h1

Neo Nightmare Campus 2: The Experiment

April 2, 2009

Setelah kejadiaan itu Hendra pulang dengan Sarif namun langsung ke rumah Hendra. Sarif agak bingung dengan kelakuan Hendra, namun dia lebih memilih diam, Sarif mengira Hendra habis dilecehkan oleh temen-temennya lagi seperti biasa. Sesampainya di kamar.Hendra langsung mengambil  handuk setelah melepas bajunya dan masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Sarif langsung  tidur-tiduran di ranjang empuk milik Hendra, ia bangun dari tempat tidur untuk mengambil  hp Hendra yang berbunyi dan Sarif tahu kalau itu telepon dari nyokapnya karena ringtonenya dia yang ngatur, Sarif bergegas untuk mengangkat hp Hendra.

“hallo Bu” kata Sarif lembut

“hallo Sarif, mana Hendranya?” suara lembut dari nyokap  Hendra, nyokap Hendra tahu kalo yang mengangkat hpnya itu Sarif karena sudah kebiasaannya setiap menelepon.

“Hendranya lagi mandi bu, mungkin bentar lagi selasai.”

“ya udah kalo gitu bilang sama Hendra kalo ibu nelpon ya, ooo…ya jangan lupa jagain dia”

“siip boozz” sahut Sarif sedikit bercanda karena mereka sangat akrab sekali dan Sarif sudah menganggapnya seperti ibu sendiri.

Setelah selesai Sarif membuka music player di hp Hendra dan kembali tidur-tiduran di kasur empuknya. Sarif tiduran sambil mengocek-ngocek hp milik Hendra dan betapa terkejutnya dia melihat foto persenggamaan seorang pria dan wanita yang dia ketahui bahwa yang pria adalah pak Abdul panjaga  kolam renang kampus. Semakin penasaran, ia terus membuka semua foto dan video di hp Hendra dan akhirnya mengambil kesimpulan.

“mungkin Hendra tadi bukan ke toilet tapi ngintipin ini. Bisa juga ya ini anak dapat ginian” kata Sarif dalam hati sambil garuk-garuk kepala.Hendra keluar dari kamar mandi mendapati Sarif sedang meotak-atik hpnya(itu sudah kebiasaanya karena hp miliknya tidak ada music playernya ). Sarif tidak menyadari  kalau Hendra selesai mandi dan berganti pakaian di sebelahnya karena sedang asyik menonton adegan demi adegan video mesum pak  Abdul dengan Vina.

“rip gimana bagus ga foto sama videonya” kata Hendra yang membubarkan konsentrasinya.

“Ooooo.. dah selesai mandinya Hen, dari mana kamu dapat ini gambar ama video kok peran cowoknya pak Abdul?” kata Sarif sedikit terkejut karena Hendra sudah ada di sampingnya dengan tiba-tiba.

“tadi waktu pas aku jemput kamu di kampus,aku gak sengaja lewat gudang denger cewek nangis, ya aku intipin, ternyata pak Abdul dan pak Imron perkosa Vina.

“pak Imron penjaga campus itu. Kok’ di video dan fotonya ga ada Hen” kata Sarif sambil melihat kembali hp Hendra dan membuka foto-fotonya..

“tadi banyak yang aku hapus karena fotonya banyak yang ga keliatan,  aku takut ketauan sich waktu ngambil fotonya ama videonya”,

“Terus foto-foto ini mau dikemanain Hen?” tanya Sarif sedikit serius.

“Mana aku tau Rif,ya buat koleksi aja mungkin?”

“Gimana kalo kita bales dendam aja kan ne cewek pernah menghina kamu Hen,hehe” kata Sarif sambil cengingisan.

“Iya sich, sebenarnya aku masih sakit hati sama penghinaannya Rif, tapi gimana caranya?” tanya Hendra dengan expresi agak bingung,

“Aku ada cara Hen, gini nih…” Sarif menggandeng Hendra dan berbisik-bisik ke telinga Hendra dengan percaya dirinya yang tinggi.

1. ###################

Kampus Universitas ********

selvy

selvy

Imron seperti biasa pada waktu isirahat menelepon salah satu budak sexnya untuk melampiaskan hasrat birahinya. Ia menunggu di sebuah toilet yang letaknya agak terpencil yang di depan pintunya sengaja ia pasang papan peringatan bahwa sedang diperbaiki. Tak lama kemudian seorang gadis berpakaian sexy masuk ke sebuah toilet yang sedang diperbaiki.

“kok lama sich non, Bapak dari tadi nunggunya nich” kata Imron sambil membuka celananya dan melorotkannya.

“dari kantor, tadi ngumpulin tugas dulu!” jawab Selvy ketus lalu langsung berlutut di depan selangkangan Imron,sepertinya ia ingin segera menuntaskan tugasnya dan pergi dari situ.

“kembaran kamu kemana Sel?? ohhh..ohhh..” ceracau Imron merasa keenakan karena Selvy langsung dengan teknik oralnya dan tidak menjawab pertanyaan Imron “Non santai aja dulu napa? kok ampe buru-buru..occchhhh..ach,,,,, achhhhhh!!!!”

Setelah meraih penis Imron dan memasukannya ke dalam mulutnya yang mungil, Selvy nampak kewalahan mengulum untuk ukuran penis Imron yang besar dengan mulutnya yang kecil. Tapi hal ini justru membuat Imron melenguh nikmat.

“Ooohh…gitu Non…mantap banget non !” desah  Imron ketika  Selvy menyapukan lidahnya  pada batang penisnya dan diteruskan menjilati buah zakarnya.
Setelah melakukan sapuan mautnya, Selvy mulai memasukan penis Imron ke mulutnya lebih dalam lagi, ia emut sebentar kepala penisnya yang seperti jamur, lalu masuk lebih dalam lagi hingga menyentuh kerongkongannya walau mulutnya terasa sangat sesak sekali. Imron mendesah tak karuan sambil meremas-remas rambut gadis itu, matanya merem-melek menahan nikmat. Selvy memang mulai pandai memanjakan penis pria semenjak menjadi budak Imron dan dosen bejat Dahlan. Imron menyuruhnya menghentikan oral seksnya karena merasa hampir kewalahan menahan nikmatnya servis oralnya.
“Non gantian ya” sahut Imron sambil menyuruhnya berdiri dan membalikan tubuh gadis itu.

Sementara Selvy kini mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Ia berdiri menghadap kaca yang ada di toilet dan dengan bertumpu pada kedua lengannya, sambil melemparkan bajunya ke samping.

Sebelum sempat membuka pakaian bawahnya, Imron yang nafsunya sudah di ubun-ubun mendorong punggung gadis hingga agak condong ke depan. Lalu disibaknya rok mini yang menutupi bagian bawah tubuh gadis itu.

“Ouch,,,…. Ahhhchh..  !” Selvy  berkali-kali mendesis menahan nikmat yang mulai kembali menjalari tubuhnya.
“Pelan pelan pak… Ahhh, ohcccchhhhh pak…” Selvy mengeluh ketika Imron mengecup-ngecup bibir vaginanya dengan gayanya yang primitif.

Mungkin gaya Imron itu bisa dibilang cenderung brutal, namun gayanya yang khas itu terbukti mampu membuat para budaknya melayang-layang ke puncak kenikmatan dan terbuai secara sadar ataupun tidak. Nafas Imron dan Selvy semakin lama semakin tersendat-sendat, Selvy  menghirup udara dalam-dalam dan sedikit lega ketika Imron menghentikan serangannya pada daerah sensitifnya, Imron melengokkan kepalanya ke atas, matanya menatap Selvy yang berusaha mengatur nafas yang terengah-engah akibat serangannya, tidak berapa lama kemudian mata Imron terfokus pada keindahan belahan mungil yang ditumbuhi bulu-bulu halus pada selangkangan gadis itu. Jari telunjuknya mengorek-ngorek belahan mungil di selangkangan Selvy, lendir kewanitapun mulai meleleh dari selangkangan gadis itu hingga membuat Imron lebih semangat untuk mengoreknya lebih dalam lagi.

“Uuuccchhhh…ohhh…Pak, ahhh geli!!” desah Selvy, kedua lututnya serasa tidak bertulang ketika Imron memain-mainkan jari tangannya di pinggiran bibir vaginanya. Imron juga mengeluarkan jilatan lidahnya dengan kasar dan mengulas-ngulas klitorisnya, dan diemutnya vagina gadis itu hingga erangannya semakin menjadi-jadi.

  • ****************

Di sebelah toilet

Hendra dan Sarif yang sejak pagi mengawasi gerak-gerik Imron tengah dalam pengintaian. Kini keduanya sedang sibuk berdebat,

“Tuh liat, ngapain si Selvy masuk ke toilet rusak itu, padahal kan tadi sedang diperbaiki Pak Imron…pasti ada apa-apa di dalam sana” kata Hendra sambil menepuk pundak Sarif.

“Mungkin itu salah satu budak Imron cs Hen, pasti mereka sedang ngentot” Sarif menjelaskan dengan panjang lebar sambil garuk-garuk di selangkangan yang berontak, “gua yakin tuh penjaga kampus masih punya banyak budak seks lain di kampus ini, bukan cuma si Vina atau Selvy aja”

“Masa sich Rif? Ga nyangka gua Selvy itu kan setau gua cewek baik-baik, punya pacar ganteng, kaya lagi, kok bisa-bisanya ya…jangan-jangan kembarannya, si Selly itu juga?” kata Hendra masih setengah tidak percaya.

“Hen…Hen… kamu di bidang pelajaran aja pinternya, tapi kalo di bidang ini aku lebih pinter dari kamu, hehehe?” Sarif dengan percaya diri sambil menarik Hendra untuk lebih dekat lagi ke lokasi kejadian.

“Terus gimana donk acara balas dendamnya nih”. Sambil menarik pundak Sarif

“Kapan-kapan aja Hen, masih banyak waktu, selama kartu as rekaman di HP itu ada, kapan pun kita bisa dapetin si Vina, sekarang mending yang ini dulu, gua udah ngebet sama nih cewek dari dulu” sambil terus nyelonong lebih dekat

  • ********************

Di toilet, Imron dengan nafsu menggebu-gebu menggosokkan jarinya pada klitoris Selvy sementara mulutnya kini asyik menjilati putingnya yang semakin mencuat ke atas gairahnya sudah memuncak, meskipun jari-jari Imron sedikit terhalang karena celana dalamnya belum dilepas, tapi Imron masih dapat menggesek klitorisnya untuk merangsang lebih lagi, bahkan dengan cepat Imron memasukkan jarinya ke dalam celahnya yang lembab dan agak basah. Ia memutar-mutar jarinya di dalam vagina Selvy, hingga membuatnya serasa melayang ke langit ke tujuh.

“Achhh… pak Imron…udah dong!!  Ooohh…aahh!” suara jeritan Selvy makin keras, birahinya sudah di puncak hingga tidak menyadari kalau di luar sana ada orang lain yang mendengar rintihannya.

Tangan Selvy menekan kepala Imron ke buah dadanya hingga Imron terengah-engah, sementara tangan yang satunya menekan jari Imron di kemaluannya semakin dalam. Akhirnya ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar, Imron menghisap kuat puting susunya, memasukkan jarinya semakin dalam.

“Ahhh… oh.. pak.. aku ke..lu..ar…oooccchhhh” gadis itu mendesah panjang

Imron merasakan cairan hangat pada jari-jarinya. Ia lalu menarik jarinya dan menahan tegangnya senjata pamungkasnya yang belum terlampiaskan tapi rupanya Selvy sangat pengertian pada kondisi Imron yang sedang on. Senjata Imron yang sudah keras maximal perlahan dikocoknya dan menuntunnya menuju ke lubang kenikmatannya.

“Oocchh pak… pe…pel…lan….och…!!” Selvy menceracau waktu Imron melakukan penetrasi pada vaginanya.

“Hhsshhh…enngghh…me…mek Non Selvy seret banget… gak sia-sia bapak dapatin non Selvy, coba kalau Non Selly juga ada pasti lebih maknyus…oohhh!!” gumam Imron di sela-sela nafasnya yang memburu dan tidak teratur.
“Ahhh…Pak…ooohh,…ichhhhh !” jerit Selvy ketika menahan nikmat saat penis itu melesak ke dalam vaginanya dan mulai bergerak menggesek dindingnya yang bergerinjal-gerinjal, benda itu ditarik lalu didorong lagi.

Imron mulai menggenjoti vagina Selvy kecepatan pelan memberinya sensasi lembut yang nikmat bagi gadis itu, tapi makin lama frekuensi genjotannya makin meningkat hingga membuat Selvy menggelinjang tak karuan. Tak bisa disangkal lagi, dari hari ke hari sejak pertama kali diperkosa, dirinya selalu terhanyut oleh gaya si penjaga kampus yang brutal ini hingga tanpa disadari Selvy malah menggerakkan tubuh bagian bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis Pak Imron.

“Yuk ganti posisi Non” ajak Imron, Selvy hanya menganggukan kepalanya menurutinya, “Non Selvy sekarang balik ya, nungging menghadap kaca lagi!” perintah Imron

Selvy kini bertumpu pada dinding kaca yang ada di depannya. Imron melebarkan sedikit kakinya lalu kembali memasukkan senjata supernya ke liang senggama gadis itu yang telah licin oleh lendir kemaluannya. Walaupun vagina Selvy licin berlendir namun tetap ukuran penis Imron terlalu besar baginya sehingga memerlukan tenaga khusus untuk menembus lubang vaginanya yang sempit dan mungil dengan bulu-bulu halus. Ia merasakan genjotan Imron semakin cepat sehingga tubuhnya lebih terguncang daripada sebelumnya. Sambil menggenjot, kedua tangannya tak pernah absen untuk tidak menggerayangi sepasang payudara yang menggantung bebas itu

“ooocchhhhh….. arhhcchhh.. non goyang.. enak…  !” erang pria setengah baya itu dengan suara yang terputus-putus. Selvy pun merespon dengan menggoyangkan pinggulnya lebih cepat hingga tak lama kemudian Imron mulai mengejang-ngejang pertanda akan segera mencapai puncak.

Cccrrrr…..crooottt…crooorrrttttttt…. Imron memuntahkan seluruh lahar putihnya didalam vagina Selvy. Begitupun Selvy mencapai puncak.. dan mencabut penisnya.

“bersihin ya non, perintah Imron sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

Selvy berbalik dengan sisa tenaganya dan berlutut di depan selangkangan Imron.Selvy memjilati ujung penis Imron hingga batang pangkal hingga bersih dan mengulumnya kembali.

Imron mencabut penisnya dari mulut Selvy dan buru-buru memunguti pakaiannya dan memakainya.

” Makasich ya Non, Bapak duluan soalnya masih ada tugas yang belum di selesain” kata Imron sambil meraih wajah gadis itu dan melumat bibirnya sejenak “Ooo…ya jangan lupa pintunya ditutup nanti!” sambil memalingkan badan Imron pergi dan melanjutkan pekerjaannya hari itu yang masih harus diselesaikan.

“Dasar bajingan udah tuntas birahinya, maen tinggal gitu aja!!” gerutu Selvy dalam hati sambil bersandar pada dinding di belakangnya dan beristirahat untuk memulihkan tenaganya.

  • ******************

“Rif ada yang mau keluar, ayo cepat pergi!!!!” gerak reflek Hendra karena mendengar langkah Imron dari dalam toilet, seraya menarik Sarif untuk buru-buru bersembunyi di sudut yang tersembunya dekat toilet tersebut.

“Apaan sich Hen? gak tau orang lagi kebelet apa?” kata Sarif dengan sewot.

“Pak Imron keluar, mau kita ketauan?” Hendra agak kesal dengan sikap temannya ini yang berisiko.

Mereka pun segera berlindung di balik tembok agar tak terlihat, lima detik kemudian pintu toilet terbuka, Imron keluar lalu menutup pintu itu lagi. Mereka mengintip Imron meninggalkan toilet tersebut hingga sosoknya menghilang di balik salah satu gedung kampus. Sarif langsung meloncat dan menuju ke arah toilet tersebut sambil mengendap-endap.

“Mau kemana lu Rip?”

“Mau eksperimen…ikut aja dech jangan banyak nanya, kalau ga dicoba kita bakal jadi hantu penasaran nantinya”

Hendra mengikuti sahabat karibnya ini menuju toilet dengan hati-hati dan bingung mau ngapain. Mereka menyelinap masuk ke dalam toilet lewat pintu masuk yang tertutup itu dan membukanya dengan pelan-pelan dan berhati-hati. Saat itu Selvy mencuci mukanya di wastafel dengan posisi agak memunggungi siapun yang masuk, saat itu lah digunakan Sarif dan Hendra untuk masuk dan bersembunyi di sudut ruangan. Dari sana mereka dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri karena nafsu yang besar, mereka amati gadis itu dengan seksama sebelum memutuskan untuk bertindak. Selvy masih dalam keadaan telanjang kecuali celana dalam yang tadinya gak terlepas waktu melakukan persenggamaan dengan pak Imron.

“Sekarang Hen…kita perkosa aja, dia gak akan ngadu sama saipa-siapa, kita kan punya kartu as nya!!!! Gimana, aku dah kebelet nich!!”

“Okey Rif, aku juga dah kebelet juga!!” sambil menggosok-gosok selangkangannya mereka berdua dan melakukan strategi memperkosa Selvy.

Hendra menyergap dari samping dan tangannya menutup mulut Selvy, sedangkan Sarif menyergap tangan Selvy dan secara kuat mengunci kedua tangannya. Selvy terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan maniak penjahat kelamin, Sarif  cepat mengingatkan Selvy untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Lain halnya Hendra yang bersikap lebih lembut dan malah mengutarakan permintaan maafnya.
“Maafkan aku sel. Kita gak tahan lagi menahan nafsu mendengar jeritanmu dan apalagi melihat tubuh telanjangmu yang putih bening begini. Percayalah, kami tidak akan menyakitimu.” bisik Hendra membujuk Selvy dengan nafas memburu akibat rasa tegang luar biasa karena disergap mereka.

Namun Selvy tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendangkan kakinya ke arah Sarif walau usahanya gagal total.

“Ingat kalau kamu ribut Sel, akan banyak orang yang tahu dan aku akan membeberkan semuanya tentang hubungan gelap kamu dengan Pak Imron!!!” ancam Sarif sambil melakukan remasan kecil pada buah dada Selvy yang bergantung bebas.

“gimana masih mau berontak  lagi Sel?!!” dengan nada menggertak Hendra melepas salah satu tanganya pada mulutnya dan ikut meremas dada Selvy sebelah kanan

Selvy akhirnya diam membisu karena tidak tau harus berbuat apa lagi selain menyerah, ia tidak ingin pacarnya mengetahui rahasia kelamnya ini. Setelah tangannya lepas dari kuncian Sarif, ia menarik tangan Hendra yang menutupi mulutnya dan berbalik menatap mereka berdua dengan tajam.

“Kalian berdua memang bajingan terkutuk, oke…aku akan menuruti kemauan kalian asal kalian bisa menjaga rahasia ini, hari ini kalian bisa menikmati tubuhku, tapi jangan bermain kasar.  jangan sampai melukai aku!” dengus Selvy dengan putus asa karena tidak ada cara lain untuk menghindar dan dengan sedikit memarahi Sarif karena memegang tangannya tadi terlalu erat, hingga membuat ngilu di pergelangan tangannya.

Hendra dan Sarif saling pandang, kemudian seolah tak percaya dengan penjelasan gadis itu. Mereka berdua terlihat sangat ragu. Hendra berbisik ke Sarif dengan nada yang bisa didengar oleh Selvy

“Wah Rif, hati-hati…ini sama dengan film kemaren, diberi kesempatan kita, eh entar malah kabur”

Selvy yang mendengarnya langsung menyeletuk “Gua akan layani kalian, asal kalian bisa jaga rahasia. Toh kalo gua kabur kalian bisa membongkar rahasia gua, satu lagi tolong jangan ganggu cici gua, dia ga ada hubungannya sama semua ini dan ga tau apa-apa. Kalau kalian ganggu dia, gua ga akan ragu minta Pak Imron ngehajar kalian sampe babak belur…ngerti!?” ia masih berusaha melindungi kembarannya agar tidak ikut jatuh ke cengkraman mereka.

Mereka berdua meneguk ludah melihat tubuh indah Selvy dengan buah dada yang bergantung bebas menantang, kemudian Hendra mengangguk menyanggupinya

“okey kalo gitu, kami percaya.?”.

Sarif bersorak gembira dan juga diikuti Hendra, mereka berdua mengerubuti tubuh gadis itu. Tubuh Selvy diangkat Sarif untuk berdiri, sedangkan Hendra meraba tubuhnya dengan penuh semangat. Dengan penuh nafsu di ubun-ubun Hendra terus menjilat bahkan mencucup vaginanya, pertamanya Hendra merasa jijik karena vagina Selvy berbau sperma yang sangat menyengat mungkin bekas sperma Imron. Ia menjilati vaginanya secara perlahan-lahan tapi pasti, cairan berlendir mulai mengalir membasahi dinding vaginanya, yang segera dihisap kuat-kuat olehnya. Selvy kegelian dan merasa nikmat, hingga tanpa sadar tangan kanannya meremas-remas kepala Hendra untuk menahan nikmat yang dirasakan sekarang ini. Desahan nafas Selvy makin tersendat-sendat dan desahannya makin tak karuan ketika Hendra menusukkan lidahnya untuk mengorek isi vaginanya. Sedangkan Sarif semakin bernafsu menyusu ke payudaranya, karena sangat teransang Selvy mengelinjang dan orgasme ketiga kalinya melandanya setelah dengan Imron tadi. Cairannya mengalir sangat banyak, sehingga Hendra kelabakan dan tak mampu untuk membendungnya, nafas Selvy tersengal sengal, seluruh tubuhnya berkeringat dan terasa semakin lelah, kakinya yang terasa sangat pegal, mungkin karena tadinya sudah bermain dengan pak Imron lebih dulu. Secara refleks, tangan gadis itu meraba-raba dan bergerak untuk melepas resliting celana Sarif.

Kini Sarif mengambil posisi di depan wajah Selvy sedangkan Hendra mengambil posisi di belakangnya sambil meremas-remas buah dada Selvy dan menyuruhnya agak berbungkuk. “Eh…tunggu-tunggu Rif, dia suruh berlutut aja, aku mau nyicipin bentar sepongannya cewek cantik!” sahut Hendra sambil mendorong Selvy untuk berlutut di hadapan Sarif dan ia juga berdiri di depannya
“Sabar dikit napa?! jangan maen dorong-dorong gitu dong!” kata Selvy agak sewot.
Selvy melepas celana Hendra dan melorotkannya hingga keluarlah senjata Hendra yang berukuran panjangnya 20 cm dan diameter 5 cm.

“Wow gede banget!!” kata Selvy dalam hati sedikit terkejut

“Udah jangan diliatin gitu terus, terpesona sama kontol gua kan? Gede ya? Ayo disepong, abis ini gua coblos!” kata Hendra sambil melihat ke arah Sarif yang lagi keenakan dikocok tangan lembut gadis itu.

Kedua tangan Selvy menggenggam penis Hendra dan Sarif, mengocok dan mengoralnya bergantian. Karena merasakan enaknya pertama kali dioral, Hendra memegangi kepala Selvy ketika penisnya dihisap kuat dan menahan untuk pindah mengoral Sarif.

“Gantian dong Hen… aku juga pengen nich, kamu sampe mengerang gitu disepongin, enak ya?” kata Sarif sedikit menarik kepala Selvy menuju penisnya yang besar 17 cm dan diameter 4 cm.

“Iya Rif…enak bener nih sepongan ala didikan pak Imron…sampe lupa kalo ada kamu Rif,hehe….!!!!

Selvy mulai menikmati diperlakukan demikian malah ini lebih tergolong lembut dari pada perlakuan pak Imron cs. Setelah pindah kebelakang Selvy, Hendra menunggingkan pantat Selvy sambil membuka bibir vaginanya dan mulai melakukan penetrasi ke vaginanya.

“Uhhh…nikmat, seret, lembab dan becek banget Rif!” erang Hendra sambil menekan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu, cairan orgasme yang berlelehan di selangkangannya berfungsi sebagai pelumas melancarkan masuknya penis Hendra yang ukurannya besar itu.

Pe..pe..lan- pe…lan Hen… ke,….besaran…!!!” erang Selvy
“Enak gak Hen ?” tanya Sarif yang lagi keenakan dikocok dan dioral ketika itu Hendra berhasil menancapkan seluruh penisnya pada vagina Selvy.
“Maknyus Rif, seperti di pijet-pijet!!” kata Hendra sambih mengerang nikmat dan mulai menggenjotnya.

Selvy semakin liar bergerak menikmati tusukan penis Hendra sambil melumat penis Sarif. Kedua tangan Hendrapun  tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua payudara Selvy dengan putingnya yang semakin mencuat. Hujaman penis Hendra dilihat oleh Sarif semakin hebat sebab Selvy semakin kuat menciumi dan menjilati bahkan menelan penisnya hingga masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Sarif merasakan kepala penisnya semakin menekan ke pangkal tenggorokan gadis itu, tapi tampaknya Selvy tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah mengoral penis Sarif. Naluri seks dalam diri Selvy mulai menggeliat hingga ia semakin liar, hal itu menyebabkan Sarif merasa geli bercampur nikmat. Sarif merintih dan mendesah hingga harus melepas penisnya karena dia tidak mau keluar sebelum ikut menyoblos vagina Selvy. Hendra semakin mempercepat genjotannya terhadap vagina Selvy, genjotan-genjotannya membuat gadis itu melenguh keras. Tangan kanan Selvy mengelus-elus klitorisnya sendiri di antara penis Hendra yang sedang keluar masuk semakin cepat.  Sarif pindah mengenyot payudara Selvy dan meremasnya sambil sesekali menciumi bibirnya.

“Ahhh, aku hampir keluar Sel…Aaahhh memekmu enak dan seret benar!” rintih Hendra dengan genjotannya yang sangat cepat.

“Uuuhhh terus Hen, gua juga mau keluar…lebih keras….iyah gitu…aauhhggghhh…oouukhhh!,” rintih Selvy semakin tinggi hingga tiba-tiba ia menjerit.

Jeritan Selvy membahana memenuhi ruangan toilet bagaikan srigala terluka, ketika itu pula penis Hendra menghunjam dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Selvy. Kedua pahanya menjepit pinggul Hendra sedangkan mulutnya melumat bibir Sarif. Hendra menghempaskan tubuhnya di samping dinding pojok belakang setelah mencapai puncak kenikmatan, sementara kedua tangan Selvy sekarang memeluk tubuh Sarif.

“Sekarang giliranku ya Sel!!!” bisik Sarif di telinga Selvy

“Terserah loe aja, tapi please jangan kasar!” jawab Selvy dengan sedikit pasrah

“Beres, dijamin ketagihan deh…Sel, kita main di situ aja yuk, biar lebih enak!” pinta Sarif, “ayo Sel, sini!” perintah Sarif sambil duduk di sebuah kursi panjang kecil yang memang disediakan untuk tempat duduk antri untuk memakai kamar wc.

Sarif duduk diikuti Selvy yang naik kepangkuannya sambil mengarahkan penis Sarif di antara kedua pahanya sehingga menyentuh klitorisnya. Selvy menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat.

”Ooouggghh, jangan siksa aku dong, masukkan!!!” erangnya.

Sarif mengikuti permintaannya, penisnya menggesek klitorisnya dan mulai mengarahkan ke lubang kenikmatannya, Selvy merespon dengan menurunkan pinggulnya lebih turun lagi sehingga penis Sarif ditelan habis oleh vaginanya. Lendir Selvy dan Hendra tadi membuat proses penestrasi lebih mudah.

”Ohhhh, Riff…ssshh!” desis Selvy memandang ke arah Hendra yang lagi istirahat sambil tersenyum.

“Aaaahhh,oocchhhhhh …” erang Selvy lagi. Kedua tangannya menarik tangan Sarif untuk meremas payudaranya. Ia melakukan hal itu sambil menaikan turunkan pinggulnya sehingga membuat Sarif mengerang keenakan.

Gerakan tangan Sarif berpindah menaikturunkan tubuh Selvy berlangsung dengan ritme pelan, tetapi kadang-kadang diselingi dengan goyangan-goyangan oleh Selvy sendiri. Berulang-ulang kali Sarif merintih,

“Gila Sel, enak banget memekmu! Oooouugghhhh … yahh …. aaahhh … sedappppp!” Pinggulnya sesekali naik menyambut pantat Selvy. Semakin lama gerakan pinggulnya makin tak menentu dan cepat. Gerakannya makin cepat dan kuat. Desahannya makin kuat mengarah pada jeritan. Dengan beberapa kali hentakan, membuat Selvy kecapean dan mengajak Sarif ganti posisi. Selvy turun dari kursi panjang dan menungging menunggu Sarif mengarahkan penisnya kembali ke vagina Selvy

“Rif, terusin cepat ….. Aaaahhhh, aku dah ga…Kk ta…..han, oooouuggghhh!” Selvy menggeram sambil mengangkat pinggulnya menyambut tekanan penisnya yang dihujamkan dalam-dalam ke vaginanya.

Tangan Sarif memeluk punggung Selvy dengan sambil yang satunya meremas buah dada gadis itu. Sarif menggenjot dengan pelan namun lama kelamaan makin cepat hampir tidak terkontrol.

“Selvy!!!! Ogggghhh, enak banget, sayang!” desahnya sambil memeluk erat-erat tubuhnya dan menciumi lehernya. Dinding vagina Selvy berdenyut-denyut memilin penisnya. hingga tak terkatakan betapa nikmatnya, “Yaaah gitu Sel, enak tuch….lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan suara parau karena dilanda nafsu.

“Aku dah mau keluar sel….di mulutmu ya!!!!” pinta Sarif

Selvy langsung buru-buru berjongkok dan mengocok penis Sarif dan mengulumnya

“Aaaaggghh, yah terus Sel…sedot yang kuat!! Aku mau ngecrot nih!” kata-kata itu diucapkan Sarif sambil memejamkan mata dan mengerang sekuat-kuatnya. “yeeesss!! Yesssssss…!!! oooooohhhhhhhh!!!”

Tanpa basa-basi lagi, penis Sarif  menyemprotkan cairan kental ke dalam mulut Selvy. Selvy mau tidak mau menelan cairan kental berwarna putih susu itu agar tidak tersedak. Semprotan sperma Sarif berlangsung beberapa detik, namun sangat banyak sekali hingga sebagian meleleh dari bibir mungil gadis itu. Gadis itu bersandar lemah pada bangku, nafasnya naik turun, sperma Sarif nampak masih meleleh-leleh di pinggir bibirnya, matanya memandang kesal pada dua pemuda brengsek itu, kini bertambah lagi orang yang memperbudaknya setelah Imron dan Pak Dahlan, si dosen bejat itu. Setelah tenaganya cukup terkumpul, Selvy berdiri dengan gontai dan menuju kran air di depan kaca dan berkumur untuk menghilangkan rasa sperma Sarif. Sarif dan Hendra mengawasi Selvy yang melangkah pelan memunguti pakaiannya. Pantatnya yang bulat dan buah dadanya yang kenyal membuat mereka meneguk ludah. Alangkah senangnya mereka berdua hari ini memperoleh kenikmatan dari cewek secantik Selvy yang bisa dipakai kapanpun karena Hendra diam-diam mengambil foto adegan Selvy dan Sarif. Dengan hasil jepretan itu bukan tidak mungkin satu hari nanti, kembarannya, Selly, pun dapat mereka nikmati juga. Setelah berpakaian lengkap Selvy meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Hehehe…gak nyangka, si tua bangka Imron itu ternyata punya banyak piaraan di kampus ini!” kata Sarif sambil mengencangkan kembali sabuknya, “fuihh…puas banget nih hari bisa ngerasain memeknya si Selvy, coba kalau kembarannya juga ada, pasti tambah afdol, tar sekali-kali kita peras pake foto-foto lu tadi Hen”

“Kayanya masih banyak lagi deh korban lain Pak Imron, gua ingat dulu waktu pulang sore pernah liat cewek keluar dari ruang kelas, jalannya gontai mukanya juga kaya kecapekan gitu, dia kaya agak nervous waktu ketemu gua gitu, terus ga lama dari kelas itu Pak Imron juga keluar, ngapain coba jam-jam segitu di kelas duaan aja kalau ga gituan?” kata Hendra mengingat-ingat.

“Pak Imron…gua mulai suka orang ini, kalau dia bisa kita ajak kerjasama pasti asyik deh” kata Sarif mengelus-elus dagunya.

Keduanya tertawa bersamaan, semua ini barulah langkah awal mereka. Kini para mahasiswi dan dosen cantik di Universitas ****** harus lebih berhati-hati karena yang mengincar mereka bukan hanya Imron, Dahlan si dosen bejat, Abdul si penjaga kolam, Kahar si satpam amoral, dll, kini telah muncul dua penjahat kelamin baru di kampus itu.

By: Dony Bro

Sumber: Kisah BB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: