h1

Antara Kenangan dan Kenyataan 1

June 13, 2009

DISCLAIMER ABNORMAL :

  • Cerita ini hanya ditujukan untuk Milis dan blog KBB.wordpress.com dkk,
  • Dilarang meng-Copy Paste apalagi untuk tujuan komersil,
  • Meng-Copy boleh mem-Paste tidak boleh kecuali di jidat (Nah luh…^ ^),
  • Yang melanggar akan dihukum kutukan oleh penulis dan pemilik Milis,
  • Bagi Pria tidak bisa konak, bagi wanita Keputihan dan sel telur Non Aktif (HP kali ^ ^),
  • Hanya untuk kalangan dewasa, keseluruhan cerita ini hanya Fiksi belaka,
  • Semoga menghibur para Mupengers dan Cabulers, Enjoy the Story !!.

*********************************
# SAAT INI #

Alkisah, Di suatu pagi yang cerah,

Sepasang kekasih mengucap sumpah,

Hingga syah sudah,

Sorenya kami beserta keluarga menuju ke suatu tempat,

Yang nyaman dimana kami semua bisa beristirahat,

Melepas lelah sesaat dan sedikit rasa penat,

Di sebuah penginapan,

Sebuah cermin tepat di hadapan,

Aku merias diri agar tampil sempurna di depan pasangan,

Untuk menutupi segala kekurangan,

Huff…Aku menghela nafas sejenak,

Tidak terasa aku akan menginjak kehidupan rumah tangga,

Aku akan berusaha untuk menjadi seorang Istri yang setia,

Melayani sang suami apa yang dia mau dan apa yang dikehendakinya,

Mengarungi bahtera rumah tangga, susah dan senang bersama,

Saat ini masih terasa galau untukku,

Melupakan seseorang yang masih terasa di dekatku,

Sulit karena dia selalu ada di hatiku,

Walaupun sang Suami bersedia dengan tulus melupakan masa laluku,

Aku memegang sebuah kalung pemberian lelaki masa laluku,

Suami pernah menanyakan dari mana kalung itu,

Tapi terpaksa aku berbohong padanya,

Agar tidak menyakiti hatinya,

(Diny.Y@KBB.wordpress).

—————————————————-

Entah suamiku itu tahu atau tidak, karena sejak kami membina hubungan sebatas teman tetapi layaknya orang yang berpacaran, aku sering kali tertangkap basah sedang melamun sambil memegangi kalung tersebut, bahkan hingga saat ini dan aku simpulkan bahwa Suamiku tahu itu tetapi tidak menanyakan lebih lanjut untuk membahasnya, karena dia juga pernah bilang, sebuah kenangan bisa terlahir dari kejadian yang menyakitkan, dan tidak usah dihapuskan, karena hal itu pastilah indah, hanya pemilik kenanganlah yang merasakan keindahannya, dan dia sangat berhak untuk menikmatinya, tetapi yang tak kalah penting bahwa, kita jangan terlarut terus di dalamnya, jalanilah kehidupan ini dengan penuh resiko dan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Begitulah nasihatnya padaku, dan kata-kata itu seringkali dia lontarkan, setelah itu juga aku akan merengut manja dan memeluk sayang ke dadanya yang bidang. Diapun pasti membalas pelukan sambil mengecup Cinta di sekitar kening dengan penuh kasih sayang.

Cekreett !!

Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, dimana seseorang berwajah tampan tersenyum dibaliknya, suamiku…Bang Syahrir !!

“Halo cantik…Istriku sayang…sudah siap ?? aku, mamah dan yang lain tinggal nungguin kamu loh..”kata suamiku tersenyum hangat.

“Iya Sayang…bentar lagi yah…tinggal pake sepatu kok”kataku tersenyum manis, masih memegangi kalung tersebut, dia melihat tanganku yang menjawabnya sambil memegang kalung itu, dan memperlihatkan mimic wajah “Gotcha…!! Busted deh gw…^ ^”, akupun langsung reflex melepas peganganku pada kalung itu dan langsung menyengir tanda tak enak seolah-olah meminta maaf.

“Ya sudah…jangan lama-lama ya kalo ngelamun hehehe”tawanya meledek,

Aku hanya menjulurkan lidah sedikit karena malu tertangkap basah olehnya.

“Iya Sayang…maaf yah…”balasku dengan pipi merona karena malu.

Setelah pintu tertutup, aku kembali merias diri dengan cepat, akhirnya selesai dan turun menuju ruang makan. Menyantap makan malam bersama suami beserta segenap famili.

Aku sesekali menyuapi suami tercinta dan langsung banyak kata-kata godaan dari orang sekitar mengenai pengantin baru dsbnya, terutama dari adik wanitanya Bang Syahrir, sebagai pasangan baru tentu kami begitu hangat dan mesra, Ibu mertuaku juga sudah memaaafkan aku, dia sudah mengerti bahwa siapa sesungguhnya yang menjadi korban.

“Gimana sayang…enak ‘gak ayam kremesnya..??” tanya Bang Syahrir sambil menyeka sisa-sisa makanan di sekitar mulutku dengan selembar tissue.

“Hhmm…enak..enak banget…apalagi kalo desert-nya ciuman kamu” kataku dengan mengecup tangannya merespon kasih sayangnya.

Bang Syahrir mengecup kening-ku dan semua tersenyum karena melihat kami berdua begitu mesra. Setelah selesai makan malam kami berpamitan hendak kembali ke kamar, kebetulan beberapa teman Bang Syahrir juga ikut dalam perayaan besar-besaran ini, tapi teman-temanku tidak, teman-teman Bang Syahrir lebih dekat dengan keluarga Bang Syahrir karena sering menginap bermain gitar Akustik di rumahnya.

“Rir…Istri sih istri…tapi inget anak orang jangan kasar-kasar hehehe..”ledek Didi salah satu teman Bang Syahrir.

“Hehehe sialan luh…”jawab Bang Syahrir sambil menyikut perut temannya itu.

Mendengar suamiku diledek teman-temannya, aku langsung menggelayut manja pada lengan Bang Syahrir yang macho itu karena dia seorang pecinta Karate, untuk membuat teman-temannya iri padanya. Setelah itu kami berlalu meninggalkan mereka, di depan tangga Bang Syahrir tiba-tiba mengangkat tubuhku yang mungil jika dibandingkan dengan tubuhnya itu, pria normal pun kecil jika disejajarkan dengan dia, aku hanya menjerit kecil sambil memukul manja dadanya dan kuakhiri dengan tersenyum semanis mungkin, kedua tanganku bergelayut ke lehernya, menandakan sebuah kepasrahan dari seorang wanita pada lelakinya, betina ke pejantannya, istri terhadap suaminya.

Menuju ke pintu kami beradu mulut dengan mesra, sampailah kami di depan pintu, aku bertugas membuka pintu yang masih terkunci itu, tiba-tiba,

“Aaawh…iih Abang Iiiihh…Haawh”kataku manja karena dia sengaja menurunkan tubuh pada bagian leher seakan-akan menginginkan aku jatuh, walaupun aku tahu bahwa itu tak mungkin. Dia hanya tertawa senang karena berhasil meledekku.

Kami masuk ke kamar untuk melakukan ritual malam pertama, Bang Syahrir menaruhku di sisi ranjang, setelah itu dia berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantong jas hitamnya, yang berupa kotak perhiasan, bentuknya panjang dan sebagai wanita aku tahu bahwa itu adalah sebuah kalung. Aku terima pemberiannya dan kubuka, ternyata betul sebuah kalung, jauh lebih indah dari yang kukenakan saat ini, dan pasti jauh lebih mahal karena memang Bang Syahrir seorang eksekutif muda yang sukses, manager keuangan muda, tampaknya secara tak langsung dia ingin aku untuk melupakan semua kenangan, melepas dan menggantinya dengan sebuah lembaran yang baru, lembaran kehidupan yang putih bersih, dimana pada sampulnya tertulis namaku dan namanya. Itu harus dipaksakan, sebagaimana jika kita ingin mengajari anak, jika tidak bisa dengan cara halus, maka harus dengan cara kasar untuk mencambuknya, karena hidup memang keras, dan semua itu bertujuan untuk kebaikannya kelak. Begitu juga saat ini, maka aku yang langsung mengerti bergerak mencopot kalung lamaku, kalung yang diberikan oleh Mas Sudarto…yah, itulah namanya, kekasih masa SMU-ku, cinta pertamaku, lelaki yang pertama kali melindungiku bahkan mempertaruhkan nyawanya untukku. Aku menaruh kalung itu di meja, Bang Syahrir dengan gentle memakaikan kalungnya ke leher jenjangku yang berkulit putih dan mengakhiri dengan mengecup leherku penuh cinta, aku sangat menyukai pemberian Bang Syahrir suamiku, tetapi kalau boleh jujur saat itu aku masih tak rela melepas kalung Mas Darto, walaupun aku juga tak menolak pemberian kalung dari suamiku tercinta, hanya saja aku belum siap untuk betul-betul melupakan semua.

“Naaahh…kan kamu lebih cantik sayang !!”godanya,

Aku hanya menggigit bibir bawah dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya, senang akan pemberian sang Suami, aku mengecup kening Suamiku, aku ingin dia tidak merasa resah dan khawatir bahwa aku masih mencintai lelaki lain dan kurang mencintainya, itu salah. Aku hanya belum siap untuk memilih antara kenangan dan kenyataan. Kami bergenggaman tangan, aku memajukan bibir menantang, dan kami pun berpagutan dengan panas, saling menelanjangi satu sama lain, ranjang pun bergoyang bagai ombak di lautan yang diterpa badai, suara kami bergemuruh menambah ramainya kamar pengantin bertebar bunga itu, Aku beruntung sekali mendapatkannya…Bang Syahrir seorang perjaka!! Pria yang selalu mengenakan jas layaknya eksekutif, tampan, kaya raya, pekerja mapan, baik hati, lemah lembut tutur katanya dan selalu mengalah padaku yang egois ini ternyata seorang perjaka, sebuah keberuntungan cinta yang luar biasa!! Aku yang malah merasa tidak enak terhadapnya, aku merasa tidak pantas untuknya, pria sepertinya pantas mendapatkan seorang perawan tulen yang cantik dan tak kalah mapan, baik itu harta maupun jabatan, tetapi itulah suatu bentuk keadilan Tuhan, ketetapannya tidak pernah kita ketahui sebagai manusia, aku hanya bisa bersyukur. Tidak ada tes memang untuk keperjakaan itu, tetapi aku tahu dari gerakan sex-nya yang sangat kaku, justru aku yang mengatur tempo, dia hanya tinggal menyerang secara alami dan diapun lama kelamaan terbiasa. Tetapi kuputuskan memakai gaya konvensional saja, agar prosesi persetubuhan kami lebih mudah, kuselipkan sebuah bantal di pantatku dan diapun langsung pintar menyambutnya. Malam pertamaku bersama Bang Syahrir sangatlah terasa singkat, tak terasa waktu telah menginjak tengah malam, dimana matahari malam tersenyum bulat lebar.

Aku terbangun di saat malam hendak meninggalkan gelapnya menuju cerahnya sinar pagi, mendekati waktu subuh, aku menatap sesaat ke arah Bang Syahrir yang tampak masih kelelahan, walaupun dia seorang pemula dalam hal sex, tetapi tenaganya sangat bisa menguras tenagaku dari bertahan, bahkan mampu membuatku orgasme beberapa kali, mungkin dikarenakan badannya yang tegap, jantan dan suka berolah raga kasar itu. Aku membelai sayang rambutnya, hingga pandanganku tertuju pada suatu benda di atas meja, yang tadi kutaruh saat memakai pemberian Bang Syahrir, kalung Mas Darto!! Aku mengambil kalung itu dan menggenggamnya, aku melihat kembali suamiku dan akan kuputuskan sesuatu hal yang seharusnya kuputuskan dari dulu disaat aku mengenal Bang Syahrir, yaitu meninggalkan pahitnya sebuah KENANGAN. Kuambil kimono putih hotel dan berjalan keluar, beberapa teman Bang Syahrir ternyata bergadang, mereka menyapa dan sempat meledek menggodaku mengenai asiknya malam pertama kami, aku hanya tertawa dan melayani obrolan mereka dengan singkat. Akhirnya aku berhasil keluar menuju sisi pantai, mereka sempat menanyakan aku mau kemana namun aku hanya menjawab ada perlu sedikit di lobby hotel. Aku berdiri di sebuah tembikar, menatap kosong ke gumpalan buih dilautan, aku kembali teringat seluruh kisah hidupku yang penuh lika-liku, pelik namun banyak sekali hal yang bisa dipetik. Semua hal itu yang dinamakan bumbu kehidupan, pengalaman yang bisa diajarkan kelak ke anak cucu kita sekalian, dimana isinya Suka Duka Benci Cinta Dendam Rindu Pahit Manis Hitam Putih dsb. Kalung itu kupandang di genggaman tangan kananku, Akupun melamun teringat semua kenangan, saat itu….Dimulai saat aku masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

***********************************

# Started with a Broken Heart,

Novy | shekti | joyce

Novy | shekti | joyce

“Vy…cowo lu Vy…kesini lu…dari tadi gua udah curiga !!”kata Shekti sahabatku,

“Ada apaan sih…ngagetin aja..gua lagi baca !!”kataku protes,

Karena sedang bersiap-siap untuk ulangan mendadak.

“Sini ah…!!”katanya menarik lenganku paksa,

Akupun mengikuti ajakan sahabatku itu, menuju kantin terus berjalan ke belakang, di sana

ada sebuah ruangan kecil untuk menaruh obat-obatan yang dipakai ekskul palang merah, karena sedikit sekali peminat ekskulnya ruangan itu menjadi kosong, sebenarnya hanya bisa dikatakan gudang. Salah seorang sahabatku yang lain, sudah berada di depan pintu ruangan itu yang sedikit terbuka, gadis itu bernama Joyce, mulutnya meruncing sambil menunjuk-nunjuk ke arah ruangan itu, semakin kuayunkan langkah kakiku dan semakin dekat ke ruangan itu, jantungku semakin berdegup cepat, Deg…!! Aku melihat seorang pria berpakaian basket sedang mencium seorang gadis, yang kutahu mereka adalah Ebrin pacarku dan Silvy adik kelas, teman-temanku akhir-akhir ini sudah sering memberi peringatan atas kelakuan Ebrin, hanya saja saat itu aku belum melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, bukan aku tak percaya oleh para sahabatku.

“Eh Gila…!!”kataku dengan nada galak dan to the point.

Sontak mereka berdua kaget mendengar suaraku, tambah lagi bukan hanya ada aku,

(Damn…busted gw) dari mimik wajah Ebrin. Wajah Silvy ketakutan melihat wajah marah kakak-kakak kelasnya yang terkenal sangar itu ke arahnya, dia berani menyambut ajakan Ebrin karena memang Ebrin salah seorang siswa yang berprestasi dalam basket, kakak kelas tampan pujaan wanita saat itu.

Sebagai gadis yang pada dasarnya feminim, Aku tak lama menatap marah pada mereka, aku langsung lari menuju kelas diikuti para sahabat-sahabatku yang tahu bahwa aku akan menumpahkan air mata kekecewaan Cinta, kecewa sekali aku pada Ebrin mantan pacarku, kesucianku kuserahkan padanya, memang itu kesalahan gadis remaja masa kini, tetapi sebagai wanita aku selalu bermimpi dia akan selalu setia padaku selama-lamanya, buaya itu malah mencampakkanku mentah-mentah, dan dalam waktu yang singkat. Teman-temanku mencoba menenangkanku karena bel istirahat hendak berbunyi,

Betul saja, Teng !! Teng !! Teng !! Bel pun berdentang. Aku mencoba menghapus semua cairan yang membasahi sekujur wajahku, karena bukan hanya ada lelehan air mata yang mengalir. Teman-temanku juga berebutan memberikan aku tissue dan sejenisnya, Guru sempat menanyakan karena wajahku babak belur, aku hanya bisa berdalih tidak sehat, dan saat itu juga aku diijinkan pulang sekolah, syukurlah karena saat itu ingin ulangan, bisa-bisa jeblok nilaiku gara-gara hal yang tak bisa diputar balik. Menurut khabar, para sahabatku mendatangi kelas Silvy saat pulang sekolah, menerornya habis-habisan hingga dia juga menangis, sejak itu pula tidak ada yang berani memacari Ebrin mantanku, dia mencari gadis lain di luar sekolah.

********************************

# Ended to be a broken bitches,

Sejak saat itu aku berubah, di antara kedua sahabatku ini yang paling badung sebenarnya Joyce, kami bertiga bertemu saat kelas 1 dan terus menjadi sahabat hingga kelas 3, bukan karena wajah kami bertiga blasteran, kami hanya nyambung dan cocok saja saat bercanda ria. Joyce sudah merokok saat itu, kami berdua hanya meledek dengan batuk-batuk jika si Joyce baru saja mengambil Zippo dari tasnya, dan dia hanya protes,

“Belum juga dinyalain..!!”omelnya pada kami sambil tersenyum, tahu bahwa sahabatnya sedang meledeknya karena tidak suka dengan asap rokoknya, setelah itu dia tetap akan menyalakan, menghisap dan menghembuskannya sengaja ke arah aku dan Shekti.

Kejadian itu merubah perangaiku, aku juga ikut merokok bahkan Shekti pun juga, karena merasa se-geng otomatis pergaulan menyeretnya. Bahkan yang tadinya aku ini dikenal dikelas dengan siswi berprestasi, dengan berlalunya waktu merasakan patah hati semua itu luntur. Ibuku sempat memarahi perubahan itu, dia mengomel-omel dengan keluhan mencari uang susah, uang bayaran sekolah sekarang mahal, dsb. Saat itu aku belum tahu bagaimana perjuangan keras orang tuaku dalam menghidupi kami, yang hutang sana hutang sini untuk mencari sesuap nasi dan uang sekolahku, pada saat itu persis setahun setelah krisis moneter pertama sekitar tahun ‘98, dimana banyak Perusahaan besar yang bangkrut, PHK dimana-mana, hingga usaha kecil seperti papa-ku pun gulung tikar. Aku malah berpaling dan mementingkan hal yang sama sekali tidak perlu. Aku berbincang sambil menghisap rokok bersama kedua sahabatku di bagian belakang sekolah,

“Nov..lu ga bisa lah begini terus…mending lu luapin aja ke suatu hal”kata Joyce.

“Suatu hal gimana Huff…”jawabku sambil meniupkan asap rokok hingga mengepul.

“Ya kaya gua aja hehehe jadi lega loh…”saran Joyce.

“Gila lu Jo…”kata Shekti yang tahu maksudnya,.

Joyce pernah mengalami masa patah hati sepertiku saat ini sekitar 2 tahun yang lalu, saat ini kami kelas 3 SMU, dia lebih dulu mengalami hal ini, dan waktu itu kami berdua yang menghiburnya, hal yang serupa juga dialami Shekti setahun setelahnya. Mereka berdua meluapkan masalah mereka pada sex bebas, Joyce saat itu menghampiri Pak Martaba satpam sekolah dan bercinta habis-habisan, satpam sekolah itu tentu ho-oh saja diajak bugil dan fly to the sky oleh gadis SMP blasteran macam Joyce yang cantik Indo, dan sejak saat itu pula hingga kini mereka masih sering melakukan hal itu kapanpun dan dimanapun.

Begitu pula Shekti dengan Pak Ismet tukang sapu sekolah kami yang juga mengurusi kebun, tidak jarang aku atau Joyce menangkap basahnya sedang meng-oral Pak Ismet, tukang kebun itu sangat menyukai sekali dengan keahlian Shekti yang satu itu, short time sex mereka pasti hal ini. Shekti memang terkenal dengan wajah manis dan bibir tipis seksinya yang seringkali dihiasi lipgloss pink, sebab itulah Pak Ismet seringkali sange berat dengan sepongan mulut ajaib Shekti. Tadinya Shekti yang dengan nakal menggoda Pak Ismet, tetapi sekarang malah jadi dia yang sering diseret Pak Ismet untuk menghisap kejantanannya hingga disuruh menelan spermanya, agar beliau terasa lebih muda dan gagah katanya berdalih mesum.

“Hhmmh…boleh juga tuh Jo..bener juga sih Ti”kataku pada Shekti,

yang sebenarnya tidak ingin kalau aku mengikuti jejak pelacur mereka, karena dari awal memang mereka berdualah yang nakal, meskipun harus kuakui juga bahwa aku bukanlah wanita yang lurus karena juga sudah melakukan sex di masa belia, hanya saja belum seliar yang dilakukan kedua sahabatku itu.

“Seru kalee…!!”tambah Joyce.

“Iya tapi sama siapa yah…??”tanyaku pada mereka.

“Hhmm itutuh…nganggur Bandot !!”sahut Joyce menunjuk ke arah Mang Udeng.

Pria berumur 50-an, hitam legam, berkumis tipis, badan sedang dalam artian tidak gendut seperti Pak Ismet gaco’an Shekti, tetapi juga tidak segagah Pak Martaba satpam gebetan Joyce itu. Pak Ismet berumur 45-an sementara Pak Martaba atau Baba berumur 40-an. Joyce blasteran U.K England, ayahnya yang sering pulang pergi itu jarang mengawasi anak gadisnya, sementara ibunya sibuk arisan dan suka main gigolo, bisa dibilang Joyce gadis broken home, kedua orang tuanya sudah jarang berbicara walaupun bergelimangan harta benda, itulah yang membuatnya menjadi gadis nakal, sedangkan Shekti blasteran Kanada, orang tuanya tak jauh beda dengan Joyce, hanya saja ayah Shekti tidak sering pulang pergi, tetapi seringkali ribut dan bertengkar dari sebuah hal yang tidak perlu, jika aku dan Joyce main ke rumahnya, pasti hal ini kami temui. Keadaan kami hampir sama.

Sedangkan aku yang bernama Novy Andhiny seorang gadis pribumi, ibuku asli Bogor, setelah dinikahi ayahku yang asli Jakarta, mereka pindah dan menetap di Jakarta ini, dari darah ibukulah yang membuat aku memiliki kulit putih, jadi kami adalah 3 gadis berkulit putih, walaupun kulit putih kami bertiga memiliki tipe yang berbeda, kalau aku putih Asia, Joyce putih khas Eropa dan Shekti putih khas Amerika. Mang Udeng tersenyum saja melihat kami bertiga melempar pandangan ke arahnya, dia sedang memegang tempat sampah untuk memenuhi pekerjaannya sebagai pembersih WC dan tukang sampah.

“Eh eh…taruhan yuk..siapa yang bisa bikin si Udeng itu paling sange..dia pantes ditraktir dinner sama clubbing !!”kata Joyce jalang.

“Ok…siapa takut…tapi ntar kalo dia udah sange gimana??”tanya Shekti.

“Yee kan tanggungan si Novy dong…kan emang Udeng buat Novy…kitakan udah ada!!” jawab Joyce.

“Iya Nov ya…Deal nih ?!”tanya Shekti tegas.

“Oke…siapa takut !!”jawabku yang ingin segera menghilangkan stress karena cinta itu.

Joyce yang paling jalang diantara kami itu langsung mulai menggoda Mamang dengan menumpukkan kedua kaki jenjangnya seperti para pelacur yang hendak menawarkan diri, rok biru SMP-nya yang pendek itu menambah pemandangan paha Joyce, beruntungnya Mang Udeng, kali ini para pelacurnya tidak menuntut sesenpun darinya, hanya berniat mengosongkan kantung spermanya yang geleber-geleber karena berumur itu. Mang Udeng langsung menelan ludah melihat betis Joyce yang mulus itu, Udeng Jr. yang berada di selangkangan Mang Udeng langsung bangun tanpa weker, celana Mang Udeng menonjol dibagian itu, kami sebenarnya geli sekali membuatnya mupeng seperti itu, tapi mengasyikan kadang berbuat jalang seperti ini, melupakan sejenak masalah hidup.

Shekti yang tak mau kalah, berpura-pura menggaruk-garuk pahanya,

“Aduuh..kok gatel sih…” katanya sambil menahan tawa melihat Mang Udeng mulai ngos-ngosan nepsong berat.

Sruukk..!!, tiba-tiba Shekti gadis manis hypersex itu menarik ke atas rok pendek di atas lututnya hingga terlihat dua buah batang paha putih mulus milik gadis remaja, dan celana dalam yang berwarna hitam tipis menerawang tanda wanita sedang horny berat.

“Edededeh…”kata Mang Udeng langsung melepas satu tangan berpegangan pada tiang di situ agar tidak jatuh, tangan satunya masih memegangi tempat sampah.

Shekti belaga blo’on menggaruk-garuk paha putihnya itu, seolah-olah tidak ada orang, si Joyce dan aku hanya kembali menahan tawa.

(Wah giliran gue nih…gimana yah??)”pikirku dalam hati,

“Eleh eleh…lo juga gatel Ti ?kataku sengaja mengeraskan suara.

“Iya nih..”sahut Shekti juga keras, masih sambil menggaruk kedua paha putihnya.

“Kalo gua disini…”kataku, membalikkan badan, menungging dan menarik rokku ke atas, sambil berpura-pura menggaruk pantatku yang putih padat itu, Gumprang !!

“Adaawh…!!”teriak Mang Udeng, karena kakinya kejatuhan tempat sampah dari besi itu dan berputar-putar memegangi sebelah kakinya yang kesakitan, sampah pun langsung berserakan. Pegangannya pada tempat sampah langsung lepas karena lemas melihat aku menungging dan membuka rok untuk memamerkan body yang kupunya.

“Ha ha ha ha…”tawa kami bertiga penuh kegelian.

Kami langsung toss five menandakan kekompakkan kejalangan kami, sukses besar yang membuat mupeng makhluk yang dinamakan pria.

Mang Udeng langsung jatuh kelelahan karena terus berjingkrakan, aku kasihan juga pada dia dan langsung mendekatinya, kedua sahabatku malah meledekiku,

“Cie ileh…yang pedekate hahahaha”tawa Joyce meledek, dan Shekti juga menyambutnya dengan tawa manisnya.

Aku hanya berbalik ke arah mereka sambil merengut tersenyum kecil,

“Aduh Mang maaf yah…sakit gak ??”tanyaku berjongkok di dekat kakinya,

Sehingga rok-ku tersingkap dan otomatis paha putihku langsung dipelototinya.

“Aduuuhh…Neng Novy dehh…kalo becanda jangan keterlaluan dongh !”katanya sambil melirik ke dalam rok-ku, melihat celana dalam hitam super tipisku.

Dia protes tapi tidak menunjukkan kemarahannya, mungkin karena dikasih pemandangan gratis yang membuat Udeng Jr. berdiri tegak siap lari marathon itu.

“Iya Mang maafin kita yah…”kataku memohon sambil memijiti kakinya yang tertimpa tempat sampah itu. Dia menelan ludah menikmati pijitan tangan putih halusku.

“Ya udah..tapi Mamang nanya…buat apaan sih pada kaya gitu…bikin nanggung …sabun Mamang pan abis !!”katanya protes, dikiranya kami hanya ingin membuatnya onani saja.

“Hhmmm…ok deh…kalo Mamang pengen tahu…”kataku mengerlingkan mata genit.

“Jo…Ti…sini lu…!!”panggilku pada mereka.

Sahabatku itu berjalan dengan nakalnya mendekati kami, melenggak-lenggokkan pantat bagaikan seorang pelacur high class.

“Apaan Nov…kan ini jatah lu..!!”kata Joyce meledek.

“Begituannya iya ntar gue sendiri…tapi Mamang pengen kita bertiga minta maaf bukan gue sendiri”kataku.

“Ooohh…ok deh kalo gitu”jawab Joyce mengerti langsung berjongkok disampingku.

“Mang bangun Mang..!”perintah Joyce galak.

“Hah…ma..mau pada ngapain Neng ?”tanya Mamang bingung-bingung tapi horny,

Pikirannya pasti ngeres melihat kami berdua jongkok dihadapannya, dua gadis blasteran yang terkenal cantik dan seksi berlutut di hadapannya belum ditambah Shekti, walaupun dia belum tahu akan di eksekusi dengan kenikmatan seperti apa oleh kami.

“Udah ah…diri cepet…mau dikasih enak gak lu…?!”sahut Joyce galak-galak nafsuin.

Membuat Mang Udeng dikirimkan CD demo berjudul “Mari Bercinta” oleh Udeng Jr. di selangkangan karena nepsong abis, hingga membuat antrian panjang berjuta-juta sperma di penisnya yang sudah mengambil nomor urut seperti antri beras saja.

Mamang berdiri disusul Shekti berjongkok, kini aku ditengah, disebelah kiri Joyce dan di sebelah kanan Shekti, tonjolan Mang Udeng tepat dihadapanku, tanganku membuka kait celana lusuhnya, setelah terlihat reseletingnya, dengan bitchy kugigit reseleting itu dan menariknya turun, kreeett !!

Jdugg…!! “Mmph…!!” penis Mang Udeng yang sudah mengeras itu langsung keluar sangkar ingin berkenalan dengan alam barunya dan menampar wajahku. Sontak aku kaget dan menjerit kecil tetapi teredam karena masih menggigit reseleting celananya yang membuat si Joyce dan Shekti tertawa, aku langsung mencubit pantat kedua sahabatku itu karena malu, meraka hanya mengaduh. Aku menarik wajah kedua sahabatku melalui jambakan lembut pada rambut mereka, aku menarik lebih turun celana Mang Udeng beserta celana dalamnya yang bermerk “Hings”, Shekti yang menggemari oral sex itu, mendahului kami dengan meraih penis Mamang untuk mengocoknya, Joyce berinisiatif menggelitik buah zakar Mamang, aku memuntir kepala penisnya sambil memijit-mijitnya dengan jari jempol dan telunjukku. Lengkaplah sudah, Mang Udeng bagaikan raja minyak yang sedang dilayani para selir-selirnya, Joyce kadang-kadang meminta bagian untuk mengocok-ngocok batang Mamang dengan gencar, Mang Udeng blingsatan dengan kocokan Joyce yang tak kalah ahli pada Shekti, malah Joyce terkesan menunjukkan keahliannya. Kami bertiga memulai dengan menjilatinya dari buah zakar, pangkal hingga kepala penis, lidah kami bertiga menjilati masing-masing area, Mang Udeng yang mendongak keenakan sesekali menatap kebawah melihat kenakalan remaja SMP masa kini, dia memandangi wajah kami satu persatu. Kami membalas tatapannya dengan mengerlingkan mata genit, dia hanya menelan ludah dan kami spontan tertawa kecil sambil terus menjilat, bahkan ditatap Mang Udeng, Joyce langsung menjilat lidah Shekti diseberangnya, bertukar ludah bahkan mencucup pangkal penis Mamang kiri dan kanan berbarengan sambil menatap nakal ke arah Mang Udeng.

Sementara aku tetap focus mengemut dan menghisap kepala penisnya,

Sruuph…!! Hisapku kuat-kuat pada kepala penis hitamnya yang lonjong,

“Oookhh…”lenguh Mang Udeng keras,

Kepalanya mendongak keatas, penisnya mengacung tinggi dan tubuhnya bergetar nikmat.

Kami bertiga memundurkan kepala berbarengan, lalu meludahi penisnya, Cuuh…!!

Dengan horny kami bergantian mengocoknya, Mang Udeng menjulurkan lidah keenakan dan penis itu kutangkap dengan mulutku, kini batang itu kukuasai sendiri, aku memaju mundurkan mulut sambil mengocok-ngocok memutar pada pangkal batangnya seperti pemain blue film saja, lalu penis yang masih dimulut itu kuoper ke mulut Shekti yang langsung disambutnya dengan mulut terbuka, lalu dia oper lagi ke aku dan kuoper ke Joyce, terus begitu, dan terakhir karena mendengar lenguhan Mang Udeng yang sudah berat, tanda spermanya sudah antri di kepala penisnya, aku kuasai sendirian, kedua sahabatku hanya menjulurkan lidah untuk membantunya membangkitkan gairah nafsu Mamang dengan mendesah seksi bersamaan dan memusiki kocokan tanganku pada penisnya, aku juga menjulurkan lidah di depan Mang Udeng siap dicumshot (semprot sperma) di wajahku bersama kedua sahabat cantik-ku. Mang Udeng ingin mengambil alih penisnya dengan mengocoknya sendiri, tetapi Joyce dan Shekti tampak tidak mengizinkan, bagaimanapun ini hukuman berupa kenikmatan, si Joyce memegangi tangan kanan Mamang dengan tangan kirinya, dan Shekti sebaliknya. Beberapa detik kemudian, ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilati penisnya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, mulut hitam Mamang menceracau keenakan,

“Eeengghh..Nengh…bapakh..keluaaarhh..!!”

“Leeehh….”dengan Horny kami bertiga menjulurkan lidah sambil mendesah nikmat dan,

CROOOTTT…!! JRUOOTT !! BLAARR !! CROTT !! Cairan putih kental dan berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami dalam kocokanku, baju sekolah kami juga otomatis kecipratan.

Kami mendesah seksi dan mengerang mengiringi erangan nikmat Mamang di setiap semburan spermanya, seakan-akan kami juga merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh Mamang saat itu, penisnya kupompa dengan meremasnya kencang dalam genggamanku agar semua tabungan spermanya kosong, bahkan Joyce dan Shekti juga ikut-ikutan mengocok penis Mamang. Joyce malah memencet gemas kepala penis yang sedang sensitif-sensitifnya memuncrati sperma itu. Mang Udeng nampak mendesah-desah keenakan dan kelabakan. Setelah tidak ada yang keluar lagi, kami saling menjilati sperma yang membanjiri wajah, beradegan lesbian dengan beradu mulut panas, Mang Udeng yang masih kelelahan hanya menatap kami kembali bergairah, tangan kananku masih mengocok-ngocok kecil pada batang penisnya yang semakin layu itu.

“Weleh weleh…ngentot ga ngajak-ngajak lo Deng”kata pria bertubuh gempal, yang tidak lain adalah Pak Ismet.

“Wah…Non Joyce kemana aja…Bapak cariin dari tadi juga”kata pria berpakaian satpam, yang tak lain adalah Baba atau Pak Martaba.

“Pintu gerbang udah lo kunci Ba..??”tanya Pak Ismet pada Pak Martaba, agar situasi aman dalam sekolah.

“Udah ko…bisa pesta kita..wah nambah pasangan nih Met..!!”sahut Baba.

“Iya gapapa…kecuali kalo nambah Udeng doang…rugi atuh hehehe !!”kata Pak Ismet.

Mereka berdua menghampiri kami, Pak Ismet masih memegang sapu lidi di tangannya, dia sehabis menyapu di pekarangan depan karena kami saat itu berada di belakang dekat kantin sekolah,

“Eh…elu pade…gua juga baru mulai nih…!!”sahut Mang Udeng.

Pak Baba dan Pak Ismet yang telah terbiasa melakukan hal ini pada kedua sahabatku itu, langsung menurunkan celananya untuk memulai sex party dengan oral,

“Ba…gua pinjem mulut lonte lu ya…?” kata Pak Ismet kurang ajar, mengacungkan penis pada Joyce.

“Ooohh…sama-sama dah yak!!” sahut Baba yang juga mengacungkan penis pada Shekti.

Teman-temanku yang cantik namun hypersex itu, sudah biasa di lecehkan seperti itu, dan langsung menyambut dengan oral sex pada pria buruk muka di depannya.

“Weleh…Neng Joyce lonte lu Ba…?? sialan lu ga pernah ngajak-ngajak pada..!!”protes si Udeng.

“Hehehe sorry Bos…masalah laen bagi-bagi…masalah duit sama meki…nehi !!”jawab si gendut Ismet.

Sambil di oral oleh Joyce, Pak Ismet membuka kancing baju sekolahnya dari atas hingga bawah dan memelorotkannya lewat atas, sehingga tubuh Joyce yang seksi itu menjadi bahan bakar bagi nafsu birahi Mang Udeng yang baru pertama kali mengalami sex secara beramai-ramai ini. Begitu juga Shekti yang sedang di oral dan kemudian ditelanjangi Pak Baba. Mang Udeng kemudian melihat ke arahku, saking nafsunya, dia melepas celana dan baju yang ia kenakan di depan kami semua, Pak Ismet dan Pak Baba hanya tertawa maklum. Mang Udeng menaruh pakaiannya sembarangan di tempat biasanya anak-anak sekolah menongkrong dan bergosip setelah makan di kantin. Sambil bugil dia langsung menyeretku ke arah sebuah kelas yang tidak jauh dari situ dan tentunya sudah kosong, dia menuntunku dari belakang, sambil berjalan dia menyingkap rok-ku dari belakang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tangan hitamnya itu langsung jahil menggerayangi paha belakang dan meremas pantatku, Cuuph…!!,  Sesekali tukang sampah sekolahku itu menciumnya, hingga membuatku terangsang juga dan bersedia untuk digarap sepuas-puasnya. Sesampai di kelas, aku menuju meja belajar terdekat dan menelungkup, menunggingkan pantatku tinggi-tinggi dengan seksi untuk memancing kembali birahinya yang tadi sudah tersalur melalui ejakulasinya yang pertama, Mang Udeng menyingkap naik rok-ku hingga keatas pinggang, dia melepitnya agar tidak turun saat aku tersodok-sodok, dan langsung menarik lepas celana dalamku, tukang sampah sekolahku itu meremas dan mengecup gemas pantatku memberi peringatan berupa rangsangan.

Celana dalamku direngkuhnya, Mang Udeng mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir kemaluanku akibat horny. Aku semakin terangsang dengan tingkah udiknya itu, aku dan Mang Udeng sama-sama baru pertama kali mengalami sex liar ini,

“Wangi banget Neng Novy…enyak !! baru lendirnya aja udah enak, apalagi memeknya” puji si buaya berumur itu. Dia memakai celana dalamku di kepalanya sebagai topi.

(Oh Yess…!!) kagumku padanya dalam hati,

Melihat ke belakang ke arah penisnya yang belum lama menyemprotkan spermanya itu dan sekarang kembali mengacung tegak siap menembak. Saat itu aku merasa seksi sekali, aku menggerakkan kedua tanganku ke belakang, kedua jari tengahku yang lentik karena memakai kutek hitam, aku posisikan di bibir vaginaku, membuka lebar-lebar dan sengaja memamerkan padanya liang vagina yang merekah berwarna merah muda, Glekk…!!suara Mang Udeng menenggak ludah terdengar olehku dan semakin membuatku merasa seksi.

“Aaannghh…!!”desahku reflex, karena Mang Udeng tidak tahan dan menusuk vaginaku dengan jari tengah kirinya hingga masuk semua.

Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang vaginaku, jariku yang tadi membuka vaginaku langsung berpindah meremas ke pinggiran meja belajar sekolah itu. Mang Udeng mendekatkan wajahnya yang terlihat penuh nafsu itu ke pantatku yang menungging, tangan kanan hitamnya mengelus dan meremas pantat sebelah kananku, dengus nafas beratnya terasa di area selangkanganku. Dengusannya pindah ke bongkahan pantat kiriku, Leeph…!!

“Aauuhh…!”desahku saat di menjilati salah satu daerah sensitive wanita itu.

Tubuhku terasa panas dingin dibuatnya, dengan jilatan di pantat dan korekan jarinya yang nakal itu di vaginaku, jari itu seakan-akan ingin mengetahui apa saja isi di dalamnya.

Disapukannya dengan telak lidah kasarnya pada kulit pantat putih sekalku itu, diciumi, bahkan digigit kecil sehingga aku menjerit menerima rangsangan erotis Mang Udeng.

Dia ingin menarik lepas jarinya dari vaginaku, jari yang terdiri dari 3 (tiga) buku-buku itu mulai terlepas satu-persatu, Satu..Dua.., saat menuju ketiga, vaginaku reflex tidak rela dan menjepitnya, “Whuuaa…!”reaksinya norak, merasa jarinya terjepit kencang vaginaku yang liat namun basah itu. Aku tarik-tarikan dengannya, namun…Jleebbh…!!

“Aaannggh…!!”desahku, karena Mang Udeng mengerjaiku dengan mencoblos vaginaku dalam-dalam.

“Hak hak hak hak…”tawanya mesum karena berhasil mengerjaiku.

(Ehhm..Shiit !! si tua bangka ini pandai membangkitkan gairah…)keluhku dalam hati.

Dia mengulangi lagi dengan menarik kembali jari tengahnya, Satu..!! Dua..!! saat menuju ketiga, vaginaku kembali reflex tidak rela dan menjepitnya, Aku yang kini tengah horny bersiap-siap untuk menerima tusukannya, namun…Plooph…!!

“Aauuhh…”desahku,

Sial, Mang Udeng menarik kasar jarinya tiba-tiba sehingga membuatku tidak sanggup menahan derita birahi ini ditambah sedang horny-hornynya. Dia menghirup jarinya yang sudah berselimut lendir vaginaku.

“Hhmmh…wangi tenaaan..!!”katanya.

“Mmmhh…Enyaak..gurih rek memek Neng Novy !!”komentarnya,

Sambil mengulum jari tengahnya yang belepotan lendirku, aku balik menatapnya.

Ooh…ini sex liar pertamaku, aku baru pernah merasa seksi seperti ini, kedua sahabatku berhasil menggali bakat hypersex-ku, menanamnya bersama dalam diriku dan merubah kehidupan sex-ku seperti mereka. Bahkan Ebrin mantanku pun tidak bisa membuatku melayang, bersamanya aku memang merasa cantik karena mendapatkan salah satu cowok paling keren di sekolah, tetapi tidak membuatku merasa seksi seperti perlakuan Mang Udeng padaku. Mamang memposisikan kedua tangannya pada kedua sisi pinggangku, matanya menatap nanar pada vaginaku yang terpampang jelas, seolah-olah ingin menelannya, reflex kakiku merentang lebar siap menerima serangan mesumnya, nafas dan degup jantungku seirama semakin cepat, ketika aku melihat wajah Mang Udeng yang sama sekali tidak tampan itu mendekati vaginaku, 30 cm..20 cm..10 cm..5 cm, Hap…Nyam !!

“Iyaaaahhh….”desahku, saat dia melahap bibir vaginaku dengan ganas.

Clek..clek..clek..clek..!!

Lidah kasar Mamang keluar masuk vaginaku, aku hanya bisa mendesah dan mendesah menerima serangan birahinya. Lidahnya nakal sekali menyentil-nyentil itil-ku, mulutnya yang hitam itu mengemut vaginaku dengan penuh nafsu hewani.

Tak lama kemudian kurasakan tubuhku terbakar, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan mengerang sejadi-jadinya menggeliat sambil memeluk meja erat-erat.

“Iyaaahh…!!”eranganku saat mencapai orgasme.

Crreett…Cret…Seerr…Crrt !! Erangan panjangku itu menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya lendir cinta dari selangkanganku. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sampai terdengar suara menyeruputnya, aku mengejat-ngejat di atas meja belajar itu.

“Neng Novy…jangan tidur dulu…kontol Mamang belum ngerasain memek Neng Novy pan..!”katanya ditelingaku.

Aku merasakan penisnya di bibir vaginaku, Aaahh…tubuhku masih merasa lelah sekali sehabis orgasme barusan, dia baru ingin menyentakku lagi.

Zrreeekk…!!

“Aaaukkh…”erang kami saat penisnya menyeruak masuk vaginaku.

Mang Udeng menekan masuk penisnya paksa sehingga aku merasakan vaginaku seperti tersobek, tubuhku terbelah dua. Kepalaku yang tadinya tergeletak menyamping, langsung reflex meringis ke depan, mulutku membentuk huruf U tetapi tubuhku masih tengkurap tiduran di atas meja. Mang Udeng langsung bergerak brutal menyetubuhiku, tampaknya dia tidak perduli dengan kelelahan tubuh yang kuderita, dia ingin menggapai klimaksnya.

“Eengghh…busyeet…seret tenan memek Neng Novy…Hhuuunngghh…!!”kejannya.

“Iyyaaahh…!!”desahku, saat Mang Udeng menghentak kasar masuk penisnya.

Sambil menyentak, dia menyibak seragam belakangku hingga punggung putihku terlihat olehnya dan langsung dijilatnya, Bra-ku tidak dilepasnya agar aku tidak merasakan sakit pada payudara karena tidur bergesekan dengan meja. Jilatannya sampai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu.

Huueeekk…!!bau nafasnya sungguh tidak sedap, entah makan apa Mamang tadi pagi, tetapi lidahku tetap mengikuti permainannya dengan liar sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir. Dia berpegangan pada sisi meja depan dekat wajahku, sementara aku berpegangan di sisi belakang meja dimana bertepukan dengan paha hitam berbulunya yang penuh dengan peluh di sekujur permukaannya. Mang Udeng nampak mendekati ejakulasinya, mulutnya menceracau sambil menyentakku kasar terpental-pental hingga meja belajar yang kutiduri bergeser searah dengan sentakannya, terlihat sekali Mang Udeng ini ingin membalaskan dendam birahinya, karena tadi kakinya kubuat memar tertimpa tempat sampah, sentakan penisnya itu seolah-olah menginginkan vaginaku juga memar,

“Aaaannghh…Aaaannghh…Maanngh…Ampuunnhh…IyYaAaaAahHh…!!”

“Gila memek lu…gilaa memek luu…gilaa memek luuh…HuUuunngghh !!”lenguhnya,

Tak lama kemudian kurasakan beberapa semburan cairan kental hangat yang membanjiri liang vaginaku, yang diikuti oleh meledaknya cairan orgasmeku, Mang Udeng menikmati sisa-sisa klimaks sambil memelukku, kami berkelojotan berdua bersama-sama dibarengi dengan kejangan-kejangan di vagina dan penis masing-masing. Sisi meja pada bagian dekat vaginaku banjir sudah, lelehan lendir cinta orgasmeku dan sperma Mang Udeng membanjirinya, setelahnya Mang Udeng duduk di bangku sebelah dekat mejaku, tiba-tiba, Braaakk…!!, pintu terbuka,

“Aaahh…Aaahh…Yeesss…Fuck me…Deepeer…!!”desah Shekti,

Dia sedang digarap Pak Baba dengan gaya monyet memanjat pohon kelapa, tentu dengan postur satpamnya yang tegap kekar itu, bukan suatu hal yang sulit untuk mengangkat atau menaik turunkan tubuh Shekti, walaupun tubuh Shekti tergolong tinggi karena blasteran. Karena ini hal yang baru buatku melihat kegilaan kedua sahabatku ini, maka kupaksakan sedikit tenagaku untuk menoleh melihat kegiatan seks mereka, Pak Martaba dan Shekti melakukan posisi seks itu sambil berjalan mendekati bangku guru.

Tidak jauh dari pintu kudengar erangan Joyce dan lenguhan nikmat Pak Ismet, kulempar padangan dan betul saja, Pak Ismet sedang asyik men-doggy Joyce, gadis cantik Indo-Euro se-profile dengan Nadine Chandrawinata itu dijambak rambutnya oleh tukang sapu dan kebun sekolah itu, tangan kiri Pak Ismet menampar-nampar pantatnya yang putih sekal, wajah cantik Joyce merigis setiap kali tangan gempal Pak Ismet mendarat di bongkahan padat nan montok Joyce. Tangan kirinya sesekali juga membetot pundak Joyce kebelakang berlawanan dengan hentakan penisnya ke depan. Pak Ismet menyeringai mesum saat mata kami bertemu pandang, dia seolah-olah bangga bisa menggarap sahabat cantikku itu di depanku, memang sahabatku Joyce itu salah satu gadis incaran para cowok, hanya patah hatinyalah yang membuatnya tidak ingin memiliki pacar lagi sejak kelas 2. Pak Martaba tiba-tiba melenguh keras seperti kerbau, Shekti menjadi semakin menjerit-jerit karena vaginanya ditumbuk paksa dalam-dalam agar menjepit dan memberikannya kenikmatan, tiba-tiba Pak Martaba mendudukkan diri sehingga penisnya menghentak dalam-dalam vagina Shekti, Jleeegg…!!!

“Aaaakkhh….!!!”erangan nikmat mereka berdua,

CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Pak Martaba mencapai klimaksnya bersamaan dengan Shekti, cairan mereka meluber dari vagina Shekti, mereka mengejat-ngejat nikmat sambil berpelukan dan bertatap-tatapan, setelahnya Pak Baba mendudukkan Shekti pada meja guru, Shekti yang merasa kelelahan langsung menyenderkan diri di dinding, duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang memar kemerahan namun dipenuhi gumpalan cairan kental putih pekat yang masih meneretes keluar, Pak Baba yang masih mengenakan baju satpam tanpa celana sepotong pun juga, mengambil rokok dari kantung baju satpamnya, menyalakan dan menawarkan ke Shekti yang disambutnya, si cantik blasteran Kanada itu menaruh rokok di mulut tipis seksinya, dan Baba menyalakan api untuknya, mereka menghisap rokok dan berbincang yang aku tak dengar, Shekti mengerlingkan mata kirinya dengan genit ke arahku karena aku melihat ke vaginanya yang babak belur karena ulah penis Pak Martaba.

Kami mempertemukan senyum karena keadaan kami sama-sama porak poranda akibat oknum petugas sekolah bejat, tidak lama aku mendengar Pak Ismet menggeram seperti seekor kerbau, “Huuunngghh….!!” Tukang sapu berbadan gemuk itu mencapai ejakulasi dengan menyentak kasar sahabatku Joyce yang cantik itu dari posisi menungging doggy style hingga jatuh tengkurap ditindih tubuh gendutnya itu, Joyce hanya menjerit-jerit pasrah dengan rambut merahnya yang dijambak Pak Ismet, pantatnya yang sekal itu melekat ketat dengan perut bagian bawah Pak Ismet yang dipenuhi bulu, buah zakarnya bertemu sapa dengan bibir vagina, tukang sapu gemuk itu mengejat-ngejat keenakan, bisa dilihat dari wajahnya, kaki Joyce sampai menekuk dan menendang-nendang punggung berlemak tukang sapu tua itu. Dia terus menekan penis itu di masa ejakulasinya, Pak Ismet terus saja menggenjotkan penisnya di liang kewanitaan Joyce, dibenamkan penis gemuknya itu dalam-dalam untuk menuntaskan ejakulasinya, sambil memutar-mutar kepalanya seperti orang gila. Tukang sapu sekolah itu sampai bergidik nikmat menuntaskan ejakulasinya meneteskan sisa-sisa spermanya di dalam vagina Joyce sebelum terkapar lemas dan menindih Joyce. Tak lama kemudian, Pak Ismet pun bangkit meninggalkan Joyce sahabat cantikku yang masih terkapar, kulihat penisnya masih lemas diselimuti lendir sperma menjijikkannya yang putih pekat dan kental,

“Woi Deng…nyobain memek Novy dong…!!”kata Pak Ismet asal pada Mang Udeng.

(Ooh Crap…bakal tuker pasangan sampe kelenger nih gue ‘n temen-temen Damn..!),

Keluhku dalam hati,

“Woi woi…ntar dulu Met..lo entotin cewe lo dulu nih, Novy gue duluan si Udeng Joyce, baru elo Novy, gue Joyce, si Udeng Shekti..!!”protes Pak Martaba mengatur.

“Oh iya ya…ok deh..!!”sahut Pak Ismet mudah, tidak memikirkan kondisi tubuh kami.

“Siap Bos…asyiik !”kata Mang Udeng semangat sambil hormat, dia berlari menuju pintu luar ke arah Joyce yang terkapar, dan membangunkannya untuk dibuatnya lagi pingsan.

Pak Ismet meninggalkanku mendekati Shekti dan Pak Baba,

“Sana Ba…garap Novy…gantian…gua udah kaga sabar pengen ngentotin dia !” kata si gendut Ismet.

“Set dah…nafsu bener kagak sabar…!! Entot aja dulu nih cewe luh…enak banget lo Met memeknya..pantes lu doyan bener !!”sahut Pak Baba.

“Iya tuh Pak…si gembrot ini doyan banget ngentotin gue ampe kelenger kaya Joyce tuh!” tunjuk Shekti pada Pak Baba keluar. Dimana Joyce masih terkapar dan sedang disadarkan Mang Udeng. Pak Baba hanya tertawa melihat ke arah luar.

“Ya iyalah…Neng Shekti ini kan udah cantik memeknya seret lagi !!”pujinya mesum.

Shekti hanya tersenyum sambil menghembuskan asap rokok ke arah Pak Ismet, dan Pak Ismet hanya menyeringai dan melirik ke selangkangan Shekti yang terbuka lebar.

“Waduuh…gile lu Ba…memek Neng Shekti ampe babak belur gini !!”protes Pak Ismet.

“Ehehehe…nyori…abis enak pisan sih…”sahut Pak Baba enteng.

“Weleeh…mana banyak pejunya lagi !!”omelnya lagi.

“Ha ha ha ha…yahh..si Joyce sama Novy juga paling sama keadaannya..”kata Pak Baba membela diri.

“Ya udah…kita bersihin dulu aja ya biasa..!!”usul Pak Ismet.

“Ok deh…gua bangunin Novy dulu…!!”jawab Pak Baba.

Pak Martaba membangunkan tubuhku yang masih terasa sedikit lemas, dia memapahku untuk menuju keluar kelas, yang entah untuk apa aku tak tahu menahu, dan kemudian di dudukannya aku di lantai sebelah Joyce yang sudah pulih duduk. Kami melihat ke dalam kelas. “Yuk Neng…sini !!”. Sreet…!! tarik Pak Ismet kasar pada pergelangan kaki Shekti yang mengangkang.

“Hmmph…savar Vak !!”kata Shekti tak jelas kata-katanya, karena di bibir tipis seksinya masih terdapat rokok A Mild  yang mengepul. Setelah sampai di sisi meja guru, tukang sapu sekolah itu juga memapah Shekti, tangan gempal si gendut itu memapah Shekti pada bagian paha dan melingkari punggung menangkup payudaranya. Mereka bertatap-tatapan seperti pasangan bulan madu saja, Shekti memberikan rokok yang ditangannya untuk dihisap Pak Ismet, setelah itu mereka berpagutan sampai keluar kelas.

“Yak okey…langsung nih ya !!”kata Pak Ismet.

“Ok Bos…!!”jawab Pak Baba. Aku dan Mang Udeng belum mengerti benar maksudnya.

Pak Ismet menurunkan Shekti dan berlalu meninggalkan kami, tak lama dia mengambil ember berisi air, dan menaruhnya dekat selokan (saluran air dari genteng sekolah jikalau hujan), juga botol cairan yang kutahu milik Shekti untuk pembersih kewanitaannya agar vaginanya selalu bersih dan wangi.

“Ayo lonte-lonte…!!”kata Pak Ismet dan Pak Martaba sambil menepuk tangan.

Seperti pelacur saja, Joyce dan Shekti bangun dan menyeretku, aku bingung apa maksud mereka, (Ooh Shiit !!), dalam hatiku. Shekti dan Joyce berjongkok seperti mau pipis di kamar mandi saja, mereka seperti mengambil jarak, mata jelita Joyce mengedipiku agar aku juga berposisi sama dengan mereka. Untuk solidaritas akupun mengikutinya, lalu Pak

Ismet dan Pak Baba mengambil posisi berjongkok juga di depanku dan Shekti.

“Deng…itutuh…si Joyce..lu mau gak ??”ancam Pak Ismet rakus.

“Oyaya…hehehe maklum belum mudeng (nyambung) aku…”jawab Mamang.

Pak Ismet dan Pak Baba mengambil air bergantian, membasuh vaginaku dari panasnya gesekan penis Mamang tadi, Pak Ismet juga membersihkan vagina Shekti dan kadang-kadang jari gemuknya ditusukkan ke dalam vagina Shekti hingga si manis itu mendesah seksi. Begitu juga Pak Baba melakukannya padaku, aku dan Shekti yang berpegangan di bahu mereka, hanya bisa mendesah sambil mencakar atau menancapkan kuku-kuku jari kami yang lentik ke bahu mereka, jika tusukan jari mereka terlalu dalam. Mang Udeng mengangguk-angguk tanda konek, dia juga mengambil gayung dan hendak disiramkan ke vagina Joyce yang memar dan belepotan sperma menjijikkan hasil karya Pak Ismet, namun Joyce mencegahnya, Mang Udeng bingung, dia melihat wajah Joyce mengejan cantik dan, Cuuuuurr….!! Pissing, Joyce pipis di depan Mang Udeng, tukang sampah itu hampir pingsan melihat gadis SMP, berwajah Indo, berambut sedikit pirang, cantik jelita, berkulit putih berbody aduhai, pipis di depan matanya, Jelegeerr…!! Bagaikan disambar geledek, akupun belum pernah lihat langsung, secara walaupun kami sesama wanita, Mang Udeng melotot tajam penuh nafsu, dia yang juga sudah bugil dan juga sudah mulai konak sedari tadi melihat para gadis-gadis cantik itu berjongkok, penis itu semakin mengacung tinggi.

“Huak hak hak…ajiiib…baru pernah gua liat cewek kencing…cantik pula orangnya !!” komentarnya senang mendapat pengalaman baru. Setelah selesai dia membasuhnya dan membilasnya dengan sabun pembersih kewanitaan milik Shekti yang diambil Joyce.

Para pria berumur itu tampak senang sekali memandikan vagina kami, cukup lama juga mereka membersihkannya. Mang Udeng yang baru pertama kali paling tidak tahan, dia terkadang mengangkat pinggang Joyce lalu melahap vaginanya hingga air basuhan yang ada di vaginanya kering kerontang, malah lendir vagina yang terproduksi. Selanjutnya dia menyeret Joyce ke dalam kelas untuk disetubuhinya, menyeret Joyce pun masih dengan wajahnya yang terbenam di selangkangan Joyce. Pak Ismet dan Pak Baba juga menyeret aku dan Shekti untuk kembali disetubuhi, karena masih lemas kami bertiga diposisikan menungging oleh mereka, Joyce di meja pertama dekat pintu kelas, aku ditempatku tadi deret kedua, dan si manis Shekti di deret ketiga di sebelah deretan meja guru. Aku dan teman-temanku hanya bisa mengerang-erang tak berdaya, para pejantan buruk rupa itu seperti berlomba-lomba layaknya pacuan kuda saja, vaginaku terasa dirobek oleh penis Pak Martaba, penisnya panjang sekali menyodok-nyodok vaginaku, sodokannya itu seperti ingin membelah tubuhku melalui media vagina, keadaanku ini kurasa sama dirasa oleh para sahabatku. Kami bertiga berteriak seperti orang gila, bahkan Joyce dan Shekti yang telah terbiasa dengan sex bebas seperti ini dengan mereka, tak mampu jua melayani para petugas sekolah rendahan yang haus seks itu, mereka menggebrak-gebrak meja kelas yang ditidurinya, hingga menimbulkan suara gaduh dan menggema, meramaikan suasana persengamaan kami. Rasa frustasi karena Cinta dan jengahnya kehidupan di rumah, kami lampiaskan dengan kehancuran diri, kami tidak berfikir lagi untuk masa depan, kemaluan yang seharusnya kami jaga untuk pasangan hidup terCinta kelak tak terpikirkan, semakin hancur tubuh yang kami rasakan semakin lega perasaan, hancur ya hancur, hanya kata-kata itu yang ada di benak kami, kami telah bulat, Ended to be a Broken Bitches.

“HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngGghh !!!”geram mereka, menyentak masuk penis sekuat tenaga, aku sudah tak kuat, kami saling menoleh melihat keadaan masing-masing sahabat, mata kami sudah sayu seksi, menuju klimaks seks, meja yang kami tiduri pun terdorong ke depan bersamaan hingga porak poranda sebagaimana vagina kami, tamparan demi tamparan keras kami terima di pantat, tidak kuat lagi maka akupun berteriak menuju orgasme, diikuti Shekti dan Joyce tak lama.

“Iyaaaahhh…Paaaakkhh….Aaaaaaaaaaakkhhhhh……!!!”erang kami lantang.

“Uwooooooooookkhhhh……!!!”Pak Ismet, Pak Baba dan Mang Udeng juga mengejang.

CROOOOTTTTS !!! CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Dan mereka bertiga pun juga menyusul ejakulasi hampir bersamaan, tubuh kami berenam mengejat-ngejat nikmat, penis dan vagina kami mengejang-ngejang, cairan lengket dan kental itu bertemu, pertemuan antara lendir vagina dan sperma, vaginaku ngilu sekali saat disembur sperma Pak Martaba yang semprotannya kencang seperti semprotan pemadam kebakaran itu. Penis itupun tak lama berhenti berkedut-kedut berhenti memancarkan spermanya, para petugas sekolah itu akhirnya menarik lepas penisnya dan duduk berselonjoran di lantai kelas, meninggalkan kami dalam keadaan porak poranda di selangkangan dengan posisi menungging, vagina memar lebam dan penuh sperma menjijikkan. Mereka bertiga betul-betul memperlakukan kami seperti pelacurnya saja. Berbicara tak senonoh dengan kata-kata yang jorok tentang enaknya memek kami dsb. Setelah cukup tenaga, mereka bangkit dan hendak bertukar pasangan.

“Naaahh…dari tadi Bapak mau nyobain memek Neng Novy ini hak hak hak…”tawa Pak Ismet mesum. (Oooohh…crap !! ancur memek gue hari ini !!), keluhku dalam hati.

Plaaaakk…!! Plaaaakk…!!, tangan gempalnya menampari pantat sekal putihku.

Pak Ismet memasukkan paksa penisnya yang gemuk itu ke liang vaginaku, sekarang aku merasakan sesak yang dialami oleh Joyce dan Shekti tadi. Si tua gembrot itu juga tampak sesak nafas penisnya terjepit vaginaku yang katanya legit. Dia menyodokku sambil meremas pantatku dengan gemas, yang sesekali ditamparnya kasar hingga menimbulkan bercak merah bergambar telapak tangan, sementara diriku masih berpegangan pada sisi meja, dimana mejaku sudah mendorong habis meja di depannya hingga mentok ke dinding, jadi saat disodok gahar Pak Ismet menimbulkan bunyi gaduh, “Jduk…jduk..!!”.

Kami pun kembali bersenggama bersama-sama, lagi dan terus dan terus, menjadi objek pembuangan sperma, setelah keluar sperma, mereka mencabut penis dan beristirahat, lalu bertukar pasangan lagi, aku dan para sahabatku hanya pasrah menungging menjadi media pengosongan kantung sperma dan pelampiasan nafsu hewani mereka.

Pokoknya hari itu hingga sore hari dimana mentari hendak menyembunyikan senyumnya, kami berenam ngeseks tanpa mengenal waktu dan rasa lelah, vagina kami bertiga digarap hingga terasa perih karena terus menerus dipaksa menjepit dan menggesek penis mereka, punwalau pada akhirnya disembur cairan hangat dan kental sehingga membasuh lecetnya dinding vagina kami, keluar ruangan keadaan kami seperti sebuah benteng yang dirudal, berantakan dan awut-awutan, jalan kami bertiga menyeret karena perih di selangkangan, sedangkan para petugas bejat itu tertawa-tawa melihat keadaan kami, Joyce yang paling malang karena dengan keadaan itu dia harus mengantar kami pulang dengan mobilnya. Kejadian itu terus terjadi setiap hari, di samping kami juga menyukai hal itu, jadi baik itu setiap pulang sekolah, hari libur tanggal merah maupun minggu, kami selalu sex party bertiga, berpindah-pindah lokasi jika kami ingin mengganti suasana, misal : Villa Shekti, sekitar puncak Bogor, Dago Bandung, penginapan mewah Joyce di Pulau Bidadari dsb.

Kenangan pertama itulah yang terngiang-ngiang di kepalaku.

(Miss U Friend…Where are U…? Need U Now !!) keluhku dalam hati ke arah lautan.

Wajah para sahabat-ku terbayang melayang di atas langit hitam bertebar bintang.

END THIS CHAPTER.

To be Continued…Next, Chapter II :

Sex Slavery in Holidays Trip 1 & The Legend comes in Section,

Terima kasih telah membaca ^o^. Salam dari penulis amatir baru yang masih hijau.

Cerita ini di-dedikasikan untuk “seseorang”.

With Loph.

Diny Yusvita Anggraini.

Sumber : Kisah BB

One comment

  1. sampek kontolku moncrot



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: