h1

Hukuman Manis Buat Donie

October 6, 2009

Di tempat praktek Dr.Lila

“Baiklah demi Niken sahabatku aku mau membantu kalian namun sebaiknya kita menemui seseorang yang tepat pada spesialisasi di bidang itu” ujar Dr.Lila saat sore itu Sandra dan Dian datang menemuinya di ruang praktek.

“Siapa orang itu La?” tanya Sandra tadinya ia berpikir Lila sendiri yang akan membantu. Ia baru teringat kalau Lila merupakan Ahli spesialis Penyakit Kandungan dan alat kelamin bukan seorang ahli Seksiologi.

“Mantan dosenku dulu. Ia seorang ahli Terapi Penyakit dan Kelainan Seksual. Namanya Dr. Hung atau orang sering menyebutnya Dr. H”

“Seperti dr.Naek atau Boyke?”

“Ya tapi ia tidak popular seperti mereka meski  lebih senior. Seharusnya ia bisa saja mendapat gelar Profesor jika ia mau”

“Kalau begitu sebaiknya langsung saja kita temui Apakah ia praktek di sini juga.”

“Sayangnya tidak. Setahuku ia tak lagi membuka praktek. Ia lebih banyak melakukan penelitian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah seksual  lalu mengirimkan hasilnya pada forum-forum kesehatan internasional.” jelas Lila. Lalu dokter cantik itu mengambil handphone-nya lalu berbicara dengan seseorang. Hanya singkat.

“Beruntung dia ada di rumahnya. Dan dia berkenan menerima kita sekarang” ujarnya setelah menutup percakapan di telepon.

Lila memutuskan menutup kliniknya lebih awal. Setelah meninggalkan pesan pada perawatnya ia lalu ikut dengan Sandra dan Dian menuju ke kediaman dr.H.

“Hati-hati bila berbicara dengannya. Dia orangnya gampang sekali marah apalagi menyangkut hasil risetnya” ujar Lila memperingatkan Sandra dan Dian saat mereka memasuki halaman sebuah rumah.

Sesosok wajah kusut mirip Einsten muncul mempersilakan mereka masuk. Secara singkat Lila menerangkan maksud dan tujuan mereka datang ke situ tentu saja ada hal-hal pribadi yang tak dikatakannya.

“Huh! temanmu itukah yang suaminya bermasalah” tanyanya sambil menoleh ke arah Sandra.

“Bu..kan doc tapi teman kami yang lain”

“Sekarang akan kujelaskan dulu mengenai penyakit suami temanmu itu.  Ejakulasi dini adalah salah satu keluhan wanita terhadap pria selain impotensi. Pada intinya seorang pria  gagal mengendalikan dan mengontrol ejakulasi saat  kegiatan seksual baru saja berlangsung. Walaupun kebanyakan wanita merahasiakannya tetapi tidak sedikit rumah tangga yang berantakan karena masalah seksual pria yang satu ini. Sebenarnya aku baru menemukan sebuah metode penyembuhan khusus bagi penyakit Ejakulasi Dini namun aku belum memiliki nama untuk ini.  Pada dasarnya aku hanya mencangkokkan beberapa teori seperti teknik ‘stop-start’ yang sudah umum dipakai dan kemudian menambahkan beberapa teknik baru. Sepanjang suami temanmu itu tidak menderita diabetis akut atau kolestrol tinggi tentu saja masih ada harapan sembuh. Mungkin juga hanya psikologis-nya yang harus di obati. Itu bisa dilakukan bersamaan dengan dengan metode dariku.” jelasnya panjang lebar.

“Apakah metode itu sudah teruji manjur Doc?” Tanya Sandra

“Untuk apa kalian datang kemari jika tak mau percaya pada omonganku Ha! Kalian cuma akan membuang-buang waktuku saja!” ujar dr.H sewot.

“Eng..maaf pak, bukannya tak percaya tapi kami baru kali kami mendengar teknik tersebut.” Ujar Lila mencoba mencairkan suasana.

Sandra menggeser berdirinya ke belakang Lila.

“Galak betul! Pantas tidak buka praktek. Pastilah tidak ada seorangpun pasien yang mau berkonsultasi dengannya” pikir Sandra.

“Tentu saja kalian tak pernah mendengarnya karena memang belum kupublikasikan!”

“Loh Jadi belum pernah ada yang mencobanya?” ujar Sandra lagi

Lila mencubit pinggang Sandra takut si eksentrik ini tersinggung lagi. Dan benar saja

Ia melihat wajah si ‘Einsten’ sudah merah padam.

“Sekali lagi temanmu itu bertanya demikian akan kuusir kalian semua dari sini!” ucapnya dengan suara berat.

“Maafkan atas kelancangannya Dok. Tapi please, teman kami sangat membutuhkan pertolongan. Mungkin dengan penemuan  ‘spektakuler’ anda suaminya bisa disembuhkan. Kami berharap ia menjadi orang pertama yang mendapat kehormatan merasakan kesembuhan dari metode itu” Ujar Lila, Ia sengaja menambahkan kata ‘spektakuler’ untuk mengambil hati mantan dosennya yang pemarah itu.

Pria tua itu terlihat menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghembuskannya. Lalu ia terlihat mengambil sesuatu dari dalam sebuah lemari besi. Tak lama kemudian ia kembali dengan memegang sebuah piringan CD.

“Ok baiklah …ini kuberikan sebuah rekaman yang memuat semua teori dari metode itu. Lila kamu bisa mempelajarinya bersama teman-temanmu. Namun jangan terkejut di dalamnya juga ada rekaman persetubuhan sepasang orang yang mau kujadikan sample untuk mengujinya . Oleh karenanya kalian harus berhati-hati jangan sampai video ini tersebar luas, aku tak ingin ‘masterpiace’ku ini di salah gunakan. Kalian mengerti?”

“Ya dok. Dan terima kasih banyak atas bantuannya” Ujar Lila sambil menerima rekaman tersebut yang sudah dalam bentuk sebuah CD. Ia tahu orang ini sebetulnya agak keberatan menyerahkan hasil karyanya pada mereka.

“Dok, Apakah masih perlu obat-obat, jika ada mengapa kami tidak sekalian diberi  resepnya?” ujar Dian ikut-ikutan nimbrung.

“Hah?! Kalian ini memang tak tahu diri! Sudah dikasih hati sekarang minta ampela? TIDAK ADA OBAT-OBATAN!!! Lebih baik sekarang minggat kalian semua dari sini!!!”teriaknya.

“Ba..ikk dok, kalau begitu kami permisi sekarang” ujar Lila sambil menarik tangan kedua sahabatnya kabur dari situ..

Sesampai di rumah Sandra. Mereka segera melihat isi dari CD yang mereka peroleh tadi.

Lila memperhatikan dengan seksama saat pada layar monitor muncul wajah dr.H melakukan presentasi. Banyak kalimat dan istilah-istilah yang tak di mengerti oleh Sandra dan Dian. Dian tertawa geli pas menonton adengan persetubuhan dua orang yang ‘kelinci percobaan’ test tersebut.

“Sttt… jangan berisik….biar dapat  Lila menyimak semuanya”bisik Sandra.

“Hi..hi aku cuma merasa geli melihat muka si lelakinya persis orang bego gitu pas lagi keenakan”

“Ah..Kau  … inikan bukan BF…Dasar!”

“Ok, kupikir ini tak sulit. Hanya saja kita butuh seseorang buat melakukan ini semua” Ujar Lila ketika semuanya selesai.

“Eng…Ada!“ ujar Sandra sambil menoleh ke arah Dian.

“Loh..kok aku?”

“Ya siapa lagi manis…cuma kamu yang paling mungkin melakukannya soalnya Nadine sedang hamil besar sedangkan aku tak akan di perbolehkan oleh suamiku”

“Ok deh…aku mau, demi Niken dan Alfi”ujar Dian

Satu minggu kemudian, di rumah Donie dan Niken

Sebuah mobil sedan telah terparkir di depan garasi saat kendaraan Donie baru memasuki perkarangan rumah. Donie baru kembali dari kota G dengan keletihan fisik begitu mendera. Bukan karena pekerjaan namun kehidupan malam yang ia jalani selama inilah yang menjadi penyebabnya. Di dalam hatinya ia membatin. Ia tahu Niken pasti mencapnya sebagai lelaki yang tidak setia atau tukang selingkuh meski tak pernah sekalipun ia ucapkan. Perkawinan mereka yang baru seumur jagung sudah terasa sangat hambar. Dari luar orang akan menganggap ini adalah pasangan muda yang ideal dan banyak di idam-idamkan orang. Sepasang suami istri yang serasi baik dari prestasi maupun fisik Yang wanita cantik sedangkan yang pria tampan dan gagah. Memiliki materi yang berlimpah. Yang menjadi gara-gara tak lain karena masalah ejakulasi dini yang dideritanya. Kebiasaannya bergonta-ganti pasangan dan mengumbar pesona kesana kemari hanyalah untuk menutupi kelemahannya itu. Hasilnya ia bukan  saja ia tak menemukan solusi dari masalahnya malahan kondisi fisiknya semakin lama semakin melemah. Dan akibatnya ia justru semakin tak mampu melaksanakan tugasnya sebagai suami di atas tempat tidur dengan baik. Ia nyaris frustasi. Buat ke dokter ia harus berpikir dua kali. Bisa-bisa ia bakal terlihat oleh seseorang yang mengenal dirinya saat sedang mengantri. Dan itu yang tak ia inginkan orang sampai tahu mengenai penyakitnya. Entah sampai kapan ia dan Niken dapat mempertahankan rumah tangga mereka dalam kondisi seperti ini. Permasalahan ini ibarat bara api dalam sekam yang perlahan tapi pasti menggiring perkawinan mereka ke pintu perceraian. Saat melintasi ruang tamu ia melihat ternyata istrinya sedang menerima tamu. Tiga orang wanita tergolong sangat cantik salah satunya nampak sedang berbadan dua. Bersama mereka nampak pula seorang anak laki-laki remaja berkulit hitam. Niken bergegas menyambut ketika dilihatnya sang suami muncul.

“Oh mas Donie sudah pulang” ujar Niken mengambil alih sebagian barang bawaan dari tangan suaminya.

“Mas Donie kita ada kedatangan tamu. mari kuperkenalkan”

“Eng sebentar Nien…rasa-rasanya kami sudah pernah bertemu sebelumnya…Eng…Sandra kan?” terkanya setelah berusaha mencoba memutar memorinya.

“Betul mas saya Sandra istri Didiet teman anda, Wah .. luar biasa mas Donie masih ingat sama saya padahal kita hanya pernah ketemu satu kali dulu itu” ujar Sandra membenarkan.

“Wah ternyata kalian saling mengenal ya…eng lantas ini Dian..Niken dan Alfi” ujar Niken memperkenalkan mereka satu persatu pada Donie

Donie mengangguk sopan kepada mereka sambil melebarkan senyum memperlihatkan deretan gigi putih bak bintang iklan pasta gigi. Namun matanya terpaku saat melihat wanita yang mengenakan baby doll berwarna putih bernama Dian. Wanita ini tak hanya cantik namun memiliki daya tarik seksual yang luar biasa. Senyumnyapun begitu mengoda.

“Oya kemana Didiet kok ngga ikut?” mencoba mengalihkan perhatian agar tak menimbulkan kecurigaan bagi yang lain.

“Eng mas Didiet kurang enak badan tetapi dia titip salam buat mas Donie” jawab Sandra.

Donie dan Didiet memang sudah saling mengenal selama dua tahun ini. Kebetulan perusahaan mereka sama-sama menjadi rekanan dari sebuah perusahaan asing besar yang sedang menagani pekerjaan besar di kota G. Perusahaan Didiet bergerak di bidang  supplier material sedangkan perusahaan milik Donie sebagai kontraktor. Untung bidang yang mereka tangani berbeda jadi tak ada persaingan di antara perusahaan mereka.

“Mas, Sandra datang kemari ingin memintaku memberikan les privat kepada putra asuh mereka Alfi” jelas Niken. Pandangan Donie meneliti ke Alfi yang berdiri di samping Sandra.

Tidak salahkah? Anak bertubuh kurus kering berkulit hitam kesat dan bertampang pas-pasan ini adalah anak asuh si Didiet, Apakah tidak ada anak lain yang lebih ‘bersih’ atau sepadan untuk dijadikan anak asuh mereka? pikir Donie dalam hati. Tapi Akhhh…itu urusan mereka. Ia berpikir mungkin si Didiet punya pertimbangan lain.

“Oh tidak masalah aku tidak keberatan , Didiet-kan temanku dan lagian Niken juga tidak ada kegiatan di rumah jadi..silakan saja”

“Terima kasih banyak, mas”

“Silakan lanjutkan pembicarannya maaf saya tinggal dahulu”

“ya..terima kasih sekali lagi atas ijinnya mas”

Donie masih sempat kembali melirik ke arah Dian sebelum meninggalkan ruang tersebut.

Beruntung saat itu Dian-pun sedang mengerling ke arahnya sambil melebarkan senyum penuh arti.

“Uhh cantiknya” gumam Donie.

Di dalam kamar Donie menghempaskan punggungnya di kasur. Matanya terpejam mencoba untuk melupakan sejenak persoalan rumah tangga yang membelit pikirannya. Menit-menit berlalu, sia-sia ia berusaha tidur. Pikirannya tetap menerawang hingga Niken masuk ke kamar.

“Mereka sudah pulang?”

“Ya mas”

Niken melepas kaus kaki suaminya lalu mengambil piama dan handuk bersih dari lemari.

“Mas mandi saja dulu biar lebih nyaman istirahatnya”

“Nanti saja Nien, aku masih letih sekali”

“Kupijat bahunya ya mas?”

Donie membalikan tubuhnya sehingga Niken leluasa meraih bahunya. Pijatan Niken tak sekeras pijatan tukang pijat tapi Donie merasa Jemari lembut istrinya memberikan rasa nyaman. Tak ada yang salah pada Niken. Ia cantik, penurut dan penuh perhatian. Tapi entah Donie malah semakin tersiksa atas perlakuan baik istrinya. Ia tak dapat membalas kemesraan istrinya.

“Mas kangen ngga padaku?”ujar Niken manja.

“Eng..ya” singkat sekali jawaban Donie, tak ada ekpresi sedikitpun pada kalimat yang diucapkannya.

“Mas aku kangen. Kita…begi..tu..an yuk?” mohon Niken agak menghiba. Jemari lembutnya meraba lembut dada suaminya yang bidang.

Hal ini yang ditakuti Donie. Ia merasa lebih baik menghindar ketimbang memilih melakukannya namun GAGAL!

“Sorry Nien lain kali saja aku masih capek” ujarnya sambil menepiskan tangan Niken.

Sambil memutar tubuhnya ke arah dinding.

Niken menghela napas. Lalu ia merebahkan tubuhnya di samping Donie dengan kekecewaan

Dua Minggu kemudian, Jam 12.15

Di lantai dasar sebuah gedung perkantoran. Di sebuah kafe. Saat itu jam istirahat beberapa karyawan kantoran terlihat sedang makan siang disana. Nampak pula Dian sedang duduk menempati sebuah meja dengan dua buah kursi.

“Maaf membuatmu menunggu agak lama, tadi jalan menuju kemari macet” ujar Donie datang tergesa-gesa dan menarik kursi di seberang duduk Dian lalu duduk.

“Ngga pa pa kok mas. Aku tadi sudah pesankan makanan buatmu”

“Oh..makasih”

Sambil menikmati santap siang mereka bercakap-cakap. Nyata sekali keakraban diantara mereka berdua. Sesekali terdengar tawa Dian  setiap Donie melontarkan kata-kata gombalnya. Tentu saja ini bukanlah kali pertama mereka bertemu seperti ini. Keintiman mereka sudah berjalan selama dua minggu sejak pertemuan di rumah Donie tempo hari. Tak biasa bagi Donie mengencani seorang wanita dalam waktu selama ini. Biasanya hubungan itu hanya berjalan paling lama satu minggu. Ada yang membuat ia benar-benar penasaran terhadap Dian. Faktanya sampai saat ini ia belum juga berhasil meniduri wanita cantik itu. Paling-paling Dian hanya mengijinkannya mencium atau sebatas meremas dada itupun mereka lakukan masih dalam keadaan berpakaian utuh terpakai. Sungguh tak lebih dari itu. Dian  mengatakan pada Donie bahwa ia baru akan memberikan semuanya bila Donie bisa bertahan lebih dari satu minggu bersamanya

“Manis bukankah hari ini genap dua minggu sudah kita bersama?” ujar Donie di tengah santap siang.

“Betul, memangnya ada apa Mas?”

“Aku mau menagih janjimu tempo hari”

“Kok mas masih ingat? Bukankah selama dua minggu ini kita selalu bermesraan”

“Betul tapi kamu belum memberi aku yang satu itu jadi mana mungkin aku lupa”

“Hi hi kacian deh. Lantas setelah ini mas mau mengajak aku kemana?”

“Ehmm…kamu pinginnya kemana say? ke villa di atas perkebunan yang sunyi tapi romantis? Atau… di pinggir pantai berpasir putih sambil mendengar deburan ombak?”

“Engga mau ah”

“Lantas kamu pinginnya di mana say?”

“Aku… maunya di… rumah mas di atas tempat tidur nya mas Donie dan Niken. “

Dian

Dian

“Aaa..paaa?!! kamu pasti sedang bercanda kan manis?” ujar Donie terperanjat mendengar permintaan aneh Dian.

“Aku serius mas. Aku pingin kita melakukannya di sana”

“Ng..ga mungkinn! Bilang saja sejak awal bila kamu cuma mau main-main denganku”

“Aduh begitu  aja marah.. siapa bilang aku berniat mempermainkan mas. Aku juga sangat menginginkannya kok.  Apakah karena hal ini lantas mas ingin mengurungkan rencana kita sore ini”

“Bukan begitu. Tetapi kenapa harus di sana sich?. Apa tidak ada tempat lain? Kau pasti tahu meski istriku tidak di rumah setiap saat ia bisa saja pulang dan memergoki kita”

“Ngga tahu aku mendadak kepingin saja. Rasanya gimana ya bercinta dalam situasi seperti itu.  Apa mas ngga mengginginkan aku?”

“Huh! Baiklah.. tapi aku akan cari tahu dulu kapan istriku pergi. Setahuku satu jam lagi ia akan memberikan Les kapada si Alfi di rumah Sandra.”

Donie menghubungi Niken melalui Handphone-nya. Tak lama kemudian terdengar suara Niken diseberang

“Mas jam dua ini aku pergi ke rumah Sandra dan kemungkinan pulangnya agak kemalaman karena setelah selesai mengajar Alfi, Sandra mengajakku menemaninya Shopping, mas ada titip sesuatu?”

“Ngga ada Nien, selamat belanja ya bye”

“Bye” Niken menutup pembicaraan.

Sempurna! Pikir Donie

“Bagaimana mas?”

“Kamu dapat apa yang kamu inginkan dan sekarang kamu tidak bisa menghidari dariku lagi Ha ha”

“Hi hi aku ngga bakal lari kok”

Tak lama kemudian setelah selesai bersantap. Mereka beranjak meninggalkan tempat itu.

Menuju ke rumah Donie untuk melepas kegairahan yang terpendam selama dua minggu ini.

—-

Jam 14.20 Di rumah Donie dan Niken

Dian terpesona saat memperhatikan suasana di dalam kamar tidur Niken dan Donie. Sebuah kamar tidur yang nyaman didominasi warnah putih. Ada sebuah ranjang besar terbuat dari besi berukir dengan empat buah pilar tinggi yang indah. Di atasnya terbentang sebuah kasur empuk tertutup seprey putih bersih. Ada sebuah sofa besar berwarna juga putih dan berjok empuk terletak di samping dan menghadap ke arah tempat tidur. Sebuah kamar tidur yang indah namun sama sekali tak pernah menjadi tempat yang indah bagi percintaan Niken dan Donie, nampak pula sebuah ‘connecting door’. yang terhubung dengan kamar lain di sebelahnya. Niken telah mempersiapkan kamar tersebut bagi bayinya kelak.

“Aduhh! lupa lagi” ujar Donie sambil menepuk kepalanya sendiri saat baru saja menutup pintu kamar.

“Loh ada apa mas”

“Kondom! Kita lupa membelinya. Persediaanku habis”

“Hi hi ngga usah kuatir, Mas boleh menodaiku sepuasnya tanpa kondom sebab saat ini aku sedang tidak dalam masa suburku”

“Yeahhh!!” Donie tergesa-gesa membuka pakaiannya.hingga hanya tertinggal celana dalamnya saja.

“Sisakan yang itu dan aku mau mas naik dulu ke atas tempat tidur” bisik Dian nakal

Donie tak menyangka jika ia akan meniduri wanita lain di atas ranjangnya sendiri. Tiba-tiba Dian mengeluarkan dua utas tali dari dalam tasnya. Lalu ia mengikat masing-masing pergelangan tangan Donie pada tiang tempat tidur yang terbuat dari besi itu.

“Mas rileks saja dulu”

Sejak tadi Dian selalu meminta hal yang aneh-aneh. Padahal biasanya Donie main tembak langsung terhadap para wanita yang ia kencani. Tak ada foreplay. Berejakulasi cepat di dalam vagina. Syukur-syukur kalau bisa ereksi lagi bisa buat ronde ke 2 tetapi itu jarang sekali terjadi.Lalu setelah itu langsung bubaran seraya .meninggalkan kekesalan pada setiap pasangannya. Tapi kali ini ia mau saja mengikuti kemauan Dian. Ia cuma penasaran ingin tahu lebih lanjut permainan apa yang bakal dilakukan oleh Dian. Donie tahu Dian menginginkan ia dalam keadaan tak berdaya dan penuh dalam kekuasaannya. Donie sudah sering membaca atau menonton film biru mengenai hal tersebut. Ia tak menyangka bakalan bertemu dengan wanita yang terobsesi mendominasi pasangan prianya.

“Dasar wanita pikirannya macam-macam. Mau inilah itulah padahal tetap saja ujung-ujungnya di entot!” pikir Donie.

Setelah yakin Donie terikat sempurna. Dian kemudian menari-nari di hadapan Donie  dengan lemah gemulai sambil melepas satu persatu pakaiannya. Mulai dari jas kerja yang paling duluan jatuh ke lantai. Kemudian menyusul rok dan blous yang dikenakannya. Sehingga kini nampak Dian hanya mengenakan bra dan celana dalam berwarna putih berenda-renda. Dian mencoba meraih pengait bra yang berada di punggungnya. Sengaja ia berlama-lama seolah kesulitan membukanya membiarkan gairah Donie semakin naik.

Napas Donie mendengus-dengus. Entah mengapa ia selalu deg-degkan melihat yang ‘baru’ padahal milik istrinya jauh lebih bagus dibanding dengan kebanyakan wanita yang pernah dikencaninya selama ini. Dan ketika benda itu terlepas. Dua buah gumpalan daging berwarna putih yang cantik menggantung. Pada kedua ujungnya di hiasi puting mungil berwarna merah muda. Ada kemiripan pada bentuk putting susu Dian dan Niken. Kedua wanita itu memiliki aeorola yang mengembung bagai sebuah bukit kecil. Dan biasanya bagian itu akan ikut mengencang bersama putingnya pada saat pemiliknya terangsang.

“Woahh.. can..tikkknyaa Okhh” Desah Donie terkagum-kagum. Penisnya belum apa-apa sudah mengeluarkan cairan mazi yang banyak membasahi celana dalamnya sehingga bagai membentuk sebuah pulau pada permukaannya.

Dian tersenyum melihat ia berhasil membawa donie menikmati permainannya. Kini ia melangkah ke tahap selanjutnya. Kali ini ia naik ke atas ranjang. Perlahan ia menarik lepas celana dalam Donie sehingga isinya yang berukuran ‘standar’ itu terbebas. ‘Lumayan’ pikir Dian.bentuk dan ukuran kelihatan tak berbeda dengan milik Didiet. Dian berdiri di atas tubuh Donie sambil kembali meliuk-liuk menari dengan erotis. Tak berlebihan bila Alfi dan Didiet mengibaratkannya tubuhnya bagai sebuah gitar spanyol. Ukuran dada pinggang dan pinggul sangat ideal yang dapat membakar hangus jantung setiap lelaki yang menatapnya. Jemari Dian menyusup ke sisi-sisi samping celana dalamnya. Lalu perlahan-lahan penutup terakhir tubuhnya itu ia tarik ke bawah melewati ke dua batang pahanya yang putih bersih diiringi pandangan melotot Donie hingga akhirnya benda itu jatuh di pergelangan kaki Dian. Dan kini Donie dapat menatap segala keindahan di hadapannya itu tanpa halangan apapun sambil menelan ludah. Nampak kini sebuah bukit kecil di hiasi bulu-bulu halus yang lebat namun terawat. Bagian tengahnya membelah bagai sebuah bibir yang mengatup rapat. Belahan yang merupakan tiket menuju ke sebuah surga impian bagi kaum lelaki. Penis Donie yang sudah menegang penuh itu makin banyak mengeluarkan mani hingga membasahi seluruh glans penisnya.

“Siapakah lelaki beruntung yang pertama kali menyentuhnya manis?”

“Hi hi ..Nanti juga mas bakalan kukasih tahu, Yang penting aku mempunyai banyak sekali kejutan buat mas Donie hari ini. Sekarang aku ingin mas tutup sejenak mata sejenak dan jangan di buka sebelum aku minta”

Donie menurut. Ia menutup matanya dan menunggu apa lagi kejutan yang bakal muncul selanjutnya . Ia berharap Dian langsung memasukan penisnya yang sudah gatal itu ke dalam vaginanya yang indah.

“Buka sekarang mas” terdengar Dian memberi aba-aba .

Donie membuka kedua matanya. Dan iapun langsung terbelalak. Ia memang di buat terkejut luar biasa namun kali ini tak seperti yang ia harapkannya karena saat itu Ia melihat Niken, istrinya, telah berdiri di samping tempat tidurnya.

“Nienn?!..Bu..kankah kamuu …Haihhh!!” ucap Donie tergagap dan tak mampu menyelesaikan perkataannya.

“Aku sengaja mengganti jadwalku mas, lalu aku menunggumu di kamar sebelah agar bisa memergokimu”

“Ka..lian telah merencanakan ini kan?” ujarnya menoleh ke arah Dian.

Ada perasaan malu dan kesal karena kali ini ia benar-benar tertangkap basah. Tidak hanya itu ia bahkan masuk ke dalam perangkap yang khusus disediakan baginya di dalam rumahnya sendiri. Kenapa ia begitu ceroboh tak terlebih dahulu memeriksa seluruh ruangan sebelumnya. Sungguh ia merasa hal ini akan menjadi awal dari sebuah prahara besar bagi rumah tangganya.

“Ya mas. Kami memang telah mengatur hal ini namun mas jangan berprasangka buruk dulu”

“A..pa maksudmu melakukan hal ini”

“Banyak sekali  yang ingin kusampaikan padamu mas, tetapi itu nanti saja, sekarang kuminta mas Donie nikmati saja dulu apa yang bakal terjadi sebentar lagi dan selanjutnya kita lihat apakah setelah ini mas Donie masih tetap mencintaiku atau malahan membenci aku.”

Donie tak mengerti maksud dari kata-kata terakhir pada perkataan Niken barusan dan ia benar-benar heran melihat sikap Niken yang diluar dugaannya. Tadinya ia berpikir Niken akan marah besar di bakar oleh kecemburuan ketika menemukan ia bersama-sama dengan wanita lain dalam keadaan bugil seperti ini.

Ia bertambah bingung ketika tiba-tiba Niken menarik tali kimononya dan benda itu terlepas dan terjatuh ke lantai. Ternyata ia sudah dalam keadaan polos tanpa mengenakan pakaian dalam lagi. Perlahan ia mendekat ke arah suaminya yang masih terbengong bingung. Lalu Niken perlahan maju mendekat ke arahnya

“Nien..Nien..a..ku tak inginn…”

Belum sempat ia menyelasaikan kalimatnya, mulut Niken sudah menangkap batang penisnya dan menghisapnya kuat-kuat.

“Arrgggg….ka..lian kaum wanita benar-benar a..neh” ujarnya sambil merintih-rintih kesenangan

“Apakah mas tidak suka?” goda Dian lalu mengambil alih penis Donie dari Niken kemudian ganti menghisapnya.

“Sukaa..Arggghhh” rintih Donie. Tak menyangka ke dua wanita cantik itu mengulum kelaki-lakiannya secara bergantian. Donie lega meski masih bingung. Alih-alih dapat masalah ia malah mendapat kejutan menyenangkan. Benar seperti yang Niken katakan kalau Donie cepat sekali mengalami ejakulasi saat melakukan keintiman. Belum satu menit penisnya dalam lumatan mulut Dian dan Niken, ia sudah memperlihatkan tanda-tanda akan berejakulasi. Memang selama ini Donie tak pernah bisa bertahan lebih dari satu menitan setelah penisnya menerima rangsangan. Oleh karenanya ia selalu buru-buru melakukan penetrasi pada liang senggama pasangan nya. Ia merasa lebih baik muncrat saat penis sudah di dalam vagina ketimbang membuangnya di mulut. Sungguh sangat disayangkan jika saja ia mampu bersetubuh  secara normal pastilah ia akan bisa merasakan yang lebih nikmat dari yang pernah ia rasakan selama ini. Padahal menurut Alfi lumatan vagina Niken adalah yang paling enak di antara sekian banyak wanita yang pernah disetubuhinya terutama saat Niken sedang mengalami orgasmenya. Dan sampai dengan saat ini Donie tak pernah bisa sampai pada tahap itu.

Saat ini terlihat Donie sudah tak mampu lagi melawan hasratnya untuk berejakulasi. Spermanya berdesakan segera untuk muncrat keluar. Tiba-tiba Dian melakukan sesuatu. Jemarinya memencet keras-keras bagian tertentu pada leher penis Donie. Gerakan sederhana itu hanya ia lakukan beberapa detik namun hasilnya sungguh luar biasa bagi Donie. Ejakulasinya yang nyaris tak terbendung tadi sontak hilang begitu saja. Donie terperangah keheranan. Ia merasa takjub wanita cantik ini mampu menggagalkan ejakulasinya tadi.

“Apa… yang barusan kau lakukan padaku?” tanya Donie.

“Aku hanya membuat mas Donie menunda ejakulasi. Dengan begitu berarti mas Donie memberi kesempatan kepada kami sebagai pasangan mas buat meraih orgasme terlebih dahulu. Lagian kan mas Donie belum merasakan jepitan Vaginaku. Apakah mas mau berhenti sekarang?” jelas Dian memberi penjelasan pada Donie
“Eee…Ti..dakkk jangannn” Donie tak menyangka wanita seperti Dian tahu banyak mengenai hal tersebut “

Kuluman ke dua wanita itu terhenti sejenak ketika sesosok tubuh hitam legam muncul dari kamar sebelah. Donie terperanjat ketika ia melihat Alfi sudah dalam keadaan telanjang bulat. Ia lebih kaget lagi melihat benda pada selangkangan anak itu yang sudah dalam keadaan kaku. Benda yang mengerikan. Kepalanya masih terbungkus kulip kulup itu membulat. sebesar sebuah tomat. Pada ujungnya yang berwarna merah terlihat sedikit mengintip. Batangnya kokoh berurat di dominasi warna hitam pekat. Meski tak tahu persis namun Donie memperkirakan panjang benda itu paling tidak 20 sentimeter-an. Namun yang jelas jauh lebih panjang dan besar dari miliknya yang cuma 15 senti.

“Ma..u apa dia ke mari?”

“Jangan dulu banyak tanya mas, sekarang nikmati saja dulu semuanya” ujar Niken sambil kembali melakukan oral terhadap penis suaminya.

Alfi lalu duduk di sofa putih yang hanya berjarak dua meter dari ranjang mereka.

Donie tercekat saat Dian mendekat ke arah anak itu. Lalu mereka berciuman dengan panas.

Akhh!! Dian! si cantik itu mau menerahkan bibirnya kepada bocah hitam jelek itu. Bahkan ia mebuka mulutnya membiarkan lidah Alfi masuk berputar-putar. Sesekali Alfi melepas ciumannya lalu beralih ke payudara indah Dian. Kemudian Ia menghisapinya laksana seorang orok haus. Ternyata anak itu tak hanya mampu meladeni permainan bibir Dian tetapi juga sangat lihai dalam menetek. Donie melihat Dian lirih ketika nikmat mulai menyapa raganya akibat sentuhan Alfi.

“Setan!” umpat Donie kesal karena anak itu telah mendahuluinya.

Susah payah ia menunggu selama dua minggu untuk menjamah tubuh indah itu tetapi Dian malah memberikannya pada si setan kecil itu. Lepas berciuman Dian merebahkan tubuhnya di sofa itu. Kaki kirinya menjuntai ke lantai sementara yang satunya ia gantungkan di sandaran sofa. Dalam kondisi seperti itu selangkangannya terbuka lebar. Kepala Alfi menyusup di antara ke dua paha putih Dian. Alfi mengawalinya dengan mengecup lembut kedua batang paha putih Dian. Lalu kecupannya beralih ke sekitar belahan vagina dan akhirnya tepat di sasaran utamanya. Sampai di bagian tersebut lidahnya mulai beraksi. Lidahnya dengan perlahan menyapu dari bawah hingga atas belahan cantik di hadapannya itu. Tak ada bagian yang lolos dari jilatan lidahnya termasuk klitoris Dian yang pusat kesenangan bagi setiap wanita. Alfi lalu menghajarnya dengan hisapan kuat di bagian itu.

“Fiiii….oughhhhhhh” pekik Dian ketika  hisapan Alfi terhubung dengan syaraf-syaraf kenikmatannya. Tubuh sintalnya melenting dan mengelinjang hebat. Pinggulnya ia angkat seakan berharap Alfi menghisap klitorisnya lebih kuat lagi.

Donie tercengang melihat bagaimana pandainya bocah itu mempergunakan lidahnya.

Awalnya ia sedikit merasa ilfeel melihat keberadaan Alfi di sana apalagi anak itu saat menyentuh tubuh Dian. Namun berbarengan dengan kenikmatan akibat hisapan istrinya muncul pula perasaan aneh merayapi hatinya. Seakan-akan ia bisa menikmati kejadian di hadapannya itu. Apalagi mendengar suara rintihan-rintihan Dian yang menyayat. Iapun merasakan penisnya berereksi semakin keras.

Niken tersenyum, ia tahu hasrat Donie sedikit demi sedikit mulai terseret menuju ke arah yang ia inginkan.

“Ughh..sayangg akuu sudahhh…” tiba-tiba Donie merintih sambil mengelinjang.

Niken segera menghentikan hisapannya. Seperti yang tadi Dian lakukan, iapun memencet bagian bawah leher penis Donie. Ia lakukan beberapa detik hingga Donie kembali tenang.

“Uhh..sayanggg….kau juga bi..sa.?”

Donie sudah berpikir Niken akan segera melakukan persetubuhan dengannya.

“Belum saatnya mas..ini baru permulaan” jawab Niken sambil tersenyum nakal. Ia melepaskan genggaman jarinya pada penis suaminya lalu berdiri bersamaan dengan Dian yang juga berdiri meninggalkan si Alfi.

Jantung Donie berdetak keras dan tak beraturan saat ia melihat Niken melangkah ke arah sofa dimana Alfi berada.

“Nien!…Nien!…ka..mu…mau apa dengan diaa?” jerit Donie berusaha mencegah  istrinya yang mulai terlentang menempati posisi Dian tadi.

Dian tak ingin Donie terpancing emosinya segera memasukan penis lelaki itu ke dalam mulutnya dan melakukan hisapan-hisapan kuat yang liar.

Slepp..clep..clep..clep

“Arggggggg….eggggg” Donie mengeram nikmat, lagi-lagi penisnya disengat oleh kenikmatan. Kepalanya terlempar ke bantal.

Di antara kenikmatan menggila itu bola mata Donie berotasi mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya, ia dapat melihat Alfi sedang melakukan hal yang sama seperti pada Dian tadi. Kepala anak itu dalam posisi terbenam ketat di selangkangan Niken.

“Egg…Nieeenn…Nieeenn ohh” rintih Donie memanggil-manggil nama istrinya.

“Tenang mas… Alfi hanya membuat agar istrimu siap untuk sebuah persetubuhan”

bisik Dian berusaha menenangkan Donie.

Huh!.. beruntung sekali bangsat kecil itu. walau cuma dengan lidah Donie seakan tak rela kemolekan Niken di nikmati pria lain. Percikan api cemburu membakar hatinya. Tak ubahnya Dian tadi, Nikenpun merintih-rintih dan tubuhnya menggelinjang liar akibat perlakuaan Alfi pada organ tubuhnya yang paling intim. Alfi terlihat begitu telaten dan tak tergesah-gesa. Dulu di awal  perkawinannya Donie masih sering melakukan cunnilingus terhadap Niken. Seiring waktu ia tak pernah melakukannya lagi. Alfi seakan ingin menunjukan padanya bagaimana cara melakukan hal itu dengan cara yang benar. Tak hanya sekedar menjilat alat kelamin istrinya seperti yang pernah ia lakukan tetapi lebih dari itu. Alfi juga menunjukan rasa cinta dan penghargaannya pada benda itu dengan berlama-lama betah di sana. Bukankah benda ini adalah bagian yang paling diidamkan dan diinginkan seorang pria. Bukankah awal kehidupan juga berasa dari dalam benda ini dan harus melaluinya terlebih dahulu dengan belitan kenikmatan.

“Oghhh..Ba..gaimana seorang bocah seusia itu tahu dan menjadi begitu pandai mengauli wanita?” ujar Donie terbata-bata oleh  kenikmatan yang ia rasakan sambil tetap menatap kegiatan di atas sofa.

Dian tersenyum mendengar pertanyaan Donie. Itu merupakan tanda kalau Donie perlahan sudah dapat menikmati perlakuan Alfi terhadap Niken.

“Sejak berusia tujuh tahun dia sudah sering melakukannya pada banyak wanita” ujar Dian sambil mengocok-ngocok penis Donie menggantikan kuluman mulutnya sementara buat meladeni omongan Donie.

“Gi..laaa…pan.tas.. kontolnya jadi begitu besarrr dan panjang”

“Mas dia juga orang yang kumaksud” bisik Dian sengaja mencoba membakar gairah Donie lebih kuat lagi.

“A..paa?”

“Bukankah tadi mas bertanya siapa laki-laki yang pertama mengambil kegadisanku khan?”

“Alfii?!Ti..dak mungkin! A..nak kecil ituuu?”

“Percayalah mas, tapi tak hanya aku….Sandra dan Nadine juga”

“Ougggghhhhh!!!. Bu..kankah ia adalah anak asuhhh Sandra dan Didiet sendiri?

..ba…gai..manaa dengan Didiet?”

“Mas Didiet yang meminta Alfi memerawani Sandra kemudian giliran aku dan Nadine”

“Ka..liannn  semuaa diperawani olehnyaaaa.. Arggggughhhhh…” Donie mengerang.

Ini adalah kisah nyata paling edan dan aneh namun juga paling merangsang yang pernah ia dengar. Terus menerus mendapat rangsangan hebat tak hanya pada raganya namun juga pada jiwanya yang tak henti-hentinya dibakar oleh panasnya simulasi yang diciptakan oleh Dian dan Niken untuknya. Gairahnya menggelora liar.. akibatnya Donie terpancing untuk kembali berejakulasi. Dian segera mencengkram penis Donie sedikit lebih kuat dari tadi. Karena ia tahu kali ini dorongan Donie untuk berejakulasi lebih kuat dari sebelumnya. Sepuluh detik kemudian Dian mengendorkan jemarinya dan Donie untuk kesekian kalinya terbebas dari rasa nikmatnya. Dian mengecek waktu. Hmm.. sudah lewat lima belas menit. Ia menemukan fakta kalau Donie mulai terbiasa dengan sentuhan jari dan hisapan mulutnya. Berarti Doniepun bisa melakukan kegiatan seksual pada tahap yang lebih jauh. Berhasil meredakan ejakulasi Donie. Dian segera mengambil posisi ‘woman on the top’ di atas tubuh Donie. Ini yang Donie tunggu-tunggu sejak tadi. Ia girang melihat Dian sudah dalam keadaan akan melakukan permainan puncak. Ia tak menduga kalau ia seberuntung ini karena bisa mendapatkan tubuh Dian atas ijin dan kerelaan dari istrinya.

“Anggap saja saat ini mas menerima ‘Door prize’ sambil menunggu kado utamanya”.

ujar Dian.

Penis Donie yang berdiri tegak bersentuhan dengan vaginanya. Kondisi vagina Dian yang licin membuat tak menemui kesulitan penis Donie masuk hingga ke pangkal.

“Oughhhhhhh……” Donie meleguh.

Dian mendiamkan batang kemaluan Donie di dalam vaginanya tanpa melakukan gerakan apapun. Ia mencoba menstimulasi agar penis Donie mampu bertahan terhadap rasa nikmat yang ditimbulkan oleh jepitan dinding vaginanya yang sempit. Satu menit berhasil Donie lalui tanpa ada rasa ingin ejakulasi. Beberapa saat kemudian Dianpun mulai mengerakan pinggulnya ke depan dan ke belakang secara pelan. Doniepun bisa merasakan nikmatnya persetubuhan dalam waktu yang lebih lama dari biasanya.

Satu menit berikutnya Donie kembali bisa melewatinya. Meski kali ini Donie belum terdorong untuk orgasme. Dian mencabut kontol itu sejenak untuk melakukan pijatannya sekaligus memberi waktu buat benda itu lebih rileks. Karena sebentar lagi ada suatu kejadian yang dasyat yang bakalan terjadi. Selanjutnya Dian mencoba ayunan yang lebih cepat diiringi dengan  cengkraman kuat  pada penis Donie.

“Oughhhh….enakkk bangett…..” rintih Donie, matanya terbeliak akibat terjangan kenikmatan lumatan vagina Dian pada daging kemaluannya.

Namun di saat dirinya sedang dilanda kenikmatan dasyat seperti itu tiba-tiba wajah Dian mendekat seraya membisikan sesuatu ketelinganya.

“Mas tampaknya istrimu sudah ‘siap’”

Donie melirik ke arah sofa. Pandangannya menangkap ada suatu keganjilan terjadi di sana dimana istrinya sedang bersama dengan Alfi. Kala itu Alfi tak lagi mengoral Niken. Ia melihat saat itu Alfi telah mengeser posisi tubuhnya menyampingi tubuh Niken yang masih tetap terlentang di sofa. Tangannya mengangkat salah satu paha Niken yang putih sehingga ujung kemaluannya tak terhalang dan mengarah belahan vagina istrinya yang telah basah itu. Deg…..jantung Donie seakan berhenti berdetak menyaksikan itu. Tadinya ia menduga Niken akan menggantikan posisi Dian di atas perutnya setelah dibuat ‘basah’ terlebih dahulu oleh Alfi. Ternyata dugaannya meleset! Ia baru menyadari jika Niken memang sudah siap untuk sebuah persetubuhan namun bukan dengan dirinya tetapi justru dengan Alfi si anak jelek berkulit hitam legam itu.

Kini Istrinya yang cantik yang kulitnya putih bercahaya itu terlentang pasrah dalam keadaan terangsang berat dan siap menanti hujaman kontol berukuran monster milik bocah itu pada liang senggamanya yang cantik dan rapat itu. Kontan saja Donie menjadi panik. Tak mungkin ia membiarkan begitu saja istrinya yang ia cintai disetubuhi oleh orang lain. Namun apa daya ia sungguh tak mampu mencegah hal itu karena selain kedua tangannya terikat dengan erat di tiang ranjang saat ini iapun dalam kondisi terkunci di bawah genjotan tubuh Dian.

“Please… sayang… jangan….lakukan ituuu dengannya” pintanya memelas pada Niken di sela-sela kenikmatan yang menderanya.

Donie tak mampu melakukan lebih dari itu. Pada saat yang bersamaan Dian telah sengaja menggunakan kekuatan otot-otot kewanitaannya secara maksimal menganti kepanikan Donie dengan sebuah kenikmatan tiada taranya. Kenikmatan yang menjalar dari seluruh permukaan penisnya ke seluruh syaraf yang ada daerah selangkangannya sehingga mengganggu konsentrasinya buat mencegah perbuatan Niken. Sepertinya Niken memang ingin Donie akan menonton Alfi menyetubuhi sekaligus merengut kehormatannya sebagai seorang istri di hadapan suaminya sendiri, ia juga sengaja mengambil posisi tersebut agar mata Donie dapat melihat dengan jelas bila penis anak itu memasuki vaginanya.

“Relakan mas… istri juga berhak merasakan indahnya perselingkuhan seperti yang mas Donie lakukan selama ini” ucap Dian yang semakin membuat ia terpukul. Inikah hukuman buat dirinya atas segala yang pernah ia lakukan pada istrinya?

Donie akhirnya hanya pasrah melihat ujung penis Alfi yang berkulup itu mulai membelah vagina istri yang cantik. Perlahan namun pasti benda hitam besar itu tenggelam sedikit demi sedikit. Ia seakan tak percaya pada penglihatannya sendiri ketika vagina Niken yang sempit itu mampu menelan habis seluruh alat kelamin Alfi.

Ia melirik ke wajah istrinya. Nampak dahi Niken berkrenyit sementara matanya menutup erat seakan menahan sakit yang luar biasa.

“Ohh..Nieen….Nieenn…..” ujarnya cemas.
“Ssttttt..istrimu ngga apa-apa mas….dia sedang merasakan sengatan nikmat dari titit si Alfi”

Pandangannya beralih ke Alfi. Anak jelek itu pastilah keenakan sekali. Terlihat dari wajahnya yang berubah bagai orang idiot.

“Aooo..kakakkk kk” rintih bocah itu.

Anak itu mulai mengeluar masukan daging kejantannya. Luar biasa besar benda itu.

Vagina Niken dipaksa membuka sedemikian lebar buat menerima kehadirannya.

Sampai-sampai bagian dalam vagina Niken ikut tertarik keluar saat bocah itu menarik kemaluannya. Begitupun saat ia menekan bibir vagina Nikenpun seakan ikut terdorong masuk. Cairan licin bercampur dengan buih-buih putih terdorong keluar di antara tautan kemaluan mereka diakibatkan oleh  gerakan kontol anak itu. Donie yakin itu adalah cairan milik Niken. Akhh… Niken tampak begitu terangsangnya, puting payudaranyapun telah mengeras bersama aerolanya. Tapp …Alfi tiba-tiba menangkap putting indah itu dengan mulutnya dan menghisapnya kuat-kuat hingga pipinya terkempot-kempot. Hal itu menambah kesenangan bagi Niken. Donie dapat melihat Niken begitu menikmati persetubuhan itu. Kini tak ada lagi yang tersisa dari tubuh istrinya. Semua sudah dijamahi oleh Alfi.

“Ougghhhh…Fiiiiiiii!!!!!” pekik Niken mengejutkan Donie.

Ohh…. Niken mengalami orgasme. Alfi anak jelek itu telah membuat istrinya yang cantik mengelepar dalam kenikmatan. Donie melihat kekejangan pada betis hingga ke jemari kaki Niken yang menekuk dan bertaut.

Donie tercengang menatap wajah istrinya yang  terlihat menjadi begitu cantik dengan pipi  merah merona. Tentu saja Ia belum pernah melihat itu terjadi pada istrinya. Begitu mendebarkan. Sampai-sampai Donie lupa kalau saat itu yang sedang menyetubuhi  istrinya adalah orang lain. Selama peristiwa dasyat itu berlangsung Dian menghentikan genjotannya sejenak dan sengaja dulu tak melakukan gerakan apapun. Ia kuatir kalau Donie tak dapat mengontrol ejakulasi. Dianpun dapat merasakan penis Donie berkejat-kejat keras di dalam vaginanya. Alfi memindahkan posisi  paha Niken yang berada di hadapannya menjadi di samping tanpa melepas tautan kemaluannya dan Niken. Kali ini tubuh kecil dan kurus itu sudah dalam posisi menindih tubuh sintal Niken. Tangan kecil itu menyusup kebelakang punggung sementara jemarinya mencengkram bongkahan padat pantat Niken sambil meremasnya. Sedangkan Niken mendekap leher Alfi dengan kedua tangannya sedangkan kaki indahnya yang panjang melingkar pada pinggul anak itu lalu menekan ke arahnya. Kini tubuh keduanya telah melekat erat dengan sempurna. Lalu selanjutnya Donie hanya melihat kempat kempot daging pantat hitam anak itu saat berayun menghujam-hujam dengan lembut namun bertenaga. Saat bocah itu menghujam Nikenpun mengangkat pinggulnya. Alfi tak buru-buru menariknya ia menahan kemaluannya tetap di dalam selama dua tiga detik sebelum pantatnya kembali terangkat. Donie memandang persetubuhan istrinya dan Alfi tanpa berkedip. Ia tak tahu apakah ini sebuah anugrah atau kah sebuah musibah ataukah kedua-duanya. Di mana Niken telah memberinya  kesempatan oleh untuk meniduri Dian namun di saat yang sama ia harus merelakan istrinya yang cantik itu disetubuhi Alfi. Donie juga tak tahu apakah setelah ini ia masih tetap mencintai dan menginginkan Niken sebagai istrinya setelah melihat semua ini. Ia seakan nampak begitu menikmati mendengar pekikan-pekikan nikmat Niken. Menit demi menit berlalu hingga tak terasa persetubuhan panas antara Niken dan Alfi telah sampai pada puncaknya. Pantat alfi kini bergerak jauh lebih cepat dari tadi. Semakin cepat dan semakin cepat siap untuk melakukan penuntasan secara bersamaan.

“Aoooooo….ennnaakkkkkk!” jerit Alfi bersamaan dengan pekik Niken

“AllFiiii sayangggggggg….Oughhhhhh!!!!”

Kocokan Alfi terhenti .Ia mengakhirinya dengan sebuah hujaman terdalam. Sesekali Pantat itu terlihat terhentak-hentak.

Donie tahu anak itu sedang berejakulasi

Ohhh… Anak itu tak mencabutnya ….Dia justru memuncratkan semuanya di dalam vagina Niken!

Semua yang terpampang di hadapannya benar-benar membuat gairahnya semakin menggelora liar.

“Lihat istrimu mas….lihat gelinjangnya….dengar pekik nikmatnya …ia mendapat kesenangan tertinggi saat ..Alfi menyuntikan benih-benih cintanya ke dalam rahimnya”

Bisik Dian sambil kembali membetot kuat penis Donie dengan otot-otot vaginanya,

“Arrggggggggg!!!……”Donie terpekik nikmat.

Saat itu juga Dian dengan cepat melepaskan pelukannya dan mencabut lepas penis Donie dari miliknya lalu melompat ke sisi Donie.

Ia tahu jika ia terus membiarkan penis Donie tetap berada dalam vaginanya. Maka sudah dapat dipastikan pria itu pasti memperoleh ejakulasinya. Hal itu yang tak diinginkannya.

Donie masih dalam keadaan ‘trace’ nyaris tak dapat membendung ejakulasinya.

Dian bergerak cepat, ia segera melakukan teknik ‘stop-start’ lagi dengan memencet bagian tertentu pada penis pria itu. Beberapa tetesan bening sempat memancar sehingga Dian harus memencetnya lebih keras. Tak kehabisan akal dengan tangan kirinya ia melakukan tamparan pada kepala penis Donie. Donie sempat terkejut karena sakit sehingga gairahnya sedikit mereda. Beruntung tetesan itu akhirnya berhenti.

“Huh.. nyaris saja gagal” pikir Dian lega.

Selanjutnya Ia merasa harus lebih sigap dalam memperaktekan metode ‘maut’ yang berasal dari dr.H itu.

Kali ini Dian tak mau membuang waktu. Semua ini haruslah cepat segera diakhiri

Ia pun memberi kode kepada Niken dengan jentikan jarinya. Pada saat itu Donie sempat melihat Niken sedang mengoral batang penis Alfi untuk membersihkan sperma yang blepotan pada benda tersebut. Niken meninggalkan Alfi dan perlahan melangkah ke arah tempat tidur. Donie memperhatikan cairan putih kental yang mengalir keluar dari vagina Niken yang meleleh pada paha putih bersih istrinya dan sebagian lainya menetes-netes membasahi karpet itu sperma si Alfi.Donie sempat bingung bagaimana cairan yang begitu banyak bisa terproduksi pada testis anak itu.

“Mas saatnya menerima ‘kado utamanya’” bisik Dian.

Ia beringsut di sisi Donie.sambil memberi ruang bagi Niken menggantikan posisi dirinya. Donie hanya pasrah ketika jemari lentik Dian membimbing penisnya ke arah belahan cinta milik istrinya yang masih becek berlumuran sperma Alfi.  Dian sempat memencet

leher batang penis Donie beberapa detik sebelum akhirnya benda itu lenyap dilumat oleh vagina Niken.

“Heeeggghhhh!!!”Donie menggeram nikmat.

Meski dalam keadaan tegangan tinggi disebabkan persetubuhan dengan si Alfi tadi. Niken hanya bergerak pelan dan lembut. Iapun berusaha menahan desahannya karena tak ingin Donie menjadi terlalu terangsang sehingga terprovokasi berejakulasi. Kali ini ia merasakan hal yang sangat berbeda dari yang sudah-sudah. Kejantanan suaminya terasa lebih kukuh dan mampu memadati vaginanya meski ujungnya tak mampu menjangkau mulut rahimnya seperti yang dilakukan oleh penis Alfi. Meski posisi tubuhnya di bawah Donie mengambil inisiatif melakukan pompaan. Niken girang bukan main. Setidaknya ini adalah bukti dari kemanjuran dari pengobatan dr.H yang semakin menunjukan tingkat keberhasilannya. Biarlah suaminya itu menikmatinya dulu sedikit kesembuhannya.

“A..ku rasaaa akuuu hampirrr keluarr ..uuhhh” rintih Donie saat kembali merasakan dorongan ke arah klimaks di bawah ayunan tubuh Niken. Ini tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini ia mampu bertahan cukup lama dalam lumatan vagina istrinya. Setidaknya ia bisa merasakan persetubuhan yang sebenarnya meski cuma kira-kira 5 menitan  .

Dian cepat-cepat menahan laju pantat Donie yang sedang bergerak memompa itu, lalu penis pria itu dikeluarkannya dari vagina Niken. Kembali ia memencet bagian tertentu pada kejantanan Donie beberapa detik sampai rasa ingin berorgasme tersebut kembali surut. Setelah itu barulah penis Donie kembali dibenamkannya ke dalam vagina Niken yang berkembang-kempis. Begitulah setiap kali Donie merasa akan berejakulasi. Dian secara telaten membantunya meredakan kenikmatan itu. Hal itu dilakukannya berulang-ulang hingga akhirnya Dian merasa yakin saat ini Donie sudah cukup mampu mengendalikan dan mengontrol ejakulasinya sendiri dalam waktu yang lebih panjang. Sepuluh menit sudah Niken dalam posisi di atas. Perlahan Dian melepas tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Donie. Sebab tanpa Donie ketahui Alfi sudah bergegas pergi dari sana. Dan tampaknya Donie-pun sepertinya sudah tak perduli lagi dengan keberadaan anak itu karena di dalam kepalanya hanyalah menginginkan penuntasan akhir dari kenikmatan yang di rasakannya saat ini. Setelah suaminya terbebas dari ikatan. Niken mencabut tautan kemaluan mereka dan turun dari atas tubuh Donie seraya berbisik

“Mas tindih Niken sekarang…setubuhi aku seperti Alfi tadi”

Donie segera dengan cepat menindih tubuh istrinya. Tangan kanannya menyusup ke belakang kepala Niken sementara tangan kirinya mendekap pinggang ramping istrinya itu. Meski ia tahu bibir Niken tadi dipergunakan untuk mengoral penis Alfi namun Donie menyergapnya dengan ciuman panas membara. Bekas Alfi ada di mana-mana di seluruh tubuh istrinya tapi itu semua membuatnya makin mengelora. Sleeeeppppp…tanpa di bimbing lagi penis Donie telah menemukan jalannya sendiri ke sarang. Sarang yang indah yang lalu mencengkramnya dengan jutaan kenikmatan.

“Oughhhhh….Masss!” Niken merintih nikmat Meski penis Donie tak sebesar dan sepanjang milik Alfi. Namun rasa kasih sayangnya pada Donie membuatnya sangat menikmati saat dicampuri oleh suaminya itu.

Nikken

Nikken

Setelah organ cinta mereka berdua menyatu erat, kedua kaki indah Niken menyilang dan menjepit pinggang suaminya. Sementara jemari lembutnya mencengkram punggung Donie.

“Ayun kuat-kuat mas…biarkan istrimu merasakan betapa keras dan kakunya milikmu” masih terdengar bisikan lembut Dian memompa semangatnya. Ctap…..ctap…..ctappp, bagai seorang murid yang baik ia mencoba memperaktekan semua yang telah Alfi perlihatkan padanya tadi. Donie mengayun pantatnya perlahan saat mengangkat namun cepat dan dalam saat menghujam. Saat sedang bercinta, sebagian besar kekuatan daya dorong lelaki berasal dari otot pantat dan pinggulnya. Ayunan yang kuat dan dalam menimbulkan kesenangan tinggi pada pasangan saat berhubungan intim Dan itu baru disadari oleh Donie sekarang.

“Masss… perkasaa ….sekaliii ougghhh” kembali terdengar rintihan Niken.

Ini adalah kali pertamanya penis Donie mampu menggiringnya pada kenikmatan.

Donie pun tercengang seakan tak percaya dengan pencapaiannya saat ini. Istrinya merintih nikmat dalam permainannya dan ia tahu Niken sedang tidak berpura-pura.

Pujian Niken barusan bagikan tenaga sebutir viagra baginya. Seiring waktu kepercayaan dirinya mulai tumbuh.  Rintihan dan desahan nikmat dari istrinya membuat Donie makin bersemangat dan percaya diri. Dian tersenyum menyaksikan upayanya telah membuahkan hasil. Seiring dengan kembalinya kepercayaan diri pada diri Donie maka saat itu pula vitalitasnya berfungsi dengan baik. Ctap..ctapp..ctap..ctap, bunyi benturan kemaluan mereka terdengar menambah panasnya hubungan intim itu. Tak terasa persetubuhan itu sudah berlangsung selama lima belas menit.

“Uhh…rasa geli itu datanggg lagiii” bisiknya lirih sambil berharap Dian membantunya seperti tadi. Rasanya ia tak ingin cepat-cepat meninggalkan momen-momen indah bersama istrinya seperti sekarang ini. Namun kali ini gadis itu tak melakukan hal itu seperti sebelumnya. Ia cuma menggeleng. “Lepaskan mas…jangan ditahan lagii….nikmati lumatan vagina istrimu yang enak itu”

Donie baru sadar jika Ia sudah melakukan persetubuhan dalam waktu yang lama dan sekarang Dian menginginkan ia lepaskan orgasme berbarengan dengan Niken.

Tak ada yang menghalagi orgasme datang kali ini. Jemari tangannya menyusup ke bawah pantat Niken. Sambil meremas ia menekan bongkahan daging lembut itu ke atas lalu  mengocok penisnya dengan cepat bagai sebuah mesin persis seperti yang tadi si Alfi lakukan. Saat itu ia rasakan pelukan Niken mendekap. Ia pun balas mendekap tubuh Niken sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya mengayunkan pinggulnya semakin cepat…semakin cepat lagi …dan

“Massss Donieee…. Nikennn keluarrr!!” pekik Niken melepaskan orgasmenya sambil menggigit bahu suaminya.

Donie sungguh terkejut, ia merasakan hal yang luar biasa. Vagina Niken tiba-tiba mencengkram erat seluruh organ kelaki-lakiannya. Jiwanya bagai ikut tersedot lepas dari raganya. Ini belum pernah ia rasakan sebelumnya! Tak pernah ia bayangkan organ kewanitaan istrinya bisa menjadi senikmat itu. Dan saat itu juga aliran sperma pada saluran didalam penisnya melaju dengan cepat menerobos hingga keluar melalui lubang kencingnya tanpa bisa dibendung lagi.

“Aaaaoooooo…sayangggg enaaakkkkk!!!” ia melolong ketika air maninya bermuncratan

Crasssss…cressssss..crattttttttt…..crettttttt…creeetttt….

Enam …..tujuh…de..la…pan… entah berapa kali. Donie sudah kehilang hitungan Penisnya masih terus tersentak-sentak dengan keras. Semburan kencang dan deras melemparkan setiap gumpalan-gumpalan benihnya menghantam dinding rahim Niken. Bukan main nikmatnya! Ini adalah ejakulasi ternikmat bagi Donie. Biji mata Donie sampai mendelik ketika nikmat itu demikian dasyat melanda seluruh syaraf-syaraf pada tubuhnya. Ini adalah sesi persetubuhan terpanjang  plus orgasme ternikmat yang pernah dialami Donie. Jika selama ini di mata setiap wanita yang dikencaninya ia identik dengan sebutan yang melecehkan harga dirinya sebagai lelaki seperti ‘The Prematurer’ karenakan ia gampang sekali muncrat namun kali ini ia mampu melakukannya hampir satu jam-an. Benar-benar sebuah lompatan besar yang berhasil diraihnya. Akhirnya setelah segalanya mereda Donie ambruk di atas tubuh Niken. Kenikmatan itu bagaikan biusan morfin yang melambungkan jiwa dan pikiran meninggalkan alam kesadarannya. Senyum bangga tersungging bibirnya menghiasi tidurnya.

Jam 24.00

Lama Donie terlelap. Ketika ia terjaga. Ia dapati dirinya masih terlentang telanjang di ranjang, Kesadarannya berangsur-angsur pulih. Ia teringat semua kejadian barusan. Persetubuhan yang sangat melelahkan.

“Nien?” panggilnya. Tak ada jawaban. Suasana kamar begitu hening. Pandangannya menyapu seluruh sudut kamar. Ia hanya menemukan sisa-sisa ‘pertempuran’ tadi sore. Lalu matanya tertumbuk pada secarik kertas di sebelahnya. Diraihnya kertas yang ternyata sebuah surat bertulistangan Niken. Dibacanya baris demi baris kalimat di sana.

Mas Donie suami yang kusayangi,

Saat engkau membaca surat ini mungkin aku telah pergi jauh dari kota ini.

Meski aku amat mencintaimu namun  demikian Aku terpaksa harus meninggalkanmu mas.  aku juga merasa malu jika harus bertemu dirimu lagi.

Aku memutuskan untuk mengatakan apa yang terjadi padamu . Mas Donie seperti halnya Dian sebenarnya aku telah menyerahkan kegadisanku pada Alfi. Hal itu terjadi sebelum kita menikah. Aku telah melakukan kebohongan padamu dengan mempersembahkan selaput dara palsu  di malam pertama kita.

Aku tak bisa berpisah lagi dari Alfi karena kini sebuah janin  yang bukan milikmu telah tumbuh di dalam rahimku.

Carilah wanita lain Mas dan lupakakanlah aku. Aku bukanlah seorang istri yang memiliki kesetiaan pada suami, Aku telah menghianati dirimu. Aku terlalu kotor dan tidak pantas untuk lagi  menerima cintamu apalagi tetap bersanding sebagai istrimu.

Maafkan aku karena telah melukai hatimu.

Niken.

Dengan agak tergesa-gesa ia memakai celananya. Lalu ia bangkit dan memeriksa setiap ruang. Meski sudah mencari ke seluruh sudut rumah sambil berkali-kali Donie memanggil Niken namun tak ia temukan sosok maupun sahutan dari istrinya. Tak cuma Niken bahkan Dian dan si Alfi-pun tak terlihat lagi batang hidungnya. Memang tak ada orang lain selain dirinya di sana. Istrinya benar-benar telah pergi meninggalkannya sendiri. Niken lebih memilih Alfi ketimbang dirinya. Sungguh menyakitkan pembalasan dari Niken atas ketidaksetiaanya selama ini. Sekarang ia balik merasakan bagaimana sakitnya hati bila dikhianati.

Donie terhenyak. Matanya berkerjab-kejab. Lalu Ia mengusap tetesan bening yang hampir bergulir dari matanya. Ia menghempaskan tubuhnya kembali di sofa. Jemari tangannya mengepal meremas-remas rambutnya kuat-kuat. Ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. Ada getir menusuk hatinya tak kala mengetahui Niken telah hamil. Alfi… bocah itu telah mengambil semuanya. Tak hanya membuat Niken takluk oleh kejantannya tapi juga yang merengut keperawanan Niken. Kini ia juga telah meninggalkan benihnya di dalam rahim istrinya. Sungguh ironis seorang playboy tampan, mapan dan kaya seperti dirinya akhirnya harus mengakui keunggulan seorang bocah ABG ceking, hitam dan bertampang pas-pasan seperti Alfi dalam merebut hati Niken. Baru ia tersadar kalau Niken sama sekali tak membutuhkan semua yang ada pada dirinya. Justru apa yang sebenarnya dibutuhkan Niken ada semua pada diri anak itu, tetapi semuanya sudah terlambat untuk ia sadari. Ya… ia telah kalah! Dan telak sekali! Bagaimanakah ia harus kemudian bersikap sekarang. Apakah ia akan langsung memutuskan untuk menceraikan Niken? Ia pun sungguh tak tahu harus berbuat apa. Berjam-jam ia tercenung terpuruk dalam kepedihan dan kesedihan. Hingga akhirnya kepalanya terkulai dan Donie kembali tertidur. Jam menunjukan pukul 5.00 pagi saat ia terjaga untuk kedua kalinya. Rasa haus mendera memaksanya bangkit. Nyaris satu botol air dingin dihabiskannya. Lalu ia kembali membaca surat Niken. Diulang-ulangnya sampai beberapa kali seakan mencari makna dibalik kata-kata di situ. Donie melihat tinta yang agak luntur pada tulisan Niken. Niken…ia menulis surat itu sambil menangis.

Aneh sekali….apakah Niken sebenarnya tak benar-benar berniat meninggalkannya?.

Kemungkinan juga ia pergi karena tak ingin ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Seakan Niken justru berharap Donie sendiri yang harus mengambil keputusan.

“Baiklah Nien jika ini memang maumu!” gumamnya Donie

Donie merasa ia harus segera menuntaskan permasalahan ini. Tapi walau bagaimanapun ia harus berpikir rasional bukan dengan perasaannya agar ia mampu menarik hikmah dari kejadian-kejadian dalam rumah tangganya dan tidak sampai salah dalam mengambil keputusan. Kali ini ia harus mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya. Bukankah selama ini ia sangat dikagumi oleh koleganya akan keputusan-keputusan yang di buatnya dalam situasi seganting apapun.

Donie menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ada baiknya ia mengintropeksi dirinya sendiri dahulu sebelum menilai perbuatan Niken. Sungguh kejadian ini bermula dari tingkah lakunya sendiri.Betapa selama ini ia tak pernah mau melihat penderitaan pada diri Niken. Ia seharusnya memahami bagaimana sakitnya perasaan Niken mengetahui suaminya yang tak henti-hentinya berselingkuh baik saat sebelum maupun sesudah mereka menikah. Bukankah Niken telah berusaha menjadi seorang istri yang baik buatnya selama perkawinan mereka. Bahkan sudah beberapa bulan ini ia tak lagi mendatangi istrinya di tempat tidur. Wajar sekali jika Niken sampai akhirnya tergoda untuk mencari kepuasan dari pria lain. Soal kesucian, Donie rasanya ia sendiri bukanlah seorang yang suci. Entah berapa banyak perempuan yang telah bercinta dengannya sebelum ia menikah dengan Niken. Bahkan beberapa hari sebelum malam resepsi-pun ia juga masih sempat ‘main’ dgn sekretarisnya di sebuah hotel. Meski Niken mengetahui semua hal tersebut namun ia tetap mau menerimanya sebagai suami.

“Haihhh…” ia menghela napas. Timbul rasa penyesalan yang begitu dalam.

Tiba-tiba saja ia teringat bagaimana panasnya persetubuhan mereka tadi sore. Entah mengapa memikirkan peristiwa tersebut gairahnya malah kembali naik. Berangsur-angsur kekesalannya lenyap tertindih oleh gairah yang meluap-luap. Iapun teringat bagaimana nikmatnya mendapatkan ejakulasi yang kuat dengan kuantitas sperma yang begitu banyak. Ia sendiri terkejut dengan volume sperma yang ia hasilkan ketika ejakulasi tadi. Ejakulasi layaknya seorang bintang porno! Tak pernah ia merasa ‘sehidup’ tadi. Betapapun gairahnya bagai dipompa dan dipacu secara tidak langsung oleh persetubuhan Niken dan Alfi. Yang paling istimewa adalah ia tadi bahkan telah mampu memberikan sebuah orgasme pada Niken untuk pertama kalinya meski harus melalui rangkaian proses yang ‘rumit’terlebih dahulu. Bukankah ini adalah impian nya selama ini untuk menjadi seorang suami yang mempu memberikan kepuasan bagi istrinya di atas ranjang.

Donie mendadak merasakan sakit pada bagian selangkangannya. Ternyata penisnya perlahan telah mengalami ereksi semakin lama semakin keras sedemikian kerasnya hingga mendesak  celana jeansnya. Sungguh aneh? Bukankah saat ini seharusnya ia masih dalam kondisi marah dan kesal karena telah dikhianati? Donie segera membuka lepas celana jeansnya kembali di saat ia rasakan sakit disebabkan ereksinya yang terhalang oleh benda itu. Dan benar saja begitu terbebas kontolnya melompat dalam keadaan tegak mengacung bagai tonggak. Wow..keras sekali?! Donie seakan tak percaya dengan anugrah yang diterimanya saat ini. Ingin rasanya ia mengulangi peristiwa tadi saat ini hanya saja ia tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba ia bergegas merapikan pakaiannya. Lalu  meraih kunci mobilnya.

“Aku berharap aku tak terlambat!”

Donie memacu mobilnya bagai kesetanan. Udara pagi yang dingin berangsur-angsur hangat disiram oleh sinar mentari. Ketika mobilnya memasuki sebuah komplek perumahan ia tak juga mengurangi kecepatannya. Ia bahkan tak perduli beberapa orang jogging melontarkan sumpah serapah ke arahnya. Nyaris saja ia menghantam sebuah tiang lampu jalan saat membelok masuk ke halaman rumah Didiet. Kebetulan pintu gerbang rumah itu masih terbuka lebar karena Didit baru saja akan mencuci kendaraannya pagi itu. Didiet yang saat itu berada di halaman merasa was-was melihat koleganya itu muncul dalam kondisi kusut. Alamak bakalan runyam urusannya pikir Didit dalam hati. Ia kuatir Donie tak terkendali dan berbuat nekat. Iapun tahu Donie adalah pemegang sabuk karate dan 2.

“Don  apa..”

“Di mana Niken Diet?” tanya Donie memotong ucapan Didiet

“Masuk dulu kita..”

“MANA ISTRIKU!!!!”bentak Donie membahana. Didiet sampai terlonjak karena kaget.

“Sabar Don ia ada di sini” ujar Didiet sambil memberi kode dengan jarinya pada Donie agar tak bicara keras-keras karena beberapa orang tetangga yang lewat menengok ke arah mereka.

“Bagus kalau begitu, tetapi sebelum aku menemuinya aku akan menyelesaikan urusanku dulu dengan… DIA!” ujar Donie sambil menunjuk ke arah Alfi.

Saat itu Alfi baru keluar dari samping rumah sambil memegang selang air. Tentu saja anak itu tergagap dan ketakutan  dan berniat untuk kabur dari situ. Namun gerakan Donie lebih cepat. Kerah baju Alfi tahu-tahu sudah dalam cengkramannya. Sejurus Didiet bergerak untuk mencegah namun ia jatuh terduduk di rumput setelah sebuah dupakan menghantam perutnya.

“Jangaaaan Donnn! Jangan sakiti anak itu! Aku yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi!” seru Didiet berusaha berdiri sambil mendekap perutnya yang masih sakit.

“Siapa bilang  aku mau menganiaya bangsat kecil ini… aku datang justru mau menyatakan terima kasih kok” ujar Donie tersenyum. Tiba-tiba Ia melepaskan pegangannya pada Alfi yang sangat mengundang keheranan Didiet maupun Alfi

“Loh??…kipikir…tadi kau…” ujar Didiet bingung atas sikap aneh Donie barusan.

“Tenang saja Diet, aku cuma minta waktu berbicara sebagai dua orang lelaki dengan Alfi, bolehkan?” ujar Donie dengan nada suara lunak.

“Eng..ya… silakanlah..”ujar Didiet  agak lega melihat sikap Donie. Bagaimanapun ia cukup mengenal koleganya ini. Ia yakin Donie tak akan berbuat macam-macam. Pada dasarnya Donie bukanlah orang yang brangasan ataupun ringan tangan.

“Fi maaf ya sudah membuatmu cemas tadi, aku hanya bercanda. Aku mau mengucapkan rasa terima kasih kepadamu” ujar Donie

Alfi masih terbengong seakan tak percaya akan ucapan pemuda dihadapannya. Tadinya ia sudah pasrah menerima sebuah hantaman dari Donie.

“tet..rima kasih?”

“Ya Fii, terima kasih karena kamu akhirnya aku sadar betapa berartinya Niken buatku. Dan aku juga berterimakasih karena secara kebetulan aku juga telah berhasil menemukan jalan bagi kesembuhan bagi ketidakmampuanku selama ini”.

“Akh itu… Alfi juga minta maaf kak karena sudah….”

“Jangan kau risaukan hal itu, Aku ingin kamu tetap menjadi bagian hidup Niken. Dan mulai sekarang maukah kau menganggap diriku sama seperti Didiet sebagai keluargamu. Fi?”

Alfi melihat kesungguhan dari pemuda di hadapannya. Ia menoleh ke arah Didiet.

Didiet tersenyum dan mengangguk.

“Iya kak Donie Alfi mau dan Alfi berterimakasih kakak mau menerima Alfi” ujar Alfi gembira, ia tak menyangka betapa beruntung jalan hidupnya.

“Diet, aku minta kerelaanmu dan Sandra  karena Alfi akan kuajak tinggal dirumahku selama 3 hari pada setiap minggunya, bolehkan?” ujar Donie

“Ah…Itu bisa kita rundingkan Don… tak ada masalah” jawab Didiet.

“Ok Fi ..sekarang kita berjabat tangan sebagai tanda dimulainya sebuah ikatan kekeluargaan ini”

Alfi menyambut uluran tangan Donie dan menjabatnya meski ia tak mengerti betul akan makna hal tersebut. Hanya saja ia lega bahkan girang akan sikap dan keputusan Donie. Berarti kini ia mempunyai dua pasang orang tua asuh sekarang. Dan ini juga berarti hubungannya dengan Niken tak ada yang menghalangi lagi.

“Kalau sudah ayo kita ke dalam” ajak Didiet setelah suasana mencair.

“Masih sakitkah?” Tanya Donie sambil membantu sahabatnya itu berdiri dari rumput.

“Jelas!” gerutu Didiet.

“Salahmu sendiri kenapa ikut campur ha ha ha”

“Kau gila! Kupikir kau tadi serius mau meghabisi Alfi”

“Ga pa pa sesekali bercanda kan?. Anggap saja itu sebagai upah bagimu ha ha”

“Don, sebaiknya kau segera temui istrimu di atas. Sejak pergi dari rumahmu ia tak henti-hentinya menangis. Istriku dan yang lain sudah kehabisan akal membujuknya”

“Ha…be..narkah?”

“Ya….walau bagaimanapun ia sangat mencintaimu sepenuh hati sama seperti Sandra mencintaiku”

“Aku benar-benar merasa bersalah selama ini…aku menyesal sekali Diet” Donie  tertunduk

“Hei  Sudahlah! ayo datangi dia segera!” ujar Didiet menyemangati.

“Ya  aku menemui dia sekarang. Eh… ngomong-ngomong aku juga berterima kasih padamu atas semua kegilaan yang kau ciptakan ini” ujar Donie sambil menoleh lagi ke arah Didit.

“He he jangan berterima kasih padaku. Itu sepenuhnya adalah ide istriku”

Donie bergegas menuju kea rah pintu rumah. Di sana berpapasan dengan Dian dan Sandra yang baru keluar karena mendengar kegaduhan tadi. Donie sempat mengecup lembut bibir Dian.

“Maukah kamu tetap menjadi bagian dari kesembuhanku, dara manis?” dari nada bicaranya Donie tak lagi merasa malu jika orang mengetahui kekurangannya.

“Itu tergantung dengan istri mas, saya menurut saja”jawab Dian tersenyum. Ia juga tak menyangka kalau ia berhasil melaksanakan tugasnya.

Saat berpaling ke Sandra, Donie mengangukan kepala memberi hormat sambil berkata.

“Terima kasih anda adalah seorang wanita berhati mulia, anda telah mau bersusah payah menyelamatkan perkawinan kami “ Dari awal kemunculannya dulu Donie sudah menduga wanita cantik di hadapannya itu sangat istimewa.

“Ah..mas Donie terlalu berlebihan,  saya cuma ingin melihat semuanya berakhir indah mas”

“Don! Yang satu itu jangan di ganggu ! itu property pribadi!” ujar Didiet dari jauh.

“Iya. iya tolong sejak sekarang dibuatkan aturan yang jelas! Mana yang boleh mana yang tidak, Ok?”

“OK setujuuuu!” jawab Didiet lagi.

“Dasar lelaki! Gilanya cuma beda tipis!”ujar Sandra dan Dian geli

Donie perlahan membuka pintu kamar atas. Ia tak ingin Niken terkejut ataupun takut padanya. Di dalam ia begitu terenyuh saat melihat kedua mata Niken yang bengkak karena menangis semalam-malaman.

“Mas Donie…”desisnya pelan ketika ia menoleh ke arah pintu dilihatnya sang suami telah berdiri disitu.Ia masih ragu-ragu untuk mengatakan kata-kata meski wajah Donie memancarkan kelembutan.

“Mengapa kau lari dari sisiku kekasih?”

“Ma..afkan aku mas Donie…aku tak pantas buat mas, aku istri yang ternoda…bahkan aku telah ham..”

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya Donie menariknya dalam sebuah dekapan hangat. Niken merasakan kenyamanan. Dan sebuah kecupan lembut mendarat di kening Niken.

“Stttt.. dimataku kamu tetap bidadariku. Justru aku yang minta maaf karena lebih dulu tak setia dan tak mampu membahagiakan dirimu. Kembalilah padaku manis. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi perilaku burukku di masa lampau. Bahkan aku menginginkan si Alfi ikut tinggal bersama kita bukankah ia harus ikut merawat ‘bayi kita’”

Niken terperangah bagai tak percaya dengan apa yang di dengarnya. ‘bayi kita’ Donie mengucapkan itu walau ia tahu persis bayi yang dikandungnya bukan hasil perbuatannya melainkan benih si Alfi.

“Be..narkah mas Donie masih mau menerima aku ?“

Donie menatap mata istrinya dalam-dalam.

“Tatap mataku manis, apakah aku berbohong? Aku mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri dalam ketidak berdayaan dan kesedihan sayang,”

Niken  mampu melihat kesenduan dan kejujuran yang tak pernah selama ini terpancar dari wajah suaminya. Iapun merasa iba melihat rona hitam menghiasi pelupuk mata Donie. Sebagai istri Niken merasa bersalah seharusnya ia ikut membantu memecahkan persoalan Donie. Dibelainya wajah tampan itu. Betapapun ia pun sudah belajar menyayangi suaminya selama ini. Lalu ia tak dapat menolak ketika Donie  menyumbat bibirnya dengan sebuah ciuman. Sebuah ciuman yang sangat berbeda. Bukanlah ciuman yang didasari napsu semata namun juga sebuah ciuman yang mengalirkan cinta dan kasih sayang. Dua tetes air bening bergulir dari kelopak mata Niken. Iapun membalas lumatan bibir Donie seakan melepaskan segala kerinduannya dalam dekapan dada bidang itu. Lama ciuman itu baru terlepas.

“Aku telanjur mencintaimu mas, aku akan mengabdikan hidupku buat mas Donie””

“Terima kasih manis, Aku juga dan akan selalu mencintaimu meski ada Alfi diantara kita”

“Mas betul.. ti..dakk cemburuu bila melihat a.ku sedang bersama ..Alfi…?”

“Sejujurnya pada awalnya aku agak illfeel…namun berangsur-angsur aku sadar jika aku justru tak ‘bisa’ berhasil tanpa anak itu..Nien. A..ku benar-benar merasakan bergairah’ ketika kulihat ia mengaulimu saat itu.Bukankah kau sudah melihat buktinya saat itu aku mampu mempertahankan ereksi dan ejakulasiku jauh lebih lama dari biasanya” ujar Donie tergagap agak malu-malu mengungkapkan isi hatinya.

“Tapikan itu juga karena ketelatenan ‘tangan’nya si Dian kan?”

“Itu betul juga tetapi tetap saja baru kali itu aku benar-benar dalam kondisi begitu ‘High’” ujar Donie dengan suara bergetar-getar.

“Idihhh ngomong itu kok sampai tergagap begitu..hi..hi” Niken tersenyum geli mendengar pengakuan jujur suaminya itu. Jujur. Ya hal itu yang tak pernah Donie lakukan kepadanya selama ini.

“Iyaa kok aku jadinya kepingin itu sekarang .. ..a..ku panggil si Alfi kemari ya say?”

“Loh masa sekarang Mas? Kita kan tamu di rumah orang apa tidak sebaiknya nanti di rumah kita saja” ujar  Niken agak jengah tak menyangka Donie menjadi tak terkontrol seperti itu.

“Kalau begitu tunggu sebentar biar aku minta izin ke Didiet dan Sandra. Kurasa mereka mau mengerti kok.”

“Tapi tetap saja aku malu sama mereka,”

“Aduhh.. sayaaang..mau yaa? a..akuu ngga sabar lagii melihat kontol besar si Alfi mengaduk kewanitaanmu yang indah ituuu ….Pleaseee maniss…”

Niken mengangguk mengiyakan. Mengapa ia harus menunda datangnya kebahagiaan yang sudah lama ia tunggu-tunggu selama ini.

“Baiklah  kalau itu maunya mas, Ajak juga Dian sekalian kemari ”

“Yessss!!!” ujar Donie girang sambil menirukan gerakan Jim Carrey. Lalu Ia melesat berlari keluar kamar.

Sepeninggal suaminya Niken tersenyum-senyum sendiri.Hatinya sungguh berbunga-bunga. Entah mengapa jantungnya begitu deg-degkan menghadapi ini semua. Padahal di malam pertamanya dulu-pun ia tak merasakan seperti yang dialaminya sekarang ini. Seperti ini kah rasanya  kebahagiaan itu? Ohhh.. begitu nyaman terasa mengalir dan menghangati tubuhnya. Oh Ibu..akhirnya aku berhasil mendapatkannya. Di pagi yang cerah itu Niken sudah tak tahu lagi berapa orgasme ia dan suaminya peroleh. Pekik-pekik kenikmatan membahana tiap menitnya silih berganti.

—-

Di kolam renang halaman belakang

Didiet terlentang di kasur besar yang mengambang di atas air sambil mengelus rambut ke dua wanita cantik yang memeluknya dari kedua sisi tubuhnya. Penisnya mengacung tegak dalam remasan jemari lembut Nadine yang baru saja datang. Sementara Sandra tersenyum puas akan hasil dari upayanya.

“Upayamu berhasil say. Kamu memang istri yang membanggakan bagiku”

“Hmm ya, Aku senang  karena semua berjalan sesuai dengan rencanaku. padahal pada awalnya aku ragu bisa mempersatukan mereka, kupikir Donie akan lebih memilih bercerai ketimbang menerima keadaan Niken. Ternyata ..dia juga ‘sakit’ seperti kamu” ujar Sandra.

“Iya betul! bahkan akan terus bertambah lagi orang yang jadi korban tertular penyakitnya” ujar Nadine mengencangkan remasannya.

“Oowww … asiiiikk!!!  Penyakit yang asiiiik!! Ha ha ha!!” Didiet tergelak.

TAMAT

NB: Selanjutnya ???? ……. Dr.LILA
By: Dr. H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: