h1

Behind the Mask of Celebrity 1: Betrayal

April 26, 2010

Gadis Manja Group, mempersembahkan :

Sebuah karya dari Diny Yusvita. Usul cabul artis oleh Boris.

Skenario, Sutradara & Tawa mesum by : Yusvita Corp. Tbk.

Special Thanks to Bang Shu, Bang Ninja Gaijin for your sweet support ‘n pembaca yang selalu setia mengikuti karya buatan gw. Love u, Muaach…!.

|||||||||||||||$||||||||||||||

‘Eh, ladies night nih…janjian yuks ?’.

‘Ok, ketemuan di Dragon Fly yach  !’.

|||||||||||||||$||||||||||||||

Arumi Bachim

Arumi Bachim

Ting !, seorang gadis cantik berkacamata hitam keluar dari elevator, memasuki sebuah ruangan yang ramai pengunjung. Ia berjalan menuju tempat yang lebih privacy, guna menghindari sapaan. Di samping memang sudah reserve sebelumnya. Dua gadis yang tak kalah cantik tersenyum melihat kedatangan gadis tersebut, lantaran cukup lama menunggu. Mereka saling sapa dan bertukar pipi, sebagaimana sahabat yang jarang bersua, terpisah oleh kesibukan dunia. Setelah memesan minum, curhat ria pun di mulai. Suasana dihias pantulan cahaya warna-warni bak pelangi, serta alunan musik R&B.

“Liv, gimana…lo kok jarang keliatan di sinetron ? sambil main layar lebar khan bisa ?” tanya Arumi, seraya melipat Oakley gayanya.

“Iya nih BT, padahal gw udah minta ke om Ra’am…tapi dia bilang giliran, nanti kalo ada sinetron yang turun rating dan di-close katanya” sahut Olivia.

“Yaah hahaha, dimanfaatin lo sama dia…jangan mau ! Badan kita abis digeber, dijual ke pejabat. Eeeh…dikasih cuma satu jalur pendapatan, rugi dong !”.

“Iya ya”.

“Ya iyalah…kaya gue dong, bawa acara juga…iklan juga, jadi banyak. Masa depan cinta habis…balesannya, harus dapet duit banyak dong…iya ‘ga sih ?”. Olivia terdiam sejenak, dihisapnya star mild dalam-dalam.

“Kalo gue malah sinetron mulu nih, pengen juga layar lebar. Iya juga sih, ‘gak sebanding sama pengorbanan kita dientot haha.” canda Jasmine.

Wajah mereka bertiga yang sempat mendung, mendadak cerah dengan guyonan kotor. Obrolan makin seru, mengupas bagaimana mereka di ranjang dengan para maling berdasi (pejabat korup), produser serta orang penting lain dibalik layar kaca. Tentu bukan publik tak mengetahui hal remeh tersebut. Bukan rahasia umum, artis-artis pendatang baru yang bukan background IKJ / ISI, tidak mumpuni skill acting bisa masuk layar kaca. Jika tidak punya relasi atau orang tua artis, harus bagaimana…? Pastilah lewat jalur singkat dengan jadi ‘barang simpanan’.

Olivia Jensen Lubis & Jasmine Wildblood

Olivia Jensen Lubis & Jasmine Wildblood

Mereka berpamitan karena waktu telah menunjuk tengah malam. Disamping, Olivia terus muntah lantaran minum terlalu banyak akibat menelan perkataan. Arumi dan Jasmine sendiri masih dalam batas sadarnya, terhindar dari kondisi Olivia.

“Pak Khoir, titip Oliv yah…” pesan Jasmine pada supir Olivia, ketika memapah di depan pintu utama bersama Arumi.

Bapak tua itu mengangguk tersenyum, senyum yang sama sekali tidak menutup buruk di wajah. Dengan sisa tenaga, Olivia melempar senyum pada kedua sahabatnya, Mercedes C Class pun hilang dari pandangan. Arumi mengeluarkan Black Berry dari tas tangannya, lantas menekan beberapa tombol.

“Bang Miran, Arumi di depan…jemput yah !” suruh artis berdarah Indo itu, menunggu dengan mimik gelisah tersembunyi.

“Miran ? siapa tuh ? supir baru ?” tanya Jasmine, Arumi bersikap seolah-olah tak dengar.

Orang yang baru saja ditelepon Arumi adalah supir pribadinya, Samiran. Tapi justru jadi buah pertanyaan bagi Jasmine, setahu dia Arumi bisa setir, tak perlu supir. Dan darimana datangnya pula Samiran ini ? sejak kapan…?.

Ckit ! Captiva Chevrolet silver berhenti di depan mereka. Arumi menghampiri kendaraan operasional ke-artisannya. Ia pamit lagi terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam mobil.

“Loe ‘ga pulang udah malem gini ?” tanya Arumi sebelum pergi.

“Sebentar, masih mau ngedance hehehe”.

“Gila lo hehe, ok deh…yuk daah” Arumi melambaikan tangan pada Jasmine yang terus melirik ke pria berwajah aneh di sebelahnya. Seperti pernah lihat, namun entah dimana.

Mobil Arumi pun melaju, hilang dalam gelap dan heningnya malam. Wajah Jasmine mendadak berubah sewaktu HP-nya berdering, ia tahu dari siapa dan apa maunya. Tertera ‘Old pervert bastard’ di layar HP.

“Apa sih Pak ?”.

‘Non Jasmine, cepet doong ! Bapak udah ngaceng nih, ‘ga tahan pengen nyoblos memek Non nyang wangi entu !’ pinta suara di HP lancang.

“Sabar dikit kenapa, belum selesai…nanti 10 menit lagi, Klik !”. Jasmine mematikan HP dengan geram. Ternyata ia juga menyimpan suatu hal yang tidak diceritakan pada kedua sahabatnya.
Jasmine lagi dugem

Jasmine meninggalkan lokasi dengan wajah BT. Ia kembali ke atas untuk menghilangkan tekanan masalah yang membelit. Berbaur di kerumunan penikmat dunia malam, langsung bergoyang. Beberapa pria tampan mendekat, mengajaknya ikuti irama lagu.

***

Puas nge-dance floor kurang lebih ¼ jam, Jasmine pergi ke parkiran bawah gedung untuk pulang, sebelumnya sempat menenggak jack daniel seteguk agar lebih berani menghadapi seseorang yang berniat busuk. Pria-pria tampan di sekelilingnya menawarkan tumpangan, Jasmine tersenyum seraya menunjukkan kunci mobil, tanda dia tak butuh kebaikan yang juga berujung kotor. Di tempat sepi itu, mobil diparkir sudut seperti sengaja. Seorang pria paruh baya diri di luarnya, membuka pintu belakang dengan seringai penuh kemesuman. Mata Pak tua itu tak pernah jemu melirik kaki yang putih lagi jenjang, lantaran rok mini hitam. Waktu Jasmine mengangkat kaki untuk masuk mobil, sempat-sempatnya paha dielus. Sang artis pun mendengus kesal tanpa melawan, Pak tua tertawa senang. Dia mengekor ikut masuk ke dalam. Dengan tenang, pesinetron Cinta & Anugerah itu membuka sedikit jendela, menyiapkan sebatang rokok dan menyelipkan diantara jari-jemari. Si Orang tua meraih zippo di saku bajunya, menyalakan api untuk sang artis.

“Non Jasmine lama bener, sengaja yah…mau bikin ngaceng ? biar entotan Bapak lebih bergairah…”.

“Bapak aja yang ngeres, di bilang aku masih ada keperluan !” ujar Jasmine ketus, padahal memang benar jika bisa ia ingin berlari sejauh mungkin.

“Yaah…nyang ngeres sama Non pan enak, Huak.hak.hak.hak !”.

(Muka memek…pikiran jorok…ketawa jelek, lengkap derita gw !), batin Jasmine.

“Iya deh maap, jangan marah dong maniis…” rayu si tua bangka, jarinya melata di paha bagai ular mencari sarangnya.

“Aku lagi ‘ga mood Pak” Jasmine tidak menepis, hanya melipat kaki sebagai penolakan halus.

“Jangan gitu dong Noon…udah ngaceng dari tadi ini, masa ‘ga dikasih jatah !”.

“Sepong aja yah ? Terus kita langsung pulang !” tawar Jasmine, si Bapak terdiam tetapi tangan tetap rajin menggerayang.

“Ya udah, isep nih kontol !”, suruh si Bapak, menarik lepas celana berikut kolornya.

Wajah Jasmine mendekati penis si Bapak yang telah mengacung sempurna. Hidungnya mencium aroma tak sedap seketika, ia refleks menjauh untuk cari udara segar. Karena ingin cepat selesai, Jasmine memaksakan diri. Ditangkapnya penis dengan mulut, silih berganti menghisap sekali penis sekali rokok, bahkan asap sengaja dihembus kesitu. Kalau sudah begitu, pasti penis si Bapak berkedut. Apalagi Jasmine mengulum batangnya sambil menatap seksi, tak terbayang kenikmatan yang dirasa si Bapak. Jari-jari ambil kesempatan elus paha raba pantat, membuat sepongan terpotong deheman nikmat. Terutama saat jari menelusup celana dalam meraba bibir vagina. Pasti Jasmine spontan akan

“Emmh.Nng, Ssssh…leeeh.Hhh !”, lantaran nikmat diobok.

“Non, Non…udah dulu !”, si Bapak mendorong kepala Jasmine agar berhenti, meraih rokok Jasmine dan melempar puntungnya keluar jendela. Tangan masuk ke rok hendak merenggut segitiga pengaman di dalamnya.

“Pak, aah..katanya cuma nyepong !”. Jasmine menahan laju tangan, enggan digarap.

“Non berani ya ngelarang Bapak ?!”, si Bapak bertanya dengan tatapan tajam.

Jasmine ciut seketika mendengar itu, sadar aib yang diketahui pria dihadapannya. Ia ingat kejadian itu, awal terjadinya pemerasan…

|||||||||-BUUZZZ-|||||||||

# KEDEKATAN MEREKA
“Pak, pulsa donk !”. Jasmine keluar dari BMW seri 3 yang dikendarainya, menuju kios HP tak jauh dari rumah.

“Eh Non Jasmine, mau syuting yah ?”, Bapak itu mengambil HP yang biasa digunakan untuk transfer pulsa.

“Iya nih, lagi kejar tayang”, Jasmine menyahut tapi mata tidak balik membalas tatapan si Bapak. Konsentrasi mengetik cepat sebuah SMS balasan.

“Nyang cepe’ ceng ya Non ?”.

“Iya, ketiga-tiganya no-ku yah cepet…sama nomer mami sekalian, tau khan ?”.

“Tau dong…masa nomer mertua ‘ga tau, Huak hak hak hak”.

“Hehehe, enak aaaja mertua…Huuw”.

“Huak hak hak hak, canda Non…‘ngkali aje dikabulin”.

“Udah ah Pak, becanda aja…450 khan ? buru-buru nih, thata…”, Jasmine melambaikan tangan dan tersenyum dengan manisnya.

(Pengen gua, jilat muka nyang manis ‘ntu sama memek lu skalian…Sluurph !), si Bapak membatin, tatapannya tajam bagai elang mengincar ular.

Bapak yang disapa Jasmine adalah Sobirin, salah seorang warga kurang mampu di komplek. Pengangguran sebabnya, penyakit masyarakat yang menjamur di Indonesia karena SDM tak terserap dan diperhatikan oleh pihak pemerintah. Jasmine sendiri hanya sesekali isi pulsa pada Sobirin, jika kepepet saja. Sebagai artis, tentu HP tidak sebarang, salah satunya TELKOMSEL prabayar. Di samping komplek tersebut ada sebuah perkampungan. Kecuali rumah petak kecil yang dibuat kios Sobirin, terhalang tembok komplek. Jadi bisa dibilang Sobirin beruntung iya, apes juga. Harga jual tanah rumah seharga komplek, tapi otomatis kena tagihan 2 RT / RW. Biaya hidup pun ikut orang komplek. Dari mulai belanja sehari-hari, air bersih sampai tagihan listrik yang membuat Sobirin kelabakan. Modal kios dari sang Istri, saat ini mereka pisah ranjang. Istrinya seringkali menangkap basah dia sedang main ABG ciblek kampung sebelah yang minta pulsa gratis, asal mau digrepeh atau sekedar isep-jilat. Di kios itulah Sobirin kini tinggal, kedinginan sendirian, sebuah ruang berukuran 3 x 4. Sementara Istri minggat pulang kampung, balik ke rumah orang tuanya.

|||||||||||||||$||||||||||||||

# KENAKALAN ARTIS REMAJA

“Eh, eh jangan…jangan !”.

Jasmine meraih HP dan merekam adegan oral pada pria itu walaupun dilarang. Pria itu adalah Ra’am Punjabi, produser per-film-an Indonesia yang bobrok mutu. Om Ra’am begitu dia biasa disapa, takut rekaman terbongkar suatu waktu. Terpaksa Jasmine hanya memenuhi layar kamera dengan penis, wajahnya, serta adegan tanpa terlihat Om Ra’am sedikitpun.

“Kenapa sih, pake kamu rekam segala ? Euuuhh…” tanya Om Ra’am seraya melenguh, menikmati service mulut yang diberikan Jasmine.

“Biar…Mmh, kalo Jasmine lagi kangen sama Om, tinggal puter rekaman ini” rayu sang artis, mengingat banyaknya barang baru dengan kata lain saingan.

“Nakal kamu ya, Ooooh…”. Mereka berlanjut ke hubungan badan.

|||||||||||||||$||||||||||||||

# ILHAM SI PEMERKOSA

‘Pemirsa, baru saja beredar gambar-gambar porno artis di internet…adegan syur yang direkam melalui media HP itu tersebar di internet….bla bla bla bla bla’, suara penyiar berita televisi swasta.

(Dasar artis skarang, eh…Non Jasmine ada ‘ga ya…nyang kayak gini ?), Sobirin membatin. Ide cabul datang tanpa diundang, langsung saja dia menelpon seseorang.

“Ji, lu mau ‘ga gua kasih proyek buat bayar utang lu…? Hah…busyet, iya dah ‘nti gua kasih lebihan buat beli rokok. Jadi bgini…bla bla bla”, Sobirin menjelaskan rencana busuknya.

………………..

“Ok !”, dia mengakhiri pembicaraan, lalu senyum-senyum sendiri seperti orang gila yang dilanjut tawa serak khas pria buruk muka.

“Huak hak hak…Huaaaak hak hak hak hak hak”.

|||||||||||||||$||||||||||||||

# JEBAKAN UNTUK SANG ARTIS

“Iya Pak, ini lagi di jalan…sebentar lagi ko”, Jasmine panik karena telat syuting dan kena semprot sutradara.

“Pak Sobirin, tolong pulsa…biasa..”, Jasmine mengeluarkan O2 dari tas tangannya karena ikut berdering.

Sobirin bukannya menyiapkan HP transfer pulsa, malah seperti miskol ke seseorang.

“Iya Om…Ooh, iya…nanti malam di Shang Ri La Hotel…iya…oke !”. Jasmine kembali memasukkan HP ke tas.

“Iya Pak, maaf…bukan saya ngacuhin Bapak…tadi ada telpon dari Om Ra’am”.

Breng…Brreng !!, sebuah kendaraan roda dua mendekati Jasmine. Tass !!.

“Copeet ! jambret ! Pak Sobirin, tolong Pak !” Jasmine kalut, kejadian berlangsung cepat disaat ia dalam pembicaraan penting.

Sobirin pura-pura panik, lari keluar kios tapi tidak mengejar si pelaku. Memang motor telah jauh, suasana sepi mendukung kejahatan tersebut. Jasmine hanya bisa menangis pasrah, omelan sutradara terdengar hampa karena baru saja kehilangan salah satu benda kesayangan. Apalagi disitu banyak file pribadi yang Aib alias fatal. Jasmine berpikir ingin lapor polisi, namun ragu juga semisal tertangkap. Polisi akan lihat isi HP karena berhak sebagai penelitian barang bukti. Ia akan malu juga, hal ini jadi buah simalakama baginya. Dengan pikiran bercampur aduk, Jasmine pergi meninggalkan Sobirin yang baru saja diketahui, dialah otak kejahatan yang sebenarnya.

***

“Huak hak hak hak, baguus…baguus !”, Sobirin mengangguk senang sambil mengelus janggut, yang membuatnya bagai pinang dibelah dua dengan kambing bandot.

Pria yang tadi mengendarai motor telah kembali memperlihatkan hasil copetan. Mereka tertawa gila bersama. Sobirin memberikan beberapa lembar lima ribu sebagai janji uang rokok, yang dibarter dengan HP Jasmine.

“Buat ‘paan si Beh ‘ntu Hape ?”.

“Ya buat gw jual murah lagi lah…” tipu Sobirin, padahal bukan.

(Nanti lu minta jatah memek Non Jasmine lagi, ta’ u-u ya…).

“Mirip pemain sinetron ya tuh cewek ? siapa gitu namanya, Yamin-yamin blot gitu”.

“Amin bolot mah penjaga Mushola…udah sono ‘gi dah, gua mau tidur tutup kios !” usir Sobirin galak, tak ingin si pemuda tahu lebih jauh, apalagi rencana mesumnya.

Pria copet yang dipanggil ‘Ji-ji’ itu pergi, setelah menghitung uangnya yang tak seberapa dibanding ‘harta’ Jasmine yang akan diperas.

Menjelang langkah kepergian pemuda tersebut, Sobirin utak-atik isi HP. Seringai mesum tergores di wajah jeleknya saat buka salah satu folder, dimana berisi adegan syur Jasmine dengan berbagai macam style. Baik itu ke pacar, ttm, Sutradara, Produser sampai Pejabat Teras.

“Non Jasmine…tak lama lagi, memekmu akan jadi tempat penampungan mani-kuu, Huak hak…Huak hak hak hak haaaak hak hak hak hak”.

|||||||||||||||$||||||||||||||

# SLAVERY IS BEING SIGNED

“Eh Non Jasmine, udah lama ?” sapa Sobirin. Dia baru dari kamar mandi, saat kembali sudah ada Jasmine duduk termenung di bangku pembeli.

“…………….”.

Artis remaja itu membisu, tidak menjawab sepatah kata pun. Sobirin senyum-senyum sendiri, tentu hal ini sesuai dengan rencananya.

“Non Jasmine ‘ga usah sediih…pan uangnya banyak, bisa beli lagi nyang kayak gitu ?”.

“Bukan masalah itu……”, Jasmine diam sesudahnya, tak mungkin dia cerita bahwa isi HP aib.

“Penting yah Non isinya ?” pancing Sobirin, mulut Jasmine terkunci rapat.

“Kalo Bapak bisa balikin HP Non nyang ilang ‘ntu…ada hadiahnya ‘ga ?”.

“Haah, yang bener Pak ? ada..ada..ada…mana Pak HP-nya ? Bapak mau berapa Juta ? ko Bapak bisa dapet ? dari mana ? gimana caranya ?”, Jasmine langsung memberondong Pak Sobirin dengan segala macam pertanyaan.

“Adaa, ada…tenang aja, urusan gimana Bapak bisa dapetin HP Non itu ‘gak perlu, nyang pentiing…kita setujuin dulu hadiahnya ?” tukas Sobirin dengan cengiran mesum, entah kenapa tiba-tiba Jasmine dag dig dug.

Sebenarnya ia tidak ingin berprasangka buruk, namun wajah Sobirin menyampaikan maksud tersebut. Terutama matanya, menatap dengan lapar birahi. Jasmine kontan saja membeku, banyak pikiran melintas di-otaknya teringat aib.

“Ko’ diem Non ? Hadiahnya Bapak sebut yah, sini deh Bapak bisikin bentaran…”.

Sobirin mendekat, jantung Jasmine berdebar menanti apa yang dikehendaki pria di hadapannya dari dirinya.

‘Gimana kalo hadiahnya kaya nyang di Hp Non !’, mata Jasmine terbelalak, apa yang ditakutkan menjadi kenyataan.

Sobirin meniru salah satu gerakan kemudian tertawa cekikikan. Pipi Jasmine merona, malu rekaman nakalnya ditonton orang. Ia berpikir, bagaimana cara Sobirin dapat HP-nya, sedang dia tidak mengejar kala itu.

“Balikin Pak tolong, aku kasih berapa aja Bapak minta…”.

“Gimana kalo Bapak nyang kasih …berjuta-juta sperma, Huak hak hak hak”.

Lengan Jasmine dirabanya, membuat bulu kuduk merinding disentuh makhluk yang lebih seram dari makhluk halus.

“Jangan Pak…nanti saya bilangin Mamah lho !”, Jasmine coba menggertak.

“Ya silahkan Non…nti video bokepnya Bapak sebar Huak hak hak hak”,

Jantung Jasmine makin berdegup keras, bisa hancur karirnya yang baru dibangun. Geram, panik dan takut menjadi satu di dalam dirinya.

“Atau mau ke polisi boleeh…palingan Non dipake juga ama Pak Polisi, Huak hak hak !” gertak balik Sobirin.

Dengan santai, tua bangka itu berjalan keluar. Memasukkan bangku luar ke dalam hendak menutup kios. Jasmine melalui keadaan tegang tersebut sedikit bingung. Sobirin kembali masuk lewat pintu samping, berbalik badan menatap Jasmine lalu berkata.

“Mau HPnya dibalikin ‘gak….mau pilemnya aman ‘gak ? tapi ‘ngikut ke dalem diginiin”. Sobirin menunjukkan jari jempol terjepit disambung tawa terbahak-bahaknya.

Jasmine membatu. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya, apakah memberikan tubuh ? atau…ceklek !, pintu kios terbuka selang beberapa menit. Sobirin tersenyum menang melihat wajah Jasmine pasrah dibaliknya.

“Tutup pintu, terus ksini !”, dengan gaya angkuh dia menekuk jari telunjuk.

Jasmine menuruti perkataan orang yang hendak memeras keindahan tubuh. Sejak memutuskan untuk masuk kios, ia sudah pasrah. Menerima segala bentuk perintah seks, hinaan dan lecehan.

Jasmine merasa inilah dosa penebus atas kemunafikan, sebagaimana seluruh artis Indonesia yang sok suci. Ia mendekat dengan langkah ragu. Setelah cukup dekat, mata Sobirin men-scan seluruh lekuk tubuh. Dari ujung rambut, hingga ujung kaki. Saat itu Jasmine mengenakan kaos tanpa lengan U can see warna hitam dan rok sekolah putih. Sobirin bangkit dari tempat duduk, bergerak menghampiri Jasmine yang beringsut mundur.

“Di dalem sarung Bapak ada yang mau kenalan Non e.hehehe, Sluurph !”.

Jasmine takut melihat bentuk kejantanan Sobirin yang menonjol di balik sarung. Apalagi membayangkan jika vagina mungilnya disuruh menelan seluruh batang itu, pasti akan ada paksaan pelebaran liang. Tangan Jasmine refleks menutup kedua alat vital yang sedang diburu pria dihadapannya.

Tuing !, Sobirin melepas sarung, penis konaknya menginginkan ‘sarung khusus’.

“Po’ ame-amek…belalang kupu-kupuu…Bapak dapet memek…Non Jasmine dapet peju, Huak hak hak hak…Huaaaaaak hak hak hak hak hak”,

Sobirin menertawakan reaksi pucat pasi Jasmine yang sudah tersudut. Mulutnya banjir liur, semakin dekat meruncing ke wajah hendak mencium, jari membentuk cakar seakan ingin menerkam.

“JANGAN PAK, JANGAN…” Jasmine menggeleng kepala dalam ketidak berdayaannya. “TIDAAAAAAAAAAAKKK !!!”,.

“HUAAAK, HAK HAK HAK HAK HAAAAAK…”.

***

Seharian itulah, awal Jasmine jadi pemuas nafsu Sobirin. Insting binatangnya maksimal. Keluar kios, jalan Jasmine mengangkang lebar. Didera rasa sakit dan perih di kemaluan, lantaran kontol membor memek gila-gilaan. Jasmine sempat pingsan dua kali dibuatnya sebelum diizinkan pulang. Selesai itu, Pak Sobirin licik dan ingkar janji. HP O2 Jasmine memang dikembalikan, tapi Memory Card berisi banyak file penting yang seharusnya dihapus malah disita. Kini jika dia sedang sange, tinggal menghubungi nomor Jasmine. Memek harus siap pakai sepuas-puasnya, sampai haid tak boleh jadi alasan. Mulut kemasukan penis, wajah sasaran tembak mani. Kedekatan yang bertranslasi menjadi perbudakan, kepercayaan rukun bertetangga yang ternoda oleh pengkhianatan, BETRAYAL !.

||||||||-BUUZZZZ-|||||||||

“Non, Non…ko’ bengong sih ? denger ‘gak ? Kalo Bapak pengen memek…Non kudu harus ngasih, ngarti ?” ujar Sobirin dengan tatapan tajam, membuat Jasmine tersadar dari lamunannya.

Melihat Jasmine diam karena takut, Sobirin segera bertindak. Dia jongkok dibawah jok tempat Jasmine duduk. Dengan liur menetes deras, menyingkap rok dan merenggut celdam secara perlahan namun pasti. Pemandangan indah itu dinikmatinya detik demi detik. Jasmine memalingkan wajah, malu vaginanya ditatap nanar secara bebas. Sayang nafasnya yang menderu tak bisa sembunyikan diri horny dilecehkan demikian. Segitiga pengaman yang gagal melindungi keindahan di dalamnya, dihirup Pak Sobirin dengan penuh perasaan.

“Hmmh…coba angin wangi kayak gini semuanye, jangan deh…‘nti ngaceng terus ‘gak bisa tidur lagi, Huak hak hak hak”, benda itu dikenakannya di kepala serasa topi.

“Ngengkangin lebaran, cantiiik !”.

Walaupun benci, Jasmine terpaksa menuruti perintah. Sobirin tersenyum, mendekatkan wajah hingga berjarak 3 cm saja dari vagina. Jasmine merasakan hembusan nafas penuh nafsu birahi menerpa kewanitaan.

“Ja-jangan diliat Pak !” pinta Jasmine sia-sia, pipinya merona ketika belahan kemaluan miliknya direntang lebar.

“Jangan apa maniiis ? Hmm…? *endus-endus*, ‘ga usah malu cantik…Hmmmhh, wangi beneer. Jangan-jangan tapi ko’ becek gini sih Huak hak hak hak” ejek Sobirin, menusuk-cabut liang vagina dengan jari tengah.

“Aaaaaahh…Jang-aanh…”.

“Jangan gini, Leeeeepph ! Huak hak hak hak”, Pak Sobirin menjilat tiba – tiba, Jasmine mendesah nikmat ber-volume keras.

“Selamat makan Sobiriin, Hmmh. Sluurp…Sluuuuuuuuuuurpp ! Cup cup cup cup cup Sruuuuuuuuuuuuuuupph !!”.

Mulut Jasmine megap-megap, lidah terjulur merasakan nikmatnya dilalap lelaki tua lapar memek gadis. Ia menjambak minta ampun karena terlalu enak dirasa gadis seusianya. Pak Sobirin makin tertawa gila di selangkangan. Tak tahan dengan cara mulut mengerjai kewanitaan, tubuh Jasmine melengkung. Pangkal pahanya mengapit kepala Sobirin. Desahan panjang memenuhi mobil itu, desah singkat orgasme. Jasmine takluk oleh pria yang tak jelas asal usul serta masa depan. Vaginanya diseruput bagai orang dahaga di padang pasir, kenikmatan berganda di dapat dari perlakuan udik tersebut. Pantat Jasmine terangkat dari jok mengejat-ngejat, tanda ia sangat menikmati orgasme yang sedang dirasakan. Sebuah lengkingan mengakhiri klimaks seksnya.

“Memek Non Jasmine, eenak beneeerr ! Artis emang beda yak, Non suka juga pan Bapak jilatin memeknya ?”. Jasmine pasrah menerima ejekan, cemoohaan dan sindiran dari Pak Sobirin. Mulut bisa berbohong, tetapi tidak tubuh.

Bukan hanya itu, Jasmine juga tidak berontak saat Sobirin bangkit mengarahkan penis, ia sudah pasrah disenggamai. Sambil menyeringai penuh bangga, Sobirin menggesek bibir vagina dengan penisnya.

“Buka Non ! kontol Bapak kepengen masuk !”.

Jasmine merentang mulut vaginanya sendiri, hingga terlihat liang kecil penuh gemerintil daging merah muda janjikan surga. Dengan bernafsu, Sobirin menekan kejantanannya untuk singgah di liang tersebut. Zleeb !.

“Woow…enyak, enyak, enyaak…Enggh” celoteh Sobirin saat kepala penisnya berhasil terjepit.

Penjual pulsa eceran itu terus mendesak masuk, ingin batangnya kebagian jepitan daging super legit juga. Wajah Jasmine mendongak, mata sayunya menatap langit-langit mobil. Kuku jarinya yang panjang dan berkutek hitam, hanya mampu mencakar perut Sobirin, lantaran tubuh serasa dibelah dua.

Semakin lama penis terbenam kian dalam, betis Jasmine dicengkram dan direntang lebar, agar serasa berkuasa layaknya Raja diraja.

“AAAAANNGHHH !!” erang Jasmine, sewaktu penis menghujam untuk sebuah tusukan final hingga menancap sempurna.

Sobirin sendiri tak bisa bicara karena sesak nafas, jepitan vagina Jasmine terlampau surga untuk pria setua dirinya, terlalu beruntung. Wajahnya yang hitam jadi memerah lantaran nikmat. Sobirin menarik keluar batang yang terjepit dengan susah payah. Betapa legitnya vagina artis, tak heran seorang Menteri *g*m* sampai berburu harta karun, yang tak lain untuk modal berkencan di hotel berbintang 5.

“Oooohh…enak bener memeknya Non, Enngkh…” celoteh Sobirin.

Mendorong masuk penis hingga tenggelam lagi di vagina Jasmine. Jus Cinta berceceran, Tapi gilanya liang tetap liat, Sobirin keasyikan jadinya. Terus tarik-ulur-tarik-ulur hingga tak tahan mau muncrat. Dengan rasa tak rela cepat keluar, dia menarik penis tersisa kepala yang terjepit. Lalu dihantamnya itu vagina sekuat tenaga hingga mobil tergenjot turun sambil meracau jorok.

“Gila memek lu !!”, CROOOOOOOTTT…

Sobirin kelojotan bagai orang ayan, Jasmine sudah pasrah. Liang vaginanya terasa sekali semburan-semburan kencang cairan kental. Sobirin ber-ejakulasi sambil menatap Jasmine yang jelita, sungguh nikmat surga berkali-kali lipat. Dia melenguh berulang kali, liurnya sampai menetes. Meresapi rasa enak menggenjot memek pesinetron muda cantik yang namanya tengah berkibar di per-film-an Indonesia, Jasmine Leeds Wildblood.

END, chapter 1.

—————————–

  • * Behind the Mask of Celebrity 1 – Betrayal !, (Jasmine).
  • * Behind the Mask of Celebrity 2 – Magic !, (Olivia). Will be release 2 weeks after BMC 1st.
  • * Behind the Mask of Celebrity 3 – Tatoo !, (Arumi). Will be release 3 weeks after BMC 2nd.
  • * Behind the Mask of Celebrity 4 – Saved by the Darkness. Will be release 4 weeks after BMC 3rd.

****************

Sumber Kisah BB

4 comments

  1. Waa, ada cerita gw di Bro Agus xixixi, thanks ney disebarluaskan ^o^.


  2. aku juga mau kok memek dan mulutku dikasih sperma hangat, call aku 081267282809 free just fun


  3. kalo mw baca yang protected nya gimana ya masbrow


  4. EnaaaKkkk



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: