h1

Office Cutie 3: Gairah di Rumah Tua

May 19, 2009
  • Cerita ini hanya fiksi belaka…
  • Bacaan ini khusus untuk dewasa, bukan untuk bacaan anak di bawah umur.
  • Say no to rape & drug’s in the real world
  • Satu lagi ^ _ ^, dilarang meng-copy paste, dan menampilkan cerita ini di tempat lain selain di KBB, Telur Rebus n Arsipgue.

*****************************

Rumah Tua

Rumah Tua

Di pagi hari yang cerah ini, aku bersiul-siul dengan gembira, kugiring dan kuparkirkan kendaraan mewahku, motor bebek dukun berwarna merah keluaran berpuluh-puluh tahun yang silam. Di depan kaca spion, kurapikan rambutku dan kusisir dengan rapi, Ck Ckk. Ckkk, betapa tampannya aku ini, bibirku yang tebal selalu menebarkan senyuman yang ramah, mataku yang bulat besar begitu indah mempesona, apalagi jika Aku menatap bokong para gadis cantik yang berseliweran di hadapanku. Ahhhh…ssshhh oohhh….my office, my playground, my PALACE!! Sebuah senyuman mengembang di bibir seksiku, gimana rasanya jika aku menjadi atasan disini, pasti asik…

“SELMYYY….kesini kamu!!“ aku berteriak memanggil seorang pegawai tua yang tergopoh-gopoh menghampiriku, ia menunduk ketakutan menatap lantai, kupandangi sosok kurus itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, ckk ckkk.. ckkkk…, begitu kotor, dekil, tak terawat.

“KAMU TUH BEGO YA?? Muka saya ini ada di sini, bukan di bawah kaki kamu, liat ke sini…! Coba kamu jawab yang benar, dimana muka saya??“ kubentak pegawai tuaku yang tidak berguna itu.

“Di pantat Pakkkkk….. !!!“ Selmy menatapku, ia menjawabku dengan mimik wajahnya yang meyakinkan.

“HAHHH………??? “ Aku tersentak panik ketika mendengar jawaban SELMY pegawai tuaku, dengan reflek tanganku meraba-raba pantatku yang sekal, tiba-tiba…

“BLETAKKKK ! HEU….DUHHHHHH……… Ehh Ibuu…??!! “ kepalaku terdorong keras ke belakang  ketika sebuah getokan keras yang berasal dari sebuah payung mampir di jidatku. Aku gelagapan ketika khayalan tiba-tiba saja berubah menjadi kenyataan, di hadapanku berdiri sesosok tubuh kurus dengan wajahnya yang keriput, matanya mendelik tidak kalah besar dengan mataku yang membeliak karena terkejut, sementara tangan kirinya memegangi sebuah payung berwarna biru muda yang sebelumnya dipakai untuk mengembalikan kesadaranku, dengan suara kerasnya. (BLETAKKKKK!!!)

“Kamu nggak denger saya teriak-teriak dari tadi HAHHH….!! Dipanggil-panggil MALAH CENGENGESAN NGGAK PUGUH!!“

Aku terbata-bata ketika seorang wanita tua keriput menimpukiku dengan suaranya yang melengking-lengking, nafas Bu Selmy ngos-ngosan karena nafsu amarah yang memuncak sampai keubun-ubun.

“Panggil Shasha sama Vania, suruh mereka keruangan saya, CEPATT…!! nggak pake lama….!! ”

“Saaa….saya Buuu?? (waduhhhh, apakah aku bakal di foursome bareng sama bu Selmy ?? NGEHEKKKK…!!NOOOO….!!)“ Mata-ku membesar indah, aku yang rajin dan teliti mencoba memastikan perintah bu Selmy, telingaku kembali terasa sakit ketika  mendengar suaranya yang melengking tinggi.

“YA IYA-LAH KAMUU….!! EMANGNYA SAYA YANG NAMANYA UJANGG…!!?? BLAMMMMM!!!!” Bu Selmy membanting pintu mobilnya kemudian dengan sigap si penyihir tua memarkir mobil mewahnya. DIITTTT…. Diiiiittttt!! suara klakson mobil Bu Selmy membuatku setengah berlari, aku segera melaksanakan perintahnya menjemput Nona Shasha yang cantik.

“Tokkk.. Tokkkk…  “

“Yaa, Masukkk….” terdengar suara merdu Non Shasha, aku segera menerobos masuk, kututup pintu di belakangku, aku menatap wajahnya yang cantik, tubuh mulusnya tampak begitu seksi, aku lupa diri menyaksikan keindahan sepasang paha mulusnya. Kuraih tubuh mulus Non Shasha yang kelabakan menahan nafsu birahiku, kulumat dan kukecupi bibirnya yang mungil, kuemut dan terus kuemut hingga tubuh mulusnya. Ia gemetar menahan nafsu birahi yang mulai membakarnya, Nona Shasha menarik bibirnya untuk mengambil nafas, wajahnya merona merah ketika aku menatap wajahnya, untuk sesaat kami hanya berdiri berpelukan, saling memandang satu sama lain.

Kukecup lembut bibirnya kemudian kudorong tubuh mulusnya duduk di pinggiran meja, kedua pahanya yang mulus mengangkang ketika kurogohkan tanganku masuk kedalam rok mininya, aku tersenyum karena Non Shasha mulai menuruti permintaanku, hari ini ia mulai tidak mengenakan celana dalamnya, kucelupkan jari telunjukku hingga amblas terbenam, digigit belahan vaginanya. Kutusuki belahan sempit di selangkangannya hingga ia menggeliat keenakan, tengah asik-asiknya aku mengeluar-masukkan jariku tiba-tiba aku mengingat perintah Bu Selmy….

“Non Ehmmmm…itu Nonnnnnn…, Euuuuuuu, tadi Bu Selmy manggil Non Shasha sama Non Vania” aku berbisik di dekat telinganya tanpa menghentikan gerakan jariku yang semakin aktif menusuk-nusuk belahan vaginanya.

“Ahhh Ahhhh.. Ahhhh… Hahhhh…?? !! Aduh ujang….!!, Kenapa nggak bilang dari tadi, minggir ah..!! Duhhhh KAMU…!!” Non Shasha yang tengah sibuk menikmati gerakan-gerakan jari telunjukku tiba-tiba tersentak kaget, suara-suara ah dan ah-nya mendadak lenyap, dengan gemas dijewernya kupingku hingga aku mengaduh kesakitan, ditepiskannya tanganku hingga jariku terpelanting dari jepitan bibir vaginanya.

Nona Shasha segera merapikan roknya. Setelah menyambar sebuah map di atas meja, ia meninggalkanku yang masih horny menatap punggungnya yang menjauh, cegluk, cegluk, berkali-kali aku menelan ludahku, kuusap-usap kupingku yang terasa sakit, biar sakit namun hatiku terasa begitu gembira., seperti orang yang sedang jatuh cinta, I love U Non Shasha. Cintaku, sarung penisku.

“Hnnnhhhhhhhhhhhhhhhh…“ Aku menghela nafas panjang-panjang untuk meredakan nafsu birahiku, dengan langkah gontai aku mengekori langkah Non Shasha

Aku menolehkan wajahku ketika mendengar suara langkah-langkah kecil yang terburu-buru. Ahhhh, Vaniaku  berlari-lari kecil , pikiran kotorku tiba-tiba meledak dengan keras. Hmmmm, apakah Vaniaku yang cantik juga tidak mengenakan celana dalam sesuai dengan permintaankuku??

Aku membalikkan tubuhku kemudian berbelok ke arah dapur, Lohhhh, ngapain si Sarif bengong di sisi tangga.

“Riiffff, Sariffff….,WOOOIIIII “ Aku berteriak keras untuk menyadarkannya

“HEUUUUUH….!! GELO SIAHHH!!“ Sarif tersentak kemudian mengumpat kesal.

“Lu kenapa Rifffff ?? “ Aku bertanya padanya.

“Jangggg, Sini…tadi gua ngeliat itunya Non Vania, pas dia turun tangga, nggak sengaja gua nengok ke atas, gua  ngeliat MEMEKNYA…, gila Jangg, Gua sampe shock!!“ Sarif menarikku, kemudian berbisik di telinggaku.

“Ssssttt…jangan bilang siapa-siapa Rifff, bahaya tau!!“ aku berusaha melindungi kehormatan Non Vania.

“Hahh ?? napa gitu ?? “

“Bisa dipecat lu nanti, disangkanya lu udah berani kurang ajar , bertingkah mesum…..! melakukan pelecehan seksual…tidak senonoh!“

“Oooooooo, Ehhh lu jangan bilang siapa-siapa ya Jang” bibir Sarif membentuk huruf O, kemudian ia berbisik dengan cemas

“Iya Riff, tapi traktir gue makan siang ya“

“Iya.., iya…., tapi awas lu…!! jaga bacot lu yang rada bawel itu.”

“Beres Rifff, tenang aja, rahasia lu aman bersama UJANG…, he he he.” Aku memberikan janjiku sambil menepuk dada..

*************************

Hari Jumat, jam 19.01

Aku menghampiri mobil Honda Jazz berwarna silver metalik yang menjemputku di depan rumah kostku dan masuk ke dalamnya. Aku duduk mengangkang di bangku belakang, permukaan celanaku menggembung, membengkak tanpa dapat kukendalikan. Nona Shasha menyetir di belakang kemudi sedangkan Nona Vania duduk di sebelahku, ekor mata Vania sering melirik ke arah selangkanganku, aku membuka resleting celanaku kemudian menarik batang penisku keluar, kuraih tubuh mungil Vania dan kupangku di pangkuanku.

“Ihhhh., Ujangg norakk…!! ntar ada yang liat……., Ujangg”

“Ahhh kalemmm aja Nonn, sepi iniiii.”

“UJANGGG…ada pengamenn….!! Ada anak kecil!” Nona Vania tampak khawatir ketika aku memamerkan batang penisku, seorang pengamen cilik mendekati mobil kami, dengan liar kucumbui batang leher Non Vania hingga ia merintih lirih.

“Hahhh??“ pengamen cilik itu terkejut setengah mati menyaksikan-ku yang tengah memangku Nona Vania, tanganku  masuk ke dalam rok mininya, cup.., cupphhh, ciumanku mendarat di leher, rahang dan pipinya, kemudian kulumat bibir mungilnya dengan bernafsu.

“Ehhhhh….,Emmm.., jangan bilang siapa-siapa ya…^_^ ” Non Shasha tersenyum ramah sambil memberikan uang 10 ribuan, pengamen cilik itu terus menengok ke belakang, sebentar menatap Nona Shasha yang tersenyum ramah, kemudian kembali menengok lagi ke belakang.

“UJANGGG…!! Idihhhh….Euuuufffhhhh“ Nona Vania meronta dari pangkuanku ketika aku hendak berbuat lebih jauh, aku membiarkannya meloloskan diri, bukan karena aku rela melepaskan tubuh mungilnya yang mulus namun karena mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan yang agak ramai, jalanan mulai kembali sepi ketika mobil kami memasuki sebuah jalan kecil, agak berlumpur di daerah pedesaan.

Sasha

Sasha

“Di mana ini Nonnn ?? “ sambil menengok kesana kemari aku bertanya pada Non Shasha.

“Rumah ini baru disita sama bu Selmy karena pemiliknya nggak bisa bayar hutang..  “ Nona Vania menjelaskan secara singkat sambil keluar dari dalam mobil.

“Yaaaa…, sebenarnya sich kami takut….waktu bu Selmy meminta kami untuk memeriksa rumah ini…, karena…itu kami ngajak kamu…Jang” Nona Shasha menjelaskan dengan singkat, aku buru – buru membuka pintu mobil. Setelah berada di luar kurenggangkang tubuhku kesana kemari untuk mengusir rasa pegal yang menyiksa selama perjalanan, hemm, suasana yang masih asri, masih banyak pohon-pohon besar ditepi jalan setapak menuju rumah tua itu…

“Ujanggg.., Emmmm, kamu duluan gihhh….” Nona Vania dan Non Shasha mendorong punggungku,

“Lohhhh… kenapa ?? Ehhhh… Uhhh…“Entah kenapa Aku tiba-tiba bergidik ngeri, mataku menelusuri jalan setapak menuju rumah tua besar yang menyeramkan, berkali-kali kepalaku menengok ke kanan dan kiri, gelap, seram, duh, batang penisku sampai berkedut karena ketakutan,akhirnya aku sampai juga di depan pintu rumah itu itu dengan tangan kanan kudorong pintu rumah tua itu, sementara tangan kiriku memegangi emergency lamp yang diberikan oleh Nona Shasha.

“Krekeeettttt…..!!! “Bunyi pintu tua itu serasa menyayat telinggaku,

“Hiiii… Hiiii hiiii Hiiii Hiiiii….!! “

“ANJRITTT……!!“ aku berteriak keras, jantungku melompat keluar mendengar suara cekikikan yang mengerikan, tepat disebelah batang kemaluanku, sementara “Ujang junior” terjengkang tak sadarkan diri..

“Awwwww!!“ Nona Shasha dan Nona Vaniapun menjerit dan melompat sangking kagetnya. Dengan terburu-buru tangan kananku merogoh Hpku yang mendadak berbunyi dengan nada dering alarm yang membuat bulu kuduk kami merinding.

“UJANGGG…ngapain sihh pake nada kaya gitu!!“ Nona Vania mencubit punggungku dengan gemas.

“Iya nihhhhhh…bikin kaget aja!!!” satu cubitan keras Non Shasha ikut mendarat di punggungku.

“BEUUUUU……!! Bukan non Shasha sama Non Vania aja yang kaget..!! Saya juga kagettt!!” aku buru-buru mematikan suara Hp-ku yang membuat kami bertiga hampir lari terbirit-birit ketakutan, sementara suara angin yang berlari di antara pepohonan membuat suasana hatiku semakin tidak menentu, akhirnya kami bertiga memberanikan diri masuk ke dalam rumah tua itu (jangannnn dorong-doronggg Nonnn, aku juga tatut nehhhh, aku berteriak didalam hati), sebuah rumah tua di tengah kawasan perkebunan yang jauh dari keramaian, dengan korek api kunyalakan lampu cempor yang tergantung disudut ruangan.

“WAhhhh…Nonnnn, koq kaya di warung remang-remang yahh suasananya, he he he he he…” Aku terkekeh sambil mematikan emergency lamp di tangan kiriku. Nona Vania dan Nona Shasha duduk saling bersebelahan di sebuah kursi sofa tua panjang.

“kamu sering ya Jangg, ke tempat seperti itu ?? “ Nona Vania menatapku dengan tatapan mata curiga.

“Enggakkkk, kan ada Non Vania sama Non Shasha yang lebih cantik dan bohay…., ngapain saya ke tempat seperti itu ??”

“Dasarrr… , nggak usah ngerayu gitu dehhh, nggaku ajaa…, kamu sering kan ke tempat seperti itu??” Nona Shasha ikut mendesakku sambil menatapku dengan tatapan nakalnya.

Vania

Vania

“Enggak Nonnn, Suerrrr….. “ Aku mengacungkan kedua tanganku keatas membentuk huruf V dan DHUARRRRR…..!!!, GLEKKK, CEGLUK!! aku segera menarik tanganku turun ketika tiba-tiba terdengar bunyi geledek yang memekakkan telinga (bibirku berkata tidak, tetapi hatiku menggakui segalanya). Suara angin bergemuruh, berlari kencang diantara pohon-pohon besar yang tumbuh dengan subur di sekeliling rumah tua itu.

“WAhhhh…sepertinya bakal turun hujan deras ya??“ Nona Shasha bangkit dan melangkah ke dekat jendela, tangan mungilnya mendorong daun jendela hingga terbuka merekah ke samping, ia hanya mendesah pelan ketika aku memeluk tubuh seksinya dari belakang, satu persatu pakaian Nona Shasha mulai berjatuhan ke lantai hingga tubuh seksinya telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya, kuremas induk payudaranya dengan gemas, hingga ia mengaduh kesakitan.

“Ahhh… Ujangg pelan-pelan dong…..mmmhhh..mmmmnnn “ bibirnya yang mungil agak manyun, aku hanya terkekeh sambil menggerayangi dua gundukan bukit susunya yang semakin mengenyal, kusumpal bibirnya dengan bibirku untuk meredakan keluh kesahnya. Kupeluk dan kubelit tubuh mulusnya dengan erat, kudorong hingga ia duduk di tepian jendela, kedua kakinya yang halus mulus mengangkang lebar, seolah-olah memperlihatkan keelokan wilayah intimnya kepadaku yang sedang melotot sambil berlutut di antara kedua kakinya yang terbuka lebar.

“WAHHH….Nonnn…segerrrrrr…mulussss, hehehe“ kedua tanganku merayapi permukaan pahanya yang halus mulus,  sementara kepalaku mulai terbenam di selangkangannya.

“aaaaaaaaa…. Ahhhhhh, aaaaaaaaaahhsss!!“ nafas Nona Shasha tersendat-sendat ketika aku mulai menarikan batang lidahku menggelitiki bibir vaginanya yang merekah, aroma harumnya yang semerbak membuatku semakin bergairah.

“Slllccckkkk…,, Ckkkkkk.. Ckkkk Cpphhhh… Sllllccckkkkk” dengan tekun lidahku berkali-kali mengoreki belahan vaginanya yang mulai basah dilelehi cairan kewanitaannya yang gurih dan lezat.

“uhhhh. ?!.. awwhhhhsss…. aaahhhh“ Nona Shasha semakin resah gelisah ketika ujung lidahku menusuki clitorisnya, kukaiti daging mungil itu hingga pemiliknya tersentak sambil mendesah dan merintih keenakan, kuciumi belahan vaginanya dengan rakus  sebelum kuemut kuat-kuat bibirnya

“Aduhhh, jangannn… Nonnn saya maluu!!“ aku pura-pura malu ketika Non Shasha dan Non Vania melepaskan pakaianku, mereka hanya tertawa kecil ketika aku pura – pura ketakutan.

“Ihh, Ujang, jangan begitu ah.., sebell!!”

“Iya… Pura-pura nehhh, padahal aslinya nggak kaya gini…, buas dalam bercinta he he he he….”

“WAHHHH…belajar dari mana Nonn?? koqq jadi pada jago nyepong sihh?“ aku memuji ketangkasan lidah dan mulut mereka yang mempermainkan batang kemaluanku.

Kusodorkan batang penisku ke depan masuk kedalam rongga mulut Nona Shasha yang ternganga, HAPPPPPP….., mulutnya mencaplok kepala penisku, kedua pipinya tampak kempot ketika mengemut-ngemut kepala penisku, kutarik bahunya agar ia berdiri, kurendahkan batang penisku dan kutempelkan kepala penisku hingga menggesek belahan vaginanya, desahanku dan rintihan lirih Nona Shasha saling bersahutan ketika gesekan demi gesekan yang nikmat itu membuat kami semakin terlena jauh kealam birahi yang penuh dengan kenikmatan.

“aaaaaaaaaaaa…. Ahhhhhhhh…. Bllllsshhhh“ kukait belahan vaginanya dengan batang penisku, dengan sedikit paksaan melesatlah penisku mengarungi lorong sempitnya yang terasa hangat dan nikmat,

Lubang vagina Nona Shasha berdenyut – denyut, mengenyot dan memijati batang kemaluanku yang sedang asik berendam semakin dalam menusuk liang vaginanya yang peret. Dengan terengah Nona Shasha menengadahkan wajahnya menatap wajahku, kupandangi wajahnya yang cantik dan sensual, matanya tampak sayu, keringat-keringat lembut mulai membasuh tubuh mulusnya yang mengkilap indah dibawah pancaran sinar lampu cempor.

“Ujanggggggghhhhhh…, enakkkkk…. Ohhhhhhhhh!!“ Nona Shasha menggeliat resah ketika aku mulai mengayunkan batang kemaluanku, merojok-rojok belahan nikmat di selangkangannya, sesekali penis besarku tertekuk ke kiri dan kanan sangking sempitnya belahan vaginanya yang sedang kusodok-sodok dengan penuh nafsu binatang yang semakin membara di dadaku, kedua tanganku mencapit pinggangnya yang ramping, tubuh mungilnya tampak kewalahan ketika aku semakin mempercepat irama sodokanku, sesekali tubuhnya bergetar hebat menahan rasa nikmat yang mendera vaginanya dan menyengat tubuh mungilnya yang putih mulus.

“Awwwwwwwww…. Crrrtttt… rrrtttt… Crrrrrr” tiba-tiba saja tubuh mungil Non Shasha mengejang selama beberapa saat kemudian terkulai lemah sambil bersandar pada tubuhku, kupeluk erat-erat tubuhnya, ia baru saja dihajar rasa nikmat yang begitu kejam memeras tenaga dan keringatnya yang mengucur dengan deras.

“Ujanggg…, jangan disitu.., aku nggak suka….” Nona Shasha protes ketika aku membalikkan tubuhnya dan berusaha mengait liang anusnya yang mengkerut ketakutan. Aku sama sekali tidak menghiraukan keluh kesahnya, dengan paksa aku membongkar lubang duburnya.

“Auhhhhhh… Ngggghghhh…!! Pelannnhh.. Ohhhhh Pelannnnhhhh” tubuhnya terperanjat ketika dengan kasar kepala penisku menyusup masuk ke dalam jepitan lubang anusnya, ia kembali memekik keras ketika aku menghentakkan batang penisku,

Aku tersenyum merasakan batang besar panjang di selangkanganku tertancap kokoh di jepitan anus Non Shasha. Kutarik pinggulnya sambil menyodok-nyodokkan penisku menyodomi liang anusnya yang mungil, aku semakin bersemangat menyodomi Non Shasha ketika mendengar suara desahan nafasnya yang tersendat disertai rengekan-rengekan kecilnya yang terdengar semakin menggairahkan.

“Vaa.. Vaniaaa..?? Ohhhhhh…mmhhh, Vania, jangan ahh, aduhh mmmhh… Vania sadarrr..Ohhhh Mmmmhh Mhhhhh“ Shasha tampak gugup ketika Vania memeluk tubuhnya sambil menggerayangi bulatan susunya,  bibir Vania melumat dan mengulum bibirnya. Untuk beberapa saat Shasha berusaha menolak perlakuan Vania, namun nikmatnya perlakuan Vania malah membuatnya seperti kehilangan kendali, ia memeluk tubuh Vania dan membalas melumat bibir mungil Vania, kuikuti tubuh Shasha yang merosot turun hingga meringkuk menungging diatas lantai kayu, kutarik kedua tangannya kebelakang, tubuhnya tersentak-sentak dengan kencang mengikuti irama sodokan-sodokan batang penisku yang semakin cepat dan kuat.

“PLOKKK.. PLOKKK PLOKKKKK…..” terdengar suara persetubuhan yang semakin memanas ketika aku menunggangi tubuh mungil Nona Shasha dengan liar dan kasar, erangan dan rintihan kecilnya terdengar begitu merdu menggairahkan ditelinggaku. Kutusuk dan terus kutusukkan batang penisku menyodomi liang anusnya yang sempit dan kering.

“Ahhhh… aaaaaa… Aooowwwwwww!!“ Nona Shasha melolong keras ketika aku menjejalkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang anusnya yang mulai memar kemerahan akibat dihajar olehku.

“Ehmmm, Ujang…pelan-pelan dong, Oww…gggggakkkkkhhhaa….jangan kasar gitu auhhhh“ Nona Shasha mencoba merayuku di tengah suara nafasnya yang tersendat-sendat, aku terus menyodok-nyodokkan batang penisku merojoki liang anusnya tanpa pernah menghentikan gerakanku sedetikpun. Semakin keras ia mengeluh, semakin kuat pula kuhentakkan batang penisku menyodominya, sementara jariku terus mengucek-ngucek klitorisnya, Non Shasha hanya dapat meringis pasrah menghadapi serangan brutalku yang sedang menyodomi liang anusnya.

“Awwww. Krrrttttt…….kkkkrrrtttttt… “kuku Nona Shasha mencakar-cakar lantai kayu itu, punggungnya berkali melengkung terangkat ke atas, tubuh mulusnya gemetar dengan hebat, ia seperti sedang menahan sesuatu yang akan meledak dengan nikmat di dalam vaginanya, terdengar suara erangan kerasnya yang menggairahkan, di sela-sela desah nafasnya yang tersendat-sendat.

Cuurrrrttttttt crrrutttttt…….., tubuh Nona Shasha mengejang ketika aku membenamkan batang penisku dalam-dalam, telapak tanganku segera membuka ke atas menampung cairan vaginanya yang meleleh, kusekakan cairan vaginanya merata pada buah pantat Nona Shasha yang bulat padat, aroma cairan vagina non Shasha tercium yang kuat di udara membuatku semakin terlena menusuki liang anusnya yang tersungkur-sungkur mengikuti irama sodokan-sodokan kuatku, PLAKK..!! PLAKKK…!! PLAKKK…..!! buah pantat Non Shasha yang bulat padat terguncang dihantam oleh selangkanganku.

“Plophhhhh” terdengar suara letupan keras ketika aku mencabut penisku dari jepitan anus Non Shasha kemudian kupukuli buah pantatnya seperti sedang bermain drum. Non Shasha menarik pinggulnya ketika jari telunjukku menyentuh lingkaran otot anusnya yang memar merekah, kutundukkan kepalaku dan kuciumi dubur Non Shasha yang sudah teruji kelayakannya dalam memberikan kenikmatan, liang anus yang mungil sempit.

“UJANG!“ aku menolehkan kepalaku ke arah suara Non Vania yang mendesah memanggilku, ia duduk bersandar santai mengangkang di atas kursi sofa tua itu, kemolekan selangkangan Non Vania seakan menghipnotisku yang merangkak mengejar wilayah intimnya.

“ahhhhhh…., UJANGhhhhhhhnn!!” kedua tangan Non Vania mendekap dan membelai kepalaku yang terbenam di selangkangannya, kuhirup aroma vaginanya yang segar, kujulurkan lidahku mengulas-ngulas belahan vaginanya yang berwarna pink.

“Eummm, slllccckkk.. ckkk mmm ckkk, itu Nonn,umm siapa nama pegawai baru, yang bule itu nyammmm.. mmmmm.. yang baru lulus kuliah itu lohhh…muahhh” sambil menikmati hidangan vagina Non Vania aku mencoba mengumpulkan informasi “daging segar impor”..

“Hati-hati JANG, ituuu…, ohhhh…., bias habis nanti kaa..mhuuhh hhhsss, dia ahli bela dir” Non Vania berusaha mengingatkanku.

“Wahhh,kalau soal bela diri saya juga hebat loh Nonn…., pokoknya Ujang mah nggak ada lawannya dehhhhh, He he he duhhhh memek!” kuemut bibir vagina nona Vania dan kugigit kecil hingga ia terperanjat dan menjewer kupingku, aku bangkit berdiri sambil menyodorkan permen loli besar di selangkanganku.

“he he he.., ihhh Ujangggggg….. “

Non Vania menggeser posisinya diraihnya batang penisku, jemari tangannya yang lentik mengelus-ngelus buah terong besar panjang yang menghiasai selangkanganku kemudian cuppp.. cupppp.. cupppp.., berkali-kali ciumannya mendarat di kantung pelir, batang dan dikepala penisku, lidahnya yang basah dan hangat menari-nari melingkari permen loli kesukaannya, dihisap dan diemutnya kuat-kuat kepala penisku hingga bibirku yang tebal termanyun-manyun keenakan, bola mataku mendelik ketika Non Shasha ikut mengeroyok batang penisku, kedua tanganku membelai kepala dua orang gadis Chinese bertubuh mungil putih mulus tengah asik menservice batang kontolku. Nona Vania mengangkangkan sepasang paha mulusnya kesamping, kutatap dalam-dalam matanya yang sayu, sepasang mata yang haus akan kenikmatan, sepasang mata sipit yang mengharapkan kenikmatan dariku. Kuletakkan kepala penisku pada belahan vaginanyakemudian kucokel-cokel belahan vaginanya dengan kepala penisku, slopp…slopppp….slllloooppphh…

“Ujanggg.., jangan digituin ah….aaaa”

“Abis digimanain dong Non??“

“Ya, dimasukin dong ahh, pake nanya lagi he he he” Nona Vania mencubit lenganku yang sedang menggerayangi payudaranya.

“bener nihhh pengen dimasukin??“aku menggodanya

“He eh” ia menjawab sambil mengangguk kecil, Vaniaku yang cantik tersenyum manis menatapku.

“Yaa udahhh kalau Non Vania maksa, saya cuma bisa menuruti keinginan Non Vania…tahan dikit nonnnn, titit saya juga pengen masuk ke dalam liang memek Non Vania yang peret… he he he….”

“Nnnngggghhhhh…Nnnnnnhhh…ooohhhhhhh!!” berkali-kali  tubuh mungil Vaniaku yang cantik menggelinjang dan menggigil hebat menahan desakan kepala penisku yang berusaha merojok vaginanya, mata sipitnya terpejam rapat-rapat, keningnya mengkerut membentuk angka “11”, sedangkan mulutnya membentuk angka O besar disertai desahan panjangnya yang terhembus keluar ketika batang penisku menerobos membelah belahan liang vaginanya yang mungil, nafasnya terengah-engah seperti sedang berlari dipacu oleh nafsu birahi yang menggelora, butiran keringat mulai mengucur dengan deras di lehernya.

“Uhhhhhh…. Hsssshhhhh… ujaann..nnnggghhhh “ tubuh mungil Vagina menggeliat resah ketika batang penisku tertancap dengan semakin sempurna di jepitan vaginanya.

“Gimana Nonnnn? nggak sakitkan?? rasanya cuma seperti digigit semut aja koqqq” kedua tanganku mencapit pinggangnya.

“semutnya.., ehhh semuttt ahhhhhhhhh“ Nona Vania gelagapan ketika aku mulai mengayunkan batang penisku dengan gerakan yang liar dan brutal, sementara Nona Shasha memeluk tubuhku dari belakang, sebuah bisikan-bisikan  mesum dibisikkannya ketelinggaku.

“Terus ujang, terussss, ewe Vania, iya betul, entot terus Jangg sampai kamu puas, gimana rasanya jangggg, enak ya rasa memek Amoy… hmmmmmm? ohhh UJANGGG… kamu kuat bangeeetttt..sichhhh cupp cuppp…, cupph” Nona Shasha menciumi pundakku, aku semakin liar mengayunkan batang penisku ketika mendengarkan desahan-desahan mesum Nona Shasha.

“Ahhhh… Aaaaaaaaaa…sebentarrrrhhh ahhhh Ujjnnanggghhhh” Nona Vania kewalahan menerima sodokan-sodokan liarku, bibirnya menceracau tidak karuan, aku bertambah nafsu merojoki vaginanya ketika mendengar rengekan-rengekan kecilnya, kupompa hingga ia terguncang hebat dan mengejang, Crrruuuu… crrrrrrrrrrttttt…penisku disiram oleh cairan vaginanya yang terasa panas nikmat, kuaduki vaginanya perlahan-lahan, kuusap keringat yang mengucur deras didahinya, kutundukkan wajahku merapat kewajahnya, bibirku mengecupi bibir mungilnya yang termegap – megap berusaha mengambil nafas-nafas panjang.

Kubalikkan tubuhnya menungging, kutekankan punggungnya hingga susunya tertekan di bangku sofa, kutarik bokongnya ke atas, kutekan buah pantatnya bagaikan seorang pedagang yang tengah membelah buah duren, kutempelkan kepala penisku di pintu kenikmatan anal sex, terdengar lenguhan panjang ketka perlahan-lahan kepala penisku mulai terbenam kedalam anus Nona Vania.

“Unnnhhhhh…Ujangggggg… aaaaaaaaaaa!!“ Nona Vania mendorongkan tangan kirinya kebelakang, berusaha menahan gerakan penisku, kutarik kedua tangannya ke belakang sambil menghentakkan batang penisku dengan sekuat-kuatnya.

“aaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrhhhhhhhhh…………………. “ gejolak nafsuku semakin meledak-ledak ketika punggung Nona Vania melengkung ke atas disertai suara erangan kerasnya yang merdu, jantungku serasa berhenti berdetak ketika penisku melesat menyodomi duburnya.

“ahhhhh haaaahhhhkkkk…owwwww…owwwww…..awww…aaakkk” kutunggangi anus Vania dengan penisku, kenikmatan itu seperti asik memeras keringat ditubuhku dan tubuhnya yang semakin basah kuyup oleh butiran keringat yang mengucur deras, mengguyur tubuhku dan tubuh mulusnya yang terayun dan tersentak disodomi oleh batang penisku.

“he he he., gimana non.., asik nggak ?? “ aku bertanya  sambil menggenjot-genjotkan batang penisku merojok liang anus Vania, hanya erangannyalah yang kudengar, ia terlalu sibuk menahan serangan liarku.

“ahhhhhhhh… aaaaaaaaaaa….Crrrrrrrr….” kujambak dan kutarik rambut Non Vania ke belakang sambil menyentakkan penisku dalam-dalam, kujilati belakang telinganya yang tengah menggigil mencapai puncak klimaks, sementara batang penisku tetap terayun dengan kuat.

“DHUARRRr….!! EHAKKK CROOTTT.. KECROOTTTT…..” Suara geledek yang sangat keras membuat-ku kehilangan kendali, mataku mendelik ketika kepala penisku “mengucapkan sumpah serapah” disertai muncratnya spermaku menyiram liang anusnya, nafasku bersahutan dengan nafasnya.

“Sialan….bikin kaget aja! Tolong Non“ Aku menyodorkan batang penisku yang sempat kaget dan pingsan kehadapan Nona Shasha, ia tertawa sambil menarik batang penisku.

“He hehe. duhhh kaciannnn…kaget yaaaaa??“ dengan penuh kasih sayang Nona Shasha membelai-belai batang penisku, dielus, dijilat dan dibelainya hingga penisku kembali berdiri dengan tegak perkasa, cuphh, satu kecupan kecilnya mampir di kepala penisku, lidahnya membelit melingkari kepala kemaluanku, mulutnya terbuka lebar menganga kemudian mencaplok kontolku, kubiarkan Nona Shasha bermain dengan batang kemaluanku yang semakin mengeras.

“Ujanggggg…aku di atas ya??“ Nona Shasha meminta agar aku terlentang di atas lantai kayu.

“Hemmmm?? Tapiii harus yang liar ya Nonnnnn!!“ aku bernegosiasi dengannnya.

“yeeee…, pake nawa segala, emangnya dipasar ?? “ Nona Shasha merangkak menaiki tubuhku yang tinggi besar seksi hitam legam, sungguh cocok jika aku yang “ganteng” ini bersanding dengan Nona Shasha yang cantik bertubuh mungil putih dan mulus, kedua tanganku mendekap pinggulnya, aku tersenyum ketika ia menarik penisku, kemudian diletakkannya kepala penisku di tengah-tengah rekahan bibir vaginanya, ada rasa geli yang menggelitik ketika kepala penisku mengulas belahan vaginanya, plesetttt…kepala penisku terpeleset ketika ia berusaha memasukkan batang penisku.

“Mau dibantuin Nonnn ??”

“Nggak…nggakkk usahhh….hampir masukkk…emmmmhh!” mata sipit Non Shasha membeliak lebar ketika aku menyentakkan batang penisku ke atas, tubuh mungilnya menggeliat indah, kedua tangannya bertumpu di dadaku, nafasnya tersendat-sendat ketika kedua tanganku menarik pinggulnya untuk turun dan duduk di kursi kenikmatan di selangkanganku. Aku menatap wajahnya yang merona merah, untuk beberapa saat kami berdua hanya diam saling berpandangan, tanganku mengusap-ngusap pinggangnya yang ramping.

“Ayoo Nonnn…tolong perkosa saya…he he he”

“begini ya janggg…cara merkosa kamu ?? hemmm“ Nona Shasha tertawa kecil sambil menekan kedua bahuku, kemudian ia mulai menaik turunkan pinggulnya.

“Lebihh cepat Nonnnn!!”

“Ini juga udah cepat janggg….mmmhhh Hssshhhh…aaaahhhhh.. crrrr crrrtttttt” belum begitu lama Nona Shasha menaik-turunkan pinggulnya tiba-tiba ia menjerit kecil, Shashaku yang seksi mencapai klimaks, aku mendekap tubuh mungilnya yang terkulai lemas, kupeluk erat tubuh mungilnya yang mulus, basah dan hangat.

“waduhhhh, padahal memek Non Shasha  baru turun naek sebentar, masa udah meledak lagi he he he” aku mengusap punggungnya yang berkeringat.

“Titit kamu kegedean sich Janggg…enakkk” Nona Shasha menggakui kekalahannya, telapak tangannya membelai pipiku dengan lembut, kuraih tangannya yang sedang mengelus pipiku kemudian kekecup tangannya dengan mesra, kedua tanganku merayap semakin turun, kutekan-tekan bokongnya sambil menyentak-nyentakkan batang penisku keatas, kusodoki vaginanya dengan gerakan-gerakan yang kuat dan teratur, kedua kakiku mengangkang menerima kehadiran tubuh mungil Nona Shasha yang terlungkup tanpa daya merintih diatas tubuh hitamku, hingga ia akhirnya kembali memekik kecil ketika batang penisku membuat cairan vaginanya meledak – ledak dengan nikmat. Vania merangkak dan berlutut di sisi kananku,

“Shaaaaa… geser dongggg…aku mauuuu!!” Nona Vania merengek agak Non Shasha turun dari atas tubuhku.

“Nggak bolehhhh…, he he he“ Nona Shasha menggoda Non Vania. Ia mengeluh ketika Vania mencubit pinggulnya yang sedang bergeser dari atas selangkanganku, Non Shasha memeluk tubuhku dari sebelah kiri, kepalanya bersandar di dadaku, sementara tanganku membelit memeluk tubuhnya yang mulus.

“nnnggggghhhhh.. mmmmppppphhhh…aaaaaaaaaaaahhhhhh!!” Nona Vania menggigit bibir bawahnya ketika kepala penisku bersusah payah menyelam ke dalam belahan vaginanya yang mungil sempit. Ia tampak menderita ketika perlahan-lahan kepala penisku membongkar belahan sempit di selangkangannya.

“Auhhhh.. uhhhhhhh……” tubuh Nona Vania tersentak-sentak ke atas ketika aku menyentakkan batang penisku berkali-kali kusodokkan penisku merojok-rojok belahan vaginanya. Nona Vania berusaha melawan sodokanku dengan memutar dan menghempaskan vaginanya ke bawah.

“Clepppp… cleppppp…. Cleppppp…. Nahhh ini baru benarrrr, hehehe, Non Shasha harus belajar dari Non Vania…Weissshhhtttt!“ aku kagum dengan kelihaian Non Vania, ia begitu liar menaik turunkan pinggulnya, jeritan-jeritan liarnya terdengar menggairahkan. Seiring dengan hempasan-hempasan vaginanya mendesak selangkanganku.

“Ahhhhhh!! Ahhhhhhh!!, ewe akuuuu, ohhhh terusss, entotttt!! Terus UJANGGG…terusssssss….yaaaaa…. UJANGG seperti ithuuu Ohhhh.., nikmatnyaa!!” jeritan-jeritan Vania semakin keras, ia memekik histeris ketika vaginanya disodoki oleh penisku.

“Woww!! Vania!“ Non Shasha berlutut di sisi Vania, ia bengong menatap  Vania yang begitu liar dan binal.

“Shaaaa…peluk akuu Shaaaa… pelukkkk!!” Nona Vania berusaha memeluk tubuh Non Shasha yang tampak risih ketika berpelukan dengan Nona Vania yang tengah diamuk nafsu birahi.

“Ehhhh…, iniii…ehhh aduhhh mmmhppphhhh” bibir Nona Vania mengulum bibir Non Shasha, tangan kirinya membelit tubuh mulus Non Shasha sementara tangan kanan Vania menggerayangi lekuk liku tubuh Non Shasha yang molek.

“Hmmmmm…Ckkkk…mmmmmhhh Vaniaaaa mmmmmpp.. ckk ckk “Non Shasha mulai membalas melumat bibir Vania, suara decakan-decakan mulai berkumandang dengan semakin keras ketika bibir mereka saling berpangutan.

“Jrebbb…Blessssshhh…bluesssshh jrebbbbb…cleppp” kuladeni hempasan-hempasan vagina Vania dengan merojokkan batang penisku kuat-kuat ke atas, kuhantam dan terus kuhantam liang sempit di selangkangannya.

“Owwwww…..Crrrrtttt!!” gerakan-gerakan liar Vania tiba-tiba berhenti, kepalanya bersandar di bahu Shasha, kedua gadis cantik bermata sipit itu saling berpelukan dengan mesra, Shasha memeluk tubuh Vania yang terkulai dan meringis lemah.

“UJANGG…pelan-pelann dong, kasihan Vania ihh!!” Nona Shasha memintaku memperlembut irama sodokan-sodokanku.

“Nnggg.. hakkss nggak apa Shaaaaa…nggak apa… ohhhh!!” Nona Vania memberikan lampu hijau untukku, aku tersenyum sambil menghentakkan penisku ke atas kuat-kuat.

“JROSSSHHHH….JREBBBBBB…JREBBBBBBBBBB….ooww!!” Nona Vania melolong liar ketika penisku menyodoki vaginanya dengan kasar, kulesatkan dan kupanah memek sempitnya dengan penisku yang masih mengacung perkasa tanpa mempedulikan lolongan-lolongan liar Non Vania.

Bergantian mereka menunggangi batang penisku yang memacu mereka hingga bergantian mencapai puncak klimaks, bahkan kini Nona Vania menjejalkan vaginanya ke mulutku, kucaplok vaginanya dan kulahap selangkangannya.

“Unnnhhhh…crrrr…crrrrr….” Nona Vania meledakkan cairan kewanitaannya cairan gurih itu meleleh ke dalam mulutku, kuseruput dan kutelan cairan gurih penambah tenaga itu, setelah berhasil menguasai diri Nona Vania meggeser tubuhnya ia berbaring di pelukanku sebelah kanan, kedua matanya terpejam rapat, bibir mungilnya tersenyum puas.

“aaaaaaaaa….crrrrrrrrr.. crrrrrrrrr” Nona Shasha ambruk menindihku, cairan vaginanya menyiram batang penisku, kupacu dan kurojokkan penisku kuat-kuat, kupacu vaginanya hingga tubuh mulusnya kelojotan menggeliat gelisah di atas tubuhku.

“Crooottttt…kecrootttttt!!” spermaku meledak berkali-kali di dalam vagina Shasha, kedua tanganku memeluk erat-erat tubuh mulus kedua gadis cantik berwajah oriental itu yang sudah terlebih dahulu terkulai puas, aku berbaring di atas lantai kayu sambil memeluk erat-erat tubuh mungil mereka yang putih mulus tanpa cela, sesekali tangan kedua gadis bermata sipit itu mengelus dan menarik-narik batang penisku sambil tertawa nakal.

(Hmmmmmm…, jadi cewe bule itu namanya…. )“ dalam hati kuukir nama seorang gadis cantik berambut pirang yang baru lulus kuliah dan bekerja diperusahaan XXXX tempatku mencari nafkah dan mencari kenikmatan ^_^, aku tersenyum sambil mengecupi kening Non Shasha dan Non Vania yang sudah  tertidur pulas, terlelap dalam pelukan nafsu liarku.

Bunggg…bungg….bersambungggg…

he he he, thank’s  for reading

^_^ , see u next episode….

Sumber : Kisah BB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: