h1

Nightmare Gaiden 3: Victim Sharing

October 6, 2009

‘Siang Hari’.

‘Dimana mentari’.

‘Menampakkan diri dan tersenyum berseri’.

Sherin

Sherin

Tak lama Sherin dan Pak Udin terbangun, penisnya masih menancap di vagina walaupun sudah layu.

“Uaaaahh…nyam..nyam !”si tua bangka itu meregangkan badannya, puas mendapatkan ejakulasi tiga kali di pagi hari dari Nona majikannya yang cantik.

“Non..Non sherin..bangun Non..Non cantik”panggilnya mesum berbisik ditelinga Sherin,

Sherin pun terbangun sambil mengucek-ucek matanya, si cantik itu bukan terbangun oleh panggilannya, justru terbangun karena gerayangan nakal Pak Udin.

“Ehhmmh…jam berapa nih Pak…”kata Sherin menguap.

“Jam setengah 12 Non…sana mandi deh !!”suruhnya tapi terus-terusan menggerayangi.

Sherin pun hendak bangkit.

“Ya udah…Bapak berhenti dong grepehinnya !!”protes Sherin sambil merengut.

Tukang kebun itu hanya menyeringai lalu tertawa mesum, dia melepaskan sejenak Nona majikan cantiknya dari gerayangan cabulnya, Sherin pun bangkit dan Pak Udin menepuk pantatnya, Plaaakk…!!

“Sana mandi..!!”suruh Pak Udin.

Sherin mulai berjalan menuju kebebasan sejenaknya, tetapi baru saja dia melangkahkan beberapa kaki.

“Non Sherin…untuk bayaran makan siangnya, Bapak tunggu di ruang fitness…tolong pake pakaian hitam seksi kaya kemaren…tapi pake rok jangan celana pendek, dan satu lagi jangan pake celana dalem sama BH !!”perintah wong sinting itu.

(Hhrmph…ini sih bisa-bisa mandi dua kali gue…satu buat dipake satu abis dipake !)omel Sherin dalam hati, Sherin hanya merengut dan berlalu meninggalkannya. Pak Udin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Sherin yang seakan-akan ingin menolak tetapi tidak bisa. Sherin kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya, menyalakan air dalam bathtub dengan deras, ingin segera mendinginkan hati dan pikirannya. Setelah cukup, diapun berendam di dalamnya, membasuh seluruh tubuhnya dari noda hina tukang kebunnya, dia menggosoki lehernya yang tadi dicupang habis-habisan mulut bau Pak Udin, mengorek vaginanya dari lelehan mani Pak Udin, air busa itu menetralisir keringatnya dan keringat kotor Pak Udin yang melekat di tubuh terawatnya, membersihkan dan menyucikannya kembali, hingga mengkilat putih bersih serta wangi.

Selesai sudah dia membersihkan diri, tetapi bukan selesai untuk berangkat pergi, namun selesai untuk bersiap menyerahkan diri. Malang nian gadis kaya berwajah cantik jelita itu, kekayaan harta orang tuanya yang melimpah ruah, tidaklah menjamin seseorang kaya dalam arti hidup yang sebenarnya, tentu sebagai budak seks dia bagaikan hamba yang menyerah tunduk pada tuannya, yang notabene pembantunya sendiri. Dia mengganti baju dengan baju fitness yang seksi, atasannya berupa kaos hitam tanpa lengan yang menggantung ketat hingga bawah dada sehingga memperlihatkan perutnya yang rata, keketatannya menonjolkan buah dada montoknya yang membusung indah, untuk bawahannya sejenak dia bingung, karena sejak kuliah dia lebih sering memakai celana jeans. Terpaksa dia memakai rok cheersnya saat SMU, warna rok itu juga hitam seirama dengan baju fitnessnya, entah mengapa dia jadi ingin tampil lebih seksi lagi dihadapan tukang kebunnya itu, kemungkinan besar karena Horny. Sherin mengambil ikat kepala berwarna seirama yang biasa dilingkarkan di jidatnya saat berolah raga lari pagi, dan menggunakan handset hitam yang melingkar di pergelangan tangan putihnya. Sempurna sudah penampilannya, tubuh putih itu dibalut pakaian seksi serba hitam, bagaikan kuda zebra betina yang lezat di mata Singa dan sejenisnya, mengundang gairah kaum pria, apalagi yang pikirannya pervert abis seperti Pak Udin, bagaikan kuda zebra  mengumpankan diri ke raja singa. Sherin mengikat rambut bondingannya yang panjang kemerahan itu dengan kuncir kuda, sehingga menambah pesona penampilannya. Dia turun menuju ruang pembantaiannya, dimana telah menungu Pak Udin the pervert gardener, yang gilanya sudah bugil, tidak sabar untuk segera menggauli Nona majikannya yang masih muda dan cantik. Sherin berjalan sampai di depan pintu geser, dan disana dilihatnya tukang kebunnya yang sudah tanpa busana dan memperlihatkan sosoknya yang hitam legam dari ujung kaki hingga rambut, mengerlingkan jari telunjuk ke arahnya yang seolah-olah mengatakan, ‘Masuk lu lonte !!’, Sherin yang benci tapi horny itu menggeser pintu untuk memasuki ruangan. Sherin pun terpaksa memenuhi panggilan Pak Udin, dan tukang kebun itu menelan ludah, nafsu hewaniahnya langsung terkumpul walaupun belum dihalo-halo dipanggil tuannya, Pak Udin kontan ngeres saat memandang majikan mudanya yang cantik berjalan menuju arahnya memakai pakaian olah raga seksi yang biasa dipakainya fitness, apalagi saat ini dia memakai rok hitam mini yang memamerkan sepasang paha putih mulus jenjangnya.

Sang Nona memasang wajah judes biasanya ke arah Pak Udin untuk meninggikan harga dirinya, dia tidak ingin pembantunya ini merasa menang mendapatkannya, walaupun sia-sia karena dari ujung jari kaki hingga ujung rambut Pak Udin sudah menjajahnya, tukang kebun itu mengelilingi Nona majikannya sambil berkacak pinggang dan bersiul. Tukang kebun itu sedang memikirkan sebuah strategy, mengingat kejadian tadi dimana dia malah di Kickback oleh sang Nona Majikan, strategy dimana si gadis cantik takluk secara penuh dan menguasainya, dia ingin merasakan kenikmatan enak sekaligus kemenangan mutlak, bukan enak tapi malah menjadi budak.

Huff…!! Sherin membuang nafas,

(Ini semua gila ! mengenakan pakaian olah raga yang minim seksi, tanpa daleman Bra di dada dan CD menutupi kewanitaan, mendatangi tukang kebun, menyerahkan diri untuk bersedia digauli, dimana penikmat raganya sebaya kakeknya, berstatus pembantu, sudah telanjang bulat pula, ini Gila…!!), pikirnya.

Saat berada di belakangnya Pak Udin berhenti, Sherin merasakan dengusan berat penuh nafsu bejat milik pembantunya di pundak putih mulusnya, hembusan itu sialnya membuat nafsunya juga terpancing, Pak Udin mengecup kecil pundak sebelah kanannya, Sherinpun menolehkan wajah ke arahnya, dia menyambut senang dengan senyuman cabul.

“Hihihi….!!”tawanya mesum, Leeph…!!.

“Ehmh…Pak !!”dehem Sherin terangsang, saat pundaknya dijilat tukang kebunnya.

Pak Udin menyeringai saat mengetahui Sherin menerima rangsangannya bagai gayung bersambut, jari tengah kanannya menyentuh atap tangan Sherin, menjalar hingga lengan atas sambil tak berhenti mengecup pundaknya, lengan putih mulus kirinya dicengkram dengan lembut, seirama dengan cucupan di pundaknya, cucupan Pak Udin berjalan dan berganti dengan lidah menelusuri leher jenjang harum Sherin centi demi centi, berhenti disana mulut hitam Pak Udin mencupang Sherin, cengkraman di lengannya juga berubah seirama berganti elusan-elusan lembut, naik-turun-naik-turun.

“Ehmmhh…Pakk..Pak Udin..Ssshh..!!”desis Sherin memasrahkan diri karena horny,

Tangannya melingkar ke belakang, menempatkan di leher hitam kurus Pak Udin.

“Cruupph…cuph..cuph leph..!!”hisap Pak Udin gemas pada leher jenjang Sherin, sambil sesekali menjilatnya hingga leher Sherin banjir oleh liur menjijikkannya.

Masih terus mencupang, kedua tangannya bergerak menurunkan kaos fitness hitamnya ke masing-masing sisi, Sherin yang sudah pasrah itu mengangkat lengannya sendiri untuk membantu Pak Udin menelanjanginya, Pak Udin melepit kaos itu di bawah payudaranya yang menyembul sudah, dengan cekatan, tukang kebun itupun langsung menangkup buah dada Sherin si Nona majikan. Pak Udin menangkap puting yang menggemaskan itu dan memelintirnya sembari lidahnya berpetualang ke leher belakang Sherin,

“Aaaakhh Pak…!!”erang Sherin geli-geli enak, Tangannya kembali melingkar ke belakang, menempatkan di leher Pak Udin.

Pak Udin yang merasa serangan birahinya menuju puncak kesuksesan, berniat mesum untuk meningkatkan dan meneruskan serangan, lidahnya yang sedang menggelitik leher belakang Sherin, menjalar dan menelusuri punggung bagian atas Sherin yang sangat putih bersih bagaikan batu pualam, terkadang Pak Udin melahap seolah-olah hendak memakan Sherin seandainya bisa, untung saja Pak Udin tidak bisa, jika bisa tentu sang Nona sudah habis digerogoti mulut hitam tukang kebunnya seperti orang melahap buah semangka. Sambil terus menginvasi Sherin dengan jilatan dan remasan, Pak Udin mengangkat rok hitam Sherin, dan terlihatlah bongkahan pantat sekal Sherin, bulat putih padat bagaikan buah melon siap santap, si tua Udin menangkap kedua tangan Sherin yang melingkar ke belakang lehernya, menempatkan kedua tangan itu di sisi kanan dan kiri roknya, tukang kebunnya itu tampak menyuruh sang nona majikan untuk memegangi roknya sendiri agar dia mudah bergerilya. Setelah pintu pertahanan itu terbuka, tangan hitam Pak Udin yang berjari kurus panjang itu langsung mencaploknya dengan rakus, Teplok…!! “Ehhmmh…”desah Sherin. Pak Udin menangkup pantat Nona majikannya dengan gemas, diremas dengan ganas dan tentu diselingi dengan serangan lidah di punggung bagian tengah Sherin, sial dia, karena kedua bagian itu merupakan titik-titik kelemahan wanita.

Pak Udin membungkuk, jilatannya turun menuju dua bongkah pantatnya, dan rabaannya turun ke paha putih mulusnya bagai bangkuang masih segar itu, Pak Udin menggerayangi paha putih mulusnya senti demi senti tidak ada yang terlewati, mengusap-usap, meraba-raba sekujur paha Sherin berulang-ulang.

Tukang kebun itu menggeser kedua belah kaki Nona majikannya lebar-lebar sehingga terlihat dari belakang belahan vagina si cantik itu, Pak Udin tersenyum mesum bahagia, Udin Jr. langsung saja mengadu domba Tuannya agar dengan segera memerangi lawannya yang cantik nan bohay itu. Tapi Pak Udin langsung mengeplak kepala Udin Jr. untuk menyuruhnya diam dahulu, karena tukang kebun itu tidak ingin seperti pagi tadi malah dipecundangi sang Nona,

“Eehmh…Pak !!”desah Sherin nikmat.

Saat jari tengah nakal Pak Udin menyentuh liang vagina Sherin yang masih rapat itu, Pak Tua itu memberikan sentuhan-sentuhan kecil kesana, terkadang diselingi dengan cerukan jari tengahnya melintasi sisi panjang bibir vagina.

“AaanGghh…Aannghh…Ssshh”desisnya horny, Sherin mulai terbawa dengan permainan Pak Udin, vaginanya mengeluarkan lendir harumnya, kontan seluruh ruangan yang ber-AC itu penuh dengan aroma semerbak itu, Udin Jr. makin gencar protes dan demo pada Tuannya dengan menulis slogan di papan bertuliskan “Bersama Kita Ngentot !!”.

Lendir yang terproduksi makin lama makin banyak, serangan Pak Udin semakin dahsyat dengan jilatan berjalan di sekujur paha jenjang putihnya yang halus dan mulus, terkadang mulutnya mencucup dua bongkah pantatnya pula. Sherin lama-lama tidak kuat menahan beban tubuhnya, kakinya menekuk perlahan hingga berlutut di lantai ruangan fitness itu karena lemas, dimana Pak Udin juga selalu mengikuti gerakan Nona majikannya tanpa menghentikan sedetikpun serangan mesumnya.. Tukang kebun itu menyibak rok hitamnya yang mini itu hingga memperlihatkan body bohay anak kampus masa kini. Posisi Sherin sekarang menungging dengan kepalanya tertunduk di ruangan lantai fitness berkarpet bulu halus itu, sambil meremas-remas payudaranya sendiri.

“Eehmmhh…Pak…masukin Paakk…Sa..saya gak kuaath”desah Sherin blingsatan.

Pak Udin senang sekali Sherin kembali memohon padanya, inilah sebenarnya yang diinginkan si tukang kebun mesum itu, sebuah penyerahan total untuk kemenangan mutlak. Pak Udin yang sekarang juga berlutut dibelakang Sherin, semakin lebih nyaman dan bisa santai untuk terus menggerayangi dan mencucupi pantat Sherin yang menungging.

“Masukin apa Non…hayoo huehehehe..??”tanyanya mengejek, sambil terus mengobok-obok sisi luar vagina Sherin, tepatnya di bibir vagina yang tebal menggemaskan namun mungil itu, dengan celah kecil dan sempit, yang mana pasti nikmat untuk dicelup sebuah penis.

“Pa..pake ko..konAaaanngghh…!!”desah Sherin.

Pak Udin dengan jahilnya menusukkan jari tengah kurusnya yang berkulit hitam keriput itu ke vagina Sherin sedalam-dalamnya.

“Hi hi hi cihuuy…banjir Ooy !!”komentarnya norak, merasakan vagina Sherin becek.

Clek..clek..clek..clek !! kobokan jari Pak Udin keluar masuk vagina.

Plaaakk !!“Aaakhh…!!”. Pak Udin gemas dengan posisi nungging Sherin, sebenarnya dia

sudah ingin sekali mendoggy Nona cantiknya itu, tapi dia takut seperti kejadian tadi pagi.

“Pake apa Non hah…pake apah…??”tanya Pak Udin sembari berkali-kali menampari pantat Sherin dan mengobok-obok vagina. Sesekali si tua mesum itu mencium, menjilat dan menggigit kecil pantat Sherin. Rangsangan itu terlalu nikmat buat gadis muda cantik sepertinya.

“Ko Aaahh…kon..Aaaannggh..Haahh..Hahh..Kontoooooooollll !!!”jerit Sherin jorok.

Cruuutth…!! Cuur Seeeerrr…!! Cer..cer..cruuth !! Lendir vagina Sherin bermuncratan. Mana posisinya sedang menungging dan kepala tertunduk pula, dahsyat sekali.

“Hhmmpphh !! Sluurph Sluuurrpph…!!”

Pak Udin membenamkan kepalanya, dia malah senang  dengan cipratan-cipratan lendir surgawi Sherin yang manis itu mengenai wajahnya. Mulutnya menyeruput dan menelan langsung lendir vagina yang mendarat di lidah. Pak Udin melahap habis-habisan vagina Sherin yang melelehkan lendirnya, tak berapa lama tubuh mengejat seksinya berhenti, tanda orgasmenya selesai. Tubuh indah Sherin langsung ambruk setelah mendapatkan orgasme, dia tengkurap tepat di depan pria berumur mesum yang sedang mengocok-ngocok alat penyatu tubuh mereka. Pak Udin benar-benar menang strategy kali ini, gadis cantik berambut merah boundingan itu hanya pasrah dengan masih terengah-engah melihat pemerkosanya yang baru hendak mulai melalui cermin di depannya. Ruangan fitness itu dikelilingi kaca melapisi tembok, guna melihat gerakkan fitness yang salah gerak agar hasilnya maksimal, Sherin melihat tukang kebunnya memposisikan diri tepat di belakangnya dengan gaya berjongkok.

Tangan kurus berkulit hitamnya membentangkan kedua belah kaki Sherin yang jenjang, putih dan mulus. Sedikit kesulitan menyerang dari dalam, maka dia menjongkokkan kaki kiri dan kanannya tepat di samping pantat Sherin yang tengkurap namun menjulang ke atas menantang sang pejantan. Tangan kiri Pak Udin bertumpu di punggung Sherin, dan tangan kanannya mengarahkan penis ke sasaran tembak yaitu vagina, Udin Jr. yang dari tadi sudah putus asa karena demonya diacuhkan, kembali bersemangat 45 setelah melihat di depan mata liang surga dimana dia bisa meluncur dan bersenang-senang di dalamnya. Penis itu semakin bahagia sekarang setelah berciuman mesra dengan mulut vagina.

“Pak Udiiinhh…nanti Pak !! akuh…masih..lemas heh heh !!”tawar si Nona cantik.

“Iya deh Non…ambil nafas dulu deh..!!”katanya sok baik.

Udin Jr. jadi kesal dengan Seniornya, dia menuliskan Slogan demo “Lanjutkan..!!”. Pak Udin melihat ke arah kaca di depannya, dimana Nona majikan cantiknya juga sedang menatap ke arahnya, matanya sayu seksi dengan nafas berat. Tukang kebun itu mengajak berbincang empat mata melalui media cermin.

“Udah Non istirahatnya…apa mau tiduran dulu”tambahnya lagi sok pemurah.

“Iyah Pak…sebentar yah heh heh”jawabnya terengah-engah.

“O ya udah…maap Non…kalo gitu kita lanjutin di kamar aja ya..!!”kata Pak Udin.

Sherin hanya mengangguk senang, ternyata tua bangka ini pengertian juga. Zreeeekk !!.

“Wuaaahhh…!!”erang Sherin.

“Waoowh…Bohongan deh hak hak hak Enyaakk !!”kibul si tukang kebun mesum.

“Shiit !! Shiiitt !! Ssshh…!!”desis Sherin memaki-maki dirinya yang tak berdaya dikerjai pembantu tuanya itu.

Pak Udin langsung aktif menaik-turunkan pinggulnya seirama dengan penisnya yang juga keluar masuk. Pinggul hitamnya bertepukan dengan pantat sekal Sherin ketika prosesi tumbuk menumbuk berlangsung, tangan kiri Pak Udin bertumpu di punggung halus sang Nona majikan, sementara tangan satunya menjambak rambut merahnya yang dikuncir kuda tanpa ampun. Rambut itu terasa sangat halus bak sutra di tangan kasar Pak Udin dan harum pula, sehingga menambah gairahnya.

“Aaahh…Aaahh…Yess…Fuck me…Aaangghh !!”desah Sherin seksi. Dia mengikuti saja permainan seks tukang kebunnya, pasrah sudah dia disetubuhinya.

“Woow…Woowh…seret…enak…Nonh…Woowh !!komentar Pak Udin keenaakan.

Sherin lemas namun libidonya terundang karena merasa seksi dijadikan tempat curahan birahi Pak Udin, dia memaksakan diri untuk bangun, tangannya yang sedari tadi meremas karpet berbulu halus lantai fitness, mendorongnya untuk bangkit dan bertumpu. Pantatnya yang tadi tengkurap seksi juga bangkit perlahan tanpa berhenti disodok, Pak Udin malah senang jika Sherin menungging, jadi dia bisa melaksanakan hoby jorok enaknya, yakni men-doggy Sherin sang Nona majikan. Yaph, sempurna sudah…Sherin bertumpu dengan lutut dan kedua telapak tangannya, kini mereka berdoggy style ria, Pak Udin mencengkeram pinggul Sherin dan memaju mundur pinggul itu berlawanan dengan sentakkan penisnya di vagina Sherin. Wajah keduanya tampak sayu menuju puncak kenikmatan, Pak Udin lebih dulu mencapai surga itu karena tidak tahan lagi dengan jepitan legit vagina Sherin.

“Ngentot memek lu…ngentot memek luu…OhHookhh !!”Pak Udin mengejan klimaks.

Tubuh kurus berkulit hitamnya pun mengejang merasakan nikmat ejakulasi di sekujur tubuh rentanya. Spermanya menyembur berkali-kali memenuhi rahim Sherin, selama beberapa detik Pak Udin menekan penisnya dalam-dalam di liang vagina Sherin sambil bergidik nikmat menuntaskan ejakulasinya.

“Oookkh…maknyus !!”komentar Pak Udin sambil meneteskan liurnya dan jatuh tepat di pantat bohay Sherin. Plaaakk…!!, tampar keras Pak Udin di pantat Sherin, yang telah memberinya kenikmatan seks luar biasa. Plooph !!, “Aawh..!!”, jerit Sherin kecil karena Pak Udin mencabut seluruh penisnya dengan kasar.

Lendir pelumas vagina Sherin dan sperma menjijikkan Pak Udin pun membludak keluar, meleleh turun ke paha dan mendarat di karpet berbulu halus di ruangan fitness tersebut. Tukang kebun itu tersungkur lemas di lantai, terengah-engah namun puas dengan sejuta kenikmatan. Sementara Sherin masih menungging seksi masih dalam keadaan tanggung orgasme, kepalanya tertunduk dan menatap sayu seksi ke arah Pak Udin. Tukang kebun itu tertawa terbahak-bahak menyebalkan dan menatap balik ke Sherin karena menang, dia semakin tertawa sinting melihat vagina Sherin yang penuh dengan spermanya. Setelah Pak Udin mendapatkan tenaganya kembali, dia mengajak berbincang.

“Non…musik yang kemaren bagus…kaya di diskotik kampung Bapak deh!”terangnya.

(Gak mungkin diskotik lu nyetel lagu R&B…paling Campur Sari..paling top Dangdut !),

dalam hati Sherin,

“Coba tolong disetel Non…biar tambah rame…kan asyik…kita masih gila-gilaan soalnya hi hi hi !!” suruhnya mesum.

Sherin yang mencium bau pikiran mesum dari Pak Udin hanya bisa pasrah, dengan segenap tenaga yang ada, dia mencoba bangkit membelakangi si tua itu dan menuju CD player, saat berjalan ke tempat CD itu Sherin merasa sekali bahwa Pak Udin memandangi pantatnya yang seksi dari belakang. Sherin mencoba tegar walaupun kalau boleh jujur Sherin menyukai tatapan-tatapan pria penuh nafsu ke arahnya, tidak terkecuali para pemerkosanya yang notabene buruk rupa plus berumur, sejak menjadi budak seks dia mengalami kelainan demikian. Kemudian Sherin menyalakan musik R&B yang hari lalu disetelnya, lagu itu berjudul Baby Boy yang dinyanyikan Beyonce versi Mix. Mendengar dentuman lagu yang begitu seksi, berduaan dengan seorang gadis seksi pula, Pak Udin kembali ngeres, tua-tua nafsunya besar juga. Tukang kebun itu tampak berniat jorok me-reply adegan tersebut tetapi dengan gaya berbeda bersama Nona majikannya yang cantik seksi itu. Baru saja lagu itu mengalun dan dia ingin berbalik, dia merasakan sebuah tangan dengan permukaan kasar sedang meremas gemas bongkahan pantatnya, Sherin menolehkan muka ke kanan dan terlihatlah wajah tua Pak Udin tukang kebunnya, Pak Udin menyeringai mesum sementara Sherin menatap kesal.

“Kenapa Non cantik Hhmm…keberatan ??”tanyanya sambil menatap tajam penuh nafsu dan meremas kencang pantatnya.

Sherin yang teringat akan skandalnya yang diketahui Pak Udin hanya bisa membuang muka dengan kesal, dia terpaksa pasrah digerayangi tangan keriput Pak Udin, tidak jauh dari situ ada kaca yang biasa untuk melihat gerakan tangan mengangkat barbel-barbel kecil berbobot 3Kg, Sherin membuang muka tepat sekali ke arah kaca tersebut, sehingga dia bisa melihat sendiri pelecehan demi pelecehan yang terjadi pada dirinya. Saat tangan tukang kebun itu meremas payudaranya, mulut hitam karena rokok murahan yang asyik mencupang leher jenjangnya, lidah Pak Udin yang menjilat lengan mulusnya, semuanya terlihat Sherin, gadis itu benci namun terangsang jua olehnya.

“Non…Ehmm…tolong…digedein lagunya…Ehm..diulang-ulang…lagunya yang ini aja”

suruhnya sambil terus mengerjai leher Sherin.

Sherin yang sedang on-onnya terangsang berat oleh tukang kebun yang dibencinya itu, berjuang untuk mengambil remote, sepasang mata jelitanya yang sedang mendelik-delik sayu mencoba membuka lebar untuk mancari tombol ‘Repeat This’. Dengan perjuangannya itu dia berhasil dan segera memencat tombol itu, namun tak lama,

“Aaaaahh…”desah Sherin hingga melepas pegangannya pada remote CD itu dan jatuh ke lantai ruangan fitness.

Ketika Pak Udin melahap payudaranya yang montok dengan lapar tiba-tiba. Diserang seperti itu membuat Sherin reflex berjalan mundur mencoba menjauhkan payudaranya dari lahapan rakus mulut tukang kebunnya yang sudah jelas-jelas menguasainya itu. Tangan keriput Pak Udin mengelus-elus menjamah punggung putih mulus Sherin dan meremas pantat sekalnya, Sherin semakin mengerang-erang dikerjai pembantunya itu, dia bukan hanya bergerak mundur tetapi berputar-putar di tempat tak jelas, pikirannya sudah melayang terangsang, mulutnya menganga dan nafasnya mendengus berat saat Pak Udin mengobok-obok vaginanya yang masih belepotan sperma. Keadaan Sherin memang dalam tanggung orgasme, sehingga sangatlah mudah dikerjai,

“Aahh…oohhh” Sherin mengerang panjang meraih orgasmenya dengan tukang kebun itu.

Dia mendekap erat kepala Pak Udin hingga terbenam di antara payudaranya, melepaskan semua birahi tanpa mengindahkan kehormatan yang disandangnya sebagai seorang Nona majikan.

Tukang kebun itu tertawa sinting, melihat jari tengahnya yang masih menancap di vagina Sherin dan pemiliknya itu bergoyang-goyang sehingga jari Pak Udin pun terbawa kesana kemari, “Hak hak hak…dasar lontee…!!”leceh Pak Udin. Setelah selesai orgasme, Sherin lemas dan jatuh menyamping kepelukan tukang kebunnya sendiri, Pria tua itu dengan bangga menangkap tubuh sintal nona majikannya. Pak Udin mencabut jarinya dari vagina Sherin dan langsung dijejalkan ke mulut Sherin.

“A..Non A”katanya sambil menganga agar Sherin mengikutinya.

Sherin yang sedang lemas itu terpaksa membuka mulutnya dan melahap jari tengah Pak Udin yang belepotan jus Cintanya sendiri dan sisa–sisa sperma tukang kebunnya. Pak Udin yang sedari tadi menahan birahi keduanya, merubah posisi Sherin yang tadinya menyamping menyender menjadi berhadap-hadapan dengannya, kedua tangan Sherin di lingkarkan ke leher kurusnya, Sherin sebenarnya masih lemas, tetapi percuma melarang pemburu yang sudah lapar dan sudah melukai mangsanya, pasti akan terus menggigit dan  melumat mangsanya hingga habis. Tangan Pak Udin mengarahkan penisnya mendekati liang vagina Sherin, tukang kebun itu menagih ejakulasi keduanya, sebelah tangannya menangkup pantat sekal Sherin agar tidak bisa bergerak maupun lari, Jreeess…!!, “Aaaanghh…!!”desah keduanya nikmat.

Kedua insan manusia yang berlainan strata, usia, maupun warna itu menyatu sudah, Pria tua itu sukses memimpin penyatuan kelamin mereka, sebuah dinding vagina yang halus, seret lembut, basah dan juga hangat bergesekan dengan kulit penis yang kasar dipenuhi urat-urat menonjol yang menjijikkan. Pria tua itu serasa kembali muda gagah perkasa, bisa menyetubuhi gadis seumur cucunya itu, berparas cantik pula, maka tanpa membuang waktu yang ada, Pak Udin si pria tua itu langsung menggenjot Sherin sang nona majikan yang angkuh. Posisi mereka jadi seperti huruf E3, berhadap-hadapan sambil berdiri, mulut hitam Pak Udin memaksanya untuk berpagutan, kedua tangannya digunakan meremas pantat dan payudara Sherin, kelamin mereka bergesekan keluar masuk. Pak Udin nampaknya ingin persenggamaan ini lebih lama, karena itu dia menggenjotnya dengan kecepatan sedang tidak terlalu cepat agar tidak terlalu menghamburkan tenaga dan dapat menikmati kenikmatan langka ini lebih lama. Sherin sedari tadi juga sudah terhanyut oleh gaya Pak Udin yang khas itu. Tanpa disadari dia menggerakkan tubuh bagian bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis ala Pak Udin tukang kebunnya. Mata pria tua itu sesekali menatap kedua payudaranya yang turut bergoyang-goyang mengikuti goyangan tubuhnya saat melepaskan adu mulutnya. Pak Udin dan Sherin berbarengan merasakan nafsu mereka berdua baru naik ke tingkat berikutnya, dimana step berikutnya adalah klimaks, Pak Udin ingin ‘menjajal’ gaya lain pada tubuh indah Nona majikannya yang seksi karena rajin fitness itu. Tukang kebun bejat itu duduk di bangku fitness, sebuah alat untuk mengencangkan betis agar indah seperti si Nona Sherin,

“Sini non, sok bapak pangku!”suruhnya mesum.

Dengan menatap benci namun horny, Sherin menurut saja dan naik ke pangkuannya, tampaknya tukang kebun itu menginginkan gaya Cowgirl, ingin nona majikan cantiknya menaiki penisnya dan mengendarainya, tanpa malu-malu Sherin pun langsung menuntun penis Pak Udin memasuki miliknya. Harapannya adalah agar dia cepat selesai dan segera bebas dari derita birahi. Begitu penis itu masuk ke vagina dan diiringi desahan, Sherin langsung bergoyang di pangkuannya, Pak Udin membalas gerakan dengan menaik turunkan tubuh berlawanan dengan Sherin, sehingga tusukan itu semakin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan dada, tangannya mengelus-ngelus punggung dan satunya meraba payudara, mulut hitam itu menangkap payudara yang satu lagi. Pak Udin menyedot dan mengulum dengan rakus, kumis tipisnya terkadang bergesekan dengan permukaan dada memberikan rasa geli dan sensasi tambahan. Sherin yang sudah horny ditambah merasa kesal ditaklukan tukang kebun berumurnya itu, menaik-turunkan tubuh seksinya dengan gencar, menumbuk penis dengan vaginanya dalam-dalam sampai Pria berumur itu kelabakan melenguh-lenguh keenakan.

“Uuugghh…oohh…memek Non…enak banget…siy Eenghh…memek..memekk..!!”.

Ceracau tukang kebun tua itu tergila-gila dengan kenikmatan vagina Sherin, desahan sang Nona cantik Sherin bercampur baur dengan lenguhan Pak Udin pembantunya hingga memenuhi ruang fitness keluarga. Pak Udin merangkul pundak Sherin dari belakang dan menekan-nekan ke bawah, sementara Sherin bertumpu pada pundak kurus Pak Udin untuk mengangkat tubuhnya, sehingga gerakan mereka berlawanan. Mereka menceracau nikmat menuju klimaks bersamaan.

“Uaaahh…Uuaahh…Eeengh…Hhaaahh…”. Kepala mereka berdua bertengadah disertai lolongan panjang dari mulut saat mencapai klimaks yang hampir bersamaan. Keduanya menekan pundak masing-masing lawan main, CROOOOTTT !! JROOTT !! CROTT !!

Ekspresi mereka berdua, melepaskan gairah dan melupakan sejenak status mereka untuk menggapai surga bersama, tubuh mereka melekat tanpa perekat, berpelukan dengan rasa yang bercampur aduk diantara keduanya, benci dan nafsu, sehingga membuahkan sebuah gairah yang menggebu-gebu, mereka pun mengakhiri persetubuhan dengan kissing each other. Sejenak Nona majikan yang angkuh itu melupakan sifat buruknya yang suka omel sana omel sini, setelah mendapat orgasme yang kesekian kali dari orang yang dibencinya itu. Kemesuman Pak Udin membawa kebaikan bagi Sherin rupanya. Setelah garapan ini, Sherin baru diijinkan makan siang dengan tenang. Kali ini keberuntungan berpihak pada Sherin karena memasuki sore hari, orang tuanya pulang. Sherin senang bukan main, tentu senang untuk sementara waktu. Karena dalam beberapa hari ke depan, dengan sembunyi-sembunyi Pak Udin suka menagih jatah. Sampai akhirnya dia menemui ajalnya.

<><><><><><><><><><><>

# Warteg #

Imron dan Maman masih membicarakan rencananya dengan berbisik-bisik, hingga tak sadar akan waktu yang terus berjalan.

“Oh iya jam 5 lewat…”Imron kaget melihat jam di warteg itu.

“Bu..itu jamnya bener ?”tanya Imron pada pemilik warteg.

“Ini malah kelambatan Pak!”jawabnya.

“Waduh…iya makasih Bu!”.

“Kenapa lu Ron…?”tanya Maman penasaran.

“Berapa Bu…?? enggak udah nanti aja di jalan”jawab Imron.

“Berdua jadi Rp.10.000,-“kata Ibu penjual makanan.

“Nih..makasih Bu”tutup Imron sambil merogoh kantongnya.

“Iya sama-sama”jawab si Ibu.

“Wah…tengkyu dibayarin Ron ehehehe…!”.

“Ah gapapa…yuk Man…!!”kata Imron mengajak Maman keluar warteg.

Maman yang masih bingung itu mengikuti bosnya, bagai kerbau dicocok hidungnya, dia kembali mengayuh becak dengan Imron di atasnya.

“Gini Man…tadinya sih emang rencana gue hari ini lu mau gue janjiin cewe yang gue maksud…eh elu udah keburu nyamperin gue”kata Imron.

“Eheheh…sori Boz…abisnya udah kebelet…dari kemaren bini gua ngajakin gua tolak melulu…alesan gua capek…padahal gua mau simpen peju buat janji lu itu”kata Maman mesum.

“Buset lu gile…bini sendiri…parah luu !!”kata Imron.

“Ya beda lah tunggangannye…ehehe”jawab Maman ngeres.

“Iyalah…wajar kali…omong-omong yang mau gue kenalin ke lu itu namanya Ellen”kata Imron.

“Wah wah wah…dari namanye aje udah mantep tuh…jadi ngaceng gua…sama cantik kaya yang di kerbutin gue dan anak-anak di WC ya??”tanya Maman menyinggung Joane.

“Yap…tipe-tipe anak Kampuslah u now”kata Imron sok English.

“Hah kuno ??”tanya Maman.

“U now bolot…udahlah lo ga bakalan ngerti”kata Imron sok.

“Ya ileh…mentang-mentang lagi deket sama Bule…”sindir Maman tentang Megan.

“Heheheh gitu deh oya…”

Imron mengambil sesuatu dari kantongnya yang rupanya handphone miliknya. Pervert Janitor itu menekan sebuah nomor dan,

“Hai, Non Ellen, sudah dimana sekarang ?” tanya Imron pada seseorang.

“Saya sudah di kelas Pak, tolong cepat dong Pak, saya besok banyak kerjaan nih”sahut sang gadis memohon.

“O ya udah, tunggu bentaran yah, saya kira-kira lima menitan lagi sampai sana”jawab Imron, “dan…satu lagi, sebaiknya non abis ini buka baju, saya harap begitu saya masuk Non udah telanjang nyambut saya”suruhnya.

“Eerrr..ta-tapi Pak..”sebelum menyelesaikan protesnya atas perintah edan Imron, telepon sudah ditutup dan langsung mengakhiri pembicaraan, karena Imron tidak mau dibantah oleh budak seksnya. Maman yang mendengar percakapan tersebut semakin nepsong saja, maka dia pun sedikit mengebut.

“Man…kabar gembira…cewe lu udah nunggu siap lu garap habis-habisan okeh”

“Okeh boz makasih…”kata Maman senang.

“Kalo ga salah denger…si Bos nyuruh dia telanjang ya..??”tanya Maman lagi penasaran.

“Iya makanya lu cepet…ntar dia masuk angin lagi ”jawab Imron.

“Biar masuk angin juga yang penting cantik…Ok Boz pegangan Hiyaaa…”kata Maman semangat, sampai-sampai membalap Vespa disampingnya.

“Eh belok belok awas nabrak gila…”kata Imron, takut dengan gaya nyetir Maman yang katanya pernah mempecundangi Ananda Mikola & Moreno Suprapto yang tidak pernah berprestasi itu, padahal bisa mempecundangi mereka berdua pun bukan hal hebat, karena semua orang mampu, tepat di belokan itu ada sebuah drum berisi penuh sampah.

“Edededeh…awas geloo…!!”protes Imron.

Ckiiiiiittt…!! Becak Maman belok dengan sukses tanpa menabrak drum sampah, tentu dengan pengalaman Maman mengendarai becak, hal itu merupakan masalah yang enteng buatnya.

“Tenang aja Bos…”sahut Maman.

“Tenang..tenang…hampir aja gue balik ke alam gue…tumpukan sampah !!”omel Imron yang sehari-hari berteman dengan WC dan sampah sampai jenuh.

Ellen

Ellen

Mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan, yaitu kampus dimana Imron menjabat sebagai cleaning servicenya, karena langit sudah menguning mereka pun langsung ke atas lantai 5 dimana telah menanti seorang gadis kampus cantik bohay dan telanjang sesuai request Imron sang penguasa. Imron mendorong pintu itu, Braaakk…!!

“Iyaaahh…”jerit kecil gadis cantik bernama Ellen itu sambil reflex menutupi tubuhnya yang jelas-jelas sudah telanjang bulat siap dilahap Maman.

Ellen kaget ketika sedang berjalan menuju pintu hendak melihat ke luar tiba-tiba pintu itu terbuka. Yang membuatnya lebih kaget adalah ternyata yang masuk bukan hanya Imron seorang, tadinya Ellen berpikir si Imron membawa siluman buncit jadi-jadian, sehingga Ellen pun refleks menjerit kecil sambil menutupi bagian sensitifnya dengan tangan. Maman yang baru masuk itu langsung terbengong, matanya yang besar seperti mau copot melihat gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda tanpa sehelai benangpun di tubuhnya, dia memang tahu bahwa akan ada seorang gadis yang sudah telanjang menantinya, tetapi pemandangan di depan matanya ini benar-benar berbeda dengan bayangannya, benar-benar lebih menggairahkan dan sesuai dengan harapan mesumnya. Imron hanya terkekeh melihat reaksi keduanya.

“Gimana Man, suka gak sama yang satu ini ?”tanyanya seraya menarik lengan Ellen yang menutupi payudaranya.

“Su..su..suka…suka banget Ron, hebat yah lu bisa dapet cewek kaya gini !!jawab Maman terbata-bata saking senang dan terangsang hingga air liurnya meneretes ke lantai.

“Nah, Non Ellen hari ini temenin temen Bapak aja yah, ini kenalan dulu dong, namanya Maman, tukang becak dekat sini, ntar Non dikasih naik becak gratis sapa tau hehehe” sahut Imron sambil menarik lengan Ellen agar dia lebih mendekat.

“I.i.iya Non..boleh banget…apalagi kalo lagi kaya begini”kata Maman mesum, sepasang mata besarnya menyapu seluruh tubuh Ellen, dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Tuh Man, kenalan dulu dong, biar lebih akrab !!

Maman langsung menangkap tubuh Ellen yang didorong Imron ke arahnya. Pria tambun itu memutar tubuh Ellen lalu mendekapnya dari belakang, tangannya langsung menyusuri tubuh gadis itu.

“Hehehe…kenalin saya Maman, Non namanya siapa ?”tanya pria bertubuh gempal itu sambil meremasi payudara kiri Ellen dengan gemasnya.

“Mmhh…Ellen Bang !”jawabnya sambil mendesis.

Ellen mendesah lirih saat jari-jari besar pria itu mulai menyentuh kemaluannya yang tertutup bulu-bulu hitam lebat serta menyentuh bibir vaginanya. Ia memejamkan mata dan sedikit meronta, tentu saja secara jujur ia tidak rela tubuhnya dijamah tukang becak yang tampangnya tidak kalah buruk dari Imron itu, namun sebagian dirinya menikmati rabaan pria gemuk itu. Imron hanya berdiri melipat tangan sambil cengengesan saja melihat pergumulan mereka.

“Udah ya Man, gua tinggal dulu biar lu lebih asoy, ingat !! pokoknya jangan sampai dia terluka !!” kata Imron memperingatkan sebelum berjalan menuju pintu.

“Siplah Ron, pokoknya gua mau seneng-seneng dulu sekarang, makasih banget loh !” katanya sambil terus asyik menggerayangi tubuh Ellen.

“Nah baik-baik yah Non, puasin dia kalau Non mau cepet pulang” perintah Imron sambil mengelus pipi mulus Ellen, lalu melumat bibirnya beberapa detik.

Imron keluar dari ruangan membiarkan Maman menggarap Ellen didalam. Senyum jahat mengembang di wajah buruknya, rencana tahap pertama sukses, biarlah mengorbankan barang lama untuk mendapatkan barang baru demikian pikirnya. Imron menuju ke tempat dimana dia biasa merebahkan diri, yakni gudang yang masih terdapat Fanny dan Kusman bersetubuh, Imron pun akhirnya ikut menggenapi menjadi threesome.

“Mmhh…Bang Maman…cepet Bang…saya mau Emmhh..pulang !!”pinta Ellen sambil mendesah terangsang.

“Looh…mao kemana buru-buru…kata Bos kan Non musti muasin Abang dulu sayang” rayu Maman mesum sambil terus menggerayangi Ellen.

Sepasang payudara montok gadis itu jadi bulan-bulanan, tukang becak itu meremasnya habis-habisan, begitu gemasnya Maman pada Ellen, pantat sekal dan paha putih mulus jenjangnya pun tak dibiarkan selamat oleh tangan gempalnya.

“Kalo Non Ellen mao cepet pulang…Non musti cepet-cepet bikin Abang keluar…karena itu…kita musti kenalan lebih dalem !!”kata Maman sambil tiba-tiba menusuk vagina Ellen dengan jari tengah gemuknya.

“Aaaaahh…!!”jerit Ellen hingga menggema di ruangan kelas kampus itu.

“Hihihihi…”tawa Maman mesum.

Vagina Ellen yang dari tadi sudah mulai berlendir, semakin becek saja dengan permainan jari Maman yang sangat berpengalaman itu. Sebelah tangannya terus meremas payudara kiri Ellen yang putih bulat menggemaskan seperti Bakpau, bibir hitam tebal Maman terus  menyedot dan lidah kasarnya sesekali menjilat leher Ellen, agar si gadis semakin takluk dan terangsang sehingga semakin mudah untuk digarap habis-habisan.

Pundak mulus Ellen sesekali dikecup Maman dengan penuh perasaan layaknya sepasang kekasih, kecupan itu berlawanan dengan remasan tangan gempal Maman di payudara montoknya, dan tusukan jari tengah di vaginanya yang notabene cenderung kasar, kedua hal yang kontra itu menjadi sebuah serangan pada Ellen, seirama dengan yang dirasakan di vagina dan payudaranya, dia merasakan sakit berbalut nikmat, kecupan itu merupakan kenikmatan plus yang diberikan Maman, kenikmatan itu membasuh perih yang diderita olehnya dan menggantinya menjadi nikmat, sehingga jika dikalkulasi ulang, apa yang dirasakan Ellen adalah nikmat plus plus. Hal itu dibuktikan dengan lendir yang terproduksi berlebih hingga becek di vagina Ellen,

Plooph…!! “Aaanghh…”desah Ellen, Maman mencabut jarinya dan mendekatkan jarinya ke hidung besar peseknya.

“Hhmmm…wangiii…wangi banget Non Ellen…emang selalu dirawat apa khusus untuk menyambut Abang Non”katanya mesum.

Ellen memalingkan wajahnya yang sedang horny-hornynya itu, menoleh ke kanan tepat menatap wajah Maman yang hitam, jelek, seram, bau, tembem dan sedang menyeringai mesum pula ke arahnya, sebuah siksaan birahi yang bertubi-tubi. Tapi tatkala Ellen melihat Maman menghirup aroma vaginanya di jari gempalnya, dia malah horny dan merasa seksi.

“Sluurrpph…”bunyi Maman melahap jari tengahnya sendiri yang dipenuhi lendir manis vagina Ellen.

Ellen hanya bisa menatap kosong melihat kemaniakan seks Maman, dia semakin merasa seksi dan siap memberikan akses penuh persetubuhan pada tukang becak itu. Mata jelita Ellen sayu seksi menatap mata besar Maman, bibir mungil merah mudanya menganga, seperti istri yang sedang terangsang ingin menggoda sang suami, melihat Ellen yang dari awal sudah seksi sekarang semangkin sekseh sajah…Maman menegak ludah. Birahinya meningkat, nafasnya mendengus berat, tanda nafsu hewaniahnya berkumpul di satu titik.

Ellen sukses besar menggoda Maman si tukang becak, entah dia tahu atau tidak bahwa hal itu akan menjadi sebuah boomerang baginya, hal yang sangat berbahaya bagi dirinya, dimana jelas-jelas di kelas itu hanya ada Maman dan dirinya, tidak ada penolong bagi dirinya. Ellen menciptakan secara tidak sengaja dan langsung sekelumit penderitaan untuk dirinya sendiri, tentu dia tidak tahu bahwa Maman dalam beberapa hari ini telah sengaja menahan dirinya untuk berhubungan seksual dengan istrinya. Sperma yang tersimpan selama beberapa hari itu telah siap tembak sedang mengambil nomor urut dan mengantri, dimana Maman sebagai sniper cabulnya. Maman yang sudah birahi itu segera membalikkan tubuh Ellen hingga berhadap-hadapan, mulut besarnya melahap payudara kanan montok Ellen, sementara tangan kiri Maman meremas payudara yang sebelah kiri, tangan kanan gempalnya dipakai untuk mengobok-obok vagina Ellen. Bahkan gilanya, Maman memindahkan mulut hitamnya dari payudara Ellen lalu melumat vaginanya secepat kilat, tangan gempalnya yang dari tadi mengobok-obok vaginanya pun pindah meremas bongkahan pantat sekal sebelah kanan Ellen. Kejadian itu terus berulang-ulang hingga membuat Ellen mendekati orgasmenya.

“Aaahh…Aaahh…Bang Maman…Aaanghh…Haaahh !!”desah Ellen horny berat.

“Sruuupph…sruupph…slurph slurph Aaahh..clek clek !”seruput Maman asyik.

Sambil menyeruput mereka bertatapan mata bertemu mata, Ellen berteriak dengan keras menjambak rambut tukang becak yang baru dikenalnya beberapa saat itu, “Iyaaaahh…Yessh, Aanggh !!”.

Ellen pun menyerah pada permainan mulut Maman, Maman yang sedari tadi naksir berat terpesona melihat kecantikan Ellen dan langsung bugil dihadapannya itu memang sudah memutuskan untuk menikmati seluruh bagian tubuh Ellen, dengan menggunakan apapun, baik itu penis..tangan..hidung maupun mulut, kesemuanya harus merasakan vagina Ellen.

“Gluk gluk gluk…Enyaaak…sshhrrpp !!”imbuh tukang becak itu.

Tubuh Ellen mengejat seksi, tangannya secara reflex mendorong kepala Maman yang masih getol menyorongkan ke depan ke arah vaginanya penuh nafsu, tetapi tenaga Ellen tentu tidak sebanding melawan nafsu buas Maman, jadi dia hanya bisa mendesah pasrah.

“Aaaahh…memek Non Ellen emang enak…gurih pisan…segeerrrr !!”kata Maman.

Pria bertubuh gempal itu berdiri, kebalikannya..Ellen yang lemas karena orgasme malah duduk bersimpuh, Maman memaklumi hal itu, pengalaman Ellen tentu tidak sebanding dengan jam terbangnya. Tukang becak itu melepas kaos hijau lusuhnya yang bergambar partai, menunjukkan pada Ellen perut buncitnya yang berkulit hitam legam khas pekerja kasar rendahan, udel hitam dan penuh kotoran itu melengkapi penderitaan pandangan Ellen. Kalau mau jujur, tentu Ellen mau lari terbirit-birit melihat pemerkosanya yang seperti siluman itu, bahkan masih lebh mending siluman daripada Maman. Ellen yang malang sangat disayang, gadis cantik kampus itu tidak boleh lari walaupun bisa, dia diperintah oleh iblis berwujud manusia yang bernama Imron, sang bidadari Ellen ditugaskan untuk melayani nafsu bejat Siluman buncit yang bernama Maman. Penderitaan itu bertambah saat Maman melepaskan celananya dan menunjukkan senjata andalannya, sebutannya adalah “perobek selaput dara-penghancur vagina”. Melihat penis Maman, secara refleks Ellen menutup vaginanya, berharap agar benda yang berdiameter lebar sesuai tubuh gempalnya tidak jadi menggesek-gesek vaginanya.

“Bang udah bang…bang Maman…ampun bang aku mau pulang.!!”iba Ellen.

Hal yang sangat mustahil, tetapi Ellen terus berharap, dia terus menjerit kecil saat Maman berjalan mendekatinya langkah demi langkah, gadis kampus cantik itu ngeri pada penis Maman, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu sangat lebar sesuai tubuhnya yang tambun, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Maman yang sudah telanjang bulat mendekati Ellen sambil tertawa cengegesan.

“Nang ning…ning nang ning nuung…nang ning” ledek Maman mesum sambil bernyanyi menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, penis gemuk Maman mengacung naik turun konak melihat Ellen yang ketakutan, dia juga tertawa cekikikan.

Ellen menggeser mundur tubuh sintalnya sampai akhirnya terbentur ke sebuah bangku kelas karena saking takutnya, si cantik yang tadinya bergairah menggoda pasangannya, kini menarik kata-katanya setelah melihat kejantanannya yang akan bergesekan dengan dinding vaginanya, membayangkannya saja sudah ngilu apalagi sungguhan.

Permohonan demi permohonan terus terlontar dari mulut Ellen, tetapi sama sekali tidak diindahkan Maman dan menghentikan niat mesumnya, malah membuat Maman semakin bernafsu pada Ellen.

“Jangan Bang…ampun !!”mohon Ellen menyilangkan tangan di depan vaginanya.

Maman dengan tenang seakan menguasai medan tempur, menangkap tangan kanan Ellen, dan dipaksa Maman mengocok penisnya.

Melihat keadaan tanpa pilihan lain bagi Ellen, maka dia terpaksa mulai mengocok dan menjilati penis hitam yang menjijikkan itu mulai dari kepalanya sampai buah zakarnya, semua dijilati sampai basah oleh liur. Secara naluriah wanita Ellen semakin bersemangat melakukan oral sex pada Maman, dia mengeluarkan semua teknik menyepongnya sampai tukang becakitu mendesah penuh nikmat. Maman yang tadinya menaruh tangannya kebelakang, sekarang menjambak rambut Ellen kasar, Ellen semakin keras mengocok batang Maman bahkan dengan variasi memutarkan tangan, Maman semakin menceracau seperti orang gila seks, tukang becak itu menangkap kedua tangan Ellen, Ellen menatap mata Maman memelas, Siluman buncit itu langsung memaju mundurkan penisnya menyetubuhi mulut Ellen, dia membetot kasar tangan Ellen berlawanan dengan laju penisnya. Dengan kasar Maman menyentak penisnya ke mulut Ellen, hingga kerongkongannya pun tersundul dimana Ellen merasa tersedak mau muntah, hidung mancungnya terbenam di antara kerimbunan bulu Maman yang beraroma tak sedap itu, jidat licinnya bertepukan dengan perut buncit Maman sang Siluman.

“Aaaarghh…Gilaaa.aa.a !!”erang Maman menuju ejakulasi.

“Mmpph…mmph…mmph”desahan Ellen yang teredam akibat tersumpal penis gemuk.

Maman melepas cengkramannya pada kedua lengan mulus Ellen, dan menjambak kasar rambut merah bondingan Ellen. “Aaaaakkh…. telen lonteee…teleen…Heeeeeggh…!!”, kejan Maman sekuat tenaga. Tukang becak itu menumbuk mulut Ellen dengan penisnya sampai Ellen terpental yang untungnya kepala Ellen yang menghantam bangku mahasiswa itu terlindungi oleh tangan gempal Maman yang menjambak rambutnya.

Crooottt…jruott..croott..crott !!.

“Hhmmpphh…hhmmpph…hmmph”desah Ellen karena mulut mungilnya dipenuhi penis Maman yang sedang menembakkan sperma.

“Telen semuah…semuakh…!”perintah Maman karena dia tadi melihat Ellen membuang lelehan sperma melalui pinggiran mulutnya. Melihat Maman bermata besar dan melotot seram itu, Ellen terpaksa menurutinya dengan menelan sperma Maman yang kental, banyak dan rasanya asin itu, (Hueeek…!!).

Ellen langsung terbatuk-batuk mencoba menelan sperma yang masih memenuhi rongga mulutnya, Maman tersenyum puas karena berhasil mencekoki si cantik dengan sperma, dia mengangkat tubuh Ellen menggendongnya dan menaruh di atas meja belajar kampus, Ellen masih menempatkan kedua tangannya di belakang keher Maman karena takut jatuh, Maman mendekati selangkangan Ellen yang sudah terkangkang seperti huruf “V” itu. Dia menjilatnya sebentar untuk kembali merangsang Ellen untuk memudahkan penetrasi yang akan dilancarkannya nanti gila-gilaan. Setelah kiranya cukup, Maman mengarahkan penisnya mendekati bibir vagina Ellen. Ellen yang masih merangkul leher Maman itu hanya bisa memohon dengan menggelengkan kepala, takut vaginanya dijebol habis-habisan oleh penis gemuk Maman. Dia ingin menutupi vaginanya agar tukang becak itu gagal menyenggamainya, tetapi saat tangan Ellen bergerak melepas rangkulannya hendak melindungi vaginanya, Maman sengaja menggoyang-goyang tubuh Ellen, seakan-akan memberi satu peringatan pada Ellen agar tidak boleh menghalangi nafsu bejatnya.

“Iyaaahh…”jerit kecil Ellen karena takut jatuh, dan kembali melingkarkan tangan di leher Maman yang tebal besar seperti petinju Mike Tyson itu.

Tukang becak itu tertawa terkekeh-kekeh, senang dengan ketidak berdayaan Ellen, si gemuk itu membuka lebih lebar paha Ellen mencari jalan dan merenggangkan sepasang bibir vagina Ellen lebar-lebar, kepala penis besar itu berciuman sudah dengan gerbang kenikmatan Ellen yang menjanjikan surga di dalamnya.

“Eeeenghh…!!”kejan Maman karena sempitnya. Jreeeess…!!.

“Iyaaahh….”desah Ellen panjang, yang ditakutinya datang juga, jebolnya liang vagina oleh si tukang becak berperut buncit berbadan gempal berkulit hitam berwajah seram itu.

“Oooohh…Maknyuss…Eeennggh…enak tenan..ini memek..Uuugh !!”komentar Maman di sela lenguhan nikmatnya merasakan jepitan legit vagina Ellen.

Maman mendiamkan diri beberapa saat menikmati jepitan legit basah nan hangat vagina Ellen yang membungkus penis gemuknya, sembari memberikan Ellen kesempatan pada vaginanya untuk menyesuaikan diri yang notabene tidak akan pernah bisa sesuai lantaran perbandingan sizenya yang hil ya mustahal alias tidak mungkin. Satu-satunya jalan adalah hanya dengan memaksa vagina membuka lebar diluar batas kemampuannya, atau merobek baru bagian tertentu selaput dara.

“Mmhh…Gede Bang…Ehmm…Ellen…Iyaaaahh”belum juga selesai bicara.

Maman yang sudah nepsong berat langsung menggenjotnya brutal penuh nafsu, tangan Ellen yang tadi merangkul leher Maman, mencakar punggung pria tambun itu karena dia begitu dalam menyodokkan penis gemuknya. Diameter batangnya yang tidak adil dengan ukuran vagina Ellen, membuat Ellen putus asa dengan masa depan vaginanya, memang penis Imron kencang dan panjang, tetapi diameter penis Maman merobek bagian yang belum pernah terjangkau sebelumnya. Ellen merasa badan serta vaginanya terbelah dua saat itu, sebaliknya Maman merasakan vagina Ellen serasa vagina seorang perawan, dia tidak perlu darah segarnya, ‘yang penting rasa jepitannya Bung !!’, begitulah prinsip tukang becak mesum itu dengan bangga menyetubuhi anak gadis kampus yang cantik dan seksi seperti Ellen. Sepasang kaki jenjang Ellen yang tadi terbuka lebar hendak merapat, salah satu usaha nihilnya untuk menghalangi laju genjotan Maman, tukang becak itupun langsung tanggap dengan mengangkat kedua betis putih Ellen ke bahunya, tangan gempalnya menangkup pantat Ellen dan kembali menggenjotnya. Dengan gagahnya bahkan si gemuk itu mengangkat tubuh Ellen dan menggunakan gaya monyet memanjat pohon kelapa, dengan gaya ini penis Maman terasa dalam masuk ke sela-sela vagina Ellen, sebaliknya Ellen merasa vaginanya seperti di aduk-aduk terobek-robek. Maman tak tahan lagi, sambil terus menggenjot Ellen dengan menaik turunkan tubuhnya, dia berjalan menuju bangku kampus di dekatnya, tukang becak itu mengangkat tinggi-tinggi Ellen dimana vagina Ellen hanya mengatup bagian kepalanya saja, lalu saat menurunkan tubuhnya untuk menumbuk dan memijat penisnya.

Maman tiba-tiba duduk, sehingga vagina Ellen terasa dalam ditusuk penis Maman yang berdiameter mustahil itu, sperma Maman yang telah ada diujung kepala penis besarnya pun berontak, Jleeebbh !! CROOOOTTT….!! “Iyaaaahhh…”desah Ellen. Merasakan vaginanya disembur kencang sperma Maman dan mengobati sejenak liangnya yang hampir kering lecet digarap tukang becak bertubuh gempal itu secara brutal.

“Uwooohh…”erang Maman klimaks, Croott…Jrooottt…crott !!.

Semburan demi semburan memenuhi vagina Ellen, sperma yang dari tadi mengantri sejak melihat Ellen telanjang bulat itu keluar sudah, Maman dan Ellen sama-sama menggeram setiap kali Maman menyemprotkan sperma, mata mereka bertatapan, Maman mendekap erat tubuh Ellen saat spermanya menyemprot, persetubuhan mereka selesai sudah. Nafas mereka mendengus cepat, Ellen mengira ini telah berakhir, malang nian kau Ellen. Maman duduk masih memangku Ellen dengan gaya tadi, kedua betis Ellen masih di bahu gempalnya, kedua tangan Ellen masih melingkar di belakang leher Maman bak sepasang kekasih. Wajah mereka dekat sekali, surga bagi Maman bisa melihat wajah cantik Ellen gadis kampus hadiah teman bejatnya Imron yang baru saja digarapnya, neraka bagi Ellen melihat pejantannya yang amburadul lebih buruk dari jin gundul dan bermata pencaharian sebagai tukang becak. Walau begitu, gadis kampus cantik itu pasrah dan mata kedua sejoli itu bertatap-tatapan dengan maksud yang berbeda tentunya. Maman berdiri dan menurunkan Ellen dari papahan tubuh gempalnya, penis gemuk yang terselimut sperma dan lendir Ellen melunak. Ellen bagaikan ikan yang jatuh ke daratan, mencari-cari udara dengan mulut terbuka, duduk di bangku sambil melempar pandangan ke arah Maman, yang kini kembali mengocok-ngocok penisnya agar kembali bangun dan kembali beraksi. Maman menundukkan kepalanya dan mencium pipi Ellen, diteruskan ke bibir, mereka berpagutan beberapa saat, kemudian memisahkan diri dengan jarak dekat namun saling tatap, Ellen memandang mata besar Maman dan Maman balik memandang mata jelita Ellen.

“Uuuaahhh…!!”desah Ellen refleks.

Dengan gerakan secepat kilat yang tidak kalah dengan Super Hero The Flash, Maman langsung melahap payudara Ellen. Bibir hitam tebalnya bergantian menyusu payudara montok berkulit putih Ellen, tangannya meremas pantat Ellen dan satunya masih mengocok penis gemuknya agar kembali sadar dari pingsannya…Berhasil !!

Penis gemuk Maman kembali mengacung, celaka bagi Ellen, si cantik itu melihat persis pula di hadapannya,

“Aaahh !!” jeritnya tiba-tiba hingga Maman yang sedang asyik itu dibuatnya kaget.

“Hah..hah…ada apaan Non..?? ada orang ??”pertanyaan tolol Maman pada wajah tololnya.

Ellen bingung menjelaskannya, karena bukan itu maksudnya, tapi…itu tuh yang ada di selangkangan hitamnya, dimana mata Ellen kembali menatap ketakutan ke arahnya.

Maman langsung konek, otaknya yang tadi hanya Celeron menjadi Pentium Dual Core. Si gemuk melihat ke arah dimana letak lemparan pandangan ketakutan Ellen, tak lain dan mutlak adalah, kemaluan gemuknya yang mengacung.

(Hue he he…ini toh yang dia takutin), dalam hati Maman. Tukang becak bertubuh gempal itu malah sengaja menangkap tangan Ellen. “Kyaaa !!”jerit kecil Ellen ketakutan.

Ketika tangan mungilnya yang berkulit putih halus dan mulus bak sutra China itu dicengkram tangan gempal Maman yang berkulit hitam. Tangan sempurna itu di posisikan Maman ke penis gemuknya, untuk mengocoknya naik turun. Sebuah kekontrasan yang seksi, perjodohan yang serasi dan sedang terjadi.

“Bang udah bang…tadi kan udah…bang Maman, Ellen mau pulang.ya ?!”iba Ellen.

Tangannya masih disibukkan paksa oleh Maman naik turun mengocok penis.

“Non…tau ga..waktu Abang dijanjiin sama Pak Imron dikenalin Non Ellen..Abang ampe nahan..Eeenggh enggak ngentot Bini Abang…Abang biasanya Eennghh…ngentot sehari empat kali..sekali main Eenggh nambah dua kali..jadi Abang biasa keluar peju dua belas kali sehari..Eeenggh ini baru aja dua kali…baru seperenamnyah pan..??”terang Maman sembari melenguh keenakan dikocok tangan halus Ellen.

(Gelo aja lu gua musti dientotin sepuluh kali kali lagi…itu sih salah lu sendiri), kata Ellen dalam hati. Edan memang si gemuk ini, bisa jebol vagina Ellen bagai tragedi memilukan Situgintung.

“Itu juga Abang udah beberapa hari lo nunggunya..jadi itung aja”terang Maman lagi yang semakin membuat Ellen putus asa. (Bisa mati orgasme gua..),dalam hati Ellen.

“Ya udah…sekali lagi aja ya kalo gitu”tawar Maman. (Huff..sukurlah), pikir Ellen lega.

“Kocokin pake toket Non dong..!!”. Perintah tukang becak itu menyuruh Ellen mengocok penis gemuknya dengan payudara montoknya.

Ellen segera menjepit penis itu dengan daging kenyal di dadanya, pijatan itu membuat Maman merem melek keenakan, tangan gempalnya sampai meremas rambut Ellen dan menjambak kuncirannya. Tak lama kocokan itu membuahkan hasil, spermanya muncrat dengan deras di wajah Ellen. Ellen sebenarnya ingin menghindar dan berhenti, tetapi dengan cekatan karena tanggung, Maman mencengkram tangan Ellen untuk kembali memijat dengan payudaranya, dan spermanya kembali bermuncratan hingga wajah Ellen belepotan. Maman meratakan mani yang ada di wajah Ellen, hingga wajah cantiknya mengkilap.

“Udah ya Bang…udah puas kan..??”tanya Ellen mengiba.

“Hmm…iya deh !!”jawab Maman seadanya.

Ellen berlalu hendak mengambil pakaiannya yang berceceran, namun baru saja ia selesai memunguti dan ingin memakainya.

“Stop stop Non…jangan dipake dulu ehehehe…”cengir Maman bermaksud kotor.

(Mau apa lagi nih si gendut..?!), pikirnya.

“Non cuci muka dulu di wastafel WC…pan udah sepi ini…Abang anter, trus jangan pake pakean dulu sampe Mobil, biar aja bugil gini !!”suruhnya sinting. Deg…!!, jantung Ellen kembali berdegup. Sesuai yang ditakutinya, tukang becak gemuk ini belum selesai melampiaskan nafsu bejatnya, masih berkeinginan nambah. Maman memerintahkan Ellen untuk menaruh pakaiannya dimasukkan ke Tasnya, Maman sendiri menjinjing pakaian lusuhnya, mereka berdua keluar kelas dalam keadaan bugil. Menuju kamar mandi terdekat, Ellen menuju wastafel dan membilas wajahnya dengan air untuk membersihkan noda hina putih pekat yang melekat, Maman menaruh pakainannya dan, Teplokk…!!,

“Ehhmh…!!”desah Ellen, karena tangan gempal Maman menangkup pantat sekal Ellen yang menungging. Ellen hendak mematikan keran air karena takut Maman mulai macam-macam, tiba-tiba…Sreeekk !!.

“Kyaaa !!”jerit Ellen, karena kedua kakinya disepak Maman hingga merentang lebar mengangkang, sedang Ellen dalam keadaan menungging. Beberapa detik kemudian si cantik merasakan kepala penis besar menempel di bibir vaginanya.

Ellen yang tahu apa yang akan terjadi buru-buru memegang sisi wastafel, betul saja..”Huuunnggh…!!”geram Maman. Zreeeekkk…!!, “Aaakh !!jerit Ellen, vaginanya kembali kebobolan penis Maman yang di luar ukurannya itu. Kakinya mengejang menerima sentakkan kasar pertama Maman.

Maman langsung menggenjot Ellen seperti orang kesurupan. Cermin wastafel di depan mereka persis memantulkan adegannya. Ellen jijik sekali melihat wajah buruk Maman di belakangnya yang sedang nepsong abis, bibir hitam Maman megap-megap mengeluarkan lenguhan lenguhan nikmat, tangan gempalnya menangkap payudara Ellen sambil sesekali menampar pantatnya dengan keras. Ellen merasa sodokan-sodokan Maman terlalu kasar baginya, seolah-olah ingin merobek vaginanya, merobek ke samping, tetapi juga menyundul rahimnya, hingga membuat Ellen mendekati orgasmenya, beberapa menit kemudian tubuh Ellen mengejat-ngejat. Maman mengetahui hal itu, dia membiarkan gadis cantik yang sedang disetubuhinya itu menikmati orgasmenya, mengucurlah cairan orgasmme dengan deras. Ellen mendesah dengan kepala tertunduk dan nafasnya memburu. Setelah merasa cukup memberikan waktu istirahat pada Ellen, Maman kembali dengan ganas menyetubuhinya tanpa ampun, kunciran rambut boundingannya dijambak oleh Maman sehingga kepalanya kembali terangkat, Ellen kembali melihat adegan syurnya bersama tukang becak yang baru saja dikenalnya melalui media cermin wastafel kamar mandi kampus. Tubuh mereka berdua sudah mengkilap mandi keringat, Ellen semakin putih dan Maman semakin hitam legam.

”Huunngghh… Huunngghh… Huunngghh…!!”geram Maman. Si gemuk itu mendekati ejakulasinya, dia menyentak dalam-dalam namun jarang, mata besarnya semakin besar menakutkan, menceracau jorok tidak karuan dan mengejan kuat.

Maman mencengkram kencang pinggang Ellen dan menyentak kasar. Maman dan Ellen bersahut-sahutan melalui erangan nikmat, Ellen juga merasa nikmat di vaginanya karena sehabis ngilu orgasme dan disembur kencang oleh sperma kental dan hangat Maman. Kedua sejoli itu berpeluk erat saat melalui prosesi nikmat itu. Setelah keduanya selesai mengejat-ngejat nikmat, barulah tergolek lemas di lantai kamar mandi, mereka tidak peduli lagi dengan kotor atau apapun karena begitu lelahnya.

“Memekh..Non heh heh…Ellenh…enakh heh..bangeth !!”komentar Maman di sela-sela nafasnya yang memburu.

Ellen bangkit terlebih dahulu mengingat dia masih punya banyak tugas kuliah besok hari, Maman juga menyusul, mereka keluar kamar mandi berdua masih dalam keadaan bugil ria layaknya pasangan Bulan Madu, sperma di vagina Ellen sampai meneretes di lantai itu hingga meninggalkan jejak panjang. Mereka masuk Lift kampus, dan turun menuju lantai dasar, selama di lift Maman juga tak membiarkan sedikitpun Ellen lepas dari gerayangan tangan gempal jahilnya. Setelah itu mereka tepat di pintu utama tempat mahasiswa keluar masuk beraktivitas, dan pintu itu memang sengaja tidak dikunci Imron, disamping maling pun takut dengan sosok penghuninya, seperti Imron, Encep dan Kahar. Maman dan Ellen pun pasti keluar melalui jalan ini, Maman yang dari tadi grepeh-grepeh Ellen tersebut dan mempunyai ide gila. Di jalan pintu utama ini, Maman menyuruh Ellen menungging, langsung saja Ellen di-doggy kembali oleh Maman hingga ejakulasi. Setelah selesai, mereka keluar dari kampus itu dan melanjutkan perjalanan untuk menuju mobil Ellen. Mereka melintasi ruang jaga satpam di depan, dan mendengar suara ah-uh.

“Mm..sapa tuh…sapa ya Non ??”pertanyaan tolol Maman yang tidak masuk akal.

“Mana saya tahu Bang !!”jawab Ellen masuk akal, (Emang gua dukun), dalam hati Ellen.

Maman mengintip sedikit dan, (Anjriiitt…!! sama siapa tuh si Encep…buset cakep banget tuh cewek…!!), dalam hati Maman kembali nepsong.

Yang dilihat si Maman adalah Encep yang lagi asyik menggarap Jesselyn, karena Kahar sedang ada keperluan jadi dia bertugas sendirian dan meminta jasa Jesselyn ini untuk menemaninya melalui malam yang dingin itu dengan hangat tubuhnya, lebih tepat hangat vagina Jesselyn sebenarnya. Dari pagi hingga malam hari rupanya Jesselyn tidak berhenti menjadi objek seks di kampusnya, tadi pagi dia digarap tukang becak, sekarang satpam. Entah dia melakukannya karena ancaman atau menikmatinya.

“Bang ayo dong…saya masih banyak tugas…!!”pinta Ellen dengan sangat.

“Oh iya iya…maap Non, yuk !!”tarik Maman pada Ellen.

Tarikan tangan Maman bukan untuk Ellen cepet pulang, melainkan dia hendak meminta jatah senggama lagi padanya setelah melihat adegan sex Encep dan Jesselyn. Maman tadi sebenarnya ingin bergabung dan bertukar pasangan, tetapi mengingat keperluan Ellen, si gemuk tidak tega juga jadi dia memilih untuk tidak bergabung namun tetap bersenggama pikirnya cemerlang.

“Dimana Non mobilnya…??”tanya Maman.

“Agak jauh Bang…aku pake baju yah..??”mohon Ellen.

“Alaaah..jangan nanti ajah”jawab Maman, Ellen ingin memakai pakaian bukan karena takut ada yang melihat, melainkan melihat si Maman Jr. yang kembali mengacung setelah melihat adegan syur Encep Vs. Jesselyn tadi. Takut kembali dikerjai oleh mereka berdua (Maman Jr. & Maman Sr.).

“Ya udah..naik becak Abang aja deh tuh..!!”tunjuk Maman pada becaknya yang kotor, sekotor otak dan wajahnya. (Gilaa…gue disuruh naek becak bugil sambil jinjing tas kuliah…!!), keluh Ellen.

Karena tak ada pilihan, Ellen menuruti kemauan Maman, mereka naik becak berbugil ria, jika ada yang melihat, pasti hanya akan berkomentar ‘Dasar pasangan sinting !!’. Maman dengan santainya mengayuh becak tanpa mengenakan apa-apa, pakaian lusuhnya ditaruh di kantung plastik. Ellen yang kalut namun pengalaman gila ini membuatnya agak Horny juga, aneh namun ada sensasi tersendiri, tentu di Dunia normal tidak akan terlihat ada seperti ini. Setelah sampai di tempat mobilnya parkir, Maman menagih bermain short time pada Ellen. Tukang becak bertubuh gempal itu menghampiri Ellen yang sudah bugil di dalam becak, hingga ruangan itu langsung terasa kecil dan sempit. Maman menyuruh Ellen naik ke pangkuannya dengan posisi membelakangi, Ellen terpaksa pasrah dan menduduki penis Maman dengan vaginanya, tubuhnya terpaksa membungkuk. Setelah penis menancap, Maman langsung menyodok sambil menaik turunkan pantat Ellen. Ellen terpaksa berpegangan pada atap becak. Becak itu menjadi ‘becak goyang’ pertama yang pernah ada di dunia. Setelah ejakulasi, Maman masih belum puas. Ellen disuruhnya menungging bersandar pada bagasi mobilnya sendiri. Ellen hanya menggeleng-gelengkan kepala putus asa melayani nafsu Maman yang besar itu. (Gila nih gembrot…tuh perut isinya peju doang kali ya ?!), keluhnya dalam hati. Maman menyodoknya dari belakang sambil meremas payudaranya yang bergelayutan. Permainan seks doggy style mereka tidak lama, terakhir Maman menyentak Ellen hingga menabrak bagasi mobilnya sendiri ketika ejakulasi. Maman yang berkelojotan nikmat itu menindih Ellen, vaginanya dijejali penis gemuk yang sedang menyembur sperma yang menjijikkan. Ellen baru diijinkan pulang oleh Maman dengan keadaan yang sudah porak poranda. Maman menyeringai puas setelah berhasil melampiaskan nafsu bejat yang telah lama disimpan untuk istrinya sendiri. Tukang becak bertubuh gemuk itu pun berlari menuju ruang pembantaian Jesselyn, ingin berkolaborasi dengan Encep.

End.

<><><><><><><><><><><>

Case closed for Pak Udin Vs Sherin, Ellen Vs Maman, Kusman Vs Fanny, Agus Jujun Mumung Vs Jesselyn also Encep.

Next Star – Jesselyn, Ivana, Sieny, Joane, Devi and Twins.

Sherin, Ellen, Fanny just as Guest Star.

Imron, Kusman, Encep, the Pedicab Driver (Maman, Agus, Jujun & Mumung) and maybe other as the Penetrator Predator.

Copyright (c) 2009 Diny Yusvita & Mr. Shusaku Kato.

Ditulis & diimajinasikan oleh Diny Yusvita Anggraini,

Terinspirasi & tergugah oleh Nightmare Campus Series,

Direvisi & disetujui untuk dipublikasi oleh Mr. Shusaku.
Sumber : Kisah bb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: