h1

Lust Inc.: The Briefing

July 25, 2009
Lusi

Lusi

Namaku Lusi, saat ini usiaku 26 tahun dengan tinggi badan 160 cm dan berat 45 kg. Aku bersyukur karena secara fisik dianugerahi wajah yang termasuk cantik, setidaknya begitulah kata orang-orang, dengan rambut panjang sedada yang agak bergelombang dan kuhighlight kecoklatan. Suamiku adalah seorang pengusaha muda yang sukses, usianya tiga tahun lebih tua dariku. Kami, pasangan muda ini, telah menjalani kehidupan rumah tangga selama lima tahun tapi entah kenapa sampai saat ini kami belum dikarunia seorang anakpun. Karena merasa bosan dan kesepian di rumah terus, Helen, salah seorang temanku mengajakku untuk bekerja di tempatnya yang adalah salah satu perusahaan swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Setelah mempertimbangkan selama beberapa hari, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di sana. Awalnya suamiku tidak setuju aku bekerja lagi tapi karena aku memberi alasan yang menurutnya masuk akal akhirnya dia menyetujuinya. Perusahaan itu bernama PT. Lancar Usaha Sentosa, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor. Hari ketiga bekerja aku sudah buat masalah dengan terlambat datang ke kantor hingga hampir setengah jam sehingga aku dipanggil oleh atasanku yang konon katanya sangat galak. Sebut saja namanya Pak Herman, seorang WNI keturunan, berkulit putih, gemuk, dengan kepala hampir botak mengingatkan pada Liem Sioeliong, konglomerat terkenal pada zaman orde baru itu loh. Ini adalah kali pertamaku akan bertemu langsung dengannya, karena ketika aku baru masuk ia sedang tugas di luar kota dan baru pulang kemarin sore. Dengan berdebar-debar aku melangkahkan kakiku ke ruangannya. Tok..tok…perlahan aku mengetuk pintu ruangannya.

“Ya…masuk!!” sahut pak Herman dari dalam dengan suara keras,

“Selamat pagi Pak!” sapaku dengan wajah agak menunduk, lalu pak Herman menyuruhku duduk.

“kamu tau kenapa kamu dipanggil?” aku menggeleng pelan, “liat, sudah jam berapa sekarang!?”

“maaf Pak… tadi jalanan macet…”

“jangan cari alasan” bentak pak Herman dengan tatapan yang sinis ke arahku.

“sekali lagi saya minta maaf Pak, saya memang salah” kataku sambil menundukkan muka

Tiba-tiba Pak Herman berdiri, sekilas aku melihat dia ke arah pintu entah apa yang dia lakukan dan kembali duduk di kursinya.

“Hhhmmm.. kamu ini karyawan baru di sini kan? Yang dikenalkan Helen itu?” tanyanya padaku sambil memainkan dasinya yang berwarna biru, “iya…ya, saya ingat, saya ingat…Lusi kan? Lusiana Devianty…ternyata aslinya jauh lebih cantik dari yang di foto”
“iya Pak saya memang baru di sini, maaf Pak…saya belum terbiasa dengan jam di sini makannya telat” jawabku mencoba menjelaskan alasan keterlambatanku, aku melihat tatapannya mulai sedikit aneh, seolah-olah ingin menerkamku.

“Kamu sudah bersuami Lus?” tiba-tiba pria gemuk itu menanyakan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan

“Udah Pak” jawabku singkat sambil melihat raut muka pak Herman yang bagiku kurang mengenakan.
“kalian sudah punya anak?” tanyanya lagi.

Aku cuma menggelengkan kepala

“lo kenapa? mungkin kalian jarang ya gituannya?” aku mulai agak risih dengan pertanyaannya yang menjurus ke kurang ajar.
“oh ya pak masalah saya terlambat saya benar-benar minta maaf, saya janji akan datang lebih awal” aku mencoba mengalihkan pembicaraan itu
Pak Herman langsung berdiri dan menghampiri tempat duduk saya.

“Ya udah ga papa, kali ini saya maafkan, asal….”  pak Herman tidak melanjutkan kata-katanya, kini tangannya sudah merangkul ke leherku, aku kaget tapi tetap diam, terhenyak dengan sikapnya yang mulai melecehkan itu.

“kamu ngertikan maksud Bapak?” tanyanya sambil tersenyum menjijikkan.

Aku menggelengkan kepalaku dengan perasaan makin tidak enak, tiba-tiba aku merasa tangan pak Herman mulai meraba-raba payudaraku. Kontan dengan cepat akupun menepis tangannya yang lancang itu.

“tolong jangan kurang ajar ya Pak!!” bentakku sambil menatapnya dengan marah, sekejap aku berdiri dan  ketika aku mau membuka pintu ruangan tersebut ternyata pintunya sudah terkunci, sungguh kali ini aku benar-benar terpojok

Dengan sigap pria tambun itu mendorong tubuhku hingga terjatuh di lantai hingga aku menjerit kecil. Ia langsung menindihku dengan tubuhnya yang gendut sehingga aku sulit bernapas. Harga diri dan martabatku langsung bangkit marah. Aku berontak dan melawannya habis-habisan dan berusaha mendorong tubuhnya tapi ia terlalu tangguh dan kuat bagiku.

“Ayolah Lus…menurut sajalah, kalau kamu teriak malah kamu juga yang rugi kan?”

Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Pria ini sungguh lihai, pasti bukan pertama kalinya ia melakukan pelecehan seks seperti ini. Dia memiliki perhitungan yang matang akan segalanya dan mampu memberi tekanan psikologis yang jitu. Ia tahu bahwa aku tidak mau kehilangan suamiku dan ia juga tahu, kalau toh kepergokpun, ia tak akan merugi. Hampir tak pernah dengar ada suami yang melapor istrinya diperkosa orang. Yang ada hanyalah seorang suami yang menceraikan istrinya tanpa alasan yang jelas. Disinilah bentuk tekanan pria biadab ini padaku.

“Gak usah malu-malu gitu manis, yang kaya gini biasa kok, semua karyawati cantik di sini udah pernah ginian sama saya!” katanya dekat telingaku, “termasuk Helen, temanmu itu hehehe…”

“Pak…tolong lepasin saya…jangan kaya gini, saya mohon” aku mengiba padanya agar dia tidak melanjutkan aksi bejatnya sekaligus terhenyak mendengar bahwa Helen ternyata juga salah satu korban si botak tak tahu diri ini.

Namun pria itu hanya tersenyum, sebuah senyum yang membuatku makin muak.

“Apa nya yang mau di lepasin?? baju nya ya? huehehehe” tawanya seram.

Aku mulai meneteskan air mata menyadari diriku tidak akan bisa lepas dari bandot tua ini. Kini kedua tanganku ditariknya ke atas kepalaku dan ditahan dengan satu tangannya sementara tangan satunya lagi mulai meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus pakaian kerjaku.

“Wooww… tetekmu kenyal banget Lus…berapa sih ukurannya…aahh!” ucapnya sambil tertawa, pak Herman semakin keras meremas payudaraku sehingga aku merintih ke sakitan.

“oohh… pak…sakit…hhmm….” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku

“sakit ya? Sini tak belai biar enakan…uuh!” perlahan kancing kemejaku mulai terlepas satu demi satu dipreteli olehnya

Mr Herman

Mr Herman

Kini telapak tangannya yang kasar mulai menyusup ke balik braku yang berwarna krem. Remasan demi remasan semakin membuatku terangsang, apalagi terkadang ia memilin putingku dengan keras dan menggesek-gesekkan jarinya pada bulatan sensitif tersebut.

“pak…Oohkk…hentikan Pak!” antara menolak dan menerima, aku pun mulai mendesah pelan menahan nikmat yang sangat luar biasa itu.

Tangannya kini mulai mengusap perutku sekali-kali mengelitik pinggangku yang membuat badanku bergoyang-goyang..
“Lus, kok kamu goyang-goyang gitu sih.. mau joged ya?” mukaku makin panas mendengar ejekan demi ejekan yang terlontar dari mulutnya yang diarahkan padaku. Namun anehnya, bukannya marah aku malah makin terangsang. Sadar aku telah pasrah dan juga tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi, pak Herman pun melepaskan tangannya yang tadi memegang pergelanganku. Kini tangannya mulai melepaskan celana panjang berbahan katun yang kukenakan. Dengan lincah tangannya melepaskan ikat pinggang hingga resletingku hingga celana kerjaku pun melorot dan memperlihatkan celana dalam kremku dan sepasang pahaku yang putih mulus.
“Wah-wah…celana dalemnya kok udah basah gini? kan belom diapa-apain…kamu udah gak tahan pengen dientot kan Lus?” ejek pak Herman mengetahui daerah kewanitaanku sudah lembab oleh lendir kenikmatan.

Jari tengahnya kini mulai menyelusuri belahan vaginaku, sekali-kali ditekannya wilayah itu sehingga aku tidak tahan untuk mendesah.
“OOHkk…hhmm….Pak….udah…ooohh….ampun!” usapannya di vaginaku semakin menjadi-jadi sehingga tubuhku bergetar tanpa dapat kutahan.
“Udah apaan? lonte…heh…enak ya!?” dengan sekali sentakan pak Herman menarik celana dalamku hingga robek sehingga rambut vaginaku yang begitu lebat dan hitam terlihat jelas olehnya, kini jari nya mulai bermain-main dengan bibir vaginaku tanpa dapat kutahan lagi.

“sayang…ini apa sih namanya” sambil menarik-narik rambut vaginaku..
“aauu…sakit…itu…bulu…bulu kemaluan Pak…sshhh” desahku, aku merasa beberapa helai rambut vaginaku tertarik olehnya sehingga terasa sangat sakit tapi itu malah bikin aku trangsang..
“memek siapa lonte? Uuhhk….ayo jawab!!” tanyanya lagi sambil mencucukkan jarinya ke dalam liang kenikmatanku hingga tubuhku otomatis tersentak dan terasa seperti disengat listrik..

“memek saya Pak…aahh!”

“Kamu itu apa Lus?” tanyanya lagi dekat kupingku

“saya…saya pelacur pak..oohh…” entah setan dari mana tiba-tiba aku menjawab semua pertanyaannya dan begitu pasrah direndahkan olehnya.

Aku semakin terangsang ketika satu lagi jarinya menyelinap masuk ke vaginaku

“oohh yeaahh…hhmm…” aku mendesah menjadi-jadi ketika kedua jari itu keluar masuk vaginaku sehingga wilayah itu semakin basah.
“ha…ha…. dasar pelacur… murahan!” katanya sambil memaju mundurkan jarinya ke liang vaginaku.

Mulutku mengap-mengap, mataku terpejam-pejam dan dari kelopak mataku yang setengah terbuka itu kulihat senyum mesumnya yang memuakkan yang sedang menikmati rangsangannya. Tak lama kemudian, tiba-tiba badanku terasa bergetar hebat, dari vaginaku semakin banyak mengeluarkan cairan, ya aku telah sampai ke puncak kenikmatan itu.
“Ooohhkk…..yyeeaahhh….aaakkhh!” untuk pertama kalinya aku mengalami orgasme hebat, namun ironisnya kudapat dari atasanku yang sudah berumur setengah abad ini, bukan suamiku. Kini aku hanya bisa mengutuk diri ku sendiri yang kini harus memuaskan nafsu bos bejatku ini.
“ha…ha… kenapa…. masa segitu aja udah keluar sih? kamu mau yang lebih hebat lagi?” tiba-tiba pak Herman mengangkat tubuhku ke atas meja kerjanya lalu dibaringkannya tubuhku. Kini posisi wajah pak Herman persis di bawah selangkanganku, tiba-tiba aku merasa ada hembusan napas menerpa vaginaku..
“uuummhh….wanginya memekmu Lus” kata pak Herman sambil sambil menghirup selangkanganku

“Ooohhh…Pak!” aku cuma dapat mendesah ketika lidahnya yang kasar mulai menjilat bibir vaginaku….
“oohh Pak….ampunn….hhmm…”erangan demi erangan mulai keluar dari mulutku

ssllupps…sslluuppsss….dengan rakus dia menjilat vaginaku yang semakin banjir oleh cairan kewanitaanku
“hhmm….sedap banget memekmu Lus…uuuhhkkk!!”dengan bernafsu pak Herman menjilati vaginaku, rambut vaginaku yang lebat juga terjilat hingga basah oleh liurnya, sesekali ia menggigit klitorisku sehingga pantatku sedikit ke angkat akibat tersengat sensasi nikmat.
“oohhkkk….Pak…jangan siksa saya kayak gini Pak….uuuhhkk….” vaginaku makin terasa banjir “tolong Pak…saya mohon berhenti!” aku mulai merengek agar pak Herman menghentikan aksinya.

Aku menggerakkan bola mataku ke bawah sana melihat pria itu membenamkan wajahnya di antara kerimbunan bulu-bulu vaginaku, matanya yang nanar bertemu dengan pandangan mataku. Namun anehnya aku malah semakin bergairah, sepasang paha mulusku menjepit kepalanya semakin erat seolah tidak rela pria itu menghentikan jilatannya pada daerah kewanitaaanku. Bukan hanya menjilati vaginaku, ia juga menciumi paha dan sekitar selangkanganku sehingga akupun makin mendesah terbakar birahi, aku tak sanggup mendesah lebih panjang terutama ketika lidahnya menyentuh klitorisku, terasa nikmat sekali, apalagi ketika lidah itu menari nari menyusuri bibir vagina, sungguh melayang aku dibuatnya, tak sadar kuremas remas kepalanya yang hanya berambut sedikit. Puas bermain-main dengan vaginaku, ia menegakkan kembali badannya dan menarik tubuhku hingga bangkit terduduk di meja lalu menurunkanku.
“Nah…sekarang kamu berjongkok cepetan!!” perintah pak Herman

Dengan berat hati aku mengikuti semua perintahnya, aku berjongkok di hadapannya, kulihat di balik celananya penisnya sudah menggelembung.
“Sekarang kamu sepong dulu kontol saya yah! Dah ini baru saya lepas” perintahnya lagi

Mendengar perkataannya badanku terasa panas dingin. Aku begitu bimbang dan risih karena sebelumnya aku belum pernah melakukan oral seks bahkan terhadap suamiku sekalipun.

Pria itu mulai membuka semua pakaiannya hingga kami sama-sama bugil. Aku terhenyak ketika ia melepaskan celana dalamnya dan mengeluarkan penisnya yang telah ereksi itu, benda itu mengacung tepat di depan wajahku seperti pistol yang ditodongkan. Aku benar-benar gugup karena sekarang di depanku ada penis yang bukan punya suamiku yang harus aku isap. Pak Herman memegangi kepalaku dan mendekatkan benda itu ke mulutku

“Ayo dong, buka mulutnya…kok malu-malu gitu, pasti belum pernah nyepong ya sama suaminya…tenang, Bapak bisa ajarin kamu kok hehehe!”
Perlahan dengan ragu-ragu, aku mulai membuka mulut kudan memasukkan penisnya yang kira-kira berukuran 17 cm berdiameter 3-4cm itu. Aku mempraktekkan apa yang pernah kulihat di film-film porno dengan memaju-mundurkan kepalaku menghisap penis itu. Aku memberikan pelayananku sebaik mungkin agar ia bisa secepat mungkin mengeluarkan spermanya dan menyudahi perkosaan ini.
“Ooohh, siipp…emang enak mulutmu pelacur…. terus…isap!!”  perkataan pak Herman membuat aku makin terhina sehingga aku ingin cepat menyelesaikannya, “lidahnya ikut main juga Lus, isep…isep yang dalam!” ia makin menceracau

Slllepphh…sssllrrp…mmmh…demikian suara mulutku yang lagi menghisap penis atasanku. Aku menuruti apa yang dimintanya, kumainkan lidahku menyapu-nyapu batang dan kepala penisnya, meskipun mulanya mual dan hampir muntah, aku terus mencobanya lagi karena pria itu memegangi kepalaku, aku juga menggunakan tanganku untuk mengocok batangnya dan memijat buah zakarnya. Sekitar lima menit aku melayani penis pak Herman dengan mulutku. Aku menerima terpaan getar nikmat yang membuat tubuhku merinding dan menggelinjang. Aku seolah didorong oleh semacam kekuatan untuk mendobrak segala yang selama ini merupakan sangat tabu bagiku dan sangat menjijikkan bagi penalaranku. Kekuatan itu membuatku menerima dengan sepenuh hasrat dan nafsu birahiku. Aku mulai menikmati tugasku mengoral penis atasanku ini dengan melakukan gerakan melumat dan menjilat secara intens. Terkadang aku cabut penis itu untuk aku lumati batangnya yang penuh guratan otot.

Pak Herman yang keenakan itu mulai menggoyangkan pantatnya menyenggamai mulutku, dan ketika kudengar dia mulai benar-benar merintih dan mendesah yang membuat aku semakin terbakar oleh libidoku yang memang telah menyala-nyala aku menyadari bahwa macam nikmat birahi itu demikian banyaknya. Aku belum pernah merasakan macam ini sebelumnya. Tak lama kemudian, aku merasa penis Pak Herman yang sedang kukulum itu semakin berkedut-kedut lalu disusul lenguhan panjangnya yang keluar terbata-bata dari mulut pria setengah baya itu, akhirnya sebuah kedutan besar menggoncang rongga mulutku. Cairan kental panas luber menyiprat dan menyemprot-nyemprot langit-langit mulutku. Ada sekitar 7 atau 8 kedutan yang selalu diikuti dengan semprotan sperma hangat. Mulutku langsung penuh oleh cairan kental berwarna putih susu itu. Terlintas kembali rasa jijik yang membuatku ingin memuntahkannya setelah benda itu lepas nanti. Tetapi ternyata itu lain dengan apa yang terlintas dalam benak, nafsu dan tingkah Pak Herman.
“Oohhkk….yyeeaahh….” ia menekan kepalaku sehingga aku sulit bernapas, dipaksanya aku menelan semua spermanya yang tumpah dalam mulutku. Aku gelagapan dan hanya punya satu pilihan agar tidak tersedak sehingga dengan terpaksa aku harus menelan semua spermanya.

“Anjing lu!” gerutuku dalam hati karena kesal.
“Gimana sayang? enak kan peju saya?” tanyanya dengan gaya melecehkan, sementara aku mengap-mengap mengambil udara segara setelah penisnya lepas dari mulutku. Aku hanya bisa bersimpuh diam di lantai berkarpet itu dan menatap kesal padanya menahan emosi.
Perlahan dia mendorong pundakku shngga aku telentang di karpet,

“Ya Tuhan…apa lagi yang ingin dia lakukan!?” gumamku dalam hati
Sebelum aku sempat berpikir panjang Pak Herman langsung menindih tubuhku yang telanjang bulat. Bibirnya berusaha melumat bibir tipisku yang saat itu memakai lipstik light pink yang berkesan natural. Aku tiga kali menggelengkan kepala ke kiri dan kanan sebelum ia akhirnya berhasil mencaplok bibirku dan melumatnya.
“Uuugghhh….hhhmm…” aku mendesah tertahan di tengah cumbuannya yang ganas. Secara refleks lidahku juga ikut bermain membalas lidahnya yang menari-nari di dalam mulutku. Perlahan tangannya mulai meraba-raba vaginaku lagi. plokkkss…ploksss….. terdengar suara kecipak dari jarinya yang sedang mengocoki kewanitaanku yang sudah sangat basah. Aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. Isak tangisku bercampur dengan desahan nikmat dari sela-sela percumbuan kami.
“Pak udah Pak…cukup…Bapak tadi kan udah janji mau melepasin saya” kataku dengan napas terengah-engah setelah ia puas melumat bibirku

Namun ia hanya tersenyum tanpa melepaskan tindihannya terhadapku. Kemudian aku merasakan benda tumpul bersentuhan dengan bibir vaginaku, benda itu menekan mencoba menerobos masuk ke vaginaku yang terasa sangat sempit bagi penisnya.
“Lusi…Lusi, kamu bener-bener naif, janji itu kan untuk diingkari, hehehe” jawabnya sambil terus menekan penisnya ke dalam vaginaku.
“aauuu… Pak sakit Pak…jangan diterusin!” aku mencoba menghindari sodokan penis Pak Herman dengan menggoyang-goyang pantatku, namun dalam posisi terhimpit seperti ini aku tak dapat berbuat banyak untuk menghentikan gerak laju penis itu.

Kini penis pak Herman sudah setengahnya masuk, itupun sudah terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini belum pernah kurasakan bersama suamiku. dengan begitu buas dia menusuk2 memek ku…

“Dduhh, Lus…memekmu legit bangethh!” ceracau Pak Herman yang terus menyodok vaginaku sampai mentok hingga perih aku dibuatnya

Pria itu memompakan penisnya dengan irama teratur, terdengar suara pelirnya yang terayun-ayun memukuli selangkangan kami. Aku sendiri yang dilanda kenikmatan terlarang ini hanya bisa mendesah dan merintih sambil kepalaku bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti menggeleng-geleng, karena nikmat yang tak mampu kutahan itu.

“Gila memekmu enak banget…. ga salah si Helen masukin kamu ke sini” ceracaunya sambil menyodok vaginaku dengan kencang.
Plokss….plokss…ploks….suara itu terdengar sangat jelas dari vaginaku yang sedang diobok-obok oleh penisnya.
“hhhmmm….Oohk….yeahh….Pak….cukup Pak…aaahh!” rintiku antara menolak dan pasrah.
Kira-kira 15 menit kami melakukannya dalam gaya missionaris, kemudian Pak Herman melepaskan tubuhku dan memapahku hingga berdiri.

Aku masih lemas hingga tanganku berpegangan pada sisi meja kerjanya. Ia meminta ku untuk menungging dan dengan terpaksa aku ikuti kemauannya. Dengan kedua tangan berpegangan pada bibir meja, aku menyodorkan pantatku ke arahnya. Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dan payudaraku. Jari-jarinya yang gemuk juga meilin-milin putingku, ia juga menyibakkan rambutku ke sebelah agar bisa mencium pundak dan leher jenjangku. Kali ini ia melakukannya dengan sangat lembut dan penuh perasaan membuatku terbuai dalam sentuhan-sentuhan erotisnya. Tidak!! Apakah pikirnya ia bisa menundukkanku dengan caranya yang demikian itu. Aku harus berontak menghentikan semua ini, aku adalah wanita baik-baik dan telah memiliki suami yang baik serta menyayangiku, aku tidak boleh tunduk pada pria gemuk berkepala setengah botak ini. Tapi apa dayaku ? aku kini bagai kijang yang telah lumpuh dalam terkaman srigala. Aku telah rebah ke tanah dan cakar-cakar srigala itu telah menghunjam di urat leherku. Kini aku hanyalah seonggok daging untuk dikonsumsi binatang jahanam itu. Perlahan aku merasakan penisnya kembali melesak masuk ke vaginaku dan bleesss….semua batang penisnya pun tenggelam dalam liang itu. Titik-titik saraf sensitifku pun bereaksi. Aku menengadahkan kepala sambil mendesah panjang, jari-jari tanganku meremasi tepian meja dengan lebih erat. Kenikmatan itu seakan bagaikan air bah yang menghanyutkan seluruh haribaanku, sungguh suatu kenikmatan yang tiada bertara.
“Ayoo…Lus digoyang pantatnya…. hahaha!!” suruhnya sambil sesekali tangannya meremasi bongkahan pantatku yang membulat indah karena sering gym.

Ini merupakan skandal terbesar dalam hidupku, belum sekalipun dalam hidupku aku berselingkuh ataupun berpikir untuk itu. Darahku terasa menggelegak, jantungku berdegup keras. Birahi yang menggelegak campur aduk dengan perasaan bersalah telah mengkhianati suamiku, birahi itu mendorongku menggerakkan pinggulku menyambut sodokan penis atasanku itu. Aku merasakan vaginaku semakin banjir saja, terasa sekali dari suara becek yang makin terdengar dan semakin lancarnya penis Pak Herman merojok-rojok.
‘Plakkss….plakss’ di tengah genjotannya ia sesekali menampari pantatku yang putih sehingga berbekas merah.
Tak terasa, aku malahan semakin menikmati perkosaan ini, setiap genjotan kasar yang dilakukan oleh pak Herman membuat tubuhku bergetar hebat,
“Pak….aahh, terusss Pak!!” rintihku sambil memaju mundurkan pantatku mengikuti irama Pak Herman, oohh…gila kenapa aku malah meminta seperti itu, aku sungguh tidak menyadarinya ketika kata-kata itu terucap, apakah libidoku sudah demikian mendominasi diriku melebihi nuraniku?
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali orgasme, dinding vaginaku semakin berkontraksi dan terasa seperti menyedoti penis Pak Herman. Pria itu menekan-nekan penisnya semakin dalam hingga akhirnya tubuhku pun mengejang hebat. Erangan panjang terlontar dari mulutku, aku tidak peduli lagi apakah suaraku terdengar sampai luar sana atau tidak, yang jelas aku tak sanggup lagi menahan gelora kenikmatan yang sedang menerpa tubuhku ini. Aku dapat merasakan cairan kewanitaanku membanjir hingga meleleh keluar membasahi selangkangan dan paha dalamku.
“Pakkk….aaahhh!” tubuhku bergetar begitu hebat sampai benda-benda di atas meja kerja Pak Herman ikut bergetar.
“Hehehe…enak kan? Sini Lus, Bapak kasih liat sesuatu” Pak Herman mendekap tubuhku tanpa melepas penisnya yang masih keras dari vaginaku.
Ia menjatuhkan diri pelan-pelan di kursi kerjanya dekat situ, akupun jatuh terduduk di pangkuannya dengan penis masih menancap. Lalu ia menggerakkan mouse di komputernya dan mengklik sebuah file hingga terbuka. Sebuah film terbuka di layar monitor dan Pak Herman mengklik full screen untuk memperbesar. Film itu memperlihatkan sebuah dokumentasi pesta di ruang tamu berukuran sedang dengan interior elegan. Pesta itu seperti layaknya pesta pernikahan atau arisan dalam skala sedang, para pengunjung berpakaian santai, yang wanita ada yang memakai gaun malam atau terusan, yang pria ada yang memakai kaos atau yang agak rapi dikit memakai kemeja. Tidak sedikit wajah yang kukenal yang adalah orang-orang perusahaan ini muncul dalam dokumentasi tersebut termasuk Pak Herman yang kelihatannya berperan sebagai tuan rumah, juga ada Helen yang nampak cantik dalam gaun terusan hitam backless-nya, dan juga hei…bahkan ada beberapa pegawai tingkat rendah seperti office boy satpam, dan sopir perusahaan pun turut dalam pesta itu, mereka tampak duduk-duduk bercengkerama dan tertawa-tawa, pakaian mereka lebih sederhana dibanding para karyawan dan kepala staff lainnya, bahkan beberapa datang dengan masih memakai pakaian kerjanya, seperti misalnya Pak Mamat, si pembersih toilet berusia 50an itu.

“Nah Lus…ini arisan perusahaan kita, ada satu yang membedakan dengan arisan-arisan seperti biasanya…” sahutnya menjelaskan dengan tangan kirinya menggerayangi payudaraku, “nah kita majuin saja, biar to the point” ia menggerakkan mouse memajukan dokumentasi itu”

Sungguh aku terhenyak dan menelan ludah melihat adegan berikutnya di layar monitor. Pesta itu mulai liar dan berubah menjadi pesta seks, orang-orang yang bercengkerama mulai duduk merapat, saling raba, dan saling bercumbu dengan pasangan masing-masing. Kamera kini mengarah pada Felia, seorang karyawati di bagian treasury yang sedang duduk di sofa diapit dua pria sesama karyawan disini yang namanya tidak kuketahui. Felia nampak menikmati tubuhnya digerayangi mereka, ia bahkan sempat melirik ke kamera dan tersenyum nakal. Salah satu dari mereka yang berumur sekitar 30an melumat bibirnya sambil merabai payudaranya, sementara yang satunya menyingkap rok panjangnya hingga mengekspos pahanya yang putih mulus, lalu turun dan membuka kedua paha itu dan turun ke lantai berlutut di antaranya. Pria itu menarik lepas celana dalam Felia lalu membenamkan wajahnya di selangkangan wanita berambut pendek itu hingga tubuhnya menggeliat nikmat. Adegan berikutnya membuatku semakin membuatku terpana, bagaimana tidak, aku melihat Helen yang sedang bersandar pada pilar sedang dikenyot payudaranya oleh Pak Iqbal, supervisornya, yang sebaya dengan Pak Herman dengan rambut memutih yang kontras dengan kulitnya yang gelap itu. Pak. Kamera mendekat ke Pak Iqbal yang dengan rakus menyusu dari payudara Helen, tangannya yang satu mendekap tubuhnya yang langsing sementara yang satunya merogoh ke belahan roknya mengeluarkan pahanya yang indah. Sulit rasanya mempercayai ini semua, Helen adalah salah satu teman dekatku waktu kuliah yang kukenal sebagai gadis baik-baik dan kini telah bertunangan, bagaimana mungkin dia terlibat pesta gila seperti ini? Aku hanya melongo tanpa bisa berkata-kata melihat Pak Iqbal membuka tali bahu gaun Helen yang sebelah hingga gaun itu melorot jatuh dan di tubuh Helen tinggal tersisa celana dalam hitam yang menutupi kewanitaannya.

Aku mengedip-ngedipkan mataku seolah tak percaya dengan pengelihatanku sendiri, kegilaan ini sepertinya memang nyata. Pada adegan berikutnya aku melihat seorang wanita berumur 40an yang masih nampak cantik dan seksi sedang mengoral penis seorang pria yang kutahu adalah salah seorang satpam di perusahaan ini. Wanita ini…wanita ini, apakah aku tidak salah lihat? Wanita ini adalah wanita yang sama dengan di foto keluarga Pak Herman yang terletak di atas meja yang sama, yang tidak lain istrinya sendiri. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, seorang pria merelakan istrinya terlibat pesta seks dan bercinta dengan pria lain yang statusnya jauh di bawahnya pula. Sambil menyaksikan adegan ini Pak Herman ternyata masih menyentak-nyentak pelan vaginaku dari bawah sana. Aku mulai pusing, aku tidak tahu apakah aku masih di dunia atau tidak? Aku seakan sedang dibrainwash oleh nafsu birahi sedari tadi sehingga tanpa kusadari aku juga ikut menggoyangkan tubuhku di atas penis atasanku ini.

“In lust we trust!” terdengar pria itu berkata dekat telingaku, “ini motto tersembunyi perusahaan ini Lus, kamu harus tau itu”

Aku hanya mendesah lirih dan menengok sedikit ke wajahnya.

“Ini salah satu cara menjaga kekompakan dan persatuan antar karyawan di sini Lus, juga salah satu cara menghilangkan stress” lanjutnya, “sepanjang jaman, manusia selalu tidak pernah lepas dari yang namanya seks dan terus bereksplorasi dengannya, seks lah yang mempersatukan manusia, dan itu yang kita terapkan untuk membuat solid perusahaan kita ini, dari tingkat atas sampai bawah, kamu liat itu semua bersatu dalam nafsu seks, dari tukang sapu sampai direktur utama, hahaha”

Sambil mendengarkan penuturannya, aku melihat di layar pria yang sedang menyetubuhiku sekarang ini sedang duduk di sebuah sofa bercinta dengan dua karyawatinya yang cantik, kakak beradik Linda dan Lisa, keduanya baru berkenalan denganku kemarin waktu makan siang di kantin. Ketiganya sudah telanjang bulat, Lisa sedang berlutut di antara paha pria gemuk ini, sementara kakaknya berlutut di sofa menyodorkan vaginanya ke wajah Pak Herman. Kamera mendekat ke wajah Pak Herman yang sedang asyik menjilati vagina gadis itu, lidah dan jarinya bermain-main di sana dengan liarnya.

“Apa kamu gak nyadar Lus, nama perusahaan kita Lancar Utama Sentosa, kalau disingkat menjadi ‘Lust’ ? ya Lust Inc. itu nama perusahaan kita ini, dimana profesionalisme dan nafsu menjadi satu.”

Adegan berikutnya kembali ke Helen, kali ini ia sedang disetubuhi sambil berdiri oleh Pak Iqbal, ia tersentak-sentak ke atas akibat genjotan pria itu yang ganas, sambil menggenjot pria itu juga meremasi buah dadanya dan sesekali berciuman dengannya. Yang juga tak bisa kupercaya, Bu Sherry, karyawati senior berumur 35 dan keibuan yang bekerja di sebelah mejaku, juga ikut dalam pesta seks itu. Nampak dalam dokumentasi, ia sedang dalam posisi doggie dengan Pak Mamat, si penjaga WC tua itu. Gaun terusan Bu Sherry memang masih menempel di tubuhnya, hanya saja sudah terbuka di bagian dada dan pinggang ke bawah sehingga payudaranya yang montok itu nampak berayun-ayun seirama goyangan tubuh pria tua itu. Ekspresi ibu beranak dua yang masih cantik dan seksi itu sangat menikmati persetubuhan itu tanpa paksaan.

“Sherry…ibu dan istri yang baik, tapi dia juga enjoy dengan acara ini, karena dia tahu membedakan mana cinta mana nafsu…saya suka dia, dia memang pintar memuaskan pria!” kata Pak Herman lagi, “ayo sambil goyang Lus nontonnya”

Aku yang sudah benar-benar dilanda birahi menurut saja mempercepat naik turunnya tubuhku sesuai permintaannya. Di layar juga ada beberapa pria melakukannya dengan sesama jenis, salah satu yang kukenal adalah Willy, yang memang sejak hari pertama mengenalnya aku sudah menduga ia seorang gay dari gayanya yang kemayu, namun hanya sebagian kecil, mayoritas peserta pesta itu adalah pasangan heteroseksual. Tak sampai sepuluh menit aku kembali mencapai orgasme bersama Pak Herman, namun kali ini sudah sepanjang sebelumnya lagi. Aku merasakan semprotan-semprotan hangat di dalam rahimku, payudaraku diremas dengan lebih keras olehnya sehingga aku pun merintih.

“Bener-bener memek yang enak Lus….” kata pak Herman yang sedang menikmati sisa-sisa orgasemenya
Aku hanya terdiam lemas dalam dekapannya memikirkan nasibku, aku sangat takut kalau-kalau nanti aku hamil tanpa kuketahui ayah dari calon anakku.

“Kamu akan terbiasa dengan semua ini Lus, kamu sudah menjadi bagian di dalamnya, selamat datang di Lust Inc.” kata Pak Herman sambil menurunkan tubuhku dari pangkuannya dan memunguti pakaiannya.

“Oh ya satu lagi…jangan pernah berpikir untuk melaporkan semua ini ke luar, kamu gak mau kan rekaman kamu ini bocor kemana-mana” katanya lagi sambil memandang ke arah kamera yang terpasang di sudut atas ruangan.

“Oohh tidak aku sudah terjerumus” keluhku dalam hati, tidak ada jalan keluar lagi, sorot mataku polos karena tidak tahu harus sedih atau senang menikmati semua ini.

Yang jelas ini barulah awal dari segalanya.

bagaimana nasib Lusi yang selanjutnya ya????
ikuti trus petualangan Lusi yang akan datang
Mohon kritikan dan sarannya, maklum baru pertama bikin cerita!!!!

By: Lusi Genit

Sumber : Kisah BB

One comment

  1. cerita bagus dilanjut aja dan jadikan pak herman sebagai germo bagi karyawatinya yang cantik2 itu tuk para direktur perusahan lain……..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: