h1

The Adventure of Joe 4: Celebriteens

March 16, 2009

Ini hanya sekedar cerita dan khayalan belaka. Karakter-karakter yang tercantum dalam cerita ini tidak benar-benar bersikap dan bertindak seperti dalam cerita. Kejadiannya cuma hasil pikiran kotor penulis belaka yang hanya mengembangkan kreativitas sekaligus memberikan hiburan bagi sesama pemilik pikiran kotor lainnya. Just have fun.

* * * * * * * * ** * * * * * * * * ** * * * * * * * * *

Motorku kuhentikan tepat di pagar rumahku. Aku membuka pintu pagar lalu memasukkan motorku ke halaman depan rumahku. Hari sudah sore saat aku sampai di rumah kontrakanku. Aku baru saja pulang dari lokasi syuting yang ada di daerah Bekasi. Hari ini aku bertugas sebagai assistant lighting. Baru sekitar dua bulan yang lalu aku mulai belajar tentang lighting untuk keperluan syuting sinetron. Dan hari ini aku dipercaya sebagai assistant lighting. Lumayanlah. Walaupun tadi aku hanya mengikuti arahan dari pak Benny yang jadi penanggung jawab lighting.

Baru sekitar 6 bulan ini, aku bekerja di dunia sinema layar kaca ini. Awalnya aku di tempatkan di bagian umum yang tugasnya cuma bantu sana-sini. Tapi aku tak menyia-nyiakan waktu kerjaku begitu saja. Setiap ada waktu luang, aku segera bertanya ke sana-sini mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sinematografi pada krew yang sudah berpengalaman. Sebagai awalan aku memilih belajar mengenai lighting, yang kupikir lebih mudah. Tapi ternyata perkiraanku salah. Sekitar 3 bulan aku menghabiskan waktuku untuk mengenal proses lighting. Dua bulan berikutnya baru aku belajar mulai serius. Meminjam buku, membaca dan mempelajarinya, belajar dari krew yang berpengalaman seperti pak Benny. Dan sekarang pun aku belum menguasai bidang ini sepenuhnya. Mungkin aku hanya menyerap kemampuan pak Benny baru sekitar 25% saja. Untung saja dengan keahlianku berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain yang kudapat di jalanan serta fakta bahwa aku orang “titipan” Wulan Guritno, membuatku lebih mudah untuk mendekati orang-orang seperti pak Benny.

Selama 6 bulan ini aku juga tak melupakan misiku yang lain. Aku berkenalan dan mencoba berteman dengan banyak orang. Walaupun aku sama sekali belum membuka jalan bagi perdagangan barang terlarang bang Jamal, tapi setidaknya aku mulai membangun jaringan. Hampir seluruh krew sudah kukenal baik, aku juga mengenal beberapa artis. Walaupun mungkin sekarang mereka masih tak peduli siapa aku, tapi paling tidak mereka mengingat wajahku sebagai orang dalam. Yaa…memang semuanya perlu waktu untuk menjalankan rencanaku ( baca TAJ 3 ).

Aku menghampiri pintu depan rumahku lalu mengetuknya. Tak lama kemudian pintu itupun terbuka, dan seraut wajah cantik yang tersenyum manis menyambutku dari balik pintu itu. Pemilik wajah itu adalah seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMU. Gadis cantik itu adalah Indah, gadis malang yang sudah disia-siakan oleh bapak kandungnya sendiri. Aku pernah menolong Indah saat dia dijual bapak kandungnya sendiri pada bang Jamal untuk membayar hutang judinya. Kemudian suatu malam enam bulan yang lalu, aku menemukan gadis itu tertidur dengan kondisi yang memprihatinkan di teras rumahku. Ternyata baru beberapa hari setelah aku mengembalikan Indah ke rumahnya, bapak kandungnya yang bejat itu mencoba memperkosa gadis malang itu. Untungnya Indah berhasil melarikan diri dan setelah dia bingung mau kemana, Indah pun datang ke rumahku.

Aku begitu murka kala itu. Walaupun aku baru mengenal Indah, tapi entah kenapa gadis cantik itu selalu mengingatkanku pada Leny, adik tiriku dan satu-satunya wanita yang dengan tulus mencintaiku. Penyesalanku atas perbuatan dosaku di masa lalu terhadap Leny membuatku merasa berkewajiban untuk melindungi Indah. Pagi hari setelah malam itu aku segera pergi kerumah Indah bersama dengan si Item dan Budiman. Aku hajar laki-laki bejat itu di depan rumahnya sendiri. Aku mengatakan bahwa mulai saat itu Indah akan tinggal bersamaku dan aku mengancam si Kadir, bapak Indah agar tidak lagi muncul dihadapanku atau Indah, kalo tidak aku akan membunuhnya. Kemudian aku pergi meninggalkan Kadir yang sudah dalam keadaan hampir mati. Kudengar, Kadir sempat dihajar warga setempat yang juga marah atas perlakuan Kadir pada Indah dan diusir dari kampung itu. Satu minggu setelahnya kudengar Kadir akhirnya masuk bui karena mengedarkan narkoba. Beberapa hari sebelum Kadir tertangkap, aku sempat mengadukan masalah Kadir ke bang Jamal. Dan tampaknya bang Jamal adalah orang yang mengatur tertangkapnya Kadir.

Sejak saat itu, Indah tinggal bersamaku. Awalnya hubungan kami terasa canggung. Tapi tampaknya perasaan sayangku pada Indah yang kuanggap seperti adikku sendiri, lambat laun bisa melumerkan hati gadis cantik itu yang sempat hancur dan dingin karena trauma hidupnya. Indah kembali bersekolah atas biayaku. Dan ternyata kehadiran Indah membawa dampak positif bagi diriku sendiri. Suasana rumahku terasa lebih hangat. Rasa kesepian yang sering menghinggapiku seakan terkikis dengan keceriaan gadis itu setelah dia pulih dari traumanya.

“Sore, kak. Baru selesai kerjanya?”, sapa Indah dengan suaranya yang lembut dan senyuman manis menghiasi bibirnya. Lesung pipit yang terlihat saat gadis remaja itu tersenyum membuat dia semakin manis.

“Iya. Eh, kamu kok masih pake seragam, emangnya kamu baru pulang sekolah.”, kataku.

“Pulangnya udah siang tadi sih. Tapi Indah langsung masak, jadi kelupaan ganti baju. Oh ya, kak. Indah masakin menu favorit kakak tuh. Sayur asam, goreng ikan asin, tahu setengah matang, terus sambal terasi. Nah, sekarang kakak mandi aja dulu. Habis itu baru makan deh. Ayo, kak.”, ajak Indah sambil merebut tas kerjaku dan membawanya ke kamarku sambil berlari-lari kecil dengan ceria. Aku hanya bisa geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah Indah. Hadirnya Indah benar-benar membuat hari-hariku makin berwarna.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Ndah. Tolong tambahin nasinya dong. Mmm… masakan kamu enak banget.”, kataku sambil menyodorkan piringku pada Indah. Ini mungkin salah satu hikmah atas perbuatanku menolong Indah dulu. Kini perutku bisa dimanjakan oleh masakan Indah yang ternyata cocok di lidahku. Aku sudah habis sepiring nasi dan sekarang berencana mau tambah.

“Wah, kakak bener-bener kelaperan atau rakus hi…hi…hi…..”, goda Indah. Meskipun begitu, dapat kutangkap rasa bangga dan senang terpancar dari wajahnya saat Indah melihatku makan dengan lahap.

“Kayaknya….rakus sih he..hee..he.. Habis masakanmu sedep banget.”, pujiku. Indah tersenyum makin manis. Sepertinya setiap koki pasti juga merasa sangat senang bila ada orang yang memakan masakannya dengan lahap dan memuji rasanya. Aku meneruskan makanku ditemani Indah. Gadis itu sendiri sudah makan tadi tapi dia tetap menemaniku.

Usai makan, aku pergi ke teras depan. Kunyalakan sebatang 234 kesukaanku dan duduk santai di kursi teras.

“Aaahh…memang enak menghisap rokok setelah kita makan. Bener kata si Item, kalo nggak ngerokok setelah makan sama aja kayak kita beol tapi gak cebok ha…ha..ha…”, pikirku dalam hati saat aku teringat becandanya si Item dulu. Aku pun menikmati rokokku sambil menikmati indahnya langit yang mulai memerah.

“Nih kopinya kak.”, kata Indah sambil membawa secangir kopi hitam panas untukku dan meletakkannya di meja teras.

“Terima kasih Ndah. Aku beruntung banget punya adik yang baik kayak kamu.”, kataku sambil mengambil kopi itu dan meminumnya sedikit. Mmm….secangkir kopi memang cocok untuk dinikmati saat menghisap rokok. Indah hanya mengganggukan kepalanya, kemudian duduk di kursi di sebelahku sambil menyisir rambutnya yang agak basah. Gadis itu baru selesai mandi dan kecantikannya makin memancar dengan segarnya. Indah bersenandung pelan sambil terus menyisir rambutnya. Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman sekarang. Hidupku tenang dan damai ditemani Indah yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri itu.

Tiba-tiba aku merasakan getaran dari Hpku yang ada di sakuku. Aku segera mengambil dan melihat siapa yang meneleponku. Hmm… dari kang Asep. Kang Asep adalah kenalanku di lokasi syuting. Lelaki asli sunda itu bekerja sebagai driver untuk mobil mewah yang biasa disewa oleh para selebritis. Kami cukup akrab karena kami sering menghabiskan waktu saat dia harus menunggu artis yang syuting di tempat parkir tempat aku kabur untuk menghisap rokok.

“Halo, kang. Ada apa kang?”, kataku setelah mengangkat hp-ku.

“Hi, Joe. Sorry ngeganggu nih.”

“Nggak ngganggu kok. Tumben telepon. Ada apa kang?”

“Joe, loe bisa nyetir kan?”

“Bisa dong.”

“Nnng…maksud gue, nyetir mobil yang besar. Loe tahu limo pegangan gue kan? Bisa nggak?”

“Kayaknya bisa. Truk aja pernah gue setir. Paling cuman harus ngebiasain haluannya doang. Kenapa emangnya?”

“Gini Joe. Gue kan udah ada janji nanti malem buat nganterin artis. Tapi tiba-tiba bini gue sakit keras dan sekarang gue harus nungguin di rumah sakit. Gue sudah coba hubungin temen-temen driver yang laen, tapi semuanya juga tugas nanti malem. Kira-kira loe bisa gantiin gue gak?”

“Mmm….bisa lah. Nggak masalah. Akang urusin istri akang dulu aja.”

“Wah terima kasih Joe. Gue bener-bener utang budi sama loe. Kalo gitu ……..”, kemudian kang Asep memberiku alamat tempat dia harus menjemput artis yang membooking dia dan dia juga menyuruhku ke garasi untuk mengambil mobil itu. Aku mencatat semua keterangan dari kang Asep lalu menyuruh dia untuk menghubungi garasi dan menjelaskan kalo nanti aku yang akan menggantikannya. Kang Asep mengucapkan terima kasih lagi saat akan menutup telponnya.

“Mmm…kak Joe harus kerja lagi ya?”, tanya Indah.

“Iya nih. Ada temen yang butuh bantuan kakak. Kayaknya nanti kakak pulangnya malem deh, tau mungkin bisa sampai besok pagi. Jadi kamu gak perlu nungguin kakak. Kakak nanti bawa kunci cadangan.”, jelasku. Indah hanya menganggukkan kepalanya.

“Ya, udah. Kakak mau siap-siap dulu.”, kataku sambil masuk ke dalam dan bersiap-siap.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Hawa terasa dingin di lapangan parkir gedung besar ini. Untung saja jas santai yang kupakai cukup tebal. Memang malam ini aku memakai jas hitam santai yang kupadu dengan kemeja putih dan celana jeans. Kunyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan rasa dingin dan bosan yang melandaku. Aku menggantikan tugas Kang Asep sebagai driver untuk rombongan artis yang akan menghadiri acara penghargaan di gedung ini. Dan ternyata yang menggunakan jasa kang Asep adalah grup vokal BBB, kumpulan artis sinetron yang menggunakan konsep aji mumpung dan nekat mengeluarkan album untuk merekam suara mereka yang pas-pasan untuk jadi penyanyi. Memang kedengarannya aku agak sedikit sinis tapi itu wajar karena aku sendiri pecinta musik. Sedangkan lagu dan suara mereka belum menyerempet sedikitpun sebagai standart musik yang masuk dalam telingaku. Untung saja tiga anggota mereka yang perempuan cukup menghibur mataku hingga aku tak merasa bete. Laudya Chintya Bella, Ayu shita, dan Chelea Olivia memang tampak cantik malam itu. Ketiga orang artis remaja itu tampak menawan dengan kecantikan dan kemudaaan mereka. Sedangkan kedua orang cowok dalam vokal grup itu tampak ombong dan belagu. Mereka tak senang saat Chelsea Olivia, yang paling ramah diantara mereka, bercakap-cakap denganku. Padahal Chelsea hanya sekedar berbasa-basi saja. Kini mereka semua bergabung dengan kemeriahan perayaan di dalam gedung, dan aku menunggu sendirian di lapangan parkir ini. Supir-supir yang lain memang ada, tapi mereka memanfaatkan waktu dengan tidur di mobil masing-masing.

“Hi, there. Mmm…boleh bagi rokoknya? I can’t pay for it, if you want.”, terdengar suara seorang pria dari sampingku. Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang lelaki bule yang berwajah tampan tersenyum padaku. Aku merasa pernah melihat wajahnya. Kebiasaan bergaulku yang luwes, otomatis membuatku segera merogoh kantongku dan mengeluarkan dua pak rokok yang ada di saku jasku.

“Kamu suka yang kretek atau yang tanpa cengkeh?”, kataku ramah sambil menyodorkan bungkusan Dji Sam soe kesukaanku dan sebungkus Malboro.

“Thanks. Aku rasa aku lebih suka yang ini.”, kata bule itu dengan bahasa Indonesia yang kaku sambil mengambil bungkusan Malboro dari tanganku. Dia mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di antara bibirnya. Aku mengambil Zippoku dan menyalakannya. Bule itu tahu maksudku, dan dia pun mendekatkan ujung rokoknya pada api yang menyala dari Zippoku. Dengan tarikan nafas lega, dia pun menghisap rokok itu.

“Thaks, man. How much mmm…. berapa aku berhutang sama kamu?”, kata bule itu sambil menyodorkan kembali bungkusan Malboro itu.

“Kamu tak berhutang apa-apa sama aku. Aku bukan penjual rokok. Mmm…sebenarnya aku gak terlalu suka dengan rokok itu. Aku membelinya buat persediaan kalo ada teman yang suka rokok putihan seperti itu. Jadi rokok itu buat kamu saja.”, kataku sambil tersenyum.

“No..no… How about your friends?”, jawab Bule itu agak sungkan. Tapi aku buru-buru mengambil bungkusan Malboro itu dari tangannya lalu memasukkannya kedalam saku kemeja putih yang dikenakan bule itu.

“It’s okay. Jika kita berkenalan dan kamu jadi temanku, maka bungkusan rokok itu sudah digunakan sesuai tujuannya kubeli kan?! By the way….Aku Joe.”, kataku sambil mengulurkan tanganku untuk bersalaman.

“Mmm…kamu orang baik, Joe. Tentu saja aku senang jadi teman orang seperti kamu. Namaku Michael.”, kata bule itu sambil menjabat tanganku. Mendengar namanya, aku pun teringat siapa dia. Memang aku tak mengenal Michael, tapi aku pernah melihatnya di layar kaca pada acara gosip selebritis. Itu karena lelaki bule yang berwajah tampan itu adalah kekasih dari Sophia Latjuba, bintang film, artis sinetron, pembawa acara dan model terkenal. Dia adalah Michael Anthony Villareal.

“That’s it. Tadi aku sempat merasa aku pernah melihat kamu entah dimana, dan sekarang aku pun ingat. Kamu pacarnya Sophia Latjuba kan?”, kataku.

“Well, it’s my curse to have an celebrities girlfriend. Aku ikutan jadi sasaran pers. Some times they really annoying. Ya, dugaan kamu memang benar. Dia memang pacarku.”, jawab Michael. Kami pun tertawa. Kemudian kami bercakap-cakap ringan sambil menikmati asap rokok. Ternyata si Michael orangnya asyik juga. Dia tampaknya tak merasa risih berteman dan ngobrol denganku yang sekarang sedang bertugas menjadi sopir.

“By the way……kamu sedang mengantarkan siapa malam ini?”, tanya Michael.

“Vokal group dadakan yang anggotanya bintang sinetron. BBB, you know them?”, kataku.

“Mmm…yeah. I watch the movie. Aku pikir mereka lebih cocok jadi bintang film dari pada penyanyi.”, jawab Michael.

“You got it right, Bro.”

“Well. At least, kamu laki-laki yang cukup beruntung malam ini karena bisa cuci mata melihat wajah cantik mereka dan tubuh remaja mereka yang mmm… delicious he..he..he…”, canda Michael.

“Bener juga. Tapi tahu nggak? Aku rasa kamu jauh lebih beruntung. Kamu punya istri yang cantik. Kecantikan Sophie dan keindahan tubuhnya masih bisa bersaing dengan artis-artis remaja itu walaupun dia sudah berumur 37 tahun. And besides that, kamu juga punya anak gadis yang manis dan cantik. Eva, she’s really cute, man.”, komentarku. Pandangan Michael menerawang ketika mendengar kata-kataku.

“Yeah. She’s really is a cute and sweet little girl.”, jawab Michael pelan. Aku cukup kaget mendengar komentarnya. Michael tak menanggapi pernyataanku tentang istrinya, tapi malah menyetujui pendapatku tentang anak tirinya. Aku merasa ada yang aneh dengan Michael saat dia mengatakan hal itu. Dia seperti melamunkan sesuatu.

Suara pintu terbuka dan suasana ramai dari orang-orang yang berhamburan keluar dari gedung membuatku segera melupakan keanehan pada Michael. Tampaknya acara sudah selesai dan aku harus melaksanakan tugasku.

“Mike, aku harus pergi sekarang. Tampaknya acaranya sudah selesai, and i’m back on duty.”, kataku.

“What?? Oh yeah. Aku juga harus mengambil mobil untuk menjemput Sophie dan Eva. Nice to meet you Joe.”, kata Michael sambil menyalamiku. Lalu dia pun berlalu pergi ke arah mobilnya diparkir.

Aku segera memasuki mobil yang kubawa malam itu. Mobil itu adalah sebuah limo panjang berwarna hitam yang sering digunakan artis-artis terkenal untuk datang dalam acara-acara penghargaan seperti ini. Aku tak menyangka penyanyi dadakan seperti BBB ini mampu menyewa mobil semacam ini. Tapi kemudian itu kupikir wajar saja karena secara orang perorang mereka masing-masing cukup punya nama di bidang persinetronan dan film. Awalnya aku cukup canggung juga mengendarai mobil ini. Tapi pengalamanku mengendarai mobil-mobil besar membuatku cepat beradaptasi. Aku menyalakan mesin mobil dan mengamati orang-orang yang keluar dari dalam gedung. Banyak selebritis terkenala Indonesia yang hadir. Sesaat aku melihat Mike yang menjemput Sophia, istrinya dan anak tirinya, Eva. Aku pikir Mike sungguh laki-laki yang beruntung memiliki istri yang berpenampilan cantik dan menawan. Damn, she’s one hot MILF. Anak tirinya, Eva juga terlihat cantik dan manis malam itu. Kecantikan ibunya terlihat menurun padanya. Keluarga itu pun segera berlalu dengan mobil Mike. Beberapa saat kemudian aku melihat wajah manis Chelsea dan Laudya Chintya Bella. Dua artis remaja terkenal itu baru saja keluar dari gedung dan menunggu di teras gedung. Aku pun segera menjalankan limoku ke sana.

Aku menghentikan limoku di depan tangga teras gedung, lalu aku pun segera turun dari mobil untuk membuka pintu penumpang. Bella dan Chelsea pun datang menghampiri limo dan beranjak akan masuk ke mobil. Aku heran karena tidak melihat sisa anggota yang lain.

“Mmm… yang lainnya kemana non? Kok cuma berdua.”, tanyaku sambil memegangi pintu penumpang yang telah kubuka.

“Dua cowok itu dan Ayu punya acara sendiri setelah ini. Jadi mereka gak ikutan balik sama kita.”, jawab Chelsea dengan senyum manisnya. Aku suka dengan gadis ini karena dia sama sekali tidak sombong dan tidak memandang rendah aku yang saat ini bertugas sebagai supirnya. Apalagi dengan gaun hitam yang dipakainya itu membuat wajah manis dan polosnya itu tampak makin dewasa dan cantik malam ini.

“Ohh…begitu.”, jawabku. Chelsea pun beranjak masuk kedalam Limo dan Bella mengikutinya, tapi sebelum Bella melangkah masuk, terdengar suara cewek memanggil namanya.

“Bell…Bella! Tunggu.”, teriak suara itu. Bella menoleh kearah suara itu dan aku pun ikutan menoleh. Mataku semakin segar saat tahu siapa yang memanggil Bella. Seorang gadis cantik, tinggi dan ramping, setengah berlari menghampiri kami. Mata lebar, hidung mancung dan bibir tipis yang sensual menghiasi wajah cantik gadis itu. Rambutnya yang panjang dan hitam semakin membuatnya tampak sexy. Gaun hitam dengan strap dan bahu terbuka memperlihatkan bahunya yang mulus. Apalagi gaun itu berukuran pendek, terlalu pendek untuk menutupi kakinya yang jenjang dan panjang. Gadis itu adalah Nia Ramadhani, artis sinetron remaja yang cukup terkenal juga.

“Hi, Nia. Ada apa?”, tanya Bella.

“Mmm…gini Bell. Mobilku mogok, dan aku lihat kalian cuma berdua memakai mobil segede ini. Boleh nggak aku numpang balik?”, kata Nia.

“Boleh aja. Iya nggak Chel?”, kata Bella sambil meminta persetujuan temannya.

“Ya iya lah. Masuk aja.”, seru Chelsea dari dalam mobil.

“Thanks.”, kata Nia sambil mengikuti Bella yang sudah masuk ke dalam mobil duluan. Nia sempat melihat ke arahku dan tersenyum manis. Aku membalas senyumannya dan menutup pintu setelah ketiga gadis cantik itu sudah masuk kedalam bagian belakang limo.

Aku segera beranjak masuk ke belakang kemudi. Bagian depan dan belakang mobil limo ini dipisahkan sebuag kaca hitam yang bisa diturun naikkan. Aku tak bisa melihat ke arah mereka maupun mendengar suara mereka karena ruang belakang dibuat kedap suara untuk privasi penumpang. Satu-satunya cara agar penumpang bisa berkomunikasi dengan sopir adalah lewat intercom yang tersedia di mobil ini. Limo ini cukup lengkap dengan tivi, lemari es kecil, dan aksesori lain untuk kenyamanan penumpang.

Aku pun mulai mengemudi dengan hati-hati. Kemudi mobil ini cukup nyaman dan mudah dihandling. Aku cuma perlu menjaga haluan mobil mengingat mobil ini lebih panjang daripada mobil biasa. Aku menekan tombol intercom untuk menghubungi penumpang.

“Kita kemana non?”, tanyaku.

“Mmmm…kayaknya kita nganter Nia dulu deh Joe. Alamat kamu dimana Nia?”, terdengar suara Bella dari intercom yang ada di samping tempat dudukku.

“Aku balik ke apartemen aja. Di ……………..(edited).”, ganti suara Nia yang terdengar di Intercom.

“Oke, non.”, kataku sambil mematikan tombol untuk bicara di interkom. Aku pun mengemudikan tungganganku menuju ke alamat yang diberikan Nia.

Perjalanan sudah hampir setengah jalan saat aku mendengar suara gemirisik Intercom, lalu terdengar suara Bella.

“Joe. Mmm… mobil ini disewa sampai jam berapa sih?”, tanya Bella.

“Sampai aku sudah nganterin kalian semua pulang. Atau kalo misalnya kalian masih mau ke tempat lain, saya siap nganterin kemana aja, asal paling lambat besok jam 10 pagi, mobil ini sudah harus balik lagi ke garasi.”, jawabku. Aku sekalian menawarkan mengantar kalo mereka mau ke tempat lain, soalnya aku juga nggak ada kerjaan besok.

“Nah, gitu dong. Thanks ya Joe. Btw loe tahu ******* kan. Itu Nightclub yang ada di ******. Tahu gak? Kita mau mampir ke sana dulu.”, kata Bella.

“Oke. Mmm…tapi sebaiknya kalian telpon orang rumah dulu. Saya nggak mau nanti disangkain nyulik kalian berdua he…he..he..”

“Iya..iya…Aku dan Chelsea sudah bilang kalo mau nginep di apartemennya si Nia.”, jawab Bella.

Aku pun segera merubah arah tujuanku.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Dentuman musik trance yang dimainkan DJ memenuhi ruangan yang bercahaya remang-remang itu. Kilatan lampu disko yang gemerlap membuat aku masih bisa memperhatikan keadaan sekitar. Ruangan itu cukup besar, dengan meja dan kursi set yang berderet mengelilingi bagian tengah yang digunakan sebagai lantai dansa yang sedang dipenuhi orang-orang yang asyik meliukkan tubuhnya seiring dentuman musik dari DJ. Meja DJ terletak di salah satu pojokan yang berhadapan dengan pintu masuk. Di sebelahnya terdapat meja panjang yang tampaknya seperti bar, karena aku bisa melihat dua bartender sedang memperlihatkan aksinya me-mix minuman sambil memutar-mutar botol.

Aku berjalan mengikuti tiga sosok cantik yang melenggang di depanku. Nia Ramadhani berjalan paling depan diikuti oleh Laudya Cinthia Bella dan Chelsea Olivia di belakangnya. Nia tampaknya sudah sering ke tempat ini sebelumnya. Terlihat dari beberapa kali dia harus say hi dan berbasa-basi saat beberapa orang yang mengenalnya menyapanya. Bella juga tampak tak asing dengan suasana dugem seperti ini. Tubuhnya yang indah melangkah sambil sedikit bergoyang menikmati alunan musik. Hanya Chelsea yang tampak agak malu-malu dan lebih banyak diam. Nia mengajak kita bertiga menuju ke sebuah meja kosong yang terletak didekat Bar. Kami berempat pun duduk disana.

“Hi, Nia. Seperti biasanya? Mint Margarita?”, tawar seorang waiter yang tampaknya sudah mengenal Nia. Nia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian dia pun asyik melihat orang-orang yang sedang melantai sambil ikutan menggoyangkan badannya sambil duduk.

“Mmm… terus yang lainnya?”, waiter itu sekarang bertanya ke arah Bella.

“Gue sama aja deh kayak Nia. Loe mau pesen apa Chel?”, kata Bella. Chelsea tampak ragu, sebelum akhirnya dia menjawab.

“Gue Coke aja deh.”, kata Chelsea. Si waiter pun mencatat pesanan Bella dan Chelsea.

“Joe, kamu mau pesen apa?”, tawar Chelsea yang duduk disebelahku.

“Gue Jack on Ice. Double mix ya.”, kataku pada si waiter yang kembali mencatat pesanan. Kemudian waiter itu pun meninggalkan meja kami dan menuju ke arah bar.

Kami pun mengobrol dengan santai sambil menikmati minuman yang sudah iantarkan oleh waiter dan menikmati alunan musik dari DJ. Awalnya mereka cuma ngobrol bertiga, tapi Chelsea yang paling ramah diantara mereka mulai mengajakku mengobrol. Tapi berkat kepribadianku yang easy going dan ramah, akhirnya Bella dan Nia pun ikutan juga mengobrol denganku. Kayaknya nggak semua artis itu berlagak sombong, dan mereka bertiga ternyata asyik juga buat bertemen. Apalagi aku juga harus mencari koneksi selebritis sebanyak mungkin untuk misiku buat organisasi bang Jamal.

“btw si Ayu, Rafi sama Dimas kemana sih? kok gak ikutan pulang bareng kalian?”, tanya NIa pada suatu waktu.

“Biasalah. Rafi ama Dimas lagi gak sama ceweknya. Trus si Ayunya juga lagi kegatelan. Palingan mereka Threesome di apartemennya si Rafi hi..hi..hi…”, jawab Bella sambil peringas-peringis. Nia tertawa mendengar jawaban Bella, sementara si Chelsea kelihatan risih dan malu. Sedangkan aku hampir tersedak karena kaget mendengar komentar vulgar dari Bella. Aku paham kalo kehidupan artis umumnya biasa dengan free seks tapi aku tak menyangka kalo artis remaja kayak Ayusita ternyata juga hobby begituan. Dan dari reaksi Bella dan Nia, aku yakin mereka juga biasa dengan hal itu.

“Eh, kita turun yuk.”, ajak Bella sambil berdiri.

“Oke. Kita bikin suasana malam ini jadi makin panas.”, jawab Nia yang ikutan bangkit dan langsung menarik tangan Bella. Tapi Bella menahannya, lalu menoleh pada Chelsea.

“Gak ikutan Chel?”, tanya Bella.

“Gak ah. Gue mmm…gue disini aja.”, tolak Chelsea. Bella pun membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya bersama Nia menuju lantai dansa. Dua gadis remaja yang cantik dan terkenal itu pun segera menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama yang dimainkan DJ.

“Kenapa kamu gak ikutan?”, tanyaku pada Chelsea.

“Aku gak bisa.”, jawab Chelsea singkat sambil malu-malu.

“Lho?! Bukannya kamu sudah biasa nge-dance waktu tampil sama BBB?”, tanyaku heran.

“Mmm…. itu aja aku harus latihan lama banget. Dari kami berlima, aku yang paling lambat belajarnya.”, aku Chelsea sambil tersipu. Wajahnya yang manis jadi terlihat tambah manis.

“Biasa aja lagi. Semua yang ada disini tujuannya pengen seneng-seneng. Kamu mau jungkir balik atau ngapain aja, terserah kamu. Gak ada yang berhak protes. Lagian juga, cewek manis dan cantik kayak kamu, goyang gaya apa juga, pasti tetep kelihatan menarik.”, kataku. Chelsea hanya tersenyum manis mendengar pujianku.

“Gak percaya?! Coba lihat cowok yang disana. Walaupun gayanya norak, gak ada yang protes tuh.”, kataku sambil menunjuk ke arah seorang cowok yang lagi asyik goyang pake gaya robot yang udah kadaluarsa. Gerakannya kaku dan konyol lagi. Tapi dia tetep kelihatan enjoy, malah temen-temennya pada nyorakin dia dan ngeberi dia sedikit ruang buat makin unjuk gigi. Chelsea tertawa melihat cowok yang kutunjuk tadi.

Kemudian aku menunjukkan beberapa orang lagi dengan gaya norak yang tetep pede dan enjoy. Chelsea kembali tertawa. Apalagi saat aku nunjukin om-om setengah baya yang asyik goyang gaya “Kadir”, yang goyang cuman jempol tangannya doang.

“Hi…hi…hi… kamu bener juga ya. Mmmm….makasih ya buat nasihatnya.”, kata Chelsea.

“Sama-sama. Nggg….. Chel, gue mau ke kamar kecil dulu ya. Kamu nggak apa-apa aku tinggal sendiri?”, kataku yang tiba-tiba merasa pengen kencing.

“Oh pergi aja. Aku gak apa-apa kok.”, kata Chelsea.

Aku pun segera menuju ke toilet. Beberapa menit kemudian, setelah menuntaskan hajatku, aku pun kembali. Aku begitu terkejut saat melayangkan pandanganku ke arah lantai dansa. Aku melihat Nia Ramadhani dan Laudya Cinthya Bella sedang asyik bergoyang bersama. Yang membuatku kaget adalah tarian mereka, begitu hot dan erotis.

Mereka berdua menari sambil setengah berpelukan. Nia memeluk Bella dari belakang. Bella memejamkan matanya sambil bergoyang. Bella menggerakkan badannya naik turun, menggesek-gesekkan pantatnya pada paha Nia. Kaki kiri Nia ada diantara kedua kaki Bella yang sedikit membuka. Dengan begitu Bella terlihat tak hanya menggesekkan pantatnya tapi juga selangkangannya di paha Nia. Rok Bella agak terangkat ke atas hingga kadang orang bisa melihat pahanya yang mulus. Tangan kiri Nia merayap di paha mulus Bella, sementara tangannya yang kanan melingkari perut Bella dan memeluknya agar posisi mereka makin erat. Kadang tangan kanan Nia juga mengelus lembut perut Bella yang ramping, bahkan kadang seperti tak sengaja tangan Nia nyelonong agak ke bawah dan mengelus bagian selangkangan Bella. Tali gaun Bella yang sebelah kiri tampak turun terjuntai di lengannya. Hal itu tentu saja membuat gaun Bella bagian atas agak menyingkap sedikit dan membuat sedikit bagian dari bukit payudaranya sebelah kiri sedikit mengintip menggoda. Sementara itu, tangan Bella rupanya tak tinggal diam. Gadis cantik itu membalas perlakuan Nia dengan menjulurkan tangannya ke belakang dan meraba sepasang kaki jenjang Nia Ramadhani. Jemari lentik Bella tampak merayap di paha mulus Nia. Gaun Nia yang berpotongan pendek kontan kian terangkat. Hingga kadang-kadang kalo tangan Bella merayap terlalu tinggi, orang-orang pun bisa menikmati sebagian belahan pantat Nia yang dibalut thong warna hitam yang sangat sexy. Kedua artis remaja yang cantik itu melakukan semua itu sambil terus bergoyang mengikuti hentakan irama dari DJ. Bahkan aku sangat kaget saat Nia dengan berani mulai mendaratkan bibirnya ke bahu Bella. So Hot……. So Erotic…….

“Lepaskan aku! Jangan kurang ajar ya. Aku gak mau ah….TOLOOONGG.”

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seorang gadis yang rasanya aku kenal. Aku segera menoleh ke arah darimana teriakan itu berasal. Aku melihat Chelsea Olivia berteriak-teriak sambil berusaha meronta karena tangannya dicengkeram oleh seorang pria setengah baya yang bertubuh pendek tapi gemuk dan kekar. Aku pun segera melangkah dengan cepat ke arah Chelsea.

Aku segera menyentakkan tangan si gendut hingga cengkeramannya pada tangan Chelsea terlepas. Chelsea pun segera menarik tubuhnya ke belakang lalu berlindung di balik punggungku. Aku berdiri di antara Chelsea dan si gendut.

“Brengsek! Siapa loe?”, bentak si gendut dengan marah. Aku segera dapat mencium bau alcohol dari mulutnya. Si Gendut itu ternyata mabuk.

“Eits.., tenang dulu Bang. Gue cuman pengen tahu ada apa ini karena cewek ini temen gue.”, kataku mencoba mengalah karena gak pengen bikin ribut di tempat umum. Apalagi tiga cewek yang pergi bersamaku adalah artis. Kalo misalnya sampai terjadi keributan pasti akan jadi buruan media. Dan aku sebagai driver dan juga penjaga mereka malam ini harus mencegah hal itu terjadi. Itu sudah termasuk sebagai tugas driver dari seorang artis.

“Kenapa loe ribut?! Gue cuma mau kenalan sama si manis ini dan gue mau traktir dia minum. Tenang aja. Gue sanggup traktir loe semua, bahkan gue sanggup ngasih apa aja yang dia minta he..he…he…..”, kata si gendut sambil tertawa. Tampaknya si gendut itu tak mengenali Chelsea dan menganggap Chelsea hanya cewek biasa yang bisa dia goda seenaknya.

“Aku gak mau Joe. Aku takut.”, kata Chelsea dari belakangku. Gadis manis itu tampak ketakutan.

“Nah, abang denger sendiri kan. Temen saya gak mau ditraktir minum sama abang. Jadi lebih baik abang cari cewek lain saja buat diajak kenalan.”, kataku.

Praanngg…….

Si Gendut membanting gelas minuman di tangannya dan tampak marah. Aku pun segera maju setindak dan memasang wajah serius.

“Saya gak mau ribut, Bang. Tapi kalo abang memang pengen rebut, gue nggak akan mundur.”, ancamku sambil menatap tajam pada si gendut. Aku harus sedikit menunduk untuk menatap wajah si gendut yang pendek itu. Dan si gendut itu harus mendongakkan kepalanya. Tampaknya perbedaan tinggi tubuh itu membuat si gendut itu agak keder. Dia pun mundur setindak.

“Oke…oke….. Gue masih bisa dapetin pelacur yang lebih cantik daripada dia he…he…he…”, ejek si gendut sambil melangkah pergi dengan agak sempoyongan.

Aku pun membalikkan tubuhku dan memegang lengan Chelsea yang masih tampak ketakutan. Tanganku mengelus lembut lengannya yang mulus mencoba untuk menenangkan artis belia yang cantik manis itu.

“Kamu gak apa-apa Chel?”, tanyaku. Gadis manis itu hanya menganggukkan kepalanya. Chelsea terlihat sudah lebih tenang walaupun masih ada sinar ketakutan dari matanya.

“Tenang Chel. Ada aku disini, dan gak akan ada yang berani ganggu kamu lagi.”, hiburku sambil membimbing Chelsea ke meja kami dan duduk di kursi.

“Minum dulu Chel. Biar loe bisa tenang.”, kataku sambil menyodorkan segelas coke pada Chelsea. Gadis itu mengambilnya lalu meminumnya. Aku hanya menatapnya sambil tersenyum agar gadis belia itu tenang. Chelsea tampak jauh lebih tenang setelah menenggak coke yang kusodorkan.

Aku pun duduk di sebelah Chelsea. Tanganku mengelus lembut punggungnya agar gadis cantik yang berwajah innocent itu merasa lebih tenang. Ya sekalian ambil kesempatan sih he…he…he… Tapi kayaknya Chelsea nggak keberatan.

“Thanks Joe. Tadi aku bener-bener takut banget. Untung aja kamu segera datang.”, kata Chelsea.

“Gak usah dibesar-besarin. Itu emang udah tugasku kok.”, kataku biar kelihatan rendah hati dan tidak sombong. Jaim dikit gak apa-apa kan.

Chelsea cuma tersenyum manis sambil menatapku dengan tampang imutnya yang polos banget itu. Mataku tak pernah lepas dari bibir manisnya yang tersenyum itu. Artis remaja yang satu ini emang punya bibir yang indah. Bibirnya gak bisa dibilang sexy tapi manis dan ngemesin. Pengen rasanya aku ngelumat bibir manis itu habis-habisan, tapi aku mesti tahu diri.

Tiba-tiba wajah Chelsea terlihat memancarkan rasa gelisah dan takut lagi.

“Ada-apa Chel?”, tanyaku. Wajah Chelsea mulai tampak pucat.

“I…itu Joe. Nia sama Bella….mereka……”, jawab Chelsea dengan gugup sambil menunjuk ke arah lantai dansa. Aku pun segera melihat ke arah yang ditunjuk Chelsea.

Aku melihat ada dua orang cowok yang tampaknya ingin mengganggu Nia dan Bella. Mereka berdua kelihatannya memaksa untuk berdansa dengan dua gadis itu. Mereka sama-sama memeluk dua gadis cantik itu dari belakang dan memaksa mereka menari sensual seperti yang tadi dilakukan Bella dan Nia. Dua orang pemuda itu memeluk Nia dan Bella dengan erat dan menggesekkan selangkangan mereka pada pantat dua artis remaja itu. Tentu saja Nia dan Bella tak mau meladeni mereka. Mereka mencoba berontak sambil berteriak-teriak tapi dua pemuda itu memaksa. Beberapa pengunjung lain melihat kejadian itu tapi tak ada yang berani menolong. Dan rupanya suasana Night Club yang sangat ramai membuat pihak securiti tempat ini juga tak mengetahui kejadian itu. Aku pun bergegas menghampiri mereka.

Aku menghampiri Bella terlebih dulu. Tanganku segera meraih kerah baju cowok berambut jabrik yang memaksa memeluk Bella. Saat cowok itu kaget, aku pun segera menarik Bella hingga terlepas. Kemudian sebelum si jabrik itu menyadari apa yang terjadi, aku segera mendorong tubuhnya dengan kedua tanganku hingga cowok itu pun terjatuh.

Saat aku membalikkan tubuhku untuk menolong Nia, ternyata pemuda yang rambutnya dicat kuning yang tadi mengganggu Nia sekarang sudah melepaskan gadis cantik itu. Dan bukan itu saja, kepalan tangannya ternyata sudah diayunkan ke arah mukaku diiringi jeritan Nia.

Aku memang tak pernah belajar bela diri tapi tak percuma aku hidup di jalanan dan berkecimpung di kerasnya dunia bawah ibukota selama beberapa tahun. Pengalamanku membuat aku menjadi tenang dalam menghadapi serangan mendadak itu. Mataku tak pernah berkedip sedikitpun dan dengan tabah mengikuti setiap gerakan musuh yang kuhadapi. Pukulan si rambut kuning itu kuamati baik-baik dan saat pukulan itu hampir mencapai wajahku, aku pun mengegoskan badan bagian atasku dan wajahku ke samping hingga pukulan itu lewat tipis di sampingku. Dengan reflek yang sudah mendarah daging di tubuhku, kedua tanganku dengan cepat menangkap pergelangan tangan si rambut kuning. Aku pun segera menarik tangan si pemuda itu mengikuti arah pukulannya sendiri, diiring dengan kaki kananku yang melangkah maju kedepan dengan bersilang hingga posisi tubuhku kini membelakangi pemuda itu sambil agak membungkuk. Gerakanku membuat tubuh pemuda itu membentur punggungku, tapi aku terus menarik tangannya yang tadi memukulku searah dengan arah pukulannya. Pinggul dan punggungku kugunakan sebagai tumpuan. Dengan tanpa susah payah dan memanfaatkan tenaga pukulan pemuda itu, aku pun berhasil melontarkan tubuh si rambut kuning hingga dia pun terbanting dengan punggung yang mendarat di lantai dansa night club yang keras. Bantinganku ternyata cukup keras hingga si rambut kuning pun kontan pingsan tergeletak di lantai.

“Aiih…awasss Joe……”, teriak Chelsea padaku. Instingku merasakan ada bahaya yang datang mengancam. Aku pun membalikkan tubuhku sambil melompat mundur sejauh yang aku bisa, walaupun aku belum tahu apa yang membuat Chelsea berteriak kuatir.

Untung saja aku mempercayai firasatku yang bangkit karena teriakan Chelsea karena ternyata pemuda berambut jabrik yang tadi kudorong jatuh sudah bangkit. Tangannya memegang sepucuk pisau yang sedang di sabetkannya ke arahku. Gerakanku melompat mundur untuk berjaga-jaga tadi ternyata sudah menyelamatkan nyawaku. Sabetan pisau itu luput memberikan luka yang fatal buatku. Walaupun aku merasakan sedikit perih di perutku karena ujung pisau itu masih sempat sedikit menyerempet kulit perutku, tapi kurasa aku hanya menderita luka ringan saja. Aku bersyukur karena terlambat sedikit saja, aku bisa kehilangan nyawaku disini.

Kini aku sudah siap menghadapi si jabrik yang berdiri mengancam sambil mengayun-ayunkan pisaunya. Seluruh urat syarafku tegang dan aku pun berkosentrasi menghadapi serangan si jabrik. Aku ragu untuk menyerang karena melihat pisau yang berayun didepanku. Keraguan itu memberikan masalah buatku karena ketenanganku ikutan terusik. Dan saat si jabrik kembali menyabetkan pisaunya, aku pun jadi tak bisa memperhatikan dengan jelas arah serangannya dan hanya bisa melompat mundur dengan membuta. Ternyata sabetan pisau si jabrik mengarah ke bawah dan berhasil merobek celana jeansku dan melukai paha kananku walaupun tak terlalu parah.

Rasa perih di pahaku membuatku tersadar dan mengembalikan ketenanganku. Aku berkata pada diriku sendiri kalau aku harus tenang kalo mau selamat. Saat si jabrik kembali mengayunkan pisaunya, ketenanganku sudah kembali, dan dengan perhitungan yang cermat aku menggerakkan tangan kiriku menangkis tepat di pergelangan tangan si jabrik yang memegang pisau. Tangkisanku yang kugerakkan dengan sekuat tenagaku itu membawa hasil, pisau yang dipegang tangan kanan jabrik itu pun terjatuh ke lantai karena pergelangan tangannya yang menjadi pusat tenaga kuhantam dengan keras. Jabrik kelihatan kaget melihat aksiku yang berhasil meruntuhkan senjatanya. Sebelum hilang rasa kagetnya, kepalan kananku dengan cepat kuayunkan ke arah wajahnya dan menghantam hidungnya dengan keras. Kurasakan darah membasahi kepalanku, dan aku melihat jabrik jatuh tersungkur dengan hidung berlepotan darah.

Sebelum aku sempat menyarangkan serangan susulan, tiba-tiba datang empat orang petugas keamanan night club yang datang melerai kami. Aku pun mengurungkan niatku dan menghampiri Nia, Bella dan Chelsea yang berdiri dengan wajah kuatir dan ketakutan. Sementara itu, si jabrik dan si rambut kuning sudah diringkus dan diamankan oleh petugas keamanan night club.

“Kalian nggak apa-apa?”, tanyaku pada Nia dan Bella. Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya karena kelihatan masih shock.

“Kalo begitu sekarang kita harus cepet pergi dari sini sebelum keribuatan ini mengundang perhatian media.”, kataku. Ketiga gadis itu mengangguk setuju dan bergegas mengikuti aku pergi keluar setelah Nia membereskan tagihan minuman serta memberikan uang lebih untuk mengganti kerugian atas keributan tadi.

Saat aku membukakan pintu limo untuk ketiga gadis itu, Chelsea menjerit lirih.

“Ya Tuhan. Kamu terluka Joe!”, kata Chelsea saat melihat baju dan celanaku yang robek dan ada sedikit darahdari perut dan paha kananku. Nia dan Bella tampaknya juga baru sadar akan lukaku dan kini mereka ikutan memandang kuatir padaku.

“Nggak apa-apa. Cuman luka kecil doang.”, kataku sambil tersenyum agar mereka tak terlalu kuatir. Tapi perih di perut dan di pahaku membuat senyumanku malah jadi seperti menyeringai.

“Luka kecil gimana? Sampai berdarah gitu.”, kata Nia.

“Kalo gitu sekarang kita ke rumah sakit.”, kata Bella.

“Jangan! Kita jangan ke rumah sakit!”, cegahku dengan cepat.

“Tapi luka kamu…?”, kata Chelsea dengan lirih dan wajah kuatir. Dua gadis yang lainnya tampak heran dengan keenggananku pergi ke rumah sakit.

“Di setiap rumah sakit, pasti ada wartawan yang stand by. Dan kalo mereka sampai melihat kalian dengan aku yang terluka, wah bisa gawat. Kejadian ini pasti langsung muncul di acara gosip besok pagi. Hal itu pasti buruk buat kalian dan buat aku yang harus menjaga kalian temasuk menjaga dari gosip-gosip kayak gitu. Lagian Chelsea dan Bella pasti nggak ingin ortu kalian tahu kalo malam ini kalian pergi clubbing kan?!”, jelasku. Ketiga gadis itu pun kini mengerti alasan keenggananku pergi kerumah sakit.

“Kalo begitu kita sekarang ke apartemenku aja. Kita bisa ngerawat luka Joe disana, kalo perlu aku bisa manggil dokter ke apartemen.”, usul Nia. Chelsea dan Bella setuju. Aku pun segera mengajak mereka meninggalkan tempat parkir Night club itu.

* * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * *

Ruangan apartemen itu cukup besar dan lumayan mewah. Ruang tamu dan ruang santai terlihat saat aku mulai memasuki ruang apatemen itu. Sofa putih dan meja kayu dengan disain indah dan berkelas menghiasi ruang tamu apartemen itu. Sementara itu di ruang tengah yang tampaknya berfungsi sebagai ruang santai terlihat sofa besar berwarna merah muda dan TV plasma layar lebar lengkap dengan set home theatre-nya. Aku melihat sebuah pintu yang tampaknya mengarah ke kamar tidur Nia. Dan di belakang, aku melihat sebuah ruangan kecil yang tampaknya menjadi dapur sekaligus ruang makan.

Setelah memasuki apartemen, baru aku merasa tenang. Setelah semua keteganganku itu lewat, aku pun merasa tubuhku letih dan perih di perut dan paha kananku pun jadi terasa kembali. Dengan tertatih-tatih dan bersandar pada bahu Chelsea yang membimbingku, aku pun melangkah keruang tengah dan menjatuhkan tubuhku pada sofa besar berwarna pink itu.

“Chel, kamu bantu Joe buat ngelepasi bajunya supaya kita bisa ngobatin dia. Aku ambil kotak P3K dulu.”, kata Nia sambil bergegas ke ruang belakang. Tampaknya gadis itu menyimpan kotak itu di dapurnya. Aku pun segera melepas jas dan baju yang aku kenakan. Sementara Chelsea dan Bella duduk di kanan kiriku dengan wajah kuatir.

Ternyata luka di perutku cuma goresan tipis aja. Bella tampak lega saat melihat lukaku yang ringan, tapi Chelsea masih tetap kelihatan kuatir. Mungkin gadis yang paling muda usianya itu masih shock dengan kejadian malam ini.

“Nih, obatnya.”, kata Nia yang kembali sambil menyerahkan sebuah kotak putih pada Bella. Bella membukanya dan tampak perlengkapan pertolongan pertama pada kotak putih itu. Artis yang satu ini ternyat cekatan juga untuk urusan beginian. Dengan lincah dia mengambil botol cairan anti infeksi dan memberikannya di atas lukaku.

Kemudian Bella menyuruhku membuka celanaku agar bisa mengobati luka di pahaku. Aku menurutinya hingga sekarang aku hanya mengenakan celana kolor warna biru muda. Luka di pahaku lebih dalam daripada luka di perutku, hingga Bella pun perlu untuk menggunakan perban untuk membalutnya setelah membersihkan dan mengobati lukaku.

“Joe, malam ini kamu nginep disini aja. Tapi maaf banget ya. Kamarku cuman satu, jadi kamu terpaksa tidur di sofa ini. Chelsea dan Bella bisa tidur sama aku di kamar.”, kata Nia.

“It’s OK. Gue bisa tidur dimana aja kok.”, kataku.

“Ya udah. Sekarang gue mau cuci muka dan ganti baju tidur dulu. Eh, kalian berdua bisa pakai baju tidurku.”, ajak Nia pada Bella dan Chelsea. Ketiga gadis itu pun meninggalkanku dan masuk ke dalam kamar. Tampaknya kamar mandi Nia ada di dalam kamar tidurnya. Aku pun bersandar di sofa itu sambil memejamkan mataku.

Sekitar dua puluh menit kemudian, aku pun membuka mataku saat aku merasa ada orang duduk disampingku. Saat aku membuka mataku dan menoleh ke kanan, aku melihat Chelsea Olivia duduk di sampingku. Gadis belia itu rupanya sudah berganti pakaian dan sekarang memakai kaos oblong putih yang ukurannya kebesaran. Wajahnya tampak segar, tampaknya dia sudah cuci muka. Chelsea jadi tampak makin manis dan segar sehabis cuci muka. Artis remaja yang satu ini memang lebih pantes dengan make up natural atau tanpa make up seperti saat ini. Wajahnya yang imut jadi kelihatan makin manis dan ngegemesin.

“Kamu manis banget, Chel.”, komentarku otomatis. Wajah Chelsea memerah dan tersipu mendengar pujianku. Aku mengambil kesempatan untuk lebih memperhatikan sosok manis didepanku. Kaos oblong kedodoran yang dikenakannya memang membuatku tak bisa melihat bentuk tubuh gadis itu dengan jelas, tapi aku yakin sekali dibalik kaos itu terdapat tubuh indah seorang gadis remaja yang mulai berkembang. Saat aku mengarahkan pandanganku makin kebawah, aku jadi makin bersemangat. Kaos oblong yang dikenakannya memang mentupi tubuh Chelsea sampai ke paha atasnya, tapi aku yakin Chelsea hanya mengenakan celana dalam pada tubuh bagian bawahnya karena aku tak melihat ada tonjolan pada kaosnya yang menandakan gadis itu memakai celana atau rok. Gairahku sedikit terusik saat aku bisa menikmati paha Chelsea yang berkulit putih mulus itu. Saat aku menatap wajah Chelsea lagi, aku melihat gadis manis itu tersenyum tersipu. Mataku segera terpaku pada bibirnya yang manis. Bibir itu sedikit meruncing dibagian atasnya dan sedikit terbuka. Bener-bener manis dan ngegemesin banget.

“Aku harus melumat bibir manis itu.”, pikirku dalam hati. Aku bersiap untuk mendekatkan wajahku tapi urung karena aku mendengar suara pintu yang terbuka.

Aku menghentikan niatku dan menoleh ke arah pintu kamar Nia. Aku tersentak dan hanya bisa terdiam dan terpaku di sofa saat melihat pemandangan didepanku. Tampaknya Nia dan Bella juga sudah mencuci muka dan kini mereka berdua melangkah keluar dari kamar dan menghampiriku. Yang membuatku terpaku adalah dua gadis cantik itu rupanya kini sudah berganti pakaian dengan gaun tidur.

Nia Ramadhani mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah menyala yang kelihatan begitu serasi dengan kulitnya yang putih mulus. Gaun tidur itu bermodel terusan tapi berukuran pendek hingga aku bisa menikmati mulusnya kaki jenjang Nia yang terlihat panjang dan sexy. Gaun tidur itu berbahan tipis dan dengan samar aku bisa melihat celana dalam yang dikenakan Nia dari balik kain gaun tidur itu. Yang membuat aku semakin terpesona adalah putting payudara Nia yang tercetak dan membayang pada gaun tidurnya karena tampaknya gadis tinggi langsing itu tak mengenakan bra di balik gaun tidur itu.

Sedangkan Bella tak kalah mempesona. Artis jelita pacar pembalap nasional itu mengenakan gaun tidur berwarna hitam yang membuat kulitnya makin nampak putih. Walaupun warna gaunnya membuat aku tak bisa menerawang tubuhnya dari balik kainnya, tapi aku yakin kalo gadis cantik itu juga tak mengenakan bra karena puttingnya juga tercetak jelas di gaun tidur itu. Apalagi payudara Bella tampaknya sedikit lebih besar dari Nia hingga aku bisa menangkap gerakan samar dari dadanya saat dia melangkah.

“Gimana Joe? Udah baikan.”, kata Nia sambil menghempaskan tubuhnya di sebelah kiriku.

“Ehmm..eeh… u..udah. Udah gak apa-apa kok.”, jawabku sambil agak gugup karena lamunan kotorku.

“Iihhh….”, pekik Chelsea lirih tapi jelas terdengar oleh kami semua. Saat aku menoleh ke arah Chelsea, tampak wajah gadis itu kaget dan memerah. Pandangannya mengarah ke bawah.

“Hi…hi….hi…..”, suara tawa Nia dan Bella kemudian terdengar hampir berbarengan di telingaku. Saat aku melihat mereka. Tampak mereka tersenyum sambil tertawa lirih. Pandangan mereka juga mengarah ke arah bawah. Aku mengikuti arah pandangan gadis-gadis cantik itu, dan……

“Mmm..itu….eengg…anu…..sorry.”, kataku dengan jengah saat menyadari apa yang menjadi perhatian dari tiga gadis remaja yang cantik-cantik itu. Ternyata mereka semua sedang melihat ke arah celanaku yang kini berbentuk seperti sebuah tenda. Saat ini memang aku tak mengenakan celana dalam di balik kolor biru mudaku. Dan pemandangan menggairahkan dari tiga gadis remaja yang cantik itu membuat Joe jr. yang ada di dalam sana mulai bangkit dan berdiri menantang dengan gagahnya.

“Kayaknya luka Joe nggak membuat fungsi organnya yang satu ini jadi berkurang hi…hi…hi…”, celetuk Bella. Nia tertawa mendengar komentar Bella, sementar Chelsea hanya tersenyum lebar. Aku jadi makin jengah tapi tak mengurangi gairahku karena Joe jr. tak juga mau tidur.

“Eh, Bell. Gue gak pernah lihat gundukan selangkangan cowok segede gini. Jdai penasaran pengen lihat dalamnya.”, kata Nia. Jemarinya yang lentik dan panjang mulai merayap di tenda celanaku, meraba kontolku dari lapisan celana kolorku.

“Joe….Nia boleh lihat nggak?”, kata Nia dengan suara menggoda. Aku seperti bisa melihat pancaran gairah dari wajahnya. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dengan pelan.

Jemari lentik Nia bekerja dengan cepat menarik celana kolorku kebawah. Dan Jreeeengg…….. Joe jr. kini terlihat mulai menyombongkan dirinya. Berdiri dengan ukuran penuhnya yang besardan panjangnya boleh diadu dengan bintang film porno profesional dari luar. Aku senang melihat ekspresi wajah dari tiga artis remaja yang sedang naik daun itu. Nia dan Bella sama sekali tak menyembunyikan kekaguman mereka, sedangkan Chelsea tampak melirik sambil malu-malu.

“Wah, gede banget. Kayak yang di film-film ya.”, komentar Nia. Jemari lentiknya mulai menggenggam kontolku dan bergerak naik turun dengan perlahan. Aku hanya bisa mendesah menikmatinya.

“Iya. Ini sih dua kalinya punya Nanda.”, sahut Bella. Gadis itu kini berjongkok didepanku, jemarinya mengelus buah pelirku. Kemudian Bella mendekatkan wajahnya dan bibirnya mengecup kepala kontolku yang makin membengkak.

“Aaahhh…sstt….”, desisku saat Bella menyingkirkan tangan Nia dari kontolku lalu artis remaja yang cantik itu menjulurkan lidahnya menjilati batang kontolku.

Aku menoleh ke arah Nia yang kini memandangku dengan wajah penuh dengan gairah birahi. Aku meraih kepala Nia dan menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku segera mencari bibir Nia ramadhani dan melumatnya dengan penuh nafsu. Nia membalasku dengan gairah yang sama. Kami berciuman selama beberapa menit, dan selama itu Bella terus menjilati kontolku dengan lidah dan bibirnya. Nia kemudian melepaskan ciumanku.

“Lebih baik kita pindah ke dalam kamar aja.”, kata Nia. Kemudian gadis itu pun bangkit berdiri, tangannya meraih kemaluanku dan menggenggamnya erat. Aku pun terpaksa ikut bangkit dan mengikuti Nia menuju kamar karena gadis itu menarik kontolku.

Kamar Nia ternyata lebih besar dari perkiraanku. Aku melihar sebuah ranjang besar yang ada di tengah ruangan. Dilengkapi dengan bantal-bantal dan guling dengan motif girly dan lucu. Lemari pakaian berukuran besar terdapat di salah satu pojok ruangan. Dan ada sebuah cermin yang berukuran besar berdiri di pojokan yang lain. Tampaknya Nia senang mengagumi kecantikannya sendiri lewat cermin besar itu. Aku tak sempat memperhatikan hal lainnya karena Nia kini memelukku dan tangannya menarik kepalaku mengajakku berduel lidah dalam ciuman yang panas. Aku pun melayaninya dengan senang hati. Kami berdua terus berciuman sampai kami sama-sama terguling di ranjang besar itu.

“Ayo, dong Chel. Kamu ikutan masuk aja.”, terdengar suara Bella. Saat aku menoleh, kulihat Bella sedang menarik Chelsea untuk masuk ke dalam kamar.

“Nggak ah, Bell. Aku gak pernah. Aku gak mau khianatin Glen.”, kata Chelsea. Nia yang ikutan melihat pertikaian mereka lalu ikutan nimbrung.

“Nggak akan ada yang maksa loe buat ikutan kok, Chel. Tapi loe masuk aja, walaupun cuman liat doang. Kan gak enak kalo cuma loe sendiri yang di luar.”, bujuk Nia.

“Gue jamin loe bakalan tetep virgin deh. Kecuali kalo lo sendiri yang mau. Ayo, dong…. Itung-itung loe belajar sambil ngeliat kita. Biar loe lebih canggih kalo loe nanti sama Glen, ya gak Ni hi…hi…hi….?”, kata Bella. Akhirnya Chelsea pun terpaksa mengikuti kemauan dua temannya. Gadis manis yang berusia paling muda itu pun ikutan masuk, tapi Chelsea hanya duduk di pinggiran ranjang.

Aku pun melanjutkan aksiku. Kulumat lagi bibir Nia, dan tanganku segera menjelajahi tubuh mulusnya yang ramping. Aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat pada batang kontolku, ternyata Bella sudah memainkan lidahnya disana.Bahkan bintang sinetron yang lagi naik daun itu mulai berani mengulum kontolku dan menjepitnya dengan bibirnya yang penuh itu.

“Gila, Joe. Punya loe emang gede banget ya. Gue harus nganga lebar banget biar bisa masuk.”, komentar Bella. Gadis itu berusaha memasukkan kontolku ke dalam mulutnya, walaupun dia belum berani memasukkan sampai dalam banget, baru kepala sama sedikit bagian batanagnya aja. Nia yang mendengar komentar Bella segera memandang ke bawah, lalu gadis itu pun menyeret tubuhnya ke bawah. Bersama dengan Bella, Nia pun mulai ikutan memainkan batang kontolku yang mengacung keras sampai uratnya kelihatan.

“Oooghhh…..”, aku hanya bisa mendengus menahan nikmat dengan permainan Nia dan Bella yang begitu kompak dibawah sana. Bila Nia sedang bermain di kepala dan ujung batang kontolku, maka Bella beraksi menjilati pelir dan pangkal joe jr. Begitu juga sebaliknya. Kadang mereka bahkan sama-sama menjepitkan bibir mereka di batang kontolku dan bergerak naik turun dengan berbarengan. Aku benar-benar dibuai kenikmatan dan sama sekali tak menyangka kalo akubakalan beruntung banget malam ini. Dua artis remaja yang sama-sama terkenal dan cantik sekarang sedang sibuk melakukan oral seks yang nikmat banget padaku.

Hampir 5 menit mereka berdua terus mempermainkan batang kontolku dan aku harus bertahan sekuat mungkin menhan kenikmatan yang diberikan oleh gadis-gaids cantik itu. Tiba-tiba Nia Ramadhani bangkit lalu segera melepas gaun tidurnya hingga kiin aku bisa menikmati tubuh telanjangnya yang indah hanya dengan celana dalam model thong berwarna merah.

“Bell, gue duluan ya. Udah pengen banget nih.”, kata Nia. Tampaknya cewek cantik yang bertubuh tinggi langsing itu sudah pengen menikmati hidangan utama.

“Kok gitu sih? Gue kan juga udah pengen. Baiknya kita tanya Joe aja deh. Dia pengen ML sama siapa duluan.”, kata Bella sambil ikutan melepaskan gaun tidurnya. Sesuai dugaanku. Bella juga tak mengenakan bra dan hanya mengenakan sehelai thong berwarna hitam. Walaupun tubuh Bella lebih pendek dari Nia, tapi ternyata lekuk tubuhnya lebih berisi. Payudaranya bahkan sedikit lebih besar dari Nia.

Mereka berdua sama-sama menatapa padaku dengan wajah yang merayu menggoda. Aku jadi bingung harus milih yang mana.

“Gimana kalo kita adain pertandingan dulu? Siapa yang menang, boleh duluan.”, usulku.

“Pertandingan apaan?, tanya mereka berdua hampir berbarengan.

“Siapa yang bisa paling banyak masukin batangan joe jr. ke dalam mulut, itu yang menang. Gimana?”, usulku. Tadi saat mereka berdua mengoralku, aku merasakan kalo mereka belum maksimal dalam usaha mereka saat mencoba mengulum batangku. Gak ada yang nyoba Deep throat. Makanya gue ngajuin usul ini, karena gue pengen ngerasain di deep-throat sama artis-artis cantik kayak mereka.

“Oke, siapa takut?!”, kata Nia. Bella pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Aku pun segera beringsut ke bagian kepala ranjang dan menyandarkan kepalaku di sana dengan punggungku terganjal bantal. Dengan begini aku bisa lebih menikmati pertandingan ini.

“Sini, Chel. Loe yang jadi jurinya, kalian setuju kan?”, kataku. Nia dan Bella menganggukkan kepalanya. Dan Chelsea pun segera duduk disampingku. Tampaknya gadis belia itu juga tertarik dengan pertandingan ini, walaupun masih terlihat malu.

“Aku duluan ya.”, kata Bella sambil tubuhnya merangkak di dekat kakiku sampai kepalanya dekat dengan selangkanganku.

“Hhhmm…yeah…..”, desisku saat Bella mulai mengoral joe jr. Dijilatinya batang kontolku dari pangkal sampai ke ujungnya. Kemudian Bella mulai memasukkan batang kontolku ke dalam mulutnya. Bibirnya yang sexy dan penuh terasa hangat dan nikmat menjepi batangku. Bella tampaknya tak langsung melakukan deep throath melainkan berencana melakukannya secara bertahap. Artis remaja yang cantik itu mulai dengan hanya mengulum bagian kepala kontolku saja sambil memainkan lidahnya.KEmudian kepalanya melakukan gerakan naik turun. Setelah beberapa saat baru Bella memasukkan sedikit lebih dalam, lalu kembali naik turun dalam kedalam yang sama. Setelah beberapa saat baru dimasukkan lagi lebih dalam. Tampaknya Bella mempunyai taktik untuk membiasakan dirinya terlebih dulu agar mulutnya dapat menampung kontolku. Mungkin juga dia juga menikmati acara pertandingan itu yang terpancar dari tatap matanya yang penuh gairah. Aku sih sama sekali tak keberatan karena kenikmatan yang aku dapat malah lebih besar.

“Uughh…Bell….yesss…….”, desisku yang menikmati jepitan bibir, permainan lidah, dan kuluman mulut Laudya Chintya Bella di kontolku. Tiga menit berlalu dan sekarang Bella sedang dalam usaha maksimalnya.

“Ssluurppp…..mmmhhhpp……mmpppphh…..”, gumam Bella tak jelas dengan batang kontolku menyumpal mulutnya. Artis sinetron yang cantik itu ternyata berhasil memasukkan sampai setengah dari batang kontolku yang besarnya sama dengan Rocco Sifredi, bintang porno ternama itu. Itupun dengan bersusah payah dan beberapa kali Bella seperti hampir muntah. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku pun merasakan ujung joe jr. sampai ke kerongkongan Bella.

“Uhukk..ughh…udah..ha….gue cuman bisa segitu.”, kata Bella saat gadis itu melepaskan kulumannya sambil terbatuk.

“Gimana Chel, loe udah inget-inget kan hasilnya si Bella?”, tanyaku.

“Udah. Bella bisa masukin setengahnya.”, jawab Chelsea.

“Sekarang giliran loe.”, kata Bella pada Nia sambil tersenyum. Tampaknya Bella cukup yakin dengan hasil yang diraihnya. Tapi si Nia membalas senyuman Bella dengan tatapan penuh percaya diri.

“It’s all yours, babe.”, kataku pada Nia dan tak sabar ingin merasakan oral seks dari cewek cantik bertubuh tinggi langsing itu. Tapi Nia Ramadhani bukannya mendekatkan wajahnya pada Joe jr. Gadis itu malah naik ke ranjang lalu merebahkan dirinya terlentang dengan posisi lehernya ada di pinggiran ranjang hingga kepalanya bergsntung dipinggiran ranjang. Sambil tetap berbaring terlentang, Nia lalu mendongakkan kepalanya hingga rambutnya kini menjuntai di lantai, kepalanya dalam posisi terbalik dengan mata di bawah dan mulut di atas.

“Joe, loe turun dari ranjang lalu berdiri di depan sini.”, pinta Nia. Aku menurutinya lalu aku pun mengambil posisi berdiri di dekat wajah Nia. Aku pun mulai mengerti maksud Nia, dan sedikit merendahkan badanku agar posisi Joe jr. kini tepat berhadapan dengan bibir Nia yang terbuka.

“Come on Joe. Fuck my mouth.”, kata Nia Ramadhani. Aku pun dengan senang hati menurutinya.

“Hhhmmm…..sstt…..”, desisku saat aku mulai memasukkan joe jr. ke dalam mulut Nia yang terbuka lebar. Nia ternyata tak sekedar membuka mulutnya tapi juga lidahnya menyambut kontolku dengan hangat. Aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur dan menikmati sepongan Nia dengan cara istimewa ini. Aku seperti mengentot mulut Nia dengan kontolku.

Kedua tangan Nia memegang pinggulku untuk mengontrol dalamnya penetrasi yang kulakukan. Aku pun mengikuti arahan Nia dan tak ingin memaksanya. Bisa gawat, kalo aku memaksanya karena aku tak ingin dijebloskan ke penjara gara-gara membunuh seorang gadis remaja yang mati gara-gara tersedak kontolku. Bener-bener gak pantes kalo dimuat di tv he..he..he…

Aku suka sekali dengan posisi ini karena aku bisa bebas melihat tubuh Nia Ramadhani yang telanjang. Nia bisa dibilang type skinny girl dengan tubuhnya yang kurus langsing. Tipikal tubuh seorang model lah. Tubuh langsing dengan kaki yang jenjang dan panjang itu dibalut kulit yang putih mulus dan lembut. Perut rata dan kecil tampak serasi dengan lekuk pinggulnya. Payudaranya hampir tak kentara dalam posisi berbaring seperti ini, hanya berupa gundukan kecil saja. Tapi walaupun bukit payudaranya hampir seperti rata, ternyata payudara Nia memiliki putting yang berukuran cukup besar. Putting itu besarnya hampir seujung jari kelingking, berwarna coklat muda dan mengacung tegak menggemaskan. Jemariku pun mulai merayap kesana dan dengan gemas mempermainkan putting itu. Kadang kupelintir, kadang kutarik sambil kupencet gemas.

“Hhhmmmppp….hhmppp….”, gumam Nia tak jelas mungkin merasa nikmat saat putingnya kupermainkan. Artis cantik bekas pacar vokalis Samson Band itu terus memberiku kenikmatan dengan mulut dan lidahnya.

Nia juga mengatur penetrasiku secara bertahap juga, seperti Bella. Tapi si Nia ternyata sedikit lebih pintar. Posisi ini membuat posisi mulutnya yang terbuka searah dan sejajar dengan lehernya. Setelah hampit tiga menit aku terus memompa mulutnya kini aku merasakan Nia mulai berani menarik pinggulku agar penetrasi Joe jr. bisa lebih dalam. Aku merasakan ujung kontolku mulai memasuki tenggorokan Nia Ramadhani. Posisi ini membuat kontolku lebih mudah dalam melakukan penetrasi. Walaupun Nia sampai seperti tersedak dan mau muntah tapi gadis itu berhasil memasukkan separuh lebih dari batang kontolku. Aku tahu pertandingan ini dimenangkan Nia.

“Ugghh…uhuk..uhuk…”, Nia agak terbatuk-batuk saat akhirnya dia mendorong pinggulku dan membuat kontolku keluar dari mulutnya. Aku pun sedikit menjauh, dan Nia pun segera bangkit duduk. Walaupun terbatuk-batuk dan ada airmata menetes dari pelupuk matanya, tapi wajah Nia tampak berseri-seri dan bangga.

“Gimana? Gue yang menang kan?”, kata Nia.

“Iya, kamu yang menang. Kamu berhasil masukin lebih dari separuh anu-nya Joe.”, jawab Chelsea. Nia pun menoleh pada Bella dengan senyum kemenangan.

“Curang. Loe pake posisi yang laen.”, kata Bella sambil bersungut-sungut.

“Eits, itu bukan curang namanya. Tapi pintar he..he..he….”,balas Nia.

“Iya deh. Loe sekarang duluan. Eh, Joe, jangan habisin tenaga loe buat Nia doang ya.”, kata Bella. Aku pun menganggukkan kepalaku lalu naik ke atas ranjang.

Nia Ramadani

Nia Ramadani

Nia Ramadhani ternyata sudah berbaring terlentang di ranjang siap menantiku. Wajahnya yang cantik dan sensual itu tampak menawan dengan hidung yang mancung seperti hidung bule dan senyuman menggoda dari bibirnya yang membuat lesung pipit manis di kedua pipinya muncul. Rambutnya yang diwarnai agak bersemu kecoklatan itu terurai indah. Tubuh Nia yang hanya mengenakan thong berwarna merah itu bagaikan pemandangan indah yang membuat gairah birahiku semakin naik.

“Make love to me Joe.”, bisik Nia lirih.

“Ssshhhh…..kamu diam aja dulu. Aku mau menikmati tubuh kamu sepuas mungkin.”, kataku. Bibirku pun mencium bibir Nia dengan penuh gairah dan artis remaja yang cantik itu membalasnya. Lidah kami saling membelit dan bermain dalam ciuman yang panas itu. Jemariku merayap merasakan kulit Nia yang mulus.

“Fffmm…..Joe…..”, desis Nia saat bibirku mulai merayap turun dan kini bermain di lehernya yang jenjang dan panjang. Cewek dengan leher jenjang dan panjang bagiku tampak makin sexy. Akupun menciumi leher jenjang dan bahu Nia dengan penuh nafsu. Bahkan kadang sedikit kugigit gemas dengan pelan yang membuat Nia melenguh makin keras.

Puas bermain disana, penjelajahanku kuteruskan semakin kebawah dan mulai bereksplorasi di tubuh Nia yang kurus langsing itu. Dada Nia boleh dibilang berukuran minim, hanya berupa gundukan kecil saja. Tapi emang selera cewek sekarang kebanyakan seperti ini. Aku sendiri berharap agar payudara Nia sedikit lebih besar agar bisa kuremas. Tapi saat aku melihat putting payudara Nia, kekecewaanku pun segera terobati. Putting itu berukuran cukup besar, hampir seujung jari kelingking, berwarna coklat muda dan tampak mengacung kencang begitu menggemaskan.

“Augghh..pelan-pelan dong Joe.”, pekik Nia saat tiba-tiba aku menghisap kuat putingnya yang sebelah kanan dan jemariku memilin putingnya yang kiri. Aku tak memperdulikan pekikan Nia. Bahkan semakin bernafsu mempermainkan putting itu. Kadang bahkan kujepit dengan gigiku dan sedikit kutarik. Mulutku pun kadang pindah ke putting yang satunya. Walaupun tadi Nia memekik dan menyuruhku perlahan, tapi aku merasa kalo gadis itu menikmati perlakuanku yang agak kasar. Buktinya desahannya makin keras dan kedua tangannya memegang kepalaku, meremas rambutku, dan menarik kepalaku makin mendekat ke dadanya.

Setelah beberapa menit bermain disana, penjelajahanku pun turun ke perutnya yang rata dan ramping. Tapi saat aku sampai ke bagian atas celana dalamnya yang bermodel thong itu, aku menghentikan aksiku. Aku mengangkat kedua kaki Nia ke atas lalu duduk di dekat pantatnya. Aku mengagumi kaki jenjang Nia yang ada di hadapanku sekarang. Kaki ini jadi poin plus satu lagi buat artis remaja yang satu ini. Kedua kaki Nia kubuat sedikit meneku hingga tapak kakinya kini tepat dihadapanku.

“Shhh…..Joe….”, desis Nia saat aku mulai menciumi jari kakinya. Aku bahkan mengulum jari kaki itu yang tampaknya membuat Nia makin bergairah karena jemari tangan Nia sekarang bermain di dadanya sendiri mempermainkan putingnya yang mengacung tegak.

Perlahan aku menciumi dan mencumbu kaki jenjang Nia dari jari kakinya, telapak kaki, tumit, sampai ke betisnya yang indah. Kemudian aku harus membungkukkan badanku dan menekuk kaki Nia sampai pantatnya sedikit terangkat agar aku bisa menikmati pahanya yang mulus. Desah dan rintih kenikmatan Nia makin keras. Aku pun berpendapat kalo sudah saatnya menikmati hidangan utama. Aku pun menarik kain berbentuk segitiga kecil yang menutupi memek Nia. Thong merah itu hanya dihubungkan dengan tali-tali kecil yang melingkari pinggul dan pantat Nia. Perlahan kulepaskan thong itu menyusuri kaki jenjang Nia.

Kini aku tak lagi duduk melainkan berlutut di dekat selangkangan Nia diantara kedua kakinya. Vagina Nia kini terpampang bebas di hadapanku. Nia ternyata mencukur bulu kemaluannya dan hanya meninggalkan sedikit rambut berbentuk garis kecil yang tertata rapi di atas vaginanya. Vaginan Nia tampak begitu menggoda dengan bibir yang masih terlihat rapat dan menjanjikan berjuta kenikmatan walau pun aku yakin kalo gadis itu sudah bukan perawan lagi. Bagian dalamnya terlihat berwarna merah muda dan terlihat begitu segar dan berkilauan karena sudah basah oleh cairan gairah Nia.

“Memek kamu kelihatannya enak banget mmmhhh…”, pujiku sambil langsung kututp dengan jilatan lidah menyusuri belahan vagina Nia Ramadhani. Nia hanya mendesah nikmat saat lidahku mulai bermain dengan lincah di liang kenikmatannya. Kadang kutelusupkan lidah ku sampai jauh ke dalam dan menjelajah dalam liang vagina Nia yang makin basah. Kadang menelusuri lipatan bibir vaginanya bagian atas dan mencari klitorisnya yang mungil, menjilat bahkan menghisapnya kuat sampai Nia memekik sambil mengangkat pantatnya. Aku bahkan mulai memainkan jemariku keluar masuk dalam liang hangat yang teras menjepit kuat jariku itu.

Baru sekitar dua menitan aku bermain di vaginanya, tiba-tiba tubuh Nia menggeliat liar sampai pantatnya terangkat tak karuan.

“Aaghh….aku dapet Joe aaahhhh….”, jerit Nia dengan penuh kenikmatan saat gelombang orgasmenya datang. Aku menahan pantatnya dan tak melepaskan bibir dan lidahku dari klitoris Nia, sedangkan jemariku tetap keluar masuk makin cepat diliangnya hingga menimbulkan bunyi kecipak yang menggairahkan. Perbuatanku membuat Nia makin kelimpungan dan orgasmenya makin panjang.

Nia tersenyum menatapku dengan wajah puas. Aku pun segera bangkit berdiri dan duduk bersimpuh diantara kedua kaki Nia yang mengangkang. Senjataku segera kuarahkan ke belahan vagina artis remaja yang cantik itu. Kugesekkan ujung kontolku di belahan vagina yang sudah basah itu berusaha mencari jalan masuk ke dalam liang kenikmatan Nia Ramadhani.

“Pelan-pelan, Joe. Aku belum pernah dicoblos sama kontol yang segede ini.”, kata Nia. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sementara itu tangan Nia merai kontolku dan mengarahkannya menuju jurusan yang tepat. Setelah Nia memberi kode padaku maka aku pun mulai menggerakkan pinggulku maju dengan perlahan hingga joe jr. pun perlahan membelah pintu surgawi itu.

“Uuffhh….aahhh….”, desah Nia saat kontolku mulai melakukan penetrasi hingga akhirnya kepala kontolku sudah masuk ke dalam vagina artis remaja yang bertubuh langsing itu. Memek Nia terasa lembut menjepit kepala kontolku. Jepitannya terasa kuat dan nikmat.

Aku pun lalu menarik sedikit kontolku, lalu memasukkannya lagi secara perlahan. Gerakan ini kulakukan berulang dan Nia pun hanya bisa mendesah nikmat. Aku menambah dalamnya penetrasiku secara bertahap dan perlahan sedikit demi sedikit agar vagina Nia dapat terbiasa dengan ukuran kontolku.

Akhirnya kontolku pun berhasil masuk sampai terasa mentok ke dalam memk Nia Ramadhani. Itupun masih menyisakan sedikit bagian yang tidak bisa masuk. Aku pun meneruskan aksiku menggenjot memek bintang sinetron yang cantik itu.

“Aaugghh….aahh….gede banget sstttt…Bell, loe harus nyobain yang ini. Rasanya penuh banget memeku dan ampe mentok ke perut mmmm….aaahhhh…..”, celoteh Nia pada Bella sambil terus mendesah nikmat. Aku melihat Laudya Chintya Bella terus menonton adegan panasku dengan Nia sambil meremas payuaranya sendiri dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain terlihat menggosok vaginanya yang masih tertutup celana dalam.

Aku mengangkat kedua kaki Nia ke atas lalu mengaitkannya ke pundakku. Kemudian akuaku membungkuk kedepan dan kedua tanganku bertumpu di kasur di kanan dan kiri tubuh Nia. Hal ini membuat tubuh Nia tak berdaya dengan kedua kakinya yang menekuk dengan lututnya menempel di payudaranya. Pantat Nia jadi sedikit terangkat dan memeknya jadi lebih terekspos dalam sasaran target kontolku.

“Oohhh…..aaaahh….sstt…..aaahhhh…..”, Nia mendesah makin keras karena kini aku sudah mengenjot memeknya dengan kontolku dalam gerakan yang cepat dan bertenaga.

Plok..plokk….

Suara benturan pinggulku dan pantat Nia terdengar keras berpadu dengan desahan kami berdua. Posisi ini membuat batang kontolku bisa menusuk sedikit lebih dalam lagi hingga aku bisa merasakan ujungnya membentur mulut rahim Nia.

Setelah lebih dari lima menitan aku memacunya, kurasakan kalo artis sinetron remaja itu sebentar lagi akan mencapai puncak kenikmatannya.

“Aaaaakhhh…Joe, im coming ooohh….”, desah Nia dengan tubuh yang menggeliat liar dalam pelukanku. Kuku tangannya terasa mencengkram bahuku. Memeknya berdenyut keras menjepit Joe jr. di dalam sana sambil memuntahkan cairan kenikmatan yang membasahi batang kontolku, bahkan meluber keluar. Aku terus memacunya selama Nia mendapatkan orgasmenya yang membuat gadis itu mendapatkan lagi orgasme susulan. Aku baru mencabut kontolku saat melihat gadis itu sudah lemas.

Laudya Chintya Bella

Laudya Chintya Bella

Baru saja aku melepaskan kontolku dari vagina Nia Ramadhani, tiba-tiba saja tubuhku didorong seseorang hingga aku pun rebah terlentang disamping Nia. Ternyata Laudya Chintya Bella yang tadi mendorongku. Artis remaja yang satu ini ternyata sudah tak bisa menahan lagi nafsunya setelah melihat pertarunganku dengan Nia barusan. Dengan cepat, Bella segera menduduki tubuhku. Tangannya meraih kontolku yang masih tegang karena aku belum orgasme, lalu Bella mengarahkannya ke memeknya yang sudah berkilauan karena basah oleh maninya sendiri.

“Aauuchh……shit!”, jerit Bella. Saking hornynya, Bella sampai agak lupa diri.Dia langsung menurunkan tubuhnya diatas kontolku langsung sampai mentok dalam satu gerakan. Dia lupa kalo memeknya pasti belum terbiasa dengan ukuran kontolku. Sekarang Bella pasti merasa selangkangannya perih karena hunjaman mendadak kontolku di memeknya. Aku bisa melihat dari wajahnya yang menyeringai agak kesakitan.

Aku jadi geli dengan tingkah Bella, dan bermaksud menggodanya. Tanganku pun segera memegangi tubuhnya dan menariknya dalam pelukanku, dengan begini pantatnya agak terangkat sedikit. Kemudian aku pun langsung mengerakkan pinggulku ke atas dan ke bawah langsung dengan full speed and power hingga kontolku pun menghajar memeknya tanpa ampun.

“Aauuughh…aahhh..aaughh…..”, Bella segera menjerit dengan permainan kasarku. Dia berusaha meronta tapi tak bisa karena pelukanku yang erat. Kontolku terus mengobrak-abrik memeknya yang terasa nikmat sekali. Jepitan memek Bella terasa kuat sekali karena memeknya masih belum meregang dan belum terbiasa dengan kontolku.

Aku mendengar suara tertawa Nia di sampingku, sedangkan Chelsea tampaknya kuatir dengan keadaan Bella.

“Uughh….JOe…sstt…gila loe, pelan-pelan dong aakkhh…….”, pinta Bella dengan memelas.

“Kenapa Bell? Tadi kamu begitu agresif, jadinya aku pikir kamu seneng sama yang kasar kayak begini.”, kataku berlagak pilon.

“Tapi memekku masih belum terbiasa aaghhh….kontol kamu gede banget. Memekku sampai ngilu semua.”, kata Bella.

Aku pun menghentikan seranganku. Aku pun bangkit hingga aku dan Bella duduk berhadapan. Kali ini aku membiarkan Bella yang memegang kendali. Sementara itu bibirku langsut melumat bibirnya yang sexy itu. Tanganku pun beraksi di payudaranya yang lebih besar dari punya Nia.

“Mmm….yeah….aaaahh….”, desis Bella dengan ekspresi nikmat. Pinggulnya kini bergerak memutar perlahan dengan kemaluanku menancap di memeknya. Tampaknya Bella berusaha agar otot-otot vaginanya bisa lebih meregang menerima kehadiran benda asing yang besar dan keras di memeknya.

Kali ini kami bercinta dengan lembut dan penuh gairah. Desah kenikmatan Bella berpadu dengan desahanku dan derit ranjang. Aku juga bisa mengagumi kecantikan Laudya Chintya Bella dengan lebih cermat. Artis remaja yang satu ini memang cantik. Mata dan bentuk wajahnya terkesan polos yang membuat gadis itu selalu memerankan karakter yang baik dalam filmnya. Tapi bentuk bibirnya yang sexy itu menjanjikan kenikmatan dan memunculkan slutty impresion pada Bella.

Posisi ini memungkinkan aku bisa lebih leluasa menjamah tubuh Bella dengan bibir dan kedua tanganku. Kedua tanganku dengan lincah memainkan payudara Bella membuat payudara itu makin montok danputingnya makin mengeras. Setelah puas melumat bibirnya, bibirku pun turun ke leher Bella. Terkadang juga aku menundukkan kepalaku agar bisa melumat payudara Bella. Bella makin diamuk birahi karena perbuatanku.

Setelah kini vaginanya sudah mulai terbiasa dengan kontolku, gerakan Bella bertambah dashyat. Pinggulnya bergerak, memutar, bagaikan seorang joki yang memacu kuda pacuan.

“Aaggghh…Joe…uufffhh….joe…aahhhh….”, desah Bella makin keras dan goyangannya makin liar saat aku menciumi ketiaknya. Ternyata gadis ini memiliki G spot yang sensitif pada ketiaknya. Aku pun terus menyerang bagian lemah itu. Ketiak Bella mulus tanpa bulu dan tidak bau, jadi aku enjoy aja ciumin ketiak itu.

Seranganku ternyata berhasil, sebentar saja aku merasakan Bella menggeliat makin liar dalam pangkuanku. Aku yang ingin mencapai orgasmeku bersamaan, segera menggulingkan tubuhku hingga sekarang aku yang ada diatas Bella. Setelah itu, aku pun langsung memacu memek Bella dengan tempo cepat dan tusukan kontol yang dalam.

“Joe aaaghhh…..i’m coming uughhhh………”, desah Bella sambil memelukku erat-erat. Tubuhnya menggeliat liar dalam pelukanku. Memeknya berdenyut begitu kuat menjepit kontolku seakan ingin memeras semua maniku.

“Aku juga aaaghhh…….”, dengusku yang tak bisa bertahan lagi karena empotan memek Bella saat gadis itu orgasme memang nikmat sekali. Dengan hentakan kuat, kulesakkan kontolku sedalam mungkin dalam memek Bella. Aku merasakan sedikit ujung kontolku sampai menerobos mulut rahimnya dan menumpahkan banyak sekali spermaku disana. Kami pun tetap berpelukan erat menikmati orgame itu.

Tiba-tiba ada tangan yang menarik tubuhku yang menindih Bella. Ternyata Nia yang segera memelukku dan melumat bibirku.

“Mmmm…..Fuck me again Joe.”, kata Nia yang rupanya sudah bangkit lagi gairahnya. Aku sih tak keberatan memenuhi permintaannya.

“Eits.., inget temen dong. Bukan loe doang yang kepengen enak.”, celetuk Bella tiba-tiba.

“Aduh Bell. Loe kan barusan udah. Sekarang gantian gue lagi dong.”, balas Nia.

“Gue emang udah. Loe juga udah. Si Joe juga udah dapet. Tapi lihat si Chelsea, udah spanneng dari tadi, gak ada yang peduli.”, kata Bella sambil menunjuk Chelsea yang duduk di ranjang dengan satu tangan didadanya sendiri dan tangan yang lain menyusup ke selangkangannya sendiri. Waktu sadar kalo dirinya sekarang jadi perhatian, Chelsea segera menarik tangannya yang tadi bermain sendiri di dada dan selangkangannya. Wajahnya memerah karena malu, jadi makin nampak manis. Tampaknya gairah gadis yang usianya paling muda diantara ketiganya itu jadi ikutan naik melihat live show teman-temannya. Memang dari kami semua, hanya Chelsea yang masih berpakaian lengkap dan belum mendapatkan orgasme malam ini.

Chelsea Olivia

Chelsea Olivia

“Eh nggak mmm…. Gue nggak apa-apa kok.”, kata Chelsea dengan gugup. Sementara itu Nia sudah melepaskan pelukannya dariku lalu menghampiri Chelsea.

“Sorry ya Chel. Gue sampai lupa sama loe. Ya udah sekarang giliran loe tuh.”, kata Nia sambil merangkul pundak Chelsea.

“Nggak..nggak.. gue belum pernah gituan. Mmm…lagian gue mau kasih yang itu buat Glen. Udah, gue nggak apa-apa kok. Loe aja sana.”, kata Chelsea yang masih menjaga keperawanannya itu buat sang kekasih.

“Siapa yang bilang kalo loe harus ML sama Joe? Pake cara yang laen juga masih bisa kok. Gue jamin loe masih bakalan virgin deh.”, bujuk Nia.

“Iya, Chel. Kalo udah spanneng gitu terus gak dilampiasin, ntar jadi jerawat lho. Dan lagi anggep aja ini sebagai latihan, biar nanti loe mau ngelakuin sama Glen, loe udah bisa dan dianya bakalan puas dan makin sayang sama kamu.”, timpal Bella.

Awalnya Chelsea masih ragu, tapi Bella dan Nia terus membujuknya. Aku cuma berharap kalo bujukan mereka berdua berhasil karena aku ingin menikmati tubuh si manis yang berwajah innocent itu walaupun gak pake ML. Akhirnya Chelsea pun setuju walaupun masih terlihat malu-malu.

“Nah gitu dong. Biar kita berdua yang bantu loe agar loe makin pinter. Oke, pelajaran pertama adalah ciuman. Biar gue dan Bella duluan yang kasih contoh. Sini Joe.”, kata Nia. Aku pun mendekat pada gadis bertubuh kurus itu lalu melumat bibirnya. Kami melakukan French kiss yang penuh gairah.

“Lihat, Chel. Loe juga harus ciuman kayak gitu, full of passion gitu loh. Jangan ragu. Pake juga lidah kamu.”, aku mendengar suara Bella yang memberi beberapa petunjuk buat Chelsea. Setelah aku berciuman beberapa lama dengan Nia Ramadhani, ganti Bella yang berciuman denganku, sementara Nia memberi penjelasan pada Chelsea.

Akhirnya tiba juga giliran Chelsea. Artis remaja yang usianya masih di bawah umur itupun naik ke tengah ranjang mendekatiku. Wajahnya yang cantik dan manis tampak masih malu-malu, walaupun aku melihat bias gairah dari matanya. Sebenarnya aku udah nafsu banget dan tak sabar untuk menikmati gadis yang satu ini, tapi aku akhirnya mengambil keputusan untuk menahan diri dan berusaha memperlakukan gadis yang belum berpengalaman itu dengan lembut agar ia tak menjadi ketakutan.

Tangan kiriku meraih kepala Chelsea dengan ujung jari mengait bagian lehernya yang sedikit dibawah telinganya, pangkal telapak tanganku dan jari jempolku yang masih menapak di pipi kanan Chelsea mengelus lembut. Perlahan kutarik kepala Chelsea dan wajahku pun mendekat ke wajahnya. Chelsea memejamkan matanya, bibirnya yang bagian atasnya agak meruncing hingga tampak manis itu sedikit dibukanya hingga makin terlihat menggoda.

Aku mencium bibir Chelsea dengan lembut pada awalnya. Chelsea sedikit canggung tapi gadis itu membalas ciumanku. Tapi aku bersabar dan memancing gairahnya agar gadis itu lebih nyaman dalam berciuman. Kemudian baru aku mulai menyertakan lidahku dalam ciuman itu. Chelsea agak kaget dengan invansi yang dilakukan lidahku yang menyusup di bibirnya saat kami berciuman, tapi sebelum dia sempat melepaskan ciumannya, aku pun melumat bibirnya dengan lebih bergairah. Tubuh Chelsea kujatuhkan ke samping hingga kini gadis belia itu terlentang di ranjang. Aku setengah menindih tubuhnya sambil terus melumat bibirnya. Lidahku terus menyusup masuk kedalam mulutnya, memancing lidah Chelsea untuk turut bermain. Tanganku merayap di paha Chelsea yang mulus. Chelsea hanya mengenakan kaos oblong dan celana dalam saja.

“Hhhmm……ssttt…..”, gumam Chelsea dengan bibir manisnya terbekap oeh bibirku. Lambat laun Chelsea mulai merasa nyaman dan membalas ciumanku dengan gairah. Aku membimbing gadis itu dengan sabar. Chelsea ternyata cepat belajar, kini lidahnya mulai ikut bermain bersama lidahku. Saat tanganku yang merayap di bawah sampai di selangkangan Chelsea, kurasakan celana dalam yang dikenakan artis belia yang cantik itu sudah sedikit lembap.

Aku mulai mencumbu Chelsea dengan lembut tapi penuh gairah. Ciumanku kini mulai menjelajah di leher gadis itu, sementar tanganku merayap naik ke atas, menyusup melalui celah kaosnya. Tanganku dengan lincah merayap ke perutnya yang rata. Saat tanganku naik lebih ke atas lagi, aku jadi makin bergairah karena Chelsea ternyata tak mengenakan bra di balik kaos itu.

“Aaaahhh….Joe…..mmhh…”, desah Chelsea dengan mata terpejam saat jemariku yang nakal menemukan payudara mungilnya dan meremasnya lembut. Tanganku bergerak lincah disana, meremas payudara mungil itu, mempermainkan putingnya yang kurasakan makin mengeras, sampai kaos oblong yang yang dikenakan gadis itu tersingkap sampai kedadanya. Karena kurasa mengganggu, aku lalu menyuruh Chelsea agar bangkit sebentar agar kaosnya bisa kulepas, setelah itu tubuhnya kurebahkan kembali.

Kini aku bisa melihat dengan jelas tubuh telanjang Chelsea Olivia yang hanya mengenakan celana dalam itu. Tubuh Chelsea memang masih dalam tahap pertumbuhan karena usianya yang masih belia. Lekuknya memang belum terlihat nyata, tapi sudah terlihat berpotensi akan berkembang menjadi bentuk tubuh yang indah. Tapi gadis belia seperti Chelsea memiliki kelebihan pada kelembutan kulit mereka. Jemariku merayap perlahan di tubuh belianya, menikmati sensasi kelembutan itu.

Tanganku lalu meraih kebawah, lalu menarik celana dalam yang dikenakan Chelsea agar aku bisa melihat keindahan tubuh belianya dengan lebih sempurna. Chelsea mengangkat sedikit pantatnya untuk memudahkanku.

Vagina Chelsea ternyata terlihat begitu menggiurkan, dan membuatku hampir lupa akan janjiku tak memaksanya untuk ML. Vagina itu terlihat mulus alami karena tampaknya bulu kemaluan gadis itu belum tumbuh dengan sempurna, jadi bukan gundul karena dicukur. Hanya tampak sedikit bulu-bulu halus yang tak kentara disana-sini. Belahannya tampak rapat hingga aku sama sekali tak bisa mengintip bagian dalamnya tanpa bantuan jariku. Garis belahannya juga tampak kecil, menjanjikan sempit dan nikmatnya jepitannya otot-otot vaginanya. Jemariku mulai menguakkan belahan yang sempit itu. Kini aku bisa melihat liang vaginanya yang tampak segar. Kmudian tampak olehku klitorisnya yang nongkrong di bagian atas, tampak berdenyut karena gairah. Aku pun tak tahan lagi dan segera menusupku wajahku ke selangkangan Chelsea. Lidahku segera bergerak lincah menjilati belahan vaginanya.

“Uufffhh….sssttt……ooohhh…….”, desah Chelsea terdengar merdu dan makin membuatku bergairah. Dari respon Chelsea aku bisa tahu kalo vaginanya ternyata sangat sensitif. Mungkin karena baru pertama kali ini artis remaja yang masih berusia di bawah umur itu merasakan kenikmatan oral seks.

Aku meneruskan seranganku. Menjilati belahan vaginanya, menyusup di liangnya, kadang menjilat sana-sini, kadang lidahku kukakukan lalu kugerakkan maju mundur. Tanganku menahan erat kedua pahanya agar tak terganggu dengan tubuh Chelsea yang menggeliat-geliat sambil mendesah makin keras. Klitorisnya pun tak luput dari perhatianku, kupermainkan dengan lidahku dan kuhisap kuat-kuat hingga pantat Chelsea sedikit terangkat. Vagina Chelsea makin basah dan berkilauan dengan cairan kenikmatannya.

Chelsea yang masih belum berpengalaman itu tak sanggup bertahan lama. Beberapa menit aku bermain di vaginanya, tiba-tiba kurasakan otot vaginanya berdenyut-denyut, tubuhnya menggeliat makin liar sampai aku agak kewalahan menahan pantatnya.

“Oooohhhh……Joeeee……”, Chelsea menjerit keras dan tubuhnya bergetar dan menggeliat liar sampai melengkung dan pantatnya sedikit terangkat. Cairan kenikmatannya menyemprot deras dari liang vaginanya yang segera kusambut dengan lidahku yang menjilat rakus. Aku terus mengerjai vaginanya sampai Chelsea mendapatkan orgasme yang susul menyusul.

Aku baru menghentikan aksiku saat merasakan tubuh Chelsea melemas dalam dekapanku. Saat aku bangkit kulihat gadis itu memejamkan matanya dan wajahnya memancarkan kepuasan.

Tiba-tiba dua gadis yang lain, Nia Ramadhani dan Laudya Chintya Bella, kembali memaksaku melayani mereka. Aku memakai kata memaksa kaerna agresifnya mereka, bukan karena aku merasa terpaksa dan tak mau melayani mereka he…he…he….

Entah berapa ronde malam itu aku bercinta dengan mereka dengan berbagai gaya. Aku juga kembali mencumbu Chelsea dan membuatnya ketagihan dengan oral seks. Apalagi dua temannya ikut membantuku mengeroyok Chelsea dan kami bertiga memberikan gadis belia itu kenikmatan oral seks yang tak kan mungkin terlupakan olehnya. Hari sudah hampir menjelang pagi, saat akhirnya kami berhenti karena lelah dan tertidur bersama di ranjang dalam kamar Nia itu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Aku membuka mataku dan terbangun dengan sedikit bingung karena aku tak terbangun dalam kamarku. Baru teringat olehku kalo aku menginap di apartemen Nia Ramadhani tadi malam. Saat aku memperhatikan sekelilingku, aku mendapatkan Chelsea Olivia yang tidur di samping kananku sambil memelukku. Di samping kiriku ada Nia Ramadhani yang tidur berpelukan dengan Laudya Chintya Bella. Aku tersenyum puas mengingat pengalamanku kemarin malam. Aku ML dengan dua artis remaja yang cantik, dan mencumbu artis remaja belia yang masih dibawah umur.

Aku merasakan Joe jr. di bawah sana yang sudah berdiri dengan gagahnya karena ereksi pagi hari. Well, mengingat panasnya pertempuran kemarin malam, aku bersyukur bahwa Joe jr. masih bisa ereksi pagi hari yang alami.

Aku menoleh ke arah kanan dan mengagumi wajah cantik yang begitu manis dan polos Chelsea yang masih tidur. Bibirnya yang manis itu membuatku tak tahan untuk segera mendekatkan bibirku dan melumat bibir itu. Chelsea tetap tidur, tapi aku tak peduli. Malah tanganku mulai merayap di belahan vaginanya yang masih perawan itu lalu bermain disana.

Beberapa saat kemudian aku merasakan ciumanku dibalas. Aku melepaskan ciumanku sejenak dan melihat Chelsea yang ternyata jadi terbangun karena ulahku, memandangku sambil tersenyum manis.

“Chel, kita mandi bareng yuk.”, ajakku yang merasa tak leluasa mencumbunya disini. Chelsea menggangguk setuju. Kami berdua pun bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Kamar mandi di aparteman Nia ternyata cukup besar dan komplit. Ada bathup yang besar, sistem penghangat air, dan shower.

Aku dan Chelsea mandi sambil bercanda. Air hangat yang mengguyur badan kami berdua membuat tubuhku menjadi segar dari lelah karena pertempuran kemarin malam. Setelah air hangat sudah memenuhi bathup, aku pun mengajak Chelsea berndam di bathup yang penuh dengan air yang berbusa karena sudah kucampur dengan sabun khusus yang tersedia di kamar mandi itu. Aku bersandar pada bathup, dan Chelsea menyandarkan tubuhnya padaku.

“Hhhmm….enak Joe.”, desah Chelsea saat tanganku memijit bahunya dengan perlahan. Aku memang bukan tukang pijit, tapi kulakukan saja berdasarkan insting saat Chelsea mengeluh kalo badannya capek karena permainan kami berempat malam tadi. Sambil memijit, aku pun menciumi belakang telinga dan leher gadis belia itu.

Beberapa saat kemudian, tanganku merayap ke bawah, menyusup diantara ketiak Chelsea, dan meremas payudara mungilnya dari belakang. Chelsea mendesah nikmat mulai terbuai oleh kenikmatan birahi. Satu tanganku merayap makin kebawah dan bermain di belahan vaginanya. Aku terus mempermainkan birahi gadis manis itu sampai dia mencapai puncak kenikmatannya dalam pelukanku.

Aku merasa puas bisa mengantarkan gadis itu menuju puncak kenikmatannya walaupun hanya dengan oral seks. Dua kali sudah Chelsea orgasme, sekali waktu kami sama-sama berendam di bathup sambil aku mempermainkan memek dan pyuadara mungilnya dari belakang, serta sekali lagi saat Chelsea duduk di kepala bathup yang agak tinggi sambil mengangkangkan kakinya lalu aku menjilati memeknya dengan penuh nafsu.

Setelah mengantarkan Chelsea pada orgasme keduanya pagi itu, Joe jr. yang tadi sempat tertidur karena guyuran air sekarang sudah berdiri tegak meminta pelampiasan. Aku pun meminta Chelsea bangkit berdiri dan keluar dari bathup. Aku mengambil sabun mandi dan menyabuni seluruh tubuhnya. Kutaruh sabun yang agak banyak pada selangkangannya. Kemudian aku memeluknya dari belakang, lalu menyelipkan kontolku yang sudah tegang diantara selangkangannya.

“Joe, jangan…”, kata Chelsea lirih. Gadis itu kuatir aku akan mengambil keperawanan yang dijaganya.

“Sshh… tenang Chel. Aku nggak akan pernah memaksa kamu buat ML, kecuali kamu sendiri yang memintanya. Aku cuma ingin kamu menjepit kontolku dengan kedua pahamu.”, jelasku agar gadis itu tak salah paham. Chelsea tersenyum manis setelah mengerti maksudku.

Dia membuka sedikit kakinya, lalu aku pun menyelipkan kontolku diantara kedua pahanya, menempel di belahan vaginanya. Kemudian Chelsea merapatkan kedua kakinya kembali. Aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur. Jepitan paha Chelsea cukup nikmat karena busa sabun yang melumurinya.

“Uggh…Chel sstt…”, desisku keenakan. Sementara itu tubuh Chelsea kupelak erat dari belakang. Payudara mungilnya segera menjadi permainan kedua tanganku.

“Joe mmm…..aahhh….”, Chelsea pun ikut mendesah nikmat karena gerakan kontolku yang maju mundur di jepitan pahanya juga menggesek belahan vagina dan klitorisnya.

Kami berdua terus memacu birahi dan bercumbu dengan irama lembut tapi penuh gairah. Akhirnya aku mengantar Chelsea menuju orgasmenya yang ketiga pagi itu. Tubuh belianya menggeliat dalam pelukanku. Hampir saja gadis itu tak kuat berdiri jika aku tak segera menyanggah tubuhnya.

Setelah orgasmenya usai, Chelsea melepaskan diri dari pelukanku dan mendorong tubuhku agar duduk di dudukan toilet yang masih dalam keadaan tertutup. Chelsea kemudian membilas kontolku yang berlumuran sabun dan cairan kenikmatannya.

“Joe. Sekarang aku cuma bisa membalas dengan ini. Walaupun aku tak bisa menyerahkan keperawananku, tapi aku janji kalo kamu akan jadi orang kedua yang menikmati vaginaku.”, kata Chelsea yang diakhiri dengan jilatan lidahnya di batang kontolku. Aku jadi tersanjung dengan janji artis remaja yang manis itu. Tanganku mengelus lembut rambut Chelsea saat gadis itu mulai mengulum batang kontolku.

“Aaaahh….ssstt……aahhh….”, aku mendesah menikmati kehangatan dan kelembutan bibir dan mulut Chelsea. Gadis itu pun jadi lebih mahir dalam melakukan blow job. Memang dia hanya bisa memasukkan sebagian saja dari batang kontolku ke mulutnya, tapi tangannya ikut mengocok dan meremas bagian lain yang tak bisa masuk. Buah pelirku pun diremasnya lembut dangan tangan yang satunya lagi.

Dari segi teknik, Chelsea memang masih kalah dengan dua temannya. Tapi gadis itu melakukan blow job sambil mendongakkan wajahnya menatapku dengan raut wajah innocentnya itu. Aku merasakan kenikmatan tersendiri melihat wajah belia yang begitu manis dan polos sedang berusaha mengoral kontolku dengan mulunya yang manis itu. Coba aja cari pacar yang wajahnya polos dan innocent terus suruh dia melakukan blow job ke kamu sambil terus mempertahankan kontak mata kalian. It’s feel really great man.

“Ouggh…Chel, aku dapet aaaghhh…..”, dengusku sambil menahan kepala Chelsea erat dan setengah memaksa gadis itu agar memasukkan kontolku sedalam yang ia bisa ke dalam mulutnya. Kontolku menyemprotkan banyak sekali mani ke dalam mulut Chelsea sampai gadis itu agak kewalahan menelannya, hingga ada sebagian yang meluber keluar dari sela-sela bibirnya yang manis itu.

“Wah…wah…gue kalah start nih. Tapi salah gue sendiri sih. Kenapa kemarin gue maksa si Chelsea tadi malam sampe sekarang jadi doyan kontol kayak gini hi…hi…hi…”, terdengar suara dari arah pintu kamar mandi. Ternyata Bella sudah bangun, dan sekarang gadis cantik itu melangkah mendekati aku dan Chelsea.

“Sekarang giliran gue ya Chel. Sini Joe.”, kata Laudya Chintya Bella sambil menarikku berdiri. Bella langsung memelukku dan kami pun segera berciuman dengan penuh gairah. Aku mendorong tubuh Bella sampai punggungnya menempel didinding kamar mandi. Masih dengan berpelukan dan berciuman, aku mengangkat sebelah kaki Bella. Tanpa basa-basi lagi segera kuhunjamkan kontolku yang masih berdiri itu ke dalam memek Bella.

“Mmmpphh….mmmppphhh….”, Bella sebenarnya ingin menjerit karena seranganku yang mendadak itu tapi bibirnya yang sexy itu masih kulumat dengan bibirku hingga artis remaja itu hanya bisa mengeluarkan gumamam tak jelas.

Tanganku yang satu lagi segera meraih kaki Bella yang masih menapak di lantai dan mengangkatnya sekalian. Bella pun terpaksa bergelayutan dengan kedua tangannya menggantung di leherku. Aku menggendong Bella dengan kedua tanganku menyanggah kedua kakinya pada lututnya. Posisi ini membuat pantat Bella pun bebas berayun dan dengan pengaruh gravitasi, kontolkupun makin mendesak masuk ke dalam memeknya.

“Auuughh… gila loe.”, pekik Bella sambil berusaha menarik tubuhnya sedikit ke atas dengan bantuan tangannya yang memeluk leherku. Aku hanya tertawa, kemudian kupepetkan tubuhnya ke dinding kamar mandi agar Bella tak banyak bergerak. Setelah itu aku langsung menggenjot memeknya dengan kontolku dengan tempo cepat dan cenderung agak kasar. Bella makin menjerit dan mendesah tak karuan dalam gendonganku. Kami pun tenggelam dalam kenikmatan birahi kami berdua.

Beberapa menit aku memacu tubuh Bella, tiba-tiba aku merasa kebelet kencing. Memang biasanya aku selalu kencing di pagi hari setelah bangun tidur. Dan hari ini aku belum sempat melakukannya. Tapi aku tak ingin melepaskan kenikmatan ini. Jadi aku langsung aja kencing dalam kondisi kontolku masih menancap dalam memek Laudya Chinya Bella.

Bella membeliakkan matanya kearahku saat dia menyadari ada sesuatu yang aneh. Tiba-tiba saja dia mendesah makin keras dan tubuhnya menggeliat makin liar dalam pelukanku.

“Aaaaghhh….aaahh….brengsek. Sinting loe Joe aaahhh…..”, pekik Bella sambil sempat memakiku. Rupanya semprotan air kencingku yang begitu deras dalam liang vaginanya malah mengantarkan artis remaja yang lagi naik daun itu menuju puncak orgasmenya. Aku merasakan cairan hangat dari air kencingku sendiri yang meluber keluar dari memek Bella dan mengalir membasahi kedua kakiku.

“Loe kenapa Bell?”, tanya Chelsea yang kebingungan melihat reaksi Bella yang menggeliat liar dengan ekspresi nikmat, namun mulutnya mencaciku.

“Si Joe nih kurang ajar banget, Masak dia kencing dalam memekku? Emangnya aku toilet?”, rutuk Bella yang baru bisa menjawab pertanyaan Chelsea setelah orgasmenya usai. Chelsea tertawa geli.

“Tapi loe suka kan? Buktinya ampe ngejerit-jerit gitu.”, godaku sambil tertawa cengar-cengir. Bella tersenyum lalu menciumku dengan penuh gairah.

“You really full of suprises Joe.”, kata Bella sambil menciumku lagi dengan bibirnya yang sexy itu. Gadis itu sudah turun dari gendonganku.

“Ya udah. Sini biar aku bersihin.”, kataku yang kemudian mengambil smprotan air lalu membasuh memek Bella, membersihkannya dari kencingku.

Setelah membersihkannya dari depan, aku menyuruh Bella agar berpegangan pada wastafel dengan posisi sedikit membungkuk hingga pantat dan memeknya bisa kulihat jelas dari posisiku yang berjongkok dibelakangnya. Aku menjilati memek Bella dari belakang dan membuat gadis itu mendesah lagi. Kedua tanganku meremas buah pantatnya yang membulat indah.

Saat aku membuka belahan pantatnya, aku melihat liang anus Bella yang membuka sedikit. Aku segera berpendapat kalo gadis ini pasti pernah melakukan anal seks, karena liang anusnya agak longgar. Aku segera menjilati liang anusnya sekalian dan tampaknya Bella menyukainya dari desahannya yang makin bergairah.

Aku pun tak tahan lagi. Kontolku kulumuri dengan sabun agar licin kemudian kuarahkan ujungnya ke pintu liang anus Laudya Chintya Bella yang masih berdiri sambil menungging dan berpegangan pada wastafel.

“Jangan Joe.”, kata Bella yang kaget saat merasakan ujung kontolku di pintu liang anusnya.

“Bukannya loe udah pernah, Bell?”, kataku.

“Tapi kontol Nanda gak segede kontol kamu. Masukin di memekku aja ya.”, kata Bella.

“Cobain dulu ya Bell. Aku bakalan pelan-pelan kok. Ntar kalo kamu emang bener-bener gak tahan, aku pasti cabut deh.”, rayuku. Bella hanya mengangguk walaupun wajahnya masih menyiratkan keraguan.

Aku mulai berusaha memasukkan ujug kontolku ke dalam anus Bella. Aku mengalami kesulitan dan beberapa kali meleset.

“Ugghh…Joe sakitt….”, rengek Bella saat dengan perlahan aku berhasil memasukkan ujung kontolku dalam anusnya yang sempit itu.

“Tahan dikit Bell. Aaaghhh….bool loe enak banget mmm….”, bujukku pada Bella. Sementara itu kepala kontolku sudah tertelan oleh liang anus Bella yang jepitannya terasa sangat kuat itu. Aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur menggenjot pantat Bella dengan kontolku. Benar-benar nikmat rasanya bagiku, tapi Bella kelihatannya tak begitu menikmatinya karena gadis itu hanya bisa mendesah kesakitan.

“Sakit banget ya Bell?”, tanyaku yang merasa kasihan. Bella menggangguk lemah dengan wajah yang sedikit meringis kesakitan.

“Gue cabut atau diterusin?”, tanyaku.

“Cabut aja ya Joe. Entotin memekku aja.”, pinta Bella. Aku pun menurutinya.

Kontolku kucabut dari anus Bella dan langsung kulesakkan ke dalam memeknya. Desah kesakitan Bella kini sudah berganti dengan desah kenikmatan. Akupun mengentot Bella dari belakang dengan penuh nafsu berusaha mendapatkan kepuasanku. Posisi seperti ini ternyata lebih nikmat karena bagian batang kontolku yang tak bisa masuk ke dalam memek Bella yang masih tak mampu menampung seluruh batang kontolku, kini terjepit diantara bongkahan pantatnya yang membulat sexy itu.

Akhirnya aku dan Bella pun mencapai puncak kenikmatan itu hampir berbarengan. Maniku kutumpahkan banyak sekali kedalam rahim artis remaja yang cantik itu. Untung saja Bella memakai pil anti hamil, kalo tidak dia pasti bakalan hamil dengan banyaknya maniku yang tertumpah di rahimnya.

Kami bertiga pun mandi bersama-sama, sebelum akhirnya Nia bangun dan ikut mandi bareng dengan kita. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku, Chelsea Olivia, dan Laudya Chintya Bella, pamit pergi dari apartemen Nia Ramadhani, karena aku harus mengembalikan limo sewaan itu ke garasinya.

Aku mengantar Bella pulang, lalu mengantar Chelsea. Kami sempat bertukar nomor telpon. Sebelum Chelsea keluar dari limo, gadis belia itu menciumku sambil mengatakan akan segera menghubungiku setelah dia melepaskan keperawanannya pada kekasihnya untuk memenuhi janjinya padaku.

Aku pun mengemudikan limo itu menuju garasi sambil bersiul-siul dan tersenyum puas mengenang pengalamanku dengan selebriti-selebriti remaja itu. Hot and delicious celebriteens…………….

Bersambung ke TAJ 5

Karya Joe

Copyright © Joe_anchoexs, Oct, 2008

Sumber: kisah BB | Joe Dirty Mind

One comment

  1. Buatin yang shireen sungkar donk kak…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: