h1

Office Cutie 5: Ujang Nungging, Doggy Style

October 6, 2009
  • Cerita ini hanyalah fiksi belaka, jika terdapat kesamaan nama/kejadian/peristiwa maka itu hanyalah kebetulan semata.
  • Warning…!! Bacaan khusus dewasa, (bukan untuk anak dibawah umur,) alias Adult Only…!! ^_^, Read ror your own risk’s & isi cerita yang berisi adengan kekerasan dan pemerkosaan samasekali bukan untuk dipraktekkan di dunia nyata.(samasekali tidak patut & tidak terpuji untuk ditiru…!!!!!!)
  • Makasih buat Bos Shu yang sudah meluangkan waktu selama ini untuk mengedit, menelaah, menimbang dan memutuskan  untuk memposting cerita-ceritaku ^_^
  • nggak lupa, makasih juga buat semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca & memberi masukan-masukan yang membangun, selama ini, Thank;s u  All he he he.
  • M’kasih banget buat someone yang sudah membantuku untuk merapikan  cerita…..(Y^_^Y)
  • Say NO To Rape ,DRUG’S & Crime’s & Terorism  in The Real World.
  • Satu lagi juga ^ _ ^, dilarang meng-Copy Paste, dan menampilkan cerita ini ditempat lain selain di KBB, Telur Rebus n Arsip Gue.

———————————————————–

Ay Hwa

Ay Hwa

Hari Senin yang sibuk dimana setiap orang terbebani oleh tugas yang menumpuk, seorang office boy yang sudah mumpuni dalam bidang pekerjaannya tersenyum lebar sambil mengetuk sebuah pintu, siapakah Obe yang rajin dan baik hati itu ? he he he OBe itu ada-lah aku, UJANG si ganteng ,baik hati ,ramah, berwibawa ,gagah ,pemberani ,dan cekatan! Akulah Obe masa kini , Obe plus plus ,  he he he he…!!

“Tok.. Tokkk.. Tokkkk” tangan kiri-ku mengetuk sebuah pintu berwarna coklat muda sementara tangan kananku membawa sepiring nasi goreng seafood untuk kekasih baruku, si pengantin baru yang cantik jelita.

“Masukkk…..” sebuah suara merdu menyahut dari dalam ruangan itu.

Daguku terangkat ke atas mirip seperti seorang koki profesional ketika memasuki ruangan Non Ayhwa sementara sesuatu mulai menggembung menyesaki selangkanganku, sesak tapi terasa nikmat.

“Lagi ngapain sich Non??” mata-ku melotot memperhatikan Non Ayhwa yang sedang serius bekerja. Buset dah tuh angka banyak amat, ck ck ck.

“Biasa…bikin laporan laba-rugi” si cantik sepertinya tidak mempedulikan kehadiranku ketika aku mendekatinya.

Ia tampak sibuk sesuai dengan bidangnya, per-Akuntansi-an he he he..

“Non.., sarapan dulu…, nanti sakit lohhh….”aku berdiri tepat di samping kursinya, sesuatu di balik celana dalamku berontak, ber-kudeta ria, kusodor-sodorkan tubuh bagian bawahku, maju-mundur untuk menggodanya.

“Nich yang bikin sakit…..!! “

“UAADOWWHH……!! Sakit Nonnn….!!.uuHsssshhhh,” aku mengaduh, bibir tebalku meruncing ketika Non Ayhwa menyikut selangkanganku yang sedang  bergoyang  berusaha untuk menggodanya dengan ‘tarian Indiaku’ yang terkenal, tubuhku tertekuk membungkuk kesakitan sambil memegangi gembungan di selangkanganku.

“Biar bikin sakitttt. Tapi Non Ayhwa sekarang pasti suka kan sama yang gede-gede…, Ketagihan ni yeeee….. he he he “ aku mencubit kecil pipinya yang lembut.

“Sembarangan!“ dengan tegas Non Ayhwa menepiskan tuduhanku namun wajahnya yang cantik merona merah karena malu, jemarinya yang lentik bergerak dengan lincah menekan-nekan tuts keyboard.

Setelah menutup pintu rapat-rapat aku menghampirinya dan membuka resleting celanaku kemudian membetot sebatang sosis besar milikku yang berwarna hitam kecoklatan untuk segera keluar dari dalam sarangnya, dengan rasa Pe-De yang tinggi kusodorkan batang penisku yang sudah mengacung dengan gagah perkasa.

“UJANG…!! Apa-apaan sich kamu, …!!”

“He he he, Non Ayhwa-kan jago ngitung, nahhh tolong diitungin berapa lembar bulu jembut diselangkangan saya, takut rugiii….kalau laba sich nggak masalah kali yak? Non kok diem sichhh…??Ayo dong Nooonnn….dihitung he he he he“ aku mengacung-ngacungkan batang penisku di samping wajahnya, kuayunkan ke kiri dan kanan.

Buseeetttt….DAH!! Nona Ayhwa sama sekali tidak menggubris batang penisku, jadi malu nehh ^_^, masa didiemin begini ??, aku menggaruk-garuk kepalaku, agak serba salah juga rasanya ketika si pengantin baru malah bersikap acuh tak acuh terhadap ujang junior yang teracung-acung bengong mematung di selangkanganku

“Akhirnyaaaaa…. Beressssss….Emmmmppphhh“

Sebuah senyuman mengembang di wajahnya yang jelita, kesepuluh jari Non Ayhwa saling terkait kemudian tangannya terentang ke atas, tubuhnya menggeliat-geliat untuk mengusir rasa pegal di pagi hari yang indah ini, aku semakin bernafsu, mataku berkeliaran merayapi tubuh Non Ayhwa.

“beres apanya Nonnnn?? Saya  belum beres nich!! Ayo donggg Nonnn!” Aku merengek–rengek agar si cantik ‘segera kembali bekerja’ membereskanku yang masih nggak puguh nasibnya ditengah jilatan-jilatan hawa nafsu.

“Enak aja nyuruh-nyuruh…yang jadi Obe itu kamu atau saya??” ia menyindirku, aku buru buru meliukkan pinggulku ketika sikutnya hendak kembali mematil “The little Ujang.”.

“Yaaaa…, kalau di urusan kerjaan mah saya Obe-nya, tapi kalau urusan ranjang sich, Non Ayhwa yang jadi office girl-nya, saya suruh ngangkang nurut, saya suruh nungging juga nurut, disuruh nyepong juga nurut, iya kan Non ??” aku menjawab sambil mencubit kecil hidungnya.

“Dasar, bisa aja kamu ini, yawdah, sini!!, duhhhh kacian sampe nangis begini…“ telapak tangan kanan Non Ayhwa menggenggam batang penisku sementara jemari kirinya mengelus-ngelus kepala penisku dengan lembut, jari telunjuknya mengusap lelehan lendir nafsu di mulut kemaluanku, mataku sampai merem-melek keenakan ketika tangan si pengantin baru meremas dan mengocoki batang penisku.

“Enak ya Jang…..?”

“Enakk Nonn, enakkkk, terus Nonn, ,Uh-non, Uh..”

“Happpp….!! Slllcckk Ckk Sllccckkk… Happp..!!mum-hh”berkali-kali Non Ayhwa menjilati dan mencaploki penisku.

“Uh-uh, walahhh…..tobattttt….!!Urhh-hssshh” mataku mendelik saat mulutnya menggigit-gigit nakal kepala penis-ku kemudian kepalanya bergerak maju-mundur sambil melakukan hisapan-hisapan kuat setelah meludahkan kepala penisku batang lidah Non Ayhwa yang basah dan hangat terayun-ayun menggelitiki leher penisku, dengan gemas ia meremasi buah zakarku hingga aku meringis antara ngilu dan nikmat.

“Ckk. Ckkk, umm-emh cuph, Darso kemana jang ??Ck mmh Ckk“ sambil menjilati dan mengecupi penisku Non Ayhwa menanyakan keberadaan Darso.

“Dia lagi sibuk..”

“Sibuk ngapain ?? kerja ??“

“Nanti dech Non, saya jelasin, tapi sekarang ini dulu dong say, konsentrasi….” aku terkekeh sambil menunjuk ke arah selangkanganku., Non Ayhwa menarik-narik rambut jembutku kemudian, cuphh-cuphh-cuphh…, diciuminya kemaluanku mulai dari buah zakarku terus merambat naik hingga kekepala penis saat lidahnya membelit memutari kepala penisku tiba-tiba sebuah sms mampir di handphoneku.

“janggg, jangan kasar-kasar sama Non Ayhwa, AWAS LU…!!” aku membaca sms yang berisi ancaman untukku, rupanya Darso mengkhawatirkan keadaan Non Ayhwa.

“Tenang , cuma nyicip dikit  koqq…., gimana udah hasil sama Non Vania & Non Shasha…??” aku mencoba membalas sms dari Darso di tengah nikmatnya permainan Non Ayhwa pada bagian penisku.

Tak berapa lama, handphoneku kembali bergetar. Ternyata balasan dari Darso, “Belon Jang, gua rada grogi nihh…nggak berani ngedeketin mereka….”

“Waduhhh… Bilang aja ada kiriman hadiah dari gua, mereka pasti ngerti koq….” balasku lagi.

“Gua ngak berani Jang…..!!”

“parah LU…..!!ya udah ntar aja ,  lagi asik nih , tanggung, jangan ganggu dulu ah…” aku mematikan handphoneku kemudian meletakkannya di pinggiran meja, tanganku mengelus rambut hitam Non Ayhwa yang indah, kumasukkan penisku kedalam mulutnya.

“Ummmhhh… mummmpphh, Ckk.. Ujaaanggg, gede amat sich, Emm-hhhmmm…,Mufffhhhhh…”

Non Ayhwa semakin aktif memaju-mundurkan kepalanya sambil melumat Ujang junior habis-habisan, tangan Non Ayhwa yang lembut tak henti-hentinya mengocoki batang penisku. Kutarik penisku dari cengkramannya lalu kusuruh Non Ayhwa bersandar ke belakang, kedua kakinya yang mulus mengangkang ketika aku bersujud di hadapannya, bola mataku  mendelik, menatap sesuatu yang indah, sesuatu yang tanpa penutup lagi, vagina Non Ayhwa!!, ohhhh betapa indahnya belahan di selangkangan Non Ayhwa. Belahan bibir vagina si pengantin baru sedikit merekah hingga membuat aku terpana menatap kemolekan liang vaginanya.

“koq cuma diliatin sihh!?? Kalau nggak mau ya sudah ah” tiba-tiba Non Ayhwa mendesis ketus, ia hendak merapatkan sepasang pahanya yang mulus, dengan panik aku buru-buru menahan paha Non Ayhwa yang mulus.

“Duhh, Non, galak amat, udah ngak sabar ya…??celana dalamnya di kemanain Non?? ketinggalan di rumah?? cuuphh cuphhhh cuphhhhhhh Cuphhh.. Muahh Cupphhhh….”

Sambil kutahan kedua kakinya yang hendak merapat kuciumi pahanya bagian dalam kemudian setelah puas kutenggelamkan wajahku pada selangkangan Non Ayhwa, kujilati belahan vagina Non Ayhwa yang harum berkali-kali kucaplok vaginanya hingga si cantik menahan nafas keenakan, ia berusaha menjawab pertanyaan isengku sambil memukul kecil pundakku kemudian menyodorkan vaginanya.

“Nggak usah pura-pura ngak tahu githuu…dech,Hssshhh kan kamuhhh yang nyuruh aku ngak usah pakai celana dalam,  Hssshhhhh”

Di sela suara desisan-desisannya, Non Ayhwa menjawab pertanyaan isengku, ia meringis nikmat ketika jemariku menguruti dan menekan bibir vaginanya, lidahku segera terjulur keluar menggapai klitorisnya, kusapu dengan lembut, dengan lembut batang lidahku membasuh daging mungil itu hingga ia mendesah pelan, kukait-kait dengan ujung lidahku dan kuemut-emut daging kelentitnya, kulumat – lumat bibir vagina Non Ayhwa dengan rakus, kulahap vaginanya hingga ia menggelinjang-gelinjang kegelian, mengejang menahan rasa nikmat.

“Non, duduk disini Non, sekalian roknya naikin” aku menepuk-nepuk pinggir meja kerja Non Ayhwa.

Jantungku berdetak kencang ketika ia menuruti perintahku, ia duduk di pinggiran meja sambil menaikkan rok mininya, sementara sepasang pahanya mengangkang pasrah. Kutundukkan wajahku kemudian sambil melumat bibirnya dengan lembut kugesekkan kepala kemaluanku pada belahan vaginanya,

“Slethhh,Sletthhh… Slettthhhhhhhhh” beberapa kali  kepala penisku menggesek belahan vagina Non Ayhwa yang semakin licin, kepala penisku yang besar tergelincir ketika berusaha menembus cepitan vaginanya. Kugesek-gesek lagi, kemudian kutekan dengan lebih hati-hati, Non Ayhwa membuka kedua kakinya selebar yang ia mampu sambil menyodorkan vaginanya menyongsong tekanan kepala penisku, perlahan namun pasti dengan susah payah kepala penisku yang besar mulai dapat membelah belahan liang vagina Non Ayhwa.

“Hmphhh….” Ayhwa menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan jeritan yang hampir keluar ketika sesuatu menyeruak kasar memasuki cepitan liang vaginanya, kedua tangannya berpegangan pada pundakku, matanya yang sipit membeliak kemudian perlahan-lahan terpejam menikmati sebatang penis besar yang tengah membelah vaginanya semakin dalam.

“Hhh.. Hhhhh… pelan-pelan Ujangg…pelannn, adu-duhduh, ngilu Jang, ngiluuu awwwwhhhh….!!”

“Ini udah pelan nonn…, pelannnnnn….banget kan ?? Pssssttt, jangan terlalu berisik sayanggg, ntar kalo ada yang denger gimana ?”

Kusentak-sentakkan batang penisku dengan lebih cepat untuk menggoda Non Ayhwa yang terdesak-desak kewalahan, wajahnya merona merah, desah nafasnya semakin memburu tertahan-tahan. Kuaduk-aduk liang vaginanya hingga Non Ayhwa terperanjat dan mengeluh, kutusuk dan terus kutusukkan batang penisku sekuat yang aku bisa, sambil memacu batang penisku kuat-kuat, aku menatap tajam wajah Non Ayhwa yang cantik khas oriental, wajahnya semakin cantik ketika ia terperanjat-peranjat keenakan, mulutnya ternganga seperti hendak mengucapkan huruf  “A”, tiba-tiba tubuhnya mengejang-ngejang resah seperti menahan sesuatu, kupercepat irama sodokan-sodokanku, sementara tanganku mencekal pinggulnya, kugempur liang sempit Non Ayhwa dengan kecepatan penuh.

“Ah-crrttt… crrttttt……”

Tubuh molek Non Ayhwa menggeliat nikmat, aku terpana menatap wajahnya yang renyah, butiran keringat meleleh di lehernya yang jenjang, matanya yang sipit membeliak kemudian menatapku dengan sendu sambil tersenyum manis, telapak tangannya  mengusap rambutku. Aku tersenyum penuh kemenangan kemudian dengan gerakan yang cepat penuh nafsu kedua tanganku mencekal tungkai lutut kanan dan kirinya, kukangkangkan kedua kakinya selebar mungkin ke atas hingga punggungnya jatuh ke atas meja kemudian pinggulku kembali terayun maju-mundur dengan cepat dan kuat, kusodok-sodokkan batang penisku menusuki liang Non Ayhwa yang becek nikmat,lelehan cairan puncak klimaks Non Ayhwa membuat lubang sempit itu banjir oleh lendir-lendir putih yang lengket-lengket licin

Suara becek terdengar semakin nyaring ketika aku memompa vaginanya, kutusuki belahan vaginanya dengan liar dan kasar, kupompakan batang besarku berselancar sepuas-puasnya di liang kenikmatan Non Ayhwa hingga ia mendesis-desis tertahan

“Essshhhhh… UUj-JhanGGnnnggghh..crrrtt crrrrrr..urhh-hsshhh.” Ayhwa mendesah dan mendesis panjang, matanya terpejam-pejam sesekali terdengar rintihan lirihnya, vaginanya berdenyutan kuat menyemburkan lendir-lendir kenikmatan.

Tanpa memberinya kesempatan untuk menyesuaikan diri, kedua tanganku segera menyangga buah pantatnya yang bulat padat, kutatap wajah cantiknya, kukecupi kedua mata sipitnya yang memandangiku dengan tatapan mata yang sayu kemudiannn….kuhajar liang vaginanya dengan tusukan tusukan batang penisku, berkali-kali wajah si pengantin baru terangkat ke atas menahan rasa nikmat ketika penis besarku mengoyak-ngoyak liang vaginanya yang peret. Kuaduki liang vaginanya hingga ia meronta kenikmatan, kudesak – desakkan hingga selangkanganku mendesak  selangkangannya. Perlahan-lahan punggungku membungkuk lidahku terjulur keluar kemudian terayun menjilati bibir Non Ayhwa yang sedikit merekah, ia membuka mulutnya lidahnya keluar mengelus dan mengait batang lidahku, kuhisapi lidahnya dengan mesra. Selama beberapa saat kami saling berpandangan dengan tatapan mata sayu sambil menikmati denyutan-denyutan nikmat pada wilayah kami yang terintim.

“Non, punyanya Non Ayhwa enak deh, bikin saya ketagihan…”

“punya kamu juga gede jang, bikin akuuu…..”

“Bikin apa Nonn…??Bilang Nonnn…..bikin apa ??” Aku penasaran.

“Bikin akuuuuuu, keenakan..!!,muachh…!!” Non Ayhwa mengecup pipi kananku, aku membalas kebaikannya dengan mengecupi lalu mengulum bibirnya dengan penuh nafsu , kami berdua saling berpandangan dengan mesra kemudian kembali saling mengecup dan melumat  dengan nafsu yang menggebu.

“emh..! emh! Emh!” suara mulut si pengantin baru yang tersumpal mulutku ketika kupacu liang sempitnya, kusodokan dan kuayunkan batang penisku kuat-kuat dengan gerakan teratur, kunaikkan ritme sodokanku ketika tubuh Non Ayhwa menggeliat resah diatas meja kerjanya, kusodok dan kuhentakkan batang penisku kuat-kuat menghujami belahan vaginanya. Tidak begitu lama kulontarkan tubuh mulusnya ke dalam jurang kenikmatan yang  berlumpur  pekat, penuh desah dan rintihan nikmat yang tertahan.

“EMH…!! Crrrr crrrr….. crrrttttt….Ahssshhh UJANGG…”setelah bibirnya terlepas dari bibirku,tubuh moleknya melenting dengan indah, kedua tangan  sicantik mengibaskan rambutnya ke belakang pada saat yang bersamaan kupacu batang penisku hingga ia menggelinjang dan tersentak menahan denyutan rasa nikmat., tubuh moleknya terus terdesak-desak seirama dengan ayunan batang penisku yang memacu vaginanya dengan kuat.

“Clepp.. Slepphhh.. Plepppphhh…nnn-uhhnn..…..” Semakin kuat aku menyodokkan penisku semakin kuat pula bunyi nyaring yang menggairahkan itu terdengar dan semakin kuat pula Nona Ayhwa mengejang dan menggigil nikmat, lenguhan tertahan terdengar dari bibirnya, tangan kanan sipengantin baru membekap mulutnya sendiri berusaha agar lenguhan dan rintihan kenikmatan itu sedikit teredam. Aku tersenyum  mesum sambil mengaduki belahan vagina Non Ayhwa., kukocek kuat liang vaginanya dengan batang besar di selangkanganku.

“Adu-du-duh Ujanggghhh,, jangan digituinn…., akhu , akhhh seperti diborrrrrrrhhhh… hhssshhhhhh….akkhh Ujhangggg….”

Aku tidak mempedulikan ocehan si pengantin baru, dengan bersemangat kuaduk liang vaginanya yang nikmat hangat. Jantungku berdesir merasakan kedutan-kedutan kuat meremasi batang penisku, selangkanganku terasa lengket oleh lendir-lendir kewanitaan Non Ayhwa.

“Drrrrttthhh… Drrrrrtthh…… Krrrkkk… Clepphh… Cleppphh.. Peeffhh.. Peeffhhhhh…Drrrkkkkkk…Krrrkkkk..Krakkk… Krrakkkkk”

Ada sesuatu yang berderak-derak nikmat ketika aku memutar batang penisku mengaduki vaginanya sementara tubuh Non Ayhwa terperanjat  menahan rasa nikmat , bibirnya  menyemburkan desis-desis kenikmatan yang membuatku semakin bergairah mengaduki belahan vaginanya yang sesekali kukombinasikan dengan menyentak-nyentakkan batang penisku hingga nafasnya tertahan menahan seranganku yang bertubi-tubi menyodoki liang vaginanya yang mungil, tubuh si pengantin baru turun dari atas ketika aku melepaskan cengkramanku, tubuhnya berbalik kemudian bertumpu pada pinggiran meja ketika aku menarik pinggulnya menungging keatas.

“Plekkk… Plekkk Plekkkkk….Plkkkk….” kupukul-pukul bongkahan buah pantatnya yang bulat padat dengan batang penisku, kugesek-gesekkan penisku pada buah pantatnya yang halus lembut kuremas buah pinggulnya beberapakali kemudian kujejalkan kepala penisku membelah belahan vaginanya yang mungil dari arah belakang.

“Plleepphhhhsshhhhh!!UNNHHHH. UJANGGGHH…!!…Akhhhh…!!”

“Psttttt… Nonnn, jangan keras-keras back soundnya.!!” dengan susah payah batang penisku yang besar panjang kembali menyusup memasuki liang vagina Non Ayhwa, Aku berbisik  antara was-was dan horny ketika mendengar lenguhan dan desahan kerasnya.

“ujanggg, pelan pelan dong ahh…, uhhh aduhh….mmmhh mhhhhhh…”

Dengan cekatan dari sebelah kanan belakang aku menyumpal bibir mungilnya untuk meredam keluh kesah Non Ayhwa, sementara batang penisku bergerak liar menyodok-nyodok vaginanya dari arah belakang dengan kuat. Kedua tanganku merayap kedepan kemudian menggenggam payudaranya, kubelai puncaknya hingga ia menggelinjang kegelian, kupeluk erat-erat tubuh mulusnya yang gemetar menahan sesuatu…..

“Hmuuufffhhhh Crrettttt… Crrrrrrrrrrrrrtttt…..sudah Ujang, sudah, aku sudahh hhh .. emmhh ohhh, Ujanggg…nanti saja yaaa, sudah dulu…ahhhh, sudahhh…, sudahhhhhh”, tangannya yang mungil terayun ke belakang berusaha menahan gerakan pinggulku, kemudian ia menarik pinggulnya hingga penisku terlepas dari belahan vaginanya..

Non Ayhwa kewalahan ketika aku bertambah beringas, dengan mesra ia merayuku berusaha meredakan nafsu birahiku yang masih bergejolak dengan liar. Ia duduk kelelahan diatas kursinya, tangannya menarik beberapa lembar tissu kemudian menyeka keringat di dahi, leher dan rahangnya, nafasnya masih memburu keras.

“Tapi Nonnn, saya belum…”Aku mendesah kecewa.

“Iya-iya,  sini…aku bantuin….”

Si pengantin baru berlutut di hadapan penisku dan melakukan aksi deepthroat yang membuatku mengerang keenakan. Lumayan lama juga ia melakukan servicenya hingga kepala penisku berkedut-kedut nikmat, dengan cepat Nona Ayhwa meludahkan penisku dari mulutnya, penisku mengacung kesuatu titik…., sementara Non Ayhwa membantu menjilati kepala penisku dari arah samping, diciuminya batang penisku , lidahnya menjilat menggelitiki leher penisku dari arah samping, jemarinya mengelusi buah zakarku.

“Houfhh..hummphh eummmh Ujangghhmmmh..Ummmhhhh……”

Pipi Non Ayhwa mengempot ketika ia menghisapi penisku sesekali lidahnya memutari kepala penisku dengan teratur tiba-tiba saja ia memuntahkan penisku , telapak tangannya yang halus mengocok-ngocok batang penisku dengan kuat hingga aku mendesis menahan rasa nikmat, Jedutt.. Jedutttt…!! Telapak tangannya menyatu menjepit kepala penisku kemudian bergerak cepat seperti gerakan orang yang tengah berusaha membuat api dengan bantuan sebatang kayu dan daun-daun kering, hanya bedanya ia menggunakan kemaluanku sebagai batang kayu.

“Ampunn Nonn, Amphuuunnn OwaHHHH…..!! Sruuuttt… Crooottt.. Croot-cothh…Choootthhhh” spermaku muncrat mengguyur sepiring nasi goreng di atas meja dan sebagian kecil memercik di atas meja.

“Ih, ujang, gimana sihh ??aduh nasi gorengku..!!”

“Tenang Nonn… he he he, Non belum pernah nyobain nasi goreng super spesial kan??” dengan sebuah sendok kuaduk-aduk hingga spermaku tercampur merata.

“Yeee…, emang aku apaan, masa dikasih makan yang gituan,.. sono beliin..lagi gih!!”

Non Away merapikan pakaiannya kemudian memberikan uang 10.000-an kepadaku yang tengah memakai celana dalam, tiba-tiba kami berdua panik setengah mati ketika mendengar suara langkah-langkah kaki mendekati ruang kerja Non Ayhwa, dengan cepat aku bersembunyi di kolong meja kerjanya sementara ia menyambar celanaku yang belum sempat kupakai dan melemparkannya ke arahku kemudian ia duduk di kursinya  untuk melindungiku.

“Brakkk….!!Ayhwaaa…!! Laporan rugi labanya sudah selesai ??Lho?? kamu koq keringatan begitu sih???”

“Ehh, emmhh Anu Buu, saya kurang enak badan….ini Bu laporannya, Ss-sudah bu , sudah…selesai, ini.” Non Ayhwa berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan menyodorkan laporan rugi-laba.

“Bagus…!! Eh beli nasi goreng dimana nih ??“

“Nggak tahu Bu dibeliin Ujang”

“Saya juga belum sarapan pagi..kelihatannya asik punya nih”

“Emm, ibu mau ?? kebetulan saya sudah sarapan roti tadi….”

“Bener kamu sudah sarapan ??”

“Bener Bu, bener….., bener….”

“Makasih ya , Hwaaaa, ibu bawa nih nasi gorengnya..“

“Silahkan bu, silahkan….”

Aku mendengar suara pintu ditutup dan langkah-langkah kaki menjauhi ruangan kerja Non Ayhwa, wajahku tersembul dari kolong meja menatap wajah Non Ayhwa masih shock, ia tidak menyadari jari telunjukku yang sudah tiba dibelahan vaginanya, setelah kurasakan pas kutusukkan jari telunjukku kuat-kuat, Clebbbb…..!!

“Ow-ow-ow…, Hssshhh UJANGG…!!” si pengantin baru menepiskan tanganku, sepasang kakinya yang mulus melejang-lejang.

“Tenang non, tenaaanggg, saya hanya menolong….”

“Nolong apanya, KAGET TAU!! udah ah, aku mau kerja dulu”

“Silahkan Nonn, Non Ayhwa kerja aja, saya juga mau kerja nih” kepalaku menyelinap di antara pahanya. Bibirku menyusuri permukaan pahanya sebelah dalam, terdengar suara lagu Mp3 dari komputer Non Ayhwa, di tengah alunan lagu ia berusaha menyamarkan rintihan lirihnya ketika ujung lidahku mulai menusuki klitorisnya. Kubasuh isi vaginanya dengan batang lidahku, kumanjakan si cantik yang semakin mengangkangkan kakinya yang mulus dengan pasrah. Kunaikkan kembali rok mininya ke atas, lendir-lendir nafsu kembali membanjiri belahan liang vagina Non Ayhwa.

Aku melumat selangkangan Nona Ayhwa kujilat dan kuhisap habis lendir-lendir nafsunya yang gurih dan harum, kuemuti bibir vagina Nona Ayhwa hingga ia kelabakan menahan nafsu birahinya yang semakin membara, kutepuk-tepuk vaginanya yang empuk kemudian kutarik dan kubuka bibir vaginanya, kubenamkan wajahku sambil menghirup aroma vagina Non Ayhwa yang harum.

“Shhh Hsssshh…ah-ah-aaaaah” desahan Non Ayhwa terdengar merdu ketika batang lidahku terayun membelai dan menggelitiki kelentitnya, sesekali kutusuk-tusuk kelentit Non Ayhwa dengan ujung lidahku hingga ia terperanjat dalam gairah nafsu yang berkobar liar, wajahku terangkat memperhatikan ekspresi wajah cantik Non Ayhwa yang tengah horny sementara dua jariku bergerak menusuki belahan vaginanya sementara aku menariki putting susunya yang meruncing dengan mulutku.

“Gimana Non?? “ aku bertanya padanya.

“Ujaannghhh, kamu belajar dari mana sich….,ihh enak bangetttt…. Jangg.. ow-ahhhhh-ahh”

“uhhh…! Creettt… crrrttttt…..u-u-janggg”

“Sllleeepphhh…. Srrrrrpphhhh…….”

Mulutku segera menunkik ke bawah mencucup vaginanya, kuseruput cairan gurih penambah stamina alami yang meleleh dari belahan vagina Non Ayhwa, saat sedang asik-asiknya menjilat dan menyeruput cairan gurih di selangkangan si pengantin baru tiba-tiba telepon di meja Non Ayhwa berbunyi.

“Ujang.. nanti dulu.., stophh ,ahh  nakall…hsshh, uhh..hhhsshhhh”

Tanpa mempedulikan bunyi telepon di atas meja aku melanjutkan kesibukanku membersihkan dan menghisap-hisap cairan gurih di selangkangannya sementara tangannya terus menggapai-gapai berusaha meraih gagang telepon dimejanya

“H-Halllooo….,ii,iya bu.., iyaaa.. baikk…”setelah menaruh gagang telepon Non Ayhwa mendorong kepalaku, dengan bernafsu aku hendak kembali menerkam selangkangannya dan…

“Bletakkkk…..!! HEUDEUHH, Non, masih pengennnn nihhh…, gurih amat memeknyaa….” si cantik menjitak jidatku yang hendak meluncur di antara sepasang pahanya yang mulus mengangkang. Aku memohon memelas sambil mengelus-ngelus sepasang pahanya yang halus.

“Udahhh, nanti aja yachh, kamu dipanggil Bu Selmy tuch…”

“HAhh ?? mau ngapain Non ??”

“Jangan-jangan minta diservice sama kamu jang…he he he”

“Hush sembarangan!! jangan lupa nanti kita lembur lagi yach Nonnnn, muachh.. cuphhh.” aku mengingatkannya agar berlembur ria sepulang jam kantor.

Sambil memakai celanaku aku menundukkan wajahku dan mencium mesra bibir si pengantin baru, kukecup keningnya beberapa kali sebagai tanda terimakasih kemudian dengan sopan aku mengundurkan diri dari ruangan akunting. Setelah menghela nafas panjang-panjang dengan malas kulangkahkan kedua kakiku yang terasa berat menuju ke ruangan Bu Selmy, kuhela kembali nafasku dalam-dalam sebelum kuputuskan untuk mengetuk pintu itu.

“Tokkk.. Tokkk Tokkkk…!!.”

“Masukkk…!!”

“Permisi Buuu, ibu memanggil saya…??”

“Jang, besok kamu beliin nasi goreng yang kaya tadi  ya…”

“Yang gini, gitu, gimana ya bu ??”

“ini lohh, yang kamu beliin buat Ayhwa itu”

DEGGGGG…..!!! BLEDAKKKK……!! Wajahku langsung pucat pasi sambil menatap piring kosong diatas meja, sekujur tubuhku merinding hebat rupanya nasi goreng sperma spesial ala Ujang membuat bu Selmy ketagihan.

“Anuu, itu buu, belinya agak susah…, agak lama”

“Oooo, nggak masalahhhhhh, pokoknya kamu aturin ajaaaaa yaaa! Yang jelas saya mau sarapan nasi goreng seperti ini SETIAP PAGI….!!kalau nggak , AWAS KAMU!!“

“baik bu.., baikk….”

Gendang telingaku serasa pecah mendengar ultimatum yang dikeluarkan oleh Bu Selmy, di bawah todongan berisi ancaman aku terpaksa menyetujui syarat yang berat ini daripada Bu Selmy meyedot langsung spermaku dari sumbernya, BRRRHHHH…., merinding sekujur tubuhku membayangkan mulut keriput itu menyedoti batang penisku, dengan tertunduk lesu aku mohon diri keluar dari ruangan yang mengerikan itu untuk mengerjakan tugasku sebagai Obe perusahaan sekaligus mengintai mangsa baru, Sipirang.

*****************************

Siang hari jam 12.30….

Beberapa saat setelah menyediakan sesajen untuk si penyihir berambut putih, aku melangkahkan kakiku dan duduk di sebuah bangku panjang untuk beristirahat. Beberapa orang karyawan dan karyawati lewat di hadapan wajahku, Ting..!! mataku membeliak ketika seorang gadis berwajah cantik nan rupawan berjalan ke arahku.

“G u t moning… “ aku berusaha untuk menyapanya dengan modal bahasa Inggrisku yang di bawah standar, aku menggantungkan setitik harapan untuk dapat mengenalnya lebih jauh..

“Selamat pagi!” si pirang balas menyapaku.

HAH ??!! U mai gut, si pirang yang cantik menyapaku dalam bahasa Indonesia?? Wah-wah bidadariku tersenyum ramah, cantik, humm, payudaranya montok amat khas cewe bule yang kebanyakan montok-montok di bagian dada, sebuah senyum menyerigai di bibirku ketika mata superku menatap buah pantatnya yang padat, duhhh pinggulnya oh pinggul..!!, goyang kiri, goyang kanan, Olala…, Brrrrrr…… Uhhhhh… kuhilangkan senyuman di wajahku yang penuh dengan cahaya kemaksiatan ketika tubuh si pirang berbalik ke arahku.

“Ada apa Nonn ?? apakah ada yang dapat saya bantu ??eh iya, nama saya UJANG……“ Aku bertanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang khas seorang Obe sambil memperkenalkan diri.

“Eummm, -Anu Pak Ujang- Tahu nggak, di mana rumah makan yang murah meriah…tapi enak??“ si pirang bertanya kepadaku, bleehhh, ngak salah denger nich ?? Anunya saya ??

——–

“-Anu pak Ujang- ?he he he,hush si Non gimana sich ? Saya jadi malu ditanya begitu, Anu-nya saya sih ngak tahu Nonnn, yang tau saya-nya ini loh Non, bukan anu saya, Hua ha ha ha ha ha, ngaha, uhukkkk… ehemmmm ,sepertinya makan murah plus menu dari Ujang Junior, Saya jamin pasti murah meriah terus ada enak-enaknya kalau saya menyusu disusu-nya Non yang gede” dengan bersemangat otak-ku yang ngeres menjawab pertanyaan si pirang

——-

“Ooooo…, Mau makan siang ya Non? Sini saya belikan, Non mau pesan apa??“ sebuah kepalsuan dari bibirku yang tebal menyembunyikan kengeresan di otakku.

“Emmmhhh.. ? makan apa ya ?? masih bingung nihhh… “

“Gimana kalau makan rendang Padang aja”

——

“Ehmmm, jangan jauh-jauh Non, lebih baik beli nasi Padang aja di sebelah,n’tar sisa waktunya kita manfaatkan untuk ehem-ehem…, Ceka kak ka ka ka.” otak kotorku kembali bekerja,

——–

“WAhh boleh tuch,”

“Nah, Non tunggu di ruang makan atas aja ya…. “

“Lohhh ?? ngapain di atas…?? Kan ruangan makannya di situ ?“ telunjuk Non Michelle menunjukk kesuatu titik di seberang sana.

“Owwww… itu ruangan makan untuk karyawan lama, nah untuk karyawan baru ruang makannya di atas sana Non….” aku menunjukkan jari telunjukku ke atas, ke sebuah jendela yang terbuka.

“Ahh, masa sich? Aduh! kamu yakin di lantai atas sana??“ si pirang menengadahkan wajahnya ke atas,

“Emang begitu Nonnn, Eh, nama lengkapnya Non siapa ya??“ dengan cerdik kualihkan bahan pembicaraan agar ia tidak bertanya lebih lanjut mengenai letak ruangan makan yang sengaja kuatur untuknya.

“Michelle Spring” jantungku berdetak keras ketika si pirang melemparkan sebuah senyuman manis-nya untuk-ku sebelum ia membalikkan tubuhnya yang seksi. Mataku berkedip-kedip mirip lampu setopan. Whait por me may lap…khayalan liarku berkobar bak si jago merah yang sedang mengamuk. Akupun membalikkan tubuhku JEDAKKK….!! pecah nafsuku, digantikan oleh rasa dongkol dan sakit di jidatku..

“Tembok sialan!! Udah tau orang mau lewat, masih juga diem disitu!!! Brengsek!!” aku menggerutu panjang lebar sambil mengurut-ngurut jidatku dengan berlari kecil aku menuju kerumah makan Padang di seberang jalan, dengan bernafsu kubayar pesanan si pirang hingga kasir dirumah makan itu bergidik ketakutan melihat ekspresi wajahku yang tengah horny.

Yuhuuuuu…., Honey, Im homee…, dengan mengendap-ngendap aku mendekati seseorang yang tengah melamun di jendela. Kuperhatikan lekuk liku tubuhnya yang menggoda, rambutnya yang pirang indah, mataku melirik kebawah memperhatikan sepasang kakinya yang tersembul dari balik rok mini berwarna biru tua, serrrr….serrrrr…., darah mudaku berdesir mengobarkan api birahiku yang terpendam.

“Noonnn…., ini makan siangnyaaaa….”

“Ehhh Pak Ujang….makasihhhh.” si pirang membalikkan tubuhnya kemudian meraih kantung plastik berwarna merah di tanganku. Gabrukkk….!! kuterkam dan kupeluk tubuhnya.

“Heiiii….!! what the helll!!!” Michelle Spring mengumpat ketika aku menggerayangi tubuhnya.

“Jangan berisik Nonn, atau saya akann… NGAHAKKK…!!!”

Aku tidak sempat melanjutkan ancamanku ketika serangan lutut si pirang mendarat telak di selangkanganku kemudian entah bagaimana caranya ia membanting tubuhku hingga mendarat di atas lantai, BLUGGGGGG!!.

“SIALANNNN….!!, grrrhhh, Hupppp…!!” dengan segera aku bangkit sambil memasang kuda-kudaku, inilah saatnya pencak silat beradu dengan karate, aku melompat menerkam tubuh indah di hadapanku.

“Hungghhh….” tumit si pirang mampir diulu hatiku,

PLAKKKK….!!BUKKKKK…BUKKKK!! Jedakkk!!” selanjutnya terdengar suara-suara keras yang membuatku limbung tersungkur jatuh ke depan, pinggulku terangkat ke atas, nungging dengan gaya doggy style

“AMPUN .. AMPUNN HOAHHH….!!”

“I hate someone like you, MANIACCC!”

“Bukan Nonnn saya Ujanggg, bukan MANIACC…hadowww…!!” HOAWWWWW….!!”dengan teknik memiting yang canggih ia mengunci kedua tanganku hingga aku melolong kesakitan.

“AMPOONNN…AMPOOOONN>>!! WADOWWWWW….!!”

“Awas kalau kamu berani kurang ajar lagi….!!”

“Ngak Nonn…, Ampun, Ampunn HUaDduhhhhh-HuNgH!!”

“FUCK YOUUU….!!” sambil memaki Non Michelle menyambar sebungkus nasi padang yang sempat kaget menyaksikan kekalahanku,

Aku merangkak kemudian duduk bersandar lemah pada kaki meja, kukeluarkan dan kunyalakan HPku, kuhubungi sebuah nomer emergency call, help me Buddy!!

“Soo, Darsooo, tulungin gua… Hadohh…, mampus gua Soo…”

“Hahhh ?? Lu di mana Jangg…..??”

Tiga SMS tambahan kukirimkan pada Non Ayhwa, Non Vania dan Non Shasha. Tidak berapa lama bersembulan wajah-wajah yang kukenal, pertama wajah Non Vania kemudian Non Ayhwa lalu Non Sasha dan yang terakhir wajah Darso, dasar geblek..!!, dihubungi paling awal, dateng paling akhir!! sambil meringis menahan rasa sakit aku menceritakan kejadian tragis beberapa saat yang lalu demi mencari secuil kenikmatan..

“HA HA HA HA HA HA….” Darso mentertawakanku ketika aku menceritakan kejadian tragis yang kualami, sementara tiga gadis cantik bermata sipit tertawa merdu sambil membantuku berdiri.

“Makanya Janggg, kamu jangan sembarangann…donggg”

“Iya nich, udah dibilangin nggak nurut….,”

“Sakit ya, kamu ngak apa-apa Jangg…” dengan tertatih aku dipapah oleh Non Ayhwa, Non Vania dan Non Shasha sementara Darso melenggang kangkung di depan memimpin rombongan.

Sekian…

To be lanjutkan

Lain waktu….^_^

By Yohana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: