik. Dia membawa tas ransel yang mungkin berisi pakaiannya. Aku segera mengajak Indah untuk naik ke mobilku, lalu kami pun meninggalkan rumah bang Jamal.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Nah, aku tinggal disini. Kamu santai aja dulu, anggap aja rumah kamu sendiri.”, kataku mencoba beramah tamah dengan Indah setelah kami berdua masuk dalam rumahku. Indah tak menjawab. Bahkan ekspresi mukanya tetap tak berubah. Tetap dingin dan kaku. Aku merasa kasihan pada gadis itu. Nasib buruk yang dialaminya membuat gadis remaja itu seperti kehilangan seluruh gairah kehidupannya. Tapi aku tak bisa berlama-lama memikirkan Indah karena aku harus pergi untuk menemui Wulan Guritno yang menjanjikan pekerjaan untukku.

Aku pun meninggalkan Indah di ruangan tengah, tempat aku biasa bersantai dan menonton Tivi. Aku masuk ke kamarku sendiri, mengganti pakaianku dengan pakaian yang rapi, serta menyiapkan berkas-berkas yang harus kubawa untuk melamar pekerjaan.

Beberapa menit kemudian, aku pun siap. Dengan kemeja putih, celana hitam, setelan jas hitam dengan model yang tak terlalu formal tapi tampak rapi, serta sepatu kulit, aku tampak seperti seorang eksekutif muda daripada seorang preman. Aku pun membawa tasku yang berisi berkas-berkas yang kubutuhkan dan melangkah keluar kamar.

“Shit!! What the ……”, umpatku otomatis saat aku melihat pemandangan yang menantiku di luar kamar. Aku begitu terkejut karena saat ini aku sedang menatap tubuh indah yang nyaris sempurna milik seorang gadis remaja cantik yang sedang berdiri telanjang di ruang tengah rumahku. Gadis itu adalah Indah. Entah kenapa dan mulai kapan, Indah sudah melucuti semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Wajahnya yang cantik menatapku dengan pandangan yang dingin menusuk dan bibirnya menyunggingkan senyum sinis.

“Apa yang kamu lakukan?”, kataku dingin. Aku sendiri tak tahu kenapa, aku sama sekali tak bergairah melihat pemandangan eksotis didepanku. Aku malah merasa marah kepada Indah.

“Ini kan yang kamu mau? Inilah alasan sebenarnya kamu memintaku dari Jamal, bajingan itu. Kamu sama seperti yang lainnya. Hanya ingin memuaskan nafsu binatang kalian.”, kata Indah. Wajahnya masih terlihat dingin. Senyum sinis masih tersungging di bibir manisnya itu. Matanya menatpku dengan pandangan benci.

Aku hanya bisa diam mendengar kata-kata Indah. Perlahan aku mulai berjalan mendekati gadis remaja yang cantik itu. Saat aku sudah sampai dihadapannya, tanganku dengan cepat segera terjulur ke belakang kepalanya, sedikit diatas lehernya. Aku mencengkeram dengan kuat walaupun tidak sampai mencekiknya. Indah begitu terkejut dengan perlakuan kasarku. Matanya mulai menyorotkan sinar ketakutan.

“Apa kamu begitu tak tahu malu? Apa kamu sama sekali nggak punya harga diri ha?!”, bentakku. Cacianku tampaknya berhasil memancing emosi gadis itu. Mata Indah terlihat mulai sedikit berkaca-kaca.

“Denger ya! Aku sama sekali nggak butuh bantuan maupun paksaan untuk mendapatkan cewek cantik yang aku mau, Ngerti!! Dan jangan sekali-kali kamu bertingkah seperti pelacur di depanku karena aku sama sekali tak tertarik dengan seorang pelacur.”, caciku lagi karena amarah yang masih membuncah di dadaku. Airmata mulai menetes di pipi Indah. Kekerasan hatinya sekarang sudah tak terlihat lagi. Kini aku melihat sosok seorang gadis cantik yang nasibnya begitu malang dan penuh penderitaan. Amarahku pun hilang seperti tersapu angin. Aku sekarang merasa simpati pada Indah. Aku menyesal telah mencacinya dengan segala umpatan yang begitu keras.

Perlahan aku melepaskan cengkramanku. Aku mengelus rambutnya yang terasa begitu lembut di telapak tanganku.

“Mmm…maafin aku. A..aku sama sekali nggak bermaksud untuk menyakiti kamu. Tadi itu aku hanya…hanya…ahhh…”, kataku dengan rasa penyesalan. Indah masih menangis.

“Please, jangan menangis lagi. Aku sama sekali nggak punya maksud jahat sama kamu. Tadi aku meminta kamu dari bang Jamal cuma agar aku bisa membawa kamu kembali ke rumahmu. Beneran, aku nggak bohong.”, kataku. Indah mengangkat wajahnya dan memandangku dengan tatapan tak percaya.

“Aku nggak bohong. Saat ini memang aku sedang ada urusan dan harus pergi. Tapi aku janji, setelah aku pulang, aku akan mengatar kamu kembali kerumah kamu. Oke?”, kataku. Aku menatap Indah dengan simpati dan rasa sayang yang entah muncul darimana. Hanya saja sosok Indah begitu mengingatkanku pada Leny, adik tiriku. Dan ini mungkin seperti satu cara yang kuanggap dapat menebus atau setidaknya meringankan rasa penyesalanku atas perbuatanku pada Leny.

Indah perlahan duduk di sofa yang ada dibelakangnya. Tangannya menutupi wajahnya dan dia menangis di sofa itu.

Aku mengambil sehelai selimut dari kamarku, kemudian aku kembali pada Indah. Aku menyelimuti tubuh indahnya yang telanjang dengan selimut itu.

“Aku harus pergi sekarang. Kamu istirahat saja dulu disini. Kalo kamu lapar, ada makanan di atas meja makan. Anggap saja ini rumah kamu sendiri. Nanti setelah aku pulang, aku janji akan mengantar kamu kembali ke rumahmu. Dan nanti masalah ayah kamu yang bejat itu biar aku yang urus. Aku pergi dulu.”, kataku lalu aku pun meninggalkan gadis malang itu.

* * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * *

Saat aku tiba di alamat yang ada di kartu nama yang diberikan Wulan Guritno padaku, ternyata Wulan sudah menungguku disana. Aku segera dikenalkan Wulan pada temannya yang memilik PH itu. Namanya Gulam Singh (bukan nama sebenarnya) seorang pria setengah baya yang berdarah India. Awalnya pak Gulam mengatakan kalo PH-nya sedang tidak membutuhkan karyawan baru, tapi setelah Wulan membujuk dan merayunya, akhirnya Pria India itu pun bersedia memberiku pekerjaan. Tapi posisiku tidak tetap dan aku ditugaskan untuk membantu apapun di tempat yang membutuhkan. Aku mengatakan kalo aku tak keberatan, asalkan aku diberi kesempatan untuk belajar mengenai sinematografi disini. Pak Gulam sama sekali tak keberatan dengan permintaanku, dia menyuruhku untuk belajar dari karyawan lain selama tak mengganggu pekerjaanku dan pekerjaan karyawan itu. Dia mengatakan kalo aku bisa mulai kerja besok.

Setelah selesai, aku segera pamit pulang. Bahkan aku menolak ajakan Wulan untuk merayakan keberhasilanku mendapatkan pekerjaan baru. Aku mengatakan aku ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan. Wulan tak keberatan, hanya dia memintaku untuk melaksanakan bagian dari perjanjianku akhir pekan depan. Aku mengatakan kalo aku akan menepatinya, bahkan aku punya kejutan buat dia. Setelah itu aku pun pulang meninggalkan Wulan Guritno yang penasaran dengan janji kejutanku.

* * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * *

Aku menghentikan mobilku di depan gang sempit sebuah perkampungan kumuh. Aku segera mengajak Indah turun dari mobil, dan memintanya untuk menunjukkan rumahnya padaku. Gadis cantik itu pun segera mengajakku berjalan menyusuri gang-gang sempit itu.

“Kenapa Indah? Yang mana rumahmu?”, aku bertanya pada Indah yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Gadis itu tampak agak ketakutan sambil melihat ke arah segerombolan orang yang sedang nongkrong di salah satu bale di depan sebuah rumah sederhana.

“Mmm… yang….yang itu.”, kata Indah lirih sambil menunjuk rumah yang dipakai nongkrong beberapa laki-laki itu.

“Apa kamu takut Indah? Takut sama siapa? Bapak kamu?”, tanyaku. Indah hanya mengangguk.

“Jangan takut. Disini ada aku. Biar bapak kamu, aku yang urusin.”, kataku. Aku pun menggandeng tangan Indah dan mengajaknya menuju rumahnya. Setelah sampai di depan rumahnya, aku melihat banyak laki-laki yang sedang asyik main kartu dengan taruhan uang di depan rumahnya. Aku mengenali si Kadir, bapak Indah, juga ikut berjudi. Aku pernah ketemu dia, walaupun sudah agak lama.

“Hoi, Dir. Itu kan anak loe. Darimana dia? Beberapa hari ini nggak ada di rumah kan. Dan sama siapa itu?”, celetuk seorang laki-laki brewok yang melihat kedatanganku dan Indah.

“Indah. Kamu sudah pul…Aaaaugghhh!!!!”, kata-kata Kadir yang berjalan menghampiri aku dan Indah terputus oleh teriakannya karena kepalanku langsung menghajar wajahnya. Aku langsung melancarkan beberapa tinju yang dengan telak menghajar wajah Kadir dengan telak. Kadir mencoba melakukan perlawanan, tapi rupanya pengalamanku bertarung di jalanan sangat berguna di saat seperti ini. Apalgi memang badanku jelas lebih besar dari pada Kadir, bapak Indah, yang bertubuh kurus ceking itu.

“Hoi!! Apa-apaan ini? Kenapa kamu….”, si Brewok dan beberapa orang lain yang melihat perkelahian sepihak itu ingin maju untuk membantu Kadir. Tapi mereka terdiam dan tak melanjutkan niatnya, saat dengan cepat aku mengeluarkan sepucuk pistol rakitan yang kubawa lalu menodongkan pada mereka semua.

“Diam semua!!! Jangan ada yang ikut campur masalah ini kalo tak ingin ada timah panas yang bersarang di tubuh kalian.”, bentakku keras sambil mengancam. Mereka jadi keder melihat pistol di tanganku. Apalagi ada seorang dari mereka yang mengenalku sebagai anak buah bang Jamal dan secara berbisik dan berantai berita itu pun tersebar diantara mereka.

Aku menghampiri Kadir yang terjatuh karena seranganku.Laki-laki setengah baya yang bertubuh kurus itu tampak begitu ketakutan. Wajahnya yang jelek jadi bertambah jelek karena memar, lebam dan darah yang kini menghiasi beberapa tempat diwajahnya. Kalo saja aku sekarang tak sedang dilanda emosi, mungkin aku akan keheranan bagaimana seorang dengan tampang seperti Kadir bisa mempunyai anak secantik Indah. Aku mencengkeram kerah bajunya dan mengangkat tubuh kurus itu dan menghimpitnya ke batang pohon mangga yang ada di depan rumah Indah.

“Aammphunng…Joe. Khenafa khamu fukhul akhu?”, tanya Kadir sambil merengek ketakutan dengan suara yang agak bindeng karena hidungnya berdarah terhajar kepalanku.

“Loe tahu pasti kenapa aku menghajar bapak yang bejat seperti kamu! Bapak macam apa kamu ha?!!! Sekali lagi loe berbuat macam-macam dengan Indah, loe akan berurusan dengan gue. Dan gue nggak akan ngampunin nyawa bejat kamu, Ngerti??!!”, ancamku. Kadir hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil ketakutan.

Orang-orang yang menonton kejadian ini hanya bisa berguman tak jelas. Mereka tak mengerti kenapa aku menghajar Kadir. Tapi tampaknya mereka menyadari kalo semua ini berhubungan dengan Indah yang berdiri sambil menangis.

Tapi tampaknya ada seorang dari mereka yang mengetahui perbuatan Kadir yang menjual anaknya sendiri, Indah, sebagai penebus hutang judinya. Dan orang itu secara berbisik dan berguman menyiarkan berita itu berantai dari mulut ke mulut.

Seketika aku jadi menyesal telah bertindak terlalu terburu-buru. Harusnya aku bisa menahan emosiku dan menyelesaikan masalah ini secara pribadi dengan Kadir, dan tidak di depan banyak orang seperti ini. Kini gosip dan berita tentang Indah pasti sudah tersebar, dan tentu saja gadis remaja itu akan mengalami malu karena aib yang ditmpakan oleh bapaknya itu. Aku meninggalkan Kadir yang menggelosor di tanah setelah kulepaskan, lalu menghampiri Indah yang berdiri sambil menangis dalam diam. Aku merangkul pundaknya dan memeluk gadis malang itu.

Tiba-tiba seorang perempuan setengah baya yang bertubuh gendut maju dari kerumunan penonton. Dan dengan penuh emosi wanita gendut itu memukuli Kadir dengan sendalnya.

“Dasar bapak biadab! Tega-teganya kamu menjual anak kamu sendiri ha!!! Dasar bejat!!!!”, umpat wanita itu sambil memukuli Kadir yang hanya bisa minta ampun dan berteriak kesakitan. Setelah puas melampiaskan amarahnya, wanita itu menghampiri aku dan Indah. Dia memeluk tubuh Indah yang sudah kulepaskan saat wanita itu mengamuk tadi.

“Kamu nggak apa-apa, Indah?”, tanyanya dengan suara lembut. Indah hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk wanita itu sambil menangis.

“Mmm….anak ini siapa ya?”, tanya wanita itu.

“Saya Joe, bu.”, jawabku singkat sambil tersenyum pada wanita setengah baya yang bersemangat itu.

“Oooh….nak Joe. Saya Juminten, tetangga Indah. Ayo, masuk dulu ke dalam rumah nak Joe. Nggak enak diluar gini.”, ajaknya. Aku pun mengangguk, lalu mengikuti Bu Juminten dan Indah yang maelangkah masuk ke dalam rumah Indah. Orang-orang yang menonton pun mulai bubar meninggalkan Kadir yang masih kesakitan di bawah pohon. Tapi sempat kulihat beberapa dari mereka mencaci Kadir, malah ada yang menambah hajaran pada manusia bejat itu.

Sesampai di dalam rumah, Juminten mempersilahkan aku duduk di kursi tamu. Dia pun duduk disamping Indah. Sekali lagi Juminten menanyai Indah tentang keadaannya dan Indah hanya menjawab singkat sambil masih menangis. Juminten berusaha menenangkan gadis itu.

Tiba-tiba Kadir masuk ke dalam rumah, dan langsung bersujud di hadapan Indah.

“Maafin bhapak, Ndah. Baphak khilap. Amfunin baphak.”, rengek Kadir. Aku jadi emosi lagi melihat laki-laki bejat itu. Tanganku segera menjambak rambutnya dan bersiap menghajarnya lagi.

“Jangan, Kak. Sudah hentikan. Sejahat apapun dia, dia tetap bapak aku.”, cegah Indah yang melihatku akan menghajar bapaknya lagi.

“Lihat, Dir. Anak kamu ini masih memperhatikan kamu walaupun kamu bapak yang bejat. Kenapa kamu tega berbuat jahat sama anakmu sendiri. Setelah istrimu meninggal, kamu bukannya malah merawat anak kalian, tapi malah menjerumuskannya. Aaahhh….”, caci Juminten pada Kadir yang hanya bisa minta ampun dengan alasan khilaf.

Akhirnya emosiku jadi turun karena si Kadir juga berjanji kalau dia tak akan menjual Indah lagi untuk membayar hutang judinya. Bahkan dia berjanji untuk berhenti berjudi di depan aku, Indah dan Juminten.

Karena kurasa masalah Indah sudah beres, maka aku pun pamit pulang pada Indah dan Juminten, sementara Kadir sedang berada di belakang mengobati lukanya.

“Terima kasih banyak, kak Joe.”, kata Indah sambil menatapku.

“Sama-sama, Ndah.”, jawabku.

“Mmm…kenapa kakak mau menolong aku?”, tanya Indah. Aku pun menghela nafas sambil memegang pundaknya lembut.

“Kamu ngingetin kakak sama adik kakak.”, jawabku jujur. Indah terdiam sambil terus menatapku.

Aku mengeluarkan dompetku dan mengambil beberapa lembar seratus ribuan lalu kuberikan pada Indah. Gadis itu tampak bingung.

“Ini buat kamu, Ndah. Bisa kamu gunakan untuk hidup kamu. Tapi jangan sampai bapakmu tahu. Bisa-bisa uang itu habis di meja judi.”, kataku sambil memaksa Indah agar menerima uang itu. Mata gadis itu berkaca-kaca lagi, tapi kali ini dengan senyuman menghias di bibirnya.

“Terima kasih, Kak.”, kata Indah. Gadis remaja yang cantik itu lalu memelukku.

“Sudah….sudah…… Kakak harus pergi sekarang. Tapi kamu jangan sungkan untuk datang ke rumah kakak kalo kamu perlu bantuan. Janji ya Ndah?”, kataku sambil melepaskan pelukan Indah. Gadis itu hanya mengangguk. Matanya masih berkaca-kaca sambil meatapku. Bayangan Leny terlintas lagi di benakku. Lalu aku segera meninggalkan rumah Indah.

* * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * * * *

Tak terasa akhir pekan pun tiba. Aku menghentikan mobilku di depan sebuah rumah mewah di salah satu kawasan elite di Jakarta.

“Gila, Joe. Ini rumah temen loe? Tajir juga ya dia.”, celetuk si Item. Aku memang mengajak si Item dan Budiman malam ini.

“Yap. Ini rumah temen gue itu. Tapi sebelum kita masuk kesana dan loe semua bisa nikmatin apa yang gue janjikan, gue minta loe janji beberapa hal sama gue. Oke?!”, kataku.

“waduh, kok jadi ribet gini sih. Gue jadi penasaran banget nih, secantik apa sih temen loe itu?”, gerutu si Item.

“Ha..ha..ha… tenang aja. Gue jamin loe nggak bakalan kecewa.”, jawabku sambil tersenyum misterius.

“Iya..iya…Sekarang loe sebutin aja apa yang harus gue janjiin.”, kata Item.

“Pertama, Loe semua harus nurutin semua kata-kata gue di dalem sana, oke?”, kataku. Si item menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kulihat Budiman juga melakukan hal yang sama.

“Kedua, nanti kita pura-pura jadi perampok, lalu kita sama-sama memperkosa temen gue itu.”, kataku.

“GILA!!! Cerita konyol apalagi ini Joe? Jangan-jangan dia sama sekali bukan temen loe, mungkin cewek yang pernah nolak loe. Jadi loe dendam sama dia dan ngrencanain ini. Ngak ah. Gue nggak ikutan.”, kata si Item.

“Ya, Joe. Daripada kita memperkosa cewek, mendingan kita beli aja. Gue lagi males harus uber-uberan sama polisi.”, kata Budiman menimpali.

“Tenang…tenang….. Cewek yang punya rumah ini emang bener temen gue. Sumpah. Cuma dia memang punya selera agak aneh. Dia doyan banget kalo pacar atau gebetannya pura-pura memperkosa dia. Dia bisa dapet kenikmatan yang lebih dashyat, katanya sih.”, kataku. Si Item dan Budiman masih tampak ragu, tapi akhirnya aku bisa membujuk mereka setelah aku mengajukan beberapa alasan.

“Wah…gue bener-bener penasaran sama temen loe, Joe. Pasti dia cewek yang binal banget, sampe bisa punya hobi kayak gitu.

“Yeah, she’s one hot bitch. Nah, sekarang yang ketiga. Gue mau loe janji nggak akan nyeritain kejadian ini kesiapapun juga. Terutama loe, tem.”, kataku.

“Loe nggak percaya amat sih ama gue.”, gerutu Item.

“Karena mulut loe suka bocor kayak ember. Apalagi kalo lagi mabok, bener nggak Bud?”, kataku. Budiman menganggukkan kepalanya.

“Ya, udah. Gue janji. Lalu sekarang apa lagi?”, omel si Item.

“Yang terakhir, loe mesti janji nggak akan pernah ngeganggu temen gue ini, selepas malam ini. Bahkan kalo loe ketemu di jalan, loe harus tetep pura-pura nggak kenal. Karena nanti dia juga akan berpura-pura nggak kenal kalian, ngerti?”, kataku.

“Ya..ya….Sekarang kita masuk aja. Gue jadi nggak sabar kepengen ngentotin temen cewek loe yang aneh itu. Awas aja kalo dia nggak cakep.”, jawab Item. Aku hanya terttawa menanggapinya dan seger mengajak mereka turun dari mobil.

Saat aku memasuki halaman rumah Wulan Guritno, aku melihat ada satu mobil lagi disamping mobil yang dulu Wulan gunakan waktu pergi denganku. Memang enak jadi artis terkenal, bisa punya mobil banyak gini.

Waktu aku meraih gagang pintu depan rumah Wulan, aku bisa merasakan kalo pintu rumah itu tak terkunci. Tampaknya Wulan sudah siap dengan kedatanganku. Aku segera membuka pintu itu dengan cepat, lalu menerobos masuk sambil mengacungkan pistolku.

“Aaaahhhh!!!!”, teriakan Wulan sampai ditelingaku. Rupanya dia benar-benar sudah siap dengan aktingnya. Tapi ada sesuatu yang menggangguku, karena tadi rasanya aku juga mendengarkan teriakan wanita lain.

Saat aku melayangkan pandanganku mengamati ruang tamu rumah Wulan yang besar, aku melihat Wulan Guritno duduk di sofa sambil menutup mulutnya, tampak terkejut. Tapi aku masih bisa melihat kilasan sinar nakal di matanya.

Tapi saat aku mengamati lebih jauh, aku baru menyadari kalo Wulan ternyata tak sendirian. Seorang gadis cantik duduk di sofa di samping Wulan Guritno. Gadis itu sama terkejutnya seperti Wulan, tapi dari sinar matanya aku bisa tahu kalo kehadiran gadis itu benar-benar di luar skenario Wulan Guritno.

Setelah mengamati gadis itu, akhirnya aku bisa mengenalinya. Aku sering melihat wajah cantik itu di layar kaca. Gadis itu adalah Dhini Aminarti, artis muda yang sedang naik daun. Wajahnya yang cantik tampak terkejut. Dhini mengenakan gaun hitam yang membuat sebagian pundaknya terbuka, hingga aku bisa melihat kulitnya yang kuning langsat begitu serasi dengan warna hitam gaunnya.

“Diam! Jangan coba berbuat macam-macam kalo nggak mau gue habisin sekarang juga.”, bentakku. Aku bisa melihat mata Dhini Aminarti mulai berkaca-kaca dan ada sedikit air mata yang turun dari pelupuk matanya. Artis muda itu rupanya benar-benar ketakutan. Aku bisa melihat tubuhnya yang gemetaran. Dan saat aku melihat ke arah Wulan Guritno, ternyata wajahnya juga tampak ketakutan seperti Dhini. Tapi aku tahu kalo dia cuma pura-pura. Dan Wulan Guritno kayaknya pantas banget mendapat predikat artis terkenal, baik di layar kaca atau layar lebar. Aktingnya bener-bener hebat.

“Gila loe, Joe. Ini….ini kan bintang pilem itu. Wulan Guritno..iya..iya…ini bener-bener Wulan Guritno. Dan yang satunya juga sering muncul di tipi. Yang main di Sinetron Wulan mmm siapa tuh……mmmm Dhini iya…iya….Dhini Ambarwati.”, kata si Item. Wajahnya terlihat girang melihat dua wanita cantik yang terkenal itu.

“Salah, Tem. Dia itu Dhini Aminarti bukannya Ambarwati.”, celetuk Budiman. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini sedikit menyeringai aneh. Tampaknya si pendiam itu juga senang dengan kejutanku.

“Apa mau kalian? Kalo kalian mau uang, akan kami kasih. Tapi tolong jangan ganggu kami berdua.”, rengek Wulan Guritno masih dengan aktingnya yang sempurna.

“Jangan banyak bicara. Hei, Tem, Bud, kalian jaga cewek itu. Tapi jangan sekali-kali ganggu dia.”, kataku sambil menunjuk Dhini Aminarti. Aku mendekati Wulan Guritno lalu menariknya berdiri.

“Aaghh…lepasin. Apa mau kamu?”, teriak Wulan sambil pura-pura berontak.

“Jangan ngelawan! Hei, kalian jaga disini. Gue mau periksa, siapa tahu ada orang lain disini. Dan inget, jangan ganggu si Dhini, ngerti? Tunggu gue.”, perintahku pada Item dan Budiman. Kemudian aku memaksa Wulan untuk ikut dengan aku. Aku harus sedikit menyeret dan memaksanya, karena Wulan masih pura-pura memberontak.

Aku membawa Wulan Guritno menuju ruangan lain. Ternyata ruangan itu adalah ruang makan sekaligus dapur yang berukuran cukup besar. Sesampainya disana aku pun melepaskan cengkramanku pada tubuh Wulan Guritno, dan janda muda itu juga berhenti berakting.

“Apa-apaan ini Wul? Katanya loe bakal sendirian, kok si Dhini bisa ada disini?”, tanyaku.

“Sorry banget Joe. Ini di luar rencana. Tadi tiba-tiba saja Dhini dateng kesini. Katanya mau pinjem naskah sinetron yang baru saja ditawarkan ke kita berdua. Dia lupa naruh naskah punya dia, nggak tahu dimana.”, jelas Wulan.

“Shit. Terus gimana rencana kita? Kita batalin?”, kataku.

“Jangan. Jangan Joe, gue udah konak karena beberapa hari ini nggak dapet jatah dari pacar gue.”, jawab Wulan. Tampaknya artis cantik yang satu ini bener-bener doyan seks, sampai jadi agak sedikit ketagihan.

“Trus si Dhini gimana?”, tanyaku lagi.

“Loe kerjain aja sekalian. Anggap saja bonus dari gue hi..hi…hi….”, kata Wulan sambil tertawa nakal. Senyumku pun mengembang mendengar jawaban Wulan. Di kepalaku sudah terbayang bagaimana nikmatnya menikmati tubuh gadis cantik seperti Dhini Aminarti.

“Eh, Joe. Tapi temen-temen loe kok serem-serem gitu sih. Apa loe nggak bisa bawa temen yang lebih cakep dikit?”, kata Wulan Guritno. Wajahnya yang cantik terlihat sedikit merajuk dan merengut. Tapi emang cewek itu kalo dasarnya udah cakep, mau merengut kek, tetep aja cakep.

“Itu memang gue sengaja. Khusus buat kamu he..he..he…”, kataku.

“Apa maksud kamu?”, tanya Wulan, sedikit bingung dengan perkataanku.

“Gini. Loe pasti sudah sering ML sama cowok cakep. Dan loe pasti ngerasa nggak suka kalo disuruh ML sama cowok yang jelek kayak temen-temenku itu.”

“Trus?”

“Nah, ini berarti loe bakal ngerasa nggak suka, loe bakal ngerasa di lecehin. Jadi loe nantinya bakal ngerasa dipaksa buat ML, tapi loe nggak akan bisa nolak kenikmatan yang bisa diberikan temen-temen gue itu. Bayangin rasa tak berdaya itu. Rasa tak berdaya yang kata loe malah bisa memberikan orgasme dashyat yang pernah loe rasain saat gue perkosa loe.”, paparku pada Wulan Guritno. Wulan terdiam sejenak, memikirkan perkataanku. Kemudian aku bisa melihat senyum yang mengembang di bibirnya yang sensual itu. Wulan tiba-tiba menarik wajahku dan menciumku dengan panas. Aku pun membalas tak kalah panasnya.

“Kamu bener-bener cowok yang paling mengerti aku, Joe.”, kata Wulan usai melepaskan ciumannya.

“Siapa dulu dong. Joe. Tapi sebaiknya kita kembali kesana sekarang. Gue agak kuatir ninggalin Dhini disana bersama dua bajingan yang lagi horny itu.”, kataku sambil mulai mencengkram Wulan lagi agar sandiwara kami tak diketahui Dhini.

“Ciee….nggak pengen kehilangan mangsa nih?”, goda Wulan. Tapi aku tak sempat membalas godaannya karena sekarang aku dan Wulan sudah membuka pintu yang menuju ruang tamu tempat Dini, Item dan Budiman. Wulan pun segera berakting lagi, pura-pura memberintak.

Saat aku melangkah memasuki ruang tamu itu aku bisa mendengar isak tangis Dhini. Benar dugaanku kalo ternyata dua orang itu tak bisa membiarkan hidangan lezat yang ada di depan mata mereka begitu saja. Aku melihat Dhini Aminarti duduk sambil menangis di sofa diapit si Item dan Budiman yang bertubuh besar.

Dhini mencoba berontak saat si Item berusaha mencium bibirnya, tapi si Item memgangi wajahnya dengan kuat dan mulutnya segera melumat bibir Dhini yang manis. Si Item memaksa Dhini untuk berciuman, dia juga menjulurkan lidahnya bermain dalam rongga mulut Dhini Aminarti. Gaun Dhini kusut disana-sini. Tangan si Item meremas payudaranya yang mungil dari balik gaun itu. Sementara itu Budiman dari arah sebaliknya asyik menciumi leher jenjang Dhini, sementara tangannya mengelus paha Dhini. Gaun Dhini sudah tersingkap tak karuan sampai aku pun bisa melihat celana dalam hitam yang dipakainya. Dhini benar-benar tak berdaya menghadapi ulah du raksasa yang mengapitnya itu.

“Hentikan!!! Hoi, apa pesanku tadi, ha?! Jangan ganggu dia.”, bentakku marah pada si Item dan Budiman yang menyerobot mangsaku. Si Item dan Budiman kontan melepaskan Dhini begitu mendengar teriakanku. Dhini pun menangis sesenggukan sambil menutupi wajahnya.

“Sorry, Joe. Tapi kita kan lagi spaneng. Apalagi ditinggal sama cewek cakep kayak gini. Kita jadi nggak tahan.”, kilah si Item.

“Iya, gue ngerti. Tapi kalian bisa puasin nafsu kalian sama yang satu ini.”, kataku sambil membetot kimono yang dipakai Wulan ke arah samping. Kimono yang hanya diikat tali itu pun kontan terbuka. Tubuh indah Wulan Guritno yang ternyata tak memakai bra dan hanya memakai thong berwarna merah itu segera membius pandangan Item dan Budiman. Wulan menjerit saat aku menelanjanginya.

“He..he…he…. dikasih yang ini pun, nggak masalah buat gue. Malah gue lebih demen janda muda kayak gini, lebih hot dan berpengalaman he..he…he…..”, kata si Item yang segera berdiri lalu menghampiri Wulan dengan cepat. Bahkan lebih tepat kalo dikatakan menyergapnya. Aku pun menyerahkan Wulan Guritno kepada Item.

Wulan Guritno

Wulan Guritno

“Jangan!! Aakkh…bajingan. Lepasin aku.”, umpat Wulan sambil memberontak. Si Item memeluknya dengan erat. Kimono Wulan sudah terlempar ke lantai.

“Gue demen yang kayak gini. Lebih hot ha..ha..ha..”, kata Item sambil mulai menggerayangi tubuh indah Wulan sementara bibirnya yang tebal itu berusaha melumat bibir Wulan Guritno.

Pergumulan Item dan Wulan tampak begitu eksotis. Si Item yang berkulit hitam legam terlihat begitu kontras dengan kulit Wulan Guritno yang putih mulus. Begitu juga dengan wajah si Item yang jelek menyeramkan begitu tak sepadan dengan wajah Wulan yang cantik jelita dengan darah campuran Indo di tubuhnya. Tapi semua itu malah membuat pemandangan ini semakin terlihat menggairahkan.

Budiman yang pendiam tampaknya tak mau ketinggalan dengan si Item. Dia pun menghampiri Wulan dan memeluknya dari belakang. Kini Wulan Guritno diapit dari depan belakang oleh dua lelaki berbadan besar dengan tampang yang sangar.

“Jangan!!! Aaaaahh…lepasin aku…..jangan….tolong…”, teriak Wulan mencoba melawan. Tapi apalah daya seorang wanita seperti Wulan di hadapan dua raksasa yang horny itu. Si Item dan Budiman hanya tertawa sambil menggerayangi tubuh indah janda muda yang tak berdaya itu.

Sementara itu aku menghampiri Dhini yang masih duduk sambil menangis di sofa. Aku duduk di sebelahnya lalu memegang pundaknya lembut. Dhini begitu kaget menyadari kehadiranku.

“Ampun. To…tolong lepasi aku. Please….”, rengek Dhini.

“Sshh…tenang. Aku sama sekali nggak akan ganggu kamu selama kamu mau menuruti perintah aku. Tapi kalau kamu melawan, kamu akan aku berikan pada mereka, ngerti?”, kataku.

“Jangan! Tolong jangan.”, rengek Dhini sambil menangis.

“Ssshh…ya sudah. Tapi kamu harus menuruti perintahku. Dan aku janji nggak akan ngeganggu kamu.”

“Be..bbb…bener? Kamu nggak akan mem..memperkosa aku?”, kata Dhini lirih. Wajah ayunya masih tampak ketakutan.

“Bener. Aku nggak akan bohongin kamu. Kamu hanya harus nuruti semua kata-kata gue, dan aku janji kamu nggak akan di perkosa kecuali kamu sendiri yang minta he…he…he….”, kataku. Dhini hanya mengangguk, masih dengan wajah yang ketakutan.

“Nah, sekarang aku minta kamu lihat gimana dua temenku itu akan memberikan kenikmatan buat Wulan Guritno. Jangan nutup mata kamu atau ngelihat ke arah lain. Kalo kamu tidak memegang janji kamu untuk menuruti kata-kata aku maka aku juga nggak akan nepatin janji aku, ngerti?”, kataku lagi. “Iya..iya…aku akan turutin kamu.”, kata Dhini yang takut dengan ancamanku. Dengan wajah agak shock, Dhini pun terpaksa melihat bagaomana Wulan Guritno dipermainkan oleh si Item dan Budiman. Aku duduk merapat pada Dhini, satu tanganku kulingkarkan dipinggangnya yang ramping. Kami berdua pun mulai menikmati aksi liar si Item dan Budiman pada Wulan.

Pemandangan eksotis itu terjadi tepat dihadapanku dan Dhini. Budiman berdiri di belakang Wulan Guritno yang telanjang bulat dan menelikung kedua tangan Wulan Guritno dibelakang hingga Wulan Gurtino sama sekali tak sanggup untuk berontak. Si Item pun dengan leluasa bisa menggerayangi tubuh indah Wulan Guritno. Si Item melumat bibir seksi Wulan dengan paksa. Wulan berusaha mengelak, tapi tak berhasil. Payudara Wulan Guritno yang bulat dan sekal juga tak luput dari remasan tangan si Item yang besar. Tampak kontras warna tangan yang hitam itu dengan kulit dada Wulan yang putih mulus.

“Hhhmmpp….jangan…hhmmmppp……”, kata Wulan diantara lumatan bibir Item di bibirnya.

“Hhmmm….. bibir artis emang rasanya beda banget. Lembut. Gue jadi nggak bisa bayangin rasanya kalo bibir lembut ini nyepong kontol gue.”, kata si Item. Budiman hanya tersenyum mendengar seloroh Item. Dia pun tak tahan untuk ikut ambil bagian. Bibirnya segera bergerilya di pundak dan leher Wulan Guritno membuat artis cantik itu sedikit menggelinjang karena aku tahu leher itu merupakan salah satu titik sensitif Wulan Guritno. Speaking from my experience he..he..he..he..

“Ja..jangan…aahhh…sstt….auughhh…jangan digigit aahhh….”, Wulan menjerit lirih saat si Item sedikit menggigit gemas putting payudaranya yang menggiurkan.

“Toket loe montok banget. Putih mulus. Gue demen yang kayak gini hhmmmppp…”, celoteh Item sambil menyosorkan bibirnya yang besar ke dada Wulan Guritno. Dia meremas payudara dengan sedikit kasar. Bibir dan lidahnya bergerak lincah disana. Menjilat bahkan kadang menghisap kuat putting Wulan Guritno hingga janda muda itu tak kuasa untuk tak menggeliatkan tubuhnya hingga dadanya malah membusung ke hadapan Item. Wulan juga tak kuasa untuk mendesis lirih di sela-sela kata-katanya yang terus mencoba menghentikan semua ini. Kadang si Item bahkan mencoba memasukkan semua payudara montok itu ke dalam mulutnya.

Aku melirik ke arah Dhini yang melihat semua itu dengan wajah bersemu merah yang membuatnya makin tampak ayu.

“Dhin. Turunin gaun atas kamu. Aku pengen lihat toket kamu.”, kataku santai. Dhini begitu terkejut dengan kata-kataku. Raut ketakutan itu kembali lagi menghiasi wajahnya.

“Ta..ttt..tapi kamu janji nggak akan ganggu aku.”, jawab Dhini ketakutan.

“Aku janji nggak akan memperkosa kamu. Sekarang aku hanya ingin ngelihat toket kamu, dan kamu harus nurut. Kamu tahu konsekuensinya kalo kamu tak menuruti kata-kataku kan?”, ancamku.

Dhini terdiam dan tak mampu menyanggah alasanku. Sesaat dia ragu-ragu, tapi saat dia menatap mataku dan menyadari kalo aku serius, Dhini pun menghela nafas berat. Perlahan kedua tangannya bergerak menuju ke belakang lehernya. Jemari lentiknya mulai melucuti tali tipis penahan gaunnya yang berpotongan rendah itu. Setelah tali itu lepas, Dhini pun menurunkan gaunnya perlahan ke arah bawah. Akhirnya aku bisa melihat dada Dhini Aminarti yang ternyata mengenakan bra berwana hitam.

“Branya dilepas juga dong, sayang.”, perintahku. Dhini perlahan mulai membuka branya yang menggunakan kaitan di depan.

Akhirnya aku bisa melihat payudara telanjang Dhini Aminarti, artis muda cantik yang sedang naik daun itu, dengan jelas. Ternyata toket Dhini tak kalah indah dengan toket Wulan Guritno. Payudara itu mungil dan tak seberapa besar tapi berbentuk indah. Walaupun mungkin tak sebesar toket Wulan, tapi bentuk tubuh Dhini yang tinggi langsing membuat toketnya kelihatan sama montoknya dengan Wulan. Warna putingnya terlihat lebih segar dari punya Wulan, mungkin karena frekuensi dikenyotnya masih kalah dengan Wulan yang sudah janda dan sering ganti pacar.

“Hhhmm….toket kamu bagus Dhin.”, kataku sambil meremas payudara Dhini dengan lembut. Dhini masih terlihat ketakutan. Airmata mulai mengalir lagi di pelupuk matanya. Aku yakin ini bukan pertama kalinya payudara Dhini dijamah seorang lelaki. Bahkan aku yakin kalo Dhini kemungkinan besar sudah tak perawan lagi. Kalo aku yang jadi pacarnya, aku pasti tak akan melewatkan tubuhnya yang indah itu. Lagipula aku sangat sangsi kalo masih ada artis yang bisa menjaga keperawanannya di kehidupan mereka yang glamour itu. Yaa mungkin tak semuanya begitu, tapi sebagian besar. Tapi aku yakin ini pertama kalinya buat Dhini, tubuh indahnya dijamah oleh lelaki lain dengan paksaan dan di luar kemauannya. Dan artis cantik itu tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahku.

“Aahh…hentikan….ssst….ja..jangan…..”, desis Dhini saat aku mulai memainkan lidahku dengan lincah di dadanya. Kujilati putingnya, kusentil dengan ujung lidahku, bahkan kadang kuhisap kuat.

“Hhmmm…toket kamu oke juga Dhin. Masih kencang dan segar.”, pujiku. Dhini hanya bisa menangis lirih.

“Aaauughhhh…!!”, jerit Dhini saat aku tiba-tiba menjepit putingnya dengan kuat dengan jariku.

“Kalo kamu dapet pujian dari seseorang, maka kamu harus bilang terima kasih. Apa orang tua kamu nggak pernah ngajarin kamu sopan santun?”, kataku pura-pura marah. Dhini ketakutan sambil masih menyeringai kesakitan karena jepitanku diputingnya.

“Uughh…te..terima kasih.”, bisik Dhini lirih.

“Nah, gitu dong.”, kataku sambil melepaskan jepitanku. Dhini hanya bisa terisak lirih.

“Sekarang buat nunjukin rasa terima kasih kamu, maka kamu harus memberi hadiah ciuman padaku.”, kataku. Dhini terkesiap mendengarku. Dhini ketakutan dan bingung hingga ia hanya bisa terdiam. Tapi dia tahu dia tak bisa menolak perintahku. Perlahan Dhini mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tapi ternyata dia hanya mengecup pipiku.

Aku segera menjambak rambutnya sedikit dan mendekatkan wajahku ke wajah Dhini yang ketakutan.

“Apa kamu pikir aku anak kecil, ha!! Cium yang bener dong.”, teriakku. Dhini mengangguk, airmatanya mengalir semakin deras. Tapi wajahnya masih tampak ayu walaupun sedang menangis. Aku pun melepaskan jambakanku.

Perlahan Dhini pun mendekatkan bibirnya ke bibirku. Aku bisa merasakan lembut bibirnya yang mengecup bibirku dengan sedikit ragu. Tapi aku tak ragu sama sekali. Segera saja kusambut bibir Dhini dengan ciuman yang penuh nafsu. Kulumat bibirnya, atas dan bawah. Lidahku pun memaksa masuk ke ronga mulutnya. Dhini tak mampu mencegahnya. Lidahnya ku menyeruak lincah seakan mengajak lidah Dhini ikut berdansa di tengah bersatunya bibir kami berdua. Tanganku mulai ikut beraksi di dada Dhini. Meraba lembut halus kulitnya, mengusap bukitnya dengan mesra, dan bermain dengan putingnya, mencoba membangkitkan gairah mangsaku.

“Hhhmmppp…….bibir kamu lembut dan manis. Tapi kayaknya kamu perlu banyak latihan ciuman deh.”, godaku. Dhini menangis tanpa suara.

Aku menjepit putingnya lagi dengan kuat, hingga Dhini sedikit menjerit dan menyeringai kesakitan. Kemudian dia seperti menyadari sesuatu.

“Te..terima kasih.”, katanya lirih.

“Terima kasih, tuan.”, kataku.

“Terima kasih, tuan.”, kata Dhini lirih. Aku pun melepaskan jepitanku. Aku ingin Dhini Aminarti bisa takluk kepadaku. Maka aku perlu untuk memberikan hukuman ini.

“Ayo sepongin kontol gue. Awas jangan sampai kena gigi atau gue habisin loe.”, teriakan Item mengalihkan perhatianku pada Dhini, dan aku pun menoleh ke asal suara itu.

Entah kapan, Item dan Budiman sekarang sudah telanjang bulat. Item duduk di sofa dengan santai. Wulan Guritno dipaksanya berlutut di bawahnya. Item memegangi kepala Wulan dan memaksanya agar melakukan oral seks pada kontolnya yang sudah mengacung tegak.

“Mmmpphh…jangan…iighh…. bau….”, Wulan mencoba menolak tampaknya dia tak tahan dengan bau kontol si Item. Item memencet hidung Wulan Guritno, hingga akhirnya Wulan pun terpaksa membuka mulutnya kalau tak mau kehabisan nafas. Saat Wulan membuka mulutnya, Item segera memaksakan kontolnya untuk masuk ke mulut Wulan.

“Mmmmpp…mmmmpp…”, Wulan hanya bisa mengguman tak jelas karena kontol si Item yang memaksa masuk di mulutnya. Kontol Item telihat hitam sekali. Panjangnya lumayan, tapi diameternya besar. Mulut Wulan sampai harus menganga sampai batas maksimal supaya dapat menampung gemuknya diameter kontol Item.

“Aduh, sorry banget, Wul. Tadi emang gue lupa cebok waktu habis kencing. Tapi loe kan bisa bersihin pake mulut dan lidah loe ha..ha..ha….”, seloroh si Item sambil memaksa kepala Wulan bergerak naik turun.

“Hhhmmm….sepongan kamu enak banget Wul. Sssttt… emang beda sepongan janda sama perawan.”, dengus Item yang keenakan merasakan jepitan mulut Wulan di kontolnya. Walaupun Wulan Guritno masih pura-pura melawan dan mencoba berontak, tapi aku masih bisa melihat sedikit kilatan nafsu birahi di matanya. Bahkan Wulan Guritno tampaknya juga mulai mengeluarkan teknik sepongan yang dikuasainya di balik aktingnya itu.

Sementara itu Budiman mengambil posisi tiduran di karpet. Kepalanya tepat berada di selangkangan Wulan Guritno. Tampaknya si pendiam itu asyik menikmati memek Wulan Guritno dengan mulutnya. Aku bisa melihat dari desis nikmat yang sesekali muncul di sela-sela gumaman Wulan dan tubuhnya yang kadang menggeliat erotis. Selain itu, samar-samar aku bisa mendengar kecipakan suara memek Wulan yang pasti sedang dipermainkan lidah Budiman. Budiman tampaknya bernafsu sekali dengan memek Wulan, kulihat kontolnya sudah mengacung tegang. Kontol Budiman kebalikan dari kontol si Item. Diameternya standart tapi panjangnya yang luar biasa. Dan bentuk kepala kontolnya cukup besar hingga agak kurang proposrsional dengan diameternya.

Aku jadi makin horny melihat pemandangan erotis itu. Selangkanganku sampai agak sakit karena Joe jr yang memulai pemberontakannya di dalam celanaku. Maka aku pun segera membuka celanaku sekalian dengan celana dalamnya. Joe jr. mulai berkoar dengan gagahnya disana.

“Iihh…”, jerit Dhini lirih. Aku menoleh ke arahnya dan ternyata pandangan mata Dhini Aminarti tertuju pada Joe jr. yang menantang di tengah selangkanganku.

Aku bisa melihat pancaran sinar ngeri dari wajah Dhini, tapi anehnya dia seperti terhipnotis untuk terus melihat kontolku. Bisa dibilang kontolku merupakan perpaduan antara kontol si Item dan Budiman. Panjangnya seperti kontol Budiman tapi diameternya sebesar punya si Item. Aku masih teringat jelas bagaimana reaksi Wulan Guritno waktu pertama kali melihat kontolku, dan kini aku bisa melihat pancaran kekaguman yang sama dari Dhini walaupun tersamar oleh raut ketakutannya.

“Dhin, sepongin kontol gue dong.”, kataku.

“Mana mungkin??!! I..itu nggak akan muat.”, kata Dhini lirih.

“Bisa kok. Kontol si Item aja bisa muat di mulut Wulan. Sekarang loe pilih, kontol gue masuk di mulut loe atau di memek loe??!!”, ancamku. Dhini ketakutan mendengar ancamanku. Perlahan dan ragu, tangannya mulai mengenggam kontolku. Jemari lentiknya ternyata tak sanggup melingkari batang kontolku. Aku bisa merasakan tangannya yang gemetar.

Aku menarik tubuh Dhini dan memaksanya duduk di bawahku, tepat diantara selangkanganku. Dengan begini, aku bisa melihat raut wajahnya yang cantik ayu dan terkesan polos itu. Wajah yang membuat Dhini Aminarti selalu kebagian peran baik-baik di tiap sinetronnya. Aku menarik wajah Dhini agar mendekat ke kontolku. Dhini terlihat ragu tapi akhirnya gadis cantik itu pun menjulurkan lidahnya.

“Aaahhh…..”, aku mendesis saat merasakan hangatnya lidah Dhini Aminarti menjilat kepala kontolku.

“Jilatin semuanya, Dhin ssttt….. dari ujung sampai kepangkalnya.”, perintahku. Dhini pun menurutinya. Aku merasa nikmat dengan jilatan lidah Dhini yang menjelajahi seluruh permukaan batang kontolku.

“Terusin Dhin aaahh….. lihat mata aku Dhin. Aku ingin kamu terus ngelihat mata aku saat kamu nyepongin aku.”, perintahku lagi. Entah kenapa, melihat wajahnya yang ayu dan terkesan polos sedang menjilati kontolku, membuatku tambah bergairah. Aku makin mendesis tak karuan menahan nikmat.

“Jangan cuma dijilat, Dhin. Masukin….yeah…gitu aaaghhh…..”

Dhini mulai mencoba memasukkan kontolku ke mulut mungilnya. Dia harus membuka mulutnya lebar-lebar agar bisa menampung Joe jr. di dalamnya. Aku memegang kepalanya, membantunya bergerak naik turun.

“Lihat kesini Dhin yeah…sstt…pake lidah kamu…..mmmm…..”, aku memberikan instrusi pada Dhini. Dia pun menurutinya. Dan akhirnya Dhini pun bisa menyepongku seperti apa yang ku mau tanpa instruksiku lagi. Dia memang cepet belajar atau memang punya bakat binal di dirinya, aku tak tahu.

Aku terlena dengan sepongan Dhini sampai aku mendengar jeritan Wulan Guritno.

“Aaaaghhh….pelan aaghh….jangan keras-keras.”, jerit Wulan. Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Aku melihat ketiga orang itu sudah berganti posisi. Kini Budiman duduk di sofa. Wulan berbaring miring di sebelahnya sambil kepalanya ada di pangkuan Budiman. Tangannya memegang kontol Budiman. Sementara itu si Item mengambil posisi duduk menghadap Wulan, atau tepatnya pantat Wulan. Dengan posisi Wulan yang berbaring miring menghadap ke arahku, si Item mengangkat salah satu kaki Wulan dan melesakkan kontol Itemnya yang gemuk itu ke memek Wulan Guritno. Aku bisa melihat dengan jelas betapa memek Wulan sampai terkuak lebar untuk dapat menampung besarnya diameter kontol Item.

“Uuughhh… memeknya sempit banget, Bud. Padahal udah janda tapi memeknya nggak kalah rapet sama perawan aahhh……”, cerocos Item sambil menggenjot memek Wulan Guritno dengan pusakanya itu.

Plokk…plookk…ssrrttrt…..plokkk…plokkk….

Kecipak memek Wulan yang di bombardir si Item terdengar cukup nyaring. Mungkin Wulan tadi sudah sempet orgasme dengan permainan Budiman di memeknya, hingga memeknya cukup basah dan becek hingga bersuara seperti itu.
“Aah…aaaahhh….sstt…..mmppphhh…..”, Wulan hanya bisa mendesah nikmat karena genjotan kontol Item tapi Budiman segera memasukkan kontolnya ke dalam mulut Wulan, hingga kini artis dan presenter cantik itu diserang dari dua arah.

Aku merasa Dhini harus melihat bagaimana teman artisnya mulai dikuasai birahi, maka aku pun menyuruhnya berhenti menyepong kontolku. Sejenak Dhini menggerak-gerakkan rahangnya untuk membuat rahangnya lemas setelah menganga begitu lebar dan lama untuk menyepongku.

Aku menyuruh Dhini untuk melepaskan seluruh pakaiannya. Dengan terpaksa, Dhini pun berdiri dan melepaskan semua pakaiannya, termasuk celana dalamnya. Kini aku pun bisa menikmati indahnya tubuh Dhini Aminarti yang jadi impian banyak pria di negeri ini. Tubuhnya kurus langsing, tapi penuh lekuk indah, kakinya panjang dan jenjang terlihat sensual, payudaranya mungil tapi terlihat montok diatas tubuh langsingnya, perutnya kecil, dan memeknya terlihat rapat belahannya dengan rambut-rambut halus yang tertata rapi di sekelilingnya. Wajahnya yang ayu dan cantik bertengger di atas badannya ditopang leher panjang dan menggairahkan. Aku segera bangkit, memeluknya dan melumat bibirnya. Dhini tak bisa menolakku.

Kemudian aku membalikkan tubuh Dhini agar menghadao ke arah Wulan Guritno yang mulai larut dalam birahinya karena serangan dari Item dan Budiman yang begitu kompak. Aku memeluk tubuhnya dari belakang. Joe jr. menempel dengan nyaman di belahan pantat Dhini Aminarti.

“Lihat, Dhin. Wulan kelihatan begitu menikmatinya. Menikmati setiap gesekan kontol yang mengaduk memeknya, menikmati remasan tangan yang kuat di toketnya, menikmati kontol yang juga mengisi mulutnya. Lihat wajahnya yang dikuasai gairah yang amat sangat itu. Apa kamu ingin merasakan seperti apa yang Wulan rasakan?”, rayuku. Dhini menggelengkan kepalanya dalam pelukanku. Tapi aku bisa melihat raut ketakutan di wajahnya mulai tercampur dengan ekspresi yang lain. Aku tak bisa menduga perasaan Dhini, tapi aku juga tak peduli. Aku asyik menjamah tubuhnya dengan tanganku yang bergerak lincah kesana kemari. Bibirku bermain di leher jenjangnya dan di tengkuknya.

“Hhmmm….”, walaupun lirih aku bisa mendengar desisan itu keluar dari mulut Dhini. Tampaknya walaupun hati dan mulutnya berkata tidak, tapi tubuhnya tak bisa menolak rangsangan yang kuberikan. Bibirku terus beroperasi di leher jenjangnya, tengkuk, bahkan belakang telinganya. Satu tanganku meremas lembut payudaranya dan bermain di putingnya yang terasa mulai mengeras. Tanganku yang satunya mengelus belahan vaginanya dan lama-lama bisa merasakan memek Dhini mulai agak lembap. Pantatku bergerak sedikit, mencoba menggesek-gesekkan Joe jr. di belahan pantat Dhini. Aku yakin Dhini dapat merasakan kontolku yang makin membesar dan tegang karena nafsuku.

Tapi terus berdiri, membuatku tak bisa menikmati permainan Wulan dan kawan-kawanku. Aku pun duduk dan menyuruh Dhini duduk diatas perutku.

“Ayolah, Dhin. Aku cuma ingin kamu duduk diatas perutku ini. Aku nggak akan memasukkan kontolku ke memek kamu. Yang kamu lakukan cukup mengangkangi aku lalu duduk di perutku ini.”, kataku. Dhini menurutiku.

Aku duduk dengan santai dengan posisi agak setengah rebahan, kontolku mengacung tegak ke atas. Dhini mengangkangiku dan duduk di atas perutku dengan punggungnya yang menghadap ke arahku. Kini kami berdua bisa menikmati pemandangan erotis yang terjadi di depan kami. Posisi ini menyebabkan kontolku menggesek belahan memek Dhini yang duduk diatasku. Aku mendorong pantat Dhini agar kemaluan kami berdua makin menempel. Hanya menempel dan bergesekan, tanpa penetrasi.Wajah Dhini merona merah karena malu dengan posisi ini, tapi aku menyuruhnya untuk melihat ke arah Wulan dan fokus kesana.

Posisi ini mengharuskan Dhini untuk menyanggah tubuhnya dengan kedua tangannya di sandaran sofa dibelakangku. Aku pun bisa meneroboskan kepalaku di sela lengannya. Menciumi pinggiran payudaranya bahkan ketiaknya, hingga membuat Dhini kadang menggelinjang tak sadar.

“Aaahh…aahh…aughh….sstt….aahhh…..”, desahan Wulan Guritno makin keras karena genjotan kontol Item yang bergaya kasar dan cepat. Apalagi Budiman juga tak hanya tinggal diam menikmati sepongan mulut Wulan di kontolnya, tangannya dengan nakal bermain di dada Wulan, meremas dan mempermainkan payudaranya yang montok itu. Tampaknya Wulan sudah begitu larut dalam birahinya. Dia sudah lupa dengan aktingnya yang pura-pura tak mau. Kini Wajahnya yang cantik terlihat binal.

Plookk…plookk…..sllepp…pllokk….

“Aaah…. memek loe enak banget Wul sstt….yeah….goyang kayak gitu….aaahhh…. Bud, loe mesti cobain nanti, memek artis emang beda banget rasanya uughh….Apalagi janda yang satu ini, goyangan dan kempotannya yahud men.”, celoteh Item disela-sela dengusannya. Budiman hanya diam tak menanggapi ocehan Item karena dia kelihatan begitu asyik menikmati jepitan bibir sexy Wulan di kontolnya.

Desis kenikmatan mereka bertiga memenuhi ruang tamu ini, berpadu dengan suara khas benturan paha dan pantat serta kecipak memek yang basah yang sedang dientot. Dhini terus memperhatikan pertunjukan erotis di depan matanya itu, entah hanya karena perintahku atau karena dia sendiri mulai tergoda dengan live show yang panas itu. Aku bisa merasakan Dhini mulai gelisah di pangkuanku. Wajahnya yang ayu tampak bersemu merah dan nafasnya mulai terdengar sedikit berat. Aku juga mulai merasakan memek Dhini Aminarti yang berhimpitan dengan batang kontolku mulai terasa lembab dan sedikit basah. Tampaknya artis muda yang berwajah ayu dan kalem itu mulai tergoda gairahnya melihat temennya diperkosa dengan brutal oleh dua bajingan yang menyatroni rumahnya.

“Ouughh….terus..aa..aku..mau aaaagghhh……”, teriak Wulan saat tak kuasa lagi menahan puncak kenikmatan yang kini menerpanya. Tubuhnya menggeliat di atas sofa.

“Aaagghh….gue juga mau ngecrot aaaahhh…….”, dengus Item sambil menancapkan kontolnya dalam-dalam ke memek Wulan Guritno, artis cantik dan presenter terkenal itu. Empotan dan jepitan memek Wulan Guritno yang begitu liar saat dia orgasme, rupanya membuat si Item tak mampu lagi menahan ejakulasinya. Aku tahu betapa luar biasanya sedotan memek Wulan kala dia orgasme, jadi aku bisa menerka apa yang dirasakan Item sekarang.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku merasakan kontolku tergesek oleh blehan memek yang hangat dan basah. Padahal aku sudah menghentikan gesekan kontolku karena ingin menyaksikan saat Wulan Guritno orgasme. Ternyata kini Dhini sendiri yang menggerakkan pantatnya untuk menggesekkan permukaan memknya ke batang kontolku. Kami masih dalam posisi yang sama. Kemaluan kami saling menempel tanpa penetrasi. Tampaknya tanpa disadarinya, Dhini mulai bangkit gairahnya. Artis berwajah ayu itu tak tahan saat aku menghentikan gesekan yang kulakukan maka ia kini menggerakkan pantatnya, berusaha menekan kontolku ke permukaan memeknya dan menggesekkannya ke belahan vaginanya sendiri.

“Mmmm…….”, desis Dhini lirih, hampir tak kedengaran. Aku memeluk tubuhnya dari belakang, meremas payudaranya dan merasakan putingnya yang makin mengeras. Aku mencium tengkuknya.

“Hhhmmm….tampaknya kamu udah mulai horny ya? Apa kamu juga ingin dientot seperti Wulan? Merasakan kontol yang besar menelusuri tiap bagian dinding memek kamu, iya kan?”, godaku dengan bisikan lirih di dekat telinganya.

“Nggak…i..i..itu..nggak…..aku nggak mau.”, kata Dhini agak gelagapan. Wajahnya merona merah karena malu.

“Trus kenapa memek kamu jadi basah kayak gini? Dan putting kamu jadi mengeras? Hhmm…”, godaku lagi.

“Aahh…itu…sstt….jangan…”, jawab Dhini tak jelas karena aku mulai mempermainkan payudaranya dan meraba belahan vaginanya dengan tanganku.

Aku menjatuhkan tubuh Dhini yang ada di pangkuanku hinga kini dia rebah terlentang di sofa. Aku segera mengambil posisi di bawahnya, diantara kedua kakinya yang kubuka lebar. Kini aku bisa melihat memek Dhini dengan lebih jelas. Belahannya masih tampak begitu rapat. Saat aku mencoba membuka belahan itu, aku bisa melihat bagian dalamnya yang berwana segar dan sedikit berkilauan karena mulai basah.

“Jangan… Kamu kan sudah janji……”, rengek Dhini.

“Aku tak akan melanggar janjiku. Aku tidak akan memperkosa kamu. Artinya aku nggak akan memasukkan kontol aku ke memek kamu tanpa persetujuan kamu. Tapi bukan berarti aku nggak boleh menikmati memek kamu dengan mulutku he…he..he…”, kilahku.

“Aaaahhh….stop…jangan….sssttt…ahhh….”, desis Dhini saat aku mulai menjilati belahan vaginanya. Cairan kenikmatannya terasa manis bagiku. Lidahku terus bergerak lincah di memek Dhini Aminarti. Menjilat setiap bagian memeknya, clitorisnya yang mulai mencuat karena gairah pun tak luput dari sasaranku.

“Hhhmmm….memek kamu nikmat banget Dhin. Sayang kamu sudah nggak perawan. Aku nggak lihat selaput dara kamu.Yaa… tapi aku nggak bisa salahin kamu. Pacar-pacar kamu yang dulu pasti nggak akan tahan untuk tak mencicipi tubuh kamu yang indah ini hhmmmm…….ssluurppp….”, celotehku. Aku terus mengerjai memek artis muda yang cantik itu dengan berbagai teknik cunilingus yang aku kuasai. Dhini Aminarti hanya bisa mendesis tak karuan karena rangsanganku itu. Walaupun mungkin hatinya menolak tapi tubuhnya tak akan tahan menghadapi serbuan lidah dan bibirku.

“Jangan disitu. Oooughhh…. sakit…keluarin aahhh….”, teriakan Wulan mengganggu kosentrasiku. Aku pun sejenak menoleh ke arah Wulan. Tampaknya kini Budiman yang sedang memuaskan nafsunya. Dan si pendiam itu ternyata memilih lubang anus Wulan sebagai sasaran kontolnya yang panjang.

Aku bisa melihat kalo Budiman agak kesulitan melakukan penetrasi karena bentuk kepala kontolnya yang besarnya nggak proposional itu. Wulan hanya bisa berteriak kesakitan dalam posisi menungging, sementara Budiman terus memaksakan kontolnya masuk ke anus Wulan Guritno dengan doggie style.

“Aaauughhh…sa…sakit…pelan…aahh….”, jerit Wulan saat Budiman berhasil memasukkan kepala kontolnya melalui pintu liang anusnya.

“Uughh….sempittt aahhh….”, dengus Budiman sambil terus memaksa kontolnya terus masuk lebih dalam dengan perlahan. Perlahan tapi pasti kontol Budiman pun masuk terus lebih dalam. Memang hanya awalnya saja yang terlihat susah karena bentuk kepala kontol Budiman yang agak aneh. Tapi setelah kepala kontolnya sudah masuk dan kini hanya tinggal memasukkan batangnya, Wulan tampak tak terlalu mengeluh kesakitan. Untung saja batang kontol Budiman diameternya sedang-sedang aja. Wulan pasti akan kesakitan kalo batang kontol Item yang gemuk besar yang masuk kepantatnya.

Akhirnya Budiman pun berhasil memasukkan kontolnya sampai mentok ke pantat Wulan Guritno. Terlihat masih ada batangan Budiman yang masih tersisa di luar karena nggak bisa masuk karena panjangnya.

“Gila loe, Bud. Langsung maen bo’ol aja.”, celetuk Item yang istirahat sambil duduk di sofa.

“Memeknya penuh ama peju loe, Tem. Jadi becek deh.”, jawab Budiman. Kemudian dia memulai melakukan pompaan secara perlahan. Tapi Budiman sedikit-demi sedikit menaikkan temponya.

“Aaahhh…aahh…..sst…..ahhhh…….”, jerit Wulan yang mulai larut dalam gairahnya lagi. Budiman terus menghajar anus Wulan dengan kontolnya dengan penuh tenaga dan cepat. Tubuh Wulan sampai terlonjak-lonjak tak karuan. Payudaranya bergoyang liar. Budiman menarik rambut Wulan hingga wajahnya yang cantik dan terlihat binal karena nafsu itu terlihat jelas. Kadang Budiman juga menampar pantat Wulan Guritno yang bulat montok itu membuat Wulan menjerit dan tersentak. Tapi tampaknya janda muda itu malah menikmati perlakuan sadis Budiman. She’s really a bitch.

Saat aku menoleh ke arah Dhini, ternyata Dhini sedang melihat ke arah Wulan yang dikerjain secara liar oleh Budiman. Tampak sinar tak percaya terpancar dari raut wajah ayunya. Mungkin gadis itu baru tahu kalo Wulan Guritno bisa seliar dan sebinal ini kalo ML. Bahkan sekarang sudah tak terlihat seperti perkosaan, tapi dua orang lain jenis yang saling memuaskan nafsu birahi mereka.

Aku kembali fokus ke pekerjaanku yang tertunda. Aku lumat memek Dhini dengan bibir dan lidahku, membuat artis muda yang sedang naik daun itu kembali berdesis lirih karena nikmat. Aku belah belahan memek yang terlihat sempit itu dengan ujung lidahku. Tanganku yang meremas pantat Dhini yang sekal itu bisa merasakan Dhini sedikit menggelinjang karena cumbuanku yang menggodanya lagi. Aku selusupkan lidahku yang kukakukan sejauh-jauhnya kedalam liang memek yang mulai basah itu. Kukorek kesana-kemari membuat artis muda itu jadi makin kelimpungan. Aku membuka vagina Dhini dengan jariku sampai aku melihat klitorisnya yang langsung jadi sasaranku. Jariku pun mulai ikut bermain. Aku bisa merasakan jepitan memek Dhini yang lumayan kuat pada jariku. Aku jadi membayangkan bagaimana nikmatnya kalo jari itu kuganti dengan kontolku. Tapi aku berusaha menahan keinginan itu. Aku ingin artis muda yang cantik itu benar-benar takluk padaku.

“Uuff…..mmm…….”, desis Dhini lirih. Aku tahu kalo Dhini masih berusaha jaga imej dengan menahan sebisa mungkin agar tak larut dalam cumbuanku. Tapi perlahan tubuhnya mulai mengkhianatinya.

“Hei! Jangan merem. Buka mata kamu. Terus lihat apa yang dialami oleh temen kamu disana. Awa kalo kamu berani merem lagi atau melihat ke arah lain.”, hardikku saat aku melihat Dhini mulai memejamkan matanya agar tak melihat adegan panas yang dilakukan Wulan Guritno. Dhini tersentak dan membuka matanya. Lalu dia melihat lagi ke arah Wulan yang mendesah keenakan saat pantatnya dientot Budiman serta memeknya dikocok dengan jari Budiman. Bahkan Wulan membalas ciuman si Item dengan panas saat temenku itu melumat bibirnya yang sexy.

“Aaaah…aaahh…..ssttt……uugghhh…..”, desisan Wulan Guritno maki keras memenuhi ruang tamu ini. Artis cantik itu sudah benar-benar melepaskan topengnya dan bertingkah bagai wanita binal.

“Hhhmm….gila. Gue bener-bener nggak nyangka kalo Wulan Guritno bisa sebinal ini kalo lagi ngentot ha..ha…ha…”, cerocos si Item sambilnya tangannya tak berhenti menggerayangi tubuh sexy Wulan yang sedang menungging dan dientot Budiman dengan liar.

Suasana mesum sangat kental memenuhi ruangan ini. Dan tampaknya suasana itu juga berpengaruh pada Dhini Aminarti. Matanya yang terus memandang “perkosaaan” Wulan Guritno itu membiaskan sinar sendu penuh gairah. Desah kenikmatan lirih mulai sering terlepas dari mulutnya. Tanpa dia sadari, Dhini bahkan sering mengangkat pantatnya sendiri seakan menyongsong cumbuan lidah dan bibirku di memeknya yang kian basah.

“Auuggfff….cepet…sst…..gue…gue…bentar lagi dapet aahhh….”, desah Wulan keras. Tampaknya sebentar lagi puncak kenikmatan itu akan menerpanya. Budiman yang mendengar itu makin meningkatkan temponya dan menambah tenaga pada sodokan kontolnya. Suara beradunya pantat Wulan dan paha Budiman terdengar makin keras.

Aku merasakan otot-otot memek Dhini mulai berkedut-kedut menjepit jariku yang mengocoknya. Pantatnya bergerak tak tenang. Nafasnya makin memburu dan desahannya makin keras. Tampaknya Dhini Aminarti juga akan mencapai orgasmenya sedikit lagi. Dan inilah saat yang aku tunggu. Aku segera mengeluarkan jariku dan menghentikan cumbuan lidah dan bibirku di memeknya.

Aku duduk dengan tenang dan tersenyum menatap wajah Dhini yang bingung. Wajah ayunya menatapku dengan pandangan sedikit kecewa. Dia terus menatapku, seakan menungguku untuk mencumbu dirinya lagi. Tapi aku tetap diam.

“Jangan lihat ke arah lain. Terus lihat ke temenmu itu.”, perintahku sambil menunjuk Wulan Guritno yang bergerak makin liar tak beraturan. Pantatnya bergoyang kesana kemari menyambut kontol Budiman yang menyodoknya dengan penuh nafsu. Dhini menurutiku.

“Aaaghh…aa..aku dapet oogghh…..” teriak Wulan Gurtino saat orgasme itu akhirnya menerpanya. Tubuhnya menggeliat liar.

“Haa….ouughh….”dengus Budiman sambil menusukkan kontolnya sedalam mungkin ke anus Wulan. Kontraksi anus Wulan saat orgasme tentu membuat Budiman tak bisa bertahan lagi dan memuntahkan maninya ke dalam anus Wulan Guritno.

Aku melirik ke arah Dhini. Kulihat sedikit raut iri yang memancar di wajah ayunya melihat betapa Wulan Guritno mendapatkan kenikmatan yang begitu dashyat. Aku mulai melakukan aksiku lagi. Kulumat memek Dhini dengan bibir dan lidahku. Jariku pun kembali ikut ambil bagian.

“Aahh…..mmmmpp……”, Dhini kembali mendesis menikmati cumbuanku. Gairahnya naik dengan cepat. Tapi lagi-lagi aku segera menghentikan cumbuanku saat Dhini sedikit lagi akan mencapai orgasme. Wajahnya menatap kesal ke arahku. Aku hanya tertawa menggoda.

Sementara itu di sudut lain, Budiman tampaknya tak puas hanya dengan satu ronde saja. Dia segera duduk di sofa, lalu mengangkat tubuh Wulan untuk menggagahinya sambil berhadap-hadapan. Kontolnya yang masih mengacung keras walaupun baru ejakulasi segera melesak masuk ke memek Wulan Guritno. Wulan menyambut gairah Budiman dengan nafsu yang membara. Artis cantik yang berstatus janda itu segera bergoyang liar menunggangi kontol Budiman bagaikan seorang joki pacuan yang handal. Dengan posisi ini Budiman bisa lebih bebas menikmati tubuh indah Wulan. Payudara Wulan Guritno yang montok dan bergoyang liar di depan matanya segera disambut dengan remasan tangan dan lumatan bibir tebalnya.

“Waduh, serakah banget loe broer. Harusnya kita gantian dong.”, kata si Item dengan nada iri.

“Tanggung Tem. Gue juga pengen ngerasain memek artis. Ntar habis gue, loe bisa pake dia. Malam masih panjang.”, jawab Budiman santai sambil terus meladeni goyangan Wulan di pangkuannya.

Aku terus menggoda Dhini. Kubuat artis muda yang cantik itu bagaikan layang-layang yang bisa semaunya kutarik dan kuulur. Dhini pasti merasa konak yang amat sangat. Aku menindih tubuhnya yang langsing indah itu. Kupegang kontolku dan kugesek-gesekan ke belahan memeknya. Wajahku kudekatkan ke wajah ayunya.

“Hhhmm….kenapa Dhin? Kamu pengen merasakan apa yang dirasakan oleh Wulan? Kalo kamu mau, kamu cukup bilang padaku he..he…he…”, kataku menggodanya sambil terus menggesekkan kontolku ke belahan memeknya yang kian basah tanpa melakukan penetrasi. Wajah Dhini merona merah, entah karena malu atau karena gairah.

“Nngg..o..oke.”, kata Dhini lirih, hampir tak kedengaran.

“Oke? Oke apa maksud kamu?”, jawabku menggodanya. Dhini kelihatan makin malu.

“Nngg…kamu…kamu boleh melakukan apa yang kamu mau sama aku.”, jawab Dhini akhirnya.

“Sshhh….. apa yang aku mau nggak jadi masalah sekarang. Yang penting, apa yang kamu mau?”, jawabku santai. Dhini diam . Wajahnya tampak ragu dan jengah.

“A..aku mau kamu..a..anu…”, kata Dhini lirih.

“Anu apa? Kalo kamu nggak ngomong yang jelas, aku nggak akan ngerti.”

“Brengsek. Oke…oke… aku mau kamu ML sama aku, puas?”, jawab Dhini sambil sedikit merengut. Wajahnya tambah menggemaskan.

“Gue ini orang kasar. Nggak ngerti bahasa-bahsa gaul kayak gitu. Coba kamu bilang kalo kamu pengen dientot sama kontol aku.”, godaku. Dhini makin cemberut. Wajahnya tampak jengah mendengar omongan kotorku.

“Aku..aku mau dientot sama kontol kamu.”, jawab Dhini pada akhirnya. Aku tersenyum puas. Kulumat bibir manisnya dan aku mulai mencoba memasukkan kepala kontolku ke memeknya. Agak sulit tapi tetap kupaksakan.

“Tunggu..tunggu…jangan…”, kata Dhini tiba-tiba. Aku menatapnya dengan bingung.

“Jangan disini. Aku mau kita hanya berdua saja.”, kata Dhini malu-malu. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku segera bangkit berdiri. Kugendong tubuh telanjang Dhini Aminarti, lalu kubawa pergi dari ruang tamu tempat Wulan masih berpesta birahi dengan teman-temanku.

Dini Aminarti

Dini Aminarti

Aku memasuki sebuah ruangan yang tampaknya kamar utama di rumah ini alias kamar tidur Wulan. Kamar itu luas dan tertata apik. Tapi satu-satunya perlengkapan kamar yang menjadi perhatianku saat ini hanyalah ranjang besar yang ada di tengah kamar Wulan Guritno. Tubuh telanjang Dhini Aminarti setengah kulempar ketengah ranjang itu. Aku menutup pintu dan siap menikmati hidangan yang sudah lama kunantikan.

Aku hampiri ranjang besar itu dengan tubuhku yang sudah tak terbalut apa-apa. Kini aku bisa melihat sosok indah Dhini Aminarti sepuasku. Tubuh Dhini terlentang pasrah di tengah ranjang itu. Wajahnya yang ayu tersenyum menatapku, mata bintangnya agak terlihat sendu tapi aku bisa melihat gairah yang menyala disana, rambut hitamnya terurai dan sebagian menutupi bahunya tapi aku masih bisa menikmati leher jenjangnya yang indah, payudaranya yang tak terlalu besar tapi terlihat montok karena tubuhnya yang langsing bergerak pelan seiring tarikan nafas artis cantik itu, perutnya yang rata tampak serasi dengan bentuk pinggul indah dan tubuhnya yang langsing, kaki jenjangnya dirapatkannya agak malu-malu, menghalangiku untuk melihat vaginanya.

Aku segera naik juga keranjang itu. Kuraih kaki jenjangnya, kuciumi dari ujung kaki dan terus merayap naik. Saat kupaksa kaki jenjang itu untuk sedikit membuka maka aku bisa melihar belahan memek Dhini Aminarti yang telihat rapat dengan sedikit bulu yang tertata rapi. Ciumanku terus merangsek ke arah agina itu. Aku bisa merasakan vagina Dhini sudah sangat basah karena gairah birahinya. Tampaknya aku sudah tak perlu melakukan foreplay lagi. Ciumanku terus naik melalui perutnya yang rata, payudaranya yang indah, kuhisap sedikit putting Dhini yang sudah mengeras hingga artis cantik itu mendesah nikmat. Kuteruskan perjalananku sampai wajahku kini berhadapan dengan wajah ayu Dhini Aminarti. Tubuhku menindih tubuh indahnya. Aku mendaratkan ciuman yang panas di bibir manis Dhini dan ia pun membalasku dengan penuh gairah juga.

“Mmm…. kamu cantik sekali Dhin.”, pujiku.

“Nggak usah ngegombal. Cepet mmm….aku sudah nggak tahan.”, kata Dhini dengan suara agak bergetar. Tampaknya artis muda yang cantik itu sudah tak tahan lagi untuk memperoleh kepuasan karena tadi sempat kugantung gairahnya beberapa kali.

Aku tersenyum. Tanganku meraih ke bawah. Kupegang kontolku yang sudah tegang lalu kuarahkan menuju sasarannya. Kugesekkan kepala kontolku di belahan meme itu berusaha mencari celah yang tepat. Aku pun berusaha melakukan penetrasi. Tapi walaupun sudah tak perawan lagi, belahan memek Dhini masih rapat dan sedikit membuatku kesulitan memasukkan kontolku yang memang agak di atas rata-rata ukurannya.

“Uuugh…pelannn….punya kamu kan gede banget.”, pinta Dhini. Akupun berusaha memasukkan kontolku selembut mungkin. Akhirnya usahaku membuahkan hasil, kepala kontolku sudah bisa kupaksakan masuk ke belahan memek yang rapat itu. Aku bisa merasakan jepitan memek Dhini yang begitu nikmat. Kulihat wajah Dhini agak sedikit menyeringai kesakitan.

Aku berpikir kalo aku terlalu lama melakukan proses penetrasi ini, Dhini mungkin akan merasa lebih lama menderita. Aku melumat bibir Dhini, memegangi kedua tanganya hingga posisi Dhini tak memungkinkan untuk berontak. Aku memutuskan untuk melakukan penetrasi sekali jalan. Perlahan tapi penuh tenaga, kupaksakan kontolku memasuki liang memek Dhini yang sempit itu.

“Aaggh…sak…mmpphh….mmpphhh….”, teriakan Dhini segera kuredam dengan ciumanku hingga gadis cantik itu hanya bisa mengguman tak jelas dalam lumatan bibirku. Aku terus memaksakan kontolku untuk masuk sampai mentok sebisa mungkin di memek Dhini, dan akhirnya aku pun berhasil merasakan ujung kontolku menyentuh dinding rahim artis muda yang sedang naik daun itu.

Aku berhenti sejenak setelah melakukan penetrasi pertama itu. Selain untuk memberi kesempatan pada Dhini untuk beradaptasi dengan ukuran kontolku yang kini bersarang nyaman di dalam memeknya yang sempit, aku juga begitu menikmati rasanya cengkraman dinding memek Dhini Aminarti yang begitu kuat. Bahkan aku bisa merasakan kalo memek Dhini bahkan lebih sempit dari Wulan Guritno. Perbedaan jam terbang kali ya ha..ha..ha…

Wajah Dhini terlihat menyeringai kesakitan. Bahkan mata bintangnya menitikkan sedikit air mata. Tapi mulutnya berusaha tersenyum padaku.

“Kamu nggak apa-apa Dhin?”, tanyaku merasa kasihan padanya.

“Ngg…nggak apa-apa uughh…cuma punya kamu gedhe banget sampai vaginaku rasanya mau sobek.”, jawab Dhini. Aku mencium bibirnya dengan lembut yang segera disambut oleh Dhini. Kami hanya diam selama beberapa menit sambil berciuman mesra. Lidahku bermain dengan lidah Dhini seakan mengajaknya bercanda. Payudara Dhini terasa kenyal didadaku.

“Boleh aku mulai Dhin?, kataku. Akirnya aku tak tahan lagi untuk segera menikmati seks pertamaku dengan Dhini Aminarti, artis muda yang berwajah ayu itu. Dhini menganggukkan kepalanya. Perlahan aku mulai menarik kontolku dari memek Dhini sampai hanya sebagian dari kepala kontolku yang tertinggal. Kemudian aku memasukkannya lagi ke liang yang hangat itu lagi, juga dengan perlahan. Terus berulang. Aku merasa begitu nikmat. Jepitan memek Dhini terasa lembut tapi juga kuat, mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan mulai dari kontolku menuju kearah otakku, lalu menyebar ke seluruh tubuhku.

“Uuuggfff….memek kamu ennaaakkk banget Dhin. Sempit, hangat dan lembut.”, pujiku dengan tulus.

“Sstt…aahh…punya kamu juga. Berasa banget.”, jawab Dhini sambil mendesah lirih. Aku pun terus melakukan penetrasi dengan irama perlahan dan lembut. Bibir dan tanganku pun ikut mencumbu artis cantik itu. Kulumat bibir manisnya, leher jenjangnya, dan semua bagian lain yang dapat kujangku dengan mulutku itu. Tanganku meremas lembut payudaranya, memainkan putingnya yang terasa makin mengeras karena birahi. Hal ini membuat gairahku dan Dhini meningkat perlahan tapi pasti. Memek Dhini makin lama terasa makin basah.

“Aahhh…aah..lebih cepet.”, pinta Dhini. Kaki jenjangnya melingkar di paha dan pantatku dan menariknya untuk semakin menekan lebih kuat dan lebih cepat. Aku pun menuruti permintaan Dhini karena aku pun ingin memuaskan dahaga nafsu yang menguasai diriku. Kutingkatkan tempo permainanku secara bertahap, makin lama makin cepat. Desahan Dhini terdengar makin keras.

Plokk…plokkk…sluurrpp…plokk….plookkk…..

Suara benturan tubuhku dan Dhini terdengar memenuhi kamar ini. Berpadu dengan desah kenikmatan kami berdua dan membentuk perpaduan suara yang begitu erotis. Kami terus memacu birahi kami berdua dengan liar. Keringat mulai bermunculan di tubuhku dan Dhini Aminarti, walaupun kamar Wulan Guritno ini dilengkapi dengan AC tapi kami malah merasa semakin lama semakin panas.

Sekitar lebih dari sepuluh menitan aku dan Dhini Aminarti terus berpacu dalam gairah birahi itu, saat kurasakan tubuh Indah Dhini mulai sedikit menegang dan menggeliat dalam pelukanku yang masih menindih dan memompanya. Nafasnya mulai tak beraturan. Memeknya berkontraksi kian kuat yang membuatku hampir saja tak dapat bertahan lagi.

“Oooogghh….aku..aku mau aaaaaghhhh…..”, jerit Dhini saat orgasme itu akhirnya melandanya. Tubuhnya menggeliat dan membusung ke atas. Kakinya menjepit paha dan pantatku kuat agar tak dapat meninggalkan memeknya. Aku bisa merasakan kuku jari tangan Dhini yang memelukku sedikit melukaiku saat dia mencengkramku.

“Aku…aaaggg…..juga…..”, dengusku saat kontolku menyemprotkan banyak sekali mani ke dalam liang senggama Dhini Aminarti. Aku akhirnya tak bisa bertahan lagi karrena kontraksi dan jepitan otot memek Dhini teras begitu luar biasa kala artis muda yang berwajah ayu itu orgasme. Kami pun orgasme secara bersamaan. Mani kami berdua bercampur jadi satu dalam liang surgawi milik Dhini Aminarti. Orgasme yang begitu intens dan hebat seakan melolosi tulang kami berdua. Aku dan Dhini pun berpelukan dengan lemas menikmati sisa kenikmatan itu.

Aku merebahkan diriku ke samping agar tubuh Dhini tak tertindih olehku. Kami berdua terlentang di ranjang itu berdampingan, tak berkata-apa-apa, hanya mengatur nafas dan menikmati puncak kenikmatan yang baru saja berlalu itu.

Aku tersadar dari kenikmatan itu kala aku mendengar isak Dhini. Aku menoleh dan melihat Dhini menangis pelan. Tampaknya dia baru tersadar dari keadaan dirinya yang baru saja terbius nafsu dan melayani seseorang asing yang belum dia kenal. Mungkin dia menyesal telah menikmati “perkosaan” ini.

“Maafkan aku, Dhin.”, kataku lirih. Dhini menatap wajahku. Mata bintangnya masih menitikkan sedikit airmata. Kami hanya diam sambil saling menatap selama beberapa menit.

“Ini salahku sendiri. Aku begitu bodoh bisa terjatuh dalam bujukan bajingan seperti kamu.”, kata Dhini lirih.

“Aku minta maaf Dhin.”, aku hanya bisa mengulangi kata-kata itu.

“Tapi aku juga harus mengakui kalo aku tadi juga menikmatinya. Kamu benar-benar bajingan penakluk wanita.”, aku Dhini.

“Hhmmm….itu cacian atau pujian?”, kataku mencoba bercanda dan mencairkan suasana. Senyum tipis mengembang di bibir manis Dhini. Dhini memukul lenganku. Aku senang usahaku berhasil. Aku memeluk tubuh Dhini dengan hangat.

“Oh, iya. Ngomong-ngomong siapa nama kamu?”, tanya Dhini tiba-tiba.

“Ha..ha..ha…..jadi kamu belum kenal sama orang yang sudah cium bibir kamu yang manis ini?”, kataku sambil melumat bibir Dhini dengan lembut. Dhini membalasnya.

“Yang udah remas payudara kamu yang indah ini? Yang jarinya mainin putingnya kayak gini?”, kataku sambil meremas payudara Dhini dan memainkan putingnya dengan jemariku. Dhini mendesah lirih.

“Yang sudah masukin kontolnya ke memek kamu yang sempit ini?”, kataku sambil meraba memeknya dengan tanganku.

“Yang udah numpahin maninya ke dalam liang senggama kamu?”, kataku sambil memasukkan jariku ke memek Dhini yang becek karena cairan kenikmatan kami berdua. Aku mengeluarkan jemariku dari memek Dhini, lalu kusodorkan ke depan bibir Dhini Aminarti. Artis muda yang cantik itu tanpa ragu lalu mengulum jemariku yang berlumuran cairan kenikmatan kami berdua. Dhini tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Namaku Joe. Dan aku bener-bener seneng bisa kenalan sama kamu. Bahkan aku merasa lebih seneng lagi bisa bercinta sama kamu.”, jawabku sambil mencium bibir Dhini dengan penuh gairah. Dhini menyambut ciumanku.

Aku bisa merasakan kalo kontolku sudah kembali mengacung dengan gagahnya. Aku menarik tubuh Dhini hingga artis cantik itu kini ada diatasku. Aku ingin Dhini yang sekarang memegang kendali permainan. Dan tampaknya gadis itu mengerti keinginanku.

Perlahan Dhini Aminarti, artis muda yang sedang naik daun itu, naik ke atas tubuhku. Tubuhnya seperti akan mendudukiku. Memeknya sudah ditempatkan persisi diatas ujung kontolku yang berdiri gagah. Satu tangannya terasa lembut memegangi kontolku. Perlahan Dhini menurunkan tubuhnya hingga kontolku pun perlahan mulai melakukan penetrasi ke liang kenikmatannya lagi.

“Aaaghh…punya kamu bener-bener gede banget, Joe uuuffhh…..sstt…..aaahhhh….”, desis Dhini saat perlahan tapi pasti memeknya melingkupi batang kontolku seakan ingin melumatnya habis. Kembali aku bisa merasakan kalo kontolku bisa menyentuh dinding rahimnya, membuat Dhini mendesah tak karuan.

“Joe..punya kamu sampai ke perut aku aaghh…”, kata Dhini.

“Ugghh…enak banget Dhin.”, kataku sambil meresapi kenikmatan saat dinding vagina artis muda itu mencengkeram kontolku dengan lembut dan kuat.

Dhini mulai menaik turunkan tubuhnya secara perlahan. Aku terasa bagaikan di surga dunia. Payudaranya yang bergoyang-goyang di depan mataku membuatku gemas. Tangan dan bibirku segera menyambut payudara itu. Kuremas payudara Dhini dengan penuh gairah. Putingnya yang makin mencuat kumainkan dengan lidahku dan kadang kuhisap seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya. Dhini makin membusungkan dadanya padaku sambil terus bergoyang di pangkuanku. Dengan posisi ini, ternyata Dhini dapat mengeuarkan segala teknik bercinta yang dia kuasai. Goyangannya membuat otot-otot vaginanya berkontraksi sedemikian rupa hingga dapat memberikan kenikmatan yang lebih padaku. Untung saja aku sudah ejakulasi tadi, hingga aku dapat bertahan dari serangan-serangan yang dilancarkan Dhini.

“Joe…aaghh…aku….aku…..”, desis Dhini setelah lima belas menitan mengulek kontolku dengan memeknya. Goyangannya makin tak beraturan dan bertambah cepat. Tampaknya artis muda yang berwajah ayu itu akan mencapai puncaknya lagi. Aku pun segera memegang pantatnya dan menuntun pantat itu agar penetrasi kami makin cepat dan penuh tenaga. Tanpa sengaja jari-jariku yang meraba pantat Dhini menemukan liang anusnya. Aku membasahi telunjukku dengan ludahku sendiri kemudian aku menjangkau lagi ke pintu liang anus Dhini. Aku memaksakan jari telunjukku itu untuk masuk ke liang anus Dhini, perlahan tapi pasti.

“Joe, apa yang kamu..aaghhhhh……oh my God aahhhhh……..”, teriak Dhini dengan tubuh menggeliat hebat karena orgasme yang menimpanya. Matanya terbeliak sampai hampir hanya kelihatan putihnya saja. Dhini ternyata mencapai puncaknya bersamaan dengan masuknya seluruh jari telunjukku ke liang anusnya. Mungkin hal ini memberikan sensasi yang luar biasa buat Dhini hingga dia pun orgasme lebbih hebat dari yang pertama. Aku bisa merasakan memeknya berdenyut sangat kencang dan kuat seakan mau menghisap kontolku.

Dhini pun rubuh kedepan dan bersandar di dadaku setelah orgasme yang dia alami. Aku membiarkannya dalam keadaan begitu selama beberapa saat untuk memberi Dhini sedikit waktu istirahat walaupun aku sendiri belum mencapai puncakku.

Tapi akhirnya aku sendiri yang jadi konak. Tubuh Dhini yang lemas segera kurebahkan ke sampingku. Aku bangkit dan mencoba membuat tubuh Dhini menungging karena gue lagi pengen doggie style. Tapi kayaknya Dhini masih lemes banget setelah pertarungan kami yang kedua tadi. Akhirnya Dhini kubiarkan tidur tengkurap di ranjang. Lalu aku mengambil bantal dan kuganjalkan pada pahanya, hingga pantat Dhini pun otomatis menungging walaupun dia masih tengkurap. Sekarang liang memek Dhini sudah menghadap ke atas dan siap jadi sasaranku.

“Joe….jangan sekarang. Gue masih capek banget aaghh…..sssiallan loe Joe.”, rintih Dhini saat aku terus memasukkan kontolku ke dalam memeknya dengan posisiku mengangkangi paha dan pantat Dhini yang masih tengkurap.

“Nanggung Dhin. Gue udah konak nih.”, kataku sambil menikmati kembalinya kontolku ke memek Dhini. Posisi seperti ini, dimana kedua kaki jenjang Dhini dalam posisi menutup, membuat memeknya terasa lebih sempit. Aku benar-benar merasa keenakan. Kemudian aku mulai memompa memek Dhini secara perlahan.

“Ugghh…memek kamu tambah nggigit Dhin sshh…aahh….”, desisku keenakan.

“Ahhh……”, Dhini hanya mendesis lirih. Awalnya Dhini hanya pasif dan hanya pasrah menghadapi seranganku. Tapi lama-lama artis cantik itu jadi bangkit lagi gairahnya karena aku tak hanya mngacak-acak memeknya dengan kontolku tapi juga mencumbu tengkuknya, belakang telinganya, serta titik eksotis Dhini yang lain dengan bibirku, tanganku juga gemas meremas pantatnya yang terlihat makin membulat dengan posisi ini, sesekali jariku dengan nakal menyelonong masuk ke liang anusnya.

Aku terus memacu tubuh Dhini berusaha untuk mencapai kenikmatanku. Dhini juga mulai bangkit lagi gairahnya dan mulai sedikit menggoyang pantatnya menyambut setiap tusukan kontolku di memeknya. Lama-lama kurasakan gelombang itu mulai datang. Deluruh tubuhku, terutama bagian kemaluanku menjadi sensitif, berulang kali mengirim sinyal-sinyal kenikmatan kepada otakku, membuatku melayang dalam kenikmatan. Aku makin liar menggenjot tubuh Dhini sampai artis cantik itu terlonjak-lonjak dalam tengkurapnya.

“Aaaaghhh…..aaakkhu….dapet Dhin aaaghh…..”, dengusku saat kontolku menyemprotkan air sumber kehidupan ke dalam memek Dhini, bahkan mungkin langsung ke rahimnya karena saat aku orgasme, aku menekan seluruh batang kontolku sampai amblas ke dalam liang hangat Dhini. Aku bisa merasakan ujung kontolku bahkan sampai sedikit masuk ke mulut rahimnya.

“Auugghh…Joooeeee……”, Dhini berteriak sedikit merasa kesakitan karena kontolku yang sedikit membuka mulut rahimnya. Tapi bersamaan dengan itu, ternyata Dhini juga mengalami orgasme lagi. Badannya menggeliat tak berdaya karena tubuhku yang menindihnya. Tangannya menggenggam erat sepray tempat tidur Wulan, membuat kondisinya makin acak-acakan. Kami bersama-sama menikmati puncak surgawi itu. Aku merebahkan tubuhku ke samping agar tak membebani tubuh langsing Dhini dengan tubuhku.

Aku berbaring diranjang itu dan Dhini Aminarti memelukku dari samping dengan tubuh agak miring menghadap kearahku. Sebagian tubuhnya menindih tubuhku. Wajah ayunya bersandar di dadaku. Aku memeluknya dan mengelus rambutnya yang hitam indah. Kami bercakap-cakap ringan. Aku pun bercerita kalo semua ini awalnya adalah ide Wulan yang ingin merasakan diperkosa lagi. Dhini terkejut mendengarnya, tapi ternyata dia tak marah, hanya sedikit kesal pada Wulan Guritno yang tak memberitahunya apa-apa tentang hal ini.

Aku dan Dhini jadi berteman. Aku pun sadar kalo aku tak mungkin mempunyai hubungan yang lebih dengan Dhini Aminarti. Artis cantik yang terkenal seperti Dhini tak mungkin memilih pasangan yang tak sepadan baik secara derajat ataupun kekayaan, Lagipula aku merasa aku hanya tertarik dengan tubuh indah Dhini. Pure lust, no love, I think.

Kami terus mengobrol sampai sekitar jam dua dini hari. Kulihat Dhini mulai mengantuk dan lelah. Aku pun juga. Aku segera bangkit dari ranjang dan pamit pulang. Dhini mengikutiku keluar dari kamar utama itu dan menuju ruang tamu karena pakaian kami berdua masih tertinggal disana.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Aagghh….ampun…. gue capek banget aagghh…..”, desah Wulan dengan kondisi tubuhnya yang lemas. Si Item ada di bawah tubuh indah Wulan Guritno dengan kontolnya menancap di memek Wulan dan tangannya meremas payudara Wulan dengan kasar, bibirnya pun mencari bibir Wulan yang menghadap ke arahnya. Sementara itu Budiman dengan posisi Doggie, menghajar anus Wulan dengan batang kontolnya, tangannya meremas pantat Wulan, bahkan menamparnya keras. Suara dengus mereka berdua berpadu dengan desah Wulan Guritno dan suara persetubuhan yang erotis.

Dhini terkesiap melihat pemandangan erotis itu. Aku memeluknya dari belakang, lalu berbisik di dekat telinganya.

“Apa kamu mau kayak Wulan? Digangbang dua kontol di setiap lubang kenikmatannya?”, tanyaku. Dhini tak menjawab dan terus melihat ke arah permainan seks yang brutal itu.

“Kalo kamu mau gue bisa suruh mereka buat service kamu.”, kataku.

“Nnng…nggak ah. Mereka serem-serem. Gue takut ngelihatnya.”, jawab Dhini.

“Jadi kalo lain kali aku bawa temen yang cakep, kamu mau?”, godaku. Dhini membalikkan badannya lalu memukulku sambil tersenyum.

“Ihh…itu kan emang mau kamu.”, katanya manja.

“Tapi suka khan.”, kataku. Dhini pura-pura merajuk dan mencubit putingku.

“Eitss…..iya..iya…ampun. Udah ah, gue mau pake baju dulu.”, kataku lalu mengambil pakaianku yang berserakan dan memakainya. Dhini mengambil pakaiannya lalu pamit ke kamar mandi.

“Aaghh….gue dapet.”, teriak Budiman saat dia orgasme.

“Ggguee juggaaa…..”, dengus si Item. Wulan sendiri tampaknya juga mengalami orgasme karena kulihat badannya meregang dan matanya membeliak. Mulutnya terbuka ingin menjerit, tapi tak ada suara yang keluar, mungkin karena tenaganya sudah habis.

Budiman dan Item pun meninggalkan tubuh Wulan saat melihat isyaratku. Mereka mengambil pakaiannya dan memakainya. Aku menghampiri Wulan Guritno yang terbaring di sofa dengan lemas. Keadaan Wulan tampak berantakan. Tubuh dan wajahnya berlepotan mani si Item dan Budiman.

“Wul…Wul…kamu nggak apa-apa?”, kataku sambil sedikit mengguncang bahu Wulan. Wulan membuka matanya dan menatapku.

“Nggak apa-apa Joe. Gue cuman capek banget. Temen-temen kamu bener-bener nggak ngasih aku istirahat sama sekali. Aku nggak bisa ngehitung berapa kali mereka ngerjain aku, dan berapa kali aku orgasme. Memek dan anusku rasanya jadi agak ngilu dan sensitif banget.”, adu Wulan padaku.

“Maafin aku. Aku cuma pengen ini jadi malam yang nggak bakal kamu lupain.”, kataku sambil mengelus rambut Wulan Guritno. Artis dan presenter terkenal itu hanya tersenyum kearahku.

“Aku pulang dulu, Wul. Goodnight.”, kataku. Wulan kemudian memejamkan matanya dan berbaring lemas di sofa ruang tamunya itu. Aku pun mengajak si Item dan Budiman untuk pergi dari situ dan kembali kerumah.

* * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * *

Kami sampai di depan pintu pagar rumahku. Aku keluar dari mobilku yang disetir si Item.

“Joe, mobil loe gue bawa dulu ya.”, kata Item.

“Iya. Asal jangan loe jual aja.”, jawabku.

“Yee…jangan ngomong sembarangan Joe. Emangnya gue temen apaan?”, rutuk si Item. Aku hanya tertawa.

“Eh, gue bener-bener thanks banget atas kejutan loe malem ini Joe. Gue bener-bener nggak nyangka bisa nikmatin tubuh artis cantik yang terkenal kayak Wulan Guritno. Uughh….nikmat.”, kata Item. Budiman hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda kalo dia berpendapat sama dengan si Item.

“Iya..iya…Tapi inget syarat dari gue. Kalian udah janji kan?!”, ingatku. Aku mengkuatirkan reputasi Wulan kalo kejadian ini sampai tersebar.

“Tenang, kita pasti nepatin janji kita kok. Iya nggak Bud?”, jawab Item yang diiringi anggukan Budiman.

“Iya, gue percaya. Nah, gue masuk dulu, capek. Kalian pulang sana gih. Atau kalian mau nginep sini?”, tawarku.

Yee…yang capek abis ngentotin Dhini Animarti.”, goda Item.

“Dhini Aminarti, bego.”, celetuk Budiman.

“Ahh…beda dikit aja. Eh, Joe, Kita cabut aja. Entar si Budiman dicariin bininya. Yuk Joe.”, kata Item sambil menginjak gas lalu mereka berdua berlalu dari sii sambil membawa mobilku.

Aku membuka pintu pagarku lalu masuk kehalaman rumahku. Aku terkejut sat melihat sesosok tubuh yang terbaring di teras rumahku. Aku tak bisa mengenalinya karena gelap. Perlahan aku mendekati sosok itu.

Aku begitu terkejut saat mengenali sosok yang terbaring itu saat aku melihatnya dari dekat diterangi sinar lampu temaram teras rumahku. Orang yang berbaring di terasku itu ternyata adalah Indah, gadis malang yang kutolong beberapa hari yang lalu. Indah tertidur di terasku. Keadaannya sangat berantakan. Pakaian yang dikenakannya robek sana sini. Bahkan kulihat bibirnya sedikit berdarah dan agak memar di ujungnya.

“Indah…..Indah….bangun…..kamu kenapa?”, kataku sambil menggoyang bahunya pelan. Indah terlihat kaget. Gadis cantik itu bergerak menjauhiku dengan wajah yang ketakutan. Kemudian dia menatapku dan tampaknya mulai mengenali wajahku. Raut ketakutan di wajahnya menghilang, berganti dengan raut kesedihan yang membuat hatiku trenyuh. Airmata menetes dari matanya yang indah. Dia bangkit lalu berlari menghampiriku dan memelukku erat. Kepalanya bersandar di dadaku sambil menangis.

“Kamu kenapa, Ndah? Bilang sama kakak, kakak akan bantu kamu.”, kataku lembut sambil mengelus rambutnya. Indah tak menjawab dan terus menangis. Aku kasihan padanya, bayangan Leny kembali hinggap di benakku. Entah kenapa sosok Indah selalu mengingatkanku akan Leny, adik tiriku itu. Aku membimbing Indah dan mengajaknya masuk ke rumahku. Aku mengajaknya menuju kamar cadangan yang kugunakan sebagai kamar tamu bila ada temanku yang menginap. Aku menyuruh Indah untuk berbaring di ranjang kamar itu. Indah menurutinya. Aku mengambil selimut dan menyelimuti tubuhnya.

“Sekarang kamu istirahat dulu. Besok pagi setelah badan kamu kembali segar dan kalo kamu ngerasa sudah siap, kamu bisa ceritain masalah kamu. Kalo kamu percaya sama kakak.”, kataku lembut. Indah hanya mengangguk. Airmatanya masih mengalir walaupun dia sudah tak terisak lagi. Gadis cantik itu menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Aku tersenyum padanya lalu meninggalkan Indah di kamar itu agar dia bisa istirahat.

Aku lalu mandi untuk membersihkan badanku yang masih penuh dengan aroma percintaanku dengan Dhini Aminarti. Badanku terasa capek sekali. Setelah mandi, aku pun ke kamarku dan mencoba tidur. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan Indah, dan benakku selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya dialami gadis cantik yang malang itu. Baru sekitar satu jam kemudian, baru aku bisa tertidur.

Grrrrookkkk…………….

To be Continued to part 4

Karya Joe

Copyright (c) Joe_Anchoexs

Sumber : Kisah BB | Joe Dirty Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: