h1

Office Cutie 6: Rapat nikmat Ala Ujang

December 4, 2009
  • Cerita ini hanyalah Fiksi belaka, jika terdapat kesamaan nama/kejadian/peristiwa maka itu hanyalah kebetulan semata.
  • Bacaan Khusus dewasa, (bukan untuk anak dibawah umur,) alias Adult Only…!! ^_^, Read For Your Own Risk’s & isi cerita yang berisi adengan kekerasan dan pemerkosaan samasekali bukan untuk dipraktekkan didunia nyata.(samasekali tidak patut & tidak terpuji untuk ditiru…!!)
  • Mkasih banget buat Bos Shu yang sudah meluangkan waktu selama ini buat mengedit, menelaah, menimbang dan memutuskan  untuk memposting cerita-ceritaku.
  • Mkasih banget buat “Someone” yang sudah membantu merapikan & Ngedit ceritaku  Y^_^Y .
  • Nda lupa, makasih juga buat semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca & memberi masukan-masukan yang membangun ^_^
  • Say NO To Rape ,DRUG’S & Crime’s & Terorism in The Real World
  • Satu lagi juga ^ _ ^, dilarang meng-Copy Paste, dan menampilkan cerita ini ditempat lain selain di KBB, Telur Rebus n Arsip Gue.

*********************************

michelle

michelle

“Ujang… bikinin teh pahit ya…” aku menolehkan wajahku ke belakang kemudian tersenyum saat melihat wajah cantik Non Shasha, dengan sigap aku membuatkan teh pahit untuk kekasihku dan mengantarkan ke ruangannya setelah itu aku kembali meneruskan untuk mencuci piring.

“Ujangggg… , beliin nasi kuningg dongg, lapar nihhh…”aku menoleh lagi ke belakang dan mengangguk ramah pada Non Ayhwa, kukedipkan mataku pada pengantin cantikku yang membalikkan tubuh moleknya dengan senyum dikulum, aku merapatkan tubuh mengejar pengantinku kemudian kuusap bokongnya dengan lembut, Non Ayhwa mencubit pinggangku, kami berdua buru-buru menjaga jarak saat mendengar suara langkah-langkah kaki dari kejauhan.

“Ujangggg…., mau ice creammm……, ih sebel..”  sekali lagi aku menoleh saat mendengar suara manja Non Vania, rambutnya yang pendek kini terurai panjang, bibir tebalku tersenyum lebar, jariku menunjuk ke arah selangkanganku. Non Vania tertawa kecil, ia menungging berpura-pura memungut selembar uang limapuluh ribuan yang sengaja dijatuhkan, aku tahu ia sengaja memasang pose tubuhnya yang merangsang itu untuk menggodaku, setelah memenuhi keinginan Non Vania, aku kembali mengerjakan tugasku  sambil berhayal dengan seru, semuanya tentang uh-oh dan ah bersama “ketiga istriku.” yang cantik jelita.

“Ujang…, beliin roti gih….”  Hmmmm,?? perasaan sih istriku baru tiga orang, istri siapa nih yang pagi-pagi nyasar bermanja ria kepadaku, dengan perasaan was-was aku menolehkan kembali wajahku untuk yang keempat kalinya.

“Djelegerrrr….@_@!!”

Bagaikan terkena sambaran petir di atas kepala, aku terkejut  setengah mati melihat seraut wajah berlemak yang menatapku dengan tatapan  matanya yang sayu, aku gemetar ketakutan saat tubuh gemuk itu melangkah mendekat. Kabarnya sih Non Nina bekerja di perusahaan ini karena hasil koneksi, imajinasi indahku langsung konslet digantikan oleh khayalan burukku, ia menggeram dan kemudian menerkamku, merobek-robek bajuku kemudian membantingku ke lantai, dengan rakus Non Nina menggeluti tubuhku dengan liar hingga aku termegap kehabisan nafas di bawah tindihan tubuhnya.

“Jangannn, jangan perkosa sayahh.. ahhhh…!!JANGAN NONN…!!”

“Ujanggg., okhhh ujanggg, hamili aku jangg, hamiliiii…kuberikan tubuhku dengan sukarela…,eh enggak ding,  discount aja 80 % ya..”

“TIDAKKKKK….nggak mau, amphunnn, THOLOOOONGGGG…, AKHHHH..!! Sambadi heleppppp…… EUYYY.!!! OAHHDOW…!!” aku menjerit saat Non Nina membetot benda panjang yang tergantung di selangkanganku.

Aku menggapaikan tanganku ke atas berusaha menggapai kesadaranku yang menolongku dari perkosaan yang dilakukan oleh Non Nina yang gembrot. Dalam hati aku memaki kesal karena kehadirannya telah mengganggu khalayanku yang super indah dan hot, dengan senyum yang dipaksakan aku mengangguk  kemudian melangkahkan kedua kakiku yang terasa berat untuk dilangkahkan T_T.

“Lohh koq muka kamu pucet sih Jang ?? kamu sakit ya sayang ??!!

ia menegurku, aku merinding hebat saat ia menyebutkan kata sayang

“Ehh, enggak Nonn, saya ngak apa-apa, sehatttt..!! sehat banget..!!”

aku mempercepat langkah kakiku meninggalkannya.

——-

Sepulang Jam Kantor…

Aku dan Darso mengendap membuntuti seorang gadis berambut pirang, Non Michelle seperti sedang menunggu seseorang, sesuai dengan sebuah rencana yang telah kami susun dengan matang. Tidak beberapa lama terlihatlah Non Shasha muncul menghampiri Non Michelle di tempat yang sudah dijanjikan, sebuah senyum mengembang di wajah si pirang, dengan lembut Non Michelle menggandeng pinggang Non Shasha masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat. Dengan sedikit akal bulusku, ruangan itu segera beralih fungsi sebagai ruangan untuk merapatkan kelamin. Shasha duduk di pinggiran meja besar berbentuk U yang biasanya dipakai untuk berunding oleh para petinggi perusahaan. Michelle merayapkan tangannya pada paha Shasha, dengan lembut jemari Michelle merayap masuk kedalam rok mini Sasha dan menggelitiki pahanya bagian dalam. Rasa geli  memaksa Shasha untuk merenggangkan kedua pahanya yang mulus, kedua tangannya bertumpu ke belakang pada meja saat kepala Michelle mengejar selangkangannya. Michelle memandang kagum pada belahan mungil yang merekah di selangkangan Shasha, jemarinya mengeksplorasi kemolekan vagina Shasha.

“Koq nggak pakai celana dalam sihhh ?? “

Shasha tersenyum penuh arti, ia menjawab seadanya…

“Nanti juga kamu pasti tahu koq….”

Tampaknya Michelle tidak terlalu peduli pada jawaban Shasha, gadis berambut pirang itu menjulurkan batang lidahnya, dengan lembut lidah Michelle menjelajahi rekahan vagina Shasha. Shasha mendesah saat Michelle menggigit-gigit lembut bibir vaginanya, sentuhan gigi dan gelitikan lidah Michelle dengan efektif menaikkan birahi Shasha.

“Ooouhhh, Michellleeeeee…, ahhhhhh”

Shasha tidak pernah menduga perpaduan antara gigitan dan hisapan dapat terasa senikmat ini, pahanya menjepit kepala Michelle kuat-kuat saat gadis bule itu mengamuk melumati belahan bibir vaginanya, berkali-kali bibir Shasha membentuk hurup “A” besar, serangan Michelle yang ganas membuatnya kewalahan.

Tangan kiri Shasha mendorong kepala Michelle menjauh dari selangkangannya karena tidak tahan lagi menahan rasa geli-geli nikmat yang menyerang wilayah intimnya.

“Napa ?? hemmm “

“Nggak tahan Chel, gelii…”

“Geli ?? tapi enak kan…. he he he”

Michelle tersenyum sambil membuka blazer shasha, satu persatu pakaian mereka terjatuh ke lantai. Shasha menatap kagum pada buntalan susu Michelle yang padat, tangan Michelle menarik kemudian membenamkan wajah Shasha diantara belahan payudaranya. Non Michelle mendesah pelan merasakan hisapan-hisapan mulut Shasha pada puncak payudaranya, wajah Michelle tampak renyah, kedua matanya semakin sayu saat wajah Shasha mendekati wajahnya. Lidah Michelle terjulur menggapai batang lidah Shasha, air liurnya bercampur dengan air liur Shasha. Bibir kedua karyawati cantik itupun saling memangut, ciuman Michelle berubah liar menjalajahi leher dan rahang Shasha. Wajah Shasha terangkat ke atas memberikan ruang agar Michelle lebih leluasa menggeluti batang lehernya, kedua matanya yang sipit terpejam-pejam saat jari telunjuk Michelle menekan masuk ke dalam jepitan bibir vaginanya. Cairan vagina Shasha menjadi pelumas bagi jari Michelle yang semakin aktif melakukan tusukan-tusukan yang akurat, di tengah gelora yang semakin liar tiba-tiba terdengar suara daun pintu yang dibuka dengan kasar hingga  membentur dinding di belakangnya  dengan suara keras.

“Krettttt… Brakkkkkkk…..!! “

“ Owwww…!! “

“HAHHH….!! “

Aku dan Darso berpura-pura keget. Wajah Michelle pucat pasi, tanpa dapat berkata apa-apa, ia berdiri mematung karena terkejut, Shasha berpura-pura menghardikku dan Darso.

“JANGAN MAIN BENTAK BEGITU DONG…!! Saya laporin nih Sama Pak Satpam di depan, biar diarak di jalan raya….!!Nggak bener nihh…berbuat mesum di tempat kerja…!!DARSOOOO.., cepat laporkan kejadian ini kepada Pak Satpam”

“Please Nooo…, Pleaseee….”

“Plas-Plis, Plas-Plis, nama saya Ujang bukannya Cuplis… sembarangan wae…!!”

“Jangan Ujanggg…jangannn” Non Michelle dan Non Sasha memohon kepadaku.

“Jangan?? Apanya yang jangan ?? Jangan dilaporkan atau jangan terlambat dilaporkan hah?? Saya ini selalu jujur bekerja, setia sama perusahaan kalau ada kejadian yang keluar dari jalurnya seperti ini, saya tidak akan tinggal diam…., saya akan…..”

“WOIIIII…, diem lu Jang..! Bacot lu tuh kepanjangannn…NYAHOO!!”

Darso menyemprotku,

Si gemuk itu maju ke depan, matanya mendelik merayapi tubuh seksi Non Michelle, dengan gagah Darso memasang kuda-kuda, kemudian mendekati Michelle yang menyilangkan kedua tangannya di dada saat mata Darso melotot memelototi buah dadanya yang buru-buru membalikkan tubuhnya memunggungi Darso.

“Hua Ha HA HA Ha…mana Jangg , Manaaaa ?? Dasar lemah luu..!! Selangkangan doang yang gede n panjang….!! masa kalah ama cewe..!!, sampai dibikin jungkir balik pula Wa ka ka ka ka ka…..”

“Sialan lu…!!”

“Nihhh, ciatt.. Plakkk. Ciatttt… Plakkkk plakkk.., Mana ?? cewe jagoan ?? nggak ada apa-apanya Koqqqq, nihh Plakkk Plakkk..!!.Hiatttt…!! Plakk..”

Darso terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk buah pinggul Michelle bergantian yang kiri dan yang kanan sambil bergaya bak Jet Lee bertubuh balon, wajah Darso maju ke depan kebagian Tengkuk Michelle, hidungnyaa mengendusi leher belakang Michelle.

“Bukkkkk…..!!

“Hakkkkkkkhhhssss….!!”

Seiring dengan suara keluhan kerasnya tiba-tiba wajah Darso terangkat ke atas saat sebuah uppercut mampir di dagunya, tubuhnya limbung ke belakang kemudian dalam hitungan ala wasit “satuu, Duaaaa, Tigaaaa… Gubrakkk..!!”, tubuh besar Darso jatuh berdebam, kedua matanya teler tubuhnya tergeletak diatas lantai, sementara mulutnya merintih kesakitan.

“Haaduh biyunggggg… , mampuss dahhh,.ngehhhh….”

“Rasain luhh, Wak ka ka ka ka ka”

Aku cekakakan, setelah puas menertawai Darso, aku mengeluarkan sebotol Pulpy Orange, kubuka tutupnya kemudian menaruh minuman segar itu diatas meja, dengan santai aku mundur dan membuka pintu ruangan bersiap-siap untuk lari marathon.

“Sekarang tinggal dipilih..!! ,Non Michelle mau minum Pulpy Orange..!! Atau saya teriak nih…!! Rohmannnn….!! SOLEHHHHH…..!!BURUAN KADIEEEU……!! Eittt… jangan coba-coba mengejar Saya. , saya jamin jari saya lebih cepat ketimbang Non Michelle…!!”

Aku langsung mengancamnya yang hendak melompat menerjangku, Non Michelle buru-buru melintangkan kedua tangannya melindungi payudara dan vaginanya dari kebuasan tatapan mataku yang mendelik dengan spontan Non Michelle kembali membalikkan tubuhnya memunggungiku.

“Jangan Ujangg.. Jangann,!!Chell. Minum aja Chell..!! Cepetttt….”

Non Shasha berpura-pura panik, setegar-tegarnya Non Michelle tentu saja ia ketakutan jika sampai digerebek oleh Pak Satpam apalagi disertai ancaman serius, diarak di jalan raya. Di tengah kepanikannya dengan cepat Michelle menyambar dan meneguk habis minuman pelepas dahaga yang tentu saja isinya sudah kucampur dengan serbuk pelepas birahi super, dalam waktu 15 menit efeknya segera bekerja dengan efektif sehingga membuatku berani mendekatinya yang tampak gelisah.

“Berlutut Non…., Saya kasih kontol gratis…”

Kuletakkan dan kutekankan telapak tanganku di bahunya. Ia berlutut di hadapanku, kubelai-belai kepalanya, kebaikanku dibalas olehnya, sebagai gantinya kini telapak tangannya meremas celana panjang yang kukenakan tepat di bagian selangkanganku yang menggembung, dengan terburu-buru jemarinya membuka ikat pinggangku, kemudian melepaskan pengait celanaku dan Srettttt…….!!

“AOHH..!! Makkkkk…!! Hati-hati Nonnnn, Nanti punya Saya kegigit resleting…….!! Wuuuuuakkkkhhhhh”

Dengan kasar Non Michelle mengodok dan merengut batang penisku, waduhh, kasar sekali tangannya mengocok-ngocok batang penisku, batang lidah Non Michelle menempel di buah zakarku kemudian happpp, Mulutnya mencapluk buah zakarku, mengemuti sepasang buah zakarku.

“P-Pelan, Pelan-pelan Non..,”

Gila…!! Non Michelle begitu liar menyantap batang penisku, cium sana, cium sini, jilat sana jilat sini,dalam waktu yang relatif singkat batang penisku kuyup terbasuh oleh air liur Non Michelle. Aku menahan nafas saat mulutnya terbuka lebar memayungi kepala penisku dan Kreppppp….mulutnya mengatup menelan kepala penisku, kepala Non Michelle bergerak maju mundur dengan teratur,nikmat sekali rasanya saat batang lidahnya menggesek-gesek melingkari kepala penisku, ia begitu keasikan mengoral batang penisku hingga tidak menyadari Darso mendekatinya, dengan kasar Darso menjambak rambutnya yang pirang.

“Ahhhhh….!! “

“Sialan lu, maen uppercut seenaknya,Sini….!! “

Dengan kasar Darso menekankan  punggung Michelle hingga buah dadanya menempel di atas meja. Kaki Darso menyepak kaki kanan dan kaki kiri Michelle agar merenggang, batang penisnya menggesek belahan pantat Non Michelle sebelum akhirnya menekan kerutan dubur si pirang. Kedua mata Non Michelle membeliak saat kerutan duburnya terasa merekah dirojok oleh kepala penis Darso, wajahnya yang cantik mengernyit kesakitan, otot dubur Michelle mengkerut berusaha menghalangi masuknya batang penis Darso. Perlawanan otot dubur Michelle berakhir tragis saat Darso menyentakkan batang penisnya kedepan membongkar paksa kerutan liang anusnya.

“OAHHHHHHHHHH…..!! it’s HURTTTTT….! ARRRGGG..!!”

“Gimana rasanya kalau bool lu yang gua uppercut pake KONTOL gua HAH !! Sakit banget kan ?? JAWAB LU LONTE…!! “

Dengan beringas Darso menyodomi Non Michelle, yang ber-oh-ah-oh-ah tanpa daya saat penis besar Darso menyodominya dengan kasar.

“UNGGHH.. UNGGGHHH NGGUHHH, its too Hurrth-akhhh..!!”

Non Michelle melenguh-lenguh keras, jarinya mencakar-cakar meja untuk melampiaskan rasa sakit yang begitu hebat mendera lubang duburnya, dengan seenaknya Darso mengocek-ngocek liang anusnya. Tanpa melepaskan  Non Michelle ia duduk di atas meja. Posisi Michelle duduk dipangku oleh Darso dengan kedua kakinya yang mengangkang, liang anusnya tersumbat oleh batang penis Darso yang terbenam hingga ke pangkal penis, batang penisku mendekati belahan vaginanya yang berwarna pink.

“kemon Jang, kita hajar bareng-bareng…”

Dengan satu tusukan yang kuat kubenamkan batang penisku ke dalam rekahan vaginanya. Sempit, peret, namun sudah blong alias sudah nggak perawan lagi, Non Michelle mendesah-desah menggairahkan saat batang penisku bergerak keluar masuk menusuk-nusuk liang vaginanya.

“O la laaa, sudah pernah dirojok ya Non?? kapan sih saat pertama kali Non Michelle entotan…?? “

“six teenn y.o Unnnhhh…”

“Wahh,koq bisa pas banget sama standar KBB ya ??”

“What isssshh, Kha Bhe Bhe….??”

“Oooh itu tehh, Kisah Biuti en de Bis, emang Non Michelle nggak tahu ?? ntar deh saya ajak Non Michelle ke warnet biar tau apa itu KBB…”

“Ooo Yeahhh.. Yesssh, Yessshh Ahhh.., Emmmm YEAhhhh…”

Suara Non Michelle mirip seperti suara pemeran wanita difilm-film porno. Non Shasha melangkah menghampiri dan memelukku dari samping kanan, bibir Non Shasha mengejar memangut bibir Non Michelle sambil menggenjoti belahan vagina si pirang aku  bergantian berciuman dengan Non Shasha dan Non Michelle.

“Ahhh.. Crrr Crrrrr Sruutttt.. cruutttt..ohhhhhhh…..”

Wajah Non Michelle terangkat ke atas, sekujur tubuhnya mengejang kemudian sepasang kakinya terkulai lemah, selemah tubuhnya yang terdesak-desak akibat belahan vaginanya kusodok dan liang anusnya disodomi oleh Darso, untuk beberapa saat lamanya Non Michelle pasrah disandwich olehku dan Darso.

“Emmmhhh, Darsoooo, akkkkhhhh Ujanggggg….ahhhhh, fuck me!!”

Kenikmatan mengupas wajah asli Non Michelle tiba-tiba ia menjerit keras untuk melampiaskan nafsu birahinya, tubuhnya yang seksi  menggeliat-geliat liar. Keliaran Non Michelle dan jeritan-jeritannya  membuatku dan Darso semakin bergairah untuk menyetubuhinya, Non Shasha menjulurkan lidahnya, dengan rakus ia menjilati rahang dan dagu Non Michelle kemudian bibirnya membekap bibirnya. Pipi non Shasha mengempot saat ia mengemut bibir Non Michelle.

“Ujanggg aku pengen dijilatinnnnn”

Aku mendelik saat Non Shasha mengangkangkan kedua kakinya, ia bersandar santai di sebuah kursi, aku mencabut batang penisku dari himpitan vagina Non Michelle kemudian aku merangkak di antara kaki Non Shasha yang mulus, kubenamkan wajahku dalam-dalam sambil menghirup aroma therapy di selangkangan kekasihku yang cantik jelita. Aroma vagina Non Shasha menjadi obat yang mujarab meredakan rasa pusing yang menggeluti kepalaku.

“Non suka pusing ngak ??”

“Pusing ?? pusing kenapa jang ??”

“Maksud Saya , kalau Non Shasha nggak beginian nih…”

Aku bertanya sambil menyelipkan jari jempol di antara jari telunjuk dan jari tengahku kemudian memasangnya didepan wajah Non Shasha, kekasihku yang cantik menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah jengah..

“Kalau saya suka pusing Non…,”

“itu sih kamunya aja yang hipersex.., “

Non Shasha menjawab sambil mencubit hidungku yang pesek. Tangan kanannya menekankan kepalaku tanpa membantah aku kembali menikmati sajian nikmat di selangkangannya, dengan menggunakan dua buah jari aku membuka bibir vaginanya. Sebuah kacang mungil terselip di belahan vagina non Shasha bagian atas, kujilati clitoris Non Shasha hingga ia mengejang saat mencapai klimaks. Non Michelle menggeliat turun dari pangkuan Darso, ia merangkak menghampiri selangkangan Non Shasha, aku memberikan jalan untuknya, kuremas-remas dan kuelusi buah pantatnya yang empuk..

“Ahhhh Michelle……….”

Batang lidah Non Michelle menyapu permukaan vagina Non Shasha kemudian ujung lidahnya menggelitiki rekahan vagina dan tonjolan klitoris Shasha, tubuh Shasha menggeliat-geliat indah. Geliatan tubuh Non Shasha memancing Darso untuk  menghampiri dari arah samping, wajah Darso memayungi buntalan dada Non Shasha sebelah kanan kemudian Nyammmm, Nyammmm Nyammmm, bergantian Darso mengunyah-ngunyah, menggeluti susu Non Shasha.

“Pesawat Stealth jenis Bomber B2 super” milikku melayang di udara , dengan cepat pesawatku menungkik mendarat di hanggar sempit yang nikmatnya bukan kepalang, kudesakkan batang penisku menggali liang dubur Non Michelle.

“Gebb-BROSSSHHH…!! BLUPPHHH…!!”

“OOOOOO……!!”

Terdengarlah sebuah suara seruan keras seiring dengan tersungkurnya tubuh Non Michelle saat kuhantamkan batang penisku membongkar kenikmatan di liang duburnya. Kugerakkan batang penisku memutar, mengaduk-ngaduk anusnya. Mulut Michelle mencucup dan menghisap kuat-kuat vagina Non Shasha sementara tangannya menyambar batang penis Darso dan mengocok-ngocok batang penis Si Obe berbody seperti layaknya Rony Dozer.

“Pofffhh Poffffhhh Pokkkk Pofffkk Pokkkk…” suara berkeceplokan terdengar menggairahkan mirip seperti suara butir- butir telur yang pecah saat berjatuhan dari sebuah keranjang

Kuayun-ayunkan batang penisku menyodoki liang anus Non Michelle dalam ritme yang cepat kemudian melambat saat si pirang merintih antara sakit dan nikmat.

Setelah suara rintihannya mereda aku kembali menyerang anusnya dengan membabi buta hingga Non Michelle  memekik keras, setelah puas menyodominya , kucabut dan kujejalkan batang penisku kedalam himpitan Liang Vaginanya, tubuh Non Michelle terdesak maju mundur dalam posisi doggy style memgikuti ayunan penisku.

“Ohhhhh..!! Uhh YEAHHH…!! Pofh…N-Nooo.. Pleaseeee fuck me“

Non Michelle merangkak, ia mengejar batang penisku

“Kemon Nonn.., Kadieu….Eittthhh…!! ngak kena Nonnn”

Terjadilah pertempuran kecil antara Ujang the matador Vs seorang gadis cantik berambut pirang, saat mulut Non Michelle hendak mencaplok batang penisku kugerakkan ujang junior menghindar ke kanan hingga terhindar dari caplokan mulut yang tentunya sangat berbahaya bagi orang yang lemah jantung. Saat Non Michelle hendak mencaplok ke kanan sambil melangkah mundur kugerakkan Ujang junior menghindar ke kiri, berkali-kali aku mempermainkan Non Michelle kemudian pada suatu kesempatan aku melangkah maju sambil membantingkan batang penisku menampar pipi Non Michelle.

“PLAKKK…!! “

“Auhh..!! Ujangggg… Pleaseeeeee, I want it..”

“Pake bahasa Indonesia Nonnn, jangan pake Bahasa Inggris atuh..!! I’m kurang ngarti nih…. ”

“Ujangg, aku mau ngisepin kontol kamu, ayo Ujangggg….”

“Seneng nyepong ya Non….??”

“Seneng banget, mauuu…”

Aku berdiri sambil berkacak pinggang, kusodorkan batang penisku ke dalam mulut Non Michelle yang ternganga, dengan rakus ia menghisap-hisap batang penisku, Nyyooottt… Nyooootttt..  Nyotttt…bibir Non Michelle yang monyong tersumbat oleh batang penisku bergerak maju mundur dengan teratur.

“Gilaaa..!!“  aku berseru kagum, Non Michelle merendamkan batang penisku ke dalam tenggorokannya sedalam yang ia sanggup, tanganku mengelus rambutnya yang keemasan, ia menengadahkan wajahnya ke atas. Kedua matanya bertatapan dengan mataku, kerongkongannya memeras-meras kepala dan batang penisku.

“Sini Nonn, saya cape berdiri melulu, duhhh andai saja saya yang menjadi direktur, semua karyawati disini ngak usah pake baju kalo lagi kerja.., pasti asik ya……. “

Aku berangan-angan sambil duduk bersandar di kursi empuk, tepat dimana si tua Selmi biasa duduk jika ia memimpin rapat penting, dengan suka rela aku menerima hadirnya sesosok tubuh mulus yang mendudukiku dalam posisi duduk saling berhadapan, kubenamkan wajahku di belahan dada Non Michelle, kukecupi buntalan buah susunya tanpa terlewatkan satu centipun, kugigit puting susunya yang mengeras kemudian aku menyusu dipuncak payudara Non Michelle sebelah kiri sementara tangan kananku meremas-remas payudaranya sebelah kanan.

“Aduh Nonnn, susu import-nya  mantabbbbb…!!

“Uj-Ujanggg.., Auhhh, akhhh..”

“Nyummmm Muahh Nyemmmm Mmmhhh Hummmmhhhhh”

“ahhh, emmmhh – emmmmhhhh, ahhhh, hsssshh ahhhhhh”

Keluhan Non Michelle semakin melemah dan akhirnya bibirnya hanya dapat mendesah dan merintih lirih saat aku bergantian mengunyahi sepasang buah dadanya yang semakin membuntal. Wajahku terangkat ke atas saat merasakan belaian pada kepalaku,  kumonyongkan bibirku ke atas menyambut bibir Non Michelle yang meluncur turun

Kecupan-kecupan ringan mulai saling berbalas, seiring dengan naiknya nafsu birahiku dan Non Michelle, ciuman dan lumatan-lumatan liar mulai bekerja dengan efektif memanjakan nafsuku dengannya, batang lidahku dan batang lidah Non Michelle bergerak bergantian saling mendesak dan mengocek-ngocek rongga mulut lawannya.

“Cupphhh Cuphhhh.. Cuphhhh….”

Kedua tanganku mencapit pinggang Non Michelle, kubandingkan kulitku dengannya, kulitku begitu hitam kecoklatan mirip seperti kerupuk gosong, sedangkan tubuh Non Michelle begitu putih bersih tanpa noda, entah kenapa tiba-tiba aku kelepasan bertanya dari lubuk hatiku yang paling dalam.

“Non Kalau mandi pake rinso anti noda ya ??

“Enak aja.., emangnya aku baju…!!.”

“Bukan baju Nonn, tapi sarunggg.. he he”

“Sarung ?? “

“Sarung kontol saya..ha ha ha ha, nah bicara tentang sarung kontol, masukin dong Nonnnn…., ”

“Eussshhh Owwww….”

Aku meringis merasakan cubitan pedas Non Michelle di dadaku.

“ehhh mau kemana Non ??!!!Sini Nonnn…!!”

Aku protes keras saat Non Michelle turun dari pangkuanku, ia hanya tersenyum sambil menepiskan tanganku yang hendak meraih tubuhnya kemudian mengibaskan rambut emasnya ke kiri dan kanan, tubuhnya yang seksi melenggok gemulai, desahan-desahan manjanya begitu menggoda, Non Michelle berstriptease ria untuk menaikkan nafsu birahiku, dan ia berhasil dengan sesukses-suksesnya.

“Wahhhhh ?? !! Gileee…, Darso sini cepet…!! wuihhh, GELOO..!!“

“Enggak ah Jangg , gue lagi seru nihhh Emmmhhh kemon  Non, terusss…, goyanggg…, cie-ilehhh goyangan Shasha asik punya, CIHUYY..euy!!” Batang  penis Darso menghajar liang vagina Non Shasha dengan sekuat tenaga.

Detak jantungku semakin keras saat Non Michelle menggeliat di antara kedua pahaku yang mengangkang, bibirnya menciumi pahaku bagian dalam dan terus naik ke atas mengejar buah zakarku, batang lidahnya yang basah dan hangat memainkan buah zakarku, jika diperhatikan lidah Non Michelle seperti sedang menjilati s krim saat ia menjilat-jilat batang kemaluanku.

“Ujang sayanggg, pinjem kontol kamu buat sikat gigi ya… Houuphhh”

Non Michelle tersenyum nakal, kemudian mulutnya menganga dan tenggelamlah Ujang junior kedalam rongga mulutnya, dengan menggunakan kepala Ujang Junior, Non Michelle melakukan gerakan seperti orang yang sedang menggosok gigi. Hisapan dan juga gesekan-gesekan kepala penisku pada giginya mengakibatkanku bergantian merasakan rasa sakit dan nikmat, seenaknya Non Michelle mempermainkan penisku menganiaya Ujang Junior.

“J-jangan kena gigi Non , Ouwwww.., Akhhh Uhhh, HEUDEUHH…!! Sudah, sudahh Nonnnn, Ehhh jangan Nonn.., dihisap, Hi Hi Hi dihisap Nonnnn, digelitikin pake lidahhh Ahe he he, geli ehhhhssssshhhh Enakk Nonnn. WeeeeHH-Ughhhhh…!!ihhh, Sini Nonn….jangan kena gigi Nonnnn, Ayo Dong Ahh, Eowwwww, sakitttt Nonnn hakkkhhhss..”

Non Michelle menepiskan tanganku yang hendak meraih tubuhnya, aku merengek agar ia segera menaikkan vaginanya pada batang penisku. Tubuh Non Michelle yang seksi mulus melangkah mundur saat aku berdiri dan mengejarnya, dengan gerakan meliuk yang indah ia menghindari terkamanku.

“Hupppp…, kena…!!“

“Aduhh…!! Awww,!! Ujangggg he he he he”

Pada suatu kesempatan aku menyambar pinggangnya. Non Michelle terkekeh saat aku mendudukkannya di pinggiran meja, kedua kakinya mengangkang mempertontonkan keindahan belahan vaginanya.

“Nonn, Inget Ya…, mulai besok jangan pernah sekali-kali memakai celana dalam kalau Non Michelle berangkat kerja, pokoknya nggak boleh…!! Jelas Non ?? “

Non Michelle terdiam, ia menatap Shasha yang tengah disetubuhi oleh Darso, pertanyaannya kini terjawab sudah. Untuk sesaat ia terlihat bimbang namun akhirnya ia mengangguk menyetujui permintaanku, aku bersujud di hadapan selangkangannya, kutusukkan dua buah jariku menusuki belahan vaginanya, ujung lidahku memijat-mijat klitoris Non Michelle, sesekali kutengadahkan wajahku ke atas untuk melihat ekspresi wajahnya sambil mempergencar tusukan-tusukan kedua jariku pada rekahan vaginanya.

“Ohhhhh… Crrruuuttt.. cRrrruuutttt….”

Lingkaran otot Vagina Non Michelle menggigit kuat kedua jariku, liang sempitnya terasa berkedutan berkontraksi dengan kuat, seiring dengan itu kedua jariku yang tengah berendam di dalam vaginanya seperti disiram oleh cairan panas yang lengket perlahan kutarik kedua jariku keluar dari dalam cepitan vaginanya, mulutku terbuka lebar-lebar menangkup rekahan vagina Non Michelle, kuhisapi cairan vaginanya yang gurih.

“Auhhh..!! Ujangggg…, ohhh nikmatt…ahh, ahh OWWW…!!.”

Non Michelle menendang pundakku saat gigiku menggigit bibir vaginanya, aku terkekeh sambil bangkit berdiri, kugesekkan kepala penisku pada belahan vaginanya yang sedikit merekah menanti datangnya batangku yang besar panjang.

“Nggghhhhhh…. Uj……aaaannn…ggggggg”

“Michelleeeeeeee…, Ohhh ampunn, !!nikmatnya memek import…!!”

Kedua tanganku mencengkram buah susunya kemudian meremas-remas buntalan buah dadanya, kutarik-tarik pentilnya sambil menyodok-nyodokkan batang penisku menghajar belahan vagina non Michelle, kuayunkan batang penisku kuat-kuat menggedor-gedor belahan liang vaginanya yang mulai cerewet mengeluarkan suara-suara becek.

“Plefffhh..!! Plefffhhh..!! Plefffffhh..!!!”

“Ngehhh, Akhhh Hegkkkk.. AWW, Hssshh “

Helaan nafas Non Michelle terputus-putus saat liang vaginanya digempur hebat, dihajar dan dihantam oleh batang penisku, bibirnya terus menerus mengeluarkan suara – suara menggairahkan yang memancing nafsu birahi, kumainkan tempo tusukanku dari cepat ke lambat, kemudian saat ia terlena , kuhajar liang vaginanya yang nikmat dengan brutal hingga kedua mata Non Michelle membeliak-beliak merasakan kenikmatan yang berlebih, tubuhnya yang seksi mulus terguncang hebat tanpa daya, butir-butir keringat memandikan tubuhku dan tubuhnya. Kukalahkan Non Michelle sebanyak dua kali hingga ia terkulai lemas. Aroma tubuh Non Michelle berbaur dengan aroma alat kelamin kami berdua.

“Ujanggg.., Enakkhhh Hekkkkk, Ngeeeehhhhh…!!”

“Sama Non saya..h Jhuuuuuga ENAKKK…!!”

“Kocok yang kuat Janggg,, yang kuatttt….Akkhhhh..!!.”

“Kaya gini Non ??”

“Eggghhhhh… Akhhhhhhhhh Crruttt cruttttt…..”

“Muncrattt….lagi ?? he he he he, gimana nih Non ?? kalah melulu sampe memek Non Michelle banjirrrr, gimana Non ?? enak ya??. ”

“Ooo Ujanggggghh you’re so stronnggghhhh !!”

Aku berbangga diri saat mendengar pengakuan Non Michelle yang mengakui keperkasaanku, rintihan dan rengekan Non Michelle membuatku semakin tekun dan rajin memberinya sodokan-sodokan kenikmatan, wajah si pirang yang seksi mengernyit hebat saat ia mencoba menahan nikmatnya rojokan kerasku pada rekahan liang vaginanya.

“Lets try whomen ngon tophhhh…” di tengah dengus nafasnya yang memburu Non Michelle mencoba untuk berkomunikasi denganku, dan tentu saja terjadi miskomunikasi akibat ketidak jelasan suaranya yang meminta sesuatu.

“Hahh ?? !! women ngentot  ?? lah… inikan  lagi…ngentot..”

“Bukan women ngentot ujang sayanggg, women on yop… Plophh”

Non Michelle menarik vaginanya hingga batang penisku terlepas dari himpitan celah sempitnya, aku berbaring pasrah di atas lantai. Non Michelle mengambil posisi jongkok menghadap padaku, mirip sekali seperti sedang buang air kecil di atas batang penisku, bedanya kini ia akan berusaha keras untuk membuang cairan kenikmatannya.

“oohhhhhh, hsssshhhhh, uhhhhhhh, ohhh-yeahhhhhh..!! yeahhhhh…!! “

Wajahnya terangkat ke atas seiring dengan masuknya batang penisku membongkar liang sempitnya, wajah Non Michelle tampak renyah saat menikmati gelusuran kepala penisku yang menggelosor masuk semakin dalam hingga akhirnya vagina Non Michelle menduduki  batang penisku dengan sempurna, aku terlena oleh senyumannya saat ia memandangiku dan aku semakin terlena saat otot vagina Non Michelle bergerak turun naik pada batang penisku, dinding vaginanya meremas–remas dan memanjakan batang penisku dengan kenikmatan yang dicari oleh setiap laki-laki. Kedua tangannya menekan bahu kanan dan kiriku untuk menjaga keseimbangan kemudian vaginanya bergerak liar turun naik menghempas-hempas dengan dahsyat, sedahsyat amukan lautan birahi yang diarungi oleh kami berdua saat alat kelamin kami berdua saling mendesak dan menyerang dengan membabi buta.

“Ohh, Darsoo.. “ Michelle mengeluh saat selangkangan Darso menaiki buah pantatnya, batang penis Darso menggesek belahan vaginanya kemudian sibuk mencari jalan untuk memasuki liang anusnya,

Aku menolehkan wajahku kesebelah kanan memandangi Non Shasha yang terkulai.

“Waduhh…!! Lu apain sampe Non Shasha ampe babak belur begitu ??”

Aku menyindir Darso yang sudah sukses mempecundangi Non Shasha, kekasihku yang jelita tertidur dengan kondisi rambut acak-acakan setelah habis-habisan digenjot oleh batang penis Darso, tubuhnya yang putih mulus bersimbah kucuran keringat.

“Owwww…!! Akhh Hekkkkhh ..!! Ouhhhhhh…!!!”

Non Michelle hampir menangis saat aku dan Darso menggempur lubang anus dan lubang vaginanya, untuk sesaat aku dan Darso berhenti kemudian merayunya untuk bertahan lebih lama lagi demi memuaskan nafsu birahiku dan Darso.

“sebentar lagiii Nonnn, sebentar…” aku mencoba untuk menghiburnya.

“Dikit aja, sedikit….”Darso menimpali.

“Ujanggggg…, ngak kuattt ,aghhhhhhhhh.. crrr crrrr crrutttt…!!”

“Sedikit dan sebentar” datang silih berganti dan akhirnya melewati, detik, menit dan jam, butir-butir keringat yang meleleh menjadi pemicu dan bahan bakar bagi keliaranku dan darso untuk menyetubuhi tubuh Non Michelle yang seksi mulus, rengekan-rengekan Non Michelle yang kewalahan menjadi minyak alami bagi nyala api birahi yang semakin berkobar-kobar dengan dahsyat, tidak terasa malampun semakin larut, gelapnya malam menyembunyikan kenikmatan yang tengah dinikmati olehku. Darso dan Non Michelle, gerakan kami bertiga semakin kacau, suara erangan dan rintihan terus terdengar dari bibir Non Michelle.

Vagina import Non Michelle berkedut-kedut kuat demikian juga anus importnya, dan akhirnya kami bertiga mengeluh bersama-sama disapu dengan keras oleh gelombang kenikmatan yang begitu hebat menggulung tubuh kami bertiga..

“ahhh Ujangg Ahhhhhh.. !! Darsohh-HHHeghh Crrrr crrutttttt…”

“NON MICHELLEEEEE…..!! CROTTTT CROTTTT…CROTTTT..!.”

Aku dan Darso berseru keras saat berlomba mengisi liang anus dan liang vaginanya dengan sperma kami berdua, aku menggigit batang lehernya sebelah kanan sedangkan Darso menggigit batang lehernya sebelah kiri, dua buah bekas gigitan kemerahan menjadi stempel di leher Non Michelle yang jenjang. Aku berbaring di sisi kanan dan darso berbaring di sisi kanan tubuh Non Michelle yang terlentang lemas. Kami berdua mengobrol sambil asik mengelus, meremas dan menghisap-hisap dada Non Michelle, tidak berapa lama aku dan Darso bergantian menaiki “barang import” di dalam ruangan rapat yang mengeluh kelelahan saat rekahan vaginanya bergantian kembali dipacu, disodok dan dirojok oleh batang penis kami berdua, ia bahkan meronta berusaha melepaskan diri saat vaginanya dan anusnya disandwich dengan brutal. Aku mencengkram pinggulnya kuat-kuat sambil memompa liang anusnya, sedangkan Darso mencekal pinggang Non Michelle untuk mengatasi rontaannya, batang penis Darso merojok kuat-kuat rekahan vaginanya yang memar.

“aduhh Ujanggg, Darssoooo, aku capek, pegel nihhhhh…”

“Dikit lagi…. dikit…..lagi..Nonnn”

“dari tadi dikit mulu…, udah donggg hik hikkk hikk…”

“Sebentar Sayanggg…, tahan sebentarrr aduhhh, enaknyaaa”

———–

Tu bi kon ti nyu

Sumber: Kisah BB

3 comments

  1. si Ujang makin mantap aja rejekinya


  2. wahahahahaha…. lucu banget ni cerita….. top lah, emang ada bakat pelawak ya ?


  3. Maknyosss… tuh si Neneng udah tidur mendengkur……
    Nikmaaat en Mannnnntappp ching…..
    Ebat ebat,,, hk hkkk hkk hik… Oh Beuty en Bis…
    Bro Shusaku bikini dong Cerita “Ku ganbang anakku punya Teman Temannya” hikk hikkkk hik…



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: